‘Rich Dad, Poor Dad’ vs ‘Ayah Kaya Tidak Kaya’
Beberapa tahun yang lalu seorang teman menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat bagus dan merekomendasikannya kepada saya. Buku tersebut berjudul Rich Dad, Poor Dad. Teman tersebut bahkan memberi saya hasil fotokopi dari buku yang ia miliki. Fotokopi tersebut adalah salinan dari cetakan pertama edisi Warner Books, berbahasa Inggris, dan mendapat otograf dari Kiyosaki sendiri pada September 2000
. Sebenarnya saya tidak begitu antusias, tetapi setelah mendengar cerita dari teman saya yang begitu bersemangat akhirnya saya meluangkan waktu untuk membacanya.
Setelah membaca sekitar setengah dari buku ini saya terkejut, saya sama sekali tidak menyukainya. Saya tidak menemukan hal yang begitu istimewa dari buku ini, hal yang dapat menjadikan buku ini layak untuk dibaca. Dan bahkan saya sempat berujar “Ah! Ini cuma sampah.” Saya tidak menyukai cara menyampaikan Kiyosaki yang berbelit-belit, mendewakan uang di atas segala-galanya, meremehkan cara orang lain bekerja, kesombongan yang tersirat pada kalimat-kalimatnya, dan mungkin hal-hal lainnya yang sulit dijelaskan. Dengan kata-kata yang halus, saya tidak merasa baik-baik saja setelah membacanya.
Hal tersebut saya sampaikan ke teman saya, tetapi teman saya bersikukuh pada pendapatnya bahwa buku tersebut adalah buku terbaik yang pernah dia baca. Akhirnya saya baca buku tersebut pelan-pelan dari sampul ke sampul. Hasilnya? Saya tetap berpikiran kalau buku ini adalah sampah. Setelah itu saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Mungkin saja teman saya ini adalah kasus khusus. Setiap orang bisa jadi memiliki penggemarnya masing-masing dan kami memiliki selera yang berbeda. Dan memang lumrah setiap manusia memiliki selera yang berbeda-beda.
Beberapa bulan kemudian, ‘Rich Dad, Poor Dad’ diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan seringkali dipajang pada rak buku laris di beberapa toko buku terkemuka. Artinya? Orang-orang menyukai dan bahkan membeli buku ini! Saya mulai berpikir apa ada yang salah dengan orang-orang ini, dan terlebih lagi, apa ada yang salah dengan diri saya
. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering menghantui saya ketika saya bepergian ke toko buku. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah bahwa sebagian ‘pengikut’ Kiyosaki sangatlah fanatik, mereka akan mendukung idolanya mati-matian! Suatu hal yang sangat tidak lazim terjadi pada pembaca buku-buku finansial pribadi atau buku-buku motivasi sekalipun.
Tanggal 6 November 2004, Kiyosaki mengunjungi Indonesia untuk berbicara pada sebuah seminar. Acara ini dipromosikan dengan besar-besaran pada berbagai media, dan sepertinya memang lalu keras. Pertanyaan-pertanyaan kembali menghantui saya, “Apa sih yang menyebabkan orang-orang ini begitu mendewakan Kiyosaki?” Kali ini saya cari jawabannya melalui Google, dan akhirnya saya menemukan halaman legendaris John T. Reed’s analysis of Robert T. Kiyosaki’s book Rich Dad, Poor Dad. Saya pun sempat membahasnya di blog saya ini pada tulisan berjudul Sisi Lain Robert Kiyosaki. Tulisan John Reed tersebut akhirnya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya selama ini: mengapa saya tidak menyukai ‘Rich Dad, Poor Dad’ dan mengapa banyak orang menyukai buku tersebut dengan fanatisme yang begitu menggebu-gebu.
Akal sehat saya mengatakan jika Kiyosaki telah terbukti berbohong melalui buku-bukunya, maka cepat atau lambat ia akan ditinggalkan para pengikutnya. Tetapi pada kenyataannya, buku-buku Kiyosaki tetap laku keras dan para fans tetap membelanya mati-matian! Kenyataan ini semakin menarik minat saya untuk memperhatikan fenomena Kiyosaki ini dari dekat.
Pada tanggal 8 Mei 2005, Jawa Pos menulis kolom Kiyosaki dan Mitos Rich Dad. Dari tutur katanya, sepertinya artikel tersebut memang bersumber dari analisis John Reed. Dan satu bulan kemudian, terbit buku ‘Ayah Kaya Tidak Kaya’ yang menerjemahkan analisis John T. Reed ke dalam Bahasa Indonesia.
Hampir satu tahun kemudian, saya baru mengetahui keberadaan buku tersebut dari sebuah diskusi di forum Internet (ya ya, BasBang!). Karena penasaran, saya beli saat itu juga ketika toko buku Gramedia sudah nyaris tutup. Sebenarnya, jika dibilang menerjemahkan juga kurang tepat, yang tepat adalah menceritakan ulang, karena sepanjang pengetahuan saya John T. Reed memang belum pernah menulis analisis Kiyosaki dalam bentuk buku. Yang ada hanyalah beberapa halaman HTML pada situs pribadi John T. Reed. Sebagian besar isi buku ini memang berasal dari analisis Reed, tetapi saya juga dapat mengidentifikasi paragraf-paragraf bumbu yang tidak ada di sumber asalnya.
Bagi anda yang seperti saya, bertanya-tanya mengenai popularitas buku-buku Kiyosaki yang menurut anda tidak layak bertengger pada deretan buku-buku laris, atau fanatisme ‘pengikut’-nya yang luar biasa, yakinlah bahwa anda tidaklah sendirian! Buku ini dapat memberikan jawaban untuk anda. Disamping membeberkan fakta-fakta yang ‘terlewat’ diceritakan Kiyosaki kepada anda, buku ini juga memberikan beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan anda tentang fanatisme pengikutnya.
Walaupun demikian, hal yang sama dapat juga anda peroleh dari sumbernya langsung, yaitu halaman John T. Reed’s analysis of Robert T. Kiyosaki’s book Rich Dad, Poor Dad. Kelebihan situs web dibanding buku adalah bahwa John T. Reed memperbaharui halaman ini dari waktu ke waktu, suatu hal yang tidak dapat dilakukan pada sebuah buku. Sedangkan buku ini cocok bagi yang membutuhkan penjelasan dalam Bahasa Indonesia, yang menginginkan penjelasan dalam bentuk cetak, atau yang hanya sekadar ingin memberi dukungan materi kepada Reed
. Satu saran dari saya: bagi anda yang ingin menggunakan buku ini untuk menyadarkan rekan anda yang ‘penganut paham Kiyosaki’, sebaiknya jangan buang-buang waktu anda. Dan jangan bilang kalau saya tidak memperingatkan anda
.
Setelah membaca Reed versi Bahasa Indonesia ini, akhirnya saya ada niat juga untuk mencari fotokopian ‘Rich Dad, Poor Dad’ yang tergeletak pada sebuah tempat di gudang saya. Setelah satu jam mencari, akhirnya saya bisa menemukannya dan baru menyadari bahwa ini adalah hasil fotokopi buku ‘Rich Dad, Poor Dad’ yang berotograf Kiyosaki sendiri, jauh sebelum buku-buku Kiyosaki populer di Indonesia! Hal ini menjelaskan kesetiaan teman saya ini terhadap Kiyosaki
.
Lalu sekarang bagaimana? Sikap saya terhadap buku-buku Kiyosaki sudah jelas, dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Saat ini saya sama sekali tidak tertarik untuk berdebat panjang lebar tentang kebenaran ‘ajaran’ Kiyosaki. Saya lebih tertarik untuk menganalisis gaya penulisan persuasif dari Kiyosaki ditinjau secara psikologis dan filosofis. Bagaimana caranya memposisikan penulis sebagai pujaan orang-orang melalui sebuah tulisan persuasif yang melibatkan emosi pembacanya. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana mempertahankan pemikiran kritis serta melepaskan diri dari pengaruh emosional ketika membaca tulisan-tulisan semacam itu. Rasanya saya tidak sendirian, jika melihat rak-rak buku laris di toko-toko buku terkemuka, kita bisa dengan mudah menemukan buku-buku yang ditulis dengan gaya Kiyosaki. Artinya, ada juga orang-orang yang bisa mengambil ‘teladan’ sesungguhnya dari buku-buku Kiyosaki tersebut.
Tulisan Reed memang sedikit menjelaskan fenomena ini, tetapi masih menyisakan banyak hal yang ingin saya ketahui. Saya memang bukan ahli filsafat atau psikologi, tetapi rasanya ini adalah sebuah bahan penelitian yang menarik di kedua bidang tersebut.
Ya namanya juga manusia. Kalo sudah fanatik emang susah. Selama itu baik bagi mereka dan tidak merugikan sih gak terlalu masalah bagi kita, karena mereka juga sendiri yang menjalaninya
Cuman absen aja kok.
Klo masih ada bukune mbok kasih pinjem sm Gondhez, ben Gondhez latihan membaca gitu loh..
Saya juga udah baca bukunya nih Mas Pri. Sebenernya isinya bagus, tapi yang nerjemahinnya jeprut. Bukunya sendiri akhirnya (yang terjemahan), jadi susah dibaca dan membosankan.
Inilah kurangnya penerjemah Indonesia, baru bisa nerjemahin kata per kata langsung dikasih tugas alih bahasa… eh, takut kepanjangan komennya
Ya ya ya, Kiyosaki memang hebat. Tapi, kayaknya kehebatan Kiyosaki itu hanya bagi para pelaku MLM saja. Saya sih sejak dulu memang emoh baca karangan Kiyosaki. Apalagi cara berpikirnya soal perpindahan kwadran itu. Emang manusia robot apa?
mimpi semu memang gampang dijual. dan siapa yang tidak marah kalau mimpi-nya direnggut oleh kenyataan? makanya orang2 fanatik, karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa itu cuma sekedar mimpi semu. memang orang fanatik begitu, selalu tidak berani untuk mempertanyakan sesuatu, dan lebih cenderung tetap berada di zona aman mereka, meskipun itu tidak nyata.
sering liat di gramedia, tapi gak ada niat buat baca
Pertama baca buku karangan Kiyosaki, aku merasa bahasanya berbelit sehingga harus membaca dengan teliti atau sebaliknya; sangat cepat atau melompat-lompat tak berurutan.
Heran juga, kok buku itu bisa laris banget. Merasa kalau akulah yang aneh (dan lemot), maka aku beli buku yang lain. Begitu sampai Business School (dan Rich Kid sumthin’ sumthin’, lupa) dan akhirnya capek sendiri. Sulit sekali diterapkan oleh pemula o’on macam aku.
Bukan tidak bermanfaat juga sih, secara kejiwaan aku merasa terbantu. Ya itu, pengaruh emosional. Jadi lebih optimis dan semangat berusaha. Tapi untuk tips bisnis… mmm… rasanya hanya saham dan properti pilihan bisnis yang didukung Kiyosaki untuk menjadi kaya.
Materialisme? Tentu saja. We’re talking about ‘Benjamin Franklin’ here
Saya belum pernah baca, dan belum pernah tertarik.
Tuhan memang menciptakan manusia dengan IQ, EQ dan SQ yang berbeda-beda
Ehm, abe suka baca kiyosaki! Bener-bener menginspirasikan! Apalagi metodologi quadrant yg sudah dipatenkannya, bagus juga untuk dipelajari!
Hidup Kiyosaki Si Penjual Buku
*Ntah dah berapa banyak bukunya*
saya melihatnya buku-buku kiyosaki sebagai penambah wawasan seperti financial freedom, tujuan kita bekerja dan konsepnya ttg asset dan liabilitas.
Tapi yg saya gak suka,’ajaran’ kiyosaki suka dipake oleh orang MLM buat ‘menjebak’ mangsanya.
yaah bisa bisanya kita aja lah filtering.
gw udah tau ini buku sampah dari jaman kapan gitu…
makanya gw paling males kalo diikutsertakan dalam training motivasi, esq, dsb… itu ujung2nya kearah sana…
rasa-rasanya belum banyak pihak yang mengkritisi pemikiran kiyosaki - John T. Reed sekalipun - dalam kerangka filosofis. Padahal cacat pemikirannya amat mudah ditemukan dalam ranah filsafat.
Marx muda, ketika masih sarat dengan ide-ide pembebasan, sudah pernah mengingatkan bahwa inti aktualisasi manusia bukan pada uang, tapi pada karya yang ia hasilkan, dan sejauh mana karya itu diapresiasi oleh orang lain. Bagi marx, hakikatnya, orang bekerja itu bukan demi uang (apalagi uang bekerja untuknya …) tapi demi sebuah aktualisasi. Seorang novelis misalnya, lebih merasa tereksistensial ketika karyanya diapresiasi, diminati, atau - lebih jauh - dapat merubah hidup orang lain, ketimbang masalah bayaran. Sayang, Marxpun memaklumi, bahwa sistem yang berkembang tidak memungkinkan untuk itu.
Tapi bukannya kini banyak orang-orang yang bekerja (beraktualisasi) memang bukan atas dorongan duit? Sehingga nggak pernah merasa terlecut untuk pindah kwadaran? agar suatu saat kelak bisa pensiun dini, main golf tanpa harus bekerja lagi? (yg dalam kerangka kiyosakian - menciptakan mesin uang, sambil jalan-jalan , uang di rekening nambah terus).
Tapi yg pasti, kini masih banyak orang yang bekerja bukan atas dasar uang, kekayaan apalagi target kebebasan finansial. Justru disutlah kehidupan menjadi seimbang. Kalau semua orang mengikuti pemikiran kiyosaki, tidak akan pernah ada pekerja-pekerja sosial, penggiat-penggiat LSM, agamawan dsb. Tidak pernah ada Mother Theresa, Gandhi dan saya .. heheheh
Mungkin buku-buku kiyosaki tetap mengena buat beberapa orang, tapi pasti ada juga yg nggak sreg dengan sistem pembagian kwadran yg seakan-akan menyuruh tiap orang untuk bergerak dari kiri ke kanan ….
Ah, kiri dan kanan … mungkin keduanya memang ditakdirkan menjadi musuh abadi …
yah lumayan lah, daripada gak ada bacaan
Kiyosaki ya?
Dulu waktu baca tahun 2001-an cukup bagus juga dari sisi memberikan gambaran bagaimana seharusnya mempunyai mentalitas yang bukan terus-terusan jadi kacung. Bagus juga kalo dilihat dari cara ‘ngomporin’-nya.
Beberapa tahun kemudian, muncul beberapa buku dengan judul yang berbeda tetapi masih dalam ranah yang sama. Sempat membaca cepat juga sambil berdiri di toko buku dan akhirnya punya kesimpulan:
1. Ide kiyosaki hanya berputar2 di tempat dan menjual mimpi.
2. Kenapa mimpi? karena mental itu bisa dibangun, tapi kalo nda realis dan nda punya modal. Akhirnya bisa2 jadi wirausaha versi kacang karena yang penting self-employed.
3. Kiyosaki sucks! karena nda ada inovasi dan cara menjual bukunya semakin tidak profesional. Tahun 2005 kemarin lihat stand pameran buku Kiyosaki di Easter-Show (Sydney, Australia) malah kaya melihat sales ‘panci’ yang suka ada di mal-mal Jakarta/Bandung sekarang ini.
4. Kadang saya berpikir bedanya Kiyosaki sama tukang jual nomer SDSB (iya, ini jadul) di alun-alun pedesaan apa ya?
5. Akhirnya muncul juga buku Kiyosaki (atau pengarang lain?) yang kurang lebih judulnya ‘What to do before you quit your job!”. Ini buku harusnya dibarengi sama buku pertama, jadi orang yang membaca tidak keseleo.
ajaran kiyosaki ya? senjatanya para MLM’ers neh..
jadi inget, 4 kuadran yang diajarin Kiyosaki. Saya setuju, memang bukunya lebih banyak menjual mimpi dan sensasi. Tapi 4 kuadran yang diajarkannya memang masuk akal dan mengilhami banyak orang.
tapi konyol-nya, saya kok melihat dia ya sebagai penulis bergaya paling hiperbolik yang pernah saya baca..
Biarpun saya ini termasuk orang yang sangat suka membaca buku, saya tidak akan pernah membaca karya Kiyosaki.
ahh enakan coding daripada mbaca buku kiyosaki. gw juga dulu pernah baca buku dia.. ato baca2 software design & source code source code favorit. i’ll give u info of “saki” means “sexual intercourse” in Borneo / banjarnese speaking language. # kaburrrrr
btw horeee 20 besar / huuh jelek lu
Pemahaman orang memang berbeda-beda, jadi wajarlah membelanya, bahkan sampai2 dibela mati-matian
Hm.. saya paling anti ama buku2 yang bertajuk “memperkuat kepribadian” yang jumlahnya sangat banyak di toko buku. karena ujung2nya secara tidak langsung akan memperkuat aliran manusia pemakan manusia.
Saya lebih tertarik dengan buku2 pembunuh ego seperti tulisan2 dari Jalaluddin Rumi, yang mengajarkan utk melindungi sesama manusia.
Btw ada yang tau ngga dimana saya bisa beli terjemahan buku Mein Kampf tulisannya Hitler?
idem…. belum pernah baca. Tapi tetep penasaran pingin baca.
ah..kiyosaki…sempet juga menjadi pujaan saya dulu waktu sma dan awal2 kuliah..(sampe punya 2 seri bukunya)
Motivasinya sih bagus, tapi rasanya banyak yang terlalu mengada-ada, sampai paham ‘uang yang bekerja untuk kita’ yang ujung2nya berakhir pada MLM..ughhh..


Robek Kaoskaki eh Robert Kiyosaki ini memang pembohong. Dan karena dia sendiri sebetulnya mungkin tidak pernah punya seorang Ayah Kaya, maka banyak tips-nya yg ngawur.
However, buat seseorang yg mau belajar, kita tetap bisa mengambil sesuatu yg baik dari sebuah sampah sekalipun
Impian…
Itu yg sudah jarang dimiliki oleh orang dewasa saat ini.
btw, ini ada komentar dari Robert Kiyosaki untuk T Reed:
http://www.mastermindforum.com/kiyosakiresponsetoreed.htm
saya juga tidak tertarik. saking tidak tertariknya saya jadi tidak tertarik untuk komen beneran di sini…
Hehehe… pada sewot juga rupanya.
Kiyosaki kok dipercaya.
Mimpi yang tak terbeli.
Teori kuadran penampung para nihilis.
Benjamin Franklin tertawa di neraka.
Saya setuju untuk bekerja tidak berdasar buku setan ini.
mungkin saja memang gaya dia menulis yg membuatnya sukses. tapi sangat bisa juga sebetulnya gaya dia/buku dia biasa2 saja, tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek. dan yg membuatnya sukses besar adalah pengaruh sosial dimana ada orang2 yg dengan antusias merekomendasikan buku itu, temen saya melakukan riset tentang ini, dimana kualitas tidak selalu berhubungan dengan kesuksesan. saya tulis ringkasannya disini
Wah, saya tdk menyangka kalau buku Kiyosaki itu sampai punya penggemar fanatik.
Saya pernah membacanya dan saya juga sangat tidak setuju dengan orang-orang yang menjadikan uang di atas segala-galanya.
Tapi ada satu hal yang saya salut dari buku tersebut. Terlepas dari bagaimana kualitas Kiyosaki, nyatanya buku tersebut sudah merubah pemikiran banyak orang untuk mencoba memasuki dunia usaha (walaupun masih banyak yang gagal).
Kita perlu akui bahwasanya bangsa ini masih memerlukan banyak wirausahawan. Memang tidak ada salahnya dengan menjadi karyawan di tempat lain. Tidak benar kalau menjadi wirausahawan adalah lebih baik daripada karyawan (demikian pula sebaliknya). Hanya saja, jumlah pengangguran yang cukup besar saat ini menunjukkan kalau kita benar-benar kekurangan wirausahawan.
Karena itu, mari kita tunggu penulis-penulis lain (terutama dari Indonesia) yang dapat memotivasi lebih banyak orang untuk menjadi wirausahawan. Selain itu, kita juga menunggu penulis-penulis lain yang dapat memotivasi karyawan untuk dapat bekerja dengan baik.
Bagaimana kalau Mas Pri mengarang buku? Sepertinya akan sangat menarik.
bisa lain ceritanya tuh kalau poornya diterjemahinnya bukan tidak kaya yak?

disekitarku banyak tuh ayah kaya ayah yang malang, karena si ayah kerja & jadi kaya tau² anak²nya malah jadi suka hura² & manja, gak sedikit yang kawin muda krn terpaksa bahkan ada yang masuk penjara
kalau semuanya pindah jadi investor, siapa yang kerja buat investor yah?
baru dua bab saja sudah males bacanya
mending baca bukunya Aa Gym..
saya fikir dia berhasil mencapai tujuan pribadinya…tanya ken napa…
tadinya niat beli, cuman ga jadi setelah baca ini thx pri!
Om pri, kayanya perlu lihat juga analisis dari Andreas Harefa deh(atau tidak percaya juga sama beliau?). Tahun lalu beliau sudah pernah mencari tentang hal ini, kemudian menulisnya di pembelajar.
Mulanya beliau menulis kritikan terhadap kiyosaki, kemudian diiringi dengan pandangan sisi lainnya. Menurutku lebih bijak, karena memandang dari kedua sisi.
Kalau saya pribadi tidak terlalu ambil pusing apakah RDPD benar atau tidak, yang jelas buku itu termasuk motivasional book. Diambil yang cocok saja, buang yang lain
#29:
wah, coba aja search ‘kiyosaki’ di google atau google groups
saya gak (belum) nulis buku, tapi saya punya blog
#28: penelitian yang sangat menarik
#21:
memangnya sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia?
#13: excellent writing!
#35: kebanyakan kritik pendukung kiyosaki terhadap reed hanya berupa opini atau asumsi, sedangkan kritik reed terhadap kiyosaki lebih banyak berupa fakta. tulisan andreas harefa (atau lebih tepatnya, yang mengirimkan email ke beliau) juga bukan pengecualian.
kata2 dari salah satu pendukung kiyosaki ini sangat mengganggu saya: “Tidak ada bukti bahwa Reed lebih kaya dari Kiyosaki.” so what gitu loh? memangnya kenapa kalau tidak lebih kaya? otomatis pasti salah?
saya lihat tulisan andreas harefa tidak bernada 100% mendukung kiyosaki, beliau cuma mengutip email yang diterima. hanya saja kesimpulan yang dibuatnya terlalu prematur:
jika ada hikmah dari kritik reed terhadap kiyosaki, maka itu adalah menginvalidasi gagasan2 kiyosaki yang menurut reed menyesatkan pembacanya, bukanlah sesuatu yang merugikan dari sudut pandang pembaca. namanya juga kritik. kalau ingin gagasan2 yang memberikan wawasan baru sebaiknya baca tulisan reed yang lain. (ya, saya juga sering mendapat argumen seperti ini, jadi sudah biasa menjawabnya
saya sendiri bukan pendukung reed, belum pernah membaca bukunya yang lain dan tentunya belum tentu setuju dengan semua pemikirannya. hanya saja reed yang pertama kali memberikan jawaban atas pertanyaan2 saya tentang kiyosaki selama ini, dan saya pikir argumen2nya masuk akal.
Kedua buku yang di bahas mas Pri pernah ada ditangan saya dan membaca sedikit (banget). Karena waktu itu masih ingusan, kedua buku tersebut menjadi unseen.
Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke Gramedia Moro (Purwokerto) kemudian tertarik pada sebuah buku di etalase utama (best seller), dengan judul “Financial Revolution” dari Tung Desem Waringin yang notabene pengikut setia mas Kiyosaki. Bagi saya, unsur yang paling aplikatif untuk diserap dari tipikal buku semacam itu adalah semangat untuk melakukannya saat itu. Maksudnya, semangat saya sangat menggebu-gebu ketika membaca satu persatu dari buku tersebut dan Seminggu mulai pudar dan “back to normally”.
Kesimpulan yang bisa saya petik, apabila kita mendapatkan suatu ide kreatif. Lakukan jurus 3 M dari AA Gym; Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga.
#7
Kalau buku Business School gimana ya? apa berbelit-belit juga? Dah pengen baca …
#12
Aku dah ikut ESQ 3 kali, dan Alhamdulillah nggak males trus pengen lagi dan lagi …
Saya baca dua buku Kiyosaki, Rich Dad n’ Quadran, buku pertama tidak di selesaikan bacanya, buku kedua juga begitu, tapi ada beberapa hal yang saya rasa cukup baik dari kedua buku itu. Cuma soal buku, saya lebih menyarankan baca bukunya Malcolm Gladwell (Blink - Tipping Point) dan Rheinald Kasali (Change!)
Setuju ama #16

Ini handbook-nya MLMers
Kalau sampeyan ndak suka gaya Kiyosaki yang berbelit-belit, mendewakan uang di atas segala-galanya, meremehkan cara orang lain bekerja, kesombongan yang tersirat pada kalimat-kalimatnya, apakah sampeyan tertarik membuat buku tandingannya? Tentu saja dengan bahasa yang lebih sederhana, tak mendewakan uang, menghargai cara orang bekerja, dan rendah hati…
Jujur aku ga tertarik liat buku2x itu… ntah kenapa ilfil
mengimbangi…
Saya ‘penggemar’ buku-buku Kiyosaki. Membosankan membacanya (karena diulang-ulang terus) tapi gagasannya menurut saya benar.
Bahasa Kiyosaki memang ’sombong’, tapi mungkin di Amerika sana (yang biasa menghina presidennya)itu normal.
Bahasa Sharon Lechter (co-writer) lebih santun. Dia ini yang membuat bukunya menarik dibaca.
Berhubung belum ada buku tandingan yang sekelas (bukan menghujat saja seperti gaya Reed), maka untuk sementara saya menganggap Kiyosaki layak dipegang konsepnya. (Buku sekelas menurut saya seperti The Richest man in Babylon, George S Clason)
Buku Kiyosaki bukan tentang MLM (kecuali business School yg memang membahas MLM) tapi tentang kesadaran seseorang untuk bertanggungjawab atas dirinya sendiri dalam mengelola finansial.
Saya membaca hampir semua bukunya (sekitar 7 atau 8), dan mendapatkan gambaran lebih utuh dibanding sekedar baca RDPD (apalagi tidak tamat…).
Saya setuju bahwa orang-orang MLM menggunakan secara berlebihan konsep Cashflow Quadrant sehingga menjadikan bias terhadap esensi pesan ‘pentingnya fokus pada tujuan, dan fleksibel dalam metode’. Sepertinya bila tidak ikut MLM maka hidupnya akan sesat jalan. Padahal maksud Kiyosaki adalah bahwa MLM bisa menjadi salah satu jalan.
Kiyosaki sendiri tidak sukses lewat MLM, tapi lewat bisnis training dan jual beli real estate.
Topik perdebatan ini sudah lama ada (hingga akhirnya saya sendiri juga sudah malas berdebat). Yah, karena mas Pri ngangkat topik ini makanya jadi rame lagi… Mas Pri kan panutan nih..
ini opini saya :
http://sepia.blogsome.com/2005/10/19/perlukah-mengajarkan-konsep-bebas-finansial-kepada-karyawan/
dan menarik juga pengalaman tukang becak ini :
http://sepia.blogsome.com/2006/05/07/tukang-becak-naik-haji-kisah-wahid-yang-cerdas-finansial/
tampaknya anda belum menjelaskan motif dari ketidaksukaan anda, setidaknya di blog ini.
Saya sangat bersyukur ternyata masih banyak orang yang tidak setuju dengan pendapat Robert Kiyosaki. Justru saya bakal pusing kalo semua orang mengikuti ajarannya. Gak akan ada employee dan self-employee yang melayani para business owner dan investor.
Justru karena orang2 seperti priyadi dan rekan-rekan di-blog inilah, kami sebagai pemilik bisnis bisa dengan tenang menikmati hidup ini.
Memang hidup ini harus seimbang, ada yang melayani dan ada yang dilayani. Jadi silakan untuk Anda untuk tetap bekerja melayani kami.
buku John T Reed saya beli ketika lagi iseng aja cari buku di Cilegon. Dari judulnya menarik, karena saya termasuk orang yang kurang suka dengan buku2 how to, tips, cara kaya, yang begitu banyak beredar. Kebanyakan buku2 seperti itu hanya jual impian kosong saja.
Saya sepakat dengan analisis John T Reed. Keberhasilan yang dikejar dalam buku2 kayak gitu hanya akan dapat dicapai oleh mereka yang benar-benar bermodal untuk kaya. bagi mereka yang memang miskin dan dilahirkan sebagai anak miskin, tak bakal bisa mengubah nasibnya dengan modal buku2 kayak gitu. Sama seperti training2 yang digelar oleh supertrainer di negeri ini.
hal itu pernah saya tulis di blog saya :
Super-Trainer dan Tukang Santet.
Mana yang bisa mengubah nasib seseorang, super-trainer atau tukang santet? Di gedung Sucofindo Cilegon, seorang super-trainer bicara di depan ratusan audiensnya. Sebuah topik diangkat, tentang manajemen cita-cita, bagaimana seseorang merancang masa depannya. Ini merupakan topik yang sering diangkat dalam setiap kegiatan training pengembangan diri. Apakah training seperti ini dapat benar-benar mengubah keadaan, mengubah nasib? Itu tergantung dari kesungguhan audiens dalam mengejar apa yang diimpikannya.
Sang super-trainer dengan segala macam informasi dan improvisasi hanya sekedar menggerakkan pengunjung dengan kata-kata. Rangkaian kata-kata yang dapat memantik semangat pengunjung yang kebanyakan adalah orang-orang miskin yang ingin menjadi kaya. Apakah kata-katanya tersebut dapat menularkan nasib yang lebih baik ketimbang pengunjungnya? Hal itu kembali tergantung dari aksi pengunjung itu sendiri dalam realitas kehidupannya.
Tiga hari sebelumnya aku menyaksikan sebuah presentasi bisnis di Aston Hotel, Jakarta. Sebuah perusahaan multi level marketing sedang mencari orang-orang yang smart, work-hard, ambitious, network-team untuk bergabung mengembangkan perusahaan level dunia tersebut. Sang presenter mengemukakan, para pengunjung akan mendapatkan uang sebesar 50 ribu dollar Amerika per bulan. Jumlah yang lebih besar ketimbang beberapa bisnis MLM yang sudah banyak merekruit anggota di negeri ini. Hampir semua peserta bersemangat dan meneriakkan kata-kata optimis untuk mengejar kekayaan. Atmosfir dalam ruangan tersebut begitu bersemangat, tak ada keraguan, tak ada pesimisme. Yang ada hanya impian yang mengambang di atas kepala untuk diraih bersama-sama.
Dalam kesempatan tersebut aku diminta untuk memberikan respon yang menyenangkan mereka. Aku bilang, bahwa apa yang mereka bicarakan tidak semuanya benar. Aku coba menyentil mereka dengan mengangkat kalangan rakyat miskin yang ada di negeri ini. Kelas masyarakat yang untuk membeli sebuah sabun saja sangat sulit. Aku nyatakan pada mereka, mayoritas negeri ini adalah rakyat miskin. Mungkinkah rakyat miskin diajak bisnis seperti yang mereka tawarkan? Instruktur menjawab sangat mungkin, karena setiap anggota akan selalu dimotivasi dan disupport oleh perusahaan. Aku lontarkan kembali pertanyaan, bagaimana mungkin orang miskin bisa menjadi anggota kalau untuk membeli produk standar saja mereka tak mampu? Instruktur itu bilang, jangan ajak mayoritas miskin. Tapi ajaklah minoritas kaya, walaupun hanya 5% saja.
Dari training ke training, biasanya kita diajak untuk menjadi kaya. Karena kalau tidak kaya, bagaimana kita bisa membantu orang. Itu kata kunci dari para presenter. Saya ulangi, kalau tidak kaya, bagaimana bisa membantu orang lain? Benarkah orang-orang kaya itu mau membantu orang lain? Jarang sekali aku temukan orang-orang seperti itu. Yang sering aku temukan adalah orang-orang kaya yang saling membantu dalam kalangannya sendiri. Mereka tak mau membantu orang yang dianggapnya tak bisa memberikan keuntungan, baik secara material maupun dalam bentuk popularitas. Bahkan untuk memberikan kartu nama saja, presenter itu hanya menyerahkannya kepada orang-orang yang berpakaian mentereng dan sudah jelas jabatannya dalam sebuah perusahaan. Bagi orang biasa, ia pasti bilang, “saya hanya bawa sedikit!”.
Kalau memang orang-orang itu berniat kaya untuk dapat membantu orang lain, ada satu pertanyaanku : sejak kapan training MLM dan training pengembangan diri itu digelar di negeri ini? Sudah berapa banyak bonus yang mereka dapatkan, berupa mobil, motor, rumah mewah, bahkan pesawat pribadi dan kapal pesiar. Apakah dengan kayanya mereka, persentase orang-orang miskin berkurang? Kata sahabat saya, bang Mamet, “Bullshit kalau ada orang yang kepingin kaya agar bisa membantu orang lain”. “Omon koson!” kalau kata Che Kho Fong.
Apa yang disampaikan oleh super-trainer ataupun para presenter dalam forum-forum pelatihan seperti itu bagaikan konser musik rock. Hadirin yang menyaksikan akan terbawa dalam atmosfir optimisme, namun ketika keluar dari ruangan, mereka sendiri bingung untuk mulai melaksanakan exercise yang diberikan dalam training tersebut. Banyak orang lupa komunitasnya jika sudah berada dalam training-training seperti itu. Mereka baru menyadari jika telah kembali pada kehidupan nyatanya, hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas miskin dan mengenaskan seperti di Indonesia ini.
Kemiskinan adalah setan yang tak pernah mati di negeri ini. Berapa sudah presiden yang memimpin negeri ini. Berapa sudah anggota legislatif bergonta-ganti. Berapa banyak oportunis yang mengisi gedung parlemen. Berapa banyak LSM berdiri mencari donasi. Apakah nasib rakyat miskin berubah? 100% TIDAK BERUBAH. Yang miskin tetap miskin. Bahkan ada juga yang makin melarat dan mengenaskan. Yang kaya makin merajalela, yang kuasa makin lupa jiwa.
Kemiskinan adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Bahkan dalam beberapa kasus, kemiskinan adalah penyakit turun temurun yang menular dari generasi ke generasi. Orang yang dilahirkan miskin, tak akan jauh masa depannya dari situ. Adapun segelintir orang miskin yang mendapatkan keberuntungan menjadi kaya, sedikit sekali yang mau kembali bergabung dengan komunitas miskin, karena takut penyakitnya kambuh lagi.
Mantan temanku mencontohkan hal tersebut. Sebut saja namanya Mr. X, waktu kuliah, ia menumpang di rumah kontrakan yang aku sewa. Makan tidak dari uang sakunya karena kantongnya sering kosong. Lama sekali ia tinggal bersama hingga pergi karena selesai kuliah dan bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya. Lima tahun kemudian aku nyaris bertemu dengannya. Seorang temanku menyampaikan pesan kalau Mr. X kangen dengan teman-teman lama. Katanya dia sudah jadi kaum borjuis di gedung MPR/DPR. Temanku bilang, Mr. X sudah sewa vila untuk sebuah reuni kawan lama. Tapi nyatanya ia tak jadi datang, dengan alasan lelah. Padahal aku dan teman-temanku yang miskin sudah ngumpul di vila yang nyatanya belum dipanjer. Terpaksalah kami patungan untuk bayar vila tersebut semalaman.
Itu salah satu bukti orang kaya yang takut ketularan miskin. Padahal penyakit miskin itu tidaklah menyiksa. Miskin adalah penyakit yang tak terasa kalau kita tak pernah mengeluhkannya. Apalagi kalau kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan, maka penyakit miskin itu dengan sendirinya sembuh. Tapi bukan berarti kita lantas jadi kaya raya. Paling tidak, hidup dengan merasa cukup dan tak mengeluh adalah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit miskin.
Kembali kepada suasana training pengembangan diri di atas. Setelah selesai mengikuti latihan dari super-trainer, aku bertanya kepada seorang guru yang yang berkenalan denganku. Apa yang bapak rencanakan setelah mengikuti acara ini. Ia bilang ingin mengikuti cara dan gaya super-trainer dalam mengajar anak didiknya. Hanya itu saja. Ia tak ingin menjadi kaya, sebab ia sendiri tak yakin kalau ia bisa kaya. Ia hanya ingin mencontoh cara super-trainer itu dalam mempengaruhi orang lain. Paling tidak, cara dan gaya yang dicontohnya itu bisa membuat ia bertahan sebagai pengajar dan tetap mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Jika hanya cara dan gaya saja yang ditularkan oleh sang super-trainer, siapapun bisa melakukannya. Tokh untuk ngebacot di depan orang itu adalah pekerjaan mudah. Tapi menularkan nasib? Kata mang Odon, hanya tukang santet yang bisa! He he he…
kalimat2 yg ‘membangkitkan’..termasuk isi blog ini..
#43.., yang mengubah nasib seseorang ya orang itu sendiri bosss..
Tuhan aja ga mau mengubah nasib anda boss, kalau bukan anda sendiri. (bedakan antara tidak mau dengan tidak bisa)..
Apalagi cuman seorang super trainer boss. dia hanya menularkan semangat saja, inspirasi, motivasi. Nasib..? Elo sendiri yang ngurus..
#45: wow, anda mengingatkan saya kepada PHB, yang memperlakukan karyawan sebagai ‘pelayan’.
#44: kenapa harus pakai motif? tidak suka ya tidak suka saja
. tidak suka itu motifnya, salah satu realisasinya adalah tulisan ini.
#43: tulisan2 yang menarik, tetapi rasanya esensinya akan tetap sama seandainya tidak menggunakan nama kiyosaki atau menggunakan teori2nya.
#41: entah kenapa kalau saya bicara kiyosaki pasti ujung2nya ada yang nyuruh bikin buku
. saya cuma tidak suka buku2 kiyosaki, dan reed memberikan jawaban2 untuk saya. cuma itu saja. kalaupun saya bikin buku, nanti dibilangnya sirik atas kelarisan buku2 kiyosaki, atau ingin numpang laris, etc. i guess i can’t please everyone.
#28: tambahan lagi, penelitian2 tersebut memang bisa bisa jadi menjelaskan popularitas buku2 kiyosaki, tapi tidak dapat menjelaskan fanatisme pendukungnya. jadi saya masih berpendapat kalau ada ’sesuatu’ di bukunya yang membedakan dengan buku2 laris lainnya. ya mungkin fanatisme itulah yang menyebabkan efek sosial yang luar biasa yang menjadikan popularitasnya seperti sekarang.
“Adalah sulit (kalau tidak mau dikatakan mustahil) menuang air kedalam gelas yg sudah penuh.”
“Meskipun keluar dari dubur seekor ayam, kalau itu telur, ambillah.”
Ya… yg baik ambil, yg nggak ya tinggalin….
Gitu aja kok repot…
Mendingan ngerjain monthly report…
BTW kalo sempet gw pengen juga beli bukunya Om Robert & Om John…
“The ability to speak does not make you intelligent. Now get out of here!” Qui-Gon Jinn to Jar Jar Binks
“You assume too much.” Padme Amidala, disguised as one of her own handmaidens
He,he…
Ada juga yg udah miskin tapi sombong…pesimis lagi…
Mendingan gw… selalu optimis, think positive…
Kritis…teteeep, tapi gak perlu pesimis, berpikiran negative apalagi apatis…
Bener tuh #48… tapi kaya’nya lebih cocok ditujukan ke #46 deh…
“Tuhan tak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mau mengubahnya…”
Jadi bukan si Super-Trainer apalagi si Tukang Santet!

Mungkin perdebatan ttg buku-buku Kiyosaki tidak akan banyak terjadi seandainya ia tidak menerbitkan Bussiness School yang dianggap mendukung MLM. Kenapa? Ya karena masyarakat kita sekarang kadung alergi thd MLM. Sampai-sampai ada yang mengusulkan membuat ATM (aliansi tolak MLM)
Wah, untung orang seperti Priyadi tidak terpancing untuk mengikuti anjuran Kiyosaki. Kalau tidak…, kita-kita ini sebagai pengusaha kesulitan cari pegawai sepintar Priyadi. Kalau Priyadi dah jadi pengusaha, apa dia masih ada waktu/mau ngeblog? Jangan-jangan nanti sekPri (sekretaris Priyadi) nyang disuruh nulis di blog.
hehehe
Tuhan memang Maha Adil…, dia menciptakan Priyadi untuk tidak tertarik bergeser ke kuadran kanan. Subhanalloh.
Sudut Pandang adalah suatu hal yang lumrah
dan di LUMRAHKAN 
#53: hehehe, you assume too much™
sampai sekarang belum pernah merasa tertarik untuk membeli buku-nya kiyosaki. lha wong buku-buku dan jurnal wajib aja masih kedodoran, tapi ntar kali saya coba beli siapa tau emang sampah….
Kiyosaki is making money not from what he said he did. He is making money from selling his books and selling this training program.
Something like this (dramitization only):
Kiyosaki: Do you want to learn to be rich?
Audience: Yes, Yes, Yes…
Kiyosaki: You see, I am showing it to you now!
Audience: Now? Where? How? Show us now!!
Kiyosaki: Can’t you see? I am showing you how to be rich. Now. As I stand here and speak. As you pay to come into this very room with me.
If you are too slow: The Audience paid for the books and a chance to be in the same room listening to Kiyosaki. That’s how he makes money: his money comes from the people he is teaching
emang begitu, kebanyakan dari mereka yang fanatik sama kyosaki orang-orang mlm atau orang yang cinta sama “cari uang gampang” seperti “pengikut” anne ahira. dan buat yang kepingin bacanya nggak usah beli bukunya lagi, cari aja orang yang fanatik minta untuk menceritakan kembali isi bukunya, dijamin waktu cerita semangat banget, seolah-olah “ajaran” kyosaki seperti sudah diatas agama yang dianutnya. Saya sendiri nggak perlu baca buku Ayah kaya tidak kaya, ya itu tadi diceritakan dari awal oleh seorang “pengikut” anne ahira. yang hebatnya dia sepertinya hapl betul setiap kata yang tertulis.
luar kepala bok!
Judul yang mungkin (tidak) laku di Indonesia:
AYAH YANG BERIMAN vs AYAH YANG TIDAK BERIMAN
Apa yang diajarkan oleh seorang ayah yang beriman kepada anaknya tentang makna dan tujuan hidup ini - yang tidak diajarkan oleh ayah yang tidak beriman.
@8: Agree with you.
.
@9: Agree juga
Aku pernah diajak reunian sama temen. Tumben. Trus aku nanya, “Udah baca buku Kiyosaki?” Udah, katanya. Aku langsung memutuskan nggak datang ke “reuni” itu.
Kiyosaki mahluk apa pula itu, apa sama dengan HONDA, SUZUKI, YAMAHA
Bagi para penggemar kiyosaki gak usah esmosi, disini semua bersifat opini
Sejujurnya aku suka, tapi bukan dari teorinya(yang memang berbelit-belit dan gak karuan). Tapi dari bagaimana membuat kita tidak terkungkung dengan satu jalan, mis: pendidikan formal. Tipeku pemberontak soalnya
#62: nah lho, rich dad fiktif? fakta. kiyosaki belum kaya sebelum bukunya laku? fakta. banyak anjuran yang ilegal & berbahaya? fakta. buyers beware
Fakta hari ini:
1. Best seller no 5 di Paperback Advice New York Times.
2. Nomor 33 di Sales Rank Amazon.com
No pain without gain….
Kiyosaki laris karena menjual mimpi
Satu hal yg mungkin para penggemar Kiyosaki tidak sadar, beliau menjadi kaya bukan karena mempraktekan isi dari bukunya, tapi karena penjualan bukunya itu sendiri.
Mau kaya?? Kerja!!
gw beli bukunya krn dikomporin temen gw (MLM members), dia cerita berbusa2 ttg isi bukunya. krn penasaran gw juga beli “RDPD dan CQ” dan …
baru satu bab aja dah jengah dengan money oriented-nya. walhasil sudah 2 tahun buku itu cuma dirak aja.
, n yg jelas ga brjiwa wirausaha. kerja bagi gw n banyak orang adalah aktualisasi diri dr kemampuan yg qt punya. kinerja dan produktivitas is first n the honor + money will follow.
mungkin budaya yg beda dg amrik membuat gw ga terprovokasi, gw ga dipusingin tagihan, ga terbelit kartu kredit (la wong ga punya:d
buat yg lum beli g asah beli lah, minjem gw ajah trus cerita isinya ke-gw
Wah jadi inget pas dikejar-kejar orang2 MLM tuk gabung, sambil ditawarin
#59 gagasan AYAH YANG BERIMAN vs AYAH YANG TIDAK BERIMAN boleh juga tuh. bikin bukunya dong! sapa tau aja (nggak) laku, apalagi kalau hanya sekedar mengcounter Kiyosaki/Reed.
Hahahahahha….saya masih berpikir dengan logika mengenai konsepnya om Tiyosaki…apalg ttg quadrant…
…hanya menawarkan mimpi…dan memang lucunya banyak org yg tergila2 dgn si Tiyosaki…pdhl kalo dipikir2 udah ditipu tuh..bayangin gmn ga kaya si tiyosaki…bikin buku laris setengah mati (royaltinya udah berapa tuh???)…trus bikin seminar yg tiketnya jutaan rupiah en cuma modal “cangkem” doang….

..bener2 deh…life is beautiful!!!mendingan juga buka warung bubur tapi cabangnya seluruh indonesia….
