Asuransi Unit Link vs. Reksadana
Sejak beberapa tahun yang lalu, di Indonesia mulai marak dipasarkan produk-produk asuransi unit link. Unit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Dengan menjadi nasabah produk unit link, seseorang bisa mendapatkan manfaat ganda yaitu perlindungan asuransi dan investasi. Produk asuransi yang ditawarkan bisa berbentuk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, tetapi biasanya dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik bagi masyarakat: misalnya tabungan masa depan atau asuransi pendidikan.
Seperti halnya asuransi biasa, nasabah asuransi unit link membayar premi setiap jangka waktu tertentu, biasanya bulanan. Perbedaannya, nasabah unit link membayar premi dalam dua porsi: porsi premi perlindungan dan porsi investasi. Premi perlindungan berfungsi sama dengan premi pada asuransi biasa. Sedangkan porsi investasi akan disetorkan oleh perusahaan asuransi kepada manajer investasi untuk dikelola. Pada produk-produk tertentu, jika nantinya return dari investasi bisa menutupi biaya premi, maka nasabah memiliki pilihan untuk tidak membayar premi.
Sebagian besar perusahaan-perusahaan jasa manajer investasi ini biasanya memiliki produk reksadana retail yang ditawarkan ke masyarakat. Ini yang membuat saya berpikir keuntungan dan kerugian mengikuti layanan asuransi dan reksadana secara terpisah, ketimbang mengikuti layanan unit link yang menggabungkan kedua jenis layanan tersebut.
Menjadi nasabah investasi unit link dan reksadana sebenarnya tidak jauh berbeda. Dalam keduanya, nasabah diminta untuk memilih kemana dana yang disetorkan akan diinvestasikan. Pilihan yang disediakan adalah ekuitas, fixed income, pasar uang atau kombinasi di antaranya. Keduanya sama-sama memiliki resiko yang kurang lebih sama, tergantung dari jenis investasi yang dipilih. Tetapi tentunya bukannya tidak ada perbedaan sama sekali.
Besar Biaya Akuisisi
Biasanya, asuransi unit link dipasarkan secara sangat agresif, tidak jarang menggunakan sistem pemasaran langsung. Di sisi lain, manager investasi minim melakukan pemasaran. Pemasaran yang agresif bisa menjaring lebih banyak nasabah, tetapi biaya akuisisi akan semakin tinggi dan biaya ini tetap akan dibebankan kepada nasabah.
Sebagai contoh, salah satu produk asuransi link unit membebankan biaya akuisisi kepada nasabah sebesar 41% dari setoran porsi premi asuransi untuk lima tahun pertama. Biaya ini kemudian akan ditalangi dengan tidak memberikan sebagian manfaat asuransi pada tahun pertama dan sisanya kemudian dibebankan pada setoran porsi investasi.
Transparansi
Reksadana biasanya jauh lebih transparan daripada produk investasi yang ada dalam unit link. Biasanya, nasabah reksadana dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi seperti sejarah perkembangan investasi, resiko, alokasi aset, biaya jasa pengelolaan dan sebagainya. Sedangkan dalam unit link, seringkali sulit untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan manajer investasi beserta biaya dan kinerjanya. Kebanyakan agen asuransi biasanya lebih banyak berkutat pada ilustrasi yang abstrak tanpa dengan jelas memberi tahu parameter-parameter pembentuk ilustrasi tersebut. Terlebih lagi, calon nasabah yang awam tidak memiliki pembanding yang cukup untuk menilai kualitas yang diberikan oleh ilustrasi tersebut.
Pada produk unit link ada lebih banyak variabel yang berperan. Hal ini menjadikan ilustrasi yang diberikan oleh penyedia layanan asuransi menjadi sangat rumit, terutama bagi calon nasabah yang belum mengenal asuransi dan/atau reksadana. Jika calon nasabah tidak cukup jeli dalam menganalisis ilustrasi yang diberikan, bukan tidak mungkin akan ada biaya-biaya siluman yang tidak disadari oleh calon nasabah. Tidak jarang, biaya-biaya ini baru diketahui nasabah pertama kali dari polis yang didapatkan, atau bahkan ketika biaya tersebut dibebankan kepada nasabah.
Pada unit link, akan menjadi sangat sulit bagi calon nasabah untuk membandingkan satu layanan asuransi unit link dengan layanan unit link lainnya karena sistem yang digunakan bisa jadi jauh berbeda. Membandingkan dua atau lebih layanan asuransi biasa sudah cukup rumit tanpa harus dicekcoki dengan berbagai macam urusan investasi yang nyatanya tidak benar-benar terpisah dengan asuransi.
Dengan memisahkan asuransi dan reksadana, perhitungan yang perlu dilakukan oleh nasabah akan menjadi jauh lebih transparan dan sederhana.
Perhitungan Inflasi pada Jumlah Pertanggungan
Beberapa produk unit link memberi fitur utama yaitu janji putus pembayaran premi setelah tahun tertentu, yang tergantung pada perkembangan investasi. Yang jarang diperhatikan oleh nasabah adalah faktor inflasi yang akan memaksa nasabah untuk menambah jumlah premi yang harus dibayarkan di masa yang akan datang. Tentunya hal ini berlaku pula pada asuransi biasa, akan tetapi pada asuransi biasa, calon nasabah tidak pernah dijanjikan putus pembayaran premi.
Contoh: Seseorang mengikuti asuransi PRIlink dengan porsi premi asuransi kesehatan sebesar Rp 50000 per bulan dengan jumlah pertanggungan untuk perawatan di rumah sakit sebesar Rp 500000/hari. Setelah 10 tahun, diprediksi return investasi dapat menutupi pembayaran premi tersebut. Tetapi hal ini belum memperhitungkan inflasi yang akan terjadi sampai 10 tahun ke depan. Inflasi akan menyebabkan biaya perawatan di rumah sakit menjadi semakin tinggi. Untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit yang setara dengan Rp 500000/hari saat ini, 10 tahun kemudian kita harus membayar lebih besar daripada jumlah tersebut. Akibatnya premi akan semakin besar dan putus pembayaran premi menjadi tertunda atau bahkan tidak akan pernah terjadi.
Sebagai catatan, dengan asumsi inflasi tahunan sebesar 7,5% per tahun dan biaya perawatan sebanding dengan laju inflasi, maka untuk mendapatkan kualitas perawatan seharga Rp 500 ribu/hari pada hari ini, dalam 10 tahun kita harus membayar biaya perawatan sebesar kurang lebih Rp 1 juta/hari. Dengan memperhatikan inflasi, rencana putus pembayaran premi pasti akan mundur atau bahkan tidak akan terjadi, tergantung porsi investasi yang ditetapkan dan realisasi perkembangan investasi.
Selain itu, putus pembayaran premi bukanlah fitur spesifik unit link. Nasabah asuransi dan reksadana secara terpisah juga dapat menikmati fasilitas ini karena pembayaran premi asuransi bisa saja nantinya dibebankan pada return investasi di masa yang akan datang. Perbedaannya, pada nasabah asuransi dan reksadana terpisah, dana tersebut harus melewati kantong nasabah yang bersangkutan. Sedangkan pada unit link semuanya telah diurus oleh pihak penyedia layanan asuransi.
Panjang Jalur Administrasi
Pada investasi unit link, instruksi nasabah perlu melewati beberapa pihak: dari agen asuransi (jika ada), ke perusahaan asuransi, dan baru kemudian mencapai manager investasi untuk diproses. Semakin panjang rantai instruksi ini tentunya semakin lama instruksi tersebut dapat diproses. Panjang administrasi ini dapat diputus dengan mengalokasikan dana investasi langsung ke produk reksadana yang dikeluarkan oleh manajer investasi, tanpa melewati perusahaan asuransi.
Selain itu, semakin panjang jalur administrasi tentunya juga semakin banyak biaya administrasi yang perlu dikeluarkan oleh seorang nasabah. Dengan menempuh jalan pintas dengan cara melakukan investasi pada reksadana secara langsung, nasabah dapat mempercepat instruksi dan sekaligus menghemat biaya-biaya administrasi.
Walaupun reksadana adalah instrumen investasi jangka panjang, kecepatan pemrosesan instruksi adalah faktor yang cukup kritis. Pada kebanyakan (semua?) produk reksadana, instruksi nasabah dilakukan atas harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Sedangkan dari informasi beberapa agen produk unit link, saya tidak sepenuhnya yakin bahwa instruksi nasabah dilakukan berdasarkan harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Bisa saja instruksi yang dilakukan pada hari H baru akan dilakukan pada H+2, pada saat harga unit link sudah berbeda.
Keterikatan dan Fleksibilitas
Yang paling penting bagi yang serius untuk menjalankan investasi adalah faktor keterikatan. Dengan memisahkan layanan asuransi dan reksadana, kita bisa membagi proporsi di antara keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita pada saat itu, tanpa harus terikat dengan proporsi dan jumlah yang telah ditetapkan dalam polis asuransi. Jika sedang membutuhkan uang, kita bisa tetap membayar premi asuransi, tetapi bisa bebas berhenti menyetorkan dana investasi tanpa harus takut kehilangan manfaat asuransi. Sebaliknya, jika sedang memiliki dana berlebih, kita bisa menyetorkan kelebihan dana tersebut ke reksadana tanpa harus terkena penalti atau biaya tambahan.
Selain itu, kita juga bisa dengan bebas memindahkan dana dari satu manajer investasi ke manajer investasi lainnya sesuai keperluan; atau bahkan memindahkan dana dari reksadana ke instrumen investasi non reksadana tanpa harus terkena penalti sisa dana minimum. Semua ini akan bisa dilakukan tanpa keterikatan dengan penyedia layanan asuransi.
***
Dengan demikian saya tidak dapat melihat adanya nilai tambah yang diberikan unit link dibandingkan dengan mengikuti asuransi dan reksadana secara terpisah. Kelebihan unit link hanya ada bagi orang-orang yang belum mengetahui keberadaan reksadana sebagai instrumen investasi. Kelebihan unit link lainnya adalah kepraktisan bagi yang tidak ingin berhubungan dengan pihak yang berbeda untuk mengurusi investasi dan asuransi. Mengingat mendaftar reksadana tidak lebih sulit daripada mendaftar akun tabungan bank, saya tidak yakin manfaat kepraktisan yang didapatkan akan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Pada beberapa tahun yang lalu, saat jumlah minimum setoran pada produk reksadana mencapai puluhan juta rupiah (yang saya tahu), mungkin unit link bisa bermanfaat bagi yang ingin melakukan investasi kecil secara periodik (menyisihkan sebagian gaji bulanan untuk keperluan investasi). Tetapi pada kondisi saat ini dimana jumlah setoran minimum reksadana bisa mencapai sekurang-kurangnya Rp 100 ribu, bagi saya unit link praktis tidak lagi begitu menarik.
Tambahan: silakan baca Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah untuk melihat perbandingan perhitungan secara kuantitatif.
Mas Priyadi, ini benar2 pembahasan yg bagus dan lengkap. Mengenai isu inflasi, saya rasa nasabah bisa memilih asuransi yg memperhitungkan inflasi walaupun penarikan dananya nanti jadi lebih kecil.
Biasanya nasabah merasakan nikmatnya kalau sudah jatuh tempo dan sempat menerima klaim selama itu. Yg paling menguntungkan ya klaimnya itu. Dr Rp50 ribu, misalnya Rp20 ribu utk premi, Rp30 ribu utk investasi. Berapa sih nilainya Rp30 ribu utk 10 thn investasi dibanding Rp20 ribu untuk, mis Rp100 juta biaya RS?
Perlu dibuatkan rating unit link agar nasabah tahu mana yg terbaik.
#3
, hal seperti ini kadang sangat membingungkan nasabah dalam memilih,
sepakat
terkadng juga nasabah enggan mengambil karena beranggapan sulitnya administrasi saat melakukan klaim…
btw ke empat akhirnya 5 besar
Ini merupakan alternatif investasi seperti deposito, dll dan resiko sakit/meninggal jadi digunakan sebagai tabungan, selama masih ada sisa dana untuk ditabung
Daripada Asuransi, dsb.. bukannya lebih enak kalo nabung sendiri? daripada bayar premi, kan masuk ke pihak asuransi, iya kalo terjadi “sesuatu”, kalo gak kan berarti duit kita hilang. Nah kalo ditabung kan pasti terjadi atau tidak terjadi tetap milik kita
IMHO, cukup ditabung saja, tentunya di bank syariah
dari sedikit pengalaman saya, saya juga lebih suka memisahkan asuransi dan reksadana. karena pada dasarnya asuransi itu simpenan jangka panjang, dg ikatan kontrak yg serius. sedangkan reksadana justru jangka pendek, bahkan spekulan bisa melakukan transaksi beberapa kali dlm tempo sebulan. saya nggak ngerti pertimbangan apa yg dijadikan dasar pembuatan unit link itu. karena 2 instrumen investasi itu sebenernya di 2 jalur berbeda.
#1
asuransi apa saja yang memperhitungkan inflasi? terutama link unit.
pak pri,mau jadi salesnya asuransi ya???
Semua asuransi jiwa biasanya ada pilihan untuk diindex ke tingkat inflasi (indexed to inflation rate/CPI) di quotation software-nya. Tanggungannya meningkat berdasarkan inflasi tapi preminya juga meningkat. Saya rasa di Indonesia juga menggunakan software yg dikemas sesuai situasi di Indonesia, mungkin bisa ditanya sama agen asuransinya. Kalau perlu minta di-quote di depan komputer. Juga ada pilihan standard untuk premi yg rata dan meningkat berdasarkan umur. Coba AXA atau Cigna deh. Cheers.
beda insurance sama assurance apa kk?
Wah Pri, lengkap juga analisisnya. Aku sekarang jadi mikir lagi, kemarin udah terlanjur ikut asuransi “yang itu tuh”
. Emang promosinya gencar banget akhir-akhir ini, perlu tulisan kaya tulisanmu untuk memberi opini yang seimbang.
Jadi intinya, asuransi PR**** itu nggak lebih baik dibanding reksadana + asuransi konvensional?
pak priyadi,
saya mau nyimpen duit nih. udah kebanyakan… huehehehehe…
kalo sy gajinya umr. gak mikir asuransi, reksadana apalagi saham.
Unit link returnnya baru bebas pajak (20%) setelah tahun ketiga. Reksadana bisa bebas pajak dan fee setelah satu tahun. Jadi untuk menikmati return yang bebas pajak dan fee, reksadana bisa lebih cepat. Reksadana pasar uang bahkan bisa keluar masuk tiap hari tanpa masalah dan biaya.
Unit link membebankan biaya bulanan yang diambil dari unit yang kita miliki. Semakin lama, jumlah unit yang kita miliki makin menurun meskipun nilai aktiva bersih bisa naik bisa turun. Reksadana tidak ada.
Kalau tujuannya investasi, pilih reksadana. Kalau tujuannya investasi dan asuransi is only nice to have, unit link mungkin cocok. Kalo asuransi bener-bener perlu, pilih aja asuransi langsung.
@barkah
gw setuju banget ama lo,
ngga sejelek itu unit link.. coba cari unit link2 yang lain
#14
hmm… kalo perhitungan reksadana bebas pajak & fee setelah satu tahun,boleh juga tuh invest disitu…
Wah, boro-boro ikut asuransi, buat makan saja masih ngutang warung..
moga2 tidak terjadi ’sesuatu’ pada diri ini.
maunya sih ikut ini itu buat jaga-jaga…
asuransi sudah… investasi..?!
Tulisan lain soal reksadana:
http://nofieiman.com/2007/04/investasi-di-reksadana/
Jangan pernah campur LIFE INSURANCE dengan INVESTMENT.
LIFE INSURANCE ya untuk perlindungan diri dan INVESTMENT adalah untuk memperkaya diri.
Hati-hati dengan perusahaan asuransi yang menawarkan paket keduanya dalam satu produk. saya pakai paket prudential di Singapore dan pada saat saya minta info mengenai kinerja investasi uang saya dalam 2 tahun terakhir mereka tidak bisa menjawab dengan akurat.
Makasih buat insight-nya. Menurut mas Priyadi, kita sebaiknya kita memisahkan antara asuransi dengan investasi. Tapi menurut saya life insurance itu penting banget, dan kalau kita beli life insurance doang, bukannya kita kayak “buang” uang untuk insurance itu? Bukannya mending get something rather than nothing?
Dari awal, saya memang ga suka sama asuransi macam gini.
btw, pak numpang kritik iklan:
Iklan tv three yang tidak mendidik
ini mungkin miskonsepsi paling meluas soal unit link. sebenarnya mau asuransi konvensional atau unit link, nasabah tetap ‘buang uang’. dalam unit link ada porsi premi asuransi dan porsi investasi. porsi premi asuransi itu bagian yang ‘buang uang’.
jadi unit link itu sama dengan asuransi konvensional + investasi reksadana. bedanya, overhead di unit link lebih tinggi daripada kalau dipisahkan.
Asuransi ?
Enaknya ketika diajak menjadi anggota,
berbagai janji manis dipaparkan dengan indahnya.
ketika mau mengklaimkan… sulitnya bukan main.
tidak semua sih,
Hmmm… iya sih, setelah dipikir-pikir, bener juga yah. Tetep aja dalam unit link kita mesti “beli” asuransi.
Thanks again for sharing.
wele2… bagus dan lengkap pembahasannya, jadi bertambah ilmu kita.
tapi sampe saat ini masyarakat kita belum begitu butuh dengan yang namanya asuransi
jadi tambah mengerti masalah yg spt ini. Great!!!
Apapun jenis investasinya, mau Unitlink kek, Reksadana kek, atau sejenis Qisar kek, Anda harus senantiasa memantaunya, karena yang namanya risiko investasi senantiasa mengintai setiap saat.
untuk # 27, pada umumnnya suatu produk tercipta karena ada kebutuhan, tetapi tidak jarang suatu produk justru menimbulkan kebutuhan.
Saya cuma mo kasi pendapat, kalau kita mau membandingkan sesuatu, kita haruslah objective..( Apple to Apple ), jangan membandingkan apple dengan durian. dari tampilan saja sudah beda. Masalah buang uang untuk bayar premi itu relatif, semuanya kembali ke masing2x, apakah kita mau merencanakan sesuatu yang terbaik untuk keluarga.. Cherrzzzz……
Haduh pusing dah liat asuransi dan reksadana. Pengalaman ikut asuransi kesehatan gampang bayar susah klaimnya. Akhirnya nabung aja deh dan jaga kesehatan supaya gak kena sakit parah. Reksadana lagi dah dari taun kapan denger, baca bukunya, liat talkshownya tapi kok gak ada yang seperti di omongin yang mulai dari Rp 250.000,- per unit terus juga gak pernah deh ditawarin sama pihak bank mungkin tabungannya harus 1 milyar dulu baru di approach ya?
Untuk #10
kira2 penjelasan gampangnya, assurance adalah tindakan SEBELUM sesuatu terjadi. Sedangkan insurance adalah tindakan SETELAH sesuatu terjadi.
Reksadana ada yang 100rb? Ada tautan yg bs ditelusuri?
mmmm….
#31 di Trimegah bisa kok mulai 250 ribu. datang aja ke kantornya langsung. kalo lewat agen kadang2 emang agennya yg ngeset investasi minimum lumayan gede, mungkin krn komisi atau ga mo repot.
#33:
manulife saham/obligasi terima Rp 100000 untuk buka/tambah dengan datang langsung ke kantornya, dana ditransfer lewat BCA.
schroders terima Rp 200000 untuk buka dan Rp 100000 untuk tambah lewat bank commonwealth.
mumed… ndak mengerti he he
Iya, saya juga sering di tawarin hal-hal semacam itu. Baik oleh kawan yang sudah menjadi agent maupun jika berjalan di mall-mall.
Tapi saya tolak dengan halus. Maklum penghasil belum bisa terkover sampai kesitu untuk saat ini. Beli minyak goreng aja makin susah gimana menyisihkan duit buat Asuransi.
Btw: numpang test browser ya…
mas pri emang top klo ngulas…tak sinaonane yo
iyah.. sampe sekarang saya tetep bingung buat pilih2 asuransi
Jadi commonwelth bisa buka dengan 200ribu?
masa sih?
thanks.
btw kok sama dengan bahasan gw tentang investasi
halah maksudnya sama2 bahas tentang investasi
Mas Pri, salam kenal. Mau ikutan.
Unit Link adalah gabungan dari asuransi kematian plus pelayanan jemput bola (via Agen/tenaga pemasaran) + pelayanan selama masa perjanjian + “reksadana” artinya Dalam Produk Unit Link :
1. Ada manfaat buat ahli waris kalau Pemilik unit link meninggal, sebaliknya hal ini tidak ada di produk reksadana
2. Ada agen yang datang/menawarkan secara aktif kepada calon peserta, (ada biaya pelayanan/akuisisi yang mas pri sebutkan diatas 41% - tiap perusahaan biasanya berbeda2 dalam menetapka biaya akuisisi ini), sementara kalau di reksadana murni, biaya yang dibebankan biasanya biaya pengelolaan dana (kecil dibanding dengan biaya pelayanan asuransi)
atau dengan kata lain, nasabah unit link biasanya didatangi agen, sedangkan nasabah reksadana datang ke perusahaan (kecuali kalau belinya dalam jumlah besar)
3. Kontrak unit link biasanya jangka Panjang diatas 10 tahun, sehingga ada kedisiplinan untuk terus membayar premi (setiap jatuh tempo pembayaran, perusahaan asuransi mengingatkan hal tersebut)
Agen/tenaga pemasaran biasanya membandingkan produk unit link dengan produk asuransi tradisional (contoh
wiguna), karena sama2 produk asuransi. (apple to apple, bukan dengan produk bank atau pasar modal, sebab bank, asuransi, leasing dan pasar modal mempunyai karakteristik dan pelayanan yang berbeda, tinggal kita sebagai nasabah pandai2 membagi uang/dana kita dalam sektor keuangan diatas. Bagi Muslim/ah sudah tersedia Lembaga Keuangan Syariah.
gak ada yang ‘gak berguna’ untuk saya yang butuh kanal2 baru untuk money laundring uang saya
#41:
coba masuk http://www.commbank.co.id, buka menu ‘comminvest’, terus ‘reksadana fee & charges’
Mau ngetest browser Safari
Asuransi juga skrg sudah ada yang syariah kalo itu yg dikhawatirkan.
Soal investasi di pilihan unit link, tergantung asuransinya, ada asuransi yang membebaskan nasabah/penabung untuk memilih berinvestasi di beberapa tipe investasi yang dia miliki, apakah itu equity, managed income, fixed income (deposito, bunga bank dll)
Informasi yang diberikan kalo ga salah berupa berapa return/tahun yg diberikan oleh masing2x tipe investasi. Misalnya equity tahun 2006 hingga 50% dll.
#43:
unit link harus dibandingkan dengan asuransi+reksadana, bukan reksadana saja. sebenarnya ini inti permasalahannya: kalau nasabah merasa tidak/belum memerlukan asuransi jiwa, maka sebenarnya dia juga tidak/belum memerlukan unit link. yang dibutuhkan oleh sebagian besar nasabah unit link saat ini sebenarnya adalah reksadana, bukan unit link.
tapi karena calon nasabah tidak tahu reksadana, maka dia pilih unit link. kalau si nasabah tahu reksadana, maka dia gak punya alasan untuk ikutan unit link. unit link di sini cuma cara pemasaran untuk menjaring lebih banyak pelanggan yang belum tahu reksadana.
kalau buat saya ini jeleknya unit link: gak bisa bebas memilih manajer investasi, gak bisa menyetorkan dana berlebih tanpa kena biaya administrasi tambahan.
pengalaman saya agak susah membandingkan unit link dengan asuransi tradisional. dari beberapa unit link terlihat harga preminya terlampau murah jika dibandingkan asuransi konvensional, tapi saya curiga itu karena disubsidi silang dari biaya administrasi porsi investasi, sedangkan porsi investasi tidak bisa benar2 dieliminasi. jadi gak bisa diketahui secara pasti berapa besar premi sebenarnya, bahkan agennya pun mungkin gak tahu.
jadi agak susah membandingkan unit link secara apple to apple dengan asuransi tradisional, bahkan dengan produk unit link dari perusahaan lain.
Unit link adalah salah satu jenis investasi.Lainnya seperti saham,obligasi,deposito,emas,dll.
Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.Unit link di indonesia belum lama.Kalo di Eropa dan Amerika Utara sudah lama.Jadi tidak ada alasan untuk khawatir dan disangkutpautkan dengan investasi yang tidak jelas.Kalo ingin tahu pembahasan secara detil sering-sering baca majalah bisnis spt SWA atau Investor.Kalo surat kabar ya Bisnis Indonesia.
Setahu saya reksadana dan unit link itu bebas pajak(bandingkan dengan deposito).Return-nya juga lebih besar Unit link.Tetangga saya ada yg punya AKTIVA produk dari A*G Life(persh AS sponsor klub sepak bola MU).Info yang saya dapat tahun kemarin profitnya 60%!
Ingin pilih produk Unit link ya harus pinter-pinter milih persh yg bonafid.Rating persh asuransi bisa dilihat di majalah Investor tiap tahun(bisa ditanyakan ke redaksi)
mendingan bisnis biasa aja ah, yang konvensional terkadang lebih aman dan menguntungkan dibanding dengan yang modern. tapi, reksadana boleh juga lah
#49:
ini sebenarnya kurang tepat, karena porsi investasi yang ada di unit link itu sebenarnya adalah reksadana juga.
kalau manager investasinya sama, unit link pasti returnnya lebih rendah daripada reksadana, karena di sini ada lebih banyak pihak yang mengutip keuntungan.
perbedaan AIG dibandingkan unit link atau reksadana lain adalah dia pakai manajer investasi in-house. akibatnya modalnya tidak bisa sebanyak pool reksadana sehingga keuntungan ‘recehan’ dari saham2 dengan market cap kecil menengah yang lebih fluktuatif bisa langsung terasa (dan kalau rugi langsung terasa juga). tapi kalau jangka panjang harusnya reksadana dengan modal besar akan lebih diuntungkan.
Aduh.. belum nyampe saya..
investasi begini utamanya adalah kepercayaan…sayangnya saya sudah tidak begitu percaya dengan perusahaan perusahaan pengelola uang seperti ini…mau gimana lagi?
Ayah saya punya 4 asuransi di bumi asih, tapi sekarang cuma 2 yang masih di terusin, ikut asuransi karena gampang di gombalin tukang asuransi, udah punya asuransi masih dipaksa2 ngambil paket yang lain… dasar….
#23 Saya setuju dengan “Overhead unit link > daripada (investasi dan asuransi terpisah)”. Saya mengalaminya sendiri. Saya mengambil unit link AXA-Mandiri. 3 tahun pertama, uang yang saya setorkan > Nilai aktual dari investasi saya. 3 tahun berikutnya juga baru equal. Ini belum menghitung inflasi dan kemungkinan investasi yang dilakukan oleh manajer investasi di AXA-Mandiri merugi.
Saya dulu tertarik karena bisa Autodebet dari Bank Mandiri dan free of charge (charge autodebet-nya bukan administrasinya). Yang paket asuransi dan investasi lain mengharuskan saya menyetor secara manual (ada yang bisa transfer dan ada yang tidak).
Tapi dengan banyaknya kemudahan mendaftar ke investasi2 yang ada dan banyaknya tawaran2 asuransi maka mending terpisah daripada satu paket.
Iyak, klo dipisah, pusingnya sebiji sebiji klo ada masalah. Klo gabung, pusingnya pasti 2 biji. Reksadana apa enaknya sih? Misal kaya th 98 duit tahu2 ga ada harganya gitu pa ndak rugi setor bulanan tp repot ngambilnya? Masih goblog nih, mending nabung konvensional aja deh…
@45
eh beneran ada, thanks pri..
tulisan yang bagus pak! Asuransi dan reksadana lebih baik dipisah.
dari berbagai poin di atas, menurut saya, yang paling berharga adalah kebebasan (likuiditas) + transparansi.
#56:
sebenernya justru tahun 98 itu waktunya buat setor, bukan untuk ngambil. kalo uang dianggurin justru rugi berat, soalnya inflasi sekitar 58%. deposito waktu itu sekitar 60-100% kalo gak salah.
Menurut saya si pak, justru lebih baik diambil n dijadiin property soalnya property tdk naik, justru turun krn jmn susah. Klo tetap dlm bentuk uang, emg rugi berat.
Menyimpan uang kan ngurangi uang beredar, mencegah inflasi makin parah, n menguntungkan jug, Cm masalahnya bank pada ga bener, mereka2 juga yg bikin moneter kacau. Mo konvert dollar rugi juga wong naiknya gila2an. Ya paling2 property tadi, …developer kalo ga jual murah pa mo kecekik bunga kredit. Nabung aja bunga segitu pa lagi kredit.
Para agen Asuransi yang gencar menawarkan produknya, terutama jenis “Asuransi Investasi”, apa mereka care dengan apa yang kita butuhkan, dan bagaimana sebaiknya perencanaan keuangan kita? Yang mereka care adalah mendapatkan komisi sebanyak2nya kalau mereka bisa closing, dan mencapai target minimum bulanan.
Yang digembar gemborkan oleh agen asuransi biasanya sangat manis dan menakjubkan, tapi begitu mau claim, dang! I should’ve read the fine print.
Menurut saya pribadi Asuransi Investasi maupun Pendidikan adalah BS, karena perkembangan investasinya tidak bisa dimonitor oleh kita. Terutama yang dinamakan asuransi pendidikan, bs banget deh… 60jt 17 tahun kemudian untuk kuliah…. kuliah dimana mang?….
Untuk investasi sebaiknya memang memilih reksadana, atau kalau fulus cukup dan punya keberanian, langsung main saham.
Asuransi hendaknya tetap dilihat sebagai ‘insurance’, dimana kita membayar ‘premi’ supaya jika terjadi hal2 yang tidak diinginkan, ‘loss’ atau ‘damage’ yang kita derita tidak terlalu besar. Jangan dicampur adukan dengan apa yang dikatakan ‘investasi’.
Ndak Faham saya
wadoh, asuransi yah, gak brp paham sayah, tp intinya kita ndaptar trus bayar premi tiap bulan, kan?
Assalamu’alaikum. Mohon izin Nimbrung nich.
Dalam mengelola keuangan dan resiko tentu perlu manajemen yang baik agar menguntungkan dan siap menghadapi musibah karena kehidupan berputar antara susah dan senang. Akan tetapi sangat diperlukan juga kejelasan kehalalannya seperti halnya ayam bakar/goreng yang baik dan lezat namun yang satu tidak disembelih pakai bismillah.
Saat musibah datang terkadang uang yang kita tabung tidak mencukupi pd saat itulah terasa fungsi asuransi (tolong-menulong=takaful) bahasa betawinya uang rembug yang kita niatkan untuk saling tolong menolong sehingga berpahala dan tidak hilang dalam hitungan akhirat.
Untuk mendapatkan investasi yang menguntungkan dan terkendali dibutuhkan manajemen yang baik. Takaful bekerja sama dengan Trimegah syariah dalam mengelolanya. Investasi aset di letakkan pada instrumen yang sesuai dengan syariah diantaranya Pasara Uang Syariah, Obligasi Syariah dan Ekuitas syariah.
Di Bolak Balik, ya “spend your money” juga (ada patung kucing sambil melambai-lambai)
kalo ga ngerti ttg reksadana baiknya ga usah komen.mang nabung konvensional bisa ngalahin inflasi apa??
Ya bisalah. Wong ngurangi uang beredar. Nabung di celengan ato apa aja sama, yg penting ga ada duit di kantong buat dibelanjakan. Ga ngerti reksadana makanya nanya…, lha mana? blom ada yg jawab tuh…, ayo yg marketing reksadana…
Klo mau muter uang yg menghasilkan return tinggi mending jualan atau memroduksi barang. Nabung ato invest keuntungannya sangat kecil. Kalo punya uang lebih bolehlahh mikirin asuransi
#68
inti yg dibahas kan soal ga efektifnya unit link klo dibandingin dengan ngambil asuransi dan investasi reksadana secara terpisah. Mungkin anda melihatnya dari sisi yg berbeda, atau tulisan mas pri yg kepanjangan?
#68:
jualan atau produksi barang itu kerjaan full time sendiri, bukan murni investasi.
Salut .. ! semakin menarik dengan banyaknya komentar yang tentunya menunjukkan semakin “meleknya” berbagai pihak tentang pentingnya investasi.
Yang jelas kita semua harus memastikan dalam perbaikan ekonomi bangsa maka unsur investasi ini salah satu yang sangat penting.
Sebagai contoh dari apa yang pernah saya dengar, Malaysia sangat berhasil membangun karena investasi di sana sangat solid, misalnya reksadana sudah jauh berkembang (masyarakat di sana kalau mau dapat return yang baik pilihannya ke reksadana bukan menabung di Bank (di Indonesia kebanyakan masih menabung di Bank atau bahkan dibawah bantal!)). Investasi juga didukung model lain misalnya bagaimana tabung haji Malaysia dapat menunjang banyak dalam pengembangan ekonominya. Di Indonesia sementara ini hanya dimonopoli oleh Depag yang kita tidak tahu bagaimana mereka mengelola dana haji yang cukup besar dimaksud. Di Malaysia bahkan dana zakat pun dikelola dengan solid sehingga terkonsolidasi secara profesional dan tentunya membawa manfaat lebih baik kepada para penerima zakat maupun ekonomi pada umumnya.
Kembali ke unit link v.s. reksadana :
Apapun instrumen investasi tentunya muncul dengan segala kelebihan dan kekurangannya .. unit link dipandang beberapa pihak lebih mudah karena proteksi dan investasi serta kemudahan transaksi (mengarahkan untuk disiplin). Dalam pandangan kami, unit link lebih fair dibandingkan dengan asuransi konvensional, walaupun tentunya kritikan mengenai besarnya biaya di asuransi menjadi tantangan bagi pelaku asuransi untuk semakin menurunkannya.
Sementara Reksadana pasti akan lebih optimum investasinya karena biaya jauh lebih kecil walaupun tentunya kita harus mendapatkan lagi proteksi dari asuransi dan ini bagi berbagai kalangan lebih ribet.
Kembali kepada esensi tanggapan kami, mari kita galang terus investasi dalam rangka pembangunan bangsa ini baik invetasi di pasar modal (reksadana), asuransi atau direct investment kepada suatu bisnis.
Salam Investasi !
Tambahan sedikit :
Ada baiknya kita juga bagaimana menggalang investasi yang memang langsung lebih dekat dengan pergerakan sektor riel.
Investasi di pasar modal dan uang tentunya memang penting tapi ini saja tidak cukup. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebetulnya sangat membutuhkan dukungan permodalan. Masalah klasik kemudian muncul karena ternyata perbankan mengalami berbagai hambatan melaksanakan intermediasinya .. perbankan cari gampangnya mereka bahkan invest di pasar uang. Masalahnya memang klasik karena perbankan kelihatannya memang lama kelamaan diyakini bukan sebagai lembaga untuk investasi (kecuali investment banking yang berfungsi sebagai arranger bukan ambil posisi investasi).
Kembali ke UMK yang notabene mereka tersebar di pelosok tanah air sehingga perbankan sulit menjangkau, kiranya perlu kita dukung investasi untuk UMKM melalui Lembaga Keuangan Mikro dan Syariah (LKM/S) seperti Bank Perkreditan Rakyat / Syariah, Baitulmall wat Tamwil (BMT). Investasi di BPR maupun BPRS masih dijamin Lembaga Penjamin Simpanan dan returnnya lebih tinggi dibandingkan perbankan.
Rasio Perbandingan Pinjaman yang diberikan dengan Dana masyarakat yang dihimpun di LKM/S jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan yaitu >85 % sementara perbankan 60%. di BPRS bahkan lebih tinggi lagi yaitu 120% (berarti BPRS mengeluarkan pinjaman tidak hanya dari dana masyarakat tetapi juga dari kocek pemegang saham atau pinjam ke lembaga lain).
Memang ada kritikan suku bunga/tingkat bagi hasil BPR/S kepada debiturnya dinilai tinggi. Hal ini tentunya dapat kita pahami karena di industri manapun, semakin ke hilir maka harga memang lebih mahal (contohnya beli rokok di warung pasti lebih mahal dibandingkan beli di makro-tapi walaupun lebih mahal kemudahan di dapat misalnya boleh beli eceran dan tidak ada biaya parkir). Demikian halnya LKM/S, karena mereka menawarkan kemudahan yang lebih baik dibandingkan perbankan seperti : lebih dekat ke debiturnya, mereka jemput bola serta kebanyakan tidak pake agunan (karena unsur kedekatan), maka hal ini diimbangi dengan harga kredit yang lebih mahal. Tapi jangan lupa, debiturnya pun masih rela karena kemudahan yang didapat selain semakin ke hilir perputaran bisnisnya pun lebih cepat misalnya pedagang bakul dan pedagang pasar putarannya harian.
Demikian, sekali lagi semoga berkenan dan selamat investasi .. !
Inilah Indonesia Bung,
orang indonesia banyak yang gak mau mikir n repot, pengennya gampang aja.
daripada repot ngurus investasi dan assuransi di dua tempat berbeda, ya mending ikut unit link, dengan satu proses kita bisa dapat return dan proteksi.
jadi reksadana + assuransi konvensional atau unit link akan berbeda fungsi dan manfaatya bagi setiap orang. tergantung dari mana orang tersebut memandangnya.
HUmm… saya baru saja ikutan AXA-Mandiri Rencana sejahtera … tadinya ikut itu karena mau ikut “tabungan berjangka”, gara2 sering liat Money Talk di Metro TV … intinya sih pengin disiplin menabung… tiap awal bulan langsung di debit dari rekening…
Nah.. kok bisa ke Mandiri Rencana sejahtera ? Terus terang saya tadinya ndak tau kalo produk ini beresiko tinggi… dan baru tau “agak jelas” setelah kemarin menerima polis nya
Mungkin karena iming2 “return” yang gedhe juga ( kata agen penjualnya, saat ini mencapai 56% p.a. — WOW!! padahal deposito kan cuma
Tujuan utama dari asuransi adalah mengurangi resiko kerugian dimasa mendatang. BUKAN untuk mencari keuntungan.
alokasi premi dapat dialokasikan sesuai dengan keinginan nasabah. Jadi tidak harus 70-30.
Kalo profit %an yang diambil oleh agen asuransi, saya rasa itu hal yang wajar-wajar saja.Karena agen asuransi tidak digaji.Lagi pula berapa % pun yang diterima oleh agen asuransi, itu adalah rejeki mereka.
Ibarat menabung di bank,gaji yang diterima oleh karyawan bank juga merupakan profit perusahaan yang didapat dari hasil tabungan/deposito anda.
Misal: Bank XYZ membeli SBI dengan bunga 10%/tahun, tetapi dijual ke nasabah dalam berbagai macam produk(tabungan,deposito,dll) dengan bunga 3%-6% saja. Bank mendapat Laba 4%-7%. Laba yang didapat untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional perusahaan.
So intinya,setiap perusahaan akan mengambil laba/profit dari nasabah/konsumen/pelanggan nya untuk kegiatan operasional perusaahannya.

Dear Mas Pri,
Jadi pusing dan lebih nggak ngerti.
Pertanyaan saya satu saja.
Mudah-mudahan bisa dijawab.
Ada list perusahaan Reksadana yang terpercaya, menerima setoran kecil?
#76:
kalau ada produk asuransi yang lebih murah, lalu kenapa kita gak pilih yang lebih murah?
perusahaan asuransi sih bebas2 aja mau kasih harga berapa. tapi selama ada persaingan bebas, konsumen (yang tahu situasi) berhak untuk memilih produk yang lebih murah dan efisien.
#77:
coba manulife di cikini. minimum setoran awal Rp 100 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu, dana ditransfer lewat BCA atau deutche bank.
atau coba beli schroders lewat bank commonwealth. setoran awal minimum Rp 200 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu.
#78
setuju dengan mas pri
kalo ada produk asuransi lebih murah dengan produk dan pelayanan yang SAMA. Why not?
(kata orang) Buat apa bayar lebih kalau sama? Setuju? setuju
Tetapi yang namanya produk, pasti ada memiliki kelebihan dan kekurangan. So…konsumen mesti pinter-pinter memilih.
rekans2, mau ikutan nimbrung ya… kebetulan nama saya priyadi juga nih…
membandingkan unit link (UL) dengan asuransi jiwa + reksadana (secara terpisah) sama dengan membandingkan beli mobil yang udah lengkap dengan mobil “pimp my ride” dimana kita “ngisi sendiri” perlengkapan mobil kaya AC, tape, jok kulit, dll.
kalau anda memang bisa dan mau keliling pasar cari AC dan tape untuk mobil anda, mungkin sekali anda akan nemu yang murah dan bagus, sehingga total biaya pembelian akan lebih rendah dibandingkan dengan beli mobil yang udah lengkap.
sama juga dengan UL. kalau anda memang bisa dan mau keliling kota cari reksadana yang paling bagus untuk dikombinasikan dengan asuransi jiwa yang juga paling bagus, anda akan mendapatkan value for money maksimum. manfaat tinggi dengan biaya lebih rendah.
masalahnya, berapa diantara kita yang bisa melakukan itu? apalagi yang mau?
laah… antara investasi dengan tabungan aja masih banyak yang ngga ngerti bedanya. ada lagi yang komentar katanya orang indonesia belum butuh asuransi. ada lagi yang komplain karena premi asuransi jiwa (murni) “hilang” kalau ngga terjadi risiko, dan itu dianggap rugi.
ini jelas menunjukkan pengetahuan finansial yang masih terbatas (maaf ya …. jangan merengut loh. saya juga sama kok). jadi boro2 nyari reksadana sendiri dan digabung dengan instrumen finansial yang kompleks seperti asuransi jiwa… yang basic aja masih banyak yang ngga ngeh…
dari sudut marketing, di setiap pasar selalu ada segmen yang bebeda (segmentasi pasar). untuk gampangnya, kita bagi aja pasar finansial di indonesia dengan 2 segmen besar:
1) yang mampu dan mau “mix and match” produk2 finansial sendiri untuk mendapatkan value for money maksimum, dan
2) yang “beli paket” aja supaya lebih gampang. UL adalah untuk segmen kedua ini.
“tapi kan biayanya lebih besar”… ! lha anda kan ngga mau keliling kota cari produk2 asuransi dan reksadana untuk digabung, ya kayanya pantes lah kalo ngasih fee untuk yang bantuin anda…
jadi membeli UL sebenernya anda membeli “convenience” dan kemudahan yang lebih besar. produk ini untuk mereka yang tidak punya waktu, skill, atau kemauan utnuk nyari sendiri dan “mix and match”.
untuk anda yang sudah lebih advance, beli asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah akan lebih efisien. itu dengan asumsi anda sudah ngerti pernak pernik kedua instrumen finansial itu ya… yang terlalu panjang untuk dibahas disini.
UL sendiri sebenarnya muncul dari permintaan masyarakat sendiri. ceritanya begini:
awalnya asuransi jiwa murni yang preminya “hangus” –> orang tidak puas karena kalau tidak mati uang tidak kembali –> muncullah endowment dan whole life yang mengandung elemen tabungan supaya premi tidak “hilang” –> orang tidak puas lagi karena tingkat pengembalian uang nasabah rendah dan tergerus inflasi –> elemen tabungan yang “dijamin” diganti dengan elemen investasi (reksadana) yang tidak dijamin tapi berpotensi memberi pengembalian yang lebih tinggi. lahirlah UL.
jadi… kenapa ada UL ? hey man, you asked for it…!
saat ini UL merupakan produk dengan pertumbuhan premi tertinggi di indonesia (lebih dari 30% per tahun) dan nasabahnya sudah lebih dari 5 juta orang. so jelas ada pasar untuk UL disini. mungkin saja anda bukan target market untuk UL karena anda bisa milih2 sendiri… tapi 5 juta orang indonesia tidak seperti anda…
oya, kebetulan saya juga di industri finansial. kalau ada yang mau ngobrol lewat japri silahkan di priyadi.setiawan@gmail.com
#81: saya ngerti adanya kebutuhan untuk unit link, tapi tidak cukup transparan berapa fee yang dibebankan kepada nasabah ketimbang kalau mengikuti keduanya secara terpisah.
kedua, beberapa unit link memaksa memberi layanan yang tidak diperlukan nasabah. misalnya ada beberapa unit link yang memasarkan produknya sebagai ‘asuransi pendidikan’, memberikan coverage asuransi jiwa kepada anak yang baru lahir. padahal ybs belum punya tanggungan dan dengan demikian sebenarnya gak perlu asuransi jiwa.
yang ketiga, sebagian unit link tidak pernah memperhitungkan faktor inflasi. yang ini nanti saya bahas terpisah ah.
Bahasan yg sangat menarik dan membuka wawasan saya karena beberapa waktu lalu saya sempat di tawari Unit Link tertentu dan tentu saja bagi saya yg awam ta tahu apa itu issurance ataupun reksadana ya tertarik banget ingin juga create account.
Yang bisa saya tangkap dari pembahasan diatas Unit Link memang menarik tapi ya seperti apa yang disampaiakan mas priyadi_juga lebih gampang nyaman tapi mahal kalau ga mau mahal ya jeli-jeli cari yang terpisah dan dirakit sendiri. Wah saya rasa saya juga tertarik cari-cari sendiri dan selanjutnya dirakit sendiri. thanks 4 all.
Wah Mas Priyadi, setelah saya baca2 artikel and comment dari semuanya. Saya jadi ragu nih. Soalnya saya dah setaun ikutan unit link kaya gini tepatnya di Allianz !!
Jadi sebaiknya apa yang harus saya lakukan !!!
Apakah saya harus berhenti dengan resiko kehilangan uang saya (daripada rugi besar nanti!!) atau lebih memperhatikan nilai investasi nya yang dilaporkan tiap bulan !!! Please Sarannya Mas PRI, Ato Mas mas yang lain !!!
#85: wah, sebaiknya anda hitung2 dulu untung ruginya. kalau saya pribadi kalau sudah bisa dicairkan sekarang mungkin saya akan cairkan dan langsung tutup. tapi kalau belum bisa dicairkan saya akan teruskan sampai kesempatan pertama untuk bisa mencairkan, dan setelah itu baru pindah ke reksadana + asuransi terpisah.
mas pri da kasi tahu semua ttg reksa yg termurah.skrg kasi rekomendasi yg murni jiwa termurah donk.jgn ada campuran.termasuk apabila ada yg utk kecelakaan.soalnya saya juga buth asuransi jiwa dan kesehatan.utk investasi, saya invest sendiri.
Pada dasarnya unit link adalah suatu produk perusahaan asuransi jiwa yang ditujukan bagi masyarakat yang memerlukan asuransijiwa. Manfaat tambahan dari produk ini adalah adanya unsur investasi yang lebih transaparan dan kemungkinan mendapat return yang lebih baik dibanding produk asuransi tradisional .
Reksadana sendiri adalah produk keuangan yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan non asuransi yang ditujukan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi.
Ke dua produk tersebut memiliki tujuan dan manfaat yang berbeda. Bagi masyarakat yang membutuhkan proteksi (untuk keluarga maupun diri sendiri) unit link bisa dijadikan pilihan disamping produk asuransi tradisional yang lain. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memerlukan proteksi tapi butuh berinvestasi saja reksadana bisa menjadi pilihan disamping produk investasi lainnya.
Jadi buat teman2 yang ingin memproteksi dirinya dan keluarga dari resiko financial sekaligus mendapat return yg lebih baik dibanding membeli asuransi tradisional dan juga ingin mendapat hasil investasi yang optimal dengan modal yang tidak terlalu besar belilah unit link dan reksadana. Dijamin hati anda tenang karena terproteksi dan anda tambah kaya.
Cheers
Mas taufik, gak perlu responsif, pikirkan baik2, semua pendapat temen2 gak semuanya cocok dg kita dan gak mesti kita telen semua, kalo anda stop blm 3 th, uang anda pasti berkurang ya itung2 buat proteksi, stlh itu anda hrs lgs beli reksadana utk bisa nutup kehilangan di unitlink, kemudian anda jg hrs sgr cari asuransi murni, utk jaga2 diri, kalo kedua action itu sulit anda lakukan, maka saran saya terusin aja unitlinknya, kalo sampe selesai 10 tahun misalnya, anda juga gak rugi, stlh itu ambil uangnya bisa utk bisa bisnis 10 th kemudian
So jgn responsif saran saya,
Salam kenal
ANAS LEE
mas pri suka ngitung2 ya, napa ga ngitung jg faktor resiko hidup, mis org tua ngambil buat anaknya 1jt sebulan sesuai hitung2an inflasi dan sekolah tujuan. Nah mis si org tua mendadak meninggal atau cacat sampe2 ga bisa nabung lagi trus yg harus lanjutin nabung sapa dong ? ya otomatis perusahaan asuransi yg jual produk unit link tadi. Kalo soal asuransi yang manggandeng investasi, saya pikir itu salah satu strategi ngalahin inflasi sebab kalo asuransi konvensional pasti bunga tabungan (untuk kasus di atas)jauh lebih kecil, nah kalo harus ngalahin inflasi kebayangkan brpa yg hrs di tabung. lagian sampe skarang belum ada bunga dari asuransi konvensional yg bisa ngalahin inflasi kok. Nah liatnya dari situ mas, ada resiko hidup yg harus diantisipasi, supaya tujuan2 hidup untuk jangka panjang tetap terjaga. Menurut saya unit link itu produk brilian… oke thank’s ya mas pri

#90:
ini argumen standar agen asuransi
. saya ngambil reksadana bukan berarti saya gak ngambil asuransi lho
. maksud saya, saya gak ngambil unit link, tapi saya ambil reksadana dan asuransi jiwa secara terpisah. jadi kalau saya meninggal, saya masih dicover oleh asuransinya, nanti penerus saya bisa reinvest hasil klaimnya ke reksadana.
returnnya pasti lebih tinggi daripada unit link karena di unit link pasti ada biaya administrasi tambahan yang menjadi tanggung jawab nasabah.
sudah jelas bunga tabungan itu kecil. tapi siapa yang bicara tentang bunga tabungan?
kita bicara reksadana lho
.
Mas pri yang baik…
Kayaknya disini dibandingkan 2 produk yang sebenarnya tidak bisa diperbandingkan.
Reksadana merupakan produk untuk keperluan investasi semata. Sedangkan unit link adalah produk untuk keperluan proteksi yang secara inovatif menghadirkan unsur investasi. Hasil investasi reksadana lebih optimum karena tidak ada biaya2 tambahan sebagaimana di unit link memang betul. Reksadana tidak membebankan biaya tambahan seperti biaya asuransi atau akuisisi karena di reksadana tidak ada manfaat asuransinya dengan kata lain tidak mungkin membebankan suatu biaya yang manfaatnya tidak diperoleh nasabah (bukan begitu mas pri).
Mas pri yang baik…
Seandainya mas pri beli unit link, penerus mas pri selain mendapatkan UP juga mendapatkan hasil investasi atau nilai tunai yang lebih besar dibanding mas pri membeli asuransi jiwa konvesional. Jadi penerus mas pri bisa mereinvest dana yang lebih besar ke reksadana.
Jadi mas pri tidak perlu merasa rugi membeli unit link, karena manfaatnya beda dengan reksadana.
Jadi buat rekan2 membeli unit link dan reksadana sekaligus tidak ada ruginya kok.
#92:
tentu saja bisa dibandingkan. di sini saya membandingkan porsi investasi dari unit link dengan reksadana dan berkesimpulan kalau reksadana lebih menguntungkan dalam urusan investasi.
kalau ada orang ikutan unit link karena potensi returnnya, maka ini salah kaprah, terutama kalau dia gak butuh asuransi jiwa (misalnya anak yang baru lahir) atau sudah punya asuransi sebelumnya (misalnya ikutan term life atau sudah ada dari kantor). butuh investasi kok ikutan asuransi jiwa? sebenarnya yang dibutuhkan orang2 ini adalah reksadana, bukan unit link.
unit link baru masuk akal kalau nasabah membutuhkan asuransi dan investasi sekaligus. tapi saya pribadi tetap menyarankan ikut asuransi dan reksadana secara terpisah karena asuransinya akan lebih murah dan/atau return investasinya lebih tinggi.
ini pasti agen prudential
. kebanyakan biaya akuisisi di unit link itu akibat metode pemasaran yang agresif. atau dengan kata lain pada bulan2 atau bahkan tahun2 pertama, nasabah mati2an nabung hanya untuk membayar komisi agen asuransinya. return baru terasa setelah lewat tahun kedua atau ketiga. sedangkan reksadana, returnnya bisa langsung terasa saat itu juga.
sebenarnya biaya tambahan dari mengikuti unit link itu bisa kecil kok asalkan tidak dipasarkan kelewat agresif. walaupun demikian asuransi+reksadana terpisah tetap lebih murah dan fleksibel daripada unit link.
seandainya saya ambil asuransi+reksadana terpisah, penerus saya juga mendapatkan hasil investasi yang lebih besar daripada jika saya mengambil unit link, ini dengan asumsi jumlah premi yang sama.
jelas return unit link itu lebih besar daripada asuransi konvensional. tapi saya gak ikut asuransi konvensional untuk mendapatkan returnnya. malah saya gak dapat apa2 karena saya ikut term life. ini duit hilang begitu saja, dan saya gak dapat apa2 kecuali kalau saya meninggal
.
kelebihannya preminya jauh lebih kecil daripada unit link, dan selisih dari itu bisa saya invest ke reksadana. manfaat dan returnnya akan sama saja dengan unit link, tapi tanpa memperhitungkan biaya overhead yang ada di unit link. kalau memperhitungkan overhead, pasti asuransi+reksadana terpisah akan lebih menguntungkan.
orang ikut asuransi itu intinya bukan untuk mengharapkan keuntungan, tapi untuk mengurangi resiko terhadap hal2 yang tidak dikehendaki. intinya, anda harus hitung besar kecilnya return secara kuantitatif, dan bukan hanya semata-mata ada atau tidak ada returnnya.
Mas Pri,
Salut buat ulasannya .. saya juga sependapat dengan anda, jika kita sudah mengerti benar dan bisa memilah-milah paket yang terbaik memang lebih baik punya paket reksadana + asuransi konvensional terpisah.
Problemnya, utk sampai kesini perlu waktu …karena banyak saudara2 kita belum mengerti manfaat investasi reksadana & asuransi itu. Mereka perlu kita “Edukasi”. Ini keyword-nya.
Dari sisi pola hidup, masyarakat kita umumnya dan kebanyakan :
1. Masih sangat konsumtif, terutama yang masuk di kelas menengah (punya penghasilan utk cover biaya hidup + sisanya dihabiskan di “lifestyle” yang konsumtif.
2. Yang sudah bisa dan mau menabung, umumnya menabung dirumah dan di Bank melalui instrumen tabungan/deposito. Mereka belum kenal reksadana, bahkan juga konsep2 investasi melalui saham, obligasi, money market belum mereka pahami. Taunya cuma simpen duit dibawah bantal (masih banyak lho) atau nabung dibank. Pahahal bank sudah bukan lagi pilihan tempat melakukan investasi, karena terlalu banyak biaya2 administrasinya bahkan dibanding interest yang diberikan. Ini sering tidak kita sadari.
3. Belum melek atau Phobia asuransi. Buat mereka, asuransi konvensional atau unit link sama saja .. sama-sama tidak diperlukan dan bahkan mungkin dianggap penipu semuanya
Mereka takut berurusan dengan asuransi dan kalau pun kena musibah, sudah kehendak Tuhan kata mereka.
Dari ilustrasi di atas, jika anda juga sepakat, maka produk unit link adalah “solusi awal” utk melakukan edukasi kepada masyarakat awam ttg pentingnya asuransi dan investasi. Orang kita itu kebanyakan paling seneng beli sesuatu yang 2 in 1, 3 in 1 bahkan 5 in 1 kalo perlu
. Contoh sederhana, mobil kijang, taruna or Avanza-Xenia yang bisa muat 7 in 1/8 in 1 jelas lebih laku dibanding yg muatan sedikit.
Kalo buat saya sih, asuransi dan investasi adalah sebuah proses belajar .. belajar menemukan kebutuhan hidup kita yang riil, dan belajar menemukan solusinya. Wajar aja, dalam proses belajar tentu ada yg bisa belajar cepat, sedang atau lambat. Anda mungkin termasuk yang cepat. Intinya, belajar itu lebih baik dengan praktek langsung dibanding berteori terus.
Saya sendiri, sudah punya unit link selama 2 tahun, dan perlu waktu selama itu utk membuat kesimpulan yang sama dengan anda. Apakah saya merasa rugi punya unit link? rasanya tidak, karena saat ini saya sudah merasa nyaman minimal sudah punya paket asuransi dan investasi, meski biaya asuransinya mungkin lebih besar dari yg konvensional & return investasi-nya lebih kecil dari yang reksadana. At least, saya sudah memulai.
Dan saat ini saya merasa lebih mantap melangkah ke proses belajar selanjutnya, yaitu ke reksadana. Doain ya mas n temen2 semua, semoga proses belajar ini mendapatkan manfaat buat saya n keluarga.
Buat yang belum punya, saya himbau segera mulai. Terserah mau mulai dari unit link atau langsung ke reksadana+asuransi konvensional, pokoke yang penting mulai .. berarti anda sudah membuat kemajuan bagi anda sendiri dan keluarga.
#94
sama seperti anda. sebelum mengenal reksadana saya juga nasabah 2 produk unit link selama 5 tahun. sekarang hanya satu yang masih aktif dan dalam proses batal.
bedanya dengan anda, saya merasa dikadalin dengan ikutan unit link. sama dengan perasaan saya kalo misalnya ketemu calo di stasiun gambir yang jual ‘tiket resmi’ jakarta-bandung Rp 100000, padahal harga aslinya Rp 60000. setelah tahu dimana letak loket resminya, ya mendingan langsung beli dari loket resminya, gak perlu berurusan lagi dengan calo-nya
beberapa isu yang saya gak suka:
* unit link cenderung ‘menyembunyikan’ biaya2 administrasi ke dalam angka2 ilustrasi sehingga seakan2 biaya administrasi sebesar itu adalah wajar. kalau nasabah diberitahu secara terus terang, mungkin jadinya gak ada yang beli unit link
* unit link memasarkan produk yang tidak berguna untuk calon nasabah. misalnya asuransi jiwa ke anak yang baru lahir, dan dipasarkan sebagai ‘asuransi pendidikan’.
dari pengalaman saya hanya bisa berkesimpulan kalau unit link hanyalah semata-mata trik marketing untuk memasarkan produk asuransi, terlepas dari apakah produk tersebut memang diperlukan calon nasabah atau tidak.
saya sampai sekarang masih belum percaya asuransi tuh…takut di boongin aja…udah deh..berserah pada yang di atas aja deh…

Setuju sekali,
Asuransi konvensional memang lebih murah dan transparan, begitu juga dengan Reksadana
Perbedaan mengikuti UnitLink dengan mengambil asuransi dan reksadana secara terpisah adalah dengan UnitLink kita dapat memastikan apabila terjadi sesuatu dengan kita maka investasi kita akan terus berjalan, tidak dengan mengambil terpisah, saat sesuatu yg terburuk terjadi kita tidak akan memikirkan untuk investasi lagi
Kalau kita mengambil terpisah maka kita akan membuang uang untuk asuransi dan menabung dengan reksadana, Jeleknya, untuk orang Indonesia kesadaran untuk asuransi sangat rendah, siapa yang mau buang uang coba, sedangkan di UnitLink biaya Asuransi dan Akuisisi dibungkus dalam selimut Investasi sehingga banyak orang yang tertarik untuk ikut
Sy rasa tidak terlalu bijak mengatakan kalau UnitLink tidak bagus dan lebih bagus Reksadana mengingat kebutuhan kita sebenarnya adalah akan asuransi dan bukannya reksadana karena biaya untuk sakit saat ini sudah sangat mahal
—
Pemilik polis Askes yang dibayar sendiri (bukan dibayarin kantor) yang masih mau punya tabungan pendidikan (berasuransi jiwa), tabungan berjangka (berasuransi jiwa) dan UnitLink (tentunya berasuransi kesehatan dan jiwa)
—
untuk yang sudah punya asuransi kesehatan tentunya bisa bilang unitlink adalah biaya tinggi, tapi untuk orang yang tidak mau bayar asuransi kesehatan unitlink mungkin yang terbaik
#97:
kalau diambil terpisah saya harus memberi pelajaran finansial kepada penerus saya, dan jika saya meninggal penerus saya harus melakukan: klaim & reinvest ke reksadana. sedangkan dalam unit link penerus saya hanya cukup melakukan klaim. sekarang tinggal masalah apakah biaya yang kita keluarkan dalam unit link sepadan untuk melakukan reinvest ke reksadana? apa itu sepadan dengan potongan 5% setiap kali saya invest ke unit link? menurut saya sih tidak.
ini problem utamanya, kalau ambil reksadana+asuransi terpisah, maka tidak ada biaya akuisisi (alias komisi agen) yang sangat mahal
. kalau masalah kesadaran berasuransi harusnya solusi adalah pembelajaran, bukan justru pembodohan dengan menyajikan produk yang lebih abstrak 
seandainya unit link dipasarkan dengan cara misalnya “anda setor Rp 1 juta/bulan, nanti Rp 700rb saya alokasikan ke reksadana dan Rp 290 ribu saya alokasikan ke premi asuransi. sedangkan Rp 10 ribunya komisi untuk saya”, mungkin saya lebih respek karena lebih transparan dan kita gak susah untuk menilai apakah yang dia lakukan sepadan dengan apa yang kita bayarkan.
kalau unit link sekarang umumnya menyembunyikan biaya2 komisi dsb sehingga sulit diketahui oleh calon nasabah kecuali kalau teliti dan mau susah payah menghitung. seandainya nasabah tahu besar biaya yang harus dia bayarkan untuk komisi dan administrasi, mungkin dia akan kaget
tulisan di atas membandingkan reksadana vs unit link dalam kerangka investasi, bukan asuransi. tapi seandainya perlu, tidak menjadi masalah, karena asuransi kesehatan pun bisa dibeli terpisah.
sebenarnya unit link bisa diambil tanpa manfaat kesehatan. tapi jauh lebih bijak kalau mengambil asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah.
yang rugi itu sebenarnya orang2 yang gak punya tanggungan (orang yang belum menikah atau bahkan bayi yang baru lahir), tapi ambil unit link. karena di situ ada manfaat asuransi jiwa yang gak dia perlukan. dalam kebanyakan unit link, asuransi jiwa gak bisa dibuang.
#98
tapi jauh lebih bijak kalau mengambil asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah.
-
setuju, asal diambil keduanya bukan cuman mau untung dari reksadana saja
yang rugi itu sebenarnya orang2 yang gak punya tanggungan (orang yang belum menikah atau bahkan bayi yang baru lahir), tapi ambil unit link. karena di situ ada manfaat asuransi jiwa yang gak dia perlukan. dalam kebanyakan unit link, asuransi jiwa gak bisa dibuang.
–
yups
Hi Mas Pri nimbrung lagi nih,
“kelebihannya preminya jauh lebih kecil daripada unit link, dan selisih dari itu bisa saya invest ke reksadana. manfaat dan returnnya akan sama saja dengan unit link, tapi tanpa memperhitungkan biaya overhead yang ada di unit link. kalau memperhitungkan overhead, pasti asuransi+reksadana terpisah akan lebih menguntungkan.”
========================
Apakah biayanya lebih murah?
Sebagai perbandingan saya punya term life dgn premi Rp 300,000 pertahun dengan UP Rp 100 jt. Apabila saya hidup sesuai dengan usia harapan hidup orang Indonesia (bisa mencapai 65 tahun) berarti total premi yang saya harus bayar adalah Rp 300,000 x 30 tahun (saat ini usia saya 35 thn) = Rp 10,500,000.
Pada saat yg sama saya membeli juga unit link dengan premi Rp 3,000,000 pertahun dengan masa pembayaran premi 5 tahun(UP 100 jt). Total Premi yang saya bayar adalah Rp 15 juta. Biaya 15 jt ini dapat terbayarkan kembali melalui hasil investasi dan saya tetap mendapat proteksi hingga umur 88 thn plus nilai tunai sebagai tambahan. Apakah ini membuat saya tidak bijak untuk membeli unit Link?
=========================
“unit link cenderung ‘menyembunyikan’ biaya2 administrasi ke dalam angka2 ilustrasi sehingga seakan2 biaya administrasi sebesar itu adalah wajar. kalau nasabah diberitahu secara terus terang, mungkin jadinya gak ada yang beli unit link”
“kalau unit link sekarang umumnya menyembunyikan biaya2 komisi dsb sehingga sulit diketahui oleh calon nasabah kecuali kalau teliti dan mau susah payah menghitung. seandainya nasabah tahu besar biaya yang harus dia bayarkan untuk komisi dan administrasi, mungkin dia akan kaget”
===========================
Salah satu kewajiban agen asuransi/pihak asuransi dalam menjual produk adalah transparasi termasuk dalam hal biaya. Dalam unit link biasanya biaya per bulan yang harus dibayar adalah biaya periodik/akuisisi, biaya asuransi, dan biaya administrasi. Besarnya biaya tergantung dari masing2 asuransi. Setahu saya pada beberapa perusahaan asuransi, besarnya biaya yang diambil dicantumkan didalam ilustrasi. Kalo tidak ada calon nasabah dapat menanyakan kpd agen atau perusahaan asuransinya berapa biaya yang dikenakan.
===============
“seandainya unit link dipasarkan dengan cara misalnya “anda setor Rp 1 juta/bulan, nanti Rp 700rb saya alokasikan ke reksadana dan Rp 290 ribu saya alokasikan ke premi asuransi. sedangkan Rp 10 ribunya komisi untuk saya”, mungkin saya lebih respek karena lebih transparan dan kita gak susah untuk menilai apakah yang dia lakukan sepadan dengan apa yang kita bayarkan.”
======================
Sebagai informasi dalam unit link ada 2 jenis produk yaitu regular premium dan single premium. Dalam unit link regular premium, premium dialokasikan ke 2 tempat yaitu asuransi dan investasi. Sedangkan pada single premium hanya dialokasikan ke investasi.
Pada regular premium biasanya ada minimum premi yang harus dialokasikan di premi asuransi.
Sebagai contoh perusahaan X mensyaratkan premi asuransi min 1.5 jt/tahun maka bila anda menyetorkan dana sebesar 5 juta/pertahun, Rp 1,5 juta akan dialokasikan ke asuransi dan 3,5 juta ke investasi (Besarnya premi asuransi tergantung pada UP yg hendak diambil dan asuransi tambahan apa yg hendak anda ambil. Semakin Besar UP dan semakin banyak asuransi tambahan semakin besar porsi premi asuransi yg harus dibayar). Dan perlu diketahui juga bahwa premi asuransi yang dibayarkan itu pada tahun ke 2 95% dari premi asuransi akan dialokasikan sebagai investasi (jadi pada tahun ke2 95% dari 1,5 jt akan dialokasikan utk investasi disamping premi investasi itu sendiri).
Pada unit link single premium, premi yg disetorkan dialokasikan ke investasi saja.
“ini problem utamanya, kalau ambil reksadana+asuransi terpisah, maka tidak ada biaya akuisisi (alias komisi agen) yang sangat mahal . kalau masalah kesadaran berasuransi harusnya solusi adalah pembelajaran, bukan justru pembodohan dengan menyajikan produk yang lebih abstrak”
=========================
Mengenai komisi (sebenarnya kurang etis membicarakan pendapatan tapi ini hanya sebagai ilustrasi bukan hal yang sebenarnya), komisi yang didapat dr agen apabila menjual unit link adalah X% dari premi asuransi katakanlah bisa mencapai 30% dari premi asuransi (tahun 1 dan ke 2 saja tahun berikutnya komisi ini akan trn drastis dibawah 10%) dan Y % katakanlah 2.7%-3% dari premi asuransi. Sebagai contoh premi yang dibayar 5 jt dgn alokasi premi asuransi Rp 1,5 jt dan Investasi Rp 3,5 jt maka komisi yang didapat adalah 1,5jt x 30% = Rp 450,000 dan 3,5jtx3% = Rp 10,500 atau total Rp 460,000. Bandingkan apabila si agen menjual asuransi konvensional dengan premi 5jt maka komisi yang didapat 5jt x 30% (tahun pertama dan ke2) (tergantung perusahaan asuransi) atau total Rp 1,5jt. Jadi kata siapa komisi agen lebih besar di unit link. Dan ini membantah pendapat anda mengenai biaya akuisisi diatas, walupun komisi agen sebenarnya bukanlah biaya akuisisi. Tapi biaya akuisisi bisa mengandung komisi agen.
Cheers
maaf ada kesalahan pad penghitungan premi term life. polis itu sya beli pada usia 30 tahun sehingga premi yg dibayar 300,000 x 35 = Rp 10,500,000
Thanks
#100:
anda juga harus memperhitungkan time value of money, dan perbandingan harusnya juga menggunakan nominal yang sama. Rp 3 juta/tahun untuk unit link harusnya dibandingkan dengan Rp 3 juta/tahun jika mengambil asuransi dan reksadana terpisah.
pada unit link, anda setor Rp 3 juta/tahun. kemudian oleh perusahaan asuransi, dari Rp 3 juta itu, Rp 300 ribu disetorkan ke perusahaan reasuransi, dan sisanya Rp 2,7 juta disetorkan ke reksadana. dalam 5 tahun, investasi anda yang Rp 2,7 juta/tahun itu harusnya sudah cukup berkembang sehingga returnnya sudah lebih dari Rp 300 ribu/tahun yang dapat digunakan untuk membayar reasuransi, sehingga anda tidak perlu lagi setor uang dari kocek anda untuk bayar premi.
jika mengambil secara terpisah, anda setor Rp 300 ribu/tahun untuk premi term life. dalam budget anda yang Rp 3 juta/tahun, maka harusnya anda punya sisa dana Rp 2.7 juta/tahun. anda setorkan Rp 2.7 juta/tahun ini ke reksadana. dalam 5 tahun, return investasi anda yang Rp 2.7 juta/tahun ini harusnya sudah bisa mencukupi untuk membayar premi yang Rp 300 ribu/tahun. setiap tahun anda tarik Rp 300 ribu dari reksadana dan menyetorkannya ke perusahaan asuransi. anda tidak perlu mengeluarkan Rp 300 ribu dari kocek anda.
jadi kurang lebih sebenernya sama aja kan? bedanya:
* di atas saya belum memperhitungkan biaya akuisisi dan administrasi untuk unit link. biaya2 ini lebih besar di unit link karena perusahaan asuransi juga mencari untung. kalau biayanya sama saja dengan mengambil terpisah, maka pasti rugi
kasarnya, mana ada calo yang jual tiket kereta api seharga harga resminya, kalau gitu dia pasti rugi.
* jika mengambil terpisah, setoran premi setelah tahun ke-5 harus melewati kocek anda. sedangkan pada unit link akan diurus oleh perusahaan asuransi.
sekarang tinggal dipikirkan saja apakah layanan yang dilakukan produk unit link ini sepadan dengan apa yang kita keluarkan.
perusahaan asuransi memang memberi tahu berapa proporsi biaya akuisisi, tapi calon nasabah tidak diberi tahu berapa besar pastinya dalam rupiah. kalau calon nasabah mau tahu, dia harus hitung sendiri secara manual.
there’s no free lunch. perusahaan asuransi juga perlu bayar karyawannya, memenuhi kewajibannya dan untuk cari untung. seandainya dari 95% premi asuransi dialokasikan sebagai investasi, maka harusnya ada pos lain yang digunakan perusahaan asuransi untuk membayar biaya yang perlu dikeluarkan. perkiraan saya mereka makan sebagian dari return investasi anda untuk keperluan bayar reasuransi.
biaya akuisisi berbanding lurus dengan agresivitas pemasaran. makin agresif, maka biaya akuisisi makin tinggi. dan biasanya yang dipasarkan secara agresif adalah unit link. jarang asuransi term life atau asuransi kesehatan murni dipasarkan secara agresif. contohnya, berapa banyak sih agen prudential yang memasarkan pruhealth dibanding prulink?
kemudian, bisnis asuransi adalah bisnis yang kompetitif. kalau asuransi murni dijual dengan mark up 30%, maka gak akan laku, konsumen bisa kabur ke produk lain. beda kalau unit link, biaya akuisisi ini bisa diselipkan sehingga tidak mudah bagi konsumen untuk mengetahui jumlah pastinya atau bahkan membandingkan produk unit link dengan produk unit link lain. selain itu sedikit calon nasabah yang ‘perhitungan’ seperti saya ini
.
kalau mau murah, nasabah yang datang ke kantor asuransi, jangan mau didatangi oleh agen asuransi.
Perdebatan asuransi murni, unit link dan reksadana gak abis2, terserah pilihan masing2. Yang pasti proteksi resiko hidup yang mungkin timbul, investasilah untuk memupuk kemapanan finansial.
Buat yg gak mau repot, unit link juga ga jelek kok untuk diikutin. Maka berbuatlah, take action now…
Waduh pembahasan sampe masalah komisi segala, gak etis loh om2x.. Masalah rejeki di tangan Tuhan, mau komisi berapa persen itu semua tergantung dari sistem masing2x perusahaan.
Tp 1 hal yg menarik, pembahasan disini adalah masalah EDUKASI ke masy mengenai pentingnya insurance. Dengan adanya unitlink masy di permudah (insurance n inves). Bukannya itu yg disuka masyarakat indo = SEGALA YG INSTAN ? Semua dikembalikan ke masing2x pribadi seh.. Cherzzzz.
#104:
yang gak etis itu yang gak mau kasih tahu berapa komisinya, atau bahkan ‘menyembunyikan’ jumlah komisi ke dalam angka-angka yang disajikan.
Beli auransi unitlink ato harus beli asuransi tradisional+reksadana????
Jawabannya relatif kawan :
Tergantung perusahaan asuransi dan reksadana yg anda pilih!!
memang benar , bahwa utk sebagian kasus, beli asuransi murni dan reksadana secara terpisah lebih menguntungkan..!!! dimana hasil invest bisa lebih tinggi dan proteksi asuransi yg lebih oke!
tapi lihat dulu perusahaan asuransi mana, dan reksadana mana yg anda pilih???
Saat ini, banyak sekali perusahaan asuransi yg menjual unitlink.Karena tuntutan persaingan,ikut2an trend,mengejar momentum(kesempatan),banyak sekali produk2 unitlink TANGGUNG!!!!
contoh :
1.Suatu produk unitlink xxx, dari perusahaan xxx, menawarkan produk utk laki2 30 thn, premi 20jt/thn.
dapat proteksi meninggal hanya 100jt(500%premi tahunan).proteksi kesehatan,kecelakaan,dsb bisa ditambah dgn rider2,tentunya juga tambahan biaya..
trus ada penalti pada saat penarikan thn pertama 95%,thn ke-2 80%, dst..bukankah lebih baik beli asuransi tradisional saja, premi cukup 3jt sudah dapat proteksi meninggal 100jt,kecelakaan 100jt, sakit, dsb lumayan komplit…sisa 17 juta beli reksadana saham misalnya(reksadana penalti hanya 1-2% th1,thn 2 dst 0%)…pada tahun ke -10,15,20, ato kapanpun hasil investasinya bakal lebih unggul dari produk unitlink xxx di atas!!dengan asumsi sama2 memberikan return 17% tiap tahun..
jadi unitlink tanggung khan???
2.Produk yg tanggung juga,dari perusahaan xxy..misal ambil contoh di atas premi 20jt/thn.dapat proteksi 600jt,sakit kritis 300jt,accident 600jt,santunan rawat inap 500ribu/hari dsb..komplit!! tapi jikalau pengelola dana(fund manager)-nya pihak ke-3 seperti : schroders,danareksa,fortis,dll..!!percuma…
mending beli asuransi whole life dengan manfaat di atas, sisanya beli reksadana lgsung ke perusahaan reksadana di atas!!!hasilnya lebih menguntungkan!!!
kenapa???karena jika anda beli unitlink ini,anda kena dobel charge!!!ga percaya???biar bagaiamanapun agen anda menjelaskan tidak ada dobel cas, tetap kena dobel biaya!!!buktinya :
Contoh
kita beli unitlink xxy,fund manager schroders,jenis dana investasi saham,ato bahasa lainnya xxyequity fund ato apalah….
anda akan liat, perbedaan/selisih NAB unitlink xxy,dengan NAB schroders dana saham(prestasi plus) pada hari yg sama..
misal ; NAB schroders 8000/unit, NAB unitlink xxy itu bisa 9000/unit pada hari yg sama
bisa anda simpulkan bahwa unitlink xxy tsb charge anda Rp1000/ unit kan???besar kan untungnya bagi mereka???bagi kita yahh… dikebiri
apalagi kalo ada unitlink yg pake sistem bid-offer(jual-beli) price!!!yg biasa selisih harga jual dan beli 5%.lebih baik anda beli yg pake single price saja…
jadi unitlink emank ga bagus dunk????eiit… tunggu dulu….
kita harus cermati dulu, perusahaannya, track recordnya, transparansinya, dsbnya…
kita bisa beli asuransi unitlink yg bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, yg fleksibel,yg biaya murah, pake fund manager sendiri, sehingga hasil investasi lebih optimal
Contoh :
1. Asuransi PR*****, misal laki2 usia 30thn mau proteksi 100juta,sakit kritis 50juta, accident 100juta, cukup dengan premi 3juta/thn saja(premi ga hilang,karena akan kembali dalam 2th,dst,jika asuarsni tradisional pengembalian premi di atas th 3 ato 5 ke atas) ..sisanya 17juta , saya bisa Top-up ke polis tersebut, itu sama saja dengan saya beli reksadana..dan hasil invest ga kalah dengan reksadana papan atas di indonesia..(Produk tersebut, hasil invest utk saham dalam setahun ytd juli’06- juli’07 81% )..
oya, perusahaan tsb merupakan perusahaan reksadana juga…dengan nama Prudential asset management ASIA, berpusat di HK,dan S’pore..untuk anda ketahui, reksadan a pertama di eropa, adalah M&Ginvestment plc(di asia memakai nama Prudential asset mgnt asia), dan merupakan salah satu pemain dominan di Inggris dan Eropa..adalah bagian dari Prudential plc..
dengan memakai fund manager sendiri, hasil investasi akan lebih optimal..
oya, di indonesia ada beberapa lagi asuransi unitlink yg memakai fund manager sendiri..yaitu :
A.J Manulife, AXA finacial(bukan AXA mandiri, AXA mandiri memakai schroders dan danareksa)).
demikian pembahasan saya, semoga bisa dijadikan bahan acuan dan pembelajaran.thank you
#106:
prudential??
* ‘biaya akuisisi’ (alias komisi agen) terlalu besar. perhitungan saya investasi baru akan lancar setelah masuk tahun 2-3
* 3 juta per tahun untuk pertanggungan seperti itu gak murah2 amat. di 30 tahun, term life 100 juta pasarannya Rp 300-400 ribuan, termasuk kecelakaan. total termasuk kesehatan lengkap bisa di bawah 2 juta/tahun.
* komisi top up 5%, reksadana sendiri paling gede cuma 2%-an
wah pak pri emang top bgt deh dalam ulasannya.. semuanya bener dan netral
saya setuju ama semua yg pak pri bilang.. saya bulan maret kmrn ditawarin P..link yg PA*+.. awal2 dijelasin tertarik jg sih.. tp untung saya minta waktu untuk pelajarin dulu.. dan tnyt stlh 2 hari mempelajari proposal2 yg ada,wah saya bnr2 kaget dgn struktur biaya yg ada..
mulai dr biaya akuisisi dan top up 5%,biaya adm per bulan,management fee pengelolaan dana,dll.. pas tanya ada ga yg investasi doank,ditawarin PI*.. karena memang saya tertarik utk mulai investasi ke saham (tp blm paham utk maen sendiri) dan belum kenal reksadana,akhirnya ikutan.. biayanya besar bgt.. msk 10 juta,masuknya cuma 9,175 juta.. udah kepotong 8.25%!
tp gr2 unit link jg sih saya jd kenal reksadana
menurut saya lebih baik beli asuransi+reksadana terpisah krn kita jd tau biaya2 yg harus kita keluarkan.. beda ama unit link di mana biaya2 tersebut dibungkus rapi sehingga pada awalnya byk nasabah yg blm tau dan rata2 tau setelah ikut sekitar 2-3 tahun dan kebanyakan pada nyesel sih udah join..
untuk tambahan dr ulasan pak pri, harga unit yg dipublish oleh unit link,itu belum dipotong biaya management loh.. beda ama reksadana yg semua udah include di NAB.. sdkn unit link,fee ini dipotong dr unit yg ada(lama2 unitnya habis donk).bayangkan aja, reksadana yg udah dipotong management fee dibanding perkembangan unit link yg blm dipotong management fee,tnyt msh lbh besar reksadana hasilnya..
saya bisa tau,krn saat ini saya ada produk pr*link yg PI*(murni investasi,asuransi jiwa cuma formalitas) dan reksadana. blm lg dilihat dr fee setiap kita top up,dipotong 5%,sdkn rata2 reksadana saham sekitar 1-2%,malah ada yg 0%.
n satu lg,perlu tidaknya asuransi jiwa,sebenernya dilihat lg ke orangnya sendiri. kalo msh single knp harus masuk asuransi jiwa? asuransi jiwa berguna bagi orang2 yang udah ada tanggungan,jadi kalo ada apa2,yg ditinggalkan (anak dan istri) bisa menggunakan uang pertanggungan tsb..
jgn lgsg tergiur dgn: ’setelah tahun ke… ga usah bayar premi lg’.. kalo pr*link sih stlh di atas 10 tahun. ini sbnrnya diambil dr unit investasi kita.. bayangin,kalo perkembangan investasi bagus,kalo ngga,ya kita tetep harus bayar preminya krn dr investasi tidak mencukupi. apalagi kalo pas ditarik unitnya utk bayar premi,tnyt pasar saham lg anjlok yg tentunya pengaruh thdp harga unit.. dan ini tentunya merugikan nasabah karena kita ga bisa mengontrol hal ini..
PS. kayanya yg msh bela2in unit link,agen2 dr asuransi nih..
terakhir,bagi yg msh tertarik masuk unit link,tanya yg detail mengenai fee2 yg ada dan minta waktu pelajarin proposal yg diberikan. tanya2 ke orang lain yg paham ttg unit link,tapi netral (kalo ke agen,pasti ada pertimbangan komisi).. kalo dah masuk dan nyesel,kita udah terlanjur rugi. untung saya cuma masuk yg PI*,di mana gak ada keterikatan untuk invest secara regular.. dr awal masuk,ga pernah nambah2,malah nambahnya ke reksadana.. sbnrnya ada rencana tarik,krn msh basus return dr reksadna tp kena pajak
jd msh bingung sih,ada saran ga dr pak pri?
krn bagi orang netral,yg udah paham pasti ga mau ama unit link n yg blm paham,pasti msh nanya2.. 
sori,paragraf akhir hrsnya kaya gini,ngaco ngetiknya.. hehe
————————————————————–
jd msh bingung sih,ada saran ga dr pak pri?
terakhir,bagi yg msh tertarik masuk unit link,tanya yg detail mengenai fee2 yg ada dan minta waktu pelajarin proposal yg diberikan. tanya2 ke orang lain yg paham ttg unit link,tapi netral (kalo ke agen,pasti ada pertimbangan komisi).. kalo dah masuk dan nyesel,kita udah terlanjur rugi. untung saya cuma masuk yg PI*,di mana gak ada keterikatan untuk invest secara regular.. dr awal masuk,ga pernah nambah2,malah nambahnya ke reksadana.. sbnrnya ada rencana tarik,krn msh basus return dr reksadna tp kena pajak
PS. kayanya yg msh bela2in unit link,agen2 dr asuransi nih.krn bagi orang netral,yg udah paham pasti ga mau ama unit link n yg blm paham,pasti msh nanya2..
Emank ada kok asuransi term yg 300-400ribu bisa dpt proteksi 100jt..tapi itu adalah asuransi uang hangus..kalo ga terjadi apa2, ya duitnya hangus tak bersisa..bukankah lebih baik beli asuransi whole life atau endownment saja…kalo ga terjadi apa2 ya uang yg kita bayar kembali..100%, contoh,beli asuransi whole life 100jt, premi 3jutaan setahun, bayar 30 th.ga mati ampe 30 tahun ya terima 100juta..
kalo jenis endownment, bayar 3juta/thn dapat proteksi 70jt misalnya, bayar 30 thn, dapat pengembalian premi 250-300% pada akhir kontrak….
saya bukan mengatakan bahwa beli unit link lebih bagus dari reksadana, tetapi jika anda beli asuransi tradisional + reksadana terpisah, bukankah lebih baik beli unitlink dipisah lagi ama reksadana ato unitlink saja…
karena, unit link dengan premi 3juta/th jika dibandingkan dgn asuransi endownment(tradisional), sama2 bayar 30 tahun, unitlink bisa memberikan return lebih banyak 3-4 kali lipat dari return asuransi endownment….
kesimpulannya :
1. asuransi unit link VS reksadana : unitlink lebih unggul dari segi proteksi,reksadana unggul di investasi.
2. asuransi unit link VS Asuransi tradisional(whole life,endownment) :
unitlink unggul dalam proteksi dan hasil investasi dibanding tradisional, kecuali unitlink yg tanggung,asuransi tradisional unggul di proteksi unit link di investasi…
3. Unitlink+ unitlink invest(top up) VS Asuransi tradisional + reksadana :
dalam hal proteksi unitlink bisa lebih unggul, investasi bisa imbang jika hasil investasinya bagus…
4. Unitlink + reksadana Vs Asuransi tradisional + reksadana :
Unitlink dan reksadana bisa unggul dalam semua hal bila dibanding dgn asuransi tardisional plus rekasadana…dalam jangka pendek maupun panjang!!!
intinya : don’t put all of ur golden egg in a basket!!
#110:
lagi-lagi, harus diperhitungkan juga time value of money. dengan jumlah uang yang sama, uang di awal term nilainya lebih tinggi daripada di akhir term. di unit link atau endowment atau whole life sebenarnya duitnya juga ‘hangus’. hanya saja banyak nasabah yang tidak menyadarinya (termasuk anda). perusahaan asuransi juga butuh bayar pegawainya, memenuhi kewajibannya dan cari untung.
apa gunanya proteksi sebesar 100 juta kalau nilai investasi yang ditanam di reksadana sudah jauh lebih besar daripada itu?
contoh skenario alternatif: 3 juta/tahun tidak kita masukin ke whole life, tapi 300rb/tahun masuk ke term life, dan sisanya ke reksadana. dengan asumsi pertumbuhan investasi sebesar 10%, maka di akhir term nilai investasi kita sudah mencapai 444 juta. sedangkan dengan whole life kita cuma dapat Rp 100 juta.
dan tambahan lagi, term life sebenernya gak perlu diambil seumur hidup, tapi hanya seperlunya saja, misalnya kalau premi/pertanggungan sudah melebihi pertumbuhan investasi atau jumlah investasi sudah jauh di atas jumlah pertanggungan.
return 300% setelah 30 tahun itu bisa dicapai hanya dengan pertumbuhan investasi sebesar 6.75%. kurang lebih sama dengan bunga deposito
anda di sini gak memperhitungkan time value of money. 4x lipat asuransi endowment == 4×300% sesuai contoh anda di atas = 1200%. dalam 30 tahun, ini bisa dicapai dengan pertumbuhan investasi 8.6%. kurang lebih di bawah reksadana pendapatan tetap sekarang2.
mungkin anda gak ngerti apa yang dilakukan unit link. unit link itu mengambil uang anda, kemudian menyetorkan sebagian dana tersebut sebagai premi asuransi, dan sisanya dimasukkan ke reksadana. kalau kita masukin asuransi sendiri dan reksadana sendiri pasti lebih murah dong, karena asuransi unit link juga butuh dana untuk bayar karyawannya.
hihihi, ngapain juga ikutan unit link kalo udah ikutan reksadana. sebenarnya sebagian dana yang disetor ke unit link masuk reksadana juga, tetapi dengan batasan yang jauh lebih ketat daripada reksadana tersendiri
Mau ikutan negh…
membandingkan unit linked ama reksadana ga benar juga tuh…la wong 2 produk yang berbeda kok di bandingkan..^_^..kenapa?…satu asuransi plus investasi (alias reksadana), satunya lagi reksadana murni ..ga apple to apple dong…mana yang lebih bagus? ya tergantung kebutuhan kita dong…mungkin si A butuhnya emang produk unit linked sedang si B malah reksadana..yang terpenting adalah kita tau apa yang kita beli dan ingat, belikah produk yang kita butuhkan….
Unit linked ga sejelek yang disampaikan di atas itu kok….Kalo ada orang yang tujuannya investasi trus beli unit linked, jadi jelek lah itu produk..la wong beli ga sesuai kebutuhan gimana ga jelek.hehhe…
Trus bagusnya apa tuh produk? bagusnya adalah orang yang benar2 butuh proteksi, orang tersebut bisa menggabungkan bermacam-macam jenis perlindungan tambahan yang disediakan oleh unit linked tanpa harus buka account asuransi baru. Produk dasar unit linked bisa ditambahkan asuransi kecelakaan dan cacat, penyakit kritis, asauransi kesehatan dan ada fasilitas pengalihan pembayaran premi ke perusahaan asuransi jiwa….
Rumus produk unit linked :
= Asuransi Dasar + Asuransi Tambahan (jika dibutuhkan) + Investrasi (biasanya reksadana)
Asuransi dasarnya : YRT (Yearly Reneweble Term)
asuransi tambahan dengan pilihan : (ADB/kecelakaan, ADDB/cacat dan kecelakaan, PTD/cacat total, CI/Penyakit Kritis, Health (Rumah Sakit), PW/Pembebesan Premi dan PPW/Pembebasan Premi bagi Pembayar
Asuransi tambahan jarang dijumpai dijual secara berdiri sendiri. Kalopun ada, biasaya produk direct marketing or telemarketing yang biasanya ratenya lebih mahal.(ini bocoran dari gue negh heheheh)………
Asuransi tambahan ini in and out..maksudnya tahun ini gue ikutan bersama asuransi dasar unit linked gue, tahun depan bisa gue hapus atau cabut…dan tahun depan depannya lagi ikutan lagi…jadi bisa disesuaikan dengan kebutuhan…..Karena kontraknya setahun-setahun yang bisa diperpanjang atau tidak
Nah bagaimana kalo saya beli asuransi dan investasi terpisah…bisa….kalo mau bikin seperti ini, untuk asuransinya belilah asuransi YRT saja….tapi setahu saya, rate YRT yang dijual individual sangat mahal dibandingkan YRT yang ada di produk unit linked..tidak percaya? hubungi saya..ntar saya liatin deh hehehehhe…
bagaimana kalo saya beli jenis asuransi yang lain? Saya bisa pastikan Anda akan mengelurkan uang yang tidak sedikit…Kenapa? selain YRT yang notabene adalah pure insurance, selebihnya adalah produk asuransi yang menjanjikan nilai tunai. Kalo ada nilai tunai, pasti ada bagian premi yang diinves dan tentu saja duit itu duit anda sendiri yang disisihkan oleh perusahaan asuransi untuk diinvestasikan dengan bunga tertentu sehingga aps jatuh tempo dikembalikan ke anda lagi…dan bunganya tentu aja kecil heheheh…
Nah susahnya, kalo saya mau beli produk asuransi tambahan seperti penyakit kritis or asuransi kesehatan saya harus buka account lagi dong?Iya kalo ada ya ga pa2….kalo adapun belon tentu rate yang murah…Ingat, biasanya asuransi tambahan itu ga ada yang dijual tanpa asuransi dasarnya…Kalo asuransi kesehatan seh banyak, tapi sering kali rate nya ga kompetitive (kecuali asuransi kesehatan group)…Ga percaya? survey aja sendiri heheh…
so sebenarnya kembali ke kebutuhan kok….jelek buat kita, ya belon tentu jelek buat orang lain…bagus buat orang lain, belon tentu juga bagus buat kita..simpel khan? heheh
#112:
di sini saya membandingkan porsi investasi dari reksadana dan unit link; tapi selain itu juga membandingkan unit link dan reksadana+asuransi. jelas apple to apple kalau membandingkannya seperti itu
. apalagi kalau agen asuransi memasarkan unit link sebagai instrumen investasi
.
dan jeleknya saya gak bisa hilangkan porsi investasinya kalau saya gak minat untuk mengambil porsi investasinya.
ada yang kurang:
unit linked = Asuransi Dasar + Asuransi Tambahan (jika dibutuhkan) + Investrasi (biasanya reksadana) + komisi untuk agen
bagus tidaknya unit link menurut saya terutama ditentukan dari yang terakhir ini
. semakin kecil semakin bagus. sedangkan porsi yang lainnya sebenarnya bisa diambil terpisah.
wahhh333….mas priyadi ada dendam apa sama unit link sampe segitunya??
saya setuju ama mas donni, bagus buat kita, belom tentu bagus buat org lain, jelek buat kita, belom tentu jelek bua orang laen…
o ya, jika saya beli asuransi tradisional+ reksadana, bukankah asuransi tradisional juga ada kena komisi buat agen?????dan biasanya juga 30% atau lebih…
lagipula, asuransi tradisional itu biayanya lebih mahal dari unit link manapun..apalgi beli asuransi tradisional yg ada tabungannya, biayanya akan lebih mahal lagi….
asuransi unitlink sebenaranya bisa loh dihilangin investasinya, hanya ambil proteksi saja…tapi tetap akan ada pengembalian premi,dan pasti lebih tinggi hasilnya dari asuransi endownment(asuransi tradisional+tabungan)…saya sudah buktikan…
di negara maju seperti singapore, negara2 eropa, dsb,asuransi tradisonal yg di jual hanya YRT,travel insurance,health insurance, kalo yg ada element tabungannya sudah sangat jarang orang mau beli. ga percaya? liat aja ke singapore yg dekat aja!!!
mereka kalo beli asuransi yg ada tabungannya beli unit link, lalu kombinasi dengan reksadana, atau unit trust secara terpisah…
kalo beli asuransi tradisonal+ reksadana terpisah, hasilnya kurang optimal, gara2 asuransi tradisional..
lain halnya jika beli unitlink, hasil lebih ok, ato unitlink + reksadana secara terpisah…
karena untuk beli proteksi,unitlink biayanya akan jauh33 lebih murah dari asuransi tradisional….
#114:
wah saya sih gak dendam, cuma sebagai konsumen kan berhak untuk milih2 opsi yang terbaik
.
mana ada term life dijual lewat agen?
kalo ada coba agennya hubungi saya, siapa tau tertarik 
ndak mungkin term life lebih mahal daripada unit link. kalo ada unit link yang lebih murah daripada term life saya mau tau dong
jelas, dibandinginnya sama endowment
. coba bandingin sama term life + reksadana. kebanyakan unit link gak bisa dihilangkan investasinya karena yang kita bayar tiap bulan adalah premi maksimum seumur hidup, sedangkan premi efektif bukan tersebut pasti lebih kecil. dan selisihnya masuk ke porsi investasi.
selain itu, kalo ada yang namanya pengembalian premi, artinya pasti ada porsi investasi.
emank kita sebagi konsumen punya hak untuk memilih yg terbaik..
makanya saya beli unit link, dan ada sedikit reksadana di fortis dan prudential unit trust di singapore…namanya Pru Dragon peacock fund
term life juga ada dijual sama agen…bisa orang atau badan usaha seperti bank.
contoh :
# melalui agen orang itu ada di pru, aig,axa life, sequis,allianz, dsb..tanya aja deh…kalo ga percaya.
# melalui agen badan usaha ato bank, misal produk cigna di bank niaga ato permata.
kalo lewat bankpun, komisi yg dapet ya agen penjual yaitu bank, makanya ada namanya fee based income pada bank…
premi term life lebih tinggi dari unit link, ga percaya???
contoh :
saya usia 25th mau UP 300 juta, di term life 150-300ribu perbulan..
kalo unit link, preminya hanya 50-60ribu perbulan…
ga percaya???liat aja di proposal unit link prudential, sequis ato CAR misalnya..liat aja biayanya untuk UP yg sama jika dibanding dengan term life…
pak Priyadi, term life itu asuransi yg diperuntukkan untuk orang yg baru mulai kerja alias penghasilan terbatas, tapi ingin asuransi…
di prudential, saya juga punya namanya prulife starter, 3 thn yg lalu sudah saya tutup….saya tambah anggaran premi prulife starter tersebut ke prulink saya ,sehingga UP lebih besar dari prulife+Prulink terpisah…
jadi mending tambah ke prulink aja biar UP saya lebih gede…
gitu mas
#116:
kalau bancassurance sih beda, dia main volume, jadi komisi relatif kecil dan harga masih tetap bisa bersaing. kalau agen orang, nah ini, mungkin emang ada yang agen orang yang bisa nawarin, tapi komisi unit link lebih tinggi. selama ini berhubungan dengan beberapa agen asuransi, tidak ada satupun yang pertama ketemu langsung nawarin YRT/term. biasanya harus minta secara khusus dan itupun masih dibujuk2 ikutan unit linknya
wuihh mahal amat. saya aja UP 500 jt @31 tahun gak nyampe setengahnya
.
ini jelas salah, karena di unit link, basic unitnya juga term life atau lebih tepatnya YRT. unit link basic = YRT + reksadana. yang dilakukan oleh unit link dapat dengan mudah kita dapatkan dengan ikut YRT/term life + reksadana, dan ini dilakukan tanpa harus membayar biaya akuisisi yang mahal.
Asuransi jiwa sendiri pada dasarnya ada 3 kategori utama : 1. term insurance 2. whole life 3. endowment…
Nah, jenis unit link ini merupakan pengembangan dari produk endowment..Bisa dilihat di http://pojokasuransi.com
wahh pak pri udah nguasain bgt nih..
setuju ama pak priyadi, saya pas ditawarin prulink,iseng2 nanya ada ga asuransi jiwa murni(bukan unit link),kata agennya udah ga dijual,pdhl di webnya msh ada.. ga tau sih bnr apa ngga..
udah jelas bgt,agen dapet komisi dr unit link pasti lbh besar dibanding kalo asuransi biasa.. kalo di prulink,yg PAA+ yg plg menguntungkan utk agen, karena setornya hrs rutin,yg berarti komisi jg rutin dapetnya..
pas nanya yg PIA aja,si agen msh tetep nawar2in PAA+ trus,utg saya ga mau.. 
Hi Semua,
Ini sedikit mengenai Unit Link
Unit link adalah produk asuransi jiwa yang dirancang khusus bagi masyarakat yang menginginkan proteksi sekaligus dapat berinvestasi.
Ada 2 jenis unit link :
1. Single Premium
2. Reguler Premium
Single Premium
Premi yang dibayarkan hanya sekali seumur hidup. Biasanya minimal Rp 10,000,000. 5% dari Premi yang dibayarkan akan diambil sebagai biaya dan 95% untuk di investasikan. Biaya yang diambil biasanya meliputi biaya asuransi dan administrasi. Unit link jenis ini biasanya ditujukan bagi nasabah yang menginginkan porsi investasi yg lebih besar daripada proteksinya.
Reguler Premium
Premi yang dibayarkan lebih dari satu kali. Minimal premi tergantung pada masing2 perusahaan asuransi. Premi yang dibayarkan akan dialokasikan:
1. Premi Asuransi Berkala/PAB (biasanya ada minimala premi)
2. Premi Investasi/PI (tidak ada minimal premi).
Pada tahun pertama 100% dari PAB akan diambil sebagai biaya. Sedang 5% dari PI mulai tahun 1 akan diambil sebagai biaya dan 95% diinvestasikan. Sedangkan pada tahun ke 2 dst 95% dari PAB akan diinvestasikan dan 5%nya dianggap biaya.
Contoh:
Premi yang kita setorkan 3 juta/tahun
Premi Asuransi Berkala : Rp 1,5 jt
Premi Investasi : Rp 1,5 Jt.
Tahun Pertama 100 % dari Premi Asuransi Berkala akan hangus tidak ada yg diinvestasikan. Sedang 95% dari PI akan di investasikan. Sedangkan pada tahun ke 2 dst 95% dari PAB akan diinvestasikan.
Biaya yang diambil untuk unit link jenis ini biasanya adalah biaya asuransi, biaya akuisisi, dan biaya administrasi. Biaya asuransi adalah biaya dr asuransi yg kita ambil. Biaya akuisisi adalah biaya untuk untuk menjual produk ini (termasuk didalamnya adalah komisi agen). Besarnya masing2 biaya dapat dilihat didalahm ilustrasi. Sebagai Contoh saya ambilkan dari ilustrasi salah satu perusahaan asuransi jiwa:
1. Biaya Asuransi
a. Asuransi Dasar (Asuransi Jiwa) : X Rupiah (tergantung perusahaan asuransi)
b. Asuransi Tambahan (Jika Ada) : Y Rupiah
2. Biaya Akuisisi misal saya ambilkan contoh dari salah satu perusahaan asuransi jiwa:
Tahun 1 : 0% dari PAB
Tahun 2 : X% dari PAB
Tahun 3 : Y% dari PAB
Tahun 4 : Z% dari PAB
ahun 5 dst : 0% dar PAB
3. Biaya Adiministrasi : Rp X
Besarnya biaya ini akan bervariasi tergantung dari masing2 perusahaan asuransi jiwa. Biaya ini harus disebut dalam ilustrasi (Nilainya).
Bagaimana jika dibandingkan dengan reksadana?
Dari segi hasil bila dikelola oleh satu fund manager dengan portfolio yang sama maka reksadana menghasilkan nilai yang lebih besar karena tidak ada biaya asuransi dan akuisisi. kelebihan Unit link adalah ada unsur proteksinya.
Bagaimana jika dibandingkan denga asuransi tradisional?
1. Dengan Term Life
Term Life merupakan produk termurah dari asuransi jiwa. Biasanya ditujukan bagi masyarakat yang memerlukan proteksi jangka pendek. Kalo Jangka Panjang Lebih baik membeli unit link atau whole life
2. Dengan Whole life atau endowment (mis Asuransi Pendidikan atau Dana Pensiun)
Nilai investasi/pengembalian premi unit link lebih tinggi namun memiliki resiko yang lebih tingi pula. Apabila nasabah menginginkan produk dengan nilai yang lebih pasti (tidak dipengaruhi oleh keadaan ekonomi) produk tradisional lebih cocok.
Buat Mas Pri,
Kalo yang anda maksud biaya akuisisi adalah komisi agen. Produk tradisional memberikan komisi buat agen yang lebih tinggi dibanding unit link. Sebagai Contoh sebuah produk whole life bisa memberikan komisi hingga 30% dari premi yg dibayarkan untuk tahun ke 1 dan ke 2 (tahun berikutnya hingga tahun ke 5 biasaya turun dibawah 5%, biasaya 2% an). Sedang unit link sistem komisinya adalah:
1. Single Premium : berkisar 2%-3% dari premi dibayar
2. Reguler Premium:
a. bisa mencapai 30% dari premi asuransi berkala (tahun 1 & 2. tahun 3 dst turun)
b. 2%-3% dari premi investasi (tahun 1 dst)
Contoh :
Premi whole life : Rp 6,000,000/tahun
komisi agen: Rp 1,800,000 (30% dari Rp 6,000,000)
Premi Unit Link : Rp 6,000,000 dengan alokasi
1. Premi Asuransi Rp 3,000,000
2. Premi Investasi Rp 3,000,000
Komisi Agen : 30% x Rp 3,000,000 = 9,00,000
3% x Rp 3,000,000 = 90,000
Total komisi agen : Rp 9,900,000
Jadi Tidak benar komisi agen di unit link lebih besar. Apalagi nasabah biasanya akan memilih porsi premi investasi yg lebi besar dibanding premi asuransi.
Wass
#120:
untuk orang yang merencanakan keuangannya, whole life atau unit link sebenarnya sama sekali tidak diperlukan, yang diperlukan justru term life. tapi detailnya nanti saja saya bikin di posting terpisah
oh anda bandinginnya dengan whole life. untuk yang invest di reksadana, lebih masuk akal untuk ambil term life, bukan whole life. jadi saya membandingkan dengan term, bukan whole.
kalau di term jika perusahaan memberi harga terlalu tinggi karena komisi agen kegedean, ya tinggal cari perusahaan asuransi lain, gitu aja kok repot
.
kalau di unit link repotnya adalah tidak transparan. sebelum cari perusahaan lain, calon nasabah perlu jungkir balik menghitung overhead yang ada di unit link. kalau ini saya yakin hampir semua calon nasabah tidak akan melakukannya, mereka cuma akan memperhatikan angka2 ilustrasi secara kualitatif tanpa punya perbandingan, karena jika diperbandingkan dengan unit link lain pun akan percuma jika kita tidak tahu parameternya atau mungkin menggunakan asumsi yang berbeda.
komisi di porsi investasi juga perlu diperhatikan. komisi porsi investasi di unit link jauh lebih besar daripada komisi pembelian reksadana. di unit link rata2 5%, sedangkan di reksadana paling besar pengalaman saya cuma 3%, bahkan ada yang 0%. dan ini masih belum termasuk biaya administrasi kalau kita top up di luar jadwal pada unit link.
jadi ya tetap saja komisi agen di unit link lebih besar daripada jika kita mengambil reksadana dan term secara terpisah.
Jika unit link tidak transparan, reksadana juga tidak tranparan..
contoh nyata, masih ingat th 2005??ketika terjadi redemption(penarikan) besar2an pada reksadana…!!! ketika itu reksadana ancur lebur, terutama Fixed income(obligasi)!!!gara2 apa coba???ya, karena reksadana memakai NAB masa akan datang, bukan masa sekarang, ketika Bapepam dan pemerintah mengeluarkan peraturan harga unit(NAB) harus market to market( NAB saat sekarang),buka NAB akan datang, banyak sekali NAB rata2 perusahaan reksadana terjun bebas!!!!!!!!sehingga nasabah mengalami kerugian yg cukup besar!!!kenapa???karena reksadana tidak fair dalam memaparkan NAB-nya!!!!!salah satu contoh kasus BNI securities…
pada saat itu, sebagian besar unit link NAB-nya tidak terjun bebas seperti reksadana…karena memakai harga NAB market 2 market!!!!
komisi unit link hanya 2-3% saja untuk top-up, ato premi investasinya…bukan 25%!!!kapan duit nasabah berkembang???
kalo anda makan semabarangan silahkan aja, tapi jangan ngomong sembarangan dunk!!!!masa’ komisi untuk investasi unit link sampe 25%??kalo premi asuransi-nya sih iya…
term life itu, hanya untuk jangka pendek!!!
dan premi-nya akan naik sesuai dengan kita yg semakin bertambah, jadi kalo jangka panjang ya makin tinggi preminya!!!!
dan hangus!!!! kaya iuran ato bayar listrik!!!
#122:
ayoo, coba dibuka lagi grafik history harga unit linknya. perhatikan sekitar tahun 2005. hint: sama saja dengan reksadana, unit link fixed income juga ancur lebur
. kalo anda agen PRU coba baca di setiap ilustrasi halaman 6, untuk Rupiah Fixed Income Fund, di tahun 2005 cuma berkembang 0.07%
. di unit link lain juga praktis sama aja. kalo ada unit link yang gak hancur lebur itu hanya karena market capnya kecil sehingga bisa konsentrasi hanya di obligasi2 berkualitas tinggi.
lho saya bilang 5%, bukan 25%. 2-3% itu yang masuk ke kantong agen. sedangkan nasabah tetap bayar 5%. kalau di reksadana, paling gede cuma 3%, bahkan ada yang gratis biaya top-upnya
ayoo coba dicek lagi di ilustrasi atau polis unit linknya
. kalo anda agen PRUlink, coba baca tulisan kecil di halaman 1: “merupakan biaya asuransi pada saat usia masuk. biaya asuransi akan berubah dari tahun ke tahun sesuai dengan usia yang dicapai pada saat tahun berjalan dan besar UP pada saat itu” 
kelebihan term life itu ya justru karena term life itu untuk jangka pendek
. artinya kita punya pilihan untuk gak ngambil asuransi di saat kita gak butuh
. kalo di unit link, sifatnya wajib diambil, kalau gak butuh kita tetap harus bayar.
soal hangus gak hangus tetap aja hangus, perusahaan asuransi juga harus menjalankan kewajibannya, membayar karyawan dan cari untung. kalau di unit link gak kerasa karena premi bisa diambil dari return investasi. kalo ngambil reksadana dan asuransi terpisah, hal ini juga bisa dilakukan. bedanya uangnya harus lewat kantong nasabah dulu.
ya, emank th 2005 hanya 0.07%, tapi kan banyak sekali reksadana yg malah minus buanyakkk
memank biaya asuransi itu selalu naik kalo usia makin tinggi, semua asuransi begitu….



tapi , jika saya beli asuransi term life itu kan uang hangus, tapi jika di whole life bisa kembali duit kita, jangka panjang uang makin banyak, malahan asuransi jadi serasa gratis…begitu juga unit link, uang saya akan lebih banyak dari whole life atau endownment!!!
pak priyadi, kita semua emank belom butuh asuransi,karena belom sakit, belom celaka, belom mati!!! tapi kapan kita bisa tau hal2 di atas terjadi???ga tau kan? hanya Tuhan yg tau….sama kaya’ payung, belom hujan beli payung dulu, ujan tinggal ambil payung, ato beli payung kalo ada yg jualana payung lewat….bedanya, asuransi, kalo kita uda butuh(uda ujan), ga bisa beli alias ditolak!!!
emank org yang udah sakit bisa beli asuransi??:-
orang yg udah suadh mati bisa beli??
orang udah tua sampe 70-80th keatas bisa beli???
jadi, kita belum butuh harus beli asuransi!!!kalo uda butuh,mau beli ga bisa lagi coyyy!!!
kalo bisa, agen ga mungkin tawarin anda atau saya, tawarin orng yg lagi terbaring sakit, terbujur kaku di peti mati aja, itu yg butuh asuransi!!!
kita ga bisa tau kapan kita butuh pak, kalo tau, udah ngelewatin Tuhan,bapak di ktp hanya ada tgl lahir kan??ato uda ada tgl mati di ktp anda???uda tau besok lusa mau mati baru beli term life, biar ga kena biaya gede!!!biaya sebulan aja,…hehehe
gitu???
usia anda lebih tua dari saya, berarti anda lebih butuh asuransi dari saya loh….karena semakin tua kan semakin deket ke bau tanah pak!!
memank seh, yg muda belom tentu lebih panjang umur dari yg tua, tapi yg berumur 30-an kan lebih deket jaraknyamenuju 70 th dibanding orang yg berumur 20-an…bukan begitu???(menurut tabel mortalita, rata2 harapan hidup laki2 di indo 70th)
…(emank Tuhan apa?)
kecuali jika anda tau kapan anda mati, tunda dulu beli asuransi, da deket baru beli..hahaha
kalo ga tau, sama aja kira2, nebak, ato judi gitu loh….
intinya, semua orang butuh asuransi, tua,muda ,anak kecil, bahkan bayi sekalipun(ini rentan sakit)
kan sayang banget..
kalo punya reksadana aja, jika dokter minta 200-500jt, 1 milyar untuk berobat,reksadana bisa ketarik sebelom sempat berkembang
intinya perlu beli asuransi!!
kalo term life+ reksadana bole juga, tapi kurang bijaksana…
kalo unitlink+reksadana lebih bagus…kenapa???
biaya asuransi unit link lebih kecil dari premi term life…anda liat di proposal deh, liat biaya bulanannya lebih premi term life!!!
kalo sampe 8-10 thn kemudian saya ga bayar premi lagi, uang saya di unitlink akan terus berkembang, bukankah saya bayar asuransi jadi gratis????
kalo term kan, semakin tua semakin mahal, palagi inflasi lagi, uda duit kembali… mo byar pake duit hasil investasi reksadana???wuiiih sayng amat!!!
intinya lebih baik unit link dari term life….
oya tambahan dikit…
sakit duit reksadana ketarik sebelom berkemabang sayang banget!!kalo ada!!!kalo ga ada??jual rumah?kalo punya!!mobil??kalo punya???
akhirnya jadi nyusahin org lain bukan???keluarga kita, anak istri kita, orang tua kita, saudara, teman, kerabat, dan lain2…
aiyooooooo…..sengsara loh nanti anak istri kita nanti, ayah ibu kita jug susye kan???
conoth pailng nyata kaya’ kasusnya edy sud..dulu kaya banget,punya rumah banyak, mobil mewah, bisa bangun masjid 1 milyar sebelom krismon…tapi sekarang????apa yg punya???tinggal satu2nya rumahnya yg paling tua n paling ga cakep dibanding rumah2nya yg dulu… ditinggal istri lagi…
gara2 apa? SAKIT!!
penyakit langsung menyapu habis hartanya…
kalo term kan, semakin tua semakin mahal, palagi inflasi lagi, uda duit kembali…
sori salah, maksudnya duit ga kembali
halo mas2 dan mbak2 semua…
kebetulan saya pengen investasi reksadana yg dana campuran … tapi masih bingung milih manajer investasi + produk reksadananya … ada yg punya rating performance manajer investasi ataupun produk reksadananya kah ? atau rekomendasi manajer investasi yg performancenya oke.. soalnya udah googling berjam2 kok gak dapet-dapet.
Thanks
#124:
porsi investasi yang ada di unit link itu sebenarnya adalah reksadana juga
. dalam urusan investasi, yang dilakukan unit link itu hanya menyetorkan kembali uang anda ke reksadana, terlepas menggunakan jasa manajemen investasi pihak ketiga atau milik sendiri.
uang tidak hangus di asuransi itu hanya mitos! kalau ada agen asuransi yang bilang ini berarti dia gak ngerti konsep asuransi dan time value of money. asuransi juga harus memenuhi kewajibannya, membayar karyawannya dan cari untung.
uang yang diterima oleh nasabah tidak akan pernah melebihi uang yang disetorkan setelah diadjust berdasarkan perkembangan investasi. ini berlaku untuk segala jenis asuransi.
anda gak baca tulisan saya. saya tetap ambil asuransi, tetapi bukan whole life atau unit link, saya ambil term life, dan selisihnya saya invest ke reksadana atau instrumen lainnya. jadi, saya punya payung kok, dan hasil investasi saya tetap maksimum.
bagian mana lebih kecilnya? saya lihat hampir semuanya lebih mahal.
sama aja pak. kalo saya ambil reksadana, 8-10 tahun kemudian investasi saya sudah jauh berkembang, dan returnnya juga bisa saya pakai untuk bayar premi term life. bedanya cuma satu: uangnya harus lewat kantong saya.
kalo saya udah tua, harusnya anak saya sudah kerja, cicilan rumah sudah lunas, dan hasil investasi saya sudah berpuluh2 kali lipat. artinya saya gak punya kewajiban lagi terhadap orang lain, dan dengan demikian gak butuh asuransi jiwa. nah, bisa gak di unit link saya berhenti ambil porsi asuransi jiwanya?
ya kalo gitu tinggal ambil asuransi kesehatan. gitu aja kok repot
. yang jelas tanpa ambil unit link manfaat ini juga bisa didapatkan dengan membeli asuransi kesehatan.
Pada prinsipnya, kembali kepada kebutuhan setiap orang, jika ingin “menternakan uang” monggo ke reksadana, jika ingin “proteksi + investasi” monggo ke unit link, tapi yg proteksinya whole life sekaligus jg dpt benefit “investasi”.
Pilih perusahaan yg qualified. Sebagai referensi, mungkin rekan-rekan bisa membaca berita-berita dari majalah seperti InfoBank, Investor, dan sejenisnya yang so far buat saya sangat memberikan informasi yang kredibel, independen, dan cukup detail. Bukan maksud promosi, tetapi memang itu kenyataannya. IMHO
Anyway, setidaknya kita semua sudah mulai “melek” pentingnya asuransi dan investasi dgn segala keuntungan dan resikonya.
Tinggi rendahnya “perekonomian” suatu negara bergantung kepada bagaiman iklim investasi di negara tersebut. CMIIW
Usulan buat pemerintah, sebaiknya “Gerakan Menabung Nasional” diganti menjadi “Gerakan Investasi Nasional”, secara bunga bank gak pernah lebih tinggi dari inflasi, yang artinya…. ??? rekan-rekan sekalian pasti mengerti.
halo mas2 dan mbak2 semua…
kebetulan saya pengen investasi reksadana yg dana campuran … tapi masih bingung milih manajer investasi + produk reksadananya … ada yg punya rating performance manajer investasi ataupun produk reksadananya kah ? atau rekomendasi manajer investasi yg performancenya oke.. soalnya udah googling berjam2 kok gak dapet-dapet.
Thanks
#129:
kalau saya perhatikan sih gelar ‘asuransi terbaik’ dan semacamnya tidak begitu berkorelasi dengan kualitas produk asuransi yang ditawarkan. kalau saya sebagai orang IT suka menganalogikan ini dengan pernyataan “windows adalah sistem operasi terbaik karena microsoft adalah produsen sistem operasi yang paling banyak untungnya”
perusahaan yang kuat di balik suatu produk memang bagus, tapi bukan juga satu2nya faktor yang perlu kita pertimbangkan.
#130:
performa masa lalu bisa dilihat di harian bisnis indonesia atau koran tempo misalnya. tapi perlu diingat bahwa performa masa lalu tidak mencerminkan performa masa yang akan datang.
si danny knp yah commentnya sambil marah2? apa dia takut ga bisa dapet nasabah lg stlh byk yg baca blog pak pri ini..
santai aja bos,perlu ga perlu asuransi,tergantung dr sikon orang bersangkutan.. tp kalo unit link,sebenernya ga ada yg perlu.. asuransi biasa(term life) + reksadana lbh baik.. masalahnya,byk orang yg blm paham ttg reksadana. dan banyak jg yg udah msk unit link dan jalan 1-2 tahun,mereka akhirnya nyesel krn ga sesuai dgn yg mereka bayangin,terutama dr banyaknya potongan2. btw,yg di atas 10 tahun ga usah bayar premi,itu sbnrnya tetep bayar,cuma diambil dr investasi kita. nah namanya investasi,kan fluktuatif. kalo mereka motongnya pas harga unitnya lg turun,bisa abis deh unit yg kita punya.. danny udah paham blm tentang struktur biaya dr unit link? kalo udah paham,hrsnya bisa nangkep yg selama ini dijelasin pak pri.
#115
kalo ada coba agennya hubungi saya, siapa tau tertarik 
———————————
mana ada term life dijual lewat agen?
———————————
Ada kok mas, heheheh …
Kalo gak percaya baca2 aja majalah2 swa, infobank dan sebangsanya. dari 3 besar insurance itu hanya ada 1 yang jual termlife menggunakan agen.
anyway …
saya sampe sekarang mempunyai 2 buah keranjang investasi.
1. Unitlink, saya tahu ini mahal dan returnnya kadang ngaco. yang membuat saya tertarik adalah fitur Waiver Of Premiumnya. Pembayaran premi oleh perusahaan insurance ketika terjadi cacat pada tubuh kita. Satu yang tidak kita punyai ketika kita mempunyai account reksadana. maklum, modal saya kecil. jadi ini bisa memberikan sebuah safetynet kepada keluarga saya ketika saya tidak mampu lagi untuk berkarya dimasa produktif.
2. Tentunya kombo jagoan TermLife dan Reksadana. Kenapa saya pilih termlife? Nilai premi saat ini ketika saya usia 29tahun, UP 750jt sekitar 2jt rupiah. Kontrak selama 20tahun. Dengan fitur dapat memperpanjang kontrak, tanpa harus medical checkup ketika usia saya 49tahun. Premi menjadi sekitar 6juta. Jika dibandingkan dengan tingkat inflasi 20tahun lagi, 6juta kayaknya sudah rendah banget nilainya. Sehingga 6juta tersebut saya anggap “MURAH” 20tahun lagi. Termlife ini saya gunakan untuk menutup seluruh resiko yang terjadi ketika reksadana saya belum berkembang. Kombo jagoannya tentu reksadana, seperti kata kang priyadi, minimal 100rb rupiah, tanpa fee apapun dan hanya dikenakan 1,25% pinalti jika pengambilan dibawah 1tahun.
Sebenarnya kejujuran agen yang seharusnya menjelaskan hal ini. Banyak jalan menuju Roma, keputusan ditangan nasabah. Tapi kesian juga sih sama insurance yang cuman jualan unitlink. Gak ada bahan lain
Anyway, ada kok insurance yang punya termlife, wholelife, unitlink dan reksadana dalam satu atap. Istilahnya one stop shopping, semua produk dan layanan ada. Tinggal nasabahnya aja yang kudu pinter, dan kembali lagi …. sejauh mana si agen mau mengesampingkan kepentingannya dalam hal komisi dan memberikan yang terbaik untuk nasabah.
#120
————————-
Single Premium
Premi yang dibayarkan hanya sekali seumur hidup. Biasanya minimal Rp 10,000,000. 5% dari Premi yang dibayarkan akan diambil sebagai biaya dan 95% untuk di investasikan. Biaya yang diambil biasanya meliputi biaya asuransi dan administrasi. Unit link jenis ini biasanya ditujukan bagi nasabah yang menginginkan porsi investasi yg lebih besar daripada proteksinya.
————————-
Enggak juga kok. Ada juga insurance single premi unitlink yang 100% dananya langsung diinvestasikan.
Seluruh biaya administrasi ditunjukkan didepan. Dan itu sama sekali tidak memotong premi awal.
Anda memberikan contoh 10jt rupiah, 5% adalah 500rb. Bayangkan orang yang sudah terbujuk untuk invest 500jt rupiah pada unitlink anda. Dengan potongan 5% maka muncul angka 25jt rupiah. Angka yang fantastis untuk sebuah biaya administrasi dan asuransi. Dengan dana yang sama, saya bisa meletakkan uang saya pada Reksadana 495jt dan membeli sebuah Insurance TermLife seharga 5jt dengan UP 1,5M. Sehingga ahli waris saya ketika saat itu saya meninggal sudah pegang duit 2M kurang.
Lalu apa yang menarik dari program anda sampe bisa heboh gak karuan dalam waktu 3 tahun terakhir ?
#134:
ada kok term life yang punya waiver of premium jika terjadi cacat (axa mandiri), masa sih manulife gak punya? selama ini investigasi saya, satu2nya yang ada di unit link dan gak ada di term life adalah perlindungan critical illness.
#134
————————————–
ada kok term life yang punya waiver of premium jika terjadi cacat (axa mandiri), masa sih manulife gak punya? selama ini investigasi saya, satu2nya yang ada di unit link dan gak ada di term life adalah perlindungan critical illness.
————————————–
term life manulife memang ada ada WP nya, dan memang benar critical illness tidak ada di unitlink. Tapi yang kudu diingat (biasanya agen gak ngomong), critical illness ini jika pertanggungannya keluar maka akan mengurangi UP dasarnya.
Lalu maksud saya mengenai WP di unitlink, Waiver of Premium kan pembebasan premi (alias premi dibayar oleh pihak insurance) ketika ada ketidak mampuan total. Jadi ketika saya masuk unitlink (walaupun tidak besar preminya, dengan raider secukupnya) dan terjadi ketidak mampuan tersebut, maka premi investasinya dibayar oleh insurance. Jadi ditabungin sama si insurance. Ini saya gunakan untuk proteksi ketika reksadana saya belum berkembang mencapai nilai yang saya inginkan.
Disini yang kudu jeli, jangan sampe kita dikadalin sama agen yang nambah raider macem2, yang notabene tidak kita perlukan. Karena fungsi unitlink ini bagi saya cuman bemper kedua. Bukan yang utama. Bukan keranjang investasi utama saya.
#137
—————————-
term life manulife memang ada ada WP nya, dan memang benar critical illness tidak ada di unitlink. Tapi yang kudu diingat (biasanya agen gak ngomong), critical illness ini jika pertanggungannya keluar maka akan mengurangi UP dasarnya.
—————————–
ralat !
critical illness ada diunitlink dan termlife produk manulife. Silahkan bapak cari produk yang namanya ProActive Plus
my mistake, sorry ..
Salam kenal,
Responnya cukup banyak juga ya.
Lumayan buat sarana pembelajaran terhadap produk yang mungkin asing bagi sebagian orang.
Dari sini orang akan lebih kritis memilih produk, sehingga tahu kualitasnya sebelum membeli.
Saran saya kalo belum tahu untuk berinvestasi, segera cari tahu. Kalo udah tahu, segera action, pilihlah yang terbaik menurut Anda..jangan hanya diam saja.
Jangan puas hanya dengan membaca komentar disini, belajarlah juga di dunia nyata kepada orang yang benar-benar mengerti dan memiliki moral yang baik.
Niat dan upaya yang baik akan menuntun Anda ke arah yang lebih baik. (minimal dari tidak mengerti menjadi mengerti, selanjutnya akan lebih mudah dalam menentukan pilihan Anda)
Sebagai renungan khususnya muslim :
“Barang Siapa yang menjadikan Akhirat sebagai harapannya, maka Allah akan memberikan kepuasan dalam hatinya, menghimpun segala impiannya, dan dunia pun akan mendatanginya dengan merunduk. Barang siapa yang menjadikan Dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala impiannya, dan dunia pun tidak akan mendatanginya melainkan apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. Turmudzi)
Asuransi syariah bisa lihat di Bisa dilihat di http://muslimbelanja.blogspot.com
asuransi adalah satu instrumen yang baik untuk mengembangbiakkan uang tapi tidak menutup kemungkinan instrumen yg lain.
gak heran..
dari 200 juta lebih orang Indonesia yg punya polis asuransi cuma sekitar 6%..
jauh banget kalau dibanding Jepang misalnya, yg rata2 setiap orang punya 2-3 polis asuransi.
yg saya heran..banyak yg ngomongin invest ini, invest itu..tapi gak sadar akan pentingnya proteksi..!!
coba..apa tujuan berinvestasi..?
lalu ketika terjadi suatu musibah, bagaimana menanggulanginya?
ngambil duit juga kan..?
dari mana?
dari hasil investasi?
iya kalau udah berbuah.., kalau belum?
asuransi dalam variannya yg baru (unitlink) punya kelebihan tersendiri dibanding reksadana.
setidaknya..kalau di reksadana kita gak dapat uang pertanggungan (proteksi) jika terjadi ssesuatu..
kalau di unitlink, selain dapat proteksi, kita juga bisa berinvestasi.
kalau mau benar2 berinvestasi, pilih saja instrumen investasi murni, misalnya reksadana.
kalau mau dapat proteksi dan juga berinvestasi, pilihlah unitlink.
memang keputusan ada di tangan masing2..
mau yg asuransi murni atau konvensional (tidak di-link dengan produk investasi) atau yg 2-in-1 alias unitlink.
telitilah sebelum membeli..
berpikir kritis itu perlu..
bersikap skeptis…gak akan maju..
yg jelas, mau gak sih naik mobil tanpa pakai safety belt?
apa ada yg bisa menjamin, kita akan sehat wal afiat selamanya?
adakah jaminan jika suatu saat kita meninggalkan orang2 tercinta, mereka dapat melanjutkan hidup mereka tanpa mengalami kemunduran dalam kehidupan mereka?
**gaya agen asuransi banget gak sih…?
untungnya gak nyebut merk, kalo nyebut, musti bayar tuh yg disebutin…
#137:
kalau ini harusnya bisa ditutup dengan rider kecelakaan atau ambil asuransi kecelakaan terpisah. kecelakaan bisa dibilang adalah penyebab hampir semua ketidakmampuan yang terjadi sebekum hari tua.
thanks! mungkin nanti saya lihat2 dulu produknya
#141:
henheheh… dari sudutpandang investasi, reksadana murni jauh lebih menguntungkan dibanding unit link, tapi bukan berarti saya gak ngambil asuransi sama sekali
#143:
semuanya memang kita butuhkan, tapi biaya administrasinya itu lho yang gak nahan
. mendingan beli aja satu per satu, karena jatoh2nya jauh lebih murah 
Halo semua…

Saya kira semua kembali ke pilihanya masing-masing, mana yang terbaik sesuai kebutuhannya. Saya ingin menggaris bawahi masalah “Agen”. Saya merasa kasihan, karena ujung-ujungnya dia yang dijadikan sasaran tembak. Padahal, cobalah berfikir positif, kalo mereka itu mendapatkan komisi dari nasabahnya, paling juga 3-5 tahun. Tapi apa yang mereka lakukan untuk anda. Seumur hidup, mereka akan melayani masalah asuransi anda.
#145:
rasanya ini hanya layanan yang diada-adakan saja, karena ngga lewat agen pun juga bisa. kita bayar 3-5 tahun untuk ‘layanan’ yang sebenernya bisa kita dapatkan tanpa melalui agen.
mas pri
tulisan anda bukan mencerahkan, tapi menohok profesi agen asuransi..
kenapa biaya admin unit link cukup besar?, karena untuk biaya perusahaan membayar komisi agent, operasional kantor dsb,
peran agent sgt vital di negeri kita tercinta indonesia karena berkat agent lah masyarakat indo membeli polis, karena keuletan, kegigihan, kesabaran, kecerdasan agnet lah berusaha mengedukasi, merubah mind set masyarakat yg gak suka insurance,.
tidak terhitung banyaknya klaim yang terbayar dari asuransi,.dan cerita dibalik itu …semua berkat age, kalo bukan dikejar agent, klien gak bakal punya polis, nah kejadian resiko hidup, siapa yang bisa bantu..
asuransi..teman2 datang, keluarga datang, tetangga, bos, anak buah, apa yang mereka bawa, karangan bunga dan amplop secukupnya,..
gak berarti men, paling juga habis bahkan gak uckup untuk 7 malaman..
pantas gak agent dapat komisi?, gak seberapa dibanding manfaat asuransi yg diterima klien.
bapak2 ibu2, gak semua orang bisa pandai2 mengatur , beli reksadana, beli asuransi,.yang ada kita semua pengen praktis, bayar lebih namun praktis..
contoh..pilih mana naik taxi atau naik angkot? lebih murah, turun dipingir jalan, panas, debu, en tambah naik ojek kerumah..
bayar taxi lebih, praktis en ada fasilitas lainnya,..
kurang kena yah..?
pilih mana ..ada hajatan, pesan makanan satu persatu dari tempat yang berbeda karena murah, en sewa ruang untuk acara, atau beli satu paket sekalian pesan ruang..?
ut pilihan terakhir, kita musti bayar jasa marketingnya (hotel/resto),
sering karena pengen murah, akhirnya kita rugi dr sisi lain mis. waktu, pikiran, dan akhirnya kehilangan ke 2 nya
selama ini cin cai lah, masyarakat beli polis gak ada yg komplain kok, sepanjang klaim mereka terbayar…
regards,
#81 dan #83
#81, Anda benar. Munculnya Unit-Link adalah karena permintaan dari pasar juga. Kalau pasar maunya Unit-Link ya itulah yang laku.
#83, Om Pri benar. Yang laku belum tentu bagus dan yang bagus belum tentu laku.
Maksudnya: Unit-Link kalau mau fair, buatlah opsi untuk setiap elemen asuransi yang ditawarkan bukan cuma opsi di instrument investasinya saja. Kalau Om Pri maunya asuransi jiwa untuk dirinya dan bukan anaknya ya harus dibedakan dengan yang mau semuanya (harga/premi-nya).
Karena sebagian besar orang memilih Unit-Link daripada asuransi tidak membuat Unit-Link lebih baik daripada asuransi. Meng-edukasi orang supaya paham dan setelah paham bebas memilih adalah tujuan Om Pri yang saya tangkap.
Saya adalah seorang ‘nasabah’ Unit-Link. Tahu kenapa saya memilih Unit-Link daripada asuransi+investasi terpisah? Karena saya tidak mengerti. Kalau saja Agen Penjual Polis dan Unit-Link mau transparan, mungkin saya tidak akan membeli Unit-Link. Tapi kenyataannya, mereka hanya menyampaikan yang bagus-bagus saja dan tidak menyampaikan yang minus-nya.
Kalau artikel ini saya baca 3 tahun yang lalu, mungkin saya tidak jadi membeli Unit-Link. Ada teman saya yang sejak 3 tahun yang lalu membeli asuransi dan investasi secara terpisah. Coverage asuransi yang dia dapatkan lebih besar daripada coverage yang saya dapat dari Unit-Link sementara nilai investasi yang dia peroleh lebih besar daripada investasi yang saya peroleh. Kebetulan dia meng-invest-kan uangnya di instrument dan manager investasi yang sama (Schroders).
Yang jelas. Beda harga beli dan harga jual Unit-Link udah 5%. Padahal di Manager Investasi, Fee yang diminta adalah 0.4% Beli dan 0.3% Jual (Total 0.7%). Selain itu, Unit-Link masih membebankan biaya administrasi yang besarnya cukup tinggi (apalagi kalau nilai investasi kita kecil).
#147:
kalau gitu bisa dijelaskan kenapa kalau saya ambil asuransi+reksadana secara terpisah, biaya yang saya bayarkan lebih murah dan hasilnya lebih maksimal? komisi agen dan biaya operasional kantor tetap terbayarkan kok.
jawabannya: karena sebagian besar unit link menggunakan teknik pemasaran secara langsung yang tidak efisien. biaya overhead ini nantinya nasabah juga yang nanggung.
menurut saya kok justru sebaliknya ya
sama saja kok. kalo saya ambil reksadana + asuransi terpisah saya juga dapat manfaatnya
mending bayar angkot Rp 20 ribu daripada taksi Rp 200 ribu
. lagi pula kita cuma perlu naik angkot/taksi (berhubungan dengan agen) belum tentu sekali dalam 1 taun, bahkan dalam 5 tahun pun belum tentu. tapi kalo naek taksi, kita perlu bayar setiap bulan walaupun bulan itu kita gak naek taksi 
coba lain kali anda disclose semua biaya2nya kepada nasabah secara transparan. setiap anda print ilustrasi pasti ada proyeksi return investasi sampai 20, 30 atau bahkan 100 tahun ke depan. harusnya gak terlalu rumit untuk menghitung dan memberi tahu besar komisi yang anda terima
kenyataannya selama ini besar komisi (biaya akuisisi™) tidak dijelaskan secara transparan dan masih mentah (tidak dalam satuan rupiah). biasanya cuma diselipkan di halaman akhir dan dengan ukuran tulisan yang kecil2
. kalau berani coba disclose fee anda di awal2 dalam satuan rupiah, jangan sampai ada kejadian nasabah tahu baru setelah tandatangan
.
potensi perkembangan investasi dalam 100 taun aja bisa diitung padahal belum tentu segitu, masa biaya yang udah pasti yang cuma 5 tahun ke depan gak bisa dihitung? :0
kalo saya suka pake analogi calo tiket kereta api.
calo A: “saya jual tiket kereta api jakarta bandung dengan harga resmi Rp 150 ribu! serius, ini harga resmi pak!” (padahal harga resmi di loket cuma Rp 75 ribu)
calo B: “bapak bisa saya belikan tiket kalo males ngantri. harga tiket jakarta bandung Rp 75 ribu, tapi saya minta Rp 15 ribu untuk ongkos cape saya”
kalo ketemu calo A, mendingan saya antri sendiri aja
. mungkin ada beberapa calon penumpang yang gak tahu berapa harga resminya, dan percaya begitu saja. tapi setelah tahu kejadian sebenernya pasti ngambek 
Ada beberapa pendapat yang kurang tepat, khususnya pemberi comment no.4. Di unit link, Anda juga akan mendapat apa yang Anda tabung. Berbeda dengan asuransi tradisional. Mengapa saya berani berkata demikian? Karena saya juga pemasar produk tersebut, nasabah juga tentunya.
Nah, kalau ada pemikiran ‘dana tidak kembali’ juga harus dikenali secara tepat sebagai apa. Biaya akuisisi, itu tidak kembali je nasabah. Jelas saja, perusahaan asuransi juga memerlukan biaya operasional. Bagi Anda yang beragama Islam juga dapat mengambil asuransi unit linked dengan sistem syariah sekarang.
Kalau mau diskusi lebih lanjut, silakan email saya di yohanes.eko@gmail.com
/
#150:
di unit link belum tentu nasabah mendapat yang ditabung, karena ada faktor resiko di sini. asuransi tradisional term life gak ada unsur tabungan, jadi gak bisa dibandingkan.
biaya operasional udah final dalam harga komponen asuransi dan investasi, di luar biaya akuisisi. bisa disimpulkan seperti ini karena komponen asuransi di unit link harganya sama saja dengan ngambil term life secara terpisah. selain itu, nasabah juga masih harus membayar biaya administrasi, di luar biaya akuisisi.
biaya akuisisi itu masuk ke kantong agen sebagai komisi. kalaupun gak semuanya masuk kantong agen, sisanya masuk ke profit perusahaan asuransi, tapi rasanya gak bakalan dipake untuk biaya operasional.
sebelumya terima kasih pak priyadi… telah memberi wawasan terhadap kita….
untuk bisa memilih yang terbaik dari yang baik….. menurutku memang Unit-link baik tapi bukan terbaik bagi orang2 yang telah mengerti…tentang produk ini
mungkin bisa di alogikan kita beli kompt brandend dg harga 7 Jt dengan ngerakit sendiri komputer itu dg harga sama kita mendaptkan 2 kali kemampuan / performanya komputer branded….(bagi yg mengerti komputer)
#152:
rasanya gak bisa pake analogi ini karena manfaat yang didapatkan di unit link dan ngambil terpisah sama saja. nyaris tidak ada nilai tambah yang diberikan oleh unit link.
bahkan mungkin terbalik. kelebihan komputer branded, konsumen punya akses langsung ke perusahaan perakit dengan reputasi yang baik. sedangkan di unit link justru nasabah harus berhubungan dengan agen perorangan dan bukan dengan perusahaan asuransinya secara langsung.
pak kalo milih asuransi yang untuk jiwa + kesahatan aja enak mana ya.. antara manulife atau prudential…
info untuk manulife :
1. Upertangungan 100 Jt - prolife premi 1.3 jt / thn selama 20 th dan dijamin sampai umur 99 th.
2. Upertangungan 500 Jt - prolife premi 4.1 jt / thn selama 20 th dan dijamin sampai umur 99 th
atau milih yang term aja ya.. kayak :
1. Pro active Plus - berjangka gitu tapi dijamin sampai umur 70 th
pilih mana ya.. sarannya
#154: mending pilih term, karena pada umur 70 tahun seharusnya tabungan kita sudah banyak. selain itu, kalaupun ngambil asuransi, nilainya gak akan menyaingi jumlah tabungan kita.
untuk kesehatan kayanya gak akan ada yang ngasih pertanggungan untuk umur sampai 99 tahun, di unit link sekalipun.
ok pak tambah mantap aja nih invest di reksadana… sekali lagi terima kasih pak info dan wawasannya… padahal kemairn masih pingin beli asuransi pendidikan ama ulink..
kita udah punya 2 Reksadana di Fortis ekuitas ama schoder dana kombinasi… di bank commonwealth
Berarti dengan ini untuk perisapan pendidikan mendingan kita masukkan di Reksadana itu ya pak…dan ikut asuransi term…
Dan sekaedar info aja.. bahwa Reksadana itu tidak harus punya uang banyak… di bank Commonwealth minim 2 jt bisa masuk dan pembelian Reksadananya juga antara 200 rb - 5 jt untuk pembelian awalnya dan penambahannya ada yg 100 rb - 1 jt. juga bisa beli secara online atau pake internet banking.
Yth pak Pri & rekan2
Anak-1 saya ikutkan ke asuransi pendidikan masuk tahun ke-4 (oktober 2007 masuk tahun ke-5 & premi saya bayar pertahun) & anak-2 baru saja saya ikutkan juga (premi saya bayar per 6bln). Setelah baca ulasan p. pri & komentar rekan2 saya kok jadi cenderung ikut inves reksadana + asuransi. Disini saya mohon saran, jika asuransi pendidikan anak saya putus apakah gak rugi???:

#157: coba anda analisis 2 skenario yang mungkin terjadi:
* kalau anda lanjutkan asuransi pendidikannya; dan
* kalau anda pindah ke reksadana+term life
coba dihitung2 skenario mana yang lebih menguntungkan. kadang2 bisa jadi melanjutkan asuransi pendidikan lebih menguntungkan (misalnya kalau penalti pengambilan tinggi, atau ada bonus setelah beberapa tahun). tapi biasanya, pindah ke reksadana+term life lebih menguntungkan. kondisinya cuma anda yang tahu.
diliat2 diskusi disini sebenarnya udh selesai di komentar #20 lho..
Selebihnya pengulangan (baca: penjelasan berkali-kali pd orang2 yg susah bener memahami konsep di tulisan awal, tp tetep dilayani oleh om pri..)
Hi Pak Iwan (#157)
Asuransi pendidikan dan Reksadana merupakan 2 komponen yang dapat bapak gunakan dalam mempersiapkan dana pendidikan buat anak bapak.
Kelebihan asuransi pendidikan adalah dana yang bapak siapkan terjamin tersedia sesuai dengan waktu dan jumlah seperti yang bapak sudah rencanakan. Kekurangan dari produk ini adalah fleksibilitas dan(dana hanya tersedia pada waktu yg telah disepakati tidak dapat diambil sewaktu waktu) dan tingkat hasil yg rendah.
Bila bapak menggunakan reksadana, kelebihannya adalah bapak berpotensi mendapatkan nilai rupiah (dana pendidikan) yang lebih besar dibandingkan dengan asuransi pendidikan. kelemahannya adalah adanya resiko dan ketidakpastian (tidak ada yg menjamin bahwa dana sebesar yg bapak inginkan akan tersedia pada waktunya).
Saran saya gunakan keduanya. Dengan demikian kita kan mendapatkan faktor kepastian dari asuransi dan hasil yg besar dari reksadana. Besarnya perbandingan prosentase antara asuransi pendidikan dan reksadana itu tergantung keinginan bapak.
Semoga bisa membantu
Wass
Wah panjang juga ya perdebatan ttg unit link ma reksadana. Saya cuma mau kasih beberapa komentar pada artikel utamanya.
TRANSPARASI
“Reksadana biasanya jauh lebih transparan daripada produk investasi yang ada dalam unit link. Biasanya, nasabah reksadana dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi seperti sejarah perkembangan investasi, resiko, alokasi aset, biaya jasa pengelolaan dan sebagainya. Sedangkan dalam unit link, seringkali sulit untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan manajer investasi beserta biaya dan kinerjanya. Kebanyakan agen asuransi biasanya lebih banyak berkutat pada ilustrasi yang abstrak tanpa dengan jelas memberi tahu parameter-parameter pembentuk ilustrasi tersebut. Terlebih lagi, calon nasabah yang awam tidak memiliki pembanding yang cukup untuk menilai kualitas yang diberikan oleh ilustrasi tersebut.”
Unit Link sama transparannya dengan Reksadana. Semua informasi yang diperlukan oleh mas pri diatas bisa diminta ke agen atau perusahaan ybs (Setiap Perusahaan memiliki Fact Sheet yang berisi informasi alokasi asset dll). Kesulitan itu datangnya dari Agen bukan produk unit link itu sendiri. Jadi amat sangat tidak fair karena kesalahan agen mas pri mengatakan suatu produk tidak baik.
KETERIKATAN DAN FLEKSIBILITAS
“Yang paling penting bagi yang serius untuk menjalankan investasi adalah faktor keterikatan. Dengan memisahkan layanan asuransi dan reksadana, kita bisa membagi proporsi di antara keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita pada saat itu, tanpa harus terikat dengan proporsi dan jumlah yang telah ditetapkan dalam polis asuransi. Jika sedang membutuhkan uang, kita bisa tetap membayar premi asuransi, tetapi bisa bebas berhenti menyetorkan dana investasi tanpa harus takut kehilangan manfaat asuransi. Sebaliknya, jika sedang memiliki dana berlebih, kita bisa menyetorkan kelebihan dana tersebut ke reksadana tanpa harus terkena penalti atau biaya tambahan.”
Dalam unit link sebenarnya proporsi investasi bisa dihilangkan (nol). Yang tidak bisa dihilangkan adalah proporsi premi asuransi. Contoh: Premi yang dibayarkan adalah 1,5 jt pertahun dengan komposisi Premi asuransi 1,5 jt dan Premi Investasi Nol. Dengan Proporsi seperti ini dana investasi baru akan muncul pada tahun ke-2 (pada tahun pertama seluruh premi asuransi akan hangus untuk meutupi biaya2, biasanya biaya2 pd unit link baru akan muncul pada thn ke-2). Jadi seperti kata Mas Pri Kalo ada kelebihan uang kita bisa melakukan TOP UP saja dgn biaya 5% (dgn proporsi seperti ini kita tidak harus membayar premi investasi secara rutin dan manfaat asuransi tetap ada selama nilai investasi tidak menjadi negatif.)
PERHITUNGAN INFLASI PADA UANG PERTANGGUNGAN
Dalam setiap ilustrasi disebutkan bahwa biaya asuransi akan meningkat sesuai dgn usia. Kalo mas pri mau tau biaya asuransi tiap tahunnya bisa ditanyakan ke agen nya berapa ratenya untuk umur sekian (agen yg baik pasti dgn senang hati mmberi tahukan ke mas Pri)
BIAYA AKUSISI
“Sebagai contoh, salah satu produk asuransi link unit membebankan biaya akuisisi kepada nasabah sebesar 41% dari setoran porsi premi asuransi untuk lima tahun pertama. Biaya ini kemudian akan ditalangi dengan tidak memberikan sebagian manfaat asuransi pada tahun pertama dan sisanya kemudian dibebankan pada setoran porsi investasi.”
Saya mau tanya maksud dr biaya ini akan ditalangi dgn tidak memberikan manfaat asuransi pada tahun pertama itu apa ya?
PANJANG JALUR ADMINISTRASI
YA saya setuju dengan pendapat mas pri. Ini kelemahan dari Unit Link
#160
jika asuransi bisa memberi jaminan, artinya setoran nasabah disetorkan ke instrumen investasi yang zero risk dan bisa dibeli kapan saja. satu2nya adalah deposito.
tetap akan lebih untung jika nasabah langsung ikutan deposito (+ambil term life) daripada harus lewat asuransi. jika minimum setoran tidak terjangkau, bisa jadi asuransi pendidikan bisa jadi alternatif, tapi tetap saja tidak akan bisa melebihi rate deposito.
#161:
agen adalah termasuk dalam paket produk asuransi. baik buruknya layanan asuransi juga ditentukan dari layanan yang diberikan oleh agen. pegangan utama calon nasabah adalah ilustrasi. ilustrasi ini tidak mencantumkan informasi yang lengkap soal investasi, tidak akan selengkap prospektus reksadana. beberapa agen memang dipersenjatai ‘fact sheet’, tapi tetap saja fungsinya hanya sebagai brosur dan tidak akan selengkap prospektus reksadana.
untuk sebagian besar unit link, proporsi investasi TIDAK bisa dihilangkan. setiap bulannya, nasabah membayar premi asuransi sebesar premi maksimum seumur hidup nasabah. karena premi efektif bulan tersebut pasti lebih kecil daripada premi maksimum seumur hidup, maka selisihnya oleh perusahaan asuransi akan diinvestasikan.
anda agen prudential? coba jumlahkan angka2 di bawah field ‘biaya asuransi bulanan’ dan bandingkan dengan yang ada di ‘premi berkala’
biaya top up 5% itu mahal. untuk reksadana, paling sial cuma 3%, bahkan ada yang gratis. selain itu, di beberapa unit link, jika setoran tidak terjadwal, akan ada biaya administrasi tambahan (di pru Rp 100 ribu).
itu kenaikan premi akibat pertambahan umur, bukan karena inflasi.
pada tahun pertama, semua premi asuransi diberikan sebagai komisi agen. premi ini akan ditalangi dulu oleh perusahaan asuransi. jadi nasabah berhutang ke perusahaan asuransi sebesar jumlah tersebut. di akhir tahun pertama, hutang ini baru akan dilunasi dengan cara memotong porsi investasi.
kalau ngambil asuransi + reksadana terpisah, gak ada potongan untuk agen segala.
coba baca tulisan saya lainnya: tips membeli asuransi jiwa
Saya dulu juga kesulitan sekali mencari data kinerja masa lalu reksadana. kinerja masa lalu memang tidak mencerminkan kinerja masa depan, tapi rasanya kok bisa lebih ayem dengan tahu bagaimana keadaan sebelumnya.
anyway, karena saya kurang puas dengan data harian di bisnis.com, dan saya juga sangat tidak sreg dengan penyajian data di Bapepam, saya membuat sendiri web yang khusus menyajikan data kinerja reksadana untuk seluruh produk reksadana di Indonesia. Data tersedia sejak tahun 2000, dan data terus diupdate secara otomatis per hari bersumber dari Bapepam. Monggo bisa diakses ke http://www.portalreksadana.com.
Mohon dimaklumi, website ini masih beta, beberapa feature masih saya kembangkan. jika ada ide, feel free to share.
Aku setuju banget sama pak Priyadi, krn aku jg nasabah unit link di suatu perusahaan asuransi abc dan baru tau kalo ternyata biaya2 silumannya ternyata banyak banget. Dari yg katanya bayar 10 thn dengan perbulannya 350 ribu dgn porsi biaya premi 250 rb dan investasi secara berkala, aku hitung ternyata total biaya siluman (belum termasuk biaya asuransi dan administrasi) nya sebesar 17 persen atau kurang lebih 7 jt, sementara biaya asuransinya akan dipotong dari unit2 investasi kita tiap bulannya dan blom termasuk biaya. Aku sudah masuk tahun ke 2,dan menyesal sekali krn begitu aku menghubungi perusahaan asuransi xxx ternyata termlife sangat murah sekali preminya dan untuk berinversati langsung di reksadana ada yg membebenkah biaya pembeliannya 0(nol) persen, penjualan 0 persen manajemen feenya 2 persen. Sayang sekali aku menemukan blog ini baru sekarang, karena selain rugi material dari unitlink yg sudah aku beli (karena aku bermaksud membatalkannya) aku juga rugi di waktu, karena waktu adalah teman terbaik dalam berinvestasi reksadana apalagi reksadana saham. Trims pak Pri,
mungkin kita perlu mengedukasi masyarakat agar kritis sebelum membeli unitlink, karena mereka tidak tau sebenarnya unitlink adalah asuransi + reksadana. Banyak sekali agen2 asuransi yg tidak menjelaskan hal tersebut. Yg ada agen2 selalu menekankan membeli unitlink sama dengan menabung. Ini adalah perbedaan yg sangat besar, karena reksadana = resiko, sementara nabung = tidak beresiko. Aku aktif transaksi saham di bursa efek jakarta, sehingga tau sekali resiko dari segala jenis reksadana, kecuali reksadana pasar uang. tapi resiko di reksadana bisa kita kecilkan, di eliminasi dengan panjangnya waktu kita berinvestasi dan metode yg kita pilih. Kalau kita berinvestasi dengan meniru program unit link, dari 350 ribu setoran bulanan di bagi untuk termlife 100rb di tahun2 awal, 250 rb di reksadana, maka kita akan dapat uang pertanggungan diatas 500 juta, sementara investasi kita di reksadana saham, dengan katakanlah rata2 return 25 persen (di RD saham biasanya jauh lebih tinggi) maka 10 tahun lagi kita akan mendapat return 116 juta, 20 tahun mendapat return 1,5 milyar, 25 tahun 5,9 milyar, tanpa potongan pajak. Banyak masyarakat ( termasuk aku tadinya)tidak mmenyadari bahwa, ternyata berinvestasi unitlik di perusahaan abc, baru dimulai full setelah tahun ke-6, karena sampai tahun ke 5, akan buanyaaaakkkk sekali biaya2 siluman yg pada waktu kita masuk tidak dijelaskan oleh agennya. Itu pun kalau kita mau top up berkala dikenakan biaya 5 persen, yang menurut aku gede banget, sementara ada manajer investasi reksadana saham yang cuma 0 (baca Nol)persen untuk fee pembelian n top up. Agen2 unitlink selalu mengatakan kalau terjadi resiko kematian, cacat tubuh, penyakit kritis,hospital dan lain-lain maka akan di cover oleh perusahaan asuransi. Tapi yang ada sebenarnya resiko2 diatas di cover karena kita membayar premi lagi yang setiap bulannya di potong dari unit2 kita walaupun misalnya bursa lagi crash (ini berpengaruh karena yg dipotong adalah unit). Sebenarnya semua resiko bisa kita cover dengan membeli termlife plus rider2 nya, dengan manfaat jauh lebih maksimal dan investasi kita di tahun awal juga berkembang maksimal.Selamat berinvestasi dan berasuransi.
Ada yang bisa menjelaskan lebih detil pendapat #166 mengenai TU di reksadana 250rb/bulan menjadi 116jt di tahun ke 10, atau 1.5 milyar di tahun ke 20, atau 5.9 milyar di tahun ke 25? Apakah ini sudah dikurangi dengan biaya2 yang dibutuhkan? Tks
itu adalah asumsi return riil RD saham per tahun, kalau kita investasikan perbulan 250 rb rutin, maka akan di dapat nilai seperti diatas, menggunakan bunga majemuk. Di RD ada yg namanya NAB (nilai aktiva bersih), itu udah bersih dari manajemen fee. Bisa kita lihat di harian bisnis, kontan atau http://www.infovesta.com
#167: perhitungan saya, kalau setor per bulan Rp 250 rb selama 10 tahun dengan asumsi perkembangan investasi 25%, maka dalam 10 tahun uangnya akan jadi Rp 110 juta. tapi mungkin 25% terlalu optimistis, di level 15% uangnya akan menjadi Rp 65 juta.
ini masih kotor, belum termasuk biaya2, tapi harusnya gak akan terlalu besar. biaya2 ini berbeda untuk reksadana yang berbeda.
untuk RD saham 25% termasuk pesimis, karena kita menggunakan metode rupiah cost averaging dan investasi jangka panjang (diatas 10 tahun)maka resiko minimal sekali. mungkin kalau diversifikasi portofolio, rata2 15% masuk akal. Tapi RD pendapatan tetap pun beresiko tinggi, ini bisa kita lihat pada saat gonjang-ganjing pasar financial di AS, RD pendapatan tetaplah yang paling banyak di redeem, sebaliknya walau bursa saham turun dari ihsg 2400-an menuju 1800-an, malah banyak yang subcription.Sama2 beresiko tinggi mengapa ngga ke RD saham atau dengan terjun langsung di saham2 dengan fundamental baik dan di keep jangka panjang bisa memberi kita return tinggi (silakan baca : http://arisat.blogspot.com/2006/12/memahami-fundamental-investasi.html,
http://arisat.blogspot.com/2006/12/tujuh-strategi-berinvestasi-reksa-dana.html
http://info-saham.com/ )
#170: dalam jangka waktu panjang gak akan terus2an di atas 25%. kalau begitu justru malah menyeramkan. sahamnya bisa naik sampai 70%-80% tapi fundamentalnya jelas tidak sebesar itu. artinya sebagian besar kenaikan karena demand, bukan karena faktor fundamental.
hehehe, kalo saya suka hedge pake emas daripada pendapatan tetap. kalo pasar finansial rontok, emasnya langsung naik tinggi
.
saya punya kenalan yang jual-beli saham dari tahun 1997 dengan base fundamental, sampai sekarang return sudah 240X,rata-rata setahun minimal diatas 70%. kita tentu saja harus selalu mempelajari fundamental shm2 tersebut, begitu harga pasarnya sudah diatas fundamentalnya makanya kita jual dong, itulah yg biasanya dilakukan oleh MI yang profesional. untuk mengetahui fundamental saham silakan baca : http://info-saham.com/old/bveps.htm
saya sendiri sudah mulai jual-beli saham dengan base fundamental, dengan return yang lumayan, jauh diatas RD saham rata-rata. Kalau ada waktu untuk belajar, maka trading saham bisa jauh lebih menguntungkan dan dengan modal yang relative kecil. ada yang kurang dari 6 bulan mendapat return 7,4X, dan itu tidak mustahil di bursa saham, asal uang yang di gunakan bukan hutang,bukan uang untuk keperluan sehari-hari. Karena dengan trading , modal yang kita setor 20 juta dengan cepat berkembang jadi 40 jt, trus 80 juta, trus 160 juta dan seterusnya…., biasanya trading menggunakan analisis teknikal. untuk diversifikasi portofolio saya akur sekali dengan pak Pri, dengan emas…..hehehe. karena ada crash apapun, emaslah yang pertama-tama naik…..
Ikut nimbrung ya…
Setahu saya awal bulan ini PRU***** mengeluarkan produk unit link syariah yang secara umum sama dengan unit link yang ada PERBEDAANNYA dimana jika nasabah dalam satu tahun tidak mengajukan klaim maka pada akhir total biaya asuransi yang terkumpul dari seluruh nasabah (dikurangi klaim)akan mendapat bagi hasilnya, tetapi bila nasabah mengajukan klaim maka tidak dapat surplus dari biaya asuransi yang terkumpul. Adil kan….?
#173: kelebihan syariah adalah transparansi:
* nasabah bisa tahu proporsi dana reserve dan yang diinvestasikan
* nasabah bisa tahu proporsi keuntungan untuk nasabah dan untuk perusahaan
* harga premi belum termasuk asumsi perkembangan investasi, tapi akan dikreditkan di akhir term
* resiko ditanggung bersama antara perusahaan dan nasabah
memang jauh lebih transparan, tapi bukannya lebih murah. jika ada perbedaan harga rasanya tidak akan terlampau jauh. mungkin bisa dianalogikan bunga bank vs bank syariah.
Syariah memang lebih transparan..benar namun keuntungan (apabila ada) hanya dibagikan apabila akhir tahun tidak terjadi claim dari pihak nasabah.
Risiko ditanggung nasabah dan perusahaan dengan proporsi. Mirip-mirip dengan koperasi di mana perusahaan memberi modal lebih dahulu.
Tidak lebih murah: tepat sekali. Namun bukan masalah biaya asuransinya tapi lebih kepada biaya administrasinya.
#174: tambahan: akhir2 ini banyak yang ngomongin asuransi syariah seakan2 sebelumnya belum pernah ada asuransi syariah
. tapi produk syariah bukan barang baru, sudah lama dijual oleh beberapa perusahaan asuransi lainnya. selain itu, asuransi term life juga ada yang syariahnya.
kalau mau mengganti unit link syariah dengan yang terpisah, bisa beli asuransi term life syariah + reksadana syariah. sama sekali gak ada yang baru dengan produk asuransi syariah yang ‘baru’ ini
Ada yang punya cerita/pengalaman menarik dengan term life syariah dan reksadana syariah?
Thanks.
selamat pagi semua, saya baca khusus artikel ini dari jam 7 malam sampai jam 3 pagi. ada yang menarik dari komentator-komentator pada topik ini, dimana rata-rata komentator yang akses artikel ini lewat mozzila firefox dll (selaian internet explorer)komentar dan pendapatnya saya rasa lebih bermutu dan masuk akal. sedangkan untuk pengguna explorer, kemampuan dalam ilmu investasi masih kurang, ini termasuk saya. saya sudah beli unit link beberapa minggu yang lalu, setelahnya baru saya belajar memperdalam tentang unit link dan membandingkan perbedaanya dengan reksadana. uang yang saya investasikan sebanyak 20 juta di unit link. 10 juta untuk premi asuransi berkala, 10 juta untuk investasinya (nilai aktualnya 9,5 juta. dipotong 5% biaya investasi). setelah membaca artikel yang mencerahkan ini ada keinginan saya untuk tidak melanjutkan program ini, dan memfokuskan investasi saya ke reksadana yang sudah saya punya. ada yang menarik tentang konfirmasi pembelian dari kedua program ini, yaitu konfirmasi pembelian dari agen reksadana yang berupa surat lebih cepat saya terima daripada agen unitlink, walaupun saya beli reksadana 1 minggu terlambat dari unit link. ini saya pikir menunjukkan tingkat keefisien dari reksadana lebih baik dari unit link. untuk mengurangi kebimbangan saya, mohonlah Bapak Pri memberikan nasehat untuk hal ini, terimakasih
#178: coba anda baca tulisan saya yang satu lagi. kalau baru beberapa minggu kalau saya yang ada di posisi anda, saya gak akan pikir 2x lagi untuk berhenti, karena baru sedikit biaya overhead yang kita bayarkan.
Halo Pak Pri & semuanya,
Mo nanya saat ini saya ikutan unitlink yg kira2 proporsi antara asuransi&investasinya 30%:70%. Yg jadi pertanyaan setelah saya baca artikel di atas dan postingan yg masuk.
Apakah sepatutnya saya teruskan unitlink diatas dan saya convert ke asuransi+danareksa yg saya beli terpisah. Mengingat selain asuransi diatas saya sekarang ini juga ada asuransi dari perusahaan dimana saat ini saya bekerja. Oya saya baru 10 bulan ikutan unitlink diatas.
Memang manfaat dari unitlink diatas bisa dikatakan tidak ada utk saat ini, karena asuransi jiwa + kesehatan semuanya sebenarnya sudah di cover sama perusahaan. Perhitungan saya saat mengambil unitlink ini adalah sebagai cadangan, disaat nantinya saya tidak akan bekerja lagi di tempat saya bekerja sekarang dan juga investasinya.
Saati itu saya belum mengenal Danareksa, …..
Jadi kalau tahu pastinya saya akan beli asuransi & Danareksa secara terpisah.
Terimakasih sebelumnya atas sarannya.
#180: kalau saya jadi anda, saya akan langsung batalkan polisnya, alasannya:
* baru 10 bulan, ‘hutang’ anda ke si agen belum lunas, dengan batal sekarang anda ‘hanya’ rugi sekitar 30-40%-an dari total yang akan anda bayarkan ke agen
* kemungkinan besar anda over insured, dan gak perlu asuransi tambahan.
tapi coba anda baca dulu tulisan saya yang satu lagi
bulan sept ini ada ulasan detail di tabloid kontan edisi khusus tentang unitlink ini ama reksadana.
bisa dibuat masukan juga…
di edisi khusus kontan bulan sepetember 2007 hal 18-19 ini dibahas perbandingan Unitlink dan terpisah. dan dalam bahasan itu rasanya jelas “unitlik = Asuransi + reksadana”. dan kesimpulannya lebih menguntungkan pembelian sendiri2… seperti usul pak pri…..
kesimpulan terakhirnya malah persis kata2 pak pri “perumpumaan beli tiket pake calo…..” jangan2 emang kata2 pak pri yang diambil oleh kontan edisi khusus ini ya…
Halo mas Pri, salam kenal.
Penjelasan yang sangat detil.
Saya baru aja ikutan training fast start dari asuransi P*U. Saya juga sempet kaget kalao mau topup kok ada biaya potongan 5% ya.
saya rasa gak usah dikasih tahu biaya2 lainnya , cukup kita jelaskan biaya potongan5% kalao mau topup aja pasti calon nasabah akan mikir dua kali.
Saya juga rasa kegedean. Misalnya kalau kita topup100juta potongannya aja udah 5 juta. Kalau kita bukan ambil equity pasti kena potongannya udah impas kan?
Kalau kita ambil kasaran equity setahun bisa generate 15%. KIta dapatnya cuman 10% bukan? ( bener gak oom pri ? ) Saya masih cupu sih.
Tapi disini pertanyaannya kenapa produk link ini begitu populer ? Saya malam baca postingan ini mikir juga. Kenapa sih kok bisa laku kayak kacang.
Saya belum terjun ke lapangan sih tapi trainernya bilang kita waktu prospek ya cerita semuanya jgn yang manis aja.
Intinya be professional.
Mungkin masyarakat belum / kurang pengetahuan ttg investasi seperti reksadana dll. Makanya mereka pengennya ambil gampangnya toh penekanan presentasi unit link ini kan proteksi+tabungan+investasi
. kalo yang PIA proteksi+invetasi.
Salam
#184: sebenernya biaya yang ditanggung porsi investasi unit link dan reksadana sama aja:
1. biaya pembelian
2. biaya pengelolaan investasi
3. biaya penjualan
di prudential, yang mahal cuma yang nomer 1 dan 3. biaya pembelian 5%. di reksadana paling mahal 3%. dari 5% itu, 3%-nya masuk ke kantong agen. 5% menurut saya terlalu mahal.
untuk biaya pengelolaan investasi kelihatannya sama aja antara prulink dan rata2 reksadana saham, yaitu 1.75%. tapi di reksadana ada pilihan reksadana indeks yang biaya pengelolaan investasinya jauh lebih murah (danareksa indeks cuma 0.36%). biaya ini menurut saya yang paling penting karena recurring, sedangkan yang lain cuma sekali bayar.
untuk biaya penjualan, di PAA harus disisakan Rp 1 juta. sedangkan di reksadana rata2 gratis setelah 1 tahun pertama.
Salam kenal.
Biaya pembelian dan biaya penjualan yang mahal itu cuma di Prudential aja atau di semua asuransi yang punya unitlink juga mirip seperti itu? Ada yang pernah menghitung2 biaya2 di asuransi lain?
Salam kenal Mas Pri…
Saya lagi nyari semacem program untuk menjamin hari tua buat suami. Program yg sesuai apa ya ?
Bulan lalu ditawarin Niaga Pension Plan oleh CIGNA. Kira2x ok ga produk ini ?
Terima kasih.
#186:
tentunya gak semua unit link seperti itu. tapi semua unit link yang pakai sistem agen bisa dipastikan ada overhead yang mahal.
tapi kelebihan mengambil terpisah bukan cuma soal harga, masih banyak faktor lainnya. silakan baca selengkapnya di sini
#187:
setahu saya niaga pension plan itu unit link juga. kalau saya lebih suka mengambil asuransi dan investasi secara terpisah. silakan baca tulisan saya yang lainnya di sini
# 180
Saati itu saya belum mengenal Danareksa, …..
Jadi kalau tahu pastinya saya akan beli asuransi & Danareksa secara terpisah.
Terimakasih sebelumnya atas sarannya.
—————————–
Danareksa adalah nama perusahaan Manager Investasi, sama seperti Manulife Aset Manajemen, Schroders, Fortis, dll
Reksadana adalah nama produknya.
Semoga membantu
#184
Kalau kita ambil kasaran equity setahun bisa generate 15%. KIta dapatnya cuman 10% bukan? ( bener gak oom pri ? ) Saya masih cupu sih.
————–
100juta. dipotong 5% = 95jt
Yield 15% = hasil investasi 109.250.000
100juta. tidak dipotong
Yield 15% = hasil investasi 115.000.000
beda 750.000
ini kalo 15%, kalo yield 15%, kalo seperti diiming2 bisa 50% gimana ?
———————————
Tapi disini pertanyaannya kenapa produk link ini begitu populer ? Saya malam baca postingan ini mikir juga. Kenapa sih kok bisa laku kayak kacang.
Saya belum terjun ke lapangan sih tapi trainernya bilang kita waktu prospek ya cerita semuanya jgn yang manis aja.
Intinya be professional.
———————————
sip …
tenaga fresh nih, masih semangat.
entar kalo ditanyain kenapa kalo investasinya cuma jalan 5%, dananya bisa abis, semoga bisa tetap professional
#188
#186:
Biaya pembelian dan biaya penjualan yang mahal itu cuma di Prudential aja atau di semua asuransi yang punya unitlink juga mirip seperti itu? Ada yang pernah menghitung2 biaya2 di asuransi lain?
tentunya gak semua unit link seperti itu. tapi semua unit link yang pakai sistem agen bisa dipastikan ada overhead yang mahal.
———————————-
hmmm…
maksud mas pri seperti bancassurance kan ?
sebenarnya bank adalah agen juga kok. Komisi pada bank biasanya sih bahasa kerennya Fee Based Income.
Besarnya komisi saya tidak tahu pastinya, cuman sepertinya sama dengan komisi agen atau bahkan lebih.
dan saya belum pernah lihat yang menjual unitlink tanpa lewat agen mas (mengingat bank juga merupakan agen)
anyway, kalo dilogika nih …
di HSBC setor reksadana 500jt dapet Plasma TV seharga. 8juta. Kompensasinya dana tidak bisa ditarik 4 bulan. sementara yang WAPERD saja komisi gak sampe 1%. Jadi nasabah kudu setor 1M kalo mau ngasih bonus Plasma TV.
Kesimpulan saya sebagai orang yang gak ngerti besarnya komisi bank, pastinya komisi bank lebih besar dari komisi agen penjual reksadana itu sendiri. entah teori ini bisa berlaku pada unitlink atau tidak.
# 173
Ikut nimbrung ya…
Setahu saya awal bulan ini PRU***** mengeluarkan produk unit link syariah yang secara umum sama dengan unit link yang ada PERBEDAANNYA dimana jika nasabah dalam satu tahun tidak mengajukan klaim maka pada akhir total biaya asuransi yang terkumpul dari seluruh nasabah (dikurangi klaim)akan mendapat bagi hasilnya, tetapi bila nasabah mengajukan klaim maka tidak dapat surplus dari biaya asuransi yang terkumpul. Adil kan….?
———————————
IMHO sih cara kerjanya mirip seperti Nilai Pertanggungan Tambahan (NPT). Cuma kalo pada NPT dikembalikan lagi kepada nasabah dalam bentuk UP yang ditambahkan setiap tahunnya.
NPT ini sering ditemui pada produk wholelife.
Gak baru2 banget sih, cuman ya karena si P** ini kagak pernah punya produk wholelife, akhirnya para agen jadi bersemangat
IMHO lagi, KALAU mau beli produk syariah, belilah di insurance yang basisnya memang MURNI syariah, bukan divisi. Dan di Indonesia kalo gak salah cuma ada 3 perusahaan asuransi syariah yang diakui asosiasi asuransi syariah dunia.
Jadi inget, ada wak haji ditawarin reksadana.
Haram kata dia, tidak syariah. Ketika ditanya duitnya ditaruh dimana semua ….
Di BCA dong …. yeah rite …
Indonesia banget …
Sori om melenceng dari topik, hehehehe …
#191:
kalau dibandingkan dengan agen perorangan, tentunya agen bank punya potensi untuk ngambil komisi lebih rendah dan tetap untung. alasannya karena jumlah nasabah dia jauh lebih banyak daripada agen perorangan.
ini perhitungan efisiensi akuisisi sederhana. contohnya, anggap agen perorangan full time rata2 punya kebutuhan sebesar Rp 10 juta/bulan, anggap dia bisa mendapatkan rata2 10 nasabah dalam sebulan, maka komisi rata2 yang diperlukan untuk menutupi biaya2 adalah 1 juta/nasabah. kalau bank jumlah nasabahnya mungkin bisa 10x lipat/bulan, jadi 100, maka komisi rata2 yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran cuma Rp 100 ribu/nasabah.
tapi itu cuma potensi, realisasinya bisa jadi berbeda. dengan pasar asuransi yang gak kompetitif, ditambah dengan ketidaktahuan konsumen asuransi, ya agen bank juga gak punya banyak insentif untuk menurunkan biayanya, walaupun mereka punya kapasitas untuk melakukannya.
kalo mau mulai investasi reksadana mulainya dari mana ya pak ???
jadi ga minat beli unit link . ..
lebih masuk akal perkataan pak priyadi, lebih baik kita urus sendiri coz semua jadi lebih jelas . . .
Salam kenal,
Saat ini saya ikutan unitlink dan baru berjalan 2 bulan. Karena agennya cukup meyakinkan, saya tertarik walaupun sebenarnya waktu itu agak ragu2 juga. Tetapi setelah membaca beberapa pendapat Mas Pri dan masukan yang lain saya jadi ragu apakah perlu diteruskan ikut unit link atau berhenti saja, tetapi kalau berhenti kan premi yang sudah masuk jadi hangus. Sebagai informasi saya juga sudah mengikuti asuransi beasisa berencana dan asuransi pensiun. Mohon saran Mas Pri mengenai kondisi ini. Terima kasih.
# 195 Sebagai perbandingan, saya sudah nyetor 14 bulan.
begitu tau biaya2 siluman yang sebelumnya saya tidak tau dan ketemu blog ini dan baca kontan edisi khusus. langsung saya batalin dan ambil term life, sisanya beli reksadana.
Rgs.
#195: kalau baru 2 bulan lebih baik berhenti saja. premi asuransi yang anda bayarkan itu sebenarnya masuk ke kantong agennya, sedangkan biaya premi yang sebenarnya masih ditalangi perusahaan asuransi dan nantinya tetap harus anda bayar lagi setelah 1 tahun.
- Porsi Asuransi 3,2 juta per tahun
- Porsi investasi 1 juta per tahun
Premi di bayar bulanan (350rb perbulan)
Ini perhitungan unit link sebagai bahan pertimbangan:
UP :
Asuransi dasar (99 thn) 60 jt
Rider:
- Crisis cover 160 jt (65 thn)
- Medical : 120 rb per hari (65 Thn)
- Kecelakaan : 50 jt (60 thn)
Biaya2 yang diibebankan
Tahun I
- Biaya akuisisi : 100% x 3,2 juta = 3,2 juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb (dipotong dari Unit yg
terbentuk di thn ke-2 dst n bisa berubah sewaktu-waktu)
- Biaya Asuransi +/- 980 rb (di potong dari unit yang terbentuk ditahun
ke-2 dst)
Tahun II
- Biaya akuisisi 60% x 3,2 juta = 1,92 juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- 1020 rb (naik berdasarkan umur)
Tahun III
- Biaya akuisisi 15% x 3,2 juta = 480 rb juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
thn ke-2)
Tahun IV
Idem dengan tahun III
Tahun Ke V
Idem dengan tahun III
Tahun Ke -6 s/d Thn ke-10
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
thn ke-2, yang pasti naik terus berdasarkan umur)
Tahun ke sebelas dan seterusnya katanya cuti premi, tapi kalau dana
investasi yang ada ngga cukup untuk bayar biaya asuransi (akan meningkat
berdasarkan umur) maka kita diminta bayar premi lagi, kalau ngga mau
bayar, polis kita lapse (batal)!!!!!
Trus kalo ngga salah, kalo mau nggambil porsi investasi kita di bawah
tiga tahun kena pajak 20%.
Ada yang mau koreksi?
Ada yang punya ide ga, untuk mendidik masyarakat awam tentang unit link?
Dikampung halaman saya banyak sekali korban-korban unit link yang mengatasnamakan asuransi tabungan. Kasian sekali mereka dapat uang dengan bercocok tanam, berternak hewan, dll.
Orang-orang kampung ini hanya tau deposito sebelumnya.
Sekarang berdatanganlah agen2 unit link yang membodohi mereka dgn dalih masuk asuransi, uang ga angus, gratis rumah sakit, kalo sakit kritis dapet duit, cuma bayar 10 thn dicover seumur hidup, etc.
Nah mereka terang tergiurlah, karena sekarang bunga deposito udah kecil banget. Mereka2 tidak tau bahwa di dalam unit link mereka tersimpan resiko investasi. mereka juga berpikir nabungnya cuman 10 thn. Apakah ada yang menjelaskan pada mereka bahwa ada kemungkinan mereka harus bayar premi seumur hidup utk terus mendapat manfaat asuransinya?
Ada juga yg punya anak baru lahir, terus di iming-imungi unit Link dengan baju tabungan pendidikan.
Mereka terang tertarik, karena mikir biaya pendidikan mahal. Pernahkah ada yang menjelaskan bahwa tab pendidikan tsb sangat mahal, untuk UP 100 Jt mungkin hanya cocok untuk kuliah di kandang ayam 17 tahun lagi.
Mereka sangat berterimakasih ke agen2 unit link yang memasukan mereka ke tabungan yang begitu menarik dan menguntungkan. Pernahkan ada yang memberitahu mereka berapa dari uang yang mereka dapet dengan susah payah masuk ke agen di depannya, trus atasannya, atasannya lagi sampai berlevel-level sampai bertahun-tahun, dan juga buat pelesiran keluar negeri (buat mereka luar negeri itu mungkin mimpi pun ga berani)???
Wahai agen2 unit link, begitu anda membaca tulisan2 ini dan begitu tau bahwa yang mereka butuhkan hanya term life, jual lah hanya term life (dan tolong didik mereka untuk sisanya mereka bisa ke bank untuk beli reksadana).Toh manfaatnya buat mereka sama kan?
Bukalah hati nurani anda2, Jgn selalu membodohi mereka2 dengan baju tabungan padahal bukan.
Juga janganlah anda menjual asuransi ke anak baru lahir….. renungkanlah dengan hati nurani yang terdalam.
Kita ngga anti dengan asuransi atau agen asuransi, tapi cobalah untuk jujur terutama ke diri sendiri dulu : di luar komisi yang anda2 dapet, apakah ada manfaat buat orang2 kampung ini beli unit link anda dibanding kan anda jualan term life plus mendidik masyarakat untuk berinvestasi (deposito, reksadana, saham, ori, emas).
Cepat atau lambat orang2 yang di bodohi tersebut akan tau juga bahwa yang mereka beli bukan tabungan. Begitu mereka sadar trus kecewa, maka bukankah niat kita semua untuk mendidik masyarakat sadar berasuransi akan jadi bumerang?
Mungkin kita bisa juga kali minta yayasan konsumen untuk mewarning masyarakat akan resiko investasi terutama unit link (mereka nganggap tabungan)
#199: wah pengalaman saya lebih parah lagi. di tempat saudara saya sekolah, seluruh siswanya dikasih penawaran unit link ‘yang itu tuh’
Hidup ini banyak pilihan bung! saya nasabah Prudential sejak tahun 2003,pada saat itu harga unit baru terbentuk Rp.2100,- dan sekarang per hari ini sdh sampe Rp.6740,-jadi saya sdh untung berapa persen tuh? Track record PAM asia oke banget! rata2 pertahun bisa berikan return 28,8%. Jadi menurut saya jangan takut dengan unitlink asal proyeksi kita utk masadepan. Unitlink menurut saya adalah ibarat “kopi susu” Asuransi=kopi,investasi=susu. Unitlink adalah kopi susu racikan prudential. Kenyataanya banyak juga tuh,yang pada suka dengan kopi susu. Kalo anda butuh kesaksian ini alamatku= siswoyo_joko@yahoo,co.id / 081 359 34 8040.
So, pak Pri, what can we do?
Saya pribadi sebenarnya gak perduli agen2 itu mau dapet misalnya 1 milyar per agen perbulannya, asal mereka open terhadap biaya2 yang dibebankan, resiko2 investasi mereka jelaskan (inipun saya ragu semua agen mengerti, karena Perusahaan Asuransi itu tuh, malah menggunakan client mereka sendiri yang juga ga ngerti untuk cari korban baru yang lebih ngga ngerti lagi tanpa pake training product segala). Dan yang terpenting menjual sesuai kebutuhan client yang memang sudah mengerti.
Yang terjadi selama ini mereka menjual ke orang yang benar2 BELUM MENGERTI. dari semua teman2 and sodara2 saya yang ikut, kira2 99 % ngga ngerti. Inilah yang menjadi keprihatinan saya.
Makanya begitu saya baca blog ini dan mempelajari polis saya, langsung sodara2 dan temen2 yang blom join agar tahan dulu, sebelom saya jelaskan ke mereka apa itu unit link. Karena kita gak akan berharap banyak terhadap agen (menyangkut pendapatan mereka)
untuk menjelaskan produk ini secara detail BIAYA2 dan RESIKO2 pada unit link.
Saya banyak mereferensikan blog ini (tanpa izin : saya mohon maaf),ini agar semakin banyak yang baca dan bisa mendapat manfaatnya.
Saya background S1 keuangan, Mantan agen asuransi tradisional 10 thn lalu (so, udah ngerti asuransi, training produk 2 minggu nonstop), udah berinvestasi reksadana saham, emas dan 2 thn lalu langsung beli saham dengan online trading (ga pake broker), tontonan saya bloomberg, cnbc dan tinggal di kota terbesar di Negeri tercinta.
Bayangkan untuk background seperti diatas masih bisa ‘dikadalin’(atau emang saya yang lugu baca : bodoh)dengan ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’
pertanyaan terbesarnya: BAGAIMANA dengan masyarakat awam dengan latar belakang petani, pedagang, peternak, penambang, yang kesehariannya nonton sinetron yang menjual mimpi, bisa MENGERTI tentang ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’?
#201
Reksadana saya dari yang harganya 9000-an sekarang 11.500-an. cuman 1 bulan, hehehe. 5 thn yang lalu baru 2000-an juga, hehehe.
Cuma bedanya saya ngga kena biaya akuisisi dan administrasi, 100 % langsung. Saya mau nanya brp porsi investasi nya? udah break even blom dengan semua2 biaya yang dikeluarkan. Karena sesuai dengan perhitungan saya untuk break-even kalo porsi investasinya 50:50 sekitar tahun ke-7.
wake up bung, disini kita tidak bicara return, karena kalo bicara return, saat ini ada reksadana saham yang bisa ngasih return diatas 100% pertahun di rata-rata 2 thn terakhir. Pahamilah bahwa dengan pameo investasi High return high risk (atau anda tidak tau?).
Kita bicara kalo umpama dengan menggunakan manajer investasi yang sama, maka Return reksadana + term life jauh diatas unit link manapun. Karena biaya overhead Reksadana + term life jauh lebih kecil.
#198: Mas, biaya2 apa saja yang dikenakan saat melakukan pembatalan unit link?
# 201. Hidup ini banyak pilihan bung! saya nasabah Prudential sejak tahun 2003,pada saat itu harga unit baru terbentuk Rp.2100,- dan sekarang per hari ini sdh sampe Rp.6740,-jadi saya sdh untung berapa persen tuh? Track record PAM asia oke banget! rata2 pertahun bisa berikan return 28,8%.
——————————–
Yeah rite, kapan itu ketemu orang prudent katanya pake schroders dengan return 58%, sekarang pake PAM. Heran, satu perusahaan bisa beda2 bunyinya
Anyway kalo cuman 28,8% ya bisa diketawain sama MI lokal. Mau pake MI luar apa lokal, yang penting aman.
Tipikal orang indonesia, dikasih tau barang luar negeri langsung ijo matanya.
# 206
Sorry, sekarang masih dalam proses oleh agennya (temen sendiri), jadi blom tau apa aja biaya2nya.
karena baru bln ke-14, saya juga gak berharap ada uang yang kembali. Anggap uang sekolah deh, kalo ada yang balik anggap menang buntut
Cuma skrg udah beli term life 10 thn.
Mungkin pak Pri bisa membantu menjelaskan pertanyaan ini.
#201:
anda bicara seakan2 di reksadana tidak begitu. padahal kenyataannya kurang lebih sama. saya ambil contoh reksadana fortis ekuitas. tahun 2003 harga NAB-nya di Rp 1800-an, sekarang sudah Rp 8200-an.
dan ada satu hal lagi kenapa membandingkan NAB reksadana dengan harga unit di unit link itu bukan perbandingan apple to apple. di reksadana, ongkos manajemen diambil dengan mengurangi harga NAB setiap tahun, sedangkan jumlah unit tidak akan dipotong. sedangkan di unit link, ongkos manajemen diambil dengan memotong harga unit. jadi harga unit di unit link itu belum bersih, kalau mau menghitung pendapatan bersih yang diterima nasabah harus dengan memperhitungkan biaya2 ini. berapa jumlah sebenarnya yang merupakan hak nasabah mungkin cuma bisa dilihat di laporan bulanan/tahunan yang diterima nasabah.
biasanya harga produk kopi susu sebanding dengan beli kopi dan susu terpisah, bahkan bisa jadi lebih murah. gak ada tuh biaya akuisisi kalau kita beli kopi susu
#202:
kalo soal asuransi ini saya pribadi agak pesimis kecuali kalo regulator mau buka mata. yang bisa kita lakukan ya cuma seperti ini. bikin tulisan2 yang mencerahkan, dan kasih tahu sebanyak mungkin teman2 dan anggota keluarga.
no problem pak! makin banyak yang tahu makin bagus
#206:
biaya2 ini beda2 tiap unit link. ini harus dipelajari masing2 nasabah karena exit strategy yang paling menguntungkan untuk setiap nasabah bisa jadi berbeda.
tapi untuk kasus yang umum mungkin kira2 seperti ini:
* belum 1 tahun: batalkan saja, gak usah pikir panjang
* nyaris 3 tahun tapi belum 3 tahun: tunggu sampai 3 tahun baru setelah itu batalkan
kalo soal asuransi ini saya pribadi agak pesimis kecuali kalo regulator mau buka mata
———————-
Mudah-mudahan ada temen2 yang wartawan ekonomi atau bisnis (seperti kontan) yang membaca tulisan-tulisan ini dan mempublikasikannya sebelom berjatuhan korban-korban baru.
SAYA YAKIN YANG BERKOMENTAR DISINI PASTI PUNYA TENDENSI MASING2,IBARAT SEMAKIN TINGGI POHON SEMAKIN KENCANG TIUPAN ANGINNYA,DAN ITULAH YANG TERJADI PADA PRUDENTIAL. TAPI BAGAIMANAPUN PRUDENTIAL TETAP UNGGUL,TERDEPAN DAN FAKTANYA TETAP NOMOR 1,NUMERO UNO,NUMBER ONE DALAM LIMA TAHUN BERTURUT-TURUT. SAYA KIRA DISINI PAK PRI HANYA BICARA UNTUNG2AN/RETURN,TETAPI MANFAAT ASURANSI KURANG DISENTUH,ASAL TAHU SEMUA BAHWA TAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN ASURANSI.
#213:
saya tidak pernah bilang untuk tidak ngambil asuransi, saya bilang asuransi dan reksadana itu lebih menguntungkan dan lebih maksimal jika diambil terpisah. di sini saya membahas lebih banyak dari sudut asuransinya, tapi coba baca tulisan saya yang satu lagi
#213
Hehehe, anda berkomentar begitu menunjukkan anda tidak mengerti apa yang di bahas.
Atau anda takut banyak nasabah seperti saya? yang setelah baca blog ini tanpa mikir panjang melikuidasi unit link nya?
#213:
peringkat asuransi bukan satu2nya faktor yang harus dipertimbangkan nasabah. asuransi bisa yang terbaik, tapi produknya belum tentu.
kalau anda mau beli sabun di supermarket, apakah anda:
* memilih sabun yang kualitasnya paling baik; atau
* memilih sabun yang diproduksi perusahaan yang keuntungannya paling besar?
#211
Thanks Pak Pri atas pendapat Anda.
Saya sudah membaca dengan teliti polis unitlink saya tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai biaya2 yang dikenakan jika kita ingin membatalkan polis tersebut.
Sekedar sumbang saran,
Bagi yang cuma punya polis unit link dan mau menutup polis nya, sebaiknya cover dulu dengan term life berikut rider sesuai kebutuhan.
ini kita lakukan agar kita terus dicover asuransi (term life)
# 207
Yeah rite, kapan itu ketemu orang prudent katanya pake schroders dengan return 58%, sekarang pake PAM. Heran, satu perusahaan bisa beda2 bunyinya
Anyway kalo cuman 28,8% ya bisa diketawain sama MI lokal. Mau pake MI luar apa lokal, yang penting aman.
Tipikal orang indonesia, dikasih tau barang luar negeri langsung ijo matanya.
___________________________
Bahagialah kita2 yang mencintai produk dalem Negeri baca : LOKAL)
Hari ini IHSG cetak Rekor tertinggi sepanjang masa 2464,94 +2.72%
(kebayang dong yang punya reksadana schroder, fortis, trimegah, panin dll (yang punya base saham2 emiten di BEJ)
Semoga bullish terus berlanjut
mas bravo, emang teori & konsepnya begitu kalo reksa dana yg terdiri dr saham2 Indonesia selalu punya return lebih tinggi dibandingkan yg terdiri dr saham2 negara maju. silakan check website MSCI-Barra u/ konfirmasi indeks per negara & regional.
fyi, proporsi saham asing di reksa dana yang dikelola MI lokal cuma boleh maks 15% dr total portfolio.
kalo MI asing menawarkan produknya di Indonesia, mungkin utk kebutuhan profil risiko yg lebih rendah.
#220
Setuju, Tahun kemarin yang bagus tuh bursa shanghai, rusia, dan jakarta.
Om saya beli reksadana di MI singapura yang sebagian besar portofolionya emiten2 di bursa shanghai. Cuma yang kejadian, index shanghai melejit lebih dari 100%, reksadananya cuma ngasih return 50-an persen alias under perform.
Jadi MI-MI yang walaupun induknya ASING (fortis, Schroder, Manulife) atau yang full LOKAL (panin, trimegah, danareksa, makinta, dll) yang portofolionya 85 % emiten di BEJ dan max boleh 15% emiten Asing cukup perform.
Tapi ada Unit Link perusahaan asuransi tertentu selalu menjual Brand Asing krn orang Indonesia begitu denger Asing selalu metanya IJO. Padahal banyak sodara saya yang beli langsung reksadana asing malah under perform
Mas Pri dan mbak Bravo,
1. Untuk Reksadana Saham selama 25 tahun, lebih untung mana antara setor rutin 250rb perbulan atau 3 juta per tahun?
2. Hasil Reksadana Saham baru bisa dinikmati setelah di-redeem dan tidak mengenal keuntungan per hari, per bulan atau per tahun (TRUE or FALSE)?
3. Jika no 2 == TRUE, bagaimana menghitung prediksi angka/return Reksadana pada komentar mbak Bravo no #166 untuk tahun ke 10, 20 dan 25?
4. Si A punya polis Term Life dengan UP 500jt, Reksadana 3 juta per tahun, dan asuransi kesehatan 100% dari perusahaan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap dan PHK dengan uang PHK sangat kecil,sementara Reksadana belum memiliki return yang cukup, apa saran dari mas Pri dan mbak Bravo? Setahu saya, rider Kecelakaan pada term life hanya mengganti biaya perawatan dan tidak memberikan UP seperti di asuransi term life.
Thanks
#222
1. Kalau anda bisa memperkirakan/menganalisis gerakan IHSG secara teknical, mungkin ditabung dan masuk pada saat bursa lagi crash/koreksilebih bagus ditabung Setahun sekali dan langsung masuk gede di harga murah.Cuma tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi bursa akan naik seberapa tinggi atau jatuh sampai seberapa dalem.
Jadi saya lebih menyarankan 250 rb per bulan, karena kita bisa dapet harga yang lebih bervariasi dan secara rata2 kita pasti dapet harga murah lebih banyak. Contoh misalnya 6 bulan:
harga 2000 kita dapet 125 unit
harga 1500 kita dapet 167 unit
harga 1000 kita dapet 250 unit
harga 2500 kita dapet 100 unit
Harga 1250 kita dapet 200 unit
harga 3000 kita dapet 83 unit
jadi harga rata2 kita selama 6 bulan 1.500.000 /925 = 1621.62
Metode ini dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA), kalo di Indo jadi Rupiah Cost Averaging (RCA)
Saya masih menggunakan metode ini walaupun cukup familiar dengan gerakan saham di BEJ (karena kemampuan analisis teknikal saya masih payah.
2.FALSE, RD selalu berfluktuasi setiap hari Bursa. Kalo anda merasa return sudah sesuai target, RD saham bisa diredeem kapan saja, even baru satu hari, waktu rebound dari crash bulan agustus kemarin RD saham juga mengalami gejolak yg signifikan. Cuma kalo redeem kurang dari 1 thn biasanya ada redemption fee yang berkisar 0-2 % (tergantung RD),diatas 1 thn rata2 redemption fee ini free.
Tapi kalo boleh saya saran, kalo beli RD saham lebih disarankan untuk jangka panjang, min 10 thn. Karena dengan gejolaknya saham, maka resiko juga makin gede.
tapi untuk jangka panjang memang RD saham terbukti memberikan return tertinggi di banding RD yang lain.
Untuk diversifikasi dan lindung nilai (hedge), saya sama pak Pri sepakat EMAS terbaik.
3. Itungan saya sederhana dengan menggunakan bunga mejemuk dan dengan asumsi return 25 % pertahun (biasanya ga bisa rata, bisa minus bisa juga jauh lebih tinggi, makanya pake metode RCA, kalo NAB nya turun jauh, malah kita seneng (kan bisa ngumpulin unit lebih banyak).Anda bisa buka excel, dan ada rumus2nya.
4.Setahu saya Rider AD&D (kecelakaan dan cacat tetap) bisa menempel di produk dasar asuransi manapun termasuk Term life. Preminya biasanya 2 per mil (gak tau udah berubah blom)
#222
4. Tambahan, Rider AD&D di produk asuransi manapun sifatnya sama baik itu nempel di Termlife, whole life, endowment, atau unit link. Bisa diklaim sesuai UP dan premi yang kita bayar. Jadi bisa di pasang di produk dasar manapun dan bisa dilepas kapan saja. Ngga cuma bayar biaya perawatan tapi bisa claim sesuai kausul. Untuk cacat tetap biasanya claim 100% dari UP, satu jari pun putus bisa claim. kalo ga salah misalkan UP dasar kita 500 juta, maksimal UP AD&D 1 Milyar (2 X), boleh kurang dari 500 jt.
# 222,
2. mungkin maksud anda seperti deposito/tabungan? yang memberi bunga bulanan/harian?
Di Reksadana ada yang namanya NAB (nilai aktiva bersih)
Yang berubah adalah nilai NAB nya ini (naik/turun)
misalkan kalo NAB kita beli 5000, trus naik 50% jadi skrg NABnya 7500, begitu pun kalo turun 50 % NABnya jadi 2500.
Unit yang udah kita beli bisa kita redeem kapan saja dihari bursa dengan harga yang berlaku di hari tsb. kalo kita punya 2000 unit, mau jual 500 monggo, 1000 monggo, 2000 monggo. asal jangan jual 5000 unit.
#222
Salah satu yang saya sukai dengan mgambil asuransi dan investasi secara terpisah, saya lebih fleksibel ngatur keranjang saya.
Contoh : biaya asuransi saya per tahun 1,5 jt, kalo di unit link akan dipotong baik itu pasar lagi up (unit yang dipotong sedikit) atau down(unit yang di potong banyak).
Tapi kalo terpisah, saya ngga akan redeem unit saya untuk bayar biaya asuransi begitu bursa lagi crash (malah saya nambah) dan waktu eksekusinya jauh lebih cepat.
Juga dari segi MI, kalo kinerjanya underperform saya bisa switching kapan saja. Kalo di unit link di perusahaan asuransi tertentu sampai umur 99 thn(ngga semua, karena saya tau ada unit link yang kontraknya cuma sampai umur 70 thn, ini pun masih sangat lama )
#222
Tambahan (sorry baru kepikiran), sambil masak soalnya
Satu lagi yang saya ga suka dengan unit link adalah waktu saya terbuang sia-sia (rata2 2 thn= untuk unit link yang membebankan biaya akuisisi diawal-awal kontrak).
Sahabat terbaik untuk investasi adalah WAKTU. Perbedaan waktu antara 18 dan 20 thn dengan asumsi saya invest 250rb/ bulan dan return rata2 25% (+/-) 660 jt.
cukup besar kan?
# 226 #222
Salah satu yang saya sukai dengan mgambil asuransi dan investasi secara terpisah, saya lebih fleksibel ngatur keranjang saya.
Contoh : biaya asuransi saya per tahun 1,5 jt, kalo di unit link akan dipotong baik itu pasar lagi up (unit yang dipotong sedikit) atau down(unit yang di potong banyak).
Tapi kalo terpisah, saya ngga akan redeem unit saya untuk bayar biaya asuransi begitu bursa lagi crash (malah saya nambah) dan waktu eksekusinya jauh lebih cepat.
—————————
yoiyoi …
kemaren waktu blackfriday (tangah agustus 2007) IHSG turun sampe 1900an, gw malah inject di RD. Barusan gw redeem. Yield 20%. Dalam hitungan kurang dari 6 minggu.
Unitlink tidak memberikan kemudahan seperti ini, kita bisa masuk dan keluar kapanpun dengan potongan yang lebih sedikit
#222:
tergantung. kalau disetorkan di awal tahun lebih untung 3 juta per tahun. tapi kalau disetorkan di akhir tahun lebih untung 250 rb/bulan. tapi saya setuju dengan mbak bravo, setor rutin saja 250rb/bulan karena penghasilan kita terima bulanan, bukan tahunan.
hasil reksadana saham baru bisa dinikmati setelah diredeem: TRUE, kalau masih dalam bentuk unit ya gak bisa kita nikmati, harus dikonversi dulu dalam rupiah karena itu alat tukar yang resmi.
reksadana saham tidak mengenal keuntungan periodik: FALSE. keuntungan saham itu ada 2: capital gain dan dividen. keuntungan yang periodik itu dividen, tapi di kebanyakan reksadana hasil dari dividen otomatis direinvestasikan kembali ke dalam pokok.
untuk simplenya pake kalkulator ini aja: http://formularium.org/en/10.html?go=62.84
untuk menghitung hasil di masa yang akan datang dari yang anda setorkan saat ini, gunakan bagian ‘to determine future value when interest is compounded’. untuk menghiutng hasil di masa yang akan datang dari setoran periodik, gunakan bagian ‘future of an annuity’
present value PV = setoran yang dilakukan saat ini
payment amount PA = besar setoran yang dilakukan secara tahunan
interest rate r = asumsi perkembangan investasi (untuk RD saham, masukkan saja antara 15 sampai 30%)
number of compounding period n = jumlah tahun
number of periods n = jumlah tahun
untuk rumus matematisnya silakan lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Future_value, sebenernya ini bahan kuliahan kok. yang pernah dapat matkulnya harusnya langsung ingat lagi.
yang mengganti biaya perawatan itu adalah coverage rawat inap, dan bukan kecelakaan. harusnya ada kok yang memberi rider kecelakaan. tapi kalau yang sekarang gak punya, gak susah kok cari asuransi kecelakaan murni secara terpisah. silakan search ‘asuransi kecelakaan’.
Saya baru saja ditawari ansuransi pendidikan dari allianz tapi belum saya approve. setelah baca postingan dari om pri 100% gak bakal ikut. saya orang ndeso pak, jauh dari jakarta ingin mengikuti term life + reksadana caranya gimana? term life dari asuransi mana yang preminya 300 ribu per tahun? di kota saya hanya ada bank BCA, danamon, BNI, Mandiri, BRI dll bagaimna caranya saya bisa berinvestasi lewat danareksa? tolong beri saya pencerahan perusahaan danareksa mana yang bisa bayar cuma 250 ribu per bulan dan kalo bisa transaksinya online di internet. terimakasih
#230:
untuk reksadana, coba manulife (http://www.reksadana-manulife.com). mereka terima nasabah retail langsung tanpa harus lewat agen. dan kalau gak salah mereka bersedia mengirimkan formulir pendaftaran ke tempat2 yang jauh.
untuk term life ini yang saya gak tahu. biasanya term life gak dijual partai kecil. axa mandiri minimal UP 500 jt, sedangkan manulife minimal premi 1 juta/tahun. coba anda research sendiri dengan tanya2 ke beberapa cabang bank.
btw. lokasi anda dimana ya?
PAK PRI SAYA JADI TERHERAN-HERAN DENGAN TULISAN ANDA YANG MENYUDUTKAN PERUSAHAAN ASURANSI UNIT LINK,KALAU SAYA BOLEH NANYA,ANDA DIBAYAR BERAPA SAMA PERUSAHAAN ASURANSI PESAING UNITLINK UNTUK MEMBUAT OPINI PUBLIK SEPERTI INI,INI SAMA ARTINYA DENGAN “BLACK CAMPAIGN” ACUNGAN JARI TENGAH UNTUK PRIYADI.
#232: oh, saya gak dibayar, malah saya yang bayar karena ikutan asuransi hehehe. saya cuma nasabah yang mencari deal yang terbaik
Mas Pri,
Anak saya sudah ikut Unit-link, bulan depan pas 2 tahun. Bagusnya stop aja atau tunggu sampai 3 tahun dulu baru stop ? Rencana saya mau coba reksadana aja.
Salam,
Mama cece
Sabar Pak.
Mas Priyadi bukan melakukan Black Campaign, tapi Mas Priyadi hanya sekedar sharing informasi. Sedangkan informasi yang Mas Priyadi ketahui sebenarnya belum cukup untuk di sharing, misalnya manfaat sebenarnya dari Unit Link.
Harap maklum Pak. Kalau Bapak seorang agen asuransi Unit Link, mungkin bisa membantu sharing di sini ttg manfaat Unit Link. Karena saya beranggap seorang agen lebih profesional dalam menyampaikan produk.
Maaf Bu, kalau saya menyela.
Menurut saya Ibu tetap meneruskan Unit Link, dan ambil reksadana sebagai tambahan. Sebab manfaat Unit Link itu ada 2 :
- jaminan proteksi
- jaminan investasi
Saya yakin ketika Ibu menandatangani kontrak Unit Link, Ibu pasti diberitahukan juga oleh agen mengenai 2 manfaat tsb. Dan tentu saja setiap orang perlu akan kedua hal tsb.
Pada dasarnya gini Bu, reksadana dan Unit Link adalah produk yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Reksadana hanya sekedar alat untuk ber-investasi, sedangkan Unit Link merupakan jaminan investasi jika nasabah terkena resiko hidup.
Jika Mas Priyadi banyak menceritakan kekurangan dari Unit Link, menurut saya adalah hal yang wajar. Sebab analisa Mas Priyadi berfokus pada profit, bukan benefit.
Jika melihat dari segi profit, masih banyak investasi lain yang lebih menguntungkan daripada ikut reksadana.
Ibu tentu tau bahwa hidup ini bukan hanya sekedar untuk cari uang, orang juga butuh yang namanya jaminan. Saya yakin, karena benefit jaminan inilah yang dulunya membuat Ibu masuk Unit Link.
#234:
kalau saya stop saja bu, untuk menghindari kerugian lebih lanjut di masa yang akan datang. kemudian alihkan nilai polisnya ke reksadana. tapi sebelum anda batal ada baiknya ibu daftar dulu ke term life.
#235:
kalau ada agen unit link yang bilang unit link bagus itu sih sudah biasa
. sales kecap pasti bilang kecapnya nomer satu 
# 234
Menurut saya, yang dijadikan tertanggung jangan anaknya bu, harus kepala keluarga yang menjadi sumber pencari nafkah.
# 232
Anda mewakili siapa, Institusi atau pribadi?
Wah.. diskusi kita ttg unitlink vs termlife+reksadana akan jadi semakin menarik dan memasuki babak baru seandainya anda mewakili institusi anda dalam memberikan respon atas diskusi ini.
Silakan anda mengutarakan alasan keunggulan/kelebihan unitlink dibandingkan dengan termlife+reksadana, saya kira kita semua yang terus mengikuti diskusi ini selalu bersikap terbuka terhadap semua informasi. Siapa tau alasan yang anda utarakan nanti bisa membuat kita mempertimbangkan kembali untuk ikut unitlink.
Pak Pri dan mb bravo, mohon sarannya. Saya tertarik asuransi termlife MMM kontrak 5 tahun dengan UP 500 juta + kecelakaan 500 juta + sakit kritis 250 juta (jika kena, mengurangi UP jiwa) + waiver (waiver dibayarkan stlh 6 bulan terkena cacat tetap/sakit kritis yang mangakibatkan tidak bisa bekerja kembali)dengan besar premi 3 juta per tahun. Kira-kira kemahalan gak? Untuk asuransi kesehatan, saya udah ada calon lain. Ditunggu pendapatnya..Trims.
#241: umur berapa? wanita/pria? merokok/tidak?
btw, asuransinya apa nih? kalau gak keberatan mohon email saya karena saya sedang mencari term life yang CI-nya mengurangi UP jiwa.
Saya wanita usia 34 tahun tidak merokok. Manulife Proactive Plus/MPP (5 tahun). Setelah 5 tahun baru ada kenaikan premi (kata agennya. Pak pri kok pilih CI yang mengurangi UP? Kenapa ? Soalnya ada juga termlife Allianz Smart Life/ASL, UP 500 juta + kecelakaan 500 juta + sakit kritis 250 juta ( tidak mengurangi UP) + waiver tapi preminya lebig mahal yaitu hampi 4,5 juta. Mhn jawaban pak pri kenapa pilih yang sakit kritis mengurangi UP? dan mending mana MPP atau ASL? Kemahalan gak? Trims.
#243:
rasanya biaya segitu masih reasonable. tapi terus terang saya gak ngambil CI & gak sempat research kiri kanan tentang CI. coba tanya dulu ke commonwealth life atau sun life, mereka punya term+CI juga. atau kalau bisa sekalian research yang lain2nya juga hehehe.
gini. tips saya di posting sebelah itu gak memperhitungkan CI. kalau misalnya nasabah seorang pekerja tapi gak punya tanggungan, maka dia gak perlu asuransi jiwa, tapi dia tetap butuh CI kalau2 dia terkena penyakit kritis, dia gak bisa kerja lagi tapi tetap hidup. karena saya gak bisa nemu asuransi CI tersendiri, maka term life + rider CI yang memotong UP dasar adalah alternatif berikutnya.
# 241
Produk dan UP yg saya ambil sama dengan anda hanya tanpa waiver.
Gini Mas Priyadi. Ada baiknya mas merevisi tulisannya.
Pada dasarnya Reksadana bertujuan untuk berinvestasi, sedangkan Unit Link berfungsi untuk proteksi.
Saya cukup setuju dengan komentar beberapa orang di atas, bahwa Mas Priyadi hanya membahas dari segi value. Sedangkan dari segi benefit tidak dibahas sama sekali.
#244
Saya cuma sempat lihat sekilas commlife dan takaful falah tapi coverage dan info yang didapat tidak sebanyak MPP dan ASL.
#246:
tulisan yang ini memang menitikberatkan urusan investasi. untuk urusan asuransinya, silakan baca tulisan saya yang satu lagi.
Saya sependapat dengan Mas Priyadi. Saya juga seorang Agen Asuransi Profesional. Dan saya mengerti bahwa Mas Priyadi memberikan informasi yang sanga proporsional. Karena saya tahu ada beberapa Agen Asuransi dari Perusahaan Asuransi yang tidak punya Fund Manager, jualannya ngawur. Nasabah dikadalin. Mereka Banyak ngomong tapi gak mau jujur tentang Alokasi Biaya Premi. Asuransi Unt Link yang sebenarnya SANGAT BAGUS, Image - nya jadi jatuh gara-gara Agen Asuransi yang bego itu. Mestinya mereka harus fair menjelaskan tentang bagaimana mekanisme Unit Link. Jadi pendapat saya : Mas Priyadi sudah Proporsional. Unit Link dengan Asuransi + Proteksi yang terpisah keduanya sama bagusnya. bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk saling melengkapi. Tinggal bagaimana kebutuhan Nasabah aja.
Hai para Agen Asuransi…. ingat lho : Anda tidak boleh hanya berfokus pada Komisi saja. Tetapi lebih penting untuk berfokus pada Kebutuhan Nasabah. Jadi berikanlah informasi yang benar & lengkap.
wow…sepertinya perbincangan ini sangat menarik saya untuk berkomentar. Saya seorang agen asuransi yang setiap hari ngomongin unit link ( proteksi dan juga investasi ). Jadi juga ada ngomongin produk dari asset management seperti reksadana, obligasi, saham, pasar uang.
Sesungguhnya 3 pilihan untuk keuangan kita ( bank, asuransi, dan asset management ) memiliki fungsi dan keunggulan masing2. Jadi sangat tergantung dengan apa tujuan daripada perencanaan keuangan tersebut. Tidak semata mata ini lebih baik atau paling baik. makanya, agen yang profesional akan selalu menanyakan apa tujuan investasi tersebut terlebih dahulu. Karena itu PASTIKAN ANDA SEMUA MENDAPATKAN SEORANG FINANCIAL CONSULTANT yang berkomitmen dan profesional.
Banyak keunggulan, dari perusahan besar, tapi kalau konsultannya tidak benar, maka sangat besar kemungkinan keunggulan tsb akan bisa mengecewakan.
untuk anda yang ingin melihat lebih jauh, silakan mampir ke : http://www.*******.com atau terus ikuti diskusi ini lebih jauh.
Terimakasih pak priyadi, sangat senang klo saya bisa bertemu dengan anda. Karena banyak hal yang pak pri belum jelaskan dengan unit link. Mungkin tidak seperti yg pak pri bayangkan. saya tunggu…
SUKSES SELALU.
/
Mas Pri, saat ini saya kerja di perusahaan yang ngasih biaya kesehatan saya+istri+3anak 100% (no limit), saat ini saya asuransi jiwa, unit link (yang dah terlanjur kebeli) dan mulai reksadana kecil-kecilan. Yang saya tanyakan: perlu gak ya ambil asuransi kesehatan? karena setelah pensiun benefit dari perusahaan sudah tidak saya terima lagi. ato ada ga agen asuransi yang bisa cover usia di atas usia pensiun?
#251:
pensiunnya berapa tahun? asuransi kesehatan biasanya maksimum cuma bisa sampai 65 tahun.
Pensiun umur 55tahun. gimana kalau ngambilnya beberapa tahun sebelum pensiun?
#253:
bisa dicoba. beberapa asuransi kesehatan gak perlu medical lagi sebelum tahun tertentu. coba ditanya2 saja mulai sekarang.
TO : PRIYADI.
Yang jadi masalah sebenarnya bukan unitlink atau reksadana, karena keduanya produk tersebut ada plus dan minusnya. Karena tidak ada sesuatu yang sempurna didunia ini.
Masalah yang sebenarnya ada pada diri Anda sendiri. Ngaku aja, Anda sedang frustasi kan, karena pasar Anda di Reksadana banyak diambil oleh unitlink.
Anda berlagak profesional tetapi sesungguhnya kampungan, buktinya anda menjelekkan produk lain.
Ingat bung, ada hukum tabur tuai. Siapa menabur pasti menuai. Kalau Anda menabur sesuatu yang baik, anda pasti menuai yang baik, sebaliknya kalau anda menabur yang jelek pasti anda akan menuai yang jelek juga. INGAT ITU!!
#255:
wtf? orang beli unit link atau reksadana saya gak dapat untung sama sekali kok
. saya cuma nasabah yang mencari deal yang terbaik 
Pak pri, saya baru ikutan membeli beberapa RD saham. Tapi sekarang IHSG lagi turun terus. Katanya saat harga turun, justru itu saat terbaik kita untuk membeli ya?
Saya mohon saran juga untuk produk investasi jangka pendek selain emas dan apakah RD pendapatan tetap masih feasible, mengingat kejadian yang lalu? Trims atas jawabannya.
Ga jg kok, hari ini ihsg dah rebound.
Indeks naik +/- 100 poin dan bertengger di level 2553.80 Entah besok, mudah2an tetap ok terus…
#257:
kalau RD saham saya setor pake mata terutup aja
. dengan menyetor nominal kecil secara rutin harusnya bisa meminimalkan resiko beli terlalu mahal. kalau pasar lagi fluktuatif seperti ini, frekuensinya bisa ditingkatkan lagi, dari sebulan sekali jadi misalnya seminggu sekali. buat saya yang bukan orang ekonomi, jauh lebih produktif seperti ini karena gak mengganggu konsentrasi saya ke pekerjaan utama saya.
untuk saat ini saya cuma pakai saham dan emas saja.
Busyet..baca dari atas ampe bawah pegel nih leher.
Saya ikutan urun rembug aja :
1. Mo asuransi, mo investasi atau gabungan semuanya tergantung kebutuhan ( bukan keinginan ). Jadi bisa saja setiap orang punya pandangan berbeda beda tentang ini.
2. Kalau mo cari yang terbaik susah juga, at least mendekati, tapi itukan versi kita. belum tentu orang lain sependapat
3. Kalau ngomongin masalah agen, emang dituntut kejujuran yang tinggi.Pokoknya kalo ngejelasin yang lengkap biar konsumen ga gondok belakangan.
4. Saya ga setuju kalo kita terus terusan memojokkan seorang agen. apalagi udah menyangkut komisi. Apa iya seorang agen harus membuka jumlah komisinya ke konsumen??itu hak dia kan. Yang penting kita butuh kejujuran dr seorang agen
5.Buat Mas Pri, sekedar kritik aja. Kalo saya baca tulisan2nya kok kayaknya benar2 membuat image unitlink jelek ya?? Ga boleh gitu Mas. Namanya juga cari rejeki, kan udah ada yang ngatur.Share pendapat bagus, apalagi ditambah dengan tidak menjelek2an yang lain
Piss…
#260
1-3. Tiap org punya pandangan yang berbeda, tapi pasti bisa dicari mana pandangan yang paling benar.
4. Saya pribadi setuju agen harus transparant juga masalah komisi yang mereka peroleh, bagaimanapun itu adalah uang saya, dan saya berhak tau kemana aja uang saya akan mengalir, jika dirasa komisi bagi agen itu wajar saya pasti Acc, tapi kl ngak, mendingan cari perusahaan asuransi yang lain atau cari produk yang lain, dimana saya merasa bahwa saya merasa mendapatkan harga dan nilai yang pantas bagi uang saya.
5. Ini bukan masalah menjelekkan, tapi bagi saya pribadi setiap produk dari itu punya kelebihan dan kekurangan, nah kl memang dirasa kekurangannya lebih besar kenapa harus menutupi kekurangan tersebut. Kl bagus dibilang bagus, kl jelek ya harus berani dibilang jel, saya rasa cukup fair. Nasabah seperti saya berhak untuk mendapatkan informasi yang sedetil2xnya dari tiap produk, dan saya pribadi merasa produk UL merupakan produk yang buruk.
Saya rasa posting Mas Priyadi cukup relevan dan pendapat2xnya bisa diterima dengan logika. Saya sendiri berterimakasih kepada Mas Priyadi telah membuka mata saya ttg apa itu UL.
salam kenal,
Saya berterimakasih sama P.Pri atas postingnya yang sangat edukatif. Ini membuat saya menyesal karena ikut asuransi dengan unit link dan tidak tau beda antara asuransi term life dan whole life itu.
Sesudah saya check ulang ternyata dengan premi 6 juta setahun, saya cuma dapet uang pertanggungan 40 juta (yang sebenarnya gak butuh2 amat) dan investasi. Dan setelah saya desak financial advisornya baru bilang kalo ada asuransi term life dengan 1,5 juta per tahun dan UP 500 juta, jauh lebih besar, dan kalo sisanya saya investasikan sendiri di reksadana, seharusnya hasilnya lebih bagus.
Bener2 pelajaran yang mahal.
Saya minta bantuan saran dari P. pri dan yang bukan agen asuransi,apakah saya harus menhentikan asuransi saya (2 asuransi, axa pendidikan dan dan dana sejahtera), yang baru sejalan setaun pas?
Saya coba membatalkan, tapi kok rasanya gak enak sama advisornya?
#260:
kebutuhan gak ada hubungannya dengan bahasan saya. saya cuma menyimpulkan, bahwa untuk perlindungan yang sama, term life + reksadana akan lebih maksimal daripada unit link. hasilnya sudah saya hitung secara kuantitatif di sini: http://priyadi.net/archives/2007/10/18/hitung-hitung-asuransi-unit-link-vs-terpisah/
kalau dia gak mau kasih tahu, saya juga punya hak untuk tidak beli lewat dia. agen yang jujur tidak perlu menutup2i hal ini.
oh tidak. saya tidak membuat image unit link menjadi jelek. saya cuma cerita apa adanya saja dari sudut pandang nasabah. kalau ada yang membuat jelek mungkin itu karena unit link memang sudah jelek dari sananya
#262:
kalau menurut saya lebih baik batalkan, karena dalan 1 tahun belum semua overhead unit link sudah anda bayarkan. selain itu anda jadinya punya double coverage dan double biaya administrasi juga, karena sepertinya ada manfaat yang overlap antara axa pendidikan dan dana sejahtera.
kalau enak gak enak kadang2 memang susah pak, untuk ini silakan diputuskan sendiri, saya gak bisa bantu
.
# 262
Sebelumnya saya ikut salah satu produk UL tetapi baru berjalan 3 bulan dengan premi 500 ribu/bulan, setelah membaca artikelnya Mas Pri dan temen-temen yang lain saya dapat mengetahui lebih jelas produk UL dan reksadana. Dengan mendapat pencerahan tsb akhirnya saya membatalkan UL. Waktu itu memang agennya bertanya juga kenapa membatalkan UL saya. Dari 1,5 juta yang sudah disetorkan saya mendapat pengembalian sekitar 600 ribuan.
Wew… TOP bgt buat Priyadi…
aku fans beratmu…
mulai tertarik baca artikel dari Priyadi mulai dari asiabersama dsb…
Semua tulisan Mr.Priyadi ini bener2 ngegemesin..
Smart,,berdasarkan pengalaman dan fakta,,up date,,,,
Reksadana,here i come….
Thanks Mas Pri
Wew Luv u so much…
^_^
DEDU
Thanx atas posting dr teman2 terutama Om Pri dan Tante Bravo. Skrg sy jadi tau + dan - antara UL dan Term + Rsd.menurut pendapat sy artikel2 dr Om pri & Tante Bravo memang reasonable,relevan dan pendapat2nya bisa diterima dengan logika. sy tdk bermaksud jelek ” SARAN SY kpd teman2 jangan terlalu cepat mengambil keputusan walaupun sudah ada fakta2 maupun pendapat2 yg bisa diterima dng logika, karena keputusan yg anda ambil anda sendiri menanggung resikonya bukan orang lain walaupun itu atas petunjuk orang lain yg sangat pintar. hal yg kata org (kelihatan) jelek belum tentu jelek dan yg baik belum tentu baik “.Mohon MAAF SEBESAR-BESARNYA jika OM & TANTE tersinggung dng kata-kata sy.OK. ALWAYS LEARN and OPEN YOUR MIND.

ikutan sharing ah..bebas khan
, pendapat saya sih kalo ikut unit link ( = simple aja, beli satu dpt dua proteksi+investasi ), jd ngak pusing2.
, yg penting kita beli dr perusahaan yg bonafide kls dunia, ada historical returnnya, portofolionya jelas (ada fundfactsheetnya) nilai nav investasinya transparan ada di koran bisnis, (AXA Maestrolink equity bagus menurut saya).. Ambil contoh : dgn menyetor 1 juta di unit link, tiba2 bsk terjadi resiko hidup (kecelakaan/sakit/meninggal) bisa langsung keluar manfaatnya berupa Uang Pertanggungan/biaya rawat inap, etc,… nah skrg bandingkan dgn setor 1 juta lgs ke reksadana , kejadian nya sama bsk terjadi resiko hidup, apa yg didapat dari reksadana
nothing , malah yg udah disetor diambil lg buat biaya ??..so , jd ambillah sesuatu yg bisa memberi manfaat yg maksimal buat diri sendiri…
tku peace
#267: berinvestasi di reksadana tentunya bukan berarti gak ngambil asuransi sama sekali, tapi tetap mengambil asuransi jika diperlukan secara terpisah.
silakan baca dua posting saya yang berikut ini jika masih belum jelas:
* tips membeli asuransi jiwa
* hitung-hitung asuransi unit link vs terpisah
mo komentar dikit, bagi yg ikut term life (yg tiap tahun/periode perpanjang kontrak)
HATI HATI : apabila anda di tengah jalan terkena penyakit, saya yakin perpanjangan kontrak anda akan DITOLAK, bagi perusahaan asuransi yg merupakan perusahan yg mau cari untung alias bukan yayasan sosial, buat apa terima perpanjangan kontrak yg sudah jelas2 nasabah tersebut sakit (perusahaan akan keluar duit bayar claim nasabah), walaupun perusahaan asuransi ada yg kasih garansi bahwa perpanjangan akan di terima