Bedah Sistem MLM
Karena banyak yang menagih tulisan skema piramida vs. MLM pada tulisan terdahulu, maka saya tuliskan pendapat saya mengenai perbedaan dan persamaan skema piramida dan MLM. Banyak orang yang menganjurkan untuk menghindari skema piramida tetapi bukan MLM, termasuk saya. Tetapi apakah itu sudah cukup?
Skema piramida adalah sebuah model bisnis yang tidak dapat diandalkan. Keuntungan dari seorang anggota murni berasal dari hasil merekrut anggota yang lain. Jika anggota tidak melakukan perekrutan, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mendapat keuntungan. Kebanyakan skema piramida tidak menjual produk, tetapi ada beberapa yang menggunakan ‘produk’ sebagai kedok. Anggota yang berada pada tingkat bawah atau dekat dengan tingkat paling bawah sudah dapat dipastikan merugi.
Di sisi lain, Multi level marketing (MLM) memiliki struktur mirip dengan skema piramida dimana seorang anggota berusaha merekrut orang lain untuk menjadi anggota. Perbedaannya, pada MLM ada produk yang diperjualbelikan. Keuntungan didapatkan jika seorang anggota atau downline-nya melakukan penjualan produk. Artinya, walaupun anggota berada pada tingkat paling bawah, potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka.
Potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka. Yang harus digarisbawahi di sini adalah kata ‘potensi’. Artinya terbuka kesempatan bagi anggota tingkat terbawah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tentunya belum dapat dipastikan bahwa semua anggota tingkat terbawah akan mendapatkan keuntungan.
Bagaimana ciri-ciri MLM (atau bisnis apapun lainnya) yang baik? Yang utama adalah bahwa seluruh anggota secara kolektif tidak merugi. Bisa saja ada anggota-anggota yang merugi secara pribadi, ini wajar dalam bisnis apapun, akan tetapi sistem secara keseluruhan tidak merugi, atau paling tidak tidak merugi secara terus menerus. Ini adalah prakondisi sistem perdagangan yang sustainable dan mengutamakan asas win win solution.
Pada sistem distribusi melalui MLM ada beberapa kelompok yang terlibat:
- Produsen, adalah produsen yang produk-produknya disalurkan melalui sistem MLM.
- Distributor, adalah anggota masyarakat yang direkrut untuk memasarkan produk-produk produsen dan merekrut distributor lainnya dengan imbalan tertentu.
- Konsumen non distributor, adalah masyarakat pengguna produk.
Menghitung untung rugi sistem ini sebenarnya tidaklah sulit, dan tidak perlu melibatkan hitung-hitungan komisi sangat rumit yang tentunya berbeda untuk MLM yang berbeda.
Kunci dari sistem ini adalah kelompok distributor. Pada MLM yang baik, kelompok distributor ini secara keseluruhan tidak merugi. Bagaimana supaya tidak merugi? Materi yang masuk ke kelompok distributor ini haruslah lebih besar daripada materi yang keluar meninggalkan kelompok ini. Untuk mengetahuinya kita harus memilah-milah jenis-jenis transaksi dari sudut pandang kelompok distributor.
Produsen mengirim produk ke distributor.
a. produk untuk dikonsumsi distributor sendiri.
b. produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor.Distributor mengirim produk ke konsumen.
Konsumen membayar harga produk ke distributor.
Distributor membayar harga produk ke produsen.
a. harga produk untuk dikonsumsi distributor sendiri.
b. harga produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor.Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor.
Perpindahan dana akibat proses perekrutan.
a. Dana yang diterima oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki downline
b. Dana yang disetor oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki upline
1b dan 2 saling mengeliminasi. 3 lebih besar daripada 4b, selisihnya adalah profit bagi distributor secara keseluruhan. 1a dan 4a dapat disatukan sebagai transaksi jual beli antara produsen dan distributor, produsen mendapatkan uang harga produk dari distributor, sedangkan distributor tidak mendapatkan profit, tetapi mendapatkan manfaat dari produk. 6a dan 6b saling mengeliminasi.
Setelah mengeliminasi faktor-faktor yang saling berlawanan, hasilnya adalah seperti di bawah ini:
- Transaksi jual beli antara produsen dan distributor (1a dan 4a). Produk dipakai oleh distributor sendiri.
- Konsumen mengirim dana sebagai keuntungan kotor ke distributor, jika distributor menjual produk ke konsumen di luar distributor (3 dan 4b).
- Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor.
Catatan: Transaksi di atas sudah melalui proses generalisasi. Bisa saja seorang distributor menerima bonus dari produsen, dari upline-nya, dari upline upline-nya. Tetapi pada dasarnya uang yang diterima berasal dari keuntungan hasil penjualan produk ke kelompok masyarakat non distributor. Sedangkan bonus yang diterima akibat merekrut seorang distributor akan saling menghilangkan dengan dana yang disetorkan oleh distributor baru tersebut.
Dengan demikian, satu-satunya sumber keuntungan yang didapatkan oleh kelompok distributor secara kolektif adalah jika mereka menjual produk ke masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok distributor. Pendapatan kelompok distributor secara keseluruhan menjadi positif seandainya 2 > 3.
Yang menjadi masalah adalah sistem MLM di dalam kelompok distributor sendiri tidak menganjurkan menjual langsung ke masyarakat non distributor. Distributor-distributor secara individu diberi insentif lebih tinggi untuk merekrut anggota kelompok konsumen untuk menjadi distributor, ketimbang untuk menjual produk ke mereka. Di sisi lain, semakin banyak anggota kelompok distributor, maka semakin tinggi beban untuk mencapai keuntungan kolektif. Mereka harus menjual lebih banyak produk lagi ke masyarakat non distributor, dan di sisi lain, anggota masyarakat yang tertarik dengan produk tersebut mungkin sudah tertarik untuk menjadi distributor.
Pada beberapa presentasi MLM yang saya ikuti (atau lebih tepatnya menjebak saya), mereka selalu melecehkan sistem penjualan door-to-door. “Untuk apa menjual seperti sales keliling, jika dengan merekrut distributor baru kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak?” Padahal pada kenyataannya sistem penjualan langsung ke masyarakat tanpa mengajak mereka menjadi distributor ternyata jauh lebih menguntungkan bagi kelompok distributor secara kolektif.
Singkatnya, menjual produk ke masyarakat non distributor sebanyak-banyaknya adalah sebenarnya yang harus dilakukan oleh kelompok distributor secara kolektif. Tetapi secara individu, merekrut masyarakat untuk dijadikan distributor jauh lebih menjanjikan.
Kesimpulannya, MLM yang baik adalah MLM yang memberi insentif lebih tinggi bagi distributornya untuk menjual produk ke anggota masyarakat non distributor ketimbang untuk merekrut distributor baru. Adakah MLM yang seperti itu? Saya pribadi belum menemukannya.
Jika ada manfaat yang nyata dengan menjadi ‘distributor’ MLM, maka itu adalah point nomor 1 di atas: untuk mendapatkan produk-produk dari produsen dengan harga diskon, dengan kata lain kelompok distributor menjadi mirip seperti keanggotaan klub belanja. Tetapi rasanya sebagian besar orang-orang memilih menjadi distributor bukan untuk mendapatkan produk-produk dengan harga diskon.
Kemudian ada masalah margin keuntungan. Untuk produk-produk yang dijual ke masyarakat non distributor melalui MLM, margin keuntungannya jauh lebih tinggi daripada jika dijual melalui jalur distribusi tradisional. Mengapa ini bisa terjadi? Karena distributor mendapatkan komisi dari produk-produk yang dijual ke masyarakat non distributor. Terkadang, margin keuntungan ini bisa mencapai 80%!
Bagaimana caranya menghitung margin keuntungan ini? Sebenarnya tidak sulit, hanya saja kita perlu mempelajari struktur komisi dari MLM yang bersangkutan. Singkatnya, harga produk setelah dikurangi komisi yang dibayarkan ke distributor akan tidak jauh berbeda seandainya produk yang bersangkutan dijual melalui jalur distribusi tradisional. Akibatnya, akan sangat sulit bagi distributor untuk menjual produk yang berkompetisi dengan produk lain yang dijual melalui jalur distribusi tradisional.
Bagaimana jika kita tinjau dari ruang lingkup produsen? Dari sisi produsen, kelompok distributor dan masyarakat di luar distributor keduanya adalah konsumen. Produsen akan mendapatkan keuntungan terlepas dari siapa yang membeli produknya. Produsen sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya pemasaran, kelompok distributor yang akan dengan sukarela melakukannya untuk mereka, dan bahkan produsen akan mendapatkan keuntungan tambahan yang sangat signifikan dari kegiatan tersebut! Tanpa mempertimbangkan faktor moralitas dan reputasi, dari ruang lingkup produsen, pemasaran melalui MLM adalah cara pemasaran yang revolusioner.
Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung. Perbedaannya terletak hanya pada status saja, resmi atau tidak resmi, legal atau tidak legal. Pengecualian ada pada MLM yang menitikberatkan penjualan produk ke masyarakat non distributor ketimbang melakukan perekrutan distributor baru.
***
Contoh soal:
Perusahaan PT. Acme Sejahtera adalah produsen tempaan merk AnvilX™. Perusahaan ini memasarkan AnvilX™ melalui jaringan MLM. Biaya modal untuk memroduksi AnvilX™ adalah Rp 900, dan produk ini dijual ke publik dengan harga resmi sebesar Rp 1500. Sedangkan jika yang membeli adalah distributor, harganya cuma Rp 1000. Setiap kali distributor menjual ke masyarakat non distributor maka ia akan mendapatkan komisi Rp 300, dan upline-nya mendapatkan komisi Rp 200.
Untuk menjadi seorang distributor, maka distributor tersebut harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 300. Sedangkan jika seorang distributor merekrut distributor baru, maka ia akan mendapat komisi Rp 300. Pekerjaan sebagai distributor ini menuntut biaya operasional sebesar Rp 100/bulan.
Karena MLM Acme adalah MLM yang masih baru, MLM ini baru memiliki 3 orang distributor, yaitu A sebagai distributor pertama, serta B dan C sebagai downline dari A.
Skenario 1: para distributor ini memfokuskan diri untuk merekrut distributor baru tanpa melakukan penjualan baik ke mereka sendiri maupun ke luar kelompok distributor.
Anggaplah B dan C pada bulan ini keduanya berhasil merekrut masing-masing dua orang distributor yaitu D, E, F dan G. Artinya D, E, F dan G masing-masing menyetorkan Rp 300 dengan total keseluruhan Rp 1200. Dan karena masing-masing merekrut dua orang, B dan C masing-masing mendapatkan komisi 2xRp 300 yaitu sebesar Rp 600, totalnya adalah Rp 1200. Melalui aktifitas perekrutan ini, kondisi keuangan A tetap, B dan C bertambah masing-masing Rp 600 sedangkan D, E, F dan G berkurang masing-masing sebesar Rp 300. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan A, B dan C adalah masing-masing Rp 100/bulan, dengan total Rp 300/bulan. Jika dihitung secara menyeluruh, maka kelompok distributor mendapat keuntungan sebesar 2xRp 600 dan kerugian sebesar 4xRp 300 + Rp 300. Jika dijumlahkan, kelompok distributor ini merugi sebesar Rp 300. Sedangkan keuntungan B dan C murni berasal dari kerugian D, E, F dan G.
Skenario 2: para distributor tidak berusaha untuk menjual keluar kelompok distributor maupun merekrut distributor baru, mereka hanya membeli AnvilX™ dari Acme.
Biaya operasional total untuk A, B, dan C adalah 3xRp 100/bulan = Rp 300/bulan. Anggaplah produk AnvilX™ dibutuhkan sebanyak satu buah untuk satu bulan. Maka A, B dan C akan membeli AnvilX™ sebanyak tiga buah dengan harga 3xRp1000 = Rp 3000. Anggaplah Rp 1000/produk adalah harga yang wajar, maka A, B dan C mendapatkan manfaat dari AnvilX™ yang sepadan dengan harga yang dibayarkan. Maka secara keseluruhan kelompok distributor merugi sebanyak biaya operasional yaitu sebesar Rp 300.
Catatan: seandainya upline mendapat komisi dari transaksi ini, maka hasilnya akan tetap sama. Karena biaya yang dikeluarkan sudah termasuk komisi untuk upline, sedangkan harga intrinsik AnvilX™ itu sendiri adalah harga AnvilX™ setelah dikurangi komisi untuk upline.
Skenario 3: para distributor tidak melakukan perekrutan, tidak membeli produk, tetapi hanya memfokuskan diri untuk menjual AnvilX™ ke masyarakat non distributor tanpa mengajak mereka untuk menjadi distributor (menjual secara retail).
Biaya operasional total untuk A, B dan C tetap konstan yaitu Rp 300/bulan. Asumsikan B dan C masing-masing berhasil menjual AnvilX™ sebanyak satu buah. Komisi penjualan masing-masing adalah Rp 300, dan dari dua penjualan itu juga maka A akan mendapatkan 2xRp 200 = Rp 400. Total pemasukan adalah Rp 300 + Rp 400 = Rp 700 dan total pengeluaran adalah Rp 300. Jika dijumlahkan, maka kelompok distributor secara keseluruhan akan mendapatkan untung sebesar Rp 700 - Rp 300 = Rp 400.
Skenario 1 adalah skenario skema piramida murni. Skenario 2 adalah skenario ‘klub belanja’. Sedangkan Skenario 3 adalah skenario penjualan langsung. Distributor pada sebuah MLM melakukan ketiga skenario ini, tapi yang menghasilkan keuntungan hanya skenario yang terakhir. Tinggal dihitung proporsinya, apakah secara keseluruhan menghasilkan keuntungan atau tidak.
***
Saya bisa mendengar di belakang ada yang berteriak, “Ah, itu kan cuma teori!!”
Lagi-lagi karena hukum perlindungan konsumen di Amerika Serikat yang jauh lebih baik daripada di Indonesia maka kita bisa melakukan perhitungan secara kuantitatif. Pada tahun 1979, Lembaga Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) mengharuskan Amway –nenek moyangnya bisnis MLM– untuk mencantumkan nilai rata-rata pendapatan dari seluruh distributor. Informasi ini tercantum dalam dokumen SA-4400 yang wajib untuk diserahkan kepada semua calon distributor baru. Informasi yang relevan adalah sebagai berikut:
The average monthly gross income for “Active” IBO was $115.
Approximately 66% of all IBOs of record were found to be “Active”.
Para punggawa MLM seringkali menitikberatkan presentasi pada keuntungan segelintir distributor yang berada pada puncak piramida, tetapi tidak melihat kelompok distributor secara keseluruhan. Ini adalah praktik cherry picking yang mengaburkan kondisi sebenarnya. Tetapi terima kasih kepada FTC, kini kita dapat mengetahui nilai pendapatan rata-rata dari hampir seluruh lapisan distributor, bukan hanya yang berada di dekat puncaknya saja.
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata-kata ‘gross’ dan ‘active’. Gross income artinya adalah keuntungan kotor yang belum memperhitungkan pengeluaran. Sedangkan ‘active’ berarti angka tersebut hanya berlaku untuk distributor yang dianggap aktif saja. Sayangnya perhitungan ini membagi kelompok distributor menjadi dua: yang aktif dan yang tidak aktif. Dengan demikian kita tidak dapat mengetahui apakah $115 itu murni berasal dari keuntungan dari penjualan ke masyarakat non distributor, ataukah sudah termasuk dana yang disetorkan oleh distributor non aktif. Tetapi walaupun demikian sudah jelas bahwa pendapatan sebesar $115/bulan sangat jauh tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari di Amerika Serikat, dan ini masih belum memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi menjadi seorang distributor.
Saat ini FTC sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan peraturan baru soal MLM dan bisnis peluang bisnis lainnya, bukan Amway saja. Nantinya jika sebuah MLM mengklaim jumlah pendapatan (termasuk di antaranya adalah klaim kualitas hidup seperti gambar-gambar rumah mewah, mobil mewah, pesawat terbang, kapal pesiar), maka mereka diharuskan untuk memberikan data-data kuantitatif lebih lanjut tentang klaim tersebut. Jika peraturan ini diberlakukan, calon anggota MLM di Indonesia mungkin nantinya akan dapat memanfaatkan data-data ini sebagai bahan pertimbangan untuk menilai sebuah MLM yang memiliki cabang di Amerika Serikat.
Seandainya Indonesia membutuhkan hukum perlindungan konsumen terhadap bisnis peluang bisnis, rasanya patut sedikit mencontoh langkah FTC di Amerika Serikat ini. Tetapi walaupun hukumnya belum ada, perusahaan yang jujur pasti bersedia untuk menyerahkan data-data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan kepada calon distributornya. Mintalah data-data seperti jumlah penghasilan rata-rata, tren jumlah distributor, distribusi pendapatan, jumlah distributor yang berhenti dan data-data relevan lainnya ketika sedang ‘diprospek’.
Jika mereka menolak untuk memberikan data-data tersebut, maka sebaiknya anda lari kencang-kencang ke arah yang berlawanan.
pertama?
btw, penampakan blogger di metrotv kemarin koq gak dibahas mas?



puwanjange puwol …..
riplai fes
* sepuluh besar *

5 besar
Kira-kira di Indonesia, siapa (badan apa) yang cocok menjalankan peran seperti yang dilakukan FTC?
Saran yang paling bawah memang yang paling cocok menghadapi MLMster yang gag jelas
Yup!! Sebelum join Network Marketing teliti dulu Profil Perusahaan nya. Teliti legalitas nya. Seharusnya terdaftar di APLI(Asosiasi Penjual Langsung Indonesia). Teliti System Marketing nya. Coba ikuti pertemuannya!!
Jauhi Money Game!!
MLM gak jelek kok..
#6: justru itulah, terdaftar di APLI belum tentu bener. coba baca dari atas sampai bawah
No 8 kah?
yah selain jago presentasi, mesti jago ngomong juga! rayu2 maksa2 orang..hahaha
Setuju!!
Sepakat!!!
aku emang bertujuan mau menulis tentang MLM yang mengulas hal diatas.. ehh.. tapi keduluan om pri.. tp gpp deh.. ntar tetep kutulis pake bahasku sendiri..
Yang ke berapa yach…
Yah begitulah MLM…
Ulasannya bagus mas Pri, thanks.
Bikin yang lebih luas donk, Pri. Tulis di media2 misalnya. Pelaku Money Game gini udah mulai bekerja sama dengan lembaga2 resmi (bank, lembaga finance, dll), dan makin membuat bisnis semacam ini seolah sah dan etis.
aku pernah dapat email tentang keburukan dari mlm..
duh, mlm lagi mlm lagi…
ngga akan ada habis-habisnya selama orang masih ingin UANG. Semua akan kembali ke asal, yaitu uang…
Bang MLM siapa sih abang,
/
\
bang pesannya pake sayang-sayang
bang ayo jujur saja abang
bang nanti kamu aku tendang
“Potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka. Yang harus digarisbawahi di sini adalah kata ‘potensi’. Artinya terbuka kesempatan bagi anggota tingkat terbawah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tentunya belum dapat dipastikan bahwa semua anggota tingkat terbawah akan mendapatkan keuntungan”
——————————————————
Pandangan,komentar,teori,hujatan….wah macem2..!!!!! deh priyadi ini.
Mungkin kedepannya lebih baik.buka topik dan sedikit kasih jalan solusinya doooong.jangan cuma ngomong doang pri..!!
mendingan cocoknya jadi komentator sepak bola aja kayak “KOMENG”.
ada yg riset belanja IT MLM ndak ? terutama hosting dan domain ? hwahahahaha indoglobal ada klien MLM nya ndak ?
1. Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung ?
2. justru itulah, terdaftar di APLI belum tentu bener ?
==>
1.
brarti Franchise juga money game terselubung ya ?
McDonald, Starbuck, Wong Solo, Edam dll
si A membeli hak bisnis/lisensi McD utk Indonesia
ada setoran blnan ke pusat/tutup point
burgernya dikonsumsi publik/produk
keuntungannya utk menggaji staffnya/bonus
& tentunya juga pemilik hak bisnisnya/sharing profit
apakh perush Konvensional juga money game terselubung ?
Trikomsel, Mataram Sakti, Unilever dll
si Trikomsel membuat perush distribusi HP Nokia
si A direkrut sbg marketing
si B sbg manager dll
omset penjualan A lbh tinggi dari B dlm 1 bln/pembeli lbh byk dari B
dptkah A menyalib peringkat B hanya krn mendptkan omset/pembeli lbh byk ? (bedakan: ini konvensional bukan network)
point target B berdasarkan kerja keras A
artinya B hrs naik peringkat dulu kalo A ingin naik peringkat
money game juga kah ?
2.
sdh menyelidik siapa saja yg duduk di APLI.or.id ? ingat bukan APLI.blogspot.com
bedakan or.id dgn blogspot.com
sdh menyelidik WFDSA.org atau MLMIA.com ?
atau cuma mlmlaw.blogspot.com ?
sdh menyelidik WFDSA.org atau MLMIA.com ?
atau cuma mlmlaw.blogspot.com ? (knapa tdk berani menampilkan profile)
tau bedanya org vs blogspot.com ?
dunia bisnis memang penuh persaingan
dukungan, cacian dll adlh hal yg natural
tau bedanya pelaku bisnis vs pengamat bisnis ?
sdh terjawab pd topik “Maraknya bisnis referensi”
sepakat bahwa ga semua yg di APLI itu adalah MLM yg baik. setuju dengan diadakannya lembaga semacam FTC. kalo cuma pamer si A penghasilannya sekian, si B jadi ini setelah sekian tahun… itu mah rejeki orang beda-beda
#17:
saya memberikan salah satu solusi untuk tidak kena tipu
Ya Allah Pri, engga ada topik yang lebih penting apa yak
#19:
ada beberapa perbedaan yang sangat mendasar antara franchise dan MLM:
* sebuah franchise tidak memiliki insentif untuk merekrut tetangga sebagai franchise (malahan merupakan kerugian)
* sebuah franchise memiliki 100% insentif untuk melakukan penjualan retail
sekarang coba anda lakukan cashflow analysis untuk bisnis franchise seperti yang saya lakukan untuk MLM di atas.
saya TIDAK PERNAH menyinggung soal salib menyalib peringkat pada tulisan di atas. mungkin anda baca dari tempat lain
.
tapi kalau mau lakukan cashflow analysis terhadap karyawan kantoran, silakan saja. tapi coba simak lagi perbedaannya:
* seorang karyawan tidak memiliki insentif untuk merekrut tetangga sebagai karyawan
* seorang karyawan memiliki titik berat untuk melakukan penjualan kepada masyarakat di luar sistem karyawan
hint: sama dengan franchise atau bisnis apapun yang baik. intinya ada pada penjualan retail.
MLM adalah pet peeve saya. anda tidak tahu berapa banyak situs yang sudah saya kunjungi tentang ini.
tapi intinya: “pada MLM yang menitikberatkan perekrutan, jika sebagian besar distributor melakukan apa yang disuruh, maka kelompok distributor secara keseluruhan akan merugi.”
itu bukan opini, tapi fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya. mohon perhatikan juga bahwa tidak semua MLM seperti itu, hanya MLM yang menitikberatkan perekrutan. walaupun saya sendiri belum pernah menemukan MLM yang dimaksud.
#23: hihihi gatel liat komentar di posting sebelumnya
waduh waduh.. MLM.. lebih baik dijauhi aja

btw, Met puasa semuanya
Comment untuk 2 paragraph terakhir.
Mimpi kali ye ?
Emang ini negara apaan, produk hukum yang gede-gede aja semisal kurupsi aja banyak bolongnya, apalagi mau ngurusin soal remeh temeh gituan
Dah ah, njelek in institusi ajah … Puasa eui …
well so far gw udah ikut 5 MLM dan 6 money game
buat pelajaran aja sih.
kalo mao ikut money game pilih yg baru mulai
kalo udah lama kagak ada yg ikut lagi hiks …
ga balik modal hiks
huaaaaaaaa
fenomena yg menarik lagi setelah MLM adalah ikut kuis dll via SMS. Dari kemudahannya smp biayanya yg smp 7x dari biaya sms regular. Coba deh hitung2 … ini kan sama aja dgn JUDI (terselubung) !!!!
alhamdulillah … sampai saat ini sy tak tergiur
Pilih yang tepat pilihan g(j)anda ini
yang bisa mengambarkan emelem sebagai suatu singkatan:
MLM = Mimpi Lu Mimpi.. (bangun-bangun…)
MLM = Memang Lu Miskin (pengetahuan.. baca dong..)
MLM = Maunya Lu Money.. (semua kali?)
MLM = Membuat Lu Miskin (kalo kaya)
MLM = Malu Lihat Mukelu (blom mandi kali?)
MLM = Mungkin Lumayan Mengikutinya (yaa.. ini ni yang harus baca..)
MLM = Muke Lu Mbau (orang mlm pas lagi marah?)
MLM = Mandi Lalu Makan (sahur..)
MLM = Makan Lalu Mandi (Kebo..)
MLM = Mengapa Lihat Mukaku? (keGeEran?)
MLM = .. tambahin..
-sori kalo ada yang kesinggung..
pis..
Moga aja mulai pada sadar ( pingsan kali yee..)
Saya masih lebih suka ditawari untuk membeli benda/produk dari seseorang anggota MLM daripada diajak menjadi anggota MLM.
Kalau aku sih dari dulu gak ikut MLM karena :
1. Kebanyakan produknya dikonsumsi oleh distributornya. Kalau diperbandingkan dengan BMW, kan gak mungkin penjualan BMW lebih banyak ke karyawan /agennnya daripada ke masyarakat ? hehehe
2. Kebanyakan merupakan produk produksi luar negeri (meskipun gak semua MLM begitu)
3. Saya rasa skema bisnisnya tidak sustain, apalagi bila jumlah membernya udah banyak
salam
Yang Pasti pada sistem MLM yang baik adalah selalu memakai produk yang berkualitas dan sistem yang benar-benar adil dan harus menguntungkan distributornya dan konsumennya.
Biasanya fee pendaftaran sebagai distributor sangat terjangkau. tidak memaksakan distributornya untuk belanja di awal dengan nilai tertentu.
Sangat prihatin juga ada beberapa distributor tidak mengerti betul fungsi dari suatu produk yang ditawarkan.
Sales /penjualan yang dilakukan door to door atau bagaimanapun bentuknya sebenrnya berpulang dari masing-masing distributor itu sendiri dimana keuntungn langsung yang mereka dapatkan secara otomatis akan lebih besar disamping keuntungan omset bulanan yang dihitung dari perusahaan daripada yang gak jualan. Prinsipnya MLM adalah bisnis distribusi pemakai atau jaringan konsumen yang direferensikan. kalo mau hasil pake sendiri dan mereferesnsikan ke banyak orang, kalo mau hasil yang lebih banyak lagi ya lakukanlah penjualan dan duplikasikan. Jadi gak selamanya yang diatas selalu diuntungkan. Kalo yang diatas enggak melakukan kegiatan apa-apa, yang nggak akan menikmati hasil apa-apa.
MLM yang baik adalah MLM yang memberi insentif lebih tinggi bagi distributornya untuk menjual produk ke anggota masyarakat non distributor ketimbang untuk merekrut distributor baru
Ya gitu deh…hehehe ga nyambung yah>!?!?!?!??!
Rekan,
Menurut saya sistem penjualan melalui MLM hanya merupakan salah satu pilihan dari beberapa sistem penjualan yang ada.
Sekarang tergantung dari orangnya, apakah mampu memanfaatkan beragam sistem penjualan yang ada untuk memaksimalkan penjualan produknya.
Mengenai baik/buruknya MLM itu sih tergantung kembali kepada orang yang menjual atau orang yang membuat sistem MLM tersebut.
Regards,
Banyak jalan menuju ROMA…….
MLM lagi MLM lagi… pusying…..


Hm… saya begitu sebel sama mlm yang maksa-maksa untuk ikut..
–budiw
http://budiwijaya.or.id/node/102
apa kabar Anne Ahira ?
kalo aku. No MLM No Piramida. Menurutku sama aja

kalo aku mendingan direct selling aja deh. yang pasti-pasti aja. Ada uang ada barang
ini pasti blog nya pri udah mulai gak poupuler lagi. makanya mengangkat tema MLM
Wiehhh … MLM lagieeeee bowww
Sabtu kmaren gw baru kejebak ma presentasi MLM yg S**K abisss … emang sie yg mereka tawarin kadang menarik, tp cara mereka itu loh yang gw ga setujuuu …
Multi Level Marketing or Multi Level Selling ya ?
Menurut saya yang namanya level tuh harus dibatasi kalau bisa maksimal sama dengan bisnis konvensional dengan barang yang sejenis atau sigma margin keuntungan bersihnya sama antara MLS dg Konvensional. Kecuali yang ada margin keuntungannya gila2an. (Modal 1 dijual 100)
(Produsen–distribusi 1—distribusi 2—……—Distribusi ke n—Konsumen. –>((n-1) level)).
Tujuannya agar bisa sustainable.
to: 43, agam
Direct Selling –> adlh nama awalnya, krn pd wkt itu sedang mencari nama yg tepat.
kemudian krn bisnis ini digerakkan oleh para distributornya, lahirlah terminologi MLM, Network Marketing, Personal Franchise (beda nama beda pendekatan).
saya sendiri memberi nama “Collective Commonwealth”, krn mirip dgn cara Inggris memakmurkan negara2 binaannya…kalo tdk bole saya bilang negara2 jajahan yg di-didik.
knapa ada yg memberi nama Personal Franchise ? krn mirip dgn sistem Franchise, bedanya:
1. pd Franchise
- ada owner
- ada employee
- ada buyer
2. pd Personal Franchise
- owner, employee, buyer= 1 org
sama spt ketika Franchise dulu muncul dicacimaki, tp skrg lihatlah Franchise dmn2…pun juga dgn Direct Selling, MLM, Network Marketing, Personal Franchise skrg dicacimaki.
sama spt saat Wright bersaudara membuat pesawat, dianggap sesat oleh gereja & massa saat itu krn dianggap ingin melebihi malaikat…tp lihatlah skrg, brp juta org yg merasakan manfaat pesawat ?
“org yg dikenang skrg adlh org yg dianggap aneh pd zamannya”
Doh, MLM oh MLM
Wah. Bosen. MLM lagi.
Sudahlah mas Pri.
Yang ngotot mau MLM ya biarin aja.
Nanti kalo sudah kapok , rasain sendiri.
Sudah sering Mas Pri, kasih peringatan di sini.
Orang Indonesia kan, suka penasaran kalo blom mencoba.
Saya dulu sekali pernah coba ikut Amway.Eh, belakangan sadar, harus cari downline dan beli barang yg tidak terlalu diperlukan….
Ya sudah saya tinggalin aja….
Ini kan fenomena sesaat saja. Sudah banyak orang kok yang males di MLM-in..
Peace!
om dolf, direct selling jelas beda dengan MLMELEM lah…
MLM kebanyakan mengadopsi direct selling
contoh : tukang jamu keliling di kompleks rumah saya = direct selling..
dia ngga berjualan produk MLM loh…
to: 50, Rendy
spt yg gw bilang seblmnya
gw juga gak berharap byk yg sepakat dgn gw/yg tergabung dlm APLI
ini Indonesia bung
tp blog priyadi adlh salah satu ruang publik yg menarik utk berdiskusi
ada yg setuju, ada yg gak, ada yg dukung, ada yg nolak adlh expresi natural inklusif
Direct Selling, MLM, Network Marketing, Personal Franchise adlh metode…inovatif atau tdknya kita lihat nanti…kalo tdk bole saya katakan, sedang kita lihat
& bisnis itu spt agama
kalo dgn beragama membuat kmu nyaman, anutlah agama
kalo dgn tdk beragama membuat kmu nyaman, gak usah menganut
pun juga dgn bisnis
kalo terjun ke bisnis membuat kmu nyaman, terjunlah ke dunia bisnis
kalo dgn tdk berbisnis membuat kmu nyaman, tdk usah berbisnis tetapi bekerja
mas pri, kalo bisa paragraf ini didukung juga dg angka yg menunjukkan bahwa penjualan door-to-door lebih menguntungkan daripada lewat mlm. thx.
nggak jadi komen lah, ini berat banget ngetiknya. gara-gara previewnya kali ya.
um pri menabur benih lagi, badainya mana niy?? ditunggu loh..
itung-itung buat referensi
Udahlah….kenapa sih kita ikut2an sistem pemasaran yg aneh2??? ini khan sistem yg dipaksakan para penjajah modern, The New Imperialism.MLM,NM,Franchise,dll semua memakai cara Brain Washing alias Cuci Otak, Indoktrinasi.Sistem Rekayasa terselubung, Gak Jelas!
Para penjajah itu sekarang pada ketawa terbahak2 lihat kita ini pada makai sistem pemikiran mereka.Sapa yg diuntungkan? jelas mereka donk! kalaupun kita ada yg untung nilainya gak sebanding dengan apa yg mereka peroleh.
Kalau ngaku beragama Islam yaa pakai cara yg dipakai Rasul dulu.Ya jual langsung tanpa pakai perantara,tanpa pakai sistem berjenjang,dll.Enak to! semua serba terbuka dan transparan tanpa ada yg ditutup-tutupi.
Anehnya sekarang pada bangga pakai sistem kapitalis liberal,sekuler lagi!!! semua hanya mementingkan duit…duit….untung…untung…gak peduli org lain menderita.Duh….pada keblinger semua.Kapan sih mau tobat?
#52: sebenarnya gak perlu dihitung juga sudah kelihatan kalau penjualan retail (tidak perlu door to door, asalkan retail, bisa jual ke teman, lewat toko pribadi, lewat internet, etc) adalah satu2nya jalan untuk mencapai keuntungan positif. tapi kalau mau pakai contoh, saya sudah tambahkan contoh soal pada posting di atas.
#51:
kita lihat nanti? sampai kapan? MLM sudah ada sejak 4 dasawarsa yang lalu dan selalu stagnan juga sejak 4 dasawarsa yang lalu.
#50: DFTT
stagnan ?
tdk juga sbetulnya
kalo dilihat dari luar kelihatan stagnan
tp kalo dilihat dari dlm malah expansif
perush A yg melihat perush B menggunakan metode NM etc
menampakkan perubahan linier naik
kemudian A berpikir “knapa tdk kami pake cara itu ?”
ada yg ikut aturan main…ada yg bikin aturan sendiri
tau gak sdh brp yg ditendang APLI ? salah satunya adlh yg baru2 bagi2 jaguar (tanpa menyebut nama)
yg sdh umur 40th lbh bknnya stagnan
ibarat pohon, byk tunas2 baru bermunculan
40th lbh sampe skrg msh exist, itu aja dah bisa dibilang prestasi luar biasa
drpd yg kurang dari 5th kemudian menghilang entah kmn ?
yg 40th bisa dibilang market leader krn dia yg tertua
nah kini tunas2 baru menjadikan dia sbg soko guru, kekurangan & kelebihan dipelajari
lihat saja diinternet
yg berkedok NM, MLM dll…bahkan tdk mau disebut demikian, tp byk perush skrg menggunakan metode ini & akan smakin bertambah…terlepas dari ikut atura main atau bikin aturan sendiri
bkn tdk mungkin ke depan nanti, ada warung pinggir jln yg menerapkan metode ini utk menambah jumlah pembeli wkwkwkwkk
to: 55, tejo
Anehnya sekarang pada bangga pakai sistem kapitalis liberal,sekuler lagi!!!
bknnya bangga
trus pake sistem apa, sosialis, komunis, syariah ?
ini bkn mslh ideologi bung
kalo org luar malah yg mempu membuat sesuatu yg dpt menyebabkan perubahan ke arah yg lbh baik
tanya sama negara mu sendiri, kpn bisa buat yg sama ?
anda sendiri di Australi lg ngapain, kuliah atau kerja ?
bknkah Aussie salah satu negara yg menerapkan sistem kapitalis liberal, sekuler juga ??
kira kira bung dolf berani gak ya alloow comment di blog nya.
#60:
dari sudut pandang produsen memang luar biasa. tapi gimana dari sudut pandang distributor? berapa perbandingannya yang mendapatkan untung vs yang merugi?
rumit juga ya? jadi wartawan aja lah. miskin miskin deh…hahaha
Saya sudah lama ditawari MLM, punya beberapa starter kit, punya puluhan kaset dari MLM tertentu, tapi saya tidak tertarik, karena saya pikir, bisa saya ikuti, tapi tidak bisa saya kembangkan.
beberapa waktu lalu saya ditawari MLM tertentu,, produknya bagus, ibu saya sudah membuktikan, (saya sekarang juga sudah membuktikan), saya cermati sistemnya, kelihatannya bisa jalan/berkembang (bisa offline bisa online)
teman saya sudah lama mengkonsumsi produknya, saya hanya pikir simple, kalau saya jadi member, khan teman-teman saya akan membeli produk itu dari saya, eee, bulan pertama saya gabung, produk yang saya beli habis, bulan kedua juga habis, bulan ketiga juga habis, ini mau masuk bulan ke empat.
MLM ini tanpa biaya pendaftaran, semua uang dapat produk,
sekarang saya jalankan pelan-pelan, tapi saya yakin makin lama jaringan saya makin besar (walau banyak yang anti MLM, tapi setelah diberi penjelasan yang masuk akal, jujur, tidak menipu, tidak memaksa dll) ada juga yang bisa menerima) Kalau saya tawarkan “MLM ini”, saya jujur sebutkan produk-produknya, perusahaannya, sistemnya (perbedaannya dg MLM lainnya) dan selalu saya katakan bahwa TIDAK ADA JAMINAN BERHASIL di bisnis ini. (tapi selalu TERBUKA PELUANG untuk BERHASIL….)
kalau produknya sih sudah banyak terbukti berkhasiat
dari pada saya beli produk dari member lain, ya mendingan saya jadi member saja, apalagi barang dikirim ke rumah, bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia,
pesan barang via email/SMS bisa, enak khan….
dan saya pikir kalaupun MLM punya kelemahan, bukankah sistem yang lain juga punya kelemahan. Bank yang menetapkan bunga (=riba) yang jelas-jelas dilarang oleh kitab suci-pun tetap exist, (kata teman saya yang ‘anti’ MLM, keberadaan bank = keniscayaan)
(eh… saya pikir MLM-pun nantinya juga merupakan keniscayaan, karena sudah tidak bisa dihindari lagi sebagai sebuah fenomena/sistem pemasaran selain sistem konvensional yang hanya menciptakan SEDIKIT distributor dan BANYAK SEKALI konsumen)
Bandingkan dengan MLM yang BANYAK DISTRIBUTOR, dan lebih BANYAK KONSUMEN (karena distibutor=konsumen juga)
Bagi saya MLM boleh-boleh saja, tapi jangan sampai MEMUJA MLM dan MEMUJA UANG dan KEBERHASILAN/KEMEWAHAN, kalau berhasil ya biasa-biasa saja lah…, kalau gagal ya jangan mengumpat, hidup ini khan gak cuma untuk mendukung MLM atau anti MLM.
masih banyak ‘urusan’ lain yang lebih urgent diselesaikan
‘tuh contohnya: lumpur lapindo, korupsi para pejabat, pembalakan hutan, pembakaran hutan, sampah dimana-mana, kasus-kasus hukum yang gak pernah tuntas, kecelakaan pesawat yang gak pernah terungkap sebabnya, sampai dibunuhnya tibo cs., dan nanti yang akan kita hadapi bersama adalah krisis listrik (karena gak bisa buat PLTN, padahal sungai makin kering, batubara makin sedikit, minyak makin langka dan mahal……
kalau yang mikro, ya urusan keluarga kita sendiri: anak-anak yang nakal (bagi yang punya anak ‘nakal’), sulit punya anak, terlalu banyak anak, biaya sekolah anak (kok di indonesia gak seperti finlandia yang gratis biasa sekolah hingga perguruan tinggi???), atau bahkan mungkin masih kesulitan menemukan orang yang bisa memberi kita anak……
Cat.
kita mungkin jadi bisa menerima dengan tulus perbedaan-perbedaan diantara kita dengan mempelajari ajaran Ki Ageng Suryamentaram, sebagian ada di http://www.geocities.com/kramadangsa/
silakan lihat…. (hidup ini bukan hanya MLM saja…)
to: 62, priyadi
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukah
wegh
byk yg hilang? pdhal dah posting…neh gw ulang
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukan
sekali lagi…kalo sama aja, anggap aja posting kebanyakan dipangkas
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukan
#64:
seandainya distributor baru tidak perlu menyetorkan uang pendaftaran dan tidak ada biaya bulanan; dan seandainya semua pendapatan berasal dari penjualan produk, maka kemungkinan ini adalah MLM yang baik (insentif untuk merekrut lebih kecil daripada insentif untuk menjual)
#67:
ini kesalahan logika lagi
. kerja kerasnya memang patut dihargai, tapi itu tidak lantas apa yang dilakukannya menjadi baik. orang cacat tersebut bisa saja berhasil dengan kerja keras sebagai seorang koruptor, tapi bukan berarti koruptor adalah perbuatan yang baik
.
Pernah saya baca iklan MLM Tianshi:
Emang sebelum dan sesudah tanggal 16 September 2006 jalan
protokol di ibukota Jakarta tidak macet.
#70:hehee.. jadi inget komentar di blog saya. “buktikan tanggal 16 september nanti di gelora bung karno”
kebetulan, saya lagi dijakarta tanggal itu.. tapi gak ke gelora bung karno..
–budiw
#71: wajar sih. perusahaan MLM besar sih pasti punya banyak duit untuk mengadakan acara mewah seperti itu. kelompok distributor mengira kalau perusahaan MLM mendapatkan banyak keuntungan, maka otomatis mereka juga akan mendapatkan banyak keuntungan. tapi kenyataannya kan gak gitu, bahkan keuntungan dari perusahaan MLM sebagian besar berasal dari kerugian distributor.