Jangan Berkawan Dengan Orang Indon?
Sepertinya orang ‘Indon’, sebutan bagi orang Indonesia di negeri jiran Malaysia, termasuk kaum yang pantas dicurigai. Itu adalah bagian dari anjuran yang diberikan oleh Polis Diraja Malaysia. Dengan menggunakan mesin pencari Google, saya dapat menemukan paling tidak 16 situs web yang memuat maklumat tersebut. Maklumat tersebut berisi 21 buah anjuran untuk menghindari pencurian, yang paling menarik adalah anjuran nomor 21 yang berbunyi:
Jangan berkawan dengan Orang Indon atau Bangla
Saya juga menemukan variasi lain, misalnya yang memasukkan ‘orang Negro’ atau yang dilengkapi dengan imbuhan ‘tanpa waspada’. Walaupun demikian saya tidak dapat menemukan maklumat resmi ini di situs Polis Diraja Malaysia.
Apakah bangsa Indonesia di Malaysia memang sedemikian buruk citranya? Dan apakah rasialisme untuk hal tersebut bisa dibenarkan?
Info dari Andhi Marjono.
jumawa banget nih lama2 orang malaysia…belagu gitu loh….
Saya rasa wajar saja. Di Jakarta saja saya sering khawatir kalau ketemu orang kita sendiri. Di perempatan, di jalan-jalan, di dalem bis. Serem.
kapan ya predikat indon itu awal mulanya
dikenakan ke orang-orang Indonesia?
*just curious*
Ini semua gara-gara para pejabat kita dari dulu sampai sekarang, yg tetap saja ngotot meng-ekspor manusia padahal sudah jelas luar biasa banyak masalahnya - skill-nya minim, tidak bisa berbahasa daerah ybs (utk TKI selain Malaysia, spt Arab dll), tidak mengerti budaya lokal (wanita kita ramah di Arab, padahal lelaki Arab banyak yang “ganas”, dll), dst.
Demi uang, mereka mau mengeksploitasi rakyat mereka sendiri
Saya sudah mengalami sendiri dilecehkan oleh orang Malaysia di Inggris. Pertamanya mereka ramah karena mengira kami orang Malaysia juga. Eh begitu tahu kami orang Indonesia, tatapan matanya langsung menjadi menghina. Ibu saya sampai jadi tersinggung.
Tapi kita perlu ingat bahwa kita jangan membalas dengan perlakuan yang rendah seperti itu juga, dan juga tidak semua orang Malaysia seperti itu. Yang bijak dan luas wawasannya tidak akan bertindak seperti demikian.
Kalau KBRI di berbagai negara jadi pasif, saya juga tidak bisa menyalahkan, karena resources mereka terbatas. Sedangkan TKI yang ada jumlahnya sudah sangat banyak.
Jadi solusinya adalah dengan menghentikan mafia TKI yang ada, dan lalu berkoordinir dengan KBRI-KBRI ybs untuk membantu TKI-TKI yang sudah terlanjur dikirim keluar.
Kemudian pengadaan TKI diadakan lagi, tapi kali ini dengan regulasi yang sangat ketat, sehingga eksploitasi manusia seperti sekarang ini tidak bisa terjadi lagi.
Kata si Ogut, “Dream on ”
hahaha….
kok lucu yah..
Tidak semua orang Malaysia pandang rendah terhadap orang Indonesia. Itu adalah satu tanggapan yang sangat sempit namun tidak dapat dipungkiri WNI di Malaysia sukar melarikan diri dari citra itu disebabkan segelintir kecil TKI yang terlibat dengan jenayah (crime) yang semakin berleluasa.
Menurut saya nasihat yang kononnya dikeluarkan oleh PDRM itu (”jangan berkawan dengan orang indon”) tidak boleh dipercaya. Saya berani bilang bahawa kerajaan Malaysia tidak bakal mengeluarkan penyataan yang sebegitu bodoh dan kontroversial.
I have my own opinions of Indonesians and the usage of the word ‘indon’, kalau ada yang tertarik untuk membaca. Silakan ke: http://www.myindo.com/story/241.asp
Terima kasih.
Fairy Mahdzan
Malaysia
Indon? Tidak ada itu, adanya Indonesia!
Istilah Indon pertama kali saya dengar setelah saya bekerja di Malaysia…
Kalau TKI tidak diekspor, nanti malah menuh-menuhin kota2 di Indonesia yang sudah sedemikian penuh sesaknya!
Bisa dibayangkan 10 tahun lagi, jalan kaki aja mungkin bakalan susah di jakarta. Nyetir mobil bisa2 maksimum cuma 5 km/jam.
waq! gak salah tuh… yang namanya berteman tergantung kitanya… yang pasti jangan mau enak sendiri dunk…
dah nggak heran, dari dulunya juga mereka emang susah kenalan ama orang indo, dah banyak kejelekan indo dimata mereka. jadi ya nggak salah jg lah.
tp yah tergantung bawaan diri mereka sendiri jg sih, selagi kita asik ngajak kenalan mereka pasti jg mau.
Oh iya, aku barusan dpt dr salah 1 web mereka isinya:
21. Jangan berkawan dengan Orang Indon atau Bangla tanpa waspada.
arti tanpa waspada rasanya udah cukup ngejelasin. dimana2 namanya temen ya kita waspada jg lah. tul nggak tul nggak?
anehnya, hampir dr semua web yg ditemukan menghilangkan kata tanpa waspada. ada apa yah?
Yudanto, thanks for sharing that link to your blog, bagus saranannya. If you haven’t, sila baca juga artikel nukilan teman saya yang bekerja di KBRI Kuala Lumpur, isinya mirip.
Perkataan ‘Indon’
Saya ingat, pernah memarahi petugas di airport KL dan Changi , karena mereka tidak respek terhadap penumpang pesawat hanya karena penumpang itu adalah TKI (bekerja sebagai pembantu).
Saran saya jangan ragu-ragu kalau ada petugas di LN yg menyepelekan para pekerja itu, hanya karena mereka PRT. Masalahnya apa banyak yg rela “bersitegang” untuk urusan seperti ini.
Saya tergolong orang iseng yg sering melakukan hal ini. He he he, paling istri yg melotot ngingetin saya.
indon, setau saya memang diberikan kepada warga indonesia, yang bekerja sebagai buruh migran di malaysia, jelas ini adalah menganggap buruh migran kita memang tidak sebagai manusia yang layak mendapatkan hak asasinya, tapi buruh migran yang bekerja di sektor informal, misalnya PRT bahkan untuk kasus pekerja seks komersial yang diperdagangkan di malaysia. kebetulan saya pernah mendampingi beberapa warga kita yang diperdagangkan di malaysia, dan bagi mereka, kata-kata indon, membuat harga diri mereka sebagai manusia terinjak2 dan membuat trauma(psikologis). mungkin ini pelajaran bagi dua belah pihak, agar indonesia juga tidak melihat buruh migran hanya sebagai komoditas, tapi juga harus ditingkatkan kualitasnya (perlindungan juga), dan malaysia terutama PDRM (mungkin) untuk menghargai hak asasi manusia dan tidak rasialis (sama-sama melayu gitu lo)
malaysia kok jadi rasis gitu ya?
apa salahnya menyingkat indonesia dengan ‘indon’?
.
kita juga suka menyingkat malaysia dengan ‘malays’ atau ‘malas’ sahaja
quote : apa salahnya menyingkat indonesia dengan ‘indon’?kita juga suka menyingkat malaysia dengan ‘malays’ atau ‘malas’ sahaja .
well said.
this comment is specifically about the word ‘Indon’. you’re asking why do they call us ‘Indon’? well, because that’s how they speak!!!
if you look at the quote from the article, they mentioned the word ‘Bangla’ too (presumably about people from Bangladesh), and you have probably heard that they call themselves ‘Malay’.
memang gaya bicara slang mereka begitu, dipotong belakangnya. sama aja kayak kalau kita ngomong tentang warga Amerika Serikat sebagai ‘orang amrik’. apakah setiap kali memakai kata ‘amrik’ selalu berkonotasi negatif? belum tentu kan?
jadi tidak perlu kita super sensitif dan merasa tersinggung hanya gara2 gaya bahasa saja.
Gak semua orang Melayu seperti itulah. Tapi ini cerita aja dikit, mungkin karena citra Indonesia yang benar2 jelek di luar sana.
Dulu saya pernah tinggal di S’pore. Dalam seminggu kalau ada berita tentang Indonesia pasti gak jauh dari kejelekan seperti bunuh diri, perampokan, korupsi. Jadi gak heran pas saya naik taksi dan ditanya dari mana, saya jawab Indonesia. Sang supir bilang, “wah negara awak teruk sekali ya”. Well dia gak salah.
Oh iya, gue juga pernah dilecehin di imigrasi pelabuhan Singapura. Tas gue diperiksa dan isinya diberantakin kek gue teroris aja. Padahal yang meriksa gue orang Melayu
Well, aku ada temen dari Malaysia hasil blogging (Sapa bilang blog itu gak berguna? Hi Roy! tm) dan mereka baik-baik kok. *Hai luluk! Pa kabar?* Salah satunya lagi main di Jakarta loh. Mudah2an bisa ketemu. Mau aku ajak jalan-jalan ah ke tanah abang, mangga dua, makan bakso. hehehe shopping dan makan2 gitu loh. Maklum cewe.
Jujur, aku sempet geram dan emosi dengan ketegangan akhir2 ini. Well, capek dan gak ada gunanya. *nyadar*
iya yah…
kita juga kadang-kadang menyingkat kata-kata..
–budiw
siapa yang sudah pernah tinggal di malaysia?
weblogku baru
#20 itu gue
saking semangat ampe lupa ngisi identitas 
#17, #18, but we never say that on the media.. Kata2x itu mencuat belum lama dan hanya diucapkan segelintir orang.. Dalam bahasa media, kebanyakan bahasa yang digunakan adalah bahasa baku. Sehingga kata2 itu, (maaf) malays, malas, males adalah jarang atau bahkan tidak pernah saya lihat (best of my knowledge). Berbeda dengan Indon, Saya pernah melihatnya di media malaysia di blognya mbak fairy. Entah apalah maksud indon or whatever. Text hanyalah sebuah text. Benda mati memang. Tapi text akan hidup di pikiran dan hati kita. Dan Indonesians merasa tak enak dibilang indon
begitu juga dengan malaysians tak mau dipanggil males. Udahlah, mari kita sama2x berbahasa yang baik dan benar (tak menyinggung dan menyungging orang) dan jangan malas2x mengucapkan satu kata penuh Indonesia dan Malaysia
Karena satu ras, dan mayoritas satu agama, kita semua percaya bahwa ada pahala dan ada dosa 
#24: coba dibaca baik2 deh #19. it’s just the way they speak, and apparently it’s not the way *we* speak. makanya kata itu ada di media mereka dan nggak ada di media kita.
kamu salah besar kalau bilang bahwa istilah ini ‘mencuat belum lama’. dari dulu juga rekan2 malaysia kalau menyebut kita ya ‘indon’. persis sama seperti kita menyebut seseorang itu orang ‘barat’ atau ‘amrik’ atau ‘aussie’, atau ‘londo’ (possibly referring to any caucasian, not necessarily from the netherland). using those words we certainly don’t mean to offend anybody, that’s just how we speak.
sebaiknya janganlah kita terlalu righteous dan menghakimi bahwa menggunakan kata ‘indon’ itu tidak ‘baik dan benar’. masa iya kita memaksakan standar bahasa kita ke negara lain yang jelas2 tidak mengacu ke EYD. siapa tau itu biasa2 saja menurut ukuran mereka? rumpun boleh sama, tapi bukan berarti mereka harus mengikuti aturan kita kan?
hhahahah,
orang2 finlandia menyebut malaysia itu “malesia”, dan mereka (malaysian) ga marah tuh. Lagian apa sih arti indon? sampe begitu sewot dibilang indon.
hmm ada juga ngendon (bhs betawi).
#13, terima kasih Fairy untuk linknya. Mudah-mudahan persepsi saya untuk Malaysia bisa lebih baik di masa datang.
I wonder how Singaporeans think about us
. Just heard they treat Indonesians worse than some Malaysians. In western countries which far from this region, the treatments are pretty good. I think because who move there are students and in middle level of social-strata. I’ve been a while in Thailand, Philippine and Sri Lanka. They are ok in terms of hospitality. No TKI there
.
We should assume TKI is one of our ambassadors because they are the ones who make first impression of Indonesia. We must treat them much better than now.
Tadi malem ketemu serombongan orang Malaysia sewaktu lagi makan, maksud hati ingin juga rasanyaa “Ganyang” Malaysia, tapi ga jadi gara2 serombongan orang itu cewek semua n manis2 lagi huahh..
Setuju sama Cronos, kalo itu emang sekedar panggilan, apa salahnya …
kecuali kalo di Malaysia sana Indon punya konotasi negatif, barulah protes. Tapi yang diprotes konotasi negatifnya, bukan ‘Indon’nya
Ah itu aja marah….
Kalo nggak mau di sebut Indon perbaiki dulu kinerja kita segala bidang terutama birokrasinya…..
wah gak juga ah.disini orgnya baek²tuh
Malaysia emang murid yang gak bisa berterima kasih pada gurunya…
jadi inget temen yg dari malaysia. dia pernah cerita kalau sebenernya dia di larang sama ortu nya untuk berteman sama orang indonesia.
Generalization is the root of all gossip and misinterpretation.

Jangankan kata-kata indon ato apa, emang orang Indonesia hypersensitif kok, contohnya kata-kata ‘Cina’ vs ‘Tionghoa’ atau saling sebut suku lainnya. Orang ini gak suka sama orang itu, karena katanya orang itu pelit dan penuh perhitungan yang ga rasional. Emang kita terlalu sering ngata2in diri sendiri sih, makanya kalo ada orang yang sebut beda dikit aja, langsung merasa tersinggung.
Salahnya dimana ya? pendidikan? morality? Kalau mau dibenerin itu mesti dari mana untuk hilangkan prejudice ke semua orang? jadi prihatin juga
kayanya nggak ada yg marah deh indonesia di singkat indon, lagian nggak ada salahnya,
tapi intinya disini kan isi dari
“Jangan berkawan dengan orang indon (tanpa waspada)”
menurut ku sih maklumat ini dikeluarin oleh Polisinya, dan ditujukan untuk berhati2 dgn warga indo yg ada disana. (lg banyak kasus kan? orang indo disana?)
ya nggak salah jg sih…
NB:nggak perlu berkawan, yg penting siti tinggal di indo. merdeka!!!
Tul kata #35. Yang penting Siti tinggal di Indonesia, lebih keren lagi kalo tinggalnya di rumah Gw
#24, Yuhu Syahrani, fancy seeing you here. Pa kabar?
#27, Yudanto, I don’t really want to comment on how Singaporeans treat Indonesians because it is unfair to generalize a whole country on a few freak incidents (I’m referring to media reportings of Indonesian maid abuse, etc). You may be interested to visit my friends blog, they are an Indonesian couple yang tinggal di Singapore dan actively memberi komentar tentang pelakuan orang Singapore terhadap diri mereka sendiri. Silakan ke Indrani.net.
I can’t help but agree that TKIs are somehow always taken advantage of by majikan, authorities, etc. Jangankan di luar Indonesia, di dalam negara Indonesia sendiri para TKI dilakukan dengan treatment yang tidak nice.
Satu waktu itu teman saya (orang Jakarta) mau bikin passport (di Jakarta juga) and she noticed a whole bunch of TKIs at one corner lagi squatting (nongkrong?) ramai-ramai, ngurusin passpor dan visa kerja (kali) and custom officers were screaming at them like they were herding goats. Diperlakukan seperti kambing jadinya. Teman saya jadi kasian dan tidak sanggup untuk melihatnya, trus diceritakan ke saya waktu dia datang jalan2 ke Malaysia.
I also know for a fact that TKI sering diperas for money sebelom mereka terbang ke negara majikan mereka (by airport officers). Tidak kecil jumlahnya buat para TKI yang miskin.
So in short, if Indonesians cannot respect their own people, it is almost wishful thinking to expect others outside to display the same kind of sentiment (but of course this is a very lame excuse).
Just my two sen and two rupiah! Thank you.
just curious if malaysian knows our clown, Mr KRMT Roy Suroy, what will they said about indonesian ? a stupid country with stupid public figure and the object of malaysian bomb master. Hi Roy™
mending perang aja ama malaysia .. sekali sekali .. masak ngalah melulu ??
Jangan Berkawan dengan Orang Indon
Mungkin Orang Indonesia sudah di cap miring atau mungkin sudah di cap meresahkan oleh Rakyat Malaysia sehingga harus di Jauhi atau minimal di waspadai atau bahkan kalo perlu di larang untuk datang dan ada di Malaysia, layaknya orang orang model arab …
#37, halo mbak fairy.. Fancy seeing you here too
I’m going well thanks, urself? 
*sekalian pengen nyoba Firefox 1.0.3.. baru update*

Masalahnya jangan digeser dong, bukan soal istilah Indon-nya… istilah Indon jelas mengacu pada orang2 Indonesia… yg jadi masalah kan adanya “larangan untuk berteman dengan Indon”. so it means “dg orang Indonesia”…
Yah buat saya sih biarin aja lah, mereka mau ngomong apa kek, mau kentut juga suka2 merekalah, lha wong negeri2 mereka sendiri… kita kerjain aja PR kita masing2, toh kita juga gak butuh kok berteman sama mereka.. cuman moga2 aja saudara2 TKI kita tidak diperlakukan semena2 di sana..
Makanya kalo saya anjurkan sih orang2 Indonesia yg punya duit gak usahlah sekolah ke Malaysia, Singapura, kecuali dapet beasiswa… mending ke Australia, Amerika, Eropa, atau Jepang, jelas2 negara maju, bukan negara yg “sok maju”, kualitas belum tentu (kecuali Singapura), paling2 dipoles pake Bhs Inggris doang… jangan ketipu dah…
Di beberapa negara spt Inggris, Jerman, Jepang, Belanda, saya pernah ketemu beberapa rombongan Malaysia, dan emang rata2 belagu begitu.. yg baik juga ada sih, tapi yg belagu lebih banyak… kapan hari di Paris saya ketemu rombongan Malaysia yg lagi celingukan kesasar, trus saya tolongin, eh mereka terimakasih banget, tapi pas tau saya orang Indonesia langsung pandangannya berubah, lupa sama terimakasihnya, dikira saya TKI kali, TKI beneran pun gak salah juga kan? yg penting halal… ya udahlah, EGP, saya anggep emang orang kampung yg OKB, gaya pakaiannya pun emang rata2 lebih norak dr kita, kayak Jakarta tahun 80an, jadi saya gak ambil pusing… begitu mas Priyadi dan temans, jadi biarin aja, emangnya yg mau berteman juga siapa???
#37, hmm saya juga pernah lihat itu petugas imigrasi yang melakukan pelecehan seksual terhadap calon TKW di kantor imigrasi Jakarta Barat. petugas2 itu memang memperlakukan mereka dengan kasar dan semena-mena.
jadi #42, yang memperlakukan TKW dgn semena-mena itu bukan cuman orang Malaysia, Arab, atau Hong Kong, tapi juga orang kita sendiri.
to #43 Did I say something telling you that our TKI/TKW “diperlakukan semena2″ in Malaysia??? nope bro, I only said that “semoga” mereka tidak diperlakukan semena2… no make no mistake… why did I write it? doesnt have any connection with what #27 or #37 wrote… just because the announcement from PDRM seems to me a bit racist… and racism close to “tindakan semena2″… surely we dont like to see them badly treated anywhere in the world just like in our country by our immigration people…
#37 hmmm.. not commenting about the “indon” thing, but in this article i found my old friend Fairy is writing in this comments
Hai Fai!! And the link she put in http://www.indrani.net, she was my friend from UNPAR. Well who said that blog is useless? What was his name? Hi Roy!â„¢ hehehe…
#41 Mas Syahrani, are you the younger brother of Arief?
Gak usah dipikirin! Lagian,apa enaknya sih berteman dengan manusia sombong!!!
Di Indonesia juga udah banyak manusianya,silahkan pilih aja teman yang sesuai selera!!! 
forget to write… somebody here have Indonesian friends that do their studies in Malaysia? I can tell you guys, you’ll hardly find somebody so nice to us like Fairy there… mostly they look down on us, not only on TKI, but on students also… I have a friend, taking his doctoral in UK rightnow, telling me a story how bad his experiences during his master studies in Malaysia… a bit traumatic if not too exaggerating… making him dont wanna look back at that supposed-to-be-happy time.. I take his words seriously since he’s from a very well renown moslem family in Indonesia…and he was there because his father want him to better learn moslem ways, but instead he learned many things au contraire with Islam done by Malaysians to Indonesians..
dont want to flame you guys, just to inform you… and stop pretending being so civilized, even in a civilized world sometimes you’re forced to act uncivilized if others treat you badly you dont deserve… or at least, my suggestion as I wrote above: just dont care, just dont give a shit to kids that want to attract your attention.. better focus your mind on something much worthwhile..think BIG guys, let them do whatever they want… as long as not physically abuse us and take over our territory…salam..
Tips menghalang kecurian seperti yang diberi oleh Polis DiRaja Malaysia.
Rupanya beberapa dari kita memang agak “dicurigai” oleh Malay, berikut ada tips yang saya ambilkan dari http://www.veteran.org.my
Lihat tips nomor 21.
1. Jangan biarkan anak-anak tidur di ruang tamu seorang diri (Mereka mungkin menggunakan anak …
#37 Fairy, mungkin kita bisa ketemu di Malindo kapan-kapan untuk ngobrol enak soal Indonesia-Malaysia. Teman-teman saya disini sering kumpul-kumpul di rumah makan milik Enny Beatrice itu di akhir minggu. Yang punya indrani.net sering saya lihat namanya di forum lain jadi tidak terlalu asing.
Salam
lucu sekali orang indonesia merasa bahwa komentar orang2 malaysia tidak mengenakkan, atau bahkan rasis.
rekan2 sekalian, coba lihat kalendar sejarah, apa yang terjadi pada bulan mei 1998.
segitu sengitnya ?
tapi… kalo untuk hubungan Aceh - Malaysia kok nggak gitu2 amat ya? Jadi ingat kalo di Malaysia sampai ada kampung/desa yang namanya ngambil nama daerah2 di Aceh.
di Banda Aceh malah ada daerah namanya Kedah, serta taman Putroe Phang (Putri Pahang)….
Shakespearre bilang sih.. : “what is a name?”
not all the peoples right in Malaysia doing such a bad thing… I think
Belutz, I am so not getting this “Hi Roy” reference, ada apa yah?
Syahrani, dude I’ve always wanted to tell you that your writing’s one of a kind. Quite engaging kalau dah lama2. Bahaya! Bisa lupa diri kadang2. Hehe.
opo wae thooo???, not all Malaysians are as awful as you claim they are. I believe that sometimes our shyness precedes us and we get mistaken for being sombong. Jujur saja kadang2 saya merasakan orang Malaysia itu sombong sama orang sendiri (from my own personal experience, apalagi kalau dah di overseas, wuih) dan kadang2 saya merasakan orang Indonesia itu lebih friendly. And it’s true memang, orang Indonesia lebih ramah. Sometimes, TOO ramah haha.
But I have to say orang Malaysia ga semuanya jahat lah. I am not jahat am I? Do I look down upon Indonesians, no kan? Jauh sama sekali dari itu. Dan saya percaya saya tidak sendirian dalam hal ini. Banyak orang Malaysia yang mengkagumi dan sayang Indonesia, cuma kalian saja tidak tahu.
Yudanto, boleh saja ketemuan. Malindo itu persisnya di mana yah? Belom pernah ke sana, saya. Boleh kirim saya email (dapatkan dari “About” link saya di http://www.Myindo.com ya) and we’ll arrange dari situ.
#52: cik fairy, please refer to my posting about hi roy. it is kinda embarassing when i have to talk about that to foreigner though
Fairy, maaf kalau posting saya sebelum ini seperti yg penuh ketidaksukaan pada orang Malaysia. Saya harus akui bahwa beberapa orang Malaysia yang saya temui di negara2 yang saya ceritakan tersebut tidak saya kenal secara dalam, hanya sepintas lalu. Dari 14 orang Malaysia yg saya temui hanya 3 yang saya kenal ramah. Tapi Fairy mungkin juga benar, mereka mungkin just too shy.. Kalau saja saya tahu bahwa di Malaysia banyak yang seperti Fairy, tentu pandangan saya berbeda, saya akan lebih respek. Terimakasih banyak, merci beaucoup, on peut mieux se connaitre maintenant, entre les Indonesiens et les Malaisiens.
#51: alex, tidak semua orang merujuk kalimat Shakespeare, justru orang Indonesia lebih banyak merujuk Nama adalah doa.
#55. Pernah dikata2in ngga? sampe diludahin segala, cuma gara2 ras anda.
Saya pernah, padahal saya tidak salah apa2.
Kalau orang indonesia benar2 berpendapat bahwa nama adalah doa, sepanjang hidup saya waktu dulu di Jakarta benar2 sebaliknya. Orang2 Indonesia justru banyak yang rasis terhadap saya, dan memanggil saya dengan nama2 dan kata2 yang penuh hinaan.
#56: yang jelas itu bukan pembenaran terhadap generalisasi kaum tertentu. juga nama yang mempunyai arti yang baik belum tentu lepas dari ‘cacian’ segelintir orang.
Payah sih memang bangsaku Indon, eh, Indonesia ini. Kalau tidak mau dilecehkan orang, ya jangan lecehkan diri sendiri. Yang TKI memalsu umur, yang pejabat imigrasi memberikan paspor seenaknya, yang PJTKI tidak mau melatih TKI jadi layak kerja, di negeri jiran juga mau saja kerja sama majikan nakal. Pemerintah sama DPR jangan cuma berani ribut soal Mulyana, coba apakah penciptaan lapangan kerja buat sekian juta orang bsia terealisasi? Baru habis itu bicara harga diri bangsa
#57, kalimat anda itulah yang seharusnya juga diterapkan ke rekan2 lain yg berpendapat sama tentang malaysia.
> yang jelas itu bukan pembenaran terhadap generalisasi kaum tertentu.
sudah banyak yg generalisasi terhadap orang malaysia. hey teman2 indonesia, dengarkan Jay.
> juga nama yang mempunyai arti yang baik belum tentu lepas dari ‘cacian’ segelintir orang.
roy suryo?
#55
yup!! benar memang kalo di Indonesia nama itu juga doa
Tapi apa di Indonesia saja? Setahu saya di Malaysia juga.
hanya saja… yang membingungkan, what does it mean “Indon”?
Mungkin perlu diminta keterangan dari (semacam) Balai Bahasa-nya Malaysia nih
Tapi kalau merujuk pada teman2 yang pernah kerja di sana, sepertinya itu lebih karena pengaruh nuansa melayu di lidah saudara seberang. Juga kultur bahasa mereka yang sudah bercampur dengan Inggris. Lihat saja penggunaan “ai” untuk menyebut “aku”.
Anyway… can anybody tell me the meaning of “Indon”?!
Di australia juga sama. Indonesia disingkat menjadi Indon, atau Indons. Itu sudah umum di berbagai surat kabar.
Menurut saya sih tidak ada arti apa2, hanya singkatan saja. Karena Indo itu sudah ada artinya http://en.wikipedia.org/wiki/Indo .
Jadi Indon saja.
Bukan kata “Indon” yang menjadi masalah tetapi pengucapan kata “Indon” yang disertai sinis karena mereka anggap kita di bawah kelas orang Malaysia. (maklum banyak orang kita yang bertebaran menjadi buruh disana). Kalau dulu jamannya Bung Karno, mana berani orang Malaysia berbuat seperti itu (dari perdana meneteri sampai rakyatnya). Malah Mahathir sangat bangga dan respect pada Bung Karno, sampai dijuluki little Soekarno.
buat mas rani : sori g dah pake firefox yang 1.0.4 baru update juga
Sebelum saya menjejakkan kaki ke Indonesia dulu, saya merasakan orang Indonesia terlalu teruk. Saya sangat bimbang dengan budaya rasuah (korupsi) di sana. Menurut abangku, harga tiket bas (bis) boleh berubah-ubah walaupun hala tujunya sama. Tekaan saya tepat apabila pertama kali menjejak kaki ke tanah Indonesia. Apabila mahu cop pasport saya, pegawai di situ minta “uang pelincir” untuk membenarkan saya masuk ke Indonesia.
Di Malaysia pula, banyak kes jenayah melibatkan orang Indonesia. Di tempat saya ini, Johor, banyak perompak, penyamun tinggal di Kepulauan Riau dan apabila selesai merompak, mereka pulang ke Indonesia supaya tak terjejak polis Malaysia.
Namun, apabila mendapat layanan terbaik keluarga teman saya di Jakarta, kebimbangan saya hilang. Pada fikiran saya orang Indonesia sangat menghormati tetamu. Walaupun dah jauh malam apabila saya sampai, mereka sanggup berjaga menunggu saya tanpa sedikit marah pun kerana lambat
.
Apabila ke mal di Jakarta atau Bandung, layanan sungguh baik, bahkan mungkin tak terjumpa di KL ataupun Singapura yang kononnya terkenal dengan “world-class customer service”nya.
Bagi saya, semua perlakuan buruk org Indonesia ini saya anggap sebagai terisolasi. Hanya sedikit sahaja jika dibandingkan dengan majoriti orang Indonesia yang bijak dan waras. Masalah di sini ialah kerana nila setitik rosak susu sebelanga.
Lagi satu, tak mungkin juga orang Malaysia memilih peperangan. Untuk pengetahuan banyak orang Melayu di sini bersusur galur dari Indonesia - Jawa, Banjar, Bugis, Minangkabau, Aceh dll. Mengapa perlu berperang dengan bangsa sendiri sedangkan banyak lagi cara lain untuk menyelesaikan masalah?
Saya ada ramai kawan orang Indon kat universiti…tak pernah saya pandang rendah ngan diorang…lagi satu, kat UK ni, orang Indon memang jadi ahli Persatuan Orang Melayu kat universiti kat sini..bahkan hubungan kami rapat…
kat mesia pulak, ayah saya ada pekerja indonesia yg dibuat anak angkat sbb ayah saya dia sbb dia rajin..in fact, masa kami balik kampung ke ataupun bercuti ke mana mana, kami tinggalkan kunci rumah kat dia supaya dia boleh jaga rumah kami…
I think we cannot make such a generalization coz it may augur ill to what that has been previously deeply rooted in the spirit of muhibbah between indonesians and malaysians..thank you
I live in KL. My Father is Indonesian and my Mother is Malaysian.
I think the term Indon is degrading only when it’s used to insult. Otherwise it’s just another shortform used in Malaysia.. I doubt a Malaysian when speaking to say an American or such would refer to and Indonesian as Indon.. as the term is not widely known. What I mean is that, the word ‘Indon’ is something used amongst the locals. To a certain extend I think if Indonesians find it offensive to be refered to as Indons then Malaysian shouldn’t use that word.
gak gitu paham masalah euy. tapi lumayan buat nambah pengetahuan, maklum jarang nonton tv.
kalo liat dari pandangan temen2, opini dan macem2nya. simpulan saya adlh ‘this all happen because of such generalization’.
dalam hidup, kita sering melakukan itu. misalnya kalo ada pencuri bernama ‘t’ dari desa ‘a’. pasti yang cerita yang menyebar gak jauh dari desa ‘a’ yang artinya orang sedesa jadi punya citra pencuri. padahal gak semuanya pencuri kan. ‘the exception law always exist’, that what we should realize and practice it in our live.
tapi kalo yang terjadi adlh memberikan pengumuman terbuka seperti ini sehingga tercipta opini public yang lebih luas. ini sangat tidak benar.
semoga anjuran itu tidak benar dan tidak pernah dikeluarkan. hanya orang yang gak bener aja yang mo bikin ulah.
Hai! Baik sekali artikel ini. Saya sebagai rakyat Malaysia tidak pernah berprasangka buruk apabila mengeluarkan perkataan indon. Perkataan tersebut adalah lumrah bagi kami rakyat disini. Mungkin, perkataan in-do-ne-si-a itu terlalu panjang. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut sesuatu yang berasal dari Indonesia dengan panggilan indon. Makanan indon, barang indon, batik indon, penyanyi indon dan sebagainya. Bukan niat kami untuk merendahkan masyarakat di sana. Kerana perkataan indon telah mula digunakan sejak saya dilahirkan pada tahun 1984
Mungkin jika terdapat inisiatif berterusan dari pihak kerajaan mahupun swasta, keadaan ini dapat dipulihkan untuk menjaga hati kedua-dua belah pihak. Terima kasih!
Indon? Why not? Keren juga tuh…

Anyway, I’m proud to be Indon, men…
hanya kerana singkatan nama sudah menjadi isu yang menyinggung perasaan rakyat indonesia. Rakyat Indonesia sememangnya sedang kecewa, marah dan malu atas banyak perkara yang berlaku. Pemerintah sudah banyak kali berubah namun negara masih ketinggalan, daerah sudah ada yang terlepas dari genggaman, pelajar universiti sungguh mudah di hasut untuk memberontak…ekonomi amat menyedihkan berbanding sumber yang ada…tak mustahil kekecewaan ini di salurkan ke atas orang lain dan pihak yang mudah adalah malaysia. Kita mengganggap pekerja indonesia yang bekerja dimalaysia sebagai saudara yang jauh tetapi kita lupa yang mereka menyimpan perasaan benci terhadap kita ( yang masih kita tidak faham…kenapa ) tiada seorang pun yang kita bunuh hanya kerana kecewa bendera kita dibakar…..malahan sudah banyak antara kita yang di bunuh, diperkosa oleh penjarah yang kita gelar saudara….ganyang malaysia pada 60 an dahulu tidak berjaya dan kita berjaya mempertahankan diri dan jika berlaku lagi saya yakin kita mampu mempertahankan diri..dan selepas itu mungkin kita harus waspada pada tetamu yang bertandang kerumah kelak….
kalau hanya pulau yang kecil ingin di pertahankan, ambil saja pulau itu kerana malaysia tak memerlukannya. tapi harapan kami agar jangan dipersiakan seperti yang terjadi ditimor timur….terlepas ketangan orang terang-terangan…kenapa tiada siapa yang ingin menganyang australia? yang terang-terangan terlibat dalam hal ini? hanya 1 - 2 orang malaysia yang mengebom indonesia sudah tak keruan polisi indonesia mencari mereka…inikan pula nak menganyang 21 juta rakyat malaysia…go to hell….
kalau hanya pulau yang kecil ingin di pertahankan, ambil saja pulau itu kerana malaysia tak memerlukannya. tapi harapan kami agar jangan dipersiakan seperti yang terjadi ditimor timur….terlepas ketangan orang terang-terangan…kenapa tiada siapa yang ingin menganyang australia? yang terang-terangan terlibat dalam hal ini? hanya 1 - 2 orang malaysia yang mengebom indonesia sudah tak keruan polisi indonesia mencari mereka…inikan pula nak menganyang 21 juta rakyat malaysia…go to hell….
mungkin karena kebiasaan kita yg suka pake bahasa ttt dalam rangka merendahkan etnis ttt…jadi ngerasa sensitif ma kata2 indon..
tul??
~juz a thought~
aku dah bosan mendengar kata-kata ganyang malaysia…sedangkan dulu bung karno tak mampu lakukan apatah lagi waktu ini….begitu mudah jiwa rakyat indonesia di permainkan oleh ahli politik yang korup dan koran yang tidak bertanggung jawab…kalau kerana pulau yang di pertikaikan…kau ambil lah….tidak bernilai pulau itu pada aku di bandingkan bendera jalur gemilang yang di bakar.. aku dah bosan dengan kerajaan ku yang terlalu bertimbang rasa dengan orang luar…kini aku terpaksa beratur di dalam hospital kerajaan semata-mata kerana sebutir panadol..kerana di hadapan ku masih beratur berpuluh lagi orang indonesia yang sakit..aku masih bersabar..kini aku terpaksa berdiri di dalam bas kerana ada ramai lagi orang indonesia di dalam yang ingin ke tempat kerja…aku masih bersabar..kini aku terasa sukarnya untuk mencari rumah untuk berteduh di kuala lumpur kerana ramai orang indonesia yang merebutnya dari ku..aku masih bersabar..kasihan aku melihat teman ku mengeluh kerana tiada tempat untuk berniaga kerana ramai rakyat indonesia yang menjual bakso…aku masih bersabar…kata ibu ku biarkan..kerana mereka mencari rezeki..aku akur…dahulu kerajaan ku mengambil keputusan menghantar pulang TKI supaya mereka kembali nanti dengan sah agar kebajikan mereka dapat kita jamin dari majikan yang bertanggung jawab (ysng kebanyakkannya di tipu rakyat sendiri) maka berteriak lah koran indonesia mengatakan kerajaan ku zalim…zalim? fikir ku….ah..sabar aja lah karenah orang pendek pikiran tapi banyak nafsunya…hantar komen anda ke ancasa_raya@yahoo.com
kalau berkawan dengan cewek2 dari londonschool jakarta… ?
tak ada apa yang hinanya dengan perkataan indon, ia hanya singkatan drp indonesia shj. Bukankah di indonesia sendiri sebutan ringkas itu seolah-olah macam satu kemestian dalam ungkapan sehariannya…lihat sahaja wakil presiden jadi walpres, direktor jeneral jadi dirjen, pilihanraya umum jadi pemilu dll. Justeru siapa yg hanya mau enak sendiri sahaja merasakan perkataan indon itu satu penghinaan terhadap bangsa indonesia…rakyat indonesia seharusnya dapat menerima itu adalah budaya bahasa org malaysia. Begitu juga kami di malaysia tidak boleh memandang org indonesia sebagai kurang ajar apabila kamu mengucapkan perkataan ‘BUTUH’ atau ‘MEMBUTUHKAN’ walaupun perkataan itu amat memalukan untuk disebut kerana di malaysia BUTUH bermakna alat kelamin lelaki. Jadi ayat ini amat tidak boleh diterima di malaysia ‘malam ini saya membutuhkan ibu kamu’ atau ‘aku butuh kamu’…jadi coba lah berinspeksilah diri masing2 jangan memaksa org lain mnenelan apa yg kita suka sedangkan bukan semua org suka makan petai heheheh
ada yang bilang “apa lah artinya nama” atau “gitu aja marah” atau