14 September 2004

Orang Indonesia dan Iming-Iming Uang

Posted under: at 01:32

Membaca komentar Enda Nasution pada jurnal saya tentang Anne Ahira saya jadi ingat sebuah kejadian yang diceritakan oleh Ibu saya.

Ibu saya adalah seorang pengusaha wartel di kota kembang Bandung. Pada suatu hari, masih dalam suasana masih pagi, ketika Ibu saya sedang mendapat giliran menjaga wartelnya, datang seorang Ibu yang mungkin berumur sekitar 35 tahunan. Ibu ternyata adalah langganan wartel, tentu saja Ibu saya menyapa beliau dengan baik. Mungkin kira-kira ucapannya seperti ini “Apa kabar Bu? Ada perlu apa?”.

Ibu itu kemudian menjawab “Saya mau menelepon ProXL. Tadi saya dapat SMS dari ProXL, katanya saya menang undian berhadiah dari ProXL.” Ibu saya adalah seorang yang sangat observant dan waspada (sama seperti anaknya ini), kontan langsung bertanya: “Undian apa Bu? Kalau boleh tahu bagaimana isi SMSnya?”. Ibu Itu menjawab “Saya menang undian dua puluh juta rupiah dari ProXL, syaratnya saya harus membacakan kode pulsa ProXL 100 ribu sebanyak 10 buah ke nomor telepon ini.” LanjutIbu itu “Saya datang kesini karena pulsa telepon saya habis.”

Ibu saya yang sarat pengalaman tentunya sudah paham model-model penipuan seperti ini. Berdasarkan informasi yang sudah Ibu saya dapatkan pun tentu saja Ibu saya punya pemikiran bahwa ini adalah praktek penipuan. Ibu saya tidak perlu mencek sendiri ke ProXL sebelum mengemukakan pendapatnya bahwa hal tersebut adalah penipuan. Jawaban Ibu saya kira-kira adalah “Bu, itu kemungkinan penipuan. Coba Ibu cek dulu ke ProXL supaya Ibu yakin itu bukan penipuan”. Jawaban yang sangat masuk akal bukan?

Lalu apa yang terjadi? Tidak disangka-sangka Ibu itu kemudian marah-marah, “Bu! Saya ini pelanggan ProXL, tadi saya dapat SMS dari ProXL kalau saya menang undian! Nomor telepon yang harus saya telepon juga nomor ProXL! Saya tidak suka Ibu bilang begitu! Apa Ibu tidak suka saya menang undian!?”

Ibu saya tentunya sangat terkejut mendapatkan respon seperti itu. Untuk menenangkannya Ibu saya kemudian menjawab “Bu, saya cuma beri pendapat. Kalau Ibu mau telepon saya tidak akan melarang”. Ibu itu kemudian masuk ke bilik telepon. Beberapa menit kemudian keluar dan melakukan pembayaran kemudian pergi.

Keesokan harinya, juga pada shift Ibu saya, Ibu tersebut kembali datang. Kini dengan wajah yang sedih berkata ke Ibu saya “Bu, maaf kemarin saya bicara kasar. Ibu benar, yang kemarin itu adalah penipuan. Saya rugi satu juta Rupiah.”

Mungkin kejadian mirip seperti yang dialami Ibu saya tersebut juga tengah melanda saya, walaupun dalam skala yang lebih besar. Iming-iming uang memang bisa membutakan seseorang. Percuma untuk meyakinkan seseorang yang sedang dalam keadaan gelap mata. Pada jurnal saya sebelumnya pun, saya tidak berusaha untuk mengubah pemikiran siapapun. Hal tersebut murni hasil observasi saya, saya tentunya tidak berkewajiban untuk melakukan investigasi secara menyeluruh sebagaimana Ibu saya juga tidak menelepon ProXL dalam kejadian di atas. Dalam kasus Ibu saya di atas pun, jika ternyata Ibu tersebut memang benar-benar memenangkan undian, saya kira jawaban Ibu saya akan tetap sama. If it looks like a duck, sounds like a duck and acts like a duck then it is probably a duck.

Biarlah pengalaman kita masing-masing menjadi guru kita yang terbaik.

9 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

Sorry, comments are closed at this time.