15 May 2006

‘Rich Dad, Poor Dad’ vs ‘Ayah Kaya Tidak Kaya’

Posted under: at 09:14

Ayah Kaya Tidak Kaya

Beberapa tahun yang lalu seorang teman menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat bagus dan merekomendasikannya kepada saya. Buku tersebut berjudul Rich Dad, Poor Dad. Teman tersebut bahkan memberi saya hasil fotokopi dari buku yang ia miliki. Fotokopi tersebut adalah salinan dari cetakan pertama edisi Warner Books, berbahasa Inggris, dan mendapat otograf dari Kiyosaki sendiri pada September 2000 :D. Sebenarnya saya tidak begitu antusias, tetapi setelah mendengar cerita dari teman saya yang begitu bersemangat akhirnya saya meluangkan waktu untuk membacanya.

Setelah membaca sekitar setengah dari buku ini saya terkejut, saya sama sekali tidak menyukainya. Saya tidak menemukan hal yang begitu istimewa dari buku ini, hal yang dapat menjadikan buku ini layak untuk dibaca. Dan bahkan saya sempat berujar “Ah! Ini cuma sampah.” Saya tidak menyukai cara menyampaikan Kiyosaki yang berbelit-belit, mendewakan uang di atas segala-galanya, meremehkan cara orang lain bekerja, kesombongan yang tersirat pada kalimat-kalimatnya, dan mungkin hal-hal lainnya yang sulit dijelaskan. Dengan kata-kata yang halus, saya tidak merasa baik-baik saja setelah membacanya.

Hal tersebut saya sampaikan ke teman saya, tetapi teman saya bersikukuh pada pendapatnya bahwa buku tersebut adalah buku terbaik yang pernah dia baca. Akhirnya saya baca buku tersebut pelan-pelan dari sampul ke sampul. Hasilnya? Saya tetap berpikiran kalau buku ini adalah sampah. Setelah itu saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Mungkin saja teman saya ini adalah kasus khusus. Setiap orang bisa jadi memiliki penggemarnya masing-masing dan kami memiliki selera yang berbeda. Dan memang lumrah setiap manusia memiliki selera yang berbeda-beda.

Beberapa bulan kemudian, ‘Rich Dad, Poor Dad’ diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan seringkali dipajang pada rak buku laris di beberapa toko buku terkemuka. Artinya? Orang-orang menyukai dan bahkan membeli buku ini! Saya mulai berpikir apa ada yang salah dengan orang-orang ini, dan terlebih lagi, apa ada yang salah dengan diri saya :). Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering menghantui saya ketika saya bepergian ke toko buku. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah bahwa sebagian ‘pengikut’ Kiyosaki sangatlah fanatik, mereka akan mendukung idolanya mati-matian! Suatu hal yang sangat tidak lazim terjadi pada pembaca buku-buku finansial pribadi atau buku-buku motivasi sekalipun.

Tanggal 6 November 2004, Kiyosaki mengunjungi Indonesia untuk berbicara pada sebuah seminar. Acara ini dipromosikan dengan besar-besaran pada berbagai media, dan sepertinya memang lalu keras. Pertanyaan-pertanyaan kembali menghantui saya, “Apa sih yang menyebabkan orang-orang ini begitu mendewakan Kiyosaki?” Kali ini saya cari jawabannya melalui Google, dan akhirnya saya menemukan halaman legendaris John T. Reed’s analysis of Robert T. Kiyosaki’s book Rich Dad, Poor Dad. Saya pun sempat membahasnya di blog saya ini pada tulisan berjudul Sisi Lain Robert Kiyosaki. Tulisan John Reed tersebut akhirnya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya selama ini: mengapa saya tidak menyukai ‘Rich Dad, Poor Dad’ dan mengapa banyak orang menyukai buku tersebut dengan fanatisme yang begitu menggebu-gebu.

Akal sehat saya mengatakan jika Kiyosaki telah terbukti berbohong melalui buku-bukunya, maka cepat atau lambat ia akan ditinggalkan para pengikutnya. Tetapi pada kenyataannya, buku-buku Kiyosaki tetap laku keras dan para fans tetap membelanya mati-matian! Kenyataan ini semakin menarik minat saya untuk memperhatikan fenomena Kiyosaki ini dari dekat.

Pada tanggal 8 Mei 2005, Jawa Pos menulis kolom Kiyosaki dan Mitos Rich Dad. Dari tutur katanya, sepertinya artikel tersebut memang bersumber dari analisis John Reed. Dan satu bulan kemudian, terbit buku ‘Ayah Kaya Tidak Kaya’ yang menerjemahkan analisis John T. Reed ke dalam Bahasa Indonesia.

Hampir satu tahun kemudian, saya baru mengetahui keberadaan buku tersebut dari sebuah diskusi di forum Internet (ya ya, BasBang!). Karena penasaran, saya beli saat itu juga ketika toko buku Gramedia sudah nyaris tutup. Sebenarnya, jika dibilang menerjemahkan juga kurang tepat, yang tepat adalah menceritakan ulang, karena sepanjang pengetahuan saya John T. Reed memang belum pernah menulis analisis Kiyosaki dalam bentuk buku. Yang ada hanyalah beberapa halaman HTML pada situs pribadi John T. Reed. Sebagian besar isi buku ini memang berasal dari analisis Reed, tetapi saya juga dapat mengidentifikasi paragraf-paragraf bumbu yang tidak ada di sumber asalnya.

Bagi anda yang seperti saya, bertanya-tanya mengenai popularitas buku-buku Kiyosaki yang menurut anda tidak layak bertengger pada deretan buku-buku laris, atau fanatisme ‘pengikut’-nya yang luar biasa, yakinlah bahwa anda tidaklah sendirian! Buku ini dapat memberikan jawaban untuk anda. Disamping membeberkan fakta-fakta yang ‘terlewat’ diceritakan Kiyosaki kepada anda, buku ini juga memberikan beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan anda tentang fanatisme pengikutnya.

Walaupun demikian, hal yang sama dapat juga anda peroleh dari sumbernya langsung, yaitu halaman John T. Reed’s analysis of Robert T. Kiyosaki’s book Rich Dad, Poor Dad. Kelebihan situs web dibanding buku adalah bahwa John T. Reed memperbaharui halaman ini dari waktu ke waktu, suatu hal yang tidak dapat dilakukan pada sebuah buku. Sedangkan buku ini cocok bagi yang membutuhkan penjelasan dalam Bahasa Indonesia, yang menginginkan penjelasan dalam bentuk cetak, atau yang hanya sekadar ingin memberi dukungan materi kepada Reed ;). Satu saran dari saya: bagi anda yang ingin menggunakan buku ini untuk menyadarkan rekan anda yang ‘penganut paham Kiyosaki’, sebaiknya jangan buang-buang waktu anda. Dan jangan bilang kalau saya tidak memperingatkan anda ;).

Setelah membaca Reed versi Bahasa Indonesia ini, akhirnya saya ada niat juga untuk mencari fotokopian ‘Rich Dad, Poor Dad’ yang tergeletak pada sebuah tempat di gudang saya. Setelah satu jam mencari, akhirnya saya bisa menemukannya dan baru menyadari bahwa ini adalah hasil fotokopi buku ‘Rich Dad, Poor Dad’ yang berotograf Kiyosaki sendiri, jauh sebelum buku-buku Kiyosaki populer di Indonesia! Hal ini menjelaskan kesetiaan teman saya ini terhadap Kiyosaki ;).

Otograf di Rich Dad, Poor Dad

Lalu sekarang bagaimana? Sikap saya terhadap buku-buku Kiyosaki sudah jelas, dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Saat ini saya sama sekali tidak tertarik untuk berdebat panjang lebar tentang kebenaran ‘ajaran’ Kiyosaki. Saya lebih tertarik untuk menganalisis gaya penulisan persuasif dari Kiyosaki ditinjau secara psikologis dan filosofis. Bagaimana caranya memposisikan penulis sebagai pujaan orang-orang melalui sebuah tulisan persuasif yang melibatkan emosi pembacanya. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana mempertahankan pemikiran kritis serta melepaskan diri dari pengaruh emosional ketika membaca tulisan-tulisan semacam itu. Rasanya saya tidak sendirian, jika melihat rak-rak buku laris di toko-toko buku terkemuka, kita bisa dengan mudah menemukan buku-buku yang ditulis dengan gaya Kiyosaki. Artinya, ada juga orang-orang yang bisa mengambil ‘teladan’ sesungguhnya dari buku-buku Kiyosaki tersebut.

Tulisan Reed memang sedikit menjelaskan fenomena ini, tetapi masih menyisakan banyak hal yang ingin saya ketahui. Saya memang bukan ahli filsafat atau psikologi, tetapi rasanya ini adalah sebuah bahan penelitian yang menarik di kedua bidang tersebut.

239 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!