10 July 2007

Kontroversi ‘New Seven Wonders of the World’

Posted under: at 02:42

Tanggal 7 Juli yang lalu diumumkan daftar Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru. Daftar baru ini ‘diresmikan’ oleh organisasi yang menamakan dirinya The New Open World Corporation.

Ketujuh keajaiban dunia tersebut adalah Chichen Itza di Meksiko, Patung Kristus Penebus di Brazil, Tembok Besar China, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania, Colloseum di Italia dan Taj Mahal di India. Satu lagi yang masuk sebagai ‘anggota kehormatan’ adalah Piramida Giza di Mesir.

Pemilihan ini penuh kontroversi karena pemilihan dilakukan berdasarkan pilihan populer, bukan berdasarkan kriteria objektif, tidak jauh berbeda dari kontes semacam Indonesian Idol. Proses pemilihan dilakukan melalui berbagai media seperti Internet, telepon dan SMS.

Satu orang hanya boleh memilih satu kali saja jika dilakukan melalui Internet, tetapi anehnya diperbolehkan memilih berulang-ulang untuk ‘keajaiban dunia’ yang sama jika voting dilakukan melalui media berbayar seperti SMS atau telepon premium. Selain itu, yang memilih melalui Internet memiliki pilihan untuk memesan ‘sertifikat’ seharga $2 yang masih harus dicetak sendiri. Dan dengan memesan ‘sertifikat’, pemilih secara otomatis mendapatkan satu suara tambahan.

Layanan voting melalui SMS hanya tersedia untuk negara-negara berikut: Australia, China, Prancis, Jerman, Yunani, Italia, Yordania, Rusia, Spanyol, Inggris Raya, Amerika Serikat, India, Meksiko, Chile, Peru dan Brazil. Ada yang bisa melihat korelasi antara daftar ini dan keajaiban dunia yang menjadi ‘pemenang’?

Di Brazil bahkan diadakan kampanye ‘pilih Kristus’ untuk memilih Patung Kristus Penebus yang dilakukan oleh beberapa operator telekomunikasi. Operator-operator telekomunikasi ini membebaskan biaya SMS yang digunakan untuk memilih Patung Kristus Penebus. Hasil akhirnya memang Patung Kristus Penebus bisa masuk ke jajaran ‘pemenang’ walaupun baru berumur 78 tahun, tingginya hanya 38 meter dan dibuat dengan menggunakan teknologi modern. Bandingkan ini dengan Candi Prambanan misalnya, yang tingginya 47 meter dan dibuat pada 11 abad yang lalu. Hal ini hanya bisa membuktikan bahwa di Brazil ada banyak pengguna telepon seluler.

Slashdot wisdom:

The Redeemer statue is a perfect candidate for this new list of Wonders because it makes you truly wonder why it is on the list.

Untuk meluruskan situasi ini, UNESCO mengeluarkan pernyataan bahwa UNESCO tidak memiliki hubungan dengan kegiatan ini:

In order to avoid any damaging confusion, UNESCO wishes to reaffirm that there is no link whatsoever between UNESCO’s World Heritage programme, which aims to protect world heritage, and the current campaign concerning “The New 7 Wonders of the World”.

UNESCO’s objective and mandate is to assist countries in identifying, protecting and preserving World Heritage. Acknowledging the sentimental or emblematic value of sites and inscribing them on a new list is not enough. Scientific criteria must be defined, the quality of candidates evaluated, and legislative and management frameworks set up. The relevant authorities must also demonstrate commitment to these frameworks as well as to permanently monitoring the state of conservation of sites. The task is one of technical conservation and political persuasion. There is also a clear educational role with respect to the sites’ inherent value, the threats they face and what must be done to prevent their loss.

There is no comparison between Mr Weber’s mediatised campaign and the scientific and educational work resulting from the inscription of sites on UNESCO’s World Heritage List*. The list of the “7 New Wonders of the World” will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world. This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of sites elected by this public.

Sepertinya sudah jelas bahwa kegiatan ini hanyalah kegiatan mencari keuntungan dari sebuah kontes popularitas. Untuk itu saya bersyukur bahwa pengelola lomba tidak memasarkan kontes ini di Indonesia. Jika itu terjadi, keuntungan yang berasal ribuan bahkan jutaan SMS premium akan diraup pengelola tanpa nilai tambah apapun.

Kontes ini tidak ada artinya dan sebaiknya kita tidak terlalu terpengaruh atau bahkan sampai mengubah isi buku sejarah.

***

Kabar kegiatan ‘Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru’ ini juga sampai ke Indonesia. Warga Indonesia kebanyakan mempertanyakan keberadaan Candi Borobudur pada daftar tersebut. Ada yang mempertanyakan mengapa Borobudur bukan lagi salah satu dari 7 keajaiban dunia.

Kenyataannya, Borobudur memang tidak pernah masuk ke dalam sebagian besar tujuh keajaiban dunia. Jadi jika Borobudur tidak masuk dalam ‘7 keajaiban dunia yang baru’ ini kita sebenarnya tidak perlu terlalu kecewa. Borobudur sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia mungkin hanya salah satu bentuk propaganda Orde Baru. Walaupun demikian, masuk atau tidaknya Borobudur dalam tujuh keajaiban dunia sebaiknya tidak meruntuhkan kecintaan warga Indonesia pada Candi Borobudur.

Siapa saja bisa membuat daftar tujuh keajaiban dunia masing-masing, tetapi tujuh keajaiban dunia yang paling terkenal adalah versi klasik Yunani kuno yang hanya menampilkan bangunan-bangunan di sekitar lautan Mediterania. Jika bangsa Yunani kuno waktu itu sudah bisa menjangkau Indonesia, mungkin Borobudur akan masuk daftar mereka dan jumlah keseluruhannya akan lebih dari tujuh buah.

128 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!