Ilusi Finansial
Alkisah pada suatu hari ada dua orang penerbit koran yang saling berkompetisi, sebutlah namanya A dan B. Kedua koran ini memiliki kualitas yang sama persis. Penerbit A menjual langganan korannya seharga Rp 50 ribu per bulan. Sedangkan penerbit B tidak puas dengan harga Rp 50 ribu per bulan karena merasa keuntungannya tidak cukup banyak, dia menjual korannya dengan biaya Rp 100 ribu/bulan.
Walaupun demikian, jika B menjual korannya dengan harga tersebut, maka korannya tidak akan laku. Dengan kualitas yang sama, bisa dibilang hampir semua konsumen akan memilih koran A yang harganya cuma setengah koran B. Dalam pasar bebas, B dihadapkan pada dua pilihan: tetap menjual dengan harga mahal tetapi mendapatkan pangsa pasar yang sedikit; atau menjual dengan harga lebih murah dan mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. B tidak menginginkan kedua pilihan tersebut, yang diinginkan B adalah menjual dengan harga mahal dan mendapatkan pangsa pasar yang besar pula. Mungkinkah B melakukan hal tersebut tanpa misalnya meningkatkan kualitas korannya?
Selain pengusaha koran, B juga seorang ahli finansial yang licik sekaligus jeli dalam melihat kesempatan. Dia bukannya menjual korannya lebih murah untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar, dia justru meningkatkan harga berlangganan koran B dua kali lipat. Koran B yang tadinya dijual seharga Rp 100 ribu, kini dia jual seharga Rp 200 ribu.
Logika mengatakan bahwa posisi B di pasar koran seharusnya akan semakin terjepit. Tapi tunggu dulu. B tidak begitu saja menaikkan harga korannya. Harga berlangganan koran B yang Rp 200 ribu/bulan ini dia bagi menjadi dua porsi: porsi pertama sebesar Rp 100 ribu dialokasikan untuk biaya berlangganan korannya itu sendiri, dan sisanya sebesar Rp 100 ribu adalah porsi investasi. Dengan kata lain, B tetap menikmati harga berlangganan korannya seperti sebelumnya yaitu sebesar Rp 100 ribu/bulan. Sedangkan tambahan Rp 100 ribu yang dia pungut dari pelanggan akan disetorkannya ke sebuah instrumen investasi yang hasilnya nanti akan dikembalikan kepada pelanggan.
Jika seorang konsumen berlangganan koran B selama 10 tahun, dengan asumsi perkembangan investasi 13%, maka nilai tunai hasil investasinya akan berjumlah lebih dari Rp 24 juta. Atau dengan kata lain sudah ‘balik modal’. Selama 10 tahun, pelanggan B telah menyetorkan biaya berlangganan sebesar Rp 24 juta, dan pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang dia dapatkan sudah melebihi Rp 24 juta. Secara nominal, pelanggan mengeluarkan Rp 24 juta untuk berlangganan selama 10 tahun dan pada akhir tahun ke-10 uang tersebut akan dikembalikan seluruhnya. Sebagian pelanggan akan merasa telah menikmati koran B dengan gratis!
Lebih daripada itu, pelanggan dapat pula meneruskan berlangganan setelah tahun ke-10 dengan sebuah catatan: konsumen dibebaskan atas biaya berlangganan sama sekali! Pelanggan bisa terus berlangganan koran B seumur hidupnya hanya dengan membayar biaya berlangganan selama 10 tahun! Bukan hanya itu, pada akhir tahun ke-20, selain bisa menikmati koran B dengan gratis, pelanggan juga dapat menikmati hasil investasi sebesar hampir Rp 60 juta.
Jika ada yang menanyakan kepada seorang konsumen mana yang lebih dia sukai:
- Membayar Rp 50 ribu seumur hidup untuk berlangganan koran A; atau
- Membayar Rp 200 ribu selama 10 tahun untuk berlangganan koran B, lalu seluruh uang tersebut akan dikembalikan di akhir tahun ke-10, atau pelanggan bisa meneruskan untuk berlangganan seumur hidup dengan gratis ditambah dengan menikmati hasil investasi yang berlipat-lipat jumlah yang telah disetorkan sebelumnya.
Secara intuitif, konsumen yang awam urusan finansial akan memilih koran B. Konsumen akan merasa koran B lebih menguntungkan karena jumlah yang dia dapatkan secara nominal jauh lebih banyak daripada jumlah yang dia setorkan. Tetapi tentunya ini salah kaprah, di balik itu semua, biaya berlangganan koran B tetap saja dua kali lipat lebih mahal daripada koran A. Pelanggan tetap membayar biaya berlangganan dua kali lipat lebih mahal daripada koran A, tetapi mereka tidak menyadari telah melakukannya. Teknik berjualan seperti ini saya sebut sebagai ‘ilusi finansial’. Hanya dengan ilusi finansial, seseorang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah besar tetapi tidak merasa mengeluarkan uang sama sekali.
Dengan memasarkan koran B dengan menggunakan ilusi finansial, B bisa menjual korannya dengan harga dua kali lipat koran A, sekaligus mendapatkan pangsa pasar yang lebih banyak dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Selain itu, B juga dalam posisi yang lebih bagus karena memiliki margin keuntungan yang jauh lebih besar. Posisi ini bisa dimanfaatkan misalnya dengan melakukan pemasaran yang jauh lebih agresif untuk meraup pangsa pasar lebih banyak lagi.
***
Orang yang mengerti urusan finansial dan jeli melihat situasi tersebut di atas akan berpikir lain lagi: “Bagaimana jika saya tetap berlangganan koran A, dan selisih harga berlangganan koran A dan B saya investasikan sendiri secara terpisah?” Hasilnya sebagai berikut:
- Pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 37 juta, dan bukan hanya Rp 24 juta seperti di koran B.
- Pada akhir tahun ke-20, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 114 juta, dan bukan hanya Rp 60 juta seperti di koran B.
Kesimpulannya, dengan biaya yang dikeluarkan sama persis (Rp 200 ribu/bulan), berlangganan koran A tentunya jauh lebih menguntungkan daripada koran B. Sayangnya, tidak banyak konsumen yang mengerti masalah finansial sehingga bisa dipastikan mayoritas akan terjebak pada ilusi finansial dan berlangganan koran B.
Tulisan saya di atas memang cuma wacana. Saat ini tidak ada koran yang dijual seperti koran B (dan mudah-mudahan tidak akan pernah ada). Tetapi apakah anda tahu produk lain yang saat ini kebanyakan dijual seperti B menjual korannya? Dan apakah anda cukup waspada dalam menyikapi produk-produk tersebut?
Wah Mas Pri saya belum tahu tuh kalo ada perusahaan koran yang sampe begitu….
apalagi mengingat sebenarnya 50% biaya produksi koran besar sudah ditutup oleh pemasang iklan dan mungkin 40-50% berita yang ada di koran sekarang sudah bisa di dapat gratis oleh pembacanya lewat TV dan Internet…jadi bayangkan kerugian sebenarnya pelanggan koran….cuma kalo taktik penjualan produk seperti itu biasanya sih yang pake produk MLM….
Mantabs.. bisa dijadikan inspirasi di bagian finansial nie..
Thanks..
Bukan lagi nggak waspada

malah nggak mikir sejauh itu
mungkinkah?
btw, ini menyinggung hal apaan sih? apaan yang mau di-debunk?
Lam kenal mas pri,
Kalau tebakan saya, mas pri lagi ngomongin asuransi ya?
Koran B= Unit link, koran A = asuransi murni+reksadana.
betul kah?
emang produk lainnya apa ? pasti yang paket 2 in 1 itu
priyadi mau nyindir masalah asuransi unitlink lagi tuh..
Nah, sekarang mau kasih komen benarannya nih
“.
Saya belum pernah tahu barang yang dijual seperti itu. Tapi si penjual koran B sepertinya menggunakan teknik marketing yang bagus (plus kelicikan), soalnya sampai bisa bikin
pembodohanilusi seperti itu. Mirip MLM.Btw, (becanda serius nih)Gimana kalo konsumen keduanya pindah menjadi pelanggan koran di Internet alias ekoran
. Intinya gimana analisisnya kalao ada barang subsitusi? Belum ada asumsi tentang ini di atas.
Ada contoh ilusi lagi?
produk asuransi kali yah yg banyak dijual seperti B menjual korannya.
#2
ya unit link lah, apa lagi
klo begitu ‘ilusi finansial’ sama dengan penipuan gaya baru?
ilustrasi yg baik tapi knp ga langsung bilang ini masalah asuransi? hehehehe
Ilusi apa halusinasi?
Besok pasti jadi ganti judul “Ilusi Asuransi”
sulit jg nih mesti nebak2 apa yg disindir
Udah jelas sih mas Pri nyindir siapa. Kalo saya maunya tebak-2an dalam sebulan berapa comment yang masuk. Saya pasang angka 80 aja deh.
frans
Mungkin sebulan kelamaan, seminggu aja deh. 60 comment.
seandainya mas pri posting beginian dari dulu

Jadi ingat Time Magazine lifetime subscribers.
wah… Om pri ngekritik program asuransi investasi nih…
tapi ga papa sih… mata saya jadi terbuka. thanks.
wadoh aku ndak ngerti mpri
Jelas sekali siapa yang disindir

Masalahnya, jika ada orang yang pilih langganan koran A lalu sisanya berinvestasi, tapi juga ingin berlangganan koran B untuk kepraktisan selain juga untuk diversifikasi investasi
Menyindir Asuransi Unitlink nih ye.. btw kok gak ada yang ngomong secara gamblang yah?
jadi bingung
benernya nyindir siapa sih?
selama pelanggan tersebut merasa untung, saya pikir tdk jd masalah..
simbiosis mutualisme berlaku di sini..
wah, ulasan yang sangat menarik. nggak terlintas oleh awam seperti saya
Ilusi finansial? Ah ya, pas sekali untuk diterapkan di negeri kita yang banyak yang ndak pinter itung-itungan ini
PAS jika diterapkan di negeri ini,
because banyak pemimpi di negeri ini,
mimpi keadilan terwujud,
mimpi kesejahteraan terwujud,
mimpi kemakmuran terwujud.
Jadi Sebaiknya Jangan gunakan ASURANSI gitu?
*ndak mudeng*
ntah kenapa saya kok tidak pernah tertarik dengan yg namanya produk asuransi
lirik koran sebelah, mereka mempraktekkan A atau B?
“
saya pikir saya paham, saya sependapat dengan mas pri .. saya juga coba bikin tulisan soal ini (pemula sih) … mohon petunjuk
hmmm, menarik juga. Yang jelas koran yang itu (hihihi) tidak melakukan seperti A atau B.
apa nggak mungkin ada perubahan harga selama 10 tahun, tuh? Inflasi gimana?
*maaf, saya buta urusan finansial*
produk apa yah ..??
asuransi ..??
kredit ..??
atau ..??
emuh lah .. aku binun juga masalah finansial ..
senengnya yang jelas2x aja nggak syubhat ..
Salam kenal mas pri
Sedikit paham membaca tulisan diatas…
Tapi permisalan mendapat 37 juta dalam 10 tahun itu gimana ya prosesnya (maklum orang sangat awam)
wah..om pri hebat euy ngeilustrasiinnya…
sempet ga ngerti ini ngomong apa…tp akhirnya ngerti jg..
asuransi unit-link yach…produk asuransi yang langsung jadi primadona
iya, sayang sekali priyadi kali ini justru lebih banyak menggunakan analogi. Padahal dari beberapa posting yang serupa, sempat uring2an karena banyak yang menggunakan analogi dalam diskusi. Jadi kalo memang mau mengulas lagi masalah asuransi unitlink, reksadana, instrumen investasi, manajemen finansial dsb, kenapa tidak dibahas langsung saja? jadi biar tidak terkesan tendensius. Dan lagi saya tidak percaya suatu perusahaan yang kegiatan usahanya licik dan membodohi masyarakat bisa bertahan sebegitu lama dan tumbuh makin besar. Dan faktor2 yang mempengaruhi tidak saja berupa variabel2 finansial, tapi ada juga faktor kepercayaan dan kredibilitas perusahaan di mata masyarakat.
asuransi = ilusi

MAU ???
#23:
diversifikasi investasi bisa dilakukan tanpa harus melalui unit… eh koran B
#26:
jika pelanggan merasa untung dengan berlangganan koran B, artinya dia tidak ngerti masalah finansial dan/atau tidak cukup jeli. bagaimanapun ceritanya, tetap saja dia bayar koran B dua kali lipat koran A. hanya saja, koran B dijual dalam selimut investasi sehingga kebanyakan pelanggan tidak akan menyadari kalau dia membayar 2x lipat. saya pikir ini sama sekali bukan simbiosis mutualisme.
#37:
kita sediakan uang Rp 200 ribu untuk langganan koran dan investasi (jumlah yang sama jika seandainya kita beli koran B). dari Rp 200 ribu tersebut, 50 ribunya kita pakai untuk langganan koran A. dan Rp 150 ribu sisanya kita invest ke reksadana. itu dilakukan secara rutin setiap bulan dalam 10 tahun pertama, maka dengan perkembangan investasi 13%/tahun maka uangnya akan menjadi 37 juta di akhir tahun 10.
#39:
bahasan saya sama sekali bukan analogi. ilusi finansial juga dapat diterapkan secara sempurna dalam menjual produk di luar asuransi. tulisan saya di atas memang cuma wacana, tapi bukan berarti tidak ada contoh real world-nya. salah satu contoh nyata bisa dilihat di komentar 19. contoh lainnya misalnya adalah rebate jangka panjang (misalnya anda bayar kami 5x lipat lebih mahal, tapi uangnya akan kami kembalikan 100% di tahun 10). jangan2 nanti malah orang koran jualan pakai ilusi finansial setelah dapat ide dari posting ini
.
tapi memang yang paling terkenal melakukan ilusi finansial di indonesia baru perusahaan asuransi
.
kenyataannya seperti itu kok
. kita harus balik premisnya dan balik bertanya: “kenapa perusahaan yang kegiatan usahanya licik dan membodohi masyarakat bisa bertahan sebegitu lama dan tumbuh semakin besar?”
jadi mumet mikirin para kapitalis…

mas pri, makan-makan….
kan kemaren menang…
jika pelanggan merasa untung dengan berlangganan koran B, artinya dia tidak ngerti masalah finansial dan/atau tidak cukup jeli. bagaimanapun ceritanya, tetap saja dia bayar koran B dua kali lipat koran A. hanya saja, koran B dijual dalam selimut investasi sehingga kebanyakan pelanggan tidak akan menyadari kalau dia membayar 2x lipat. saya pikir ini sama sekali bukan simbiosis mutualisme.
- saya kadang beli teh botol seharga 3000, bukan saya ga ngerti harga, tapi demi kenyamanan saya beli yg deket saya aja daripada jalan jauh ke depan
- saya kadang beli kebutuhan rumah di supermarket, bukan berarti saya ga tau hypermarket lebih murah, tapi demi kenyamanan aja
apakah tukang teh botol itu atau supermarket itu licik atau membodohi?
maksudnya adalah saya membayar lebih untuk kenyamanan, bukannya ga ngerti atau ga jeli
perbedaan harga sebesar 50rb, bisa dianggap sebagai uang lebih untuk membayar kenyamanan (debatable, tingkat kenyamanan masing2 orang beda2)
lebih jauh reksadana juga bisa dianggap sebagai koran B, karena komisi yang harus dibayarkan masih lebih besar dibanding terjun langsung (syarat & ketentuan berlaku)
intinya, jangan dipukul rata si X ga ngerti/ga jeli, ada kemungkinan lain
Yup, idem bung iip. Hanya saja bandrol teh botol n harga barang dpt dgn mudah diliat n dibandingkan, sedang “koran2″ ini harus dihitung nilai akhirnya. Nilai jual koran B ada di keengganan orang2 kita dlm mencari, menghitung, dan membandingkan. Mencari, menghitung dan membandingkan tu bukan hal yang nyaman lho…, mending untung dikit daripada mikir, orang sama2 keluar duit juga…,hehe.
ah ini masalah unit link lagi. unit link tidak bisa disamakan dengan term life insurance karena unit link adalah variabel universal life insurance.
asuransi itu sama halnya dengan kebutuhan kita yg lain: sandang, pangan, papan. jika saya bilang baju A bagus karena cocok dengan bentuk badan dan warna kulit saya belum tentu orang lain bilang baju itu juga bagus. motif orang membeli sesuatukan beda-beda.
untuk perbandingan macam2 tipe asuransi bisa lihat disini dan disini
Hehehe, pasti ini ilustrasi dari “ilusi” asuransi investasi kan
saya lebih respect sama #44. to the point dan bisa langsung di baca oleh masing2. Bagaimanapun, asuransi memiliki peluang bisnis bagi penyedianya dan memberikan benefit bagi nasabahnya. Dan suatu peluang bisnis tercipta karena disana ada supply and demand. Tergantung siapa yang jeli memanfaatkan dan melihat peluang tersebut. Dan memang sebagian besar konsumen memilih suatu produk hanya berdasarkan reputasi dari produk tersebut, bukan berarti mereka nggak ngerti. hanya saja tidak semua orang memiliki waktu dan sarana yang cukup memadai untuk melakukan riset pasar sendiri. Dan di dunia ini saya yakin tidak ada orang berjualan dengan cara menjelek2kan produknya sendiri, tetapi hal itu bukan berarti dia sudah melakukan suatu bentuk penipuan. Jika memang seperti itu, maka lembaga Bank pun sudah melakukan suatu bentuk penipuan yang bahkan dilegalisir oleh pemerintah.
#43: Er… komisi yang dibayarkan kepada reksadana tidak dapat disamakan dengan koran B. Karena ketika nasabah memasukan dananya ke reksadana, nasabah “membayar” expertise si money manager untuk mengelola uang mereka.
Nah apakah dalam kasus koran B ini kita membayar expertise juga? Tentu engga kan.
Waduh kalo baca2 tulisan mas pri jadi pengin buat tulisan turunannya nih… Bisa membantu buat membukakan pengetahuan masyarakat Indonesia yang gak paham tentang arti investasi.. Thanks buat masukan2nya yang sangat bagus buat gua sebagai agen asuransi yang pengin menjalankan misi untuk kemanusiaan dan pelayanan yang trbaik bagi nasabah…..
#43:
kalau beli teh botol Rp 3000, kita tahu harganya memang 3000, kita bayar memang Rp 3000, gak ada urusan macam2 di luar itu. sedangkan kalau beli ‘koran B’, pelanggan kadang2 tidak diberitahu berapa harga realnya (whole life/endowment), atau diberitahu sekilas (unit link) tapi penjualan produk tersebut menitikberatkan pada besar nilai tunai tahun2 kedepan.
pada pemasaran ‘koran B’, pelanggan menjudge produknya bukan berdasarkan harga produk, tapi berapa besar nilai tunai yang akan dia dapatkan. kalau dia menjudge produknya berdasarkan harga produk, B jelas kalah telak karena kualitasnya sama tapi harganya 2x lipat.
kalau memang pelanggan memilih koran B karena alasan nilai intrinsiknya yang dia rasa lebih tinggi dan sesuai dengan harganya yang lebih tinggi, saya sama sekali gak ada masalah. tapi pelanggan yang seperti ini harus terlebih dahulu melalui proses ‘jungkir balik’ mencari data dan ngitung di spreadsheet selama berhari2
.
komisi yang kita bayarkan ke reksadana itu untuk membayar manajer investasi sehingga kita gak perlu mengelola sendiri. kalau nasabah gak mau bayar manajer investasi, ya invest sendiri saja. gak ada yang ditutup2i di sini.
Saya ndak habis pikir, dari mana sampean bisa nemu pemikiran yg kayak gitu :mrgreen: Pemikiran yg menarik, mengingat koran adl produk komoditas yg biasanya dijual murah dan bisa digantikan dg relatif mudah.
Apa yg jadi issue belakangan ini setau saya adalah terkait model berlangganan media massa di internet. Kebanyakan lalu meminta agar digratiskan, hingga suatu saat anak cucu kita akan bertanya2 dan keheranan ketika ada perusahaan koran masih menarik uang kepada pelanggannya. Kan sudah ada internet.
Tapi entah apa di Indonesia akan terjadi fenomena spt itu. Dunia media massa tanpa kertas sampe skr juga masih jadi semacam ilusi.
Good Article.
Makasih mas.. sering-sering bikin ilustrasi yang seperti ini. Gimana kalau mas Pri bikin sub-blog yang khusus tentang analisa
kecurangankecerdasan dalam marketing seperti ini. Kemudian blog utama (PriyadidotNet) untuk membahas issue-issue terkini.Jangan lupakan Mr You-know-how ….
#45:
bisa saja dibandingkan asalkan term lifenya dipasangkan dengan reksadana. unit link = term life + reksadana.
sama sekali tidak ada kasus dimana whole life, endowment atau unit link/VUL lebih menguntungkan daripada term+reksadana dengan kondisi di indonesia. di amerika bisa jadi ada keuntungan dari insentif pajak (dan ini pun masih debatable), tapi di Indonesia gak ada.
selain itu, kalau kita mengasuransikan sesuatu yang dapat dipastikan terjadi, maka kita cuma memberi uang gratis ke perusahaan asuransi.
#47:
secara garis besar saya setuju nasuransi memberikan benefit bagi nasabahnya selama asuransi dibeli sesuai kebutuhan. tapi benefit ini harus dibandingkan dengan harga yang harus nasabah bayarkan. beberapa jenis asuransi dijual dengan menggunakan ‘ilusi finansial’ sehingga nasabah tidak tahu atau tidak menyadari harga yang sebenarnya harus dibayar.
coba baca baik2 tulisan saya. salah satu parameter yang harus dipertimbangkan untuk membeli suatu produk adalah harganya. dengan membeli ‘koran B’, pelanggan tidak membeli setelah mempertimbangkan harganya. pelanggan cuma melihat besarnya nilai tunai yang akan dia dapatkan. harga sebenarnya sih koran A cuma 1/2 koran B, tapi fakta ini tidak diketahui kebanyakan pelanggan.
kalau saya sih gak masalah jika koran B menjual produknya Rp 500ribu/bulan sekalipun selama dia tidak menyembunyikan fakta kalau dia jual seharga tersebut. dalam produk yang transparan, akan berlaku mekanisme pasar. yang mahal akan otomatis mendapatkan pangsa pasar lebih sedikit daripada yang murah, jika faktor2 penentu lainnya (kualitas, brand) sama persis.
memang benar bahwa selama ini produk yang dijual kurang transparan. namun hal ini bukan disengaja tapi lebih karena:
1. Agen asuransi kurang menguasai product knowledge terutama pada unsur investasi
2. Calon nasabah tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk agen menerangkan masalah investasi
untuk kasus ini saran gue cuma dua:
1. beli polisnya dan buktikan kalau produk tsb memang tidak lebih baik dari term and invest
2. jadi agen agar lebih produk dan alur dana yg dialokasikan
tp gue tetep tidak setuju kalau lo bilang term life insurance lebih baik daripada whole life insurance karena membeli asuransi itu seperti menempati rumah.
orang bisa tinggal disebuah rumah pada periode tertentu dengan cara membayar kontrak tapi rumah tidak menjadi hak miliknya dan jika nilai rumah naik orang tersebut tidak bisa merasakan manfaatnya. belum lagi harga kontrakan yang setiap tahun pasti naik.
disisi lain, orang bisa menyicil rumah tersebut. walaupun harga cicilannya lebih mahal namun rumah tersebut menjadi hak milik (asset). rumah ini nantinya bisa dijual, dijaminkan, dll. orang tersebut juga berhak atas keuntungan yg didapatkannya dr penjualan rumah.
ayo ayo berikan edukasi asuransi yang lebih objektif.
gag dong
* baca lagi *
hebat…banget saya suka sekali ide tentang ilusi finansial nya, thanks !!
To #55 Basibanget
Saran yang aneh. Tidak semua harus dialami dulu supaya kita yakin. Apa perlu nyoba terjun dari atap gedung 24lt ke basement untuk yakin kalo hal itu berbahaya? Tidak perlu bukan? Saya sendiri sudah 3 tahun 2 bulan ikut unit link. Sudah tahu berapa yang saya setorkan dan berapa hasil akhirnya dengan tingkat investasi yang dihasilkan. Kesimpulannya: Jauh lebih menguntungkan membeli Term Life dan Meng-investasikan sisanya. Karena itu saya tutup.
Untuk saran kedua, saya juga tidak bisa menjual sesuatu yang saya sendiri tidak setuju dengannya. Ini tidak sama dengan kita jualan masakan seafood walaupun kita alergi seafood. Tapi mirip dengan kita jualan jeruk asem dan bilang kalo jeruknya manis. Padahal kita tahu jeruknya asem.
#55:
tidak transparan karena memang dari sananya sudah tidak transparan. jangan salahin agennya
. contohnya: di unit link, mana informasi besar premi yang harus dibayarkan dari tahun ke tahun? di whole life, berapa besar biaya mortalita dari tahun ke tahun? sejago apapun agennya, kalau tidak diperlengkapi informasi ini ya tetap saja gak bakalan bisa kasih tahu nasabahnya
.
ya ini inti persoalannya. kalau untuk cari tahu detil suatu produk saja harus beli polis atau bahkan jadi agen, artinya ya produknya memang gak transparan. harusnya konsumen tahu persis apa yang dia beli sebelum dia menjatuhkan pilihan.
tapi gua udah bikin kok perhitungannya. dengan manfaat yang sama, term+reksadana akan jauh lebih menguntungkan daripada unit link.
hehehe, analogi rumah dan asuransi ini emang gak pernah hilang2
. yang jelas ini analogi yang salah. rumah itu aset, asuransi itu liabilitas. rumah itu properti, asuransi bukan properti. rumah diperlukan sepanjang hidup, asuransi tidak.
pilih mana: asuransi dengan UP 1 milyar atau punya uang 1 milyar? keduanya punya efek yang sama kalau kita meninggal: anak kita dapat warisan 1 milyar. tapi mana yang lebih bagus? ya jelas punya uang 1 milyar karena pertama, tidak perlu bayar premi, dan kedua, uangnya akan berkembang lebih banyak lagi. kalau kebutuhan proteksi adalah sebesar 1 milyar, asuransi cuma perlu diambil kalau nilai aset kita masih di bawah 1 milyar. lebih baik lagi kalau diatur supaya jumlah aset + UP asuransi = 1 milyar, misalnya dengan mengambil decreasing term life atau diadjust sendiri secara manual secara berkala.
hehehe, bagian mana yang gak objektif yah?
Kurang obyektif dengan mengatakan bahwa permanent life insurance tidak ada kelebihannya sama sekali dibandingkan term life insurance.
Term life insurance = murni asuransi jiwa (manfaat hanya didapat jika tertanggung meninggal dunia)
Permanent life insurance = asuransi jiwa + proteksi + tabungan + investasi
Adalah salah juga dengan menganggap bahwa permanent life insurance (seperti unit link) merupakan instrumen investasi. Pada dasarnya insurance tetap insurance.
#60:
jangan lupa bandingin juga harganya
. term life jauh lebih murah daripada permanent life. perbedaan harga yang besar itu adalah opportunity cost, dan ini juga harus diperhitungkan. harus diperhitungkan selisih harga sebesar itu enaknya diapain. dimasukin sekaligus permanent life atau diinvestasikan di tempat yang lain.
selanjutnya balik lagi ke urusan koran A vs koran B
salah juga menganggap asuransi dengan nilai tunai itu murni asuransi, karena di dalamnya pasti ada komponen investasi.
btw, unit link itu sebenernya bukan permanent life murni. ilustrasi biasanya dibuat sampai 99 tahun, tapi bedanya asuransi permanen biasanya ada penalti kalau dicairkan sebelum tanggal maturity. kalau unit link gak ada penalti. dan harusnya memang dibatalkan kalau nasabah sudah gak perlu lagi asuransi jiwa.
gak mudeng
*gelar tiker dulu ah…*
hmm… ada lo mas Pri di suatu daerah, koran nasional, inisial “K” yang menurunkan harga jual menjadi 30% dari harga normalnya di sore hari. Koran itu dijual sore Rp 1.000 harga normalnya Rp 3.000-an. Kalau saya, yang gak berkepentingan dengan berita2 yang mesti up to date info, pilih beli yang model ginian aja.
ini bukan ilusi lo mas
sebelumnya, balik ke inti yg sudah saya tulis sebelumnya
“intinya, jangan dipukul rata si X ga ngerti/ga jeli, ada kemungkinan lain”
keywordnya di”kadang2″, balik ke inti “jangan pukul rata”, ada aja orang yg sudah tau, atau malah belum tau tapi ga ada waktu buat cari tau, tapi memang ga mau ambil pusing, harga yg dibayarkan adalah harga yg mau dibayarkan, biar lah mahal2 dikit toh dia nyaman dengan itu
dalam menjual produk, harga jual tidak harus berpatokan ke harga dasar, ada nilai2 plus yang membuat produk A lebih mahal dari produk B. Ok secara kualitas sama, tapi nilai plus produk B adalah tambahan fasilitas investasi yang dimasukan ke harga jual.
kalau strategi marketing model gini dibilang licik atau membodohi ya orang2 marketing pensiun aja dari sekarang
ya itu faktor kenyamanan, daripada jungkir balik ngitung2 asuransi+reksadana, ambil yg simple aja kopi+susu 2in1
gimana kalau kalimatnya gini,
komisi yang kita bayarkan ke unit link itu untuk membayar manajer investasi+asuransi sehingga kita gak perlu mengelola sendiri. kalau nasabah gak mau bayar manajer investasi+asuransi, ya urus sendiri saja.
kalau mau menghimbau investasi+asuransi lebih tinggi returnnya ya sok aja, saya ga komplain disini, tapi dipermasalahkan soal penyamarataan kalau yg ikut ini berarti ga ngerti, juga yg menjual dengan model itu berarti membodohi
#64:
ya kalo orang tersebut udah tau perbedaan harganya dan tetap ngambil barang yang lebih mahal, ya itu saya gak ada masalah
. kalau misalnya ada orang beli rolls royce yang nilai utilitasnya kurang lebih sama dengan avanza ya sok aja itu urusan dia.
yang jadi masalah itu kalau orang beli barang dan karena dibungkus rapi dengan investasi, dia jadi tidak tahu harga intrinsik sebenarnya dari barang yang dia beli. dia beli barangnya hanya karena terkesima dengan hasil perkembangan investasinya yang berjuta2 itu, dan bukan karena hasil evaluasi kalau barang yang dia beli memang adalah deal yang lebih baik daripada barang lain di pasaran, dan atau apakah dia memang memerlukan barang tersebut.
bundling investasi di sini bukan ‘tambahan fasilitas’, tapi lebih ke ’strategi marketing’.
jungkir balik itu hanya karena ada produk yang namanya ‘unit link’. kalau tidak ada produk ini, saya gak perlu cape2 ngitung. asuransi term & reksadana itu produk dengan struktur harga yang sederhana, dan jelas gak perlu jungkir balik untuk ngitung. jungkir balik hanya diperlukan kalau mau membandingkan unit link dengan unit link lain atau term+reksadana.
biaya ekstra yang dibayarkan ke unit link itu diberikan kepada agen sebagai imbalan dalam melakukan pemasaran. dan secara intrinsik sebenarnya tidak banyak manfaat ekstra yang diberikan dari bundling kedua produk ini. sedangkan biaya manajer investasi dan asuransi sudah ada posnya tersendiri yaitu ‘biaya pengelolaan investasi’ dan ‘biaya administrasi’.
bisa jadi ada yang ikut koran B, dan memang menyadari biaya ekstra yang harus dibayarkan setelah membandingkannya dengan koran A. untuk kasus ini saya sama sekali gak masalah. tapi saya tetap berpendapat yang menjual dengan model koran B adalah membodohi pelanggan. dari beberapa pelanggan ‘koran B’ yang sempat saya bantuin ngitung opportunity costnya, hampir semuanya merasa dikadalin. yang tidak merasa dikadalin ternyata adalah agen koran B
#16 & # 17
Ramalannya meleset tuh. Baru 2 hari dah tembus 60 post ^_^
Halah malah nge-junk
“
Saya cuma bisa salut untuk orang yang mau meluangkan waktu untuk menuliskan dan menganalisa masalah-masalah seperti ini.Yang mau repot-repot tanpa pamrih apa pun ikut mencerdaskan kehidupan bangsa (kita yang emang guoblok ini). Urusan bodoh-membodohi, bego-ngebegoin, atau kadal-mengkadalin, memang perlu kita waspadai. Terlalu banyak orang pintar yang licik yang selalu mencari peluang utk menangguk untung sebesar-besarnya dari sebagian besar bangsa kita yang emang kurang kritis dan malas berpikir ini.
nah yg ini gue setuju karena pada dasarnya produk yg dipasarkan adalah asuransi jiwa yang meng-cover nasabah seumur hidup namun nasabah cukup membayar selama periode tertentu dan selanjutnya nasabah dibebaskan dari premi…yaa kurang lebih seperti itulah
do your best and we will do the rest
btw Pri..pas ditraining ada namanya konsep agen mandiri. kayanya tidak muluk-muluk juga kalo gue sebut loe nasabah mandiri. salut
#68:
betul, gua nasabah mandiri. selain itu gua juga nasabah bank niaga, BNI dan BCA
males bacanya…kepanjangan…ngantuk
Saya tidak tahu apakah ada teori ekonomi seperti itu, namun saya yang awam ilmu ekonomi merasa teknik ini tidak efektif:
1. Dengan harga 2x lipat, kemungkinannya ada 2, pelanggan berkurang sedikit maka teori Pak Pri bisa jalan, atau pelanggan berkurang drastis sehingga perusahaan COLLAPSE.
2. Siapa yang bisa menjamin banyak pelanggan yang mau tetap berlangganan selama 20thn lebih? Setahu saya jumlah pembeli koran lebih dominan yang membeli eceran
3. Setiap orang menyadari ia tidak tahu apa yg terjadi 10 thn lg (apakah masih hidup?), berapa orang yg mau membayar mahal untuk 10 thn dengan mengharap keuntungan setelah 10thn.
4. Hampir sSetiap orang selalu mengira kondisi finansialnya akan terus meningkat dari-waktu-ke-waktu. Naik pangkat, naik gaji, naik tunjangan pengabdian, dll. Jadi, kalau menurut saya tidak masalah berlangganan koran 50rb seumur hidup karena dengan meningkatnya kondisi finansial 50rb akan semakin kecil nilainya.
Aku ikut jadi penonton saja…, soalnya asuransi, reksadana dll tu mainan orang yang ada sisa uang di saku. Aku masih berusaha mencari yg sebaliknya, yang enaknya di depan, susahnya belakangan…, ngebon apa utang gitu…, kan enaknya di depan, pas harus bayar kali aja udah mati duluan.., lebih enak lagi kalo dikasih utangnya tiap bulan, terus menerus, wajib, bertahun - tahun,…dari banyak orang…
#65
lebih tepat pakai analogi beli pc ngerakit sendiri atau beli aja yg paketan
kalau ini yg menjadi masalah seharusnya yg dipermasalahkan orangnya bukan barangnya
tambahan fasilitas (nilai plus) untuk mempermudah orang berinvestasi
boleh tau kenapa berpendapat bukan ‘tambahan fasilitas’?
biaya2 dan lain lain, semakin ga nyaman semakin bisa dipangkas, makanya saya bilang reksadana ga lebih dari koran B dibanding terjun langsung
tergantung cara pandang aja, kalau anda menganggap memberikan agen imbalan suatu masalah ya silakan (anda ga masalah jalan ke depan buat dapetin teh botol yg harganya 2000), tapi (balik lagi) orang yg ga seperti itu bukannya ga ngerti
(un)fortunately saya bukan agen, ikutan aja ga
tapi saya bisa memaklumi bisnis mereka tanpa perlu menuduh mereka membodoh2i
toko elektronik di pi mall menjual camdig jauh lebih mahal dibanding beli di mall ambassador, dan di mangga dua masih lebih murah dibanding di mall ambassador
ketika ada pembeli yg baru ’sadar’ kalau toko di pi mall itu mahal lantas kemudian bilang itu toko membodohinya, orang itu yg dibodohi toko atau memang dari awal dianya yg bodoh (tidak tahu)
pada awalnya dulu reksadana masalah yg dihadapi kurang lebih sama, tingginya komisi ini bayar itu, daripada nyalahin reksadananya, prakteknya yg dibenerin
kalau sekarang unit link itu main problemnya soal transparansinya dan komisi yg bermacam2, salahin prakteknya, jangan salahin makhluknya
wew mantep bos
yup. say no to asuransi licik
bukan masalah untung ruginya sih.
tapi lebih baik mencari manajer investasi sendiri. lebih jelas dananya..
#72:
orang yang beli pc ngerakit sendiri vs beli paketan tahu persis berapa uang yang harus dia keluarkan. hampir semua orang yang beli ‘koran B’ tidak tahu berapa banyak uang yang harus dia keluarkan. bahkan analogi kopi susu 2-in-1 juga gak pas banget
.
saya mempermasalahkan orang yang menjual barangnya (maksudnya orang yang mendesain sistem jualan seperti ini, bukan kebanyakan orang di lapangan langsung).
silakan coba dijual secara unbundled and see what happens. kalau jualan jangan bilang seperti ini: “saya jualan koran B, anda cukup membayar Rp 200ribu/bulan selama 10 tahun pertama, setelah itu anda akan mendapatkan langganan koran B gratis seumur hidup! bahkan anda juga akan mendapatkan Rp 60 juta pada akhir tahun ke-20!”
tapi coba seperti ini: “saya jualan paket langganan koran A + investasi. anda bayar Rp 200 ribu/bulan kepada saya. lalu nanti setiap bulannya Rp 50 ribu saya akan setorkan untuk biaya belangganan koran A, Rp 100 ribu saya investasikan atas nama anda, dan sisanya Rp 50 ribu untuk ongkos cape saya.”
kedua cara jualan tersebut memberikan layanan yang sama persis. pelanggan akan mendapatkan hal yang sama persis jika dia ikutan sales pertama atau sales kedua. tapi bisa dipastikan sales kedua gak bakalan sesukses sales pertama. sebagian besar orang yang diprospek sales dua akan berpikir “kalau komisinya segede itu mendingan gua langganan & investasi sendiri”.
kenapa sales 1 akan lebih sukses? karena pada cara penjualan pertama ada lebih banyak informasi yang tidak sampai ke pelanggan, bukan karena sales 1 memberikan fasilitas lebih banyak daripada sales 2.
ini harus diluruskan
. tuduhan membodoh2i itu lebih kepada perusahaannya, bukan kepada agennya secara pribadi
. agen cuma melaksanakan instruksi dari ‘pusat’, merasa itu adalah pekerjaan yang pantas, dan rasanya gak ada yang memang punya niat jelek untuk monbodoh2i nasabahnya. pendapat gua: sebagian besar dari mereka juga korban. tapi ini nanti di posting lain aja
.
ini balik lagi. camdig itu dijual dengan struktur harga yang sederhana: bayar Rp X anda dapat camdig. kalau pelanggan mau cari perbandingan dan deal paling bagus di mall ambassador ya silakan saja, dia bisa dengan mudah melakukannya kalau dia mau. penjual camdig gak perlu mendisclose berapa cuan-nya. pelanggan bisa dengan mudah melakukan perbandingan antar penjual camdig dan mekanisme pasar akan memastikan cuannya gak besar2 amat, gak bakalan sebesar modalnya
. kalau ada yang setel cuannya terlalu besar, bakalan langsung ketahuan dan kebanyakan pelanggan akan pindah ke toko sebelah.
kalau misalnya selain koran B, ada koran C dan D yang dijual dengan cara serupa seperti koran B. maka B, C dan D ini tidak akan bisa berkompetisi secara efektif. gak mungkin konsumen kasual membandingkan produk2 ini secara langsung, minimal dia harus jungkir balik telpon sana sini untuk interogasi agennya dan ngitung2 di spreadsheet terlebih dahulu.
menjual barang seperti koran B dan harganya tetap semurah koran A dan tidak ada yang ditutup2i itu bukannya tidak mungkin. kalau ada produk semacam ini silakan kirim ilustrasinya dan saya akan dengan senang hati mempublikasikannya.
tapi rekomendasi umum tetap berlaku. untuk bisa memastikan konsumen mendapatkan deal yang terbaik, satu2nya cara yang praktis dan sederhana adalah dengan memisahkan asu… eh langganan koran dan investasi
.
waduh..kok soal ini mirip mata kuliah EKONOMI TEKNIK ya…hohohoh…
Trackback Komentar Jarah Jauh…
Apa itu trackback? Definisi singkatnya: komentar jarak jauh. Apabila dalam posting / artikel kita memuat link ke artikel di blog lain plus ditambah trackback (bagi pengguna wordpress), maka sebagian tulisan posting kita akan nongol di kotak komentar bl…
Illusionist marketer? or marketing illusionist?…..
unitlink = whole life insurance + reksadana (jadi 1 paket)?
kenapa bandinginnya sama term life insurance + reksadana (terpisah)?
kenapa gak sama whole life insurance + reksadana (terpisah)?
kata orang sih biar apple to apple..
susah ya..?
Bagus juga om Pri…
kita jadi tau trik dari sebuah perusahaan bagaimana dalam mengaet keuntungan lebih….
Dari awal posting sudah di jelaskan kalau B memiliki sifat yang berlebihan.
makanya dengan sistem “10th” itu membuat dia untung tambahan sebesar 13 juta di kali banyaknya pelangan yang mengikuti program tersebut.
Apa betul seperti itu om Pri .
SALAM
Saya ga ngerti soalnya belum pernah langganan koran baik itu A,B,C maupun yg lainnya…
#16,17,66
Wah baru 3 hari tebakan saya udah terlewati. Emang hebat mas Pri ini. Untuk mas Pri nggak usah pake jualan koran deh untuk dapetin untung besar. Cukup taruhan jumlah comment yang masuk.
Terus terang saya termasuk yang terpengaruh dengan argumen mas Pri ttg unit link ini. Jadi sekarang berbagai penawaran UL yang masuk lewat semua. Tapi terus terang sekarang pontang panting juga cari alternatif termlifenya
#80:
unit link = term life YRT + reksadana, bukan whole life + reksadana. kalau whole life + reksadana, maka harusnya akan ada nilai tunai yang dijamin, tapi di kebanyakan unit link gak ada nilai tunai yang dijamin.
yang whole life + reksadana itu misalnya whole life yang punya nilai tunai yang variabel/participating. kemungkinan besar sih ini gampang direplikasikan dengan term life YRT + reksadana + deposito berjangka.
Waduh masih garuk2 kepala aku….
Ilusi finansial… jadi inget buku Marketing in Venus
#76
#87:
gak masalah bayar komisi semahal apapun selama dia menyadari membayar komisi lebih. masalahnya sebagian besar pelanggan gak tahu kalau dia bayar komisi lebih. ini kan yang dipermasalahkan. yang dipermasalahkan bukan bayar sedikit atau banyak, tapi sadar atau tidak sadar telah melakukan pembayaran.
bener, cuma beda cara pemasaran
. yang didapatkan konsumen sih sama persis.
kompetisi jelas gak normal karena hampir semua konsumen tidak memiliki kemampuan untuk membandingkan B, C dan D dalam urusan harga. praktis di antara B, C dan D gak ada kompetisi yang efektif dalam urusan harga.
kalau ini silakan disurvey sendiri berapa persen orang yang termasuk kategori ‘bodoh’
.
#88
btw, comment sebelumnya salah blockquote
nope, hampir semua (ikutan ah pake kata âhampir semuaâ
) orang yg beli pc paketan ga tau berapa persis harga masing2 itemnya, pokoke terima beres, mahal? no problem, daripada ngerakit sendiri, capede 
rasanya soal ada yg sadar ada yg ga sadar soal yg setengah sadar itu varian dari konsumen yg kita mungkin sudah sama pendapat
tapi jauh di atas, komen saya sudah seperti ini “intinya, jangan dipukul rata si X ga ngerti/ga jeli, ada kemungkinan lain”
lha, yg sama persis itu sales 1 dan 2,
bukan sales A dan B, bedanya kan jelas ada tambahan fasilitas
kalau anda bisa bikin hitungan jungkir baliknya kenapa yg lain ngga? kalau mau
it’s not rocket science
ga perlu di indonesia aja, hampir di seluruh belahan bumi ini mayoritas konsumen masuk kategory ‘bodoh’, untuk beberapa item, saya, anda bisa saja masuk kategori itu, ya kecuali anda punya fetish meneliti setiap barang anda yg anda beli sampai jungkir balik
“meningkatkan harga berlangganan koran B dua kali lipat” = Licik sekaligus Jeli
meningkatkan harga berlangganan koran B dua kali lipatâ = Licik sekaligus Jelimasalahnya kadang ‘licik’ itu beda tipis sekaligus sama tipis dengan ‘cerdas’
“
kalau YRT itu ada yg otomatis gak?
maksudnya kalau mau di-renewal gak perlu proses underwriting lagi..
kalau harus ada proses underwriting lagi..bisa ribet urusannya..
apalagi pas bagian seleksi kesehatan terutama untuk usia di atas 40 tahun..
(seperti diketahui, tingkat resiko bertambah seiring bertambahnya usia)
ini bisa berarti jumlah premi yg musti dibayarkan akan jauh membengkak (karena UP sepertinya tidak akan berubah)..itupun kalau approved.
#89:
hehehe, lagi2 bukan masalah tahu atau tidak tahu, ingin tahu atau tidak tahu, peduli harga atau tidak peduli, tapi apakah konsumen dapat mudah mendapatkan informasi produk kalau kita menginginkannya. kalau agennya aja gak tahu, jangan harapkan konsumen tahu
.
kalau ada orang mau tahu berapa harga pasaran harddisk 160 GB atau harga VGA geforce 8800 yang ada di komputer yang mau dia beli, dia dapat dengan mudah melakukannya. kalau dia mau beli koran B, dia gak bisa dengan mudah kalau dia mau cari tahu. bahkan agennya mungkin gak tahu juga.
hehehe, udah dibilang dari tadi kok gak dipukul rata. seandainya ada konsumen yang ikutan ‘koran B’ setelah mengetahui apa yang dia dapat dan berapa uang yang harus dia keluarkan untuk itu, dan setelah itu tetap menjatuhkan pilihan pada koran B, saya sama sekali gak ada masalah. ada kok konsumen yang seperti ini, walaupun bukan mayoritas. mayoritas konsumen menjatuhkan pilihan karena iming2 return investasi Rp X pada tahun ke-Y, bukan karena tahu persis berapa harga yang harus dia bayar. nilai jual ‘koran B’ itu terletak pada ketidaktahuan masyarakat akan harga yang nantinya harus dibayar.
pointnya di sini adalah: tahukah konsumen berapa harga yang harus dia bayar untuk mendapatkan tambahan fasilitas tersebut? sebagai catatan, porsi investasi bukan termasuk harga yang harus konsumen bayarkan, uangnya tetap milik konsumen yang dititipkan kepada manajer investasi untuk dikelola.
memang sama sekali bukan rocket science, tapi silakan survey sendiri berapa % dari masyarakat yang mampu melakukan hitungan ‘jungkir balik’ tersebut. buat saya pribadi butuh beberapa bulan sebelum bisa melakukannya.
kalau bodoh dalam artian ‘gak peduli harga yang harus dibayarkan’, atau ‘gak peduli saya butuh atau tidak butuh’, maka tulisan2 saya bukan untuk orang2 ini. tapi perlu diingat, untuk sebagian besar konsumen, ‘proverbial koran’ akan menghabiskan porsi pendapatan yang sangat signifikan, mungkin bisa mencapai 20% penghasilan bulanan atau bahkan lebih. menjadi fetish untuk pengeluaran yang bisa mencapai 20% total penghasilan setiap bulannya rasanya adalah hal yang wajar.
#92:
beberapa YRT yang pernah saya lihat (manulife proactive, commlife danatra siaga 1, dan pruterm di singapura) semuanya dapat diperpanjang otomatis dan tidak memerlukan proses underwriting lagi.
contoh di polis manulife: “pengulangan sebagaimana dimaksud pada pasal 10.1 dapat dilakukan dengan cara membayar premi sesuai dengan tarip premi yang berlaku pada saat pengulangan, dan tidak diperlukan seleksi ulang.”
wah mas Priyadi jadi Ilusionis aja….. gantiin bang Dedy Korbuseerr..
KOonsentrasiiii…
tatap mata saya…
wah ini sebenarnyangomongin asu ransi
Setuju dengan IIP, konsumen sangat beragam dan ga bisa dipukul rata, ada segmentasinya. Tinggal sekarang produsen mau mentarget segmen konsumen yang mana. Semakin kecil populasi dari segmen konsumen yang menjadi target konsumen, wajar bila produsen mendapatkan keuntungan yg lebih besar.
Konsumen yang ga mau repot dan rela membayar sedikit lebih mahal adalah segmen pasar tersendiri yang bisa digarap. Bagi segmen ini jelas koran B ada manfaat lebih, yaitu supaya dia bisa berlangganan gratis 10 tahun lagi. Manfaat tersebut tak selalu dikonversi menjadi uang bagi konsumen, tetapi menjadi keuntungan dalam bentuk uang bagi produsen.
Intinya, menurut saya koran A dan koran B mempunyai target segmen konsumen yang berbeda, dengan demikian tidak bisa dibandingkan dari sudut pandang konsumen yang sama. Jelas koran B bila dilihat dari sudut pandang konsumen untuk koran A, akan sangat merugikan. Tetapi koran A dari sudut pandang konsumen koran B, juga sangat merepotkan.
lagi2 debatable, mudah dan tidak mudah tergantung kemampuan seseorang
kalau sudah biasa berkecimpung dikomputer gampang lah, bandingin sama orang ‘bodoh’ (sama sekali ga tahu soal komputer), jangankan banding2in harga, speknya aja ga tau mana yg cocok buat kebutuhannya, thus bukan salah toko dan bukan toko mem’bodoh’2i, salah sendiri ‘bodoh’
ok. so can we a deal here?
berarti kesimpulan ini
“jika pelanggan merasa untung dengan berlangganan koran B, artinya dia tidak ngerti masalah finansial dan/atau tidak cukup jeli”
bisa di revisi
anda bisa cari tahu, orang lain tentu bisa

tahukah konsumen, biaya tambahan fasilitas (jarak dekat, toko pakai ac, barang di antar. etc) toko komputer tanpa mensurvey dulu harga di tempat lain? lebih lanjut detail tentang spec2nya
kalau ada toko yg ngasih tau angka2 detailnya, bukan konsumen yg merasa dibodoh2i, tapi itu toko bodo bener
data 2006 jumlah komputer di indonesia 6,5 jt, hanya berapa % dari masyarakat, dan dari berapa % tersebut hanya berapa % yg mampu untuk melakukan hitungan soal harga dan spec pc silakan juga disurvey untuk perbandingan
lho, ta’ kirain anda itu priyadi eh ternyata pribadi toh
buat orang yg berkecimpung di finance rasanya ga perlu waktu selama yg anda butuhkan (see pc above)
kayaknya lagi membahasa unit link nih.
bukan sekedar koran sebagai media pers…
baunya kok sama…kayak produk p********.
om… sekali-sekali bahas tentang tarif operator seluler yang sekarang makin hari makin tambah Licik itu dong….
Karena ada nilai tambah yg dijual oleh perusahaan tsb, dan masyarakat merasa puas dengan nilai tambahnya. Kalau seseorang mendapatkan “value” yg dia beli, maka harga bukan masalah.
Contoh gampangnya, koran A marketingnya om-om yg kurus dan kumisan. Sedangkan koran B menggunakan marketing wanita muda yg cakep dan bermulut manis, tapi harga korannya 2x lipat. Saya yakin, lebih banyak orang yg tertarik beli koran B daripada koran A. Walaupun isi beritanya hampir sama.
Contoh lainnyanya mobil Toyota Avanza dan Honda CRV (duh..kapan saya bisa beli ya). Sama-sama mobil jenis SUV, tapi harga CRV 2x lipat harga Avanza. Bagi orang yg mengerti “value” dari CRV, dia tidak akan keberatan untuk membelinya, walaupun harus bayar cicilan mobil yg lebih mahal.
Dan bagi orang yg tidak tau nilai tambah dari suatu produk, jelas dia akan merasa dibodohi jika beli produk tsb dengan harga yg lebih mahal.
Karena masalah “nilai tambah” suatu produk sifatnya sangat subjektif, maka sulit dibuat perbandingan yg head-to-head. Apalagi sampai dikatakan penipuan atau pembodohan.
#94 :
Perpanjangan otomatis yg tidak memerlukan proses underwriting, jika dan hanya jika nasabah belum pernah melakukan klaim.
Prinsip asuransi Term Life sangat mirip dengan prinsip asuransi kerugian (bidang saya). Misalnya untuk asuransi mobil, ada keadaan tertentu yg membuat perpanjangan asuransi mobil tdk perlu melakukan proses underwriting ulang. Misalnya :
- belum pernah melakukan klaim
- usia kendaraan dibawah 5 tahun
Untuk masalah klaim, proses underwritingnya juga melakukan cross check ke asuransi lain. Jika nasabah tidak jujur, ada kemungkinan klaim ditolak. Terutama jika ternyata nasabah sudah pernah klaim di asuransi lain, tapi waktu pengisian form pengajuan asuransi nasabah bilang tidak pernah asuransi di tempat lain.
Untung saja saya bukan di bagian klaim, jadi kalau ada klaim yg ditolak saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar dan menerima omelan nasabah dan agen yg cerewet.
Oh ya..satu lagi untuk hari ini.
Unit Link bukan Term Life + Investasi.
tapi
Unit Link = Whole Life + Investasi.
Terserah kalo ada yg mau ngotot di sini bilang unitlink adalah term life + investasi. Tapi kalo topik ini keluar di ujian AAJI, pilih yg jawaban Unit Link adalah Whole Life + Investasi.
#98:
analoginya kayanya sudah ngelantur terlalu jauh. kalau dicari2kan celahnya pasti ada juga
. sebego2nya orang beli komputer, dia pasti tahu harga yang harus dia bayar. kalau misalnya komputer built up HP dibandrol 7 juta, dan lenovo dibandrol 8 juta, dia sudah tahu harganya masing2 7 juta dan 8 juta. bayar 7 juta dapet HP, bayar 8 juta dapet lenovo.
kalau dia beli koran B, dia gak bisa tahu berapa yang harus dia bayar hanya dari informasi yang diberikan oleh salesnya. yang dia tahu cuma dia harus setor Rp 200ribu/bulan. dari 200 ribu tersebut sebagian untuk dibelikan koran B, tapi sebagian lagi tetap milik dia yang dititipkan ke manajer investasi. proporsi keduanya ini yang gak jelas.
deal, i stand corrected. i didn’t wish to alienate some consumers here.
pertama, barang yang dijual dengan struktur harga sederhana bisa dengan mudah dibandingkan. kalau misalnya penjual camdig harga modalnya 1,5 juta, lalu barangnya dijual dengan margin 2x lipat jadi 3 juta, maka gampang ketahuan kalau dia jualan terlalu mahal. mekanisme pasar akan memastikan harganya gak akan terlalu mahal. kalo masih nekat jual kemahalan, ya sebagian pelanggan akan kabur ke toko sebelah.
kedua, kalau konsumen beli ‘koran B’, sebagian dari uang yang dibayarkan konsumen tetap milik konsumen, tapi berapa jumlahnya ini yang gak jelas.
hehehe. kalau ini sih silakan aja dicoba sendiri
.
pertama-tama, yang paling gampang dan sederhana, coba bandingkan koran B dengan koran A+investasi terpisah. kedua, coba minta ilustrasi ke ‘koran B’, terus dari situ tentukan berapa harga produk yang ditawarkan tersebut, bukan cuma di tahun pertama, tapi juga tahun2 selanjutnya. ketiga, coba minta ilustrasi ke dua perusahaan yang berbeda untuk produk yang seperti ‘koran B’ dengan spec yang sama persis, dari situ hitung mana yang lebih menguntungkan.
hint: punya pengetahuan finance yang mencukupi itu baru rintangan pertama, masalah utamanya adalah bisa gak dapat data yang diperlukan untuk melakukan perhitungan? informasi yang diperlukan untuk membandingkan produk tersebut dengan produk lainnya tidak diberikan dalam ilustrasi, dan agen pun tidak diperlengkapi dengan informasi tersebut.
#103:
kalau beli mobil sih dia gampang tahu harga avanza dan CRV. dan harganya bisa langsung dibandingkan. nah, kalo koran B dan koran C? gimana caranya?
#104:
bung firesquid, ente gak perlu mengulang2 argumen yang sama persis di setiap postingan saya tentang asuransi
. saya sudah baca, dan sudah saya balas juga. gak perlu saya balas lagi di sini
.
#105:
sebagian besar unit link itu term life + investasi. tapi saya gak menutup kalau memang ada unit link yang whole life + investasi. bedanya yang terakhir ini ada nilai tunai yang besarnya dijamin, seperti yang ada di whole life yang stand alone. dan biasanya gak dikasih label ‘unit link’, biasanya dikasih nama ’semi unit link’, ‘participating whole life/endowment’, ‘universal life’, ‘with profits whole life’, ‘variable whole life’, etc.
kalau unit linknya gak ada nilai tunai yang dijamin, maka sudah pasti komponen asuransinya bukan whole life.
#97:
ini saya setuju. tapi di sini mekanisme pasar gak jalan. pada kenyataannya di lapangan, yang mendapatkan pangsa pasar paling besar justru adalah produsen yang menerapkan profit margin yang paling besar. pasar produk yang dijual seperti ‘koran B’ adalah pasar yang unik, di sini mayoritas konsumen gak tahu berapa biaya yang harus dia bayarkan sebelum menjatuhkan pilihan pada suatu produk. di sini produk gak dijual pada fair market value-nya.
jadi hint buat para kompetitor: naikin aja harganya, gak perlu cape2 ngadu harga
dalam problematika perkoranan yg dikupas oleh bapak priaydi di atas itu, kira-kira berlaku ga’ teori ,em>”You Get What You Pay For”?, ..dalam konteks koran-koran indonesia tentunya
ok, berarti tinggal 1 permasalahan, soal bodoh membodohi
intinya anda menganggap koran B membodohi konsumen karena tidak transparan, cmiiw
kenyataannya hanya _kurang_ transparan (kalau tidak transparan sampai melotot mata anda ga bakal anda bisa melihat hitung2annya)
sementara saya menganggap itu hal yg wajar dalam bisnis, karena hampir semua penjual melakukan itu, hanya tingkat transparansinya yg berbeda, ketika kompetisi semakin banyak tingkat transparansi akan semakin besar
koran sudah mencapai tingkat kompetisi yg bagus, koran+investasi merupakan suatu makhluk baru yg untuk menuju tingkat kompetisi yg bagus akan butuh waktu dan proses, jangan membandingkan mereka sebagai makhluk yg sama
dulunya, reksadana tidak lebih dari koran B yg anda bahas sekarang, penuh dengan kekurangtransparanan, dibanding dengan saham langsung
bayangkan kalau waktu itu reksadana mati sebelum berkembang, yg pasti topik ini ga akan ada
dari sisi pandang saya, definisi membodohi dalam menjual menurut saya yaitu ketika penjual memberikan false data yg membuat pembeli merasa dibodohi ketika tahu, tetapi ketika penjual memberikan data yg benar walaupun sesuai tingkat transparansi, yang salah adalah konsumen tsb yg kurang buka mata untuk menembus transparansinya
Loh..bukannya harga untuk langganan koran B atau C sudah dikasih tau harganya sebelum pelanggan membeli.
Misalnya untuk langganan koran B seumur hidup, pelanggan bayar 12 juta, bisa dicicil 1,2 jt/tahun. Sedangkan untuk langganan koran C seumur hidup, pelanggan bayar 15 juta, bisa dicicil 1,5 jt/tahun.
Sama juga kalo beli Avanza dan CRV.
Misalnya kredit Avanza 120 juta, bisa dicicil 24 juta/tahun selama 5 tahun. Sedangkan CRV, misalnya 280 juta, bisa dicicil 56 juta/tahun selama 5 tahun.
Prinsipnya sama, hanya Mas Priyadi kurang membuka diri aja. Makanya terlihat rumit dan berbelit-belit
.
Sebagian besar…wow !! Sepertinya Mas Priyadi sudah survey semua produk unit link. Bisa tolong sebutkan yg mana saja?
Biar para pembaca bisa cross check. Kalo ada yg beli unit link ternyata polis dia term life + investasi, kan dia bisa batalin polisnya dan pindah ke yg whole life + investasi.
Mas…ada beda antara whole life dan endowment (dwiguna). Yg menjamin nilai tunai itu asuransi yg endowment, bukan whole life.
Seperti saya pernah bilan, mekanisme pasar hanya menguntungkan konsumen, tidak produsen. Produsen sulit sekali mendapatkan keuntungan yang lebih besar bila mengikuti mekanisme pasar, oleh sebab itu produsen harus dapat keluar dari persaingan untuk memberikan nilai tambah. Dan langganan gratis setelah 10 tahun adalah suatu nilai tambah. Dengan adanya nilai tambah maka koran B membentuk pasar baru.
Market value juga harus melihat nilai tambahnya, tidak hanya nilai uangnya saja. Sekarang tinggal valuation konsumen terhadap nilai tambah tersebut layak atau tidak, dan sekali lagi itu tidak selalu harus dihitung dalam bentuk nilai uang. Valuation untuk nilai tambah koran B, bisa saja dalam bentuk konsumen kenikmatan tidak dikejar-kejar tagihan koran selamanya setelah 10 tahun, atau ya mungkin hal lain. Nilai tambah tersebut menjadi margin keuntungan dalam bentuk nilai uang untuk penerbit koran.
Ha ha ha…..
Ayo lomba jadi dukun !!!!
Siapa jago ngomong ????
Siapa bisa tahu 10 tahun ke depan retun tetep tinggi ???
Belum tentu unitlink menang
Belum tentu reksadana menang
yang menang yang jago ngomong dan yang nguasai jalur informasi & komunikasi..
Hai semua.. ^^ Pertama kali nih dateng ke blog mas Priyadi, langsung disambut sama adu argumentasi soal unit link..
hehe.. klo boleh ikutan nimbrung.. Kyaknya pendapat mas Priyadi dan mas IIP sama2 bener..
Saya sendiri awam banget soal investasi-asuransi, baru ngeh itu kira-kira 2 tahun yang lalu ketika saya ditawari produk unit link, yaitu asuransi jiwa (duh ga ngerti whole/term –> contoh konsumen bodoh @_@) + investasi. Dulu, untuk orang awam sperti saya (mungkin konsumen2 yang masuk golongan ini yang dimaksud oleh mas Priyadi), saya tertarik banget buat ikutan, karena silau sama iming-iming investasi, sebenernya sih ga terlalu peduli sama produk asuransinya
Semenjak join unit link, saya jadi tertarik untuk cari-cari tau lbh dalam mengenai investasi, akhirnya saya nemu produk yang namanya reksadana (heheheh.. telat amat ya..). Dari hasil cari-cari tahu itu, saya memang baru ngeh bahwa menurut saya unit link itu merugikan, karena dengan mengambil asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah, saya akan mendapat keuntungan lebih besar.. Dan saya gak keberatan kok, untuk repot sedikit demi memiliki selisih keuntungan itu.. (beda sama PC, daripada ngerakit sendiri, mending bli jadi dhe.. hihi)
Nah, segmen pasar sperti saya inilah yang dikritisi oleh mas Priyadi (eh bener ga ya? :P
Karena saya tidak tahu apa-apa, dan berharap keuntungan yang besar, padahal sebenarnya ada produk lain yang bisa memberi dia keuntungan lebih besar (maruk.. dasar manusia.. hehe :P
Sedangkan si unit link itu blm saya stop, kenapa? karena agennya adalah ibu saya sendiri.. hihihihi
ya mungkin ini sejalan sama alasan mas IIP, memang ga bisa dipukul rata alesan orang2 membeli produk unit link..
Tapi.. (kyaknya ga bisa di tengah terus nih, harus menentukan pilihan :P
secara umum saya lebih setuju kepada pendapat mas Priyadi.. karena menurut saya ada dua jenis konsumen:
1. konsumen unit link yang tidak mengetahui ada alternatif lain yang lebih menguntungkan, tetapi sedikit merepotkan, dan konsumen tersebut tidak keberatan untuk mengambil alternatif itu
2. konsumen unit link yang tahu ada alternatif lain yang lebih menguntungkan, tetapi karena tidak mau repot, maka dia memilih produk unit link
Sekarang permasalahannya mnurut saya ada di persentase konsumen (hayah.. moga2 ga nambah2 masalah :P
, berapa banyak konsumen jenis 1 (saya termasuk didalamnya), jika persentase konsumen jenis 1 jauh lebih besar (yang menurut saya begitu.. :P
maka jelas, pencetus ide unit link ini sudah melakukan pembodohan, memanfaatkan ketidaktahuan/kebodohan target konsumen mereka
Jangan lupa bahwa produk ini juga melibatkan uang yang tidak sedikit, tidak sperti PC, apalagi teh botol
Jadi, klo menurut saya sih, itu bukan praktek bisnis yang baik..
(dinilai dari segi konsumen ya, klo bisnismen mungkin baik, kan keuntungannya gede.. hehe :P
Sekian, wuih panjang juga..
#109:
selama ini, mereka cuma transparan kalau itu menguntungkan mereka. mereka bersedia ngitungin proyeksi investasi sampai 99 tahun. tapi soal ngasih tahu berapa yang harus customer bayar in short term dalam jumlah yang pasti, mereka gak mau ngitungin. semua perhitungan yang konsumen lakukan hanya bisa menggunakan data2 ini.
setuju. saya pikir posting2 saya selama ini juga bagian dari proses. jangan harap ‘koranlink’ bisa mencapai tingkat kompetisi yang bagus kalau didiamkan begitu saja, kalau konsumen gak pernah diberi tahu berapa harga sesungguhnya yang harus dia bayar.
lying by omission is still lying. apalagi menyangkut urusan penting seperti harga.
kalau ada pembeli orang awam soal ikan kemudian beli ikan di pasar, oleh penjual dikasih ikan hasil tangkepan 2 hari yang lalu. setelah sampai rumah ternyata ikannya busuk. yang salah siapa? boleh saja nuduh pembeli salah karena ‘gak teliti’ dan ‘gak punya keahlian menilai kualitas ikan’. tapi cuma sebatas itu dan bukan berarti penjualnya gak punya salah sama sekali.
#110:
dalam biaya yang kita setorkan tersebut ada dua komponen: untuk beli koran B dan untuk investasi. yang untuk investasi ini tetap milik pelanggan, tapi dititipkan kepada manajer investasi untuk diputerin. yang dicari ini adalah komponen yang pertama.
prudential prulink itu term life YRT + investasi.
* premi yang dibayarkan nasabah meningkat sesuai usia, sedangkan di whole life itu level.
* kalau di-surrender, gak ada nilai tunai yang dijamin yang berasal dari porsi asuransi. yang ada cuma hasil investasi.
#111:
betul. tapi sebaliknya juga berlaku: kalau sama sekali tidak ada mekanisme pasar, artinya hanya menguntungkan produsen dan sama sekali gak menguntungkan konsumen. dan saya di sini adalah konsumen
. yang anda bilang di atas itu namanya diferensiasi produk. diferensiasi produk tidak menghilangkan mekanisme pasar sama sekali, kalau suatu produk sukses di niche-nya yang baru, bisa dipastikan produk lain akan berbondong2 masuk ke niche tersebut. dan gak ada yang bisa melarang mereka, kecuali anda punya kekuatan hukum seperti paten, atau monopoli/oligopoli yang disahkan pemerintah.
masalah pada produk seperti koran B di sini cuma satu: mekanisme pasar gak terbentuk karena pasarnya tidak adil. produsen tahu harga yang mereka tawarkan, tapi konsumen tidak tahu harga yang mereka bayarkan. mayoritas konsumen membeli tanpa mengetahui harga yang mereka bayarkan.
tidak hanya uangnya saja saya setuju. tapi mengetahui harga untuk produk/jasa yang dibeli adalah wajib. untuk sebagian orang, price point Rp 50 ribu/bulan untuk mendapatkan nilai ‘tidak dikejar2 tagihan koran selamanya’ mungkin layak. tapi untuk orang lain mungkin terlalu mahal.
terus apa kata pakar Roy Suryo?
Setuju ngga nih?
#113:
koreksi, saya tidak menyalahkan konsumen pada segmen tersebut. kalau saya lihat mayoritas nasabah UL punya profil seperti anda, ikut UL terutama karena terpengaruh faktor emosi (greed and fear) dan bukan karena pertimbangan rasional. sekali lagi saya gak nyalahin konsumennya, saya menyalahkan penjual yang terkadang terlalu jauh dalam memanfaatkan emosi calon nasabah2nya.
yg membuat kita berbeda persepsi karena dari awal anda menganggap koran+investasi sebagai gabungan 2 unit yg bisa dipilah2, bukan sebuah unit baru yg mempunyai aturan2 dan pasar sendiri
anda pernah kasih contoh lenovo dan HP, disitu dibandingkan head to head
bandingkan jika anda mencoba membelah menjadi unit2 pembentuknya, anda akan mencari data2 dari harga modal cpunya, memorynya, hd-nya,
apakah lenovo atau hp itu akan memberikan jawaban yg transparan? hd, battery mungkin masih bisa dijawab, tapi kalau semua itemnya mau ditanyain, silakan jungkir balik, dan hasil jungkir balik itu kira2 sudah bisa ditebaklah
kalau memang niatnya mencapai tingkat kompetisi yg bagus untuk koranlink ini, yg dibahas seharusnya perbandingan koranlink A (HP) dengan koranlink B (lenovo), koranlink yg ingin lebih menonjol akan membuka sedikit level transparansinya, memotong biaya2 komisi yg tidak perlu, etc
contoh ikan di atas contoh untuk penjual yg memberikan memberikan false data, bukan penjual yg kurang transparan
sama halnya kalau koran B mengeluarkan lagi konten 2 hari yg lalu
tujuan orang membeli ikan tentu ikan segar, tujuan orang membeli koranlink tentu koran dengan berita terbaru dan investasi
lying by omission menjadi lying ketika fakta2 yg disembunyikan menyebabkan orang menjadi salah konsepsi
ketika ada penjual yang hanya memberikan sebagian jawaban sesuai dengan rule2 bisnis dan bukan dalam rangka missconception hal ini semestinya tidak bisa masuk kategori lying
Kalau menurut pendapat saya: koran B tidak beretika dlm bisnisnya. Tp.., ya jaman skrg yg namanya etika spt ini sdh masuk wilayah abu2, sangat debatable.
Ya sudahlah. Tp, bagaimanapun jg saya berada di sisi kontra thd koran b, krn itu trmasuk pengelabuan. Kalo guru ngajiku matur:
‘ojo bisnis ngono, kuwi ora berkah le..’
#119:
jualan produk koran+investasi memang seharusnya dipilah2, atau paling tidak ada transparansi, karena sebagian dana yang kita setorkan tetap menjadi milik kita. kondisi sekarang gak jelas berapa % menjadi hak penjual dan berapa % yang menjadi hak konsumen.
ini sebabnya susah menganalogikan segala aspek bundling investasi dengan bundling produk X dan produk Y. kalau kita beli barang, uangnya menjadi hak penjual. kalo investor berinvestasi, uangnya tetap menjadi hak investor, bukan hak manajer investasi. yang menjadi hak manajer investasi cuma sebagian kecil dari dana tersebut.
pertama, it is virtually impossible to do so
. yang harus dilakukan adalah menyamakan asumsi perkembangan investasi. tapi tanpa data mentahnya, hal ini gak mungkin dilakukan
. jangankan konsumen, agen pun gak tahu. membandingkan besar komisi/biaya akuisisi secara langsung juga gak mungkin karena ini cuma membandingkan satu pos biaya, bukan overall cost yang harus dibayar nasabah.
kedua, tidak ada salahnya membandingkan dengan benchmark beli koran A + beli investasi terpisah. sama kalau misalnya kita membandingkan selisih harga antara ngerakit sendiri dan beli HP built up. selisih harga ini adalah bagaimana HP menghargai nilai yang dia berikan kepada pelanggan.
ketiga, tidak semua konsumen butuh ‘koran+investasi’, sebagian cuma butuh koran, sebagian cuma butuh investasi, sebagian lagi gak butuh keduanya. dalam perjalanan hidup, manusia akan melewati fase2 kebutuhan tersebut. koran B hanya cocok bagi yang membutuhkan keduanya sekaligus. kalau trennya seperti sekarang, lama2 bisa jadi gak akan ada yang jualan korannya doang
. sekarang saja sudah ada beberapa perusahaan yang gak punya produk koran doang.
sebenernya sama sekali gak ada yang salah jualan ikan yang gak terlalu segar (mungkin aja rumah dia cuma 5 menit & ikannya mau langsung dimasak), atau jualan koran bekas. yang salah itu menyembunyikan fakta kepada pembeli kalau itu ikan yang gak segar dan menjualnya seakan2 itu ikan segar. di koran B, fakta yang disembunyikan adalah harganya. sebenernya gak ada yang ngelarang B untuk jualan koran dengan harga setinggi apapun, bahkan Rp 1 juta/bulan sekalipun. tapi kalau harga tersebut disembunyikan dengan rapih menggunakan ilusi finansial, lain lagi ceritanya.
yang terjadi di lapangan seperti itu kok
. salah satunya, mayoritas konsumen gak diberi tahu persis berapa harga yang harus dia bayar sebelum dia beli barangnya.
ilusi,.. kalo koran masih akan ada 20 th kemudian…hehehe
unitlink itu adalah hasil evolusi produk asuransi.
dari yg dulu murni bayar premi dan kalau gak ada klaim selama masa pertanggungan gak akan ada nilai tunai yg bisa didapat nasabah..sampai ada yg memberikan nilai tunai.
dari yg murni proteksi..sampai ada yg dikaitkan dengan produk perbankan (bancassurance).
nah..sekarang ada asuransi yg dikaitakan dengan investasi.
itu semua lahir karena mereka -perusahaan asuransi- mencari terobosan baru untuk lebih memikat calon konsumennya.
maka lahirlah makhluk baru bernama unitlink..bukan asuransi murni tapi juga bukan produk investasi murni.
karena unitlink itu adalah satu makhluk baru, maka porsi proteksi dan investasi di dalam unitlink gak bisa dipisahkan.
meski demikian kita bisa mencari tahu rincian harga masing2 unsur pembentuknya.
seperti suatu produk kopi+gula dalam satu kemasan.
kalau dipisah, bukan lagi menjadi produk kopi+gula dalam satu kemasan.
susah nyari tahu apakah harga masing2 unsur tsb terbilang mahal atau tidak?
ya dilihat saja dulu sifat2nya..
setelah itu cari produk lain yg hanya terdiri dari satu unsur yg mempunyai sifat yg sama dengan sifat unsur2 pembentuk unitlink..,lalu bandingkan dengan harga yg diberikan unitlink.
Priyadi selalu bilang ada ’sesuatu’ yg ditutupi pada unitlink.
sesuatu itu adalah harga kan?
memangnya harga apa sih yg tidak ada di proposal/ilustrasi/buku polis unitlink?
biaya asuransi?
sudah ada di ilustrasi dan buku polis
memang, kalau di ilustrasi dan buku polis hanya memuat biaya asuransi untuk 2 tahun pertama, tapi di laporan setiap akhir tahun terdapat besaran biaya untuk tahun depan.
kenapa gak sekalian dicantumkan seluruh biaya asuransi sampai masa pertanggungan berakhir?
ya karena bila nasabah pernah mengalami musibah, maka harga untuk tahun berikutnya sudah pasti akan jauh berubah..dan ini di-adjust di akhir tahun pembukuan.
jadi gak bisa ditentukan biayanya untuk jangka waktu yg panjang.., apalagi dipukul rata.
CMIIW..
biaya administrasi?
biaya akuisisi?
biaya pegelolaan investasi?
biaya top up?
sudah ada di ilustrasi.
kalau semua sudah dicantumkan..apakah konsumen dibodohi?
apakah konsumen dibohongi?
lalu kenapa harganya lebih mahal bila dibandingkan membeli terpisah?
kopi dan gula (maaf, sepertinya ini analogi yg paling sederhana) kalau dibeli terpisah sudah pasti kumulatif harganya lebih murah dibandingkan dengan harga produk berisi kopi+gula dalam satu kemasan (bila membandingkannya benar2 adil dan accountable).
dan semua produk yg isinya ada lebih dari satu unsur (gabungan) dapat dipastikan lebih mahal bila dibandingkan dengan harga produk pretelannya.
selalu ada harga untuk setiap kemudahan.
kemudahan ini yg dicharge pada unitlink (selain unitlink adalah produk baru, bukan produk tersendiri dari unsur pembentuknya), bukan kebodohan masyarakat.
perusahaan asuransi berharap dengan adanya kemudahan tsb (bayar satu, dapat dua manfaat sekaligus) akan semakin menarik minat masyarakat untuk memiliki produk asuransi.
kalau kebodohan masyarakat yg dicharge..dengan seiring majunya pemahaman masyarakat akan produk asuransi dan produk investasi, maka unitlink akan semakin sesak nafasnya..dan mati.
survival of the fittest, kalau menurut Darwin.
so..
yuk jadi konsumen yg cerdas..
bukan cuma bisa mengkritik apalagi mencela..
tapi belajar MELIHAT DENGAN BENAR dahulu sebelum menilai atau mengkritisi..
UNITLINK = PRODUK ASURANSI YANG DIKAITKAN DENGAN INVESTASI.
#123:
di asuransi praktik tersebut sudah dianggap sebagai suatu kewajaran, it is something that we’ve taken for granted. makanya saya pakai contoh koran, supaya gak ada anggapan sebelumnya
mungkin lebih baik jangan terlalu jauh beranalogi. kalau kita beli kopi+gula, kita setor uang untuk bayar kopi dan gula. kalau kita beli X+investasi, maka kita tetap beli X, tapi uang yang disetorkan dalam porsi investasi itu tetap milik kita. pemisahan keduanya adalah hal yang penting untuk dilakukan.
* harga harusnya dimuat di ilustrasi awal sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, karena itu adalah faktor yang penting untuk dipertimbangkan.
* mayoritas asuransi jiwa jaman sekarang punya klausul guaranteed renewability, termasuk UL, kalau diperpanjang gak harus melalui proses underwriting lagi dan pasti diterima (btw, kok susah sekali ya menerangkan point ini, pada gak bisa ngerti atau gak mau ngerti?)
contoh simple aja deh. mulai sekarang jangan bilang pake bahasa planet “anda akan ditagihkan biaya akuisisi 5 tahun pertama adalah 100%, 60%, 15%, 15%, dan 15%, selanjutnya gratis!”. tapi coba bilang langsung terus terang misalnya “anda bayar saya Rp 24 juta, 14.4 juta, 3.6 juta, 3.6 juta, dan 3.6 juta dalam 5 tahun pertama untuk layanan 2-in-1 yang saya berikan.”. apa mayoritas konsumen asuransi masih mau beli seandainya ditawarkan seperti yang terakhir?
yang menjadi pasar UL ini adalah ketidakmengertian masyarakat. pasar asuransi gak kompetitif karena mereka gak bisa membandingkan langsung produk2 asuransi yang ditawarkan kepada mereka.
Makanya pasar selalu mengarah pada keseimbangan, karena pada kenyataannya memang tidak mungkin juga mekanisme pasar 100% berjalan sempurna. Betul, membentuk pasar baru pasti akan selalu diikuti oleh follower. Dan ketika pasar sudah tidak lagi menguntungkan akan selalu membentuk niche / pasar baru lagi.
Ngga mungkin pasar harus 100% adil. Adilnya untuk siapa dulu. kalo 100% adil untuk konsumen, jelas pasar tidak akan menarik lagi untuk produsen. Kalo adilnya 100% untuk produsen, jelas akan banyak praktik penipuan. Makanya pasar pasti akan mengarah pada keseimbangan, yang menguntungkan konsumen dan juga menguntungkan produsen.
Ga semua orang kan mau repot-repot mau menghitung beginian. Dan orang-orang yang ga mau repot ini adalah salah satu segmen pasar yang dijadikan target.
Basicly, saya ngga keberatan dengan postingan anda yg mengupas hal-hal seperti ini. Setidaknya itu membuka pikiran pada orang untuk mau repot demi mendapat keuntungan yang lebih maksimal, dan segmen ini memang ada dan saya yakin populasinya juga cukup besar. Tapi menuduh produk seperti asuransi unitlink sebagai salah satu produk ‘penipuan’ yang merugikan konsumen, itu tidak tepat sasaran.
#115 :
Ini kata Mas Priyadi kan, bukan kata Prudential. Sedangkan Prudential berkata sebaliknya. Seorang koki jelas lebih tau resep daripada konsumen.
Nga tuh…
Polis prulink saya hanya perlu bayar premi fix 9 juta pertahun, sampai 10 tahun saja. Dan setelah itu saya bisa menikmati proteksi seumur hidup.
Sebelum kita bahas lebih byk mengenai asuransi, apakah Mas Priyadi tau kenapa asuransi whole life menetapkan premi yg sama setiap tahunnya?
Semua asuransi juga sama Mas. Tidak ada pengembalian nilai tunai dari porsi asuransi, kecuali model Syariah.
Kalo asuransi jenis Endowment menawarkan pengembalian nilai tunai, karena sebenarnya dia juga asuransi + investasi. Dimana yg dikembalikan adalah porsi investasi.
Tapi bedanya Endowment dengan unit link, ada nilai tunai terjamin. Tidak perduli perusahaan tsb putar uang di mana, untung atau rugi, yg jelas nasabah hanya tau dapat duit sekian-sekian. Sedangkan unitlink lebih transparant mengenai investasi, kalau untung dinikmati bersama, tapi kalo rugi ya ditanggung bersama.
#121 :
Waduh…kenapa susah sekali menjelaskan kepada Mas Priyadi. Masih aja ngotot ttg harga yg “menurut” Mas Priyadi tidak transparan.
Simplenya begini aja….
Perusahaan koran B menawarkan kepada pelanggan untuk beli “Special Produk” yg harganya sebesar 15 juta, boleh dicicil 1,5 juta/tahun selama 10 tahun. Kelebihan “Special Produk” tsb adalah sbb :
- berlangganan koran B seumur hidup
- mendapatkan sebagian pengembalian nilai tunai yg telah dibayar, jika ternyata mau stop langganan sebelum tahun 10
- mendapatkan hasil investasi yg lumayan, misalnya jika stop langganan pada tahun ke 20
Perduli amat dengan harga produksi koran dan biaya tetek bengek lainnya. Yang penting saya bayar “Special Produk” tsb seharga 15 juta untuk dapatkan 1 produk dengan benefit seperti diatas.
Kalau Mas Priyadi mau beli mobil Honda CRV (aduh…kok CRV lagi), apakah ada tanyakan mengenai harga produksi, pajak barang mewah, biaya import, komisi marketing, dll ??
Misalnya harga produksi Honda CRV hanya 80 juta. Setelah melalui berbagai proses lalu di showroom ditawarkan 280 juta boleh cicil 28 juta/tahun. Apakah berarti dealer mobil tsb “membodohi” pembeli ?
#124 :
Pasti dimuat di ilustrasi, bahkan dijelaskan. Lihat kembali contoh harga “Special Produk” koran B diatas.
Tidak semua asuransi jiwa ada klausul guarnted renewalbility. Yg punya klausul renewal guarantee hanya model Endowment, Whole Life, dan Unit Link. Renewal guarantee ini hanya berlaku jika polis tidak lapse (premi tdk dibayar).
Tapi Term Life juga punya cara seolah-olah terlihat seperti punya klausul diatas. Namanya Level Term Life. Produk ini menawarkan renewal guarantee untuk periode tertentu misalnya 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun. Makin besar periode, makin besar pula premi yg harus disetorkan.
Selama masih dalam periode guarantee, nasabah banya perlu setor premi seperti biasa tanpa perlu melewati berbagai proses underwriting.
Tapi…ada tapinya……renewal guarantee di Level Term Life ini hanya berlaku jika dan hanya jika kondisi kesehatan nasabah memungkinkan. Kalau misalnya sudah terdiagnosa sakit kritis seperti kanker, maka perpanjangan manfaat asuransi bisa dibatalkan.
Kelemahan inilah yg membuat Term Life preminya amat sangat murah. Bahkan yg Level Term Life 20 tahun juga masih lebih murah daripada yg Whole Life.
Untuk informasi ttg Term Life, silahkan tanyakan pada perusahaan yg ahli di bidang tersebut, seperti Bumiputera dan Jiwasraya.
#125:
definisi adil di sini adalah kedua belah pihak, baik penjual maupun pembeli tahu persis apa yang akan mereka serahkan dan apa yang mereka dapatkan. pasar asuransi tidak adil karena hanya satu pihak yang tahu apa yang akan mereka terima, tapi pihak lain tidak mengetahui apa yang akan mereka setorkan, sehingga produk UL gak dijual pada titik fair market value-nya.
wah ini terbalik. repot2 menghitung itu justru disebabkan oleh keberadaan produk UL. jika konsumen ingin mengetahui hal yang perlu diketahui pada saat transaksi seperti harga yang harus dibayarkan pada porsi asuransi di UL, kita harus repot2 jungkir balik menghitung. kalau tidak ada produk UL (asuransi dan investasi selalu ditawarkan terpisah), justru kita gak perlu repot2 menghitung, setidaknya tidak serumit kalau menghitung UL. nilai tambah yang ditawarkan UL itu jelas sama sekali bukan ‘tidak perlu repot2 menghitung’.
dari cara beberapa produk UL dipasarkan, perasaan saya mengatakan produk ini sengaja dibuat untuk mengelabui konsumen. apakah memang benar hal tersebut disengaja atau tidak saya memang gak tahu, tapi kenyataannya di lapangan banyak konsumen yang merasa ‘tertipu’. banyak yang tahu biaya yang harus dikeluarkan bukannya pada saat transaksi dijalankan, tapi justru setelah beberapa tahun ikutan.
Gila!! tulisannya mantap, cerdas dan informatif.
#126: bung firesquid, sekali lagi anda gak perlu memposting segala argumen anda di semua tulisan saya tentang asuransi. semuanya sudah pernah saya balas di thread sebelah. kali ini saya balas yang relevan dengan tulisan saya saja.
kalau anda pribadi mau tutup mata begitu saja ya itu terserah anda, it’s your own money. tapi saya pribadi peduli
.
anda ini kebanyakan analogi
. bundling investasi jangan disamakan dengan bundling produk. kalau kita membundling produk, konsumen keluar duit untuk membayar produk tersebut. kalau kita beli investasi, uangnya tetap milik kita, tapi dititipkan manajer investasi untuk dikelola. rasanya posting saya di atas sudah cukup jelas.
ini FUD, blatant lies. sebagian besar produk term life jaman sekarang punya guaranteed renewability. kalau ngambil term life 5 tahun misalnya, harga untuk 5 tahun berikutnya (dan berikutnya, dst) sudah dicantumkan pada polis. dan harga ini bersifat mengikat. kalau nasabah mau memperpanjang polisnya, dia bisa melakukannya tanpa harus kembali melalui proses underwriting.
good info sir !
Betull…memang postingan Mas Priyadi sangat jelas, tapi sayangnya saking jelasnya jadi terlihat salah kaprah nya.
Untuk koran B, konsumen juga keluar duit untuk beli PRODUK yg salah satu benefitnya adalah INVESTASI.
Jika ilustrasi mobil terlalu rumit dan sulit dimengerti (atau tdk mau mengerti?), Mas Priyadi bisa bandingkan dengan beli rumah. Rumah mengandung 2 unsur yg mirip dengan koran B. Yaitu nilai bangunan (ongkos tukang dan desain, harga bahan bangunan) dan investasi (tanah).
Kalau seperti yg Mas Priyadi inginkan, beli produk yg murah dan investasi terpisah, Mas Priyadi silahkan saja beli rumah susun. Lalu selisih harganya Mas Priyadi belikan tanah kosong.
Saya dengar dari agen properti saya, harga tanah kenaikan tahunan rata-rata 15%. Lebih menguntungkan dari emas yg kenaikan rata-rata 10%.
Sekarang pertanyaannya…apakah Mas Priyadi tinggal di rumah susun seumur hidup?
Kalau postingan Mas Priyadi memang dalihnya menghemat pengeluaran demi time value of money, maka banyak yg bisa dihemat.
- naik bis ke tempat kerja SEUMUR HIDUP
- makan masakan sendiri SEUMUR HIDUP
- minum air sumur yg dimasak sendiri SEUMUR HIDUP
- kalo sakit minum obat racikan sendiri SEUMUR HIDUP
- kontrak rumah/kos SEUMUR HIDUP
Selisih biaya yg dihemat tsb, taruh di investasi. Setelah 30 tahun, saya yakin investasi tsb menjadi sangat banyak.
Saya rasa kehidupan Mas Priyadi seperti itu. Hanya pikirkan profit..profit…dan profit. Tidak bisa memandang benefit yg positif dari suatu produk jadi. Kalau ada pembaca yg tertarik mengikuti gaya hemat Mas Priyadi, silahkan saja.
Ini sedikit renungan buat para pembaca.
Sistem marketing yg dijalankan oleh koran B, bisa saja ditiru oleh koran A, C, atau koran D. Saya pikir koran B tidak mempatenkan sistem marketing tsb.
Jika memang sesimple yg ditulis oleh Mas Priyadi, yaitu langganan koran + investasi…coba pikirkan kenapa Koran B bisa menguasai sebagian besar pasar koran dengan produknya daripada koran A, C, atau D.
Koran lain yg lihat koran B sukses menjual koran + investasi, tentu pengen ikutan juga donk. Perusahaan koran untung lebih besar, nasabah juga tidak dirugikan. Produk yg bagus sekali, win-win solution.
Koran B pakai marketing yg jago, koran lain juga bisa.
Koran B pakai manajer investasi yg handal, koran lain juga boleh.
Koran B beritanya selalu fresh, memangnya koran lain ngak?
#127:
Bila fair market value hanya dilihat dari nilai rupiahnya saja, saya masih setuju. Tapi nilai manfaat dari kenikmatan ngga usah repot-repot bayar langganan setelah 10 tahun itu intagible, karena intangible nilai ini bisa berbeda-beda untuk setiap konsumen. Sehingga nilai tidak harus sama dengan nilai uang setelah 10 tahun, bila dia membeli koran dan sisanya dia investasikan. (Masing ngomongin koran kan ya
)
Sebagian besar nasabah asuransi sebenarnya tidak mengerti asuransi. Ketidakmengertian seperti dana yang disetorkan pada asuransi tidak bisa diambil (kecuali dipinjam) selain pada saat klaim, banyak menyebabkan asuransi memang tidak menarik untuk dibeli. Hal ini yang menurut saya dijawab oleh UL. Dibandingkan produk asuransi lainnya, UL memiliki nilai tambah sebagai Asuransi yang memiliki saldo, dan dananya bisa diambil. Nilai tambah inilah yang dijual oleh perusahaan asuransi. Nilai tambahnya bukan sekedar tingkat pengembalian investasi. Sehingga fair market value jangan menghitung dari nilai uangnya saja.
Biaya asuransi sendiri saya rasa sudah jelas pada proposal, dan bisa ditanyakan bila memang tidak tercantum. Tapi bila ‘tertipu’ karena biaya akuisisi yang besar tinggal kembali pada pandangan masing2. Bila tidak ’sudi’ untuk memberi penghargaan pada perusahaan dan agennya sebesar itu, ya silahkan ‘meng-ageni’ diri sendiri.
#131:
another flawed analogy. jual beli rumah & tanah adalah murni perdagangan. kita setor uang, kita dapat rumah+ranah. setelah transaksi selesai, uangnya 100% jadi milik developer, dan rumah+tanahnya 100% jadi milik konsumen. kalau jual beli ‘koran B’ tidak murni perdagangan. kita setor uang, kita dapat koran B. tapi tidak 100% dari uang tersebut menjadi hak penjual, sebagian masih merupakan hak konsumen.
#132:
anda terlalu ngelantur. silakan baca posting saya dengan lebih seksama. yang jadi masalah bukanlah profitnya, bukan apakah ada benefitnya atau tidak, tapi apakah konsumen mengetahui berapa harga yang dibayarkan. dalam contoh saya sudah jelas saya beri tahu kalau koran A dan koran B itu kualitasnya sama persis dan harga B 2x lipat harga A. dalam pasar yang adil konsumen akan memilih koran A, tapi kenyataannya mayoritas memilih koran B, bukan karena koran B memberikan nilai lebih baik daripada koran A tapi karena konsumen tidak tahu berapa biaya sebenarnya yang harus dibayarkan.
#133:
yang saya lihat memang seperti itu. di pasar ‘yang itu’, ada kecenderungan semuanya mengikuti koran B akibat tekanan pasar: “ngapain saya cape2 saingan dalam hal harga, tapi orang2 tetap beli koran B walaupun harganya 2x lipat untuk kualitas yang sama persis?”
tapi pernyataan “nasabah juga tidak dirugikan” ini saya sangat tidak setuju sekali
. nasabah jelas rugi karena harus membayar jauh lebih mahal untuk kualitas yang sama, dan akibat tekanan pasar, di masa yang akan datang bisa jadi gak ada produk yang dijual seperti koran A.
#134:
ini saya setuju. menilai manfaat yang intangible itu murni subjektif. walaupun demikian tetap saja harus dibandingkan dengan nilai yang harus dibayarkan oleh konsumen. kalau misalnya ada tukang potong rumput datang ke rumah saya menawarkan jasa pemotongan rumput dengan harga Rp 10 juta, ya mendingan saya aja yang motong rumput
.
sekarang gimana caranya menilai layak atau tidaknya sesuatu yang ditawarkan kepada kita tanpa mengetahui berapa harga yang perlu kita bayarkan?
kalau ini sih boleh disurvey sendiri
. silakan minta ilustrasi unit link, kemungkinan besar di situ gak dikasih tahu besar biaya yang harus dibayarkan (di luar setoran investasi lho ya, dan bukan cuma tahun pertama saja) dan agennya pun gak dilengkapi dengan informasi tersebut
. silakan anda survey beberapa pemegang polis UL dan tanyakan berapa besar biaya akuisisi yang harus dibayarkan. besar kemungkinan mereka juga gak tahu. masalahnya bukan besar atau tidaknya biaya akuisisi, tapi apakah nasabah tahu jumlah yang harus dibayarkan sebelum transaksi dilakukan. terlalu banyak kasus orang2 baru menyadari biaya2 tersebut saat menerima laporan tahunan.
lagi2 ini pendapat berdasarkan potongan2 pembentuknya, _bukan_ sebagai unit baru dengan rule sendiri
nope, kalau investor berinvestasi ditanah, uangnya menjadi menjadi milik si penjual (koran B), ‘uang’ investor ada dalam bentuk tanah (sertifikat penyertaan koran B) yg dijamin nilainya oleh pasar pembeli tanah berikutnya (koran B juga)
in the end, koranlink yg memberikan return/pelayanan terbaik yg akan stand up, sebagian konsumen ga perduli proses/biayanya gimana yg penting tujuannya tercapai, return tinggi dan dapet 2in1
tidak ada salahnya selama tidak nyalah2in HP jualan pc dengan cara ‘membodohi’ konsumen
pernyataan di atas kok kontradiktif ya, antara perbedaan kebutuhan konsumen dengan tren lama2 koran saja akan hilang
selama masih ada kebutuhan penjual koran saja akan tetap ada, kalau memang ga ada yg butuh ya buat apa tetap ada?
yg bodoh itu yg beli ikan, waktu beli ikan ada trik2 yg harus dia ketahui, menanyakan ke penjual ikannya segar atau tidak, mengetahui ciri2 ikan segar dan kurang segar
dari sisi penjual, selama ikannya belum busuk dan layak makan dia tidak membohongi konsumen, bisa saja toh ikan kemarin belum habis dijual hari ini, tapi kalau busuk dibilang segar atau kurang segar dibilang segar itu false data, atau tidak bilang busuk tapi tetap dijual itu lying by omission
*kok ya jadi ngebahas ikan*
soal koran B ‘menyembunyikan’ harga, lagi2 karena anda masih berpatokan unit2 itu bisa dipilah2 _bukan_satu_kesatuan_
anda yg tulis sendiri kalau mau menghitung selisih HP dengan rakitan konsumen, konsumen bisa menghitung dari unit pembentuknya, tetapi apakah HP perlu meng-expose berapa nilai HP menghargai nilai yg dia berikan?
aneh juga, bodo bener yg beli barang tapi belum tau harganya, exception buat orang2 yg money has no object
praktik mana yg dianggap sebagai suatu kewajaran?
koran itu kan cuma contoh saja..semua (yg ngerti) juga udah tahu..anda sedang mendiskreditkan (lagi dan lagi) suatu produk bernama unitlink.
yg anda maksud harga itu dari awal sampai akhir?
waktu pertanggungan di unitlnik itu sangat panjang dan selama masa pertanggungan tsb ada kemungkinan terjadi sesuatu pada diri nasabah yg dapat menyebabkan berubahnya harga. jadi tidak mungkin dicantumkan dari awal sampai akhir. untuk 1 tahun pertama sudah tercantum pada ilustrasi dan harga untuk tahun berikutnya tercantum pada laporan tahunan pada setiap akhir tahun.
siapa yg mengatakan âanda akan ditagihkan biaya akuisisi 5 tahun pertama adalah 100%, 60%, 15%, 15%, dan 15%, selanjutnya gratis!â?
itu tidak lengkap dan menyesatkan karena tidak disebutkan % dari apa.
tapi kalau mengatakan âanda bayar saya Rp 24 juta, 14.4 juta, 3.6 juta, 3.6 juta, dan 3.6 juta dalam 5 tahun pertama untuk layanan 2-in-1 yang saya berikan.â juga tidak tepat, malah lebih keliru karena setiap kasus itu berbeda dan untuk memudahkan rumusan untuk sesuatu yg bisa berubah digunakanlah %.
yg menjadi pasar utama unitlink adalah masyarakat yg belum sadar akan pentingnya (juga belum punya) asuransi meskipun sudah begitu banyak produk asuransi yg tersedia sebelum munculnya unitlink.
yg ke dua adalah mereka yg sadar tapi belum berminat karena produk asuransi yg ada kurang menarik bagi mereka.
pembeli sudah seharusnya tahu apa yg akan mereka dapatkan kalau mereka mau mempelajari ilustrasi yg mereka dapatkan dan menggali informasi dari para agen maupun mencari sendiri.
‘merasa tertipu’ dan ‘tertipu’ adalah dua hal yg berbeda.
yg dapat dilindungi secara hukum adalah yg ‘tertipu’
makanya..jadi konsumen itu yg cerdas..jangan manja ataupun tutup mata, menerima apa saja yg ditawarkan.
tapi kalau priyadi sudah sangat cerdas..bahkan saking cerdasnya, pikirannya sendirilah yg menipunya.
o iya..
maaf..saya memakai salah satu bahasa dari planet bumi, yaitu bahasa Indonesia.
#137:
tentu saja harus dipilah2, karena uang yang disetorkan sebagai porsi investasi adalah hak dari pembeli, bukan hak penjual. pembeli tetap berhak atas porsi tersebut dan perkembangan investasinya. resikonya juga tetap ditanggung oleh konsumen, dan bukan oleh penjual.
bisa jadi ada beberapa konsumen yang gak peduli dengan biaya yang harus mereka bayarkan. tapi rasanya kebanyakan konsumen akan sangat peduli sekali. produk ‘koran’+investasi ini akan menghabiskan dana yang tidak sedikit bagi mayoritas pelanggan. selain itu pasar koranlink bukanlah pasar dimana konsumen bisa dapat dengan mudah pindah2 produk sesukanya. kalaupun di luar ada produk yang lebih menguntungkan, bisa jadi konsumen tidak bisa pindah produk.
saya gak nyalahin HP, tapi nyalahin ‘koran B’
. HP di sini cukup straightforward bilang harga barangnya Rp sekian, sedangkan B tidak. konsumen yang mau beli HP tahu persis berapa harga yang harus dia byar. konsumen yang beli koran B tidak tahu pasti berapa harga yang harus dia bayar.
sistem pemasaran seperti koran A lama2 akan hilang, bukan karena tidak ada yang butuh, tapi karena jauh lebih mudah memasarkan koran seperti B. jauh lebih mudah memasarkan suatu produk dimana konsumen mengeluarkan uang banyak tapi merasa tidak mengeluarkan uang sepeser pun
.
boleh lah kalau orang yang beli barang tapi gak tahu harganya dibilang ‘bodo bener’, tapi mayoritas orang seperti ini, termasuk saya kali, dulu
#138:
ini cuma excuse saja. gak ada alasan untuk menutup2i informasi tersebut walaupun mungkin nilainya belum fixed, karena ini bahan yang penting untuk evaluasi. selain itu, jaman sekarang kebanyakan asuransi jiwa punya klausul guaranteed renewability, termasuk di unit link. artinya besar harga sudah ditentukan dari awal dan bersifat mengikat. kalau perusahaan asuransi menaikkan harganya seenaknya, artinya mereka melanggar kontrak polis.
selain itu, kalau argumen anda seperti itu, seharusnya perusahaan asuransi juga gak boleh membuat ilustrasi perkembangan nilai tunai sampai puluhan tahun ke depan, karena perhitungan tersebut tentunya juga mengasumsikan besar premi yang sudah ditentukan dari awal, dan tidak pernah berubah di tengah jalan akibat kondisi nasabah.
kalau argumennya seperti itu, maka di ilustrasi juga gak boleh ada proyeksi nilai tunai sampai umur 99 tahun. perhitungan tersebut mengasumsikan sama sekali tidak ada yang berubah sampai nasabah berumur 99 tahun. kalau tidak ada ilustrasi itu, apa masih banyak yang mau ikutan?
sepertinya saya sudah tulis ini di atas
“kalau investor berinvestasi ditanah, uangnya menjadi menjadi milik si penjual (koran B), âuangâ investor ada dalam bentuk tanah (sertifikat penyertaan koran B) yg dijamin nilainya oleh pasar pembeli tanah berikutnya (koran B juga)”, resiko atau untung sepenuhnya ditanggung pembeli.
lagi2 nope,
konsumen relatif tidak terlalu perduli terhadap prosesnya, justru sangat amat peduli sekali terhadap hasil akhir yg lebih menguntungkan buat dia
realistis ajalah, bayar 3jt (komisi dll 1 jt, 2 jt di invest) return 2jt, dibanding bayar 3jt (komisi dll 500rb, 2.5jt di invest) return 1jt, sambil merem ga usah ngitung2 juga konsumen milihnya yg return paling besar
konsumen yg beli koran B jelas2 sudah tahu harus membayar 200rb dengan segala kelebihan investasinya dibanding koran A, situ sendiri yg nulis di atas
tapi lagi2 anda mencoba mempreteli barang baru tersebut dengan rule2 item2 pembentuknya
masih tetap kontradiktif, “tidak semua konsumen butuh âkoran+investasiâ, sebagian cuma butuh koran”, selama masih ada yg butuh penjual ga bakal sebego itu menghilangkan produknya selama masih cuan
justru, kalau semua koran ikut2an jualan model koran B, koran A yg tetep sendiri jadi tidak punya saingan, thus laris manis, giliran koran2 B yg mulai ngos2an terlalu banyak kompetisi di modelnya balik ngelirik lagi model koran A, keseimbangan pasar lah, dimana ada demand, supply akan berusaha menyediakan.
btw, dulu orang2 juga ada yg bilang koran offline akan mati, radio akan mati, kenyataannya toh masih ada sampai sekarang
hehehe, yg saya bilang bodo bener itu yg beli barang tapi belum tau harganya, _bukan_ yang sudah tau harganya (200rb) tapi ngga tau detailnya
kalau itu sih sesuai klaim anda sebelumnya, ngga jeli aja
btw, soal kata ‘kebanyakan’, ‘mayoritas’, ‘hampir semua’ yg selama ini anda sebut2 itu basenya apa ya?
, tapi kalau mau tetap pakai no. 2 rasanya itu cuma asumsi anda saja
1. yg baca blog ini terus kasih komen
2. konsumen koran B
karena kalau samplenya dari no. 1, akan sangat amat bias hasilnya, karena bisa dipastikan mayoritas mereka yg mau2nya baca blog ini panjang2 karena memang dari awalnya sudah peduli, ya wajar kalau samplenya mayoritas memberikan hasil peduli
kalau samplenya no. 2, hmm anggep saja bukan ya, karena ga mungkin juga anda mengadakan survey untuk konsumen koran B
kalo ini bener tentang asuransi unit link, menurut saya koran B punya keunggulan karena kalau berlanggana koran A dan menyisihkan Rp 150.000,- per bulan untuk diinvestasikan sendiri, 90% saya jamin kita gak akan melakukannya dengan berbagai alasan: lupa, uangnya kepake, dan lainnya sehingga akhirnya tujuan investasinya tidak tercapai.
tapi dengan berlangganan koran B kita “dipaksa” untuk nabung tiap bulan, jadi gak ada istilah lupa dll sehingga pada akhirnya tujuan investasinya bisa tercapai.. sekedar pandangan saja
Wah, pemikiran yang bagus… Saya jadi teringat bagaimana harga Pepsi di bioskop 21 yang berharga Rp 10.000 jadi terasa murah karena dibandingkan dengan harga Aqua di tempat yang sama yang dijual dengan harga Rp 8.000
Ada hubungannya ga ya? hehe…
Mas Pri, kalau dihitung2 dengan kita Bayar Koran A , terus porsi yang untuk invest-nya kita investasikan sendiri reksadana pakai manajer pengelola, hitung-hitungannya gimana? Lebih untung atau tidak dibanding ikut Unit Link? Terus masalah kemudahan dan keamanan dalam berinvestasi, lebih enak yang mana di unit link atau di Reksadana? Trims
#144:
Kok keluar di displaynya saya posting dari Depok? salah tuh mesinnya. Saya ada di Trunojoyo, kebayoran baru
#140
itu bukan excuse..tapi fakta dan memang begitu prakteknya.
sekarang dibalik, ada gak perusahaan asuransi yg tidak begitu?
uang yg dibayarkan oleh konsumen besarnya adalah tetap dan hak yg dapat diperoleh oleh konsumen juga tetap (bagian investasinya tergantung perkembangan pasar dan kinerja manajer investasi).
tidak ada yg ditutupi..semua sudah ada di ilustrasi.
di sana disebutkan bahwa harga tsb adalah harga pada saat usia masuk dan harganya dapat berubah pada tahun2 berikutnya sesuai dengan faktor resiko nasabah.
dengan memperhitungkan bahwa nasabah akan terus membayar premi sampai waktu yg dimaksud dan tidak pernah mengajukan klaim dan penarikan nilai tunai, ilustrasi yg dibuat sampai usia 99 thn tsb adalah hanya sebagai gambaran visual untuk lebih memudahkan calon nasabah dalam memahaminya.
hasil pada ilustrasi tsb bukan merupakan tolok ukur pasti untuk perhitungan tingkat hasil investasi.
ilustrasi tsb juga sudah memperhitungkan biaya yg ada.
soal kalau ilustrasi tsb tidak ada dan apakah masih banyak yg akan ikutan..biar pasar yg menjawab.
menurut saya ilustrasi akan tetap ada demi memudahkan calan nasabah dalam memahami dan sebagai alat penjelasan dan prosposal oleh agen..dan akan ada perbaikan2 di dalamnya.
#142
bung jimmy, komen anda pasti akan dikomentari Pri dengan “itu adalah kebodohan masyarakat yg dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi”..ups, kok jadi ngeramal..
kalau saya bilang..perusahaan asuransi mencoba memfasilitasi tipe konsumen yg seperti itu dengan menyediakan suatu produk di mana konsumen dapat memiliki proteksi dan juga sekaligus dapat berinvestasi dengan disiplin.
#141:
ini cuma detil teknisnya saja. point saya tetap sama. kalau saya setor uang untuk beli layanan, maka uang tersebut bukan lagi milik saya dan sebagai gantinya saya mendapatkan layanan, uang saya benar2 hilang. kalau saya setor uang untuk investasi, maka saya bisa dapat kembali mendapatkan uang tersebut + perkembangannya (subject to besar perkembangan investasi, resiko, etc). yang dibayarkan pembeli cuma komisi pembelian, biaya manajemen investasi dan komisi penjualan, dan ini besarnya relatif sangat kecil dibandingkan keseluruhan biaya yang disetorkan.
betul sekali
. kebanyakan orang yang ikutan memang gak peduli prosesnya, dan cuma peduli dengan hasil akhirnya. banyak yang bingung setelah bertahun2 ikutan kok dana yang dia dapatkan sangat jauh di bawah dana yang sudah dia setorkan. kalau gini, mau gak mau dia harus peduli sama prosesnya. harusnya kepedulian sudah ada pada saat dia membeli.
selain itu, produk ini bukan produk dimana konsumen bisa pindah2 produk seenaknya. kalau dia lihat produk sebelah returnnya lebih bagus, dia gak bisa begitu aja pindah. kalaupun dia memang benar2 niat mau pindah, belum tentu bisa. dan bisa jadi ada overhead penalti yang signifikan kalau dia pindah.
sorry, kalau saya sudah tahu persis bagaimana cara mereka bisa melakukannya, apa saya harus tutup mata dan pura2 bego? apa saya gak boleh kasih tahu kepada yang lain? ‘koran’ dan investasi adalah dua produk dengan karakteristik yang sangat berbeda. sangat wajar kalau saya pretelli dan saya nilai kualitasnya berdasarkan manfaatnya masing2.
silakan tanya ke beberapa ‘perusahaan koran’, “bisa gak saya beli korannya doang?”, beberapa akan menjawab “kita sudah gak jualan lagi karena sedikit peminatnya”. sebenernya bukan karena gak ada yang beli, tapi karena koran B dipasarkan secara jauh lebih agresif dan lebih mudah dapat untung. praktis sebagian besar konsumen akan milih koran B, bukan karena koran B lebih menguntungkan daripada koran A, tapi karena koran B dipasarkan secara jauh lebih agresif dan koran A sama sekali tidak dipasarkan.
200 ribu itu harga semu karena tidak semua dari uang tersebut hilang. setelah tahu persis bagaimana mereka melakukannya, saya gak bisa lagi menganggap kalau Rp 200 ribu itu harga real yang harus saya bayarkan
.
gak semuanya baca blog ini dan komen. beberapa dari teman dan keluarga yang sama sekali gak tahu internet. silakan lakukan sendiri kalau gak percaya
.
#142:
pengalaman saya gak begitu. kalau memang dari dulunya gak disiplin, maka polisnya akan lapse juga. dan bukan hanya lapse, tapi dia juga makan uang kita yang dari setoran porsi investasi. selain itu, jaman sekarang ada sistem autodebet dll dsb. jadi pakai sistem penjualan seperti A, kita juga bisa mendapatkan ‘disiplin’.
#146:
kebanyakan asuransi jaman sekarang begitu. kalau harganya bisa berubah sewaktu2 sesuai dengan resiko, apapun itu, saya sarankan gak ngambil asuransi yang ini. dalam kebanyakan asuransi, faktor resiko yang dipertimbangkan (setelah setelah ikutan asuransi) hanyalah umur. besar premi hanya bertambah kalau umur bertambah. besar premi gak akan bertambah kalau misalnya nasabah sakit parah. dan besar premi yang harus dibayar ini harusnya sudah tertera hitam di atas putih pada polis dan sifatnya mengikat.
argumen anda yang lain sudah pernah saya jawab sebelumnya
.
#144:
ini kan sudah saya tulis juga di atas. soal teknis melakukan pembelian sebelumnya sudah saya tulis di sini. soal kemudahan praktis sama saja, bedanya pada saat pembelian anda harus datang sendiri ke perusahaan asuransi. kalau unit link kan kemungkinan besar agen yang akan mendekati anda untuk menawarkan produknya. kalau soal resiko, sama saja.
#143 Wah, pemikiran yang bagus⌠Saya jadi teringat bagaimana harga Pepsi di bioskop 21 yang berharga Rp 10.000 jadi terasa murah karena dibandingkan dengan harga Aqua di tempat yang sama yang dijual dengan harga Rp 8.000
Ada hubungannya ga ya? heheâŚ
———————————
Ada, sama-sama mahal !!
#136:
Hehehe kalau ketidaklayakan harga terlampau jauh, konsumen juga pasti punya instink kok. Pada contoh anda jasa pemotongan rumput seharga 10jt, konsumen juga dapat menilai sendiri apakah nilai manfaatnya sesuai untuk dia. Bila harganya 10 jt dan manfaatnya dia tidak sesuai ya tidak, tapi misalnya seharga 10jt untuk jasa pemotongan rumput selama 10 tahun. Ceritanya lain lagi
Mungkin yang perlu dihitung bukan saja nilai investasinya tapi juga customer perceived value-nya
Bila nasabah memang peduli dan mau menanyakan biaya asuransi setelah tahun pertama, sebenarnya bisa saja kok. Cuma memang agen asuransinya lebih repot. Kalo boleh sedikit saya kasih tips
Bila mau mengetahui biaya asuransi hingga 10 tahun kedepan. Sebenarnya tinggal minta agen membuat ilustrasi 10 kali, dan pada setiap ilustrasi umur anda dinaikkan. Pasti keliatan biaya asuransi setiap tahun pada setiap ilustrasi itu. Kalo agennya ngga mau entah agennya memang ngga mau repot atau ngga ngerti pakai programnya.
Kalo menurut saya bukan karena nasabah tidak diberi tahu, tapi banyak nasabah yang memang pada dasarnya ngga ngerti asuransi sehingga tidak peduli. Kalo saya lihat di proposal pru, di bagian belakang dijelaskan mengenai biaya aukisisi. sekarang tinggal apakah agen menjelaskan bagian itu?
Dalem banget mikirnya mas!
#153:
betul. kalau urusan potong rumput sih konsumen tahu persis berapa yang dia bayarkan. kalau koran B konsumen gak tahu
yah konsumen biasa sih mana tahu detil teknis sejauh itu. megang aplikasi SFA/SQS-nya aja juga gak pernah, hihihi
.
kalau gak ngerti harusnya ya dijelaskan, bukannya malah dimanfaatkan
. di bagian belakang memang ada penjelasannya, tapi penjelasannya hanya sekadar lip service. ditulis pake tulisan kecil2 dan datanya masih mentah (masih dalam %, bukan dalam rupiah), padahal di halaman sebelumnya ada berlembar2 proyeksi perkebmangan nilai tunai sampai umur 99 tahun
. kalau merugikan, informasinya ditutup2i, tapi kalau menguntungkan, they shove them to your face.
coba tanya ke beberapa nasabah, apa mereka menyadari biaya2 tersebut? dan apakah mereka tahu alternatif yang bisa mereka ambil tanpa harus membayar biaya2 tersebut? kemungkinan besar tidak.
analisanya top markotop deh pak priyadi…
saya salut banget…
jadi pengen belajar purusan Finansial nih…
lho balik lagi, investasi itu sebenarnya ga lebih dari pembelian, tapi dengan ekspektasi pengembalian(penjualan) lebih besar dari pembelian, baik pembelian konsumsi ataupun investasi pasti ada biaya2 tambahan diluar nilai yg dibeli
maksudnya ini membalas tulisan ini “kita beli barang, uangnya menjadi hak penjual. kalo investor berinvestasi, uangnya tetap menjadi hak investor”
lha, kalau setelah bertahun2 returnnya rendah ya berarti returnnya rendah, contoh di atas itu head to head return rendah vs return tinggi
yang saya maksud in the end itu ya secara keseluruhan
sama saja, dulunya reksadana kalau mau keluar sebelum jangka waktu tertentu malah bikin rugi
no problem kalau itu, yg saya tulis di atas itu kan based dari tulisan anda tentang koran B membodoh2i konsumen
ketika ada 1 produk lebih menguntungkan bukan berarti produk lainnya tipu2
“maka dengan perkembangan investasi 13%/tahun maka uangnya akan menjadi 37 juta di akhir tahun 10.”
saya tidak terlalu mengerti reksadana, tapi memangnya sudah pasti 13%?
walopun misalnya kita tabung saja 150k dengan bunga 9% pertahun (0,75% perbulan), setelah melalui perhitungan yang mantap (ceilah, pake excel ja), kita dapat 29.244k. lebih besar daripada 24 juta…
SO…….. jangan beli koran B!!!
hhmm..
keliatannya yang pro koran B ini agen asuransi deh ^^..
Sebenarnya tergantung orangnya juga sih, mau pilih koran A oke, koran B juga ga masalah.
Yang pilih koran A kemudian melakukan investasi sendiri adalah orang yang cerdas dan ulet.
Tetapi tidak semua orang bisa seperti itu. Untuk yang pemalas dapat memilih koran B. Keuntungannya memang tidak sebesar pilih koran A+investasi sendiri, tetapi masih tetap untung. sangat cocok untuk orang yang pemalas dalam mengelola keuangan, karena sudah ada pihak dari koran B yang mengelolanya..
Yang merugi itu kalo beli koran A tok, tapi kelebihan uangnya tidak digunakan untuk investasi sama sekali, melainkan digunakan untuk hal konsumtif. keliatannya malah banyak yang seperti ini ya.. hehe…
Kalo saya pribadi tidak beli koran A ataupun B. Saya belinya republika *loh..*
#157:
oh ngga. real world scenario: dengan asumsi perkembangan investasi yang sama persis (17%), dengan memisahkan investasi dan ‘koran’, balik modal akan terjadi rata2 pada tahun ke-2 atau ke-3. tapi kalau beli ‘koran B’, rata2 baru akan balik modal pada tahun ke-7 atau ke-8. perkembangan investasinya sama persis lho ya. bener kalau konsumen gak bakalan terlalu merhatiin besar kecil nilai tunai in the end. tapi kalau bertahun2 cape2 nyetor 20% dari penghasilan ternyata nilai tunainya gak lebih besar daripada jumlah total yang telah disetorkan, ya mau gak mau bakalan ikut pusing juga
.
reksadana pertama di indonesia keluar tahun berapa? 1996? UL keluar tahun berapa? 1999? cuma beda 3 tahun kok. dari dulu sampai sekarang reksadana menjadi produk yang efisien dan kompetitif. tapi UL dari dulu sampai sekarang ya tetap begitu2 saja. praktis gak ada perbedaan berarti. di singapore juga gitu, sudah ada dari 1992, tapi ya sama saja, tetap gak bisa kompetitif.
sebabnya ya karena gak susah membandingkan satu reksadana dengan yang lain. tapi gak mungkin membandingkan satu UL dengan UL yang lain.
hehehe, bukan masalah lebih menguntungkan atau tidaknya. tapi masalah apakah calon konsumen menerima informasi yang cukup atau tidak
.
walahh, this analogy is a bit of stretch
. jangan samakan expertise bikin komputer notebook dengan UL
. gak semua orang punya kapasitas untuk bikin komputer notebook, tapi semua orang bisa beli ‘koran’ dan investasi secara terpisah.
analogi yang lebih cocok: calo tiket kereta api. kalau misalnya ada calon penumpang datang ke gambir untuk ke bandung, tapi dia gak tahu letak loket tiketnya. lalu ada calo yang nawarin tiket “saya jual tiket dengan harga resmi ke bandung Rp 100 ribu”, karena percaya dia beli saja. lalu setelah di kereta dia tahu dari penumpang sebelah kalau harga resminya cuma Rp 50 ribu. boleh saja kalau si calo bilang “saya memberi nilai tambah sehingga anda gak perlu ngantri”, tapi tetap saja si penumpang pasti kesal karena merasa dikadali karena dia gak butuh layanan tanpa antri, dia bisa antri sendiri.
sama saja dengan UL. kebanyakan nasabah ikutan bukan karena sadar membutuhkan dan mencari nilai tambah pemaketan layanan 2-in-1-nya, tapi karena tidak tahu bagaimana beli ‘koran’ dan/atau investasi. nilai jual UL ini ya berada pada ketidaktahuan nasabah dan calon nasabahnya.
Btw, koran B tidak membodohi. Tetapi nasabahnya sendiri yang mau dibodohi…
Kalau preminya sudah berbeda jauh dari koran A dan ada pengembalian “modal”, ya sudah selayaknya si nasabah tahu jika kelebihan uang setorannya itu diputar kembali, walau koran B tidak menjelaskannya..atau memang ada nasabah koran B yang tidak tahu?
#161:
yang masalah bukan apakah nasabah tahu uangnya diputar atau tidak (semua rasanya tahu uangnya pasti diputerin). tapi nasabah gak tahu persis berapa biaya yang harus dia bayarkan.
Kasus koran A dan koran B, saya sangat setuju dengan analogi prinsip ngontrak rumah dengan beli rumah. Tapi saya tidak tau dimana letak ketidak mengertian Mas Priyadi ttg analogi ini.
Kalau Mas Priyadi punya kemampuan untuk bayar cicilan kredit rumah, saya yakin Mas Priyadi tidak mau ngontrak dan inves terpisah seumur hidup. Prinsipnya sama, buat tempat tinggal dan investasi.
Tapi cicil rumah 10 tahun jelas keluar duit lebih banyak daripada ngontrak rumah 10 tahun. Kalo berhenti nyicil ditengah jalan, bisa saja rumah disita kembali dan pembeli hanya dibalikin sebagian duit yg sudah disetorkan tiap tahunnya.
#135 :
Apanya yg flawled analogy. Yang dianalogikan di sini adalah prinsip kerja, bukan menyamakan fisik bendanya. Masa begitu aja susah ngertinya..
Keluar duit dapat rumah (biaya) + tanah (investasi), dengan kata lain pembeli mendapatkan sebuah produk 2-in-1. Tapi apa bukti kepemilikan produk tersebut. Hanya selembar kertas/sertifikat.
Demikian juga dengan Koran B, dimana produknya adalah berlangganan koran (biaya) + investasi. Bukti kepemilikan produk juga bisa aja berupa kertas yg berisikan kontrak berlangganan.
Saya yakin konsumen sudah sangat tau harga yg dibayarkan untuk koran B. Harganya 15 juta, untuk benefit langganan seumur hidup + investasi. Ada 2 alternatif pembayaran:
- bayar cash 15 juta dimuka
- cicil 1.5 juta/tahun selama 10 tahun
Bagaimana Mas Priyadi bisa mengetahui kualitasnya sama pesis. Apakah Mas Priyadi sudah berlangganan koran A dan koran B ??
Ini hanya asumsi Pribadi dari Mas Priyadi.
Fakta dan realita di lapangan adalah…
1. Setiap harinya pelanggan tidak hanya di prospek oleh marketing koran B saja. Marketing koran A juga tidak kalah gencar mempromosikan produk mereka di pasar.
2. Koran A juga berusaha mengikuti cara produksi koran B yg punya benefit 2-in-1, tapi ternyata kurang sukses.
Dari kedua fakta diatas, bisa diambil kesimpulan : konsumen bisa menentukan produk yg terbaik untuk dirinya. Walaupun tau koran B lebih mahal daripada koran A, konsumen tidak merasa “dibodohi” oleh koran B seperti yg diasumsikan oleh Mas Priyadi.
Karena Mas Priyadi terlalu skeptis dan kurang berpikiran positif, maka wajar saja yg sering terlihat oleh Mas Priyadi adalah kekurangan di dunia ini.
Kenapa bisa rugi? Memangnya koran B menjual berita basi…
Soal harga terserah koran B mau menjualnya dengan harga berapa. Yang jelas walaupun harganya lebih tinggi, tapi tetap laku. Dan pasti ada kelebihan pada koran B daripada koran A, sehingga pasar tidak keberatan membelinya dengan harga yg lebih mahal.
Jika dimasa yg akan datang tidak ada lagi produk seperti koran A, berarti kualitas produk koran A kurang bersaing dengan koran B. Konsumen bisa menentukan produk terbaik bagi dirinya. Bukan ditentukan oleh asumsi-asumsi yg seperti ditulis Mas Priyadi.
#148
Sama seperti orang yg beli rumah jadi.
Dia tidak perlu perduli gimana proses membangun rumah, dan berapa besar ongkos tukang dan bahan bangunan.
Kalo membeli produk yg ada unsur biaya + investasi, wajar saja kalau return yg diharapkan tidak bisa berkembang dalam waktu cepat. Konsumen seharusnya sudah tau bahwa untuk mendapatkan benefit yg ditawarkan, pasti ada biaya yg harus dikeluarkan. Dengan kata lain konsumen harus melunaskan dulu kewajiban, baru kemudian menuntut hak.
Saya ingat di pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila sekarang menjadi PPKn), ada dijelaskan bahwa manusia harus melaksanakan kewajibannya sebelum menuntut hak. Entah dulu di bangku sekolah Mas Priyadi ada perhatikan pelajaran ini atau nga.
Yang namanya produk yg ada kontrak-nya jelas mengikat. Kontrak belum selesai tapi sudah mau beralih…
Kembali ke masalah menjalankan kewajiban. Jika membeli suatu produk, kewajiban utama adalah membayar donk. Bisa saja dengan cara bayar cash sekaligus, atau cicil tahunan.
Jika kewajiban belum selesai, tapi sudah nuntut hak…wajar aja ada penalti-nya. Ingat, perusahaan komersial bukan lembaga sosial.
Ah ini pasti nyindir insurance linked / unit link (reksadana+asuransi) (Koran B) sedangkan Koran A adalah asuransi murni…
Kalau diperhatikan sih emang bener …
timbal balik dari insurance link / unit link (lebih kecil daripada reksadana murni) …
karena unit link insurance ada 2 harga yaitu harga jual dan beli …
dapat dilihat disini :
http://www.gunungpring.com/UL/
lebih baik jika dananya dibelikan reksadana murni (terutama reksadana saham) ..
Lihat disini untuk membandingkan returnnya dalam 1 tahun :
http://www.gunungpring.com/RD/
lebih baik membeli reksadana murni yang saham lalu hasil returnnya untuk membayar iuran asuransi murni
Saya rasa tergantung dari sudut mana posisi kita berada. Kalau kita sebagai pemasar, kewajiban kita akan berusaha keras meraih pangsa pasar, termasuk mungkin agak sedikit “iming-iming” kalau di lihat dari sudut netral.
Jika kita konsumen, kewajiban kita untuk berfikir cerdas, memilih produk bermutu dengan harga terbaik.
Kalau pedagang pasti maunya untung besar, sedangkan pembeli maunya diskon besar. ya itu udah hukum alam, tergantung di mana posisi kita pada saat itu.
salam jabat erat
Partisimon
#164
memang benar apa yang dikatakan ybs
sekalian ingin menambahkan bahwa asuransi adalah salah satu bentuk aset
kalau skeptis karena suatu perusahaan asuransi tidak memiliki pilihan produk yang banyak gue bisa mengerti. tapi kalau karena koran B tidak lebih baik daripada koran A gue tidak terima. karena apa? karena because tidak no.
faktor-faktor yang membuat seseorang memilih koran A atau koran B itu berbeda-beda. tidak bisa dipukul rata..kecuali kita adalah Paris Hilton.
untuk isu transparansi, setelah gue cek, di proposal disebutkan koq berapa biaya asuransi ketika masuk. untuk selanjutnya kan akan dikirimkan laporan setiap bulannya seperti lembar tagihan. nasabah bisa meminta penjelasan dari agen asuransinya mengenai angka-angka yang ada disitu dan agen wajib memberi penjelasan agar nasabah dapat membuat keputusan jika diperlukan
demikian
ini ada gambar contoh proposal asuransi
Saya sangat sering menemui orang yang mengambil asuransi Ul.
1. mereka gak tau persis tentang biaya-biaya yang dibebankan.
2. mereka melihat hanya hasil akhir dari ilustrasi yang dibikinkan oleh agen yang terkenal jago tersebut.
3. merka gak tau uang mereka ditanamkan di saham mana.
4. mereka gak tau manager investasi yang mengelola uang mereka siapa.
Saya juga pernah ditawarin oleh agen-agen yang jago jual UL.
1. mereka juga gak tau persis biaya-biaya yang ada. Hanya sebagian yang tau.
2. mereka hanya tau dan mengakui kalau produk yang mereka jual adalah asuransi dan investasi. dan mereka juga hanya melihat hasil akhir.
3. mereka tidak tau disaham mana aja investasi tsb ditanam.
4. mereka cuman tau mereka punya lembaga yang mengelola investasi nasabah, tapi tidak tau di manajer investasi mana uangnya dipercayakan.
Dari sini saya melihat bahwa ternyata agen sendiri gak tau persis apa yang mereka jual. Bahkan ada agen yang bilang kalau berinvestasi di unitlink resikonya lebih kecil dari direksadana. Wow????? lebih keliatan lagi oon-nya. Dan satu pertanyaan saya untuk agen-agen yang jago tersebut. Apakah investasi di UL juga diawasi oleh Bapepam?
Kalau anda menyebut UL bukan investasi, terus apa bedanya dengan perusahaan-perusahaaan (yang sering masuk koran dikejar-kejar nasabahnya karena kabur) yang menggalang dana dengan alasan investasi……..
terima kasih. saya harap tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya. karena disini kita sama-sama belajar. dan sayapun sebagai agen asuransi mau belajar untuk jual “koran a” lebih baik. Mohon tuntunan dari agen-agen yang sukses jual “koran b”.
Adow udah lama ga pengen komentarin blog nya pri ini. Tapi makin di liat kalau ga ada postingan baru kok ya rasanya gatal ya pri hehehe. Seringkali pri menulis sesuatu di luar bidangnya.
Ada 2 point disini yang ingin saya share.
1. Mungkin anda gak percaya pri kalau saya invesatasi (Baca:Menabung) dengan membayar bunga. Ya saya investasi dengan membayar bunga, saya investasi dalam bentuk kredit. Kenapa saya lakukan? wah pri sudah puluhan tahun saya ga pernah bisa nabung. Gapernah bisa disiplin. Walaupun sulit seringkali saya ambil hasil tabungan saya dengan alasan ini itu. Investasi sekarang yang saya bisa lakukan hanya dengan kredit kendaraan. Dimana investasi saya nilainya menyusut! ditambah saya bayar bunga. Tapi percaya gak percaya saya menilai investasi saya ini berhasil.
Saya lakukan ini sudah hampir 17 tahun sekarang. Paling tidak hasil investasi saya ada nilainya sekarang. Bukan bermaksud sombong tp hasil investasi saya kalau di liquidasi bisa beli beberapa Rumah Sangat Sederhana lah.
Kalau waktu itu saya tidak berinvestasi mungkin saya tidak punya tabungan sama sekali. Kalau saya tidak selalu jual kendaraan saya begitu kredit selesai mungkin saya tidak akan pernah bisa menikmati hasil investasi saya setiap 4 tahun sekali. Jadi kebutuhan orang untuk investasi sangat berfariatif.
Saya adalah tipe orang yang harus di hukum bila saya gagal berinvestasi. Ya kalau saya gagal bayar cicilan mobil dan tidak lunas maka investasi saya merugi hampir 100%.
Kalau saya berhasil sampai lunas saya merugi 20-30% dari nilai real investasi saya. Kenapa saya pilih itu? sekali lagi jawaban nya saya tidak bisa berinvestasi dan tidak cukup kaya untuk membayar manajer investasi.
Saya yakin ada orang2 yang punya kebutuhan serupa dengan saya dan memilih investasi dengan unitlink. Walaupun nyata2 memang tidak selamanya orang yang membeli unit link sadar benar dengan konsekuensi nya. Namun tidak lah bisa disalahkan vendor nya.
Point 2
Wah pri kalau saya dikasih garansi nilai investasi 10 tahun ke depan dengan pertumbuhan 13% pertahun saya pasti senang sekali. Ada banyak faktor pengganggu disini. Sulit untuk memastikan apa yang terjadi 1 hari, 2 hari, satu tahun, 2 tahun atau bahkan 10 tahun ke depan!
Presiden bisa di tembak, negara bisa tiba2 kena embargo dan dikucilkan dari dunia internasional, bencana alam bisa terjadi, sumber daya alam bisa tiba tiba habis, pokoknya masih ada setumpuk faktor yang mempengaruhi investasi anda. Dan itulah gunanya manager investasi.
Koran B berani menggaransi nilai investasi seperti itu (mudah2an) dengan perhitungan yang matang. Dengan segala resiko yang terjadi pada paragraf sebelum ini menjadi tanggungan Koran B. Mau negara di embargo, mau inflasi 1000%, mau minyak kering, mau tsunami ada dimana2 Koran B wajib membayar pelanggan nya sesuai janjinya. Itu yang di garansi oleh koran B. Perhitungan perhitungan itu yang sudah di kalkulasi oleh koran B (sekali lagi mudah2an ehhe)
Dalam hal ini saya tidak ingin berbicara lebih jauh apakah Koran B memang punya kemampuan untuk menanggulangi masalah2 investasi yg mungkin terjadi dalam 10 tahun ke depan atau tidak. Mungkin saja koran B tidak mampu, tapi ini kan prediksi. Tapi terbukti ketika tahun 1998 terjadi inflasi yang luar biasa banyak perusahaan asuransi yang tetap bertahan walaupun harus membayar tanggungan dalam dolar. Walau tidak sedikit yang bubar.
Jadiii akhir kata, saya tidak melihat ini adalah ilusi financial, namun hanya saja koran B hanya berani menggaransi investasi sebesar nilai yang ia janjikan. Perkara anda mau beli koran B atau tidak, tidak ada hubungan nya dengan ilusi financial. Tapi coba pelajari apakah koran B benar2 legitimate, Apakah koran B benar benar akan tetap ada 10 tahun ke depan. Kalau koran B baru terbit 1 atau 2 bulan lupakan saja lah. Masih banyak koran lain yang sudah terbit ratusan tahun.
Cheers pri…
Tambahan dikit pri, Anda lupa ada net worth, future worth. kenapa saya tulis seperti diatas, disini ada faktor hedging pri. Analogi anda tidak tepat dengan kereta api. Koran B tidak janjikan nilai investasi saat ini. Tapi nilai investasi 10 tahun yang akan datang. Coba pri, anda kira2 ada ga calo yang berani garansi harga tiket kereta api jakarta-bandung tanggal 5 Februari 2018. heheh kira kira berapa harganya?
2 tahun saja sudah sangat mahal pri, saya pernah sekolah di luar dan harus beli tiket pesawat open dengan jangka 2 tahun. Nilai nya hampir dua kali lipat harga normal.
Setelah saya coba merunut dan membaca topik ini dari awal sampai terakhir ini, saya mulai ngeh juga.
Tapi saya malah gak ngerti dengan Bung Firesquid di # 163 : ????
Saya pikir, tidak bisa kita menganalogikan kasus Koran A dan Koran B dengan kontrak rumah dan nyicil rumah kredit. Kita keluar uang untuk Koran A, kita dapat Koran A (mungkin lebih tepatnya, kita mendapat kenyamanan karena aman dengan terjaminnya kita selama masa tanggungan. Atau, pasti ada penggantian bila suatu saat kita melakukan klaim). Sedangkan di Koran B, selain dapat Koran A kita juga berinvestasi dengan jasa pengelolaan oleh pengelola Koran B (entah disubcont-kan ke manajer mana). Yang namanya investasi itu kan kita membeli sesuatu dengan kemudian berencana (berharap) untung di kemudian hari. Tapi namanya tetap membeli sesuatu, yang berarti barang atau apalah itu menjadi milik kita. Sedangkan sang pengelola mendapat bagian dari keuntungan investasi kita, entah itu namanya komisi, gaji atau pembagian keuntungan atau apalah itu namanya. Tentunya dengan faktor resiko dan lain-lain.
Kalau ngontrak rumah, kita keluar uang, kita dapat pakai langsung rumah itu, tapi kita tidak dapat memilikinya. (tapi, tetap saja kita langsung bisa mendapatkan manfaatnya riil), ya bolehlah ini kita samakan dengan kasus beli Koran A. Sedangkan beli rumah dengan kredit, kita bisa langsung dapatkan manfaatnya meskipun nantinya setelah jangka waktu tertentu baru kita miliki sepenuhnya. Kita bayar sejumlah x+y, untuk rumah seharga x yang langsung bisa kita pakai, dengan tambahan y adalah biaya tambahan dalam kreditnya. Dan ini wajar. Ini jelas berbeda dengan dengan beli Koran B. Di koran B ada 3 item, yaitu dapat koran A, kita punya investasi, ada jasa pengelola yang kita bayar. Sedangkan kalau beli rumah dengan nyicil hanya 2 item saja, kita punya rumah dan ada jasa pemberi kredit yang harus kita bayar.
Kalau saya lihat yang menjadi perhatian Priyadi di sini adalah :
1.Bagaimana bisa mengetahui pengelolaan uang investasi kita, perlu informasi
2.Besar porsi komisi/uang jasa buat pengelola yang cukup besar
Menurut saya itu wajar menjadi pertanyaan serta seharusnya dijelaskan, dan harusnya disebutkan dalam klausul kontrak, berapa persen komisi pengelola.
Tapi gak tahu lagi ya, baru baca sehari kemarin, dan coba menelaah.
Tabik,
Utk Bapak Firmansyah…
Jika konsumen memilih untuk berlangganan koran B, baik dia membayar secara kontan atau dicicil 10 tahun, konsumen tetap mendapatkan hak untuk mendapatkan koran setiap harinya seumur hidup.
Sama juga kalo membeli rumah, baik nyicil maupun cash. Pembeli berhak untuk menempati rumah tersebut setiap harinya seumur hidup.
Jika membicarakan biaya, masing-masing produk mempunyai biaya yg berbeda. Sulit dibandingkan dengan analogi. Koran punya biaya yg berhubungan dengan penerbitan koran, dan rumah punya biaya yg berhubungan dengan rumah. Tapi intinya sama-sama punya biaya yg harus dikeluarkan untuk produk tsb.
Kalau di produk koran B, saya tidak tau bagaimana biaya pengelolaan dananya. Tapi kalau di asuransi unit link, semua biaya termasuk biaya pengelolaan, sudah sangat jelas didalam ilustrasi proposal.
Tapi biasanya konsumen malas membacanya karena konsumen hanya pentingkan produk tsb, bukan detailnya. Kalo ada yg membaca, kadang juga malas untuk ditanyakan jika kurang dimengerti.
Mengenai detail produk, boleh disurvey sendiri, berapa orang yg memperhatikan detail produksi pada sebuah Film bioskop yg akan ditonton. Misalnya komposer music, penulis naskah, editor film, perancang busana, dll. Sebagian besar orang hanya perduli pada pemain, sutradara, dan sinopsis (trailer).
Kesimpulannya begini Pak, buat apa kita harus mengetahui detail produksi yg menghasilkan suatu produk yg kita gunakan. Yang penting kita dapatkan benefitnya dan tidak dirugikan jika mengikuti instruksi pemakaian.
Terima kasih Bung Firesquid,
Benar kita memang dapat menempati rumah, tetapi untuk koran B, ada 3 hal, kita dapat koran (itu wajib) karena memang porsi beli korannya. 2 hal yang lain adalah, kita dapat investasi (itu hak kita juga bukan milik pengelola), dan biaya/komisi/atau apapun lah yang merupakan bagian pengelola.
#155:
Kalo koran B konsumen pasti tahu juga kok. Kalo ul, jangankan produk ul, produk asuransi nya sendiri pasti ngga tahu juga kok.
jangankan mengenai programnya, asuransinya sendiri juga konsumen biasa memang ngga ngerti.
Yang beginian sih bukan di unitlink saja, bahkan semua produk juga begitu. Anda beli produk elektronik, pasti juga tahu seberapa kecil tulisan syarat dan ketentuan garansi, padahal disitu banyak juga klausul yg tidak jelas dan merugikan konsumen. Iklan tarif seluler yg Rp x / detik, tulisan ’syarat dan ketentuan berlaku’-nya juga begitu kecil. Wajar semua informasi yang menguntungkan produsen di-highlight, sebaliknya yg merugikan dikecil-kecilkan. Kalo sebaliknya ya ngga akan jualan donk
#169 (patrick)
Saya sangat sering menemui orang yang mengambil asuransi Ul.
1. mereka gak tau persis tentang biaya-biaya yang dibebankan.
>> kebanyakan orang kita sih memang begitu..meskipun sebenarnya sudah ada di lembar ilustrasi/proposal.
2. mereka melihat hanya hasil akhir dari ilustrasi yang dibikinkan oleh agen yang terkenal jago tersebut.
>> ini adalah salah satu sebab maraknya kasus2 penipuan oleh pihak2 yg mengatasnamakan program investasi, MLM, arisan, dll.
bukan orang2 ‘kecil’ saja yg gampang tergiur..para pejabat dan orang2 ‘besar’pun juga banyak yg keblinger..
3. merka gak tau uang mereka ditanamkan di saham mana.
>> karena sudah silau akan angka2 yg wah..
4. mereka gak tau manager investasi yang mengelola uang mereka siapa.
>> karena tidak mau ambil pusing, yg penting dapat profit tinggi..
Saya juga pernah ditawarin oleh agen-agen yang jago jual UL.
1. mereka juga gak tau persis biaya-biaya yang ada. Hanya sebagian yang tau.
>> agen yg malas mempelajari produknya
2. mereka hanya tau dan mengakui kalau produk yang mereka jual adalah asuransi dan investasi. dan mereka juga hanya melihat hasil akhir.
>> agen yg kurang bijak karena tidak mempelajari prosesnya..yg pada akhirnya tidak dapat menjelaskan dengan baik detil produknya kepada calon nasabahnya.
3. mereka tidak tau disaham mana aja investasi tsb ditanam.
>> yg ini agak sulit karena jika investasinya secara aktif masuk kedalam pasar bursa saham maka komposisi portofolionya dapat berubah dengan cepat.
paling2 kita dapat mengetahui komposisi sektor sahamnya saja.
4. mereka cuman tau mereka punya lembaga yang mengelola investasi nasabah, tapi tidak tau di manajer investasi mana uangnya dipercayakan.
>> berikut beberapa perusahaan asuransi dan manajer investasinya:
BNI Life : BNI Securities , Danareksa & Schroders Investment Management
Sun Life Financial : Schroders Investment Management & Fortis Investment
Prudential : Prudential Asset Management & Prudential Fund Management
Sequislife : Schroders Invesment Management
Manulife : Manulife Asset Management Indonesia
Dari sini saya melihat bahwa ternyata agen sendiri gak tau persis apa yang mereka jual. Bahkan ada agen yang bilang kalau berinvestasi di unitlink resikonya lebih kecil dari direksadana.
>> dari pengamatan saya pribadi juga menghasilkan kesimpulan bahwa banyak sekali agen yg menjual unitlink tidak menguasai produk yg dijualnya.
produk yg dijual mengandung 2 unsur pembentuk yaitu proteksi dan investasi.
kebanyakan agen - bahkan yg senior sekalipun (karena dulu cuma menjual produk asuransi tradisional)- hanya memahami sisi proteksinya saja.
Apakah investasi di UL juga diawasi oleh Bapepam?
>> jika terdaftar di BAPEPAM-LK, maka itu ada dalam pengawasan dan otoritas BAPEPAM-LK.
unitlink mengandung unsur investasi, maka harus mendapat izin dari BAPEPAM-LK.
Kalau anda menyebut UL bukan investasi, terus apa bedanya dengan perusahaan-perusahaaan (yang sering masuk koran dikejar-kejar nasabahnya karena kabur) yang menggalang dana dengan alasan investasiâŚâŚ..
>> kebanyakan (atau malah semua?) perusahaan2 bodong tsb tidak mempunyai izin dari BAPEPAM-LK.
biasanya mereka hanya mengantongi izin dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagai perusahaan yg legal untuk melakukan kegiatan usaha dagang dan industri…tapi izin tsb disalahgunakan dengan melakukan kegiatan yg tidak termaktub di dalamnya, yaitu pengumpulan dana.
>Kesimpulannya begini Pak, buat apa kita harus mengetahui detail produksi yg menghasilkan suatu produk yg kita gunakan. Yang penting kita dapatkan benefitnya dan tidak dirugikan jika mengikuti instruksi pemakaian.
________________________________________
Bener! buat apa? kalo otaknya gak nyampe buat ngerti.
Tapi kalo orang pinter & pelit kayak gue, sumpah deh gak rela gue hasil jerih payah gue atau orang-orang yang gue care, di convert jadi komisi & kapital yg gak proporsional buat agen & perusahaan asuransi karena kekuatan nge-flame berjamaah keduanya dengan kata-kata manis dan berbusa-busa yang bilang ‘Pokoknya untung deh, elu merem aja gak usah liat-liat yg laen lagi’
Mending gue ikut berjuang untuk ngejelasin walaupun sedikit demi sedikit dan di jab kiri kanan sama agen & karyawan perusahaan asuransi untuk nunjukin, ada kok alternatif lain dan gak sesusah yang elu kira.
#167:
porsi asuransi di UL bukan aset, tapi kewajiban. yang merupakan aset adalah porsi investasinya. tapi dengan mencampur kedua kelas produk ini, umum yang kelihatan oleh konsumen cuma asetnya. semua asuransi jiwa punya komponen biaya yang merupakan kewajiban.
di sini saya gak mempermasalahkan lebih baik atau gak lebih baiknya. semuanya relatif. kalau misalnya ada yang mau beli UL karena sadar dan memang membutuhkan manfaat misalnya kepraktisan 2-in-1 atau lainnya, then by all means, silakan saja beli. masalahnya sebenernya kayanya sudah terlalu sering disebutkan berulang2, jadi silakan baca aja
itu cuma tahun pertama, tahun2 selanjutnya tidak disebutkan, dan agen juga gak tahu
. informasi tersebut baru didapatkan nasabah setelah mendapatkan polisnya.
unit link kan cuman trik biar orang ikutan asuransi tp merasa ga rugi..karena ada investasi nya..
jd alesan orang ikutan unit link ini karena ada investasi nya..pdhl klo mau investasi sih mendingan di reksadana ajah..
CMIIW peace ah!!
#170:
sorry, kalau urusan ini saya pribadi lebih percaya orang yang ‘di luar bidangnya’. orang yang di dalam ‘bidangnya’ kadang2 suka punya konflik kepentingan
. kebanyakan financial advisor independen akan rekomendasi term+investasi, tapi kebanyakan agen asuransi akan rekomendasi UL/WL. tanya kenapa?
no problem. kalau itu kebutuhan anda dan UL menyediakan kebutuhan tersebut, then by all means, silakan saja anda beli. tapi jangan anggap semua orang membutuhkan kebutuhan tersebut, atau semua orang yang beli sudah pasti sadar dan membeli UL untuk membeli kebutuhan tersebut. selain itu kalau butuh ‘pemaksaan’ ada banyak cara2 lain yang lebih praktis dan ekonomis, misalnya autodebet rekening bank.
gak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa bayar manajer investasi
. biaya manajer investasi itu paling sial cuma 3%/tahun yang dihitung secara proporsional dari nilai investasi yang kita setorkan. kalau anda cumba bisa berinvestasi 500 ribu, maka biaya manajer investasinya kurang lebih cuma 15 ribu/tahun. kalau anda investasi 500 juta, biaya manajemen investasinya cuma 15 juta/tahun, paling sial. di reksadana biasanya biaya ini sudah masuk dalam nilai NAB-nya, jadi hasil investasi yang diterima nasabah sudah bersih setelah dipotong biaya manajer investasi ini. dan dengan ikutan asuransi/UL sebenarnya anda juga telah membayar biaya manajer investasi ini, walaupun mungkin anda tidak menyadarinya
.
hehehe, yang ini saya gak setuju dengan berbagai alasan yang sudah pernah saya kemukakan sebelumnya
.
sebenarnya yang dibicarakan di sini gak ada nilai garansi investasi 10 tahun ke depan
, semua resiko ditanggung pembeli. kalaupun yang diinginkan adalah garansi investasi, besar kemungkinan nilai yang didapatkan akan jauh di bawah risk free interest rate. ini cuma urusan mengutak-atik suku bunga atau asumsi perkembangan investasi, dan besarnya setoran periodik.
dari sebuah asuransi pendidikan (endowment, nilai tunai dijamin), menurut perhitungan saya, rate-nya hanya sekitar 3%/tahun. setelah memperhitungkan biaya mortalita, maksimum mungkin cuma sekitar 4-5%/tahun.
dan seperti kata anda, tidak ada yang benar2 bebas resiko. kalau perusahaan asuransi gak punya duitnya untuk bayar klaim, ya tetap saja anda ’screwed’. selain itu kalaupun perusahaan asuransi bisa menjamin nilai nominal setelah tahun tertentu, tetap saja uang anda terekspos resiko eksternal seperti inflasi.
dalam definisi saya, ilusi finansial = saya beli sesuatu sebesar Rp X, tapi saya tidak merasa mengeluarkan uang sebesar Rp X. rasanya koran B sudah memenuhi kriteria tersebut.
#171:
dalam asumsi saya, koran B tidak memberi garansi nilai investasi di masa yang akan datang. 13% itu cuma ada di ilustrasi, realisasinya bisa lebih kecil atau lebih besar.
#175:
ya kalau ini sih sudah tergantung toleransi masing2 terhadap teknik ‘penjualan’. saya pribadi berpendapat iklan tarif seluler itu gak bener, tapi UL itu lebih gak bener lagi
, at least iklan tarif seluler itu gak serumit UL, cukup telpon customer service dan dia akan kasih tahu informasi selengkapnya, dan konsumen akan langsung ngerti.
#178
unitlink itu hasil pengembangan produk dari perusahaan asuransi supaya masyarakat lebih banyak yg punya polis asuransi.
kayaknya ini lebih enak daripada ‘trik’
kalau memang tujuan utamanya adalah berinvestasi (mendapatkan return yg maksimal), jangan pilih unitlink.
pilihlah instrumen investasi murni.
alasan orang lain ikutan unitlink..let it be just their own reason..
kita gak bisa men-generalisasi..
#180
. kebanyakan financial advisor independen akan rekomendasi term+investasi, tapi kebanyakan agen asuransi akan rekomendasi UL/WL. tanya kenapa?
sorry, kalau urusan ini saya pribadi lebih percaya orang yang âdi luar bidangnyaâ. orang yang di dalam âbidangnyaâ kadang2 suka punya konflik kepentingan
>> memangnya kalau financial advisor (meskipun pakai kata ‘independent’) tidak punya konflik kepentingan?
bisa saja toh?
ada financial advisor ngomong begini-begitu yg menyangkut financial..
terus orang bingung..
karena titelnya financial advisor, maka datanglah orang yg bingung itu ke sang financial advisor untuk meminta advise atau bahkan minta dibuatkan financial plan..
maka..terjuallah jasa dari sang financial advisor..dapatlah ia sejumlah fee..
independent..memang betul tidak membawa kepentingan pihak lain..kecuali kepentingan dirinya sendiri..
”
tapi..ah…let it be just their own reason..
#183:
kalau 100% independen jelas gak ada konflik kepentingan. kalau agen kan posisinya gak jelas, di satu sisi dia ngaku mewakili kepentingan nasabah. dia yang kasih assessment, dan dia yang kasih rekomendasi berdasarkan hal tersebut. dia yang take care urusan penagihan, klaim, dll dsb etc. tapi di sisi lain, yang bayar dia adalah perusahaan asuransi, bukan nasabah, lha nasabah saja gak dikasih tahu berapa komisi yang dia dapatkan
. agen ditugaskan memasarkan produk dan cuma dapat komisi kalau terjadi penjualan asuransi.
contoh: kalau misalnya setelah assessment ternyata ditentukan si nasabah itu gak perlu asuransi. maka agen yang jujur gak bakalan mendapat imbalan apapun walaupun sudah memberi layanan yang baik kepada nasabah. sedangkan agen yang tidak jujur akan mendapatkan imbalan. karena dia dibayar perusahaan asuransi, maka dia akan push produknya terlepas apakah si nasabah benar2 memerlukannya atau tidak.
Salut ma keberanianmu pri
#176 >>Prudential : Prudential Asset Management & Prudential Fund Management
apakah yang diatas tersebut juga termasuk MI???
Saya liat dari daftar MI yg ada kog gak nongol ya?
Kalo memang MI, seharusnya punya produk reksadana. Atau memang reksadananya gak dipublikasikan.
Dan setiap MI selalu menulis portofolio sahamnya, supaya konsumen tahu dan bisa memilih untuk mengukur tingkat resiko yang akan terjadi. Thanks. Semoga sama-sama kita dapat belajar.
wuah.. makin ribet dan berbelit2…
btw, saya kok masih merasa belum mudeng ya koran B ini dianalogikan dengan cicilan rumah..saya bisa menangkap maksudnya, tetapi rasanya kurang nyambung dengan analogi tersebut. apa perasaan saya saja yah ^^
#167
Maaf. Menurut saya, asuransi itu bukan aset. banyak teman2 saya yang mengira asuransi itu aset, sehingga banyak juga yang tidak bisa (atau tidak mau) membedakan antara asuransi dengan investasi. Dengan adanya asuransi itu kan kita jadi harus setor rutin. Ada pengeluaran di sini. Apakah itu aset?
Kalau investasi ya jelas aset. Modal yang kita keluarkan ada nilainya, dan nilainya itu terus mengembang. Nah, kalau asuransi? apakah nilainya bisa berkembang? dan lebih tajamnya lagi, apakah ada nilai riilnya? sepertinya karena pengaruh produk “koran B” ini, istilah asuransi dan investasi menjadi bias..
Back to topic, bagi saya koran B itu berusaha menggabungkan 2 hal yang berbeda, asuransi+investasi. Investasi di sini menjadi alat marketing bagi asuransi. begitu juga sebaliknya, asuransi menjadi alat marketing bagi investasi. Untuk nasabah yang cerdas, tentunya tidak ambil koran B ini. karena adanya kerugian 50 ribu. Yang diputer investasi itu kan cuma 100 ribu (misal. diambil dari tulisan di atas). Tapi bagi nasabah pemalas, mereka anggap 50 ribu itu sebagai bayaran “manajer investasi”nya..
..
Bukan salah agen, bukan salah nasabah. jika prosesnya transparan… Tapi yang dimasalahkan itu jika si agen tidak memberi tahu kehilangan 50 ribu-nya ya. Kalau diberi tahu takut calon nasabahnya kabur.. hehe. kalo gitu susah juga. padahal tadinya saya mau belain agen asuransi, tapi ujung2nya kok malah memojokkan
Salam kenal. Setelah mampir, sampai pada kesimpulan “memang pantas Number One” he..he.. Selamat ya, Semoga tetap menjadi yang terbaik untuk masa mendatang.
@ firesquid
unitlink di prudential bukan wholelife + investasi, tp memang termlife + investasi.
biaya asuransinya tiap tahun kan naik seiring tambahnya usia nasabah. tiap tahun sih saya terima rincian kenaikannya, tp hanya untuk tahun tersebut saja, tdk sampai usia 99 kaya ilustrasi investasinya.
setelah tahun ke-10 memang mas bisa tidak perlu lakukan setoran bulanan, tp biaya tahunan tetep jln loh, dan dibayarkan oleh investasinya mas juga (ya uang mas juga artinya). hal ini juga Bisa di replikasikan kalau ambil terpisah.
mengenai kemungkinan ditolaknya perpanjangan kalau sdh claim ya pasti dong mas, kan sudah meninggal orangnya dan uang pertanggungannya sdh dibayarkan, masak masih diperpanjang.
kalau sakit kritis juga sama, kalau sudah claim sekali, ya tdk bisa diperpanjang lagi asuransi sakit kritisnya.
#184
independensi dapat dipengaruhi oleh kepentingan yg diusung..
kepentingan dapat disetir oleh dari mana fulus berasal dan ke mana mengalirnya..
tapi meskipun begitu..yg paling menentukan independensi ya niat..
kalau soal niat..ya cuma dia dan DIA yg tahu..
lagipula..kepentingan pribadi Financial Advisor itu ya.. in the end.. gimana advisenya laku..
jujur ataupun tidak, itu tidak berhubungan dengan imbalan.
jujur itu kalau mengatakan apa adanya alias fakta.
#187
kalau kegiatannya mengelola investasi..ya namanya Manajer Investasi.
anda liat daftar di mana?
MI tidak harus punya produk reksadana (RD), tapi yg punya produk RD pasti MI..
ayam tidak harus punya telur.., tapi telur ayam sudah pasti dihasilkan oleh ayam.
(analogi yg aneh nih..:d
bagian investasi dari unitlink adalah reksadana (reksadana = dana masyarakat) meskipun tidak didaftarkan dengan judul ‘reksadana’ melainkan ‘unitlink’ karena sifat2nya memang sama dengan reksadana yg anda maksud.
tidak semua MI memaparkan portofolio investasi produknya secara detil pada prospektusnya.
lagipula portofolionya tidak harus berisi saham..tergantung dari kebijakan investasinya yg kemudian mempengaruhi jenis produknya.
biasanya cuma menuliskan (misal): efek bersifat ekuitas (saham) minimal/maksimal X%, instrumen pasar uang (deposito berjangka, sertifikat deposito, sertifikat Bank Indonesia, surat berharga pasar uang) Y%, dan efek berifat hutang (obligasi) Z%, dll) minimal/maksimal Y%.
ada juga yg menyebutkan sektor apa saja saham dari portofolionya..
misalnya reksadana saham MITRA Syariah, portofolio sahamnya fokus ke sektor perkebunan dan pertambangan..(bocorannya sih begitu :d
#191: konflik kepentingan itu nama situasinya, bukan hasil akhirnya apakah akhirnya berujung pada perbuatan yang tidak etis atau tidak. konflik kepentingan itu ada jika kepentingan profesional berlawanan dengan kepentingan pribadi.
contoh lainnya yang cukup umum: hubungan antara dokter, pasien dan perusahaan farmasi. pasien membayar dokter, tapi dokter juga mendapat komisi dari perusahaan farmasi jika dia membuat resep obat bermerek keluaran perusahaan tersebut. si dokter punya 2 pilihan: memberi obat generik atau obat bermerk. kalau dia memberi obat generik, dia dapat uang lebih sedikit tapi pelayanan yang lebih bagus (harga yang dibayar pasien lebih rendah); dan sebaliknya.
seandainya si dokter memberi obat generik, tetap saja ada yang namanya konflik kepentingan: dia mendapat uang lebih sedikit tapi memberi pelayanan yang lebih baik.
#177
Komentar yg menarik Pak Lambok.
Ukuran proporsional atau tidak, itu tergantung masing-masing orang Pak. Bapak beli mobil juga memberikan komisi & kapital kepada dealer, bahkan Bapak sudah memberikan uang pajak yg lebih dari 100% daripada harga asli mobil stb. Dan Bapak tidak tau uang pajak tersebut digunakan dengan benar ataupun dikorupsi.
Coba Bapak renungkan 2 perbandingan berikut.
1. Bapak beli mobil 150 juta, sedangkan harga asli dari Jepang paling cuma 60 juta. Secara tidak langsung, Bapak sudah mengeluarkan uang tambahan lebih dari 60 juta, untuk mendapatkan barang yg senilai 60 juta.
2. Bapak beli unitlink 150 juta. Sedangkan total komisi yg diterima pihak perusahaan sekitar 20-30 juta.
Menurut Bapak, lebih enak mana. Harga sama 150 juta. Tapi Bapak beli mobil berarti membayar tambahan 60 juta untuk sesuatu yg tidak jelas digunakan untuk apa. Sedangkan beli unit link, Bapak tau jelas bahwa komisi yg diterima digunakan untuk mengumpulkan kekayaan pihak penjual.
#178
Mas Priyadi mungkin belum tau, bahwa Unit Link tidak bisa dipisahkan antara asuransi dan investasi. Memang produk tsb sudah 2-in-1. Mas Priyadi tidak bisa membeli asuransinya doank, atau investasinya doank.
Kalo Mas Priyadi membedakan asuransi dan investasi dari produk Unit Link, berarti rumah juga bukan aset Mas. Soalnya tiap bulan ada biaya-biaya yg harus dikeluarkan untuk rumah. Belum lagi penyusutan nilai bangunan. Tapi tanah harganya meningkat dari tahun ke tahun. Dan yg kelihatan oleh konsumen cuma meningkatnya harga tanah.
Kalau rumah bukan aset, lalu gimana caranya untuk investasi di properti. Belilah tanah kosong sebanyak-banyaknya. Buat tempat tinggal pribadi, ngontrak aja seumur hidup.
Lalu bagaimana dengan Term Life yang dibangga-banggakan oleh Mas Priyadi. Apakah Term Life tsb ada menyebutkan rincian biaya asuransinya ? (biaya asuransi tidak sama dengan premi asuransi)
Kalau unitlink, tahun pertama saja sudah disebutkan. Dan untuk biaya tahun berikutnya akan dikirimkan informasinya di awal tahun.
Kalau Mas Priyadi tidak bisa menemukan perincian biaya pada Term Life, berarti unit link lebih transparan daripada Term Life yg dibanggakan oleh Mas Priyadi.
So…untuk point transparansi biaya, saya pikir bisa Mas Priyadi lupakan sebagai argumen.
#190
anda benar..
pada unitlink, meskipun kita tidak nyetor lagi tapi sebenarnya porsi proteksi kita dibayarkan oleh hasil dari porsi investasi kita sampai masa pertanggungan berakhir.
inilah kelebihan yg ditawarkan dari unitlink..
daripada mengalihkan return dari investasi (misalnya RD) secara rutin ke premi asuransi (bila membeli asuransi & investasi secara terpisah), lebih praktis dilakukan secara otomatis di dalam satu produk.
dan..ada harga untuk kemudahan tsb.
kalau di unitlink dari Prudential (kenapa banyak yg nyinggung PRU ya? apa karena dia market leader? -tinggi pohon dan angin- :-?
, klaim cuma bisa dilakukan 1 kali untuk meninggal (ya iyalah..)
klaim untuk sakit kritis (crisis cover) akan diterima full oleh nasabah dalam 1 kali klaim.
khusus angioplasti, keluar 10% dulu. setelah itu 90% akan keluar kalau yg bersangkutan klaim penyakit lainnya.
klaim untuk cacat karena kecelakaan dapat dilakukan sampai batas UPnya habis.
dan..rider2 tsb tidak dapat diperpanjang.
#190 to hutanlebat
Mungkin saya harus menjelaskan kepada Bapak mengenai sistem kerja premi asuransi. Namun Bapak harus ingat dulu perbedaan istilah berikut :
- biaya asuransi, adalah biaya yg diakibatkan pengalihan resiko
- premi asuransi, adalah biaya asuransi + mark up dari perusahaan asuransi.
Pada dasarnya, biaya asuransi jiwa meningkat sebanding dengan bertambahnya usia. Makin tua seseorang makin besar kemungkinan terkena sakit kritis dan meninggal. Dengan kata lain resiko kerugian dari jiwa tetanggung meningkat dari tahun ke tahun.
Baik term life ataupun whole life, biaya asuransi ini selalu ditagihkan setiap tahun. Bedanya adalah, kontrak term life hanya ditagihkan pada periode tertentu saja. Sedangkan whole life kontraknya ditagihkan seumur hidup.
Term Life bayar premi tahunan, bisa stop kapan saja, karena nasabah hanya memerlukan proteksi sampai tahun tertentu. Jika ingin mendapatkan proteksi seumur hidup, maka harus bayar premi tahunan seumur hidup juga.
Whole Life bayar preminya juga tahunan, tapi hanya sampai periode tertentu, misalnya 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun. Setelah pembayaran lunas, maka tertanggung mendapatkan proteksi seumur hidup (usia 99).
Karena Whole Life hanya setor premi sampai periode tertentu, tapi mendapatkan perlindungan seumur hidup, maka otomatis setoran premi juga lebih mahal. Hal ini dikarenakan sebagian premi tersebut sebenarnya dialokasikan oleh perusahaan asuransi untuk di- investasi-kan.
Tujuan investasi ini agar bisa menutupi biaya asuransi tertanggung yg meningkat dari tahun ke tahun. Investasinya di mana, dan berapa besar hasilnya, nasabah tidak perlu tau. Yg penting nasabah mendapatkan proteksi seumur hidup, dan jika di akhir periode tertentu nasabah ingin stop, maka nasabah bisa mendapatkan pengembalian nilai tunai.
Prinsip kerja Whole Life ini tidak jauh berbeda dengan unit link. Pada dasarnya unit link juga whole life. Tapi di unit link, komponen investasi dan segala biaya lebih transparan. Maka dari itu nasabah diberi tahu mengenai biaya asuransi tahunan, dan juga mendapatkan pengembalian nilai tunai yg sepadan dengan hasil investasi.
Perbedaan terbesar antara Term Life dan Whole Life adalah jaminan proteksinya. Whole Life menjamin proteksi seumur hidup walaupun pada tahun tertentu si tertanggung terkena sakit kritis, lalu sembuh.
Di tulisan lain blog Mas Priyadi, ada orang yg ngotot habis-habisan bahwa Term Life juga ada renewal guarantee. Tapi dia tidak tau bahwa renewal itu hanya dengan syarat dan kondisi kesehatan tertentu. Orang yg ngotot tsb tidak bisa disalahkan, maksudnya memang baik untuk sharing. Tapi sayangnya informasi yg diterima kurang lengkap sehingga bisa menyesatkan.
#193
konflik kepentingan itu nama situasinya, bukan hasil akhirnya apakah akhirnya berujung pada perbuatan yang tidak etis atau tidak. konflik kepentingan itu ada jika kepentingan profesional berlawanan dengan kepentingan pribadi.
>> bagaimana kalau kepentingan profesionalnya juga kepentingan pribadi?
Financial Advisor..
kepentingan profesional = advisenya laku (kan jualan advise)
kepentingan pribadi = dapat fulus untuk membayar keperluan2nya
ya…iya sih..gak ada konflik..
lha wong emang sejalan..
tapi.. objektif atau tidak..tendensius atau tidak…etis atau tidak..ya dilihat lagi dari apa yg dikatakan/dilakukannya..bukan dari titelnya.
#194:
sekali lagi anda gak perlu posting seluruh argumen anda di seluruh posting saya tentang asuransi
. nominal 150 juta yang disetorkan sekaligus (lump sum) gak bisa dibandingkan secara langsung dengan setoran periodik dengan jumlah total yang sama. karena ada yang namanya time value of money.
komisi yang diterima agen asuransi itu biasanya dikumpulkan di awal2 penyetoran. kalau memperhitungkan time value of money, maka nilainya bisa hampir 1/2 total setoran nasabah setelah tahun ke-20.
#195:
walah. rumah tetap aset dong, walaupun depreciating asset. sedangkan investasi dan properti tanah itu appreciating asset. tapi keduanya tetap aset: kita bisa jual untuk mendapatkan uang, walaupun untuk depreciating asset nilainya akan di bawah pada saat kita mendapatkan aset tersebut.
kalau asuransi? porsi asuransi jiwa yang ada di UL itu bukan aset. kita gak bisa jual kembali untuk mendapatkan sebagian uang yang telah kita bayarkan. mengalihkan pertanggungan ke orang lain saja gak bisa kok. yang aset itu ya cuma porsi investasinya.
anda yakin biaya asuransi pada UL itu 100% digunakan untuk membayar klaim? kecuali anda ambil asuransi jiwa syariah, dalam kondisi normal (gak ada epidemi, bencana alam dll dsb), dapat dipastikan claim rate pasti di bawah 100%. selisihnya ini digunakan untuk hal2 seperti mitigasi resiko regresi, penambahan kapital, atau bahkan profit untuk perusahaan.
di term life, overhead ini akan ditekan sekecil mungkin oleh mekanisme pasar. yang mark up terlalu besar akan langsung ketahuan.
#196:
yang ngotot itu ya anda sendiri
#197:
kalau kepentingan profesional sejalan dengan kepentingan pribadi, maka artinya tidak ada konflik kepentingan. yang bertentangan itu kalau kedua kepentingan tersebut bertentangan: kalau misalnya besar penghasilan yang dia dapatkan berbanding terbalik dengan besar layanan yang dia berikan.
soal aset..
pakai istilah praktis yg sederhana (tapi benar) saja..
ASET: segala sesuatu yg memberikan uang ke kantong kita.
LIABILITAS: segala sesuatu yg mengambil uang dari kantong kita.
UNITLINK = liabilitas
karena kita harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan menfaat2nya.
UNITLINK = aset
karena kita dapat menikmati return dari porsi investasinya.
yg perlu diingat: manfaat proteksi dan investasi di unitlink TIDAK DAPAT DIPISAHKAN, meskipun demikian bisa didapatkan secara terpisah dari produk lain.
#199
tanggapan anda untuk komen #195 (tentang asuransi term life dan unitlink) tidak kena.
yg menjadi isu adalah soal transparansi di kedua jenis asuransi tsb, bukan berapa % dari uang yg dibayarkan nasabah digunakan untuk membayar klaim.
#200
komen anda sebelumnya (#180) menyebutkan kalau anda lebih percaya kepada orang yg di luar bidang dari objek yg menjadi bahan perdebatan.
apakah ini berarti bahwa ‘orang luar’ tsb sudah pasti objektif?
ya belum tentu..apalagi kalau ‘orang luar’ tsb tidak menguasai dengan benar objeknya.
kalau saya lebih melihat kepada apa yg dikatakan/dilakukan..bukan melihat siapa yg mengatakan/melakukan..(meskipun kadang itu juga dapat mempengaruhi pada pandangan pertama
).
karena unitlink menyangkut tentang uang, maka termasuk juga ‘bidang’ dari Financial Advisor.., meskipun dia tidak berada di dalam lingkarannya.
apakah yg ‘keluar’ darinya objektif, tendensius, provokatif, menyesatkan atau tidak, ya dipelajari lagi lebih lanjut.
yg jelas..setiap orang punya kepentingan.
Ilusi finansial karena kalau mengambil terpisah ternyata benefitnya lebih besar?
Misalnya saya ingin membeli handphone yang berkamera apakah saya sebaiknya membeli handphone dan kamera secara terpisah karena handphone dengan kamera terpisah bisa mencetak gambar yang lebih besar dan lebih tajam?
Bisakah kita membandingkan sebuah handphone berkamera dengan sebuah handphone dan sebuah kamera?
Itu bukan ilusi. Itu proyeksi. Dan siapa bilang cukup 10 tahun? Unitlink juga bisa mendapatkan benefit yang lebih besar jika premi dibayarkan secara kontiniu, misalnya sampai usia 55 tahun.
Jadi kesimpulannya yang tidak sehat disini adalah agen asuransi yang memberikan presentasi pada Priyadi bukan unitlink nya.
Nuff said!
#199
komisi yang diterima agen asuransi itu biasanya dikumpulkan di awal2 penyetoran. kalau memperhitungkan time value of money, maka nilainya bisa hampir 1/2 total setoran nasabah setelah tahun ke-20.
>> bagaimana menghitungnya sampai dapat mengatakan ‘hampir 1/2 dari total setoran nasabah setelah tahun ke-20′?
salah satu cara lagi untuk mendiskreditkan unitlink dengan membuatnya menjadi terlihat sangat tidak menguntungkan nasabah?
“soal aset..
pakai istilah praktis yg sederhana (tapi benar) saja..
ASET: segala sesuatu yg memberikan uang ke kantong kita.
LIABILITAS: segala sesuatu yg mengambil uang dari kantong kita.
UNITLINK = liabilitas
karena kita harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan menfaat2nya.
UNITLINK = aset
karena kita dapat menikmati return dari porsi investasinya.
yg perlu diingat: manfaat proteksi dan investasi di unitlink TIDAK DAPAT DIPISAHKAN, meskipun demikian bisa didapatkan secara terpisah dari produk lain.”
Karena itu Pak Pri menyebutnya ilusi finansial ^^ .. membuat seolah2 tampak sebagai aset. padahal kalau dipecah, ada liabilitas di situ. produknya saja 1 paket. tapi fungsinya terdiri dari 2 bagian. aset dan liabilitas. ini funsgsi UL -> f=(a,l) ..
a = aset
l = liabilitas
eh. ralat dikit. maksudnya UL=f(a,l)
#204-205
hahaha..
ada fungsi baru..
segera patenkan, biar tidak diakui oleh tetangga sebelah..
Yang berhak mematenkan ya si pencetus UL, bukan saya. saya hanya memaparkan
#201:
itu definisi sumber pemasukan dan sumber pengeluaran, bukan aset dan liabilitas
.
bisa dipisahkan atau tidak bisa dipisahkan ini cuma rintangan artifisial. sebenarnya bukan tidak mungkin dipisahkan tapi yang jualan aja yang gak mau jualan terpisah
. kebanyakan UL memang gak bisa dijual terpisah tapi bukan berarti hanya dapat dilihat sebagai suatu blackbox. kita juga bisa dengan mudah memperhatikan bagaimana cara bekerjanya. mereka boleh saja menutup serapat2nya, tapi pasti bakalan ketahuan juga karena kedua kelas produk ini memiliki fungsi yang berbeda.
keberatan om firesquid itu karena di term life katanya gak ada transparansi berapa besar komisi agen. gak ada informasi berapa banyak dari setoran premi yang merupakan biaya asuransi. ini benar, tapi gak ada artinya karena di dalam pos ‘biaya asuransi’ kita juga gak tahu berapa banyak yang digunakan untuk membayar premi. yang penting bagi nasabah itu sebenernya cuma overall cost, dia gak akan ambil pusing kalau agen mendapat 90% dari setoran preminya sekalipun, selama produknya lebih kompetitif dari saingannya.
kalau mau membandingkan premi asuransi term vs porsi investasi di UL, caranya adalah dengan membandingkan besar pos biaya asuransi + biaya administrasi + biaya akuisisi di UL dengan pos biaya premi asuransi + biaya administrasi (jika ada). yang susah di sini cuma biaya akuisisi di UL, karena biasanya dibayar lump sum, dan tidak periodik.
perbandingan saya sebelumnya adalah agen asuransi vs independent financial advisor. jelas di sini ‘orang luar’ tersebut menguasai objeknya
. argumen saya sebelumnya adalah “sebagian besar IFA tidak merekomendasikan UL, tapi sebagian besar agen asuransi merekomendasikan UL/WL. tanya kenapa?”.
harusnya memang seperti itu
. tapi pengalaman saya ngomong soal asuransi cepat atau lambat pasti ada tuduhan ‘gak kompeten’, ‘bukan agen asuransi jadi pasti gak tahu apa2′, ‘harusnya belajar dulu soal asuransi’ etc dll dsb. 
betul. kepentingan saya di sini hanya saya selaku konsumen. saya gak jualan apapun, gak jualan WL, UL, endowment, term, reksadana, etc. posisi saya cuma sebagai konsumen produk2 tersebut. saya gak rugi dan gak untung sama sekali seandainya orang2 lebih menyukai produk tertentu gara2 baca tulisan saya.
hal yang sama tidak bisa diklaim oleh ‘beberapa orang’ yang ada di sini
. “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends on his not understanding it.” –Upton Sinclair,
#202:
bukan
. silakan baca lagi
.
#203:
terbalik. yang benar adalah trik untuk menyembunyikan biaya sehingga tidak terlihat merugikan bagi nasabah
.
contoh soal: saya berinvestasi sebesar Rp 1 juta setiap tahun selama 10 tahun. tapi seluruh investasi pada tahun pertama seluruhnya diberikan sebagai komisi agen. pertanyaannya: dengan mengasumsikan perkembangan investasi sebesar 10%, berapa persen komisi agen tersebut?
agen biasanya bilang: 1000000/ (10 * 1000000) = 10%. ini salah total, kalau memperhitungkan time value of money, jawabannya lebih dekat ke 15%: 1000000/PV(10%;10;1000000;0;1).
Mas Firesquid, saya juga dulu bingung dengan istilah biaya dan premi asuransi namun kalau dari penjelasan Anda, nampaknya Anda (mungkin) lebih mengerti peristilahan teknis di asuransi.
Saya dulu ikut PAA+, makanya cuma ngerti ini aja. Sebagai orang awam, waktu itu saya hanya tahu uang yang saya setorkan itu dibagi menjadi dua, yaitu untuk “Premi Berkala” dan “Top Up Premi Berkala (Pru Saver)”. Namun setelah saya baca2 informasi di blog ini tentang keuntungan ambil terpisah, saya jadi bongkar2 lagi polis saya dan ilustrasi yang dulu pernah diberikan.
Jadi ternyata, ada satu istilah lagi yang namanya “Biaya Asuransi Bulanan” yang dicantumkan yang sebenarnya inilah biaya yang sebenarnya yang dibebankan untuk mendapatkan proteksi yang tertera di ilustrasi.
Tapi yang tidak mengenakkan, tahun pertama saya setor total di Premi Berkala adalah 3,6 juta, namun itu bukan untuk membayar biaya asuransi bulanan tersebut namun untuk istilah “Biaya Akuisisi” dan untuk biaya total tahun pertama saya “DIPINJAMKAN(HUTANG)”. demikian juga untuk tahun ke-2 sampai ke-5 tetap ada istilah biaya akuisisi (yang menurun besarnya setiap tahun)
Padahal ketika saya coba buat ilustrasi sendiri, misalnya saya butuh UP 500 juta usia 29 tahun pria, maka total biaya setahun hanya sekitar 1,1 juta rupiah, dan saya bisa mendapatkan harga yang kurang lebih sama di term life dan tentunya tanpa perlu membayar biaya akuisisi yang besarnya total 205% dari 1 tahun setoran “premi berkala” yang kita cicil selama 5 tahun.
Di term life menurut saya struktur biayanya sedehana, saya mau UP sekian, maka setiap tahunnya biayanya sekian. biaya yang kita bayar di termlife kalau mau dibandingkan adalah dengan “biaya asuransi bulanan” di unit link.
Kalau mas firesquid bilang di PAA+ jenis asuransinya adalah whole life, maka saya yakin bilang Anda salah. saya adalah nasabah dan juga sempat jadi agent. kalau hanya melihat dari istilah pembayaran “Premi Bulanan” memang bisa berhenti bayar di tahun ke-10 (kayak whole life, 10 tahun bayar, dan tidak ada setoran lagi kalo ga salah). Tapi Anda mesti ingat, biaya asuransi bulanan akan terus dibebankan sampai kita usia 99 tahun dan itu tertera jelas di ilustrasi. kalau saya bandingkan, “biaya asuransi bulanan” yang dibebankan tersebut besarnya hampir sama dengan premi term life.
Ingat dari sudut pandang nasabah, BIAYA PREMI BULANAN di UNITLINK tidak sama dengan biaya yang harus kita bayarkan untuk mendapatkan proteksi. Sedangkan kalo di TERMLIFE, PREMI BULANAN/TAHUNAN adalah benar2 biaya yang harus kita bayarkan untuk mendapatkan proteksi.
Coba Bapak renungkan 2 perbandingan berikut.
1. Bapak beli mobil 150 juta, sedangkan harga asli dari Jepang paling cuma 60 juta. Secara tidak langsung, Bapak sudah mengeluarkan uang tambahan lebih dari 60 juta, untuk mendapatkan barang yg senilai 60 juta.
2. Bapak beli unitlink 150 juta. Sedangkan total komisi yg diterima pihak perusahaan sekitar 20-30 juta.
Menurut Bapak, lebih enak mana. Harga sama 150 juta. Tapi Bapak beli mobil berarti membayar tambahan 60 juta untuk sesuatu yg tidak jelas digunakan untuk apa. Sedangkan beli unit link, Bapak tau jelas bahwa komisi yg diterima digunakan untuk mengumpulkan kekayaan pihak penjual.
kalo saya punya pilihan beli mobil pada harga sebenarnya (60 jt) dengan jenis mobil yang sama dan proses belinya yg sama mudahnya dengan yang harga jualnya 150 juta jt (karena ada proses distribusi) saya pasti pilih yang 60 Juta.
aduh, caranya quote text gmn sih ? maksud saya, saya mau jawab :
kalo saya punya pilihan beli mobil pada harga sebenarnya (60 jt) dengan jenis mobil yang sama dan proses belinya yg sama mudahnya dengan yang harga jualnya 150 juta jt (karena ada proses distribusi) saya pasti pilih yang 60 Juta.
qoute of the day ga ada yah?
#208
itu definisi sumber pemasukan dan sumber pengeluaran, bukan aset dan liabilitas .
>> sorry..
definisi yg saya berikan tsb (#201) adalah definisi sederhana yg benar sesuai kenyataan.
jangan terjebak istilah di akunting, ekonomi ataupun perbankan.
coba renungkan lagi, apa yg anda harapkan dari suatu aset?
sebagai contoh:
saya membeli sebuah rumah dengan cara kredit dari suatu bank.
maka..
rumah tsb bukanlah aset saya, melainkan aset bank karena bank masih memiliki rumah tsb dan menerima sejumlah uang dari saya yg membeli rumah tsb secara kredit.
rumah tsb menjadi liabilitas saya karena saya harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mencicil kredit kepemilikannya dan biaya2 lainnya (air, listrik, telpon, pajak, maintenance, dll).
rumah tsb akan menjadi aset saya..bila saya mendapatkan uang dari kepemilikan rumah tsb, misalnya dengan cara menyewakannya.
’sumber pengeluaran’ saya adalah kredit kepemilikan rumah tsb dan biaya2 lainnya tsb.
dan ’sumber pemasukan’ saya adalah uang sewa dari rumah tsb.
sedangkan ’sumber pemasukan’ bank adalah kredit kepemilikan rumah tsb.
===
bisa dipisahkan atau tidak bisa dipisahkan ini cuma rintangan artifisial. sebenarnya bukan tidak mungkin dipisahkan tapi yang jualan aja yang gak mau jualan terpisah . kebanyakan UL memang gak bisa dijual terpisah tapi bukan berarti hanya dapat dilihat sebagai suatu blackbox. kita juga bisa dengan mudah memperhatikan bagaimana cara bekerjanya. mereka boleh saja menutup serapat2nya, tapi pasti bakalan ketahuan juga karena kedua kelas produk ini memiliki fungsi yang berbeda.
>> anda cuma bermain kata2.
sudah jelas unitlink itu adalah suatu produk akhir.
kalau mau manfaat yg sama dengan unsur pembentuknya secara terpisah, ya beli saja produk lain.
saya yakin anda cukup cerdas untuk mengerti ini..tapi kok ya.. gak mudeng2 sih?
malah maksa yg jualan musti jual produk sesuai yg anda mau.
sama saja anda maksa DELL jualan komputer yg sepesifikasinya sesuai yg anda mau ketika anda mendapatkan poroduk2 DELL belum memenuhi kemauan anda.
kalau mau begitu ya cari saja merk lain atau merakit saja sendiri.
===
keberatan om firesquid itu karena di term life katanya gak ada transparansi berapa besar komisi agen. gak ada informasi berapa banyak dari setoran premi yang merupakan biaya asuransi. ini benar, tapi gak ada artinya karena di dalam pos âbiaya asuransiâ kita juga gak tahu berapa banyak yang digunakan untuk membayar premi. yang penting bagi nasabah itu sebenernya cuma overall cost, dia gak akan ambil pusing kalau agen mendapat 90% dari setoran preminya sekalipun, selama produknya lebih kompetitif dari saingannya.
kalau mau membandingkan premi asuransi term vs porsi investasi di UL, caranya adalah dengan membandingkan besar pos biaya asuransi + biaya administrasi + biaya akuisisi di UL dengan pos biaya premi asuransi + biaya administrasi (jika ada). yang susah di sini cuma biaya akuisisi di UL, karena biasanya dibayar lump sum, dan tidak periodik.
>> anda menyebutkan ‘ini benar’, itu sudah cukup untuk menggugurkan keberatan anda terhadap transparansi di unitlink dan itu juga sangat ‘ada artinya’.
lagi2 anda muter2 soal istilah ‘premi’ dan ‘biaya asuransi’.
sebenarnya kalau menurut anda, apa definisi ‘premi’ dan ‘biaya asuransi’ pada unitlink?
sebelumnya anda keberatan kalau nasabah tidak mengetahui detil kemana uang yg nasabah bayarkan lari.
lha kok sekarang malah bilang ‘yg penting bagi nasabah itu sebenernya cuma overall cost, dia gak akan ambil pusing kalau agen mendapat 90% dari setoran preminya sekalipun, selama produknya lebih kompetitif dari saingannya.”..?!
jangan jualan es puter bung!
===
perbandingan saya sebelumnya adalah agen asuransi vs independent financial advisor. jelas di sini âorang luarâ tersebut menguasai objeknya . argumen saya sebelumnya adalah âsebagian besar IFA tidak merekomendasikan UL, tapi sebagian besar agen asuransi merekomendasikan UL/WL. tanya kenapa?â.
>> lha..saya tidak mempermasalahkan ‘menguasai objeknya’..tapi keobjektifannya..dan ini bisa dipengaruhi oleh kepentingannya.
coba baca lagi komen #201..
di sana sudah ada jawaban untuk ‘tanya kenapa?’.
===
harusnya memang seperti itu . tapi pengalaman saya ngomong soal asuransi cepat atau lambat pasti ada tuduhan âgak kompetenâ, âbukan agen asuransi jadi pasti gak tahu apa2â˛, âharusnya belajar dulu soal asuransiâ etc dll dsb.
>> hehehe…
setidaknya saya bukan tipe seperti itu..
saya selalu menyarankan untuk MELIHAT DENGAN BENAR terlebih dahulu sebelum kita menilai sesuatu.
===
betul. kepentingan saya di sini hanya saya selaku konsumen. saya gak jualan apapun, gak jualan WL, UL, endowment, term, reksadana, etc. posisi saya cuma sebagai konsumen produk2 tersebut. saya gak rugi dan gak untung sama sekali seandainya orang2 lebih menyukai produk tertentu gara2 baca tulisan saya.
>> anda memang tidak jualan produk asuransi ataupun reksadana apapun (menurut klaim anda).
)
anda selain konsumen juga seorang penulis blog yg cukup terkenal (setidaknya saya tahu blog anda
banyak sekali orang yg membaca blog anda ini.
maka sebaiknya anda dalam menulis tidak memiliki tendensi apapun karena dapat mempengaruhi pandangan dan penilaian banyak orang.
istilahnya, anda menggiring opini massa..
memang..blog pribadi adalah media penuangan kebebasan mengungkapkan apapun dalam bentuk tulisan.
tapi..bersikap bijaklah.
===
#210
terbalik. yang benar adalah trik untuk menyembunyikan biaya sehingga tidak terlihat merugikan bagi nasabah .
>> anda menyebutnya begitu karena sudah ada harga mati untuk unitlink di kepala anda.
yg saya tahu, agen mendapatkan sekian % dalam sekian tahun (kalau tidak salah, 5 tahun..CMIIW) dari porsi asuransi yg dibayarkan nasabah untuk unitlinknya.
sekian % tsb akan mengecil setiap tahunnya.
ada agen yg bisa menjelaskan?
===
“It is useless to pour water into a full glass.”
Termasuk saya? gak pri. Sudut pandang anda aja yang ngaco! saya mungkin sama sebel nya sama anda soal asuransi. Saya mungkin sama gak sukanya dengan anda. Tapi bukan disana letak kesalahan nya.
Intinya saya cuma bilang, This is not your competence to discuss about this. And this is not your first time to do so.
Rasa skeptis anda sudah membuat tulisan yang mungkin harusnya bisa bagus jadi terkesan kacangan. Karena sebagian besar yang anda tulis disini adalah hanya omong kosong karangan anda. Soal time value of money. soal investasi bahkan soal asuransi nya sendiri.
Asuransi di Indoneisa memang sangat mahal? anda tau Pri berapa beban Claim di indonesia dari seluruh jumlah nasabah? saya gak punya data yang jelas soal ini. Tapi di amerika dan negara2 eropa barat Beban Claim asuransi tidak lebih dari 10% dari jumlah nasabah.
Kenapa bisa gitu? Karena dari 100 orang diambil secara random mungkin 99 orang adalah peserta asuransi. Dan dari 99 orang itu mungkin hanya 10 orang yang pernah claim. Itulah asuransi. Claim anda di tanggung oleh nasabah lain nya.
Disini? mana bisa kaya gitu. Sedangkan asuransi nya sendiri hanya mampu penetrasi pasar ke segment tertentu. Mana bisa maintain hal hal tersebut.
Sebagai ilustrasi:
Saya pernah coba cari asuransi untuk karyawan saya semuanya. Cuma asuransi kesehatan yang full coverage. Tapi apa yang terjadi? tidak ada satupun asuransi yang berani menanggung penyakit kronis!
***Catatan dikit penyakit ada 2 macam, kronis dan akut. Kronis adalah penyakit yang menahun, akut adalah penyakit yang datang tiba2. Kronis ini adalah dari mulai usus buntu, jantung, kanker dan lain lain dimana proses sampai benar2 sakit nya butuh bertahun2***
Mereka tidak mau menanggung dengan alasan bahwa bisa saja orang tersebut sudah menderita penyakit itu jauh bertahun2 sebelum dia ikut asuransi.
Tidak berhenti sampai disitu. Waktu itu sebuah perusahaan asuransi asing yang ada di indonesia mau memberikan coverage full (walau tetap tidak menanggung penyakit kronis) dengan premi yang luar biasa besar. Sekitar Rp 3 jt setahun. Dan tidak ada unsur investasi nya. Hanya pure management resiko.
Waktu itu karyawan saya ada 16 orang (Th 2003) dan saya hitung2 kalau seluruh nya saya bayarkan premi nya berarti pengeluaran saya per tahun adalah 48 jt. Akhir nya saya putukan karyawan tetap di askes saja dan saya menanggung seluruh biaya pengobatan bila ada yang sakit.
Tau ga pri? total claim ke saya per tahun tidak pernah sampai 10 jt.
Ilustrasi lain. Saya udah lama ga pernah pakai asuransi allrisk dari kendaraan. Kenapa? menurut saya itu buang buang uang. Asuransi kan hanya mengcover kerusakan kosmetik saja pada kendaraan. Dan premi nya itu loh. 3-5% dari nilai total kendaraan per tahun nya. Berapa tuh? kalau seandainya saya punya mobil dengan harga 200jt berarti saya berikan premi antara 6-10 jt setahun.
Selama 17 tahun saya punya kendaraan, saya gak pernah keluar uang segitu banyak untuk kecelakaan. Jadi buat apa asuransi. Buat saya asuransi benar benar mahal!
Lalu mau bicara mahal atau murah? this is very vary area pri. Parkir di jakarta mahal atau murah pri? 3rb sejam? toh banyak orang yang parkir dengan valet walaupun bayar 25rb.
Pengacara yang biayanya 1-2 jt per bulan ada pri, bahkan LBH hanya minta uang oreasional tanpa meminta honor. Lalu kenapa Asegaff masih laku dengan harganya yang $250 per jam?
Kantor saya waktu pakai ac cina merk tertentu, gerah pri. Gak tahan dengan panas yang keluar dari komputer. dan beberapa bulan kemudian jebol. Ada teman yang mengatakan AC cina itu ga tahan sama panas nya komputer apalagi di ruangan yang tidak terlalu besar. Maka saya coba untuk beli AC dengan harga 3 x lipat ac cina itu. Hasilnya sudah saya pakai 5 tahun sekarang dan tidak ada masalah sama sekali.
Semua orang bilang saya bodoh dengan setiap bulan saya percayakan kendaraan saya pada AUTO 2000 yang terkenal mahal. Tapi apa hasil nya pri? Saya bahkan gak pernah buka kap mesin mobil saya. Saya mau ke mana saja tidak pernah merasa khawatir. Belum pernah saya punya masalah seperti yg di temui teman2 lain.
Masalah harga adalah masalah yg sangat Vary seperti saya bilang tadi. Kalau menurut anda ada manager investasi yang murah ya silahkan saja. Tapi tentunya bukan fortis investment seperti yang di janjikan oleh beberapa UL. Coba deh di cek sekali sekali sudah berapa tahun fortis investment itu berdiri. Di cek deh sekali2 apa sih bisnis nya fortis investment.
Saya sendiri sama skeptis nya dengan anda hanya saja dengan sudut pandang yang berbeda. Saya masih belum yakin koran B itu akan terbit atau tidak 10 tahun yang akan datang. Masalah harga tentu saja tidak bisa disalahkan kalau memang mahal. Saya mau jual service saya 100 jt per jam juga tidak ada yang boleh protes walaupun tetangga sebelah hanya jual service yang serupa 3-5 jt per bulan. Saya tidak pernah merasa lebih pintar dari tetangga sebelah. Mungkin saja tetangga sebelah lebih baik service nya dari pada saya. Tapi apa ini bisa di bilang penipuan? dimana penipuanya?
Sudah lah pri coba berhenti untuk bicara ngotot2 an. Kalau itu bukan bidang anda. Soal value of money aja di postingan ini anda muter2 kadang anda bilang gini kadang bilang sebalik nya.
Kita tidak harus jadi expert di semua bidang. Asal anda tahu saja tulisan anda yang satu ini tidak ada nilai nya.
#215:
kalau mau menredefinisikan istilah tersebut sih ya silakan saja. tapi saya bicara di sini sesuai dengan kesepakatan umum. bangunan adalah aset karena memiliki nilai. soal apakah nilainya naik atau turun setiap tahun itu urusan lain lagi. furniture, komputer, kendaraan juga aset karena memiliki nilai jual walaupun besarnya menurun setiap tahun. porsi investasi dalam UL atau reksadana juga aset, yang ini nilainya naik setiap tahun.
kebutuhan untuk memaintain asuransi dengan UP Rp sekian adalah liabilitas karena kita harus mengeluarkan premi untuk itu.
hehehe, ya sok aja mau jual UL. tapi tetap saja yang merupakan aset hanyalah porsi investasinya, bukan porsi asuransinya
. kalau dijumlahkan memang akan lebih besar asetnya, sehingga yang dominan terlihat dari luar hanya asetnya. tapi kita gak bisa nutup mata dan pura2 bego kalau di dalamnya ada liabilitas yang besarnya cukup signifikan yang bisa jadi dapat dengan mudah kita hindari.
it is a meaningless metric. pertama, transparan atau gak transparan tetap saja hasil akhirnya UL jauh lebih mahal daripada BTAID. kedua, transparansi tidak dibutuhkan di term life karena mekanisme pasar akan memastikan overheadnya tidak akan terlalu besar. kalau misalnya ada insurer yang pasang harga 2x lipat saingan termahalnya, ya akan langsung terlihat dengan jelas dan orang2 akan pindah ke produk lain.
yang muter2 itu firesquid. silakan tanya ke beliau
hehehe, perhatikan dulu konteks dimana saya menjawabnya
. pertama transparansi gak dibutuhkan di term life, mekanisme pasar akan memastikan harganya gak terlalu mahal (see above). kedua, apakah dengan tingkat ‘transparansi’ yang ada sekarang di UL, mayoritas nasabah mengerti apa yang dia beli? kan ngga
.
rasanya saya sudah cukup bijak di sini. kalau ‘menggiring opini massa’ artinya lebih banyak orang yang lebih teliti dalam membeli asuransi, maka boleh lah anda bilang saya ‘menggiring opini massa’
belum ada harga mati. kalau anda tahu informasi UL yang overheadnya masih bisa bersaing dengan BTAID, silakan email saya ilustrasi/polis-nya. kalau memang begitu, saya akan dengan senang hati mempublikasikannya. saya tunggu email dari anda
.
#181:
Intinya sama saja kok, kalo permasalahannya pada biaya akuisisi yang terkesan ‘menipu’ karena tulisannya terlalu kecil. Lagian biaya akusisi yang besar juga kan hanya pada porsi asuransinya, yang memang kita beli bukan kita invest. Calon nasabah kan tinggal nanya ke agen, kalo agen jawabnya tidak memuaskan ya ngga usah ambil. Gitu aja kok repot..
#216
bet he’s not gonna stop ‘it’..
’cause he’s trying this: Changing the world, one person at a timeâŚ
(see the tag line on top)
#216:
you are using ad hominem attack. and this is not your first time to do soâ˘
bagian mana yang ‘omong kosong’?
anda mengalihkan pembicaraan. yang masalah di sini bukan mahal atau murahnya. tapi apa nasabah menyadari biaya yang harus dia keluarkan.
saya juga punya beberapa reksadana dari fortis
. harganya murah kok. untuk fortis ekuitas komisi belinya maksimal 3% (tapi agen saya pasang harga cuma 1.5%), untuk jual 1% untuk tahun pertama dan gratis untuk tahun2 berikutnya, biaya manajemen 1.75%/tahun.
kalau beli lewat asuransi jatuhnya memang lebih mahal
. ambil contoh unit link dari sun life (yang katanya pake fortis juga). biaya setornya dimarkup jadi 5%. selain biaya manajemen investasi, juga dikenakan biaya ekstra 45 ribu/bulan. masih ada overhead penarikan Rp 50000/transaksi kalau redeem lebih dari 2x/tahun. dan ini masih belum memperhitungkan overhead ekstra dari sisi asuransinya.
absolutely rubbish analogy
. jelas kalau anda jual service 100 jt semua orang langsung tahu kalau harganya 100 juta. not so with UL
.
saya pikir komentar andalah yang seperti itu
#218:
jangan ngaduin agen dengan nasabah
. masalahnya bukan antara agen dan nasabah. agen biasanya hanya mengikuti SOP yang telah diberikan perusahaan. saya bisa bilang hampir semua agen itu jujur dan gak punya niat jelek sama sekali. masalahnya itu di perusahaan asuransinya, bukan agen.
Tampaknya terjadi debat argumen antara 2 pihak yang keras kepala…
saya dukung yang pro membela nasabah aja deh
#217
kalau mau menredefinisikan istilah tersebut sih ya silakan saja. tapi saya bicara di sini sesuai dengan kesepakatan umum.
>> hmm..tidak seperti biasanya..
biasanya Priyadi itu selalu ingin keluar dari persepsi umum.
yg jelas, itulah definisi yg saya pegang.
===
hehehe, ya sok aja mau jual UL. tapi tetap saja yang merupakan aset hanyalah porsi investasinya, bukan porsi asuransinya . kalau dijumlahkan memang akan lebih besar asetnya, sehingga yang dominan terlihat dari luar hanya asetnya. tapi kita gak bisa nutup mata dan pura2 bego kalau di dalamnya ada liabilitas yang besarnya cukup signifikan yang bisa jadi dapat dengan mudah kita hindari.
>> lihat lagi apa yg saya maksud dengan ASET dan LIABILITAS.
yg nutup mata dan pura2 bego itu siapa ya?
yg jelas saya dapat melihat fakta bahwa unitlink itu adalah suatu produk asuransi yg dikaitkan dengan investasi dan komponen2nya tidak dapat dipisahkan; dilihat dari profit, unitlink jelas akan kalah dibandingkan dengan reksadana meskipun dengan tingkat return yg sama.
===
it is a meaningless metric. pertama, transparan atau gak transparan tetap saja hasil akhirnya UL jauh lebih mahal daripada BTAID. kedua, transparansi tidak dibutuhkan di term life karena mekanisme pasar akan memastikan overheadnya tidak akan terlalu besar. kalau misalnya ada insurer yang pasang harga 2x lipat saingan termahalnya, ya akan langsung terlihat dengan jelas dan orang2 akan pindah ke produk lain.
>> dari dulu saya juga tahu unitlink lebih mahal dibandingkan kalau kita beli 2 produk yg bisa memberikan manfaat yg sama seperti komponen2 pembentuknya.
jadi…mekanisme pasar yg membuat harga suatu produk tidak terlalu mahal?
dan kalau harganya tidak terlalu mahal berarti tidak perlu transparansi?
terserah produsen mau menghargai produknya berapa..dan anda tidak bisa menuduhnya melakukan penipuan hanya karena harganya mahal.
kalaupun dirasa mahal (dirasa => subjektif), ya nanti juga tidak akan laku.
produsen akan kembali berpikir..entah dengan menurunkan harganya, meningkatkan kualitasnya ataupun yg lainnya..
eh, ini mekanisme pasar ya?
terus overhead itu apa?
apakah overhead = harga yg musti dibayar konsumen untuk membeli suatu produk?
ah..nanti diprotes lagi..kesimpulan yg salah dari premis yg ada.
===
yang muter2 itu firesquid. silakan tanya ke beliau
>> saya merasa justru anda yg muter2..
merasa..ah..subjektif lagi..
===
hehehe, perhatikan dulu konteks dimana saya menjawabnya . pertama transparansi gak dibutuhkan di term life, mekanisme pasar akan memastikan harganya gak terlalu mahal (see above). kedua, apakah dengan tingkat âtransparansiâ yang ada sekarang di UL, mayoritas nasabah mengerti apa yang dia beli? kan ngga .
>> harga yg tidak mahal tidak dapat membuat transparansi tidak lagi dibutuhkan.
transparansi dibutuhkan untuk melindungi produsen maupun konsumen jika terjadi klaim atas produk tsb.
kalau sudah transparan tapi belum mengerti juga..ya jangan salahkan produsen ataupun produknya.
hmm..nanti muter lagi deh tentang sudah kecurian tapi masih disalahkan..
===
rasanya saya sudah cukup bijak di sini. kalau âmenggiring opini massaâ artinya lebih banyak orang yang lebih teliti dalam membeli asuransi, maka boleh lah anda bilang saya âmenggiring opini massaâ
>> masalahnya anda sudah mendiskreditkan suatu produk.
kalau anda hanya memaparkan produk secara mendetil tanpa ada tendensi apapun..itu bisa diterima dan anda oleh karenanya sudah memberikan suatu pencerahan kepada orang lain tanpa perlu lagi dibuat lebih bingung oleh penilaian pribadi anda.
===
belum ada harga mati. kalau anda tahu informasi UL yang overheadnya masih bisa bersaing dengan BTAID, silakan email saya ilustrasi/polis-nya. kalau memang begitu, saya akan dengan senang hati mempublikasikannya. saya tunggu email dari anda .
>> yg anda permasalahkan dari unitlink itu sebenarnya apa?
harga (overhead?) yg mahal?
tidak transparan?
menipu dengan ilusi?
nasabah yg tidak sadar terhadap apa yg dia keluarkan?
atau…jangan2..sudah sifat anda yg…ah, nanti dituduh ad hominem attack..
===
who moved my cheese?
don’t know..
but i see the glass is moving around the corner and spilling out it’s content..
yet it still thinks itself full.
selaku konsumen, saya dukung yg membela kepentingan konsumen yg benar dengan benar..
dan saya selalu berusaha melihat dengan benar..
Gak pernah terlintas sama sekali. Hanya saya sering merasa anda adalah orang yang tidak bisa di kritik. Tulisan anda sering blunder, dan kalau ada yg kritik anda seringkali terlihat sangat defensif dengan tulisan tulisan baru yang bias.
Ini salah satu komentar blunder. Kenapa anda harus tau dapur produk mereka? Berapa mereka bayar manager investasi berapa mereka ambil untung dan lain lain. Kenapa anda harus repot2? Toh di unit link tidak ada paksaan, dan bukan sesuatu yang sifat nya urgent dan emergency seperti rumah sakit misalnya, atau lembaga sosial lain nya.
Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menjelaskan mau diapakan uangnya. Kewajiban mereka adalah pada saat jatuh tempo mereka harus bayar. Itu saja. Tulisan anda sangat tendensius dan mengarah pada suatu tendensi seolah olah mereka menipu. Seolah olah yang membeli produk mereka adalah orang bodoh.
Mungkin ada gak percaya tulisan anda tendensius. Tapi bagi banyak orang iyah. Dan itu adalah bentuk dari propaganda.
Terserah anda mau ngomong apa pri, susah kalau pribadi anda begitu defensif dan merasa pintar sendiri. Sudah berkali2 saya berdebat dengan anda. dan anda biaskan. Ingat dulu anda maki2 dan ngomel2 tentang fiskal? kenapa kita bayar fiskal. Ingat apa tulisan anda? ya terang aja anda gak tau anda bayar pajak aja ngga!
Lalu tentang forex yang sudut pandang anda sama sekali salah! gak ngaku? orang2 mungkin hanya capek berdebat dengan anda yang mau menang sendiri. Anda tidak pernah survey kok saya tahu persis.
Lalu soal obat generik. saya juga komentarin anda, Memang saat itu saya ketawain anda karena tulisan anda amat sangat ngaco! sampai akhir nya anda tulis kecil2 “Point well taken” hehehhe
Dan sekarang mengenai unit link juga percaya deh sama saja. Mungkin kalau anda mau terbuka saya bersedia kok berbicara 1-2 jam, dengan anda sekedar ngasih tau anda sering kali tulisan anda kacangan! dan saya akan kasih tau letak kesalahan nya.
Apa saya salah juga? kalau saya tulis begitu? Ah sudah lah itu perkara anda sendiri. Dan ini menurut saya dan beberapa teman. Anda mau terima silahkan, anda mau mati2an bersikap defensif juga silahkan. Saya ga akan ganggu anda di blok ini lagi. Sorry sudah gatel berkomentar… Cheers pri