Tips Membeli Asuransi Jiwa
Tulisan saya tentang asuransi unit-link vs reksadana membahas untung rugi reksadana jika dibandingkan dengan asuransi unit-link terutama dari sudut pandang investasi. Setelah menulis itu, saya mendapat beberapa pertanyaan melalui kotak komentar maupun email yang kurang lebih menanyakan, “Jika unit-link seperti yang saya sebutkan, bagaimana seharusnya cara terbaik untuk mengambil asuransi jiwa?”
Asuransi jiwa berfungsi sebagai perlindungan jika tertanggung meninggal dunia. Sebagai contoh, jika saya adalah tertanggung dari sebuah produk asuransi jiwa dan besok meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan memberikan uang pertanggungan kepada orang-orang yang saya tinggalkan.
Tujuan mengambil asuransi jiwa adalah untuk menutupi potensi kehilangan pendapatan. Jika saya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga yang saya tinggalkan akan kehilangan sumber pendapatan. Jika saya mengikuti program asuransi jiwa, maka keluarga yang saya tinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai pengganti pendapatan yang hilang, paling tidak untuk sementara.
Sebenarnya kaidah memilih produk asuransi jiwa tidak jauh berbeda dengan memilih produk lain:
- Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan
- Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.
Dari survey singkat saya ke beberapa teman dan anggota keluarga, bisa dibilang tidak ada satupun di antara mereka yang mengambil asuransi jiwa sesuai dengan kaidah di atas. Kebanyakan membeli asuransi jiwa saat tidak dibutuhkan, dan tidak mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi jika dibutuhkan.
Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan
Faktor-faktor utama membeli asuransi jiwa adalah tanggungan dan kewajiban (misalnya hutang). Jika seseorang tidak memiliki keduanya maka yang bersangkutan tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Anak kecil (atau bahkan bayi yang baru lahir) tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena belum memiliki tanggungan. Jika si anak meninggal dunia, keluarga akan bersedih, tetapi tidak akan berpengaruh buruk pada kondisi keuangan keluarga. Sebaliknya, keuangan keluarga justru akan membaik karena jumlah tanggungan berkurang. Membelikan si anak asuransi jiwa pada tahap ini hanya akan memberikan uang gratis kepada perusahaan asuransi.
Orang yang sudah memiliki penghasilan pun bisa jadi tidak memerlukan asuransi jiwa jika yang bersangkutan belum memiliki tanggungan dan tidak memiliki kewajiban. Orang tanpa tanggungan dan tidak memiliki kewajiban kepada pihak ketiga tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena jika yang bersangkutan meninggal dunia, tidak ada yang merasa kehilangan penghasilan.
Jika orang tersebut di atas mengambil kredit –terutama kredit konsumtif– maka kini yang bersangkutan sudah memiliki kewajiban. Dengan demikian sudah waktunya yang bersangkutan mengambil asuransi jiwa (jika kredit tersebut tidak dilengkapi dengan asuransi kredit). Jika tidak, maka dia berpotensi untuk memberatkan kerabat-kerabatnya jika sesuatu yang buruk menimpanya.
Orang tua yang semua anaknya sudah mandiri dan tidak lagi memiliki kewajiban kepada pihak lain juga tidak memerlukan asuransi jiwa. Jika yang bersangkutan meninggal dunia, anak-anaknya akan berduka, tetapi tidak akan ada yang merasa dirugikan secara finansial. Selain itu, jika orang tua tersebut mengelola dananya dengan benar, maka seharusnya yang bersangkutan sudah memiliki simpanan atau hasil investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada uang pertanggungan asuransi jiwa.
Jika orang tua ini sudah memiliki cukup banyak simpanan, dia bisa saja membatalkan asuransi jiwanya sebelum waktunya jika dirasakan nilai pertanggungan asuransi tersebut tidak sebanding dengan jumlah simpanannya. Jika dia meninggal dunia sebelum anak-anaknya mandiri, anak-anaknya tersebut tetap akan mendapatkan warisan dalam bentuk simpanan tersebut.
Jika sudah tidak memiliki tanggungan dan tidak lagi dalam usia produktif, yang dibutuhkan orang berusia lanjut bukanlah asuransi jiwa, melainkan dana cair dalam jumlah besar. Lebih lanjut lagi, dalam kondisi seperti ini dibutuhkan produk yang benar-benar merupakan kebalikan dari asuransi jiwa, yaitu anuitas. Jika asuransi jiwa memberi perlindungan jika tertanggung meninggal terlalu cepat, anuitas berfungsi untuk memberi perlindungan jika tertanggung hidup terlalu lama. Membayar premi asuransi jiwa pada saat ini bisa jadi merupakan ‘bencana finansial’ karena yang dibutuhkan justru produk yang merupakan kebalikan dari asuransi jiwa.
Membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi
Kebutuhan jumlah pertanggungan asuransi jiwa untuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jumlah tanggungan dan kewajiban. Pada dasarnya uang pertanggunan asuransi jiwa haruslah mencukupi untuk membayar lunas hutang-hutang, memenuhi biaya pendidikan anak-anak tertanggung sampai mandiri, serta untuk mempertahankan gaya hidup keluarga yang ditinggalkan, setidaknya untuk beberapa waktu.
Kesalahan sebagian besar konsumen asuransi jiwa adalah mempercayai begitu saja proposal agen asuransi yang biasanya menawarkan produk yang tidak cocok dan nilai pertanggungannya tidak mencukupi. Berdasarkan pengamatan saya, jarang ada orang dengan tingkat perekonomian menengah kota besar yang mengambil asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan di atas Rp 100 juta. Padahal mungkin pendapatan per tahunnya saja lebih daripada itu.
Ada keluarga dengan dua anak dengan hutang KPR bernilai ratusan juta rupiah tetapi mengambil asuransi jiwa yang nilainya hanya Rp 30 juta. Dalam kasus ini, asuransi jiwa tersebut tidak akan cukup menolong jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kepala keluarga. Untuk menebus hutang rumah saja tidak cukup, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak sampai mandiri.
Memilih produk asuransi yang tepat
Seperti yang bisa diduga, produk asuransi yang paling tepat bukanlah unit link atau asuransi lain yang memiliki nilai investasi. Dengan unit link, nasabah mendapatkan perlindungan seumur hidup walaupun tentunya hampir setiap orang tidak membutuhkan perlindungan asuransi jiwa sepanjang hidupnya. Pada unit link, nasabah harus tetap membayar premi asuransi jiwa bahkan pada saat yang bersangkutan sama sekali tidak memerlukannya.
Alasan kedua sama dengan alasan pada tulisan saya yang sebelumnya. Biaya administrasi dan komisi agen pada unit link terlalu besar. Pada tahun-tahun pertama mengikuti unit link, dana nasabah praktis habis hanya untuk membayar komisi agen. Selain itu, terdapat biaya-biaya administrasi lainnya yang tidak kalah besarnya, dan biasanya calon nasabah tidak menyadarinya pada saat pertama kali mengikuti asuransi unit link.
Jadi produk asuransi jiwa mana yang tepat? Produk yang paling tepat adalah asuransi term life. Asuransi term life adalah produk asuransi murni tanpa embel-embel investasi. Jika tertanggung meninggal pada masa tanggungan, maka yang ditinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan. Jika tertanggung masih hidup pada akhir masa pertanggungan, maka uang premi tidak akan kembali.
Ciri-ciri asuransi term life adalah sebagai berikut:
- Tidak ada elemen investasi atau bagi hasil (kecuali barangkali pada asuransi syariah)
- Panjang masa pertanggungan relatif pendek dan tidak seumur hidup. Biasanya dijual dalam satuan 1, 3, 5 atau 10 tahun.
- Pada akhir masa pertanggungan, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak dengan besar premi bertambah sesuai dengan ketentuan yang tertera pada polis.
- Harga premi relatif murah. Pasaran saat ini untuk umur sekitar 30 tahun dan tidak merokok adalah sekitar Rp 300 ribu/tahun untuk uang pertanggungan Rp 100 juta.
- Hampir tidak pernah ditawarkan agen asuransi karena komisi yang mereka dapatkan jauh lebih kecil daripada jika mereka menjual produk unit link. Nasabah harus memintanya secara spesifik atau bahkan mendatangi sendiri kantor perusahaan asuransi.
Memadukan asuransi jiwa dengan instrumen investasi
Dibandingkan dengan unit link, harga premi asuransi term life jauh lebih murah, bisa sampai 1/5-nya atau lebih jauh lagi. Tetapi bukan berarti kewajiban nasabah berkurang. Asuransi term life tidak memiliki porsi investasi, dan dengan demikian kewajiban berinvestasi kini berada di tangan nasabah, bukan di tangan perusahaan asuransi. Selisih harga yang jauh tersebut harus dimanfaatkan nasabah untuk berinvestasi karena pada suatu saat harga premi term life akan menjadi terlampau mahal. Cara yang paling mudah untuk berinvestasi adalah dengan menggunakan instrumen yang sama yang digunakan oleh asuransi unit-link, yaitu reksadana. Metoda mengelola dana keluarga seperti ini dinamakan Buy term and invest the difference.
Sepintas tidak ada bedanya mengambil unit link atau menggunakan metoda ini, tetapi kalau kita perhatikan secara lebih teliti ada banyak kelebihannya:
- Tidak perlu mengambil asuransi jiwa pada saat tidak diperlukan.
- Tidak perlu membayar biaya komisi agen dan biaya administrasi lainnya yang biasanya terlampau mahal.
- Bisa bebas memilih instrumen investasi di luar dari yang disediakan oleh unit link.
Dengan menggunakan metoda ‘Buy term and invest the difference’, hasil akhir yang diterima nasabah akan menjadi lebih maksimal. Walaupun demikian, dibutuhkan tingkat disiplin yang lebih tinggi dari diri nasabah untuk menyisihkan sebagian penghasilannya ke dalam porsi investasi secara konsisten.
Beberapa kesalahan pengertian yang sering terjadi
“Asuransi term life bukan ide bagus karena dana yang kita setorkan hangus. Sedangkan pada unit link kita bisa mendapatkan kembali dana yang kita bayarkan secara utuh.”
Sebenarnya pada unit link dana tersebut juga hangus, tetapi tidak terlalu terasa oleh nasabah karena ada pendapatan dari porsi investasi. Nasabah merasa dana yang dia setorkan bertambah jumlahnya dan dia tetap mendapatkan manfaat asuransi. Tentunya ini adalah salah kaprah, karena yang bertambah jumlahnya adalah porsi investasinya, sedangkan porsi asuransinya tetap ‘hangus’.
Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga bisa merasakan pembayaran premi tidak hangus jika yang bersangkutan melihat setoran premi asuransi dan investasi sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Pada unit link bisa putus membayar premi setelah misalnya 10 tahun pertama, di term life tidak bisa.”
Pertama-tama, term life tidak didesain untuk diambil seumur hidup seperti halnya asuransi unit link. Setelah nasabah memiliki simpanan yang cukup, semua hutang sudah lunas dan tidak ada lagi tanggungan, maka tidak ada lagi gunanya mengambil asuransi jiwa.
Kedua, di unit link disediakan fasilitas putus membayar premi, tetapi premi tetap dibayarkan nasabah dengan mengambil dana yang ada pada porsi investasi, terkadang tanpa sepengetahuan nasabah. Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga dapat menikmati ‘fasilitas’ ini, yaitu dengan cara menyisihkan sebagian dari hasil investasi untuk keperluan membayar premi term life. Jika porsi premi asuransi dan investasi dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah, maka terkesan nasabah tidak lagi membayar premi.
“Pada unit link, juga bisa dilakukan penambahan dan pengurangan uang pertanggungan kapan saja.”
Memang bisa, tetapi porsi asuransi jiwa tidak dapat sepenuhnya dieliminasi. Selain itu, jika tertanggung mengambil asuransi sampingan (rider) dengan tingkatan tertentu, bisa jadi tertanggung terpaksa mengambil uang pertanggungan yang tinggi. Beberapa asuransi sampingan (rider) pada unit link mensyaratkan tertanggung untuk mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan minimal tertentu.
“Saya membeli unit link atau asuransi whole life dengan tujuan utama untuk berinvestasi, bukan untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa.”
Ini adalah salah kaprah yang sangat meluas. Karena unit link memiliki komponen asuransi jiwa, maka tidak ada alasan untuk membeli unit link dengan tujuan berinvestasi. Dengan cara ini nasabah hanya akan memberi uang dengan gratis kepada perusahaan asuransi jiwa tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan.
Unit link terdiri dari dua komponen: asuransi jiwa dan reksadana. Jika tujuannya ingin berinvestasi tanpa membeli asuransi jiwa, maka reksadana adalah jawaban yang tepat. Jika yang diinginkan adalah jaminan hasil investasi, juga tersedia instrumen investasi yang terjamin, misalnya deposito.
“Bagaimana jika saya mengambil asuransi term life, dan kemudian jatuh sakit satu hari sebelum masa berlaku asuransi tersebut habis? Perusahaan asuransi tentunya tidak akan mau memperpanjang polis tersebut.”
Pada asuransi jiwa term life, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang asuransi sesuai dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Perpanjangan ini bisa dilakukan tanpa syarat apapun dan tanpa perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Jika nasabah menginginkan perpanjangan, perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk menolaknya karena ini sudah termasuk dalam kontrak yang tertera di dalam polis.
Walaupun semua polis asuransi term life yang pernah saya lihat memiliki klausul seperti ini, ada baiknya calon pemegang polis memastikan keberadaan pasal yang sangat penting ini sebelum membelinya.
Taut lainnya
- Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah
- Buy term and invest the difference di Wikipedia
- What’s wrong with your life insurance
- What’s Wrong With Variable Life for College di Smartmoney
- A More Typical Scenario – Buy Term and Invest
- Fire your investment advisor or financial planner now
- Asuransi Unit Link vs. Reksadana
- The Truth About Life Insurance
- Do It Yourself (DIY) Insurance, buying insurance and investments separately
pertamax !
Yang pasti kita harus selalu evaluasi asuransi jiwa kita setiap 5 tahun sekali atau jika baru kawin atau punya anak dsb. Sebab kalau tidak dirubah menurut keadaan hidup, maka sama saja sebagai investment yang tidak ada manfaatnya.
Lumayan nih ketiga..
Asuransi yang bener preminya dibayar ke fakir miskin aja..
Klaimnya ke Tuhan YME
Siip dah..
Sampai saat ini tidak dan belum punya keinginan untuk beli asuransi. Sebenarnya, money management yang disiplin dan prudent sudah lebih dari cukup — terutama saat melalui masa-masa sulit.
Anyway, dibandingkan sales lain, menurut saya kayaknya agen asuransi-lah yang paling gigih ngejar setoran.
#4:
kayanya disiplin dan prudent aja gak cukup untuk menutupi resiko kehilangan pendapatan, terutama di tahap awal membina keluarga. kecuali tentunya kalo punya ortu yang tajir
Lumayan nih,jd sedikit tau ttg asuransi.
bayi saya diasuransikan bukan karena pertimbangan pertanggungan saja, tapi karena ternyata uangnya bisa digunakan sebagai dana pendidikan. hitung-hitung nabung.
#7:
kalo begini yang dibutuhkan bukan asuransi, tapi mungkin reksadana.
unit link = asuransi jiwa + reksadana
reksadana = unit link - asuransi jiwa
Memang makinbanyak ragam produk asuransi, mungkin dari cerita pengalaman nasabah lainya bisa jadi bahan referensi, buat kampret model saya yang kerja di daerah beresiko mesti punya untuk pertimbangan “just in case” -nya.
Cheers,
belom kepikiran buat asuransi. belom punya tanggungan sih. hehehe.

-IT-
thanks infonya…. bisa buat pelajaran di lain waktu nih….
Jangan lupa term insurance sendiri ada juga yang short term, misalkan cukup untuk 10 tahun saja, ada juga yang long term, sampai usia pensiun 65 misalkan. Harganya beda cukup jauh juga.
setuju ama pri. Masalahnya kita belajar ttg ini dengan cara yg pahit, yaitu telanjur beli “participating policy” yang mana ada komponen investasinya juga. Akhirnya kita putuskan untuk putus di tahun ketiga, dan menerima kerugian yang lumayan, tapi setelah kita hitung2 jangka panjang mendingan sakit hati skrg dengan kerugian yang segini, daripada kami ruginya tambah terakumulasi diperburuk dengan discount rate juga, apabila semakin panjang meneruskan asuransi participating policy tersebut. Jadi kami akan ganti ke term-life. Dan jangan pernah percaya agen asuransi.
Website yg saya anjurkan antara lain getrichslowly.org. Selain itu buku karangan Burton Malkiel rasanya cocok utk saya, tetapi sayang sepertinya blum ada yg menerjemahkan ke bahasa indonesia. Mungkin karena malkiel tulisannya lebih menjurus ke investasi jangka panjang yang tidak bisa kelihatan hasilnya secara cepat, sementara buku2 investasi di indonesia yg lebih laku adalah lebih yang menjanjikan untung besar dalam waktu cepat.
Nah ini yang saya suka dari Priyadi: kasih pencerahan bagaimana beli dan memanfaatkan produk dari lembaga keuangan. Pokoknya ngajak ngitung gitulah.
Saya pakai asuransi tapi lupa gimana ngitungnya. Makasih Pri. BTW, maaf, tangan itu diasuransikan nggak?
Asuransi, manis kalo lagi nyari customer, tapi waktu customer klaim, susahnya minta ampunnn..
kekekeke… meskipun dah daftar asuransi jiwa, toh tetap aja jiwa-nya gak bisa dibalikin, gw maunya kalo lembaga pemberi asuransi jiwa ‘tuh bisa balikin lagi jiwa yg udah kabur
lagipula hal2 semacam ini cuman dalam tataran ekonomis ajah khan om pri?
oh iya, gmn kalo gw punya sodara yg sakit jiwa alias jadi orgil, dapetkah si doski asuransi jiwa juga?
menarik bgt yg ditulis, jd agak ngertian..
kalo di prospek ama agen asuransi jd bisa nanya balik
#14:
kalo ini masuknya ke asuransi kesehatan, bukan jiwa
#16:
bisa dapet bisa ngga, tergantung kontraknya seperti apa.
Apabila Anda baca terlihat bahwa masyarakat mereka sudah muak dengan cara berjualan asuransi yang mendapatkan komisi.
Mari kira tekan semua perusahaan asuransi untuk melakukan hal serupa.
Baca juga ini:
“If you are not on good terms with the beneficiary, life insurance may actually increase your risks.”
A common joke among insurance agents is: “We deserve high distribution costs as a reward for the difficult job of selling policies with high distribution costs.”
saya sedang cari asuransi untuk keterlambatan pembayaran klaim asuransi
Om Priyadi, Bagaimana dengan Tabungan Pendidikan ??
biasanya Berupa Tabungan wajib (Dipotong secara teratur setiap bulan dari Tabungan Induk) dan pada masa yang disepakati dapat dicairkan, Namun biasanya untuk yang longterm (lebih dari 5 tahun) diberikan Jaminan/Asuransi jika si Orang tua meninggal tabungan tersebut akan berjalan tanpa pemotongan dari Induknya (Ditanggung oleh Asuransi) sehingga rencana Pendidikan yang sudah direncanakan tetap dapat berjalan.
Yang mana lebih baik dibandingkan dengan Reksadana ??
@#21
Tergantung tujuannya. Jika untuk investasi ya reksadana.
#13 Rani, berhubung sampeyan di Singapore juga, saya saranin kontak para independent financial adviser, kalo misalkan kepingin tahu seluk beluk investasi, insurance dan segala macam financial decision. Mereka ada yg freelance, ada yang under assosiaction, macam IPPFA. Semuanya accredited under MAS. Benefitnya, karena mereka independent, mereka bisa represent macam macam insurance maupun investment company, jadi tidak ada paksaan untuk jual produk tertentu, dan dengan mudah benchmarking mana yg paling untung buat client. Memang sih mereka tetap saja cari komisi, tapi selama itu fair dengan advice yang diberikan adalah berguna (terutama buat geeks kayak saya yang bego soal duit), I take it as professional fee.
Pak, kalau ingin memilih asuransi yg term life kira2 ada saran perusahaan asuransi yg bonafit (tdk susah utk claim,dsb)? dan utk reksadana apakah tdk beresiko mengingat investasi reksadana ada yg di investasikan ke saham?
Dan bagaimana dengan asuransi pendidikan,boleh di review juga?
mohon informasinya ya.via japri juga boleh.
pusing
#21:
tabungan pendidikan yang dijual di bank-bank biasanya bunganya kecil (4-6%-an). daripada ngambil tabungan pendidikan, kalo saya sih mendingan ambil deposito + asuransi jiwa term life, bunganya bisa 2% lebih tinggi. produk2 yang pake ‘pemaksaan’ itu rasanya pangsa pasarnya buat orang2 yang gak disiplin nabung
.
kalau reksadana return-nya lebih tinggi dibanding deposito (atau tabungan pendidikan), tapi gak dijamin (ada faktor resiko). mau ambil yang mana ini tergantung profil masing2 nasabah.
#24:
saya belum mati jadi saya belum punya pengalaman klaim hihihi. tapi kalo urusan ini saya gak punya pengalaman sama sekali.
reksadana memang ada resikonya, tapi gak semua reksadana main di saham. selain saham ada yang main di obligasi atau pasar uang yang resikonya lebih kecil. kalau gak mau beresiko, bisa pilih deposito.
untuk asuransi/tabungan pendidikan coba lihat komen sebelumnya.
Ya, tapi kan Reksadana sifatnya penanaman modal dalam negeri yg diawasi Bapepam. Sedangkan unitlink 20%nya bisa diinvestasikan keluar negeri. Jadi kalau market dalam lagi lesu, masih bisa gain dari yg luar negri.
*membela diri, soalnya aku terlanjur ikut unit-link
#28:
dari beberapa reksadana yang saya ikutin, semuanya boleh menginvestasikan 15% ke luar negeri
. kalo pengen mix and match sendiri sih bisa aja invest ke luar negeri langsung 
Ternyata baca tentang asuransi sama rumitnya ketika kita mau ngurus klaim asuransi.
#30: sebenernya gak rumit sama sekali. tapi dibikin rumit sama perusahaan asuransi supaya dia gampang nyelipin biaya ini itu, hehehe
Ini petikan jawaban salah satu perusahaan pemberi Asuransi+Investasi (XXX yg berafiliasi dengan Bank MMM) atas pertanyaan saya mengenai Unit Link mereka:
==========================================
Terimakasih atas tanggpannnya,dengan ini saya bisa membantu bapak bagaimana memulai perencanaan keuangan Pak Rahmat.Memang pada dasarnya tabungan sangat penting dimana mengingat kebutuhan yang mendadak kita bisa transaksi kapan saja dan dimana saya,tetapi sekarang MMM mempunyai layanan XXX dimana manfaat lebih banyak plus nilai investasi lebih bervariasi.Sehingga dengan layanan XXX ini sangat tepat sekali untuk memastikan keluarga tetap sejahtera dalam kondisi apapun.
Layanan XXX mempunyai perlindungan sbb :
-Perlindungan jiwa
-Perlindungan untuk pembebasan pembayaran premi
-Perlindungan kesehatan baik untuk rawat inap maupun perlindungan untuk penyakit kritis dan
-Perlindungan kecelakaan
Perlindungan diatas bapak tidak perlu khwatir,karena perlindungan tersebut tetap bisa di dapat tanpa mengurangi dari nilai investasi yang bapak punya,,jadi perencanaan keuangan bapak untuk masa depan keluarga tidak akan terganggu.
Untuk Investasi XXX Pak Rahmat tidak perlu repot untuk mengurusi perkembangan investasi,karena XXX mempunyai manajer investasi sendiri yaitu Schroders.Berikut saya kirimkan Attachment performance desember 2006 dan juli 2007.
Maka dengan adanya layanan ini hendaknya dapat membantu perencanaaan keuangan masa depan Pak Rahmat dan keluarga.Semakin dini bapak memulai perencanaan,maka semakin besar peluang tercapainya tujuan Pak Rahmat.
Saya sangat berharap kerjasama Pak Rahmat dengan XXX
Terimakasih atas perhatiannya
==========================================
Karena yang di atas sifatnya promosi, bisakah Om Pri membantu memisahkan mana FAKTA dan mana OPINI
Thanks atas masukannya. Sayang saya baru baca sekarang. Padahal ikut Asu+Inv sudah sejak 3 tahun lalu. Untungnya cm ambil yg minimum.
#26
Setuju. Saya sekarang berusaha lebih kritis dengan produk-produk Inv/Asu.
Kayak Produk MR yg Setoran Awal 11jt dan setoran berikutnya 500rb/bln sampai 20thn. Memang di awal kita dapat motor Suzuki. Tapi setelah saya hitung dengan asumsi bunga 4%, seharusnya didapat hasil (setelah 20 tahun) = 208jt, tapi dalam brosur disebutkan cuma 156jt. Artinya ada selisih 52jt. Ini sama aja motor Suzuki-nya kita bayar seharga 52jt setelah 20thn. Ckckckckck…. Atau bunga REAL-nya hanya 1.6%/tahun. Sisanya yang 2.4% buat asuransi dan nyicil motor Suzuki-nya.
#32:
ini bukan FAKTA, bukan OPINI tapi HOAX
. kalo dia berani bilang gitu, kemungkinan besar dia pake sistem capping return investasi buat bayar premi asuransi, misalnya kalau dari manajer investasi dapet profit 10%, cuma 8% yang dikasih ke nasabah.
that money must have came from somewhere…
schroders? kemungkinan 68% ini adalah AXA mandiri
Saya mulai mengerti penjelasan Om Pri di posting kali ini. Posting sebelumnya walaupun saya agree tapi masih sulit menerangkan kembali ke orang lain. Saya suka pake angka-angka. Mohon dikoreksi kalo saya salah.
Ada contoh:
Tabungan Pendidikan NNN. Di brosur disebutkan: Setoran Awal 1.5jt, Setoran Bulanan 250rb, Tenor 3 tahun. Hasilnya: Pas buka tabungan dapat tas sekolah anak dan setelah 3 tahun dapat uang 10.7jt. Jika saya meninggal, setoran dilanjutkan oleh Bank sampai 3thn.
Jika dana di atas saya depositokan dengan suku bunga 6% didapat hasil akhir 11.6jt (900rb lebih tinggi). Sementara harga tas sekolah
Nyambung #35
anak
Komen dibatasin ya? Kok terpotong2
Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.
====
Lucu juka statement di atas. Pas sekali buat menyindir “penjual unit-link”.
selain life cover, pernahkah terpikirkan membeli trauma cover(critical care), TPD cover (total permanent disability) dan IP (income protection) cover? krn hidup ini bukan cuma hidup dan mati saja.
#34
Ini bukan FAKTA, bukan OPINI tapi HOAX . kalo dia berani bilang gitu, kemungkinan besar dia pake sistem capping return investasi buat bayar premi asuransi, misalnya kalau dari manajer investasi dapet profit 10%, cuma 8% yang dikasih ke nasabah.
that money must have came from somewhere…
=========================================
Setuju Om…
Saya dulu terpesona dengan angka-angka ratusan milyar (lah dia bikin hitungan sampai 100thn)
Padahal dengan rumus FV di excel, hasil yang didapat tanpa Asuransi akan jauh lebih besar lagi.
Tidak ada yang gratis. Semua sudah dihitung oleh Bank/Lembaga Keuangan. Termasuk untuk undian2 berhadiah
#8, tapi kan kalo reksadana nggak ada uang pertanggungannya? jadi, maksud saya, bukan hanya manfaat pertanggungannya tapi juga bisa buat dana pendidikan. atau, memang saya salah ya? hehe…
#35:
jauh lebih sulit lagi menjelaskan ke AGEN ASURANSI
#37:
mungkin ada < atau > coba simbol2 gitu diganti jadi bahasa indonesia aja
#41:
nah lho, yang dicover ini anaknya atau bapaknya? kalau bapaknya masih masuk akal karena si anak ditanggung bapaknya. kalau bapaknya meninggal si anak dapat uang pertanggungan. tapi kalo anaknya yang dicover ya gak masuk akal karena dia gak punya penghasilan apalagi tanggungan.
Apa bedanya asuransi kesehatan dengan asuransi jiwa ya? Saya ikut asuransi A bayar premi kok sampai 4 jt/pertahun ya..Mohon penjelasannya. Many thanks
#44: pertanggungan yang ada di dalam polisnya seperti apa?
Pak Pri, garis besarnya seperti ini, apakah menurut Pak Pri make sense?
** Setoran 4.000.000 / th ———————> total 40.000.000 dlm 10 th
jika meninggal UP nya 150 juta
jika kecelakaan dan cacat UP nya 50 juta
jika sakit, UP nya 30 juta, dan bila masuk dalam daftar 36 sakit kritis, akan bebas premi sampai umur 65 tahun
Bila tertanggung meninggal karna sakit kritis UP nya adalah = UP sakit + UP meninggal + uang yg telah disetor & bunga keluar. begitu juga meninggal akibat kecelakaan.
Bila Dana diinvestasikan (tidak ditarik) maka di usia 55 tahun dapat Rp. 395.793.000 dan di usia 65 dapat Rp. 1.521.073.000
thanks berat,
Kalo gak punya “jiwa”, apa yg mau diasuransikan?
”
*komen ngasal, cuman test aja* :”>
#46: asuransi anda adalah unit link dengan rider kecelakaan, critical illness dan kesehatan. asumsi pertumbuhan investasi adalah sebesar sekitar 14%.
saya gak tau tingkat perekonomian anda, tapi 150 jt kayanya masih terlalu kecil.
yang harus dinilai dari unit link sebenernya adalah:
* besar biaya akuisisi
* biaya administrasi
* komisi setoran
* dan potongan2 lainnya
semakin kecil semakin bagus. tapi rasanya lebih bagus kalau ngambil asuransi dan investasi secara terpisah.
Curiga nich soal asuransi… Tanganya yang retak or patah diasuransikan juga gak mas…
Btw, udah nulis banyak brarti dah sembuh…
#49: belum sembuh, tapi bandel
Btw saya gak di german loch… cuma kalau ngakses blog om priyadi kalau gak pake proxy lamanya bukan main…. maklum cuma numpang di warnet kecil….
Hattrick…. Gravatarku kok lum nongol yach…
Kalau saya sih mendingan beli asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan yang murni asuransi tanpa embel-embel “investasi” karena jauh lebih murah dengan biaya pertanggungan yang sama.
Kelebihan duitnya, langsung saya investasikan di reksadana saja hehehe.
Kapok gara-gara nyokap pernah ikutan salah satu asuransi syariah dan uangnya mereka putar di reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham tapi return hanya 15-20% setahun (biasanya kalau sudah ada embel-embel saham, anything below 30% a year is just not acceptable)
#53:
asuransi pendidikan gak ada yang tanpa embel2 investasi
itu artinya reksadana campuran. untuk reksadana campuran 15-20% masih wajar, mungkin proporsi pendapatan tetapnya lebih banyak. tapi memang dibanding reksadana yang lain, 15-20% relatif underperforming.
Klo menurut sy semua asuransi bertujuan baik utk mengcover scr finansial jika suatu saat terjadi resiko pada diri kita.
Kalau untuk kendaraan yg kita sayangi saja kita mau mengeluarkan uang untuk proteksi-nya, mestinya untuk diri kita dan keluarga kita harusnya lebih baik dalam memberikan proteksi.
Jadi pilihlah asuransi yg memang sudah proven dalam memberikan layanan dan proteksi dan di dukung oleh agen yg bertanggung jawab utk masalah klaim-nya, krn mereka memang mendapatkan komisi utk itu.
#55:
ini salah kaprah juga. untuk beli asuransi itu sama sekali tidak perlu lewat agen. lewat agen kemungkinan hanya akan menambah jalur administrasi dan biaya yang anda bayarkan. selain itu, kalau melalui agen, bisa jadi anda dituntut untuk berhubungan dengan pribadi, dan bukan dengan perusahaan. jeleknya kalau berhubungan dengan pribadi, kalau suatu saat perlu dan dianya tidak dapat dihubungi kita harus cari2 jalur lain, dan ini bisa merepotkan. kalau berhubungan dengan perusahaan, kalau misalnya karyawan cuti atau sudah tidak bekerja lagi di situ, pasti akan ada yang menggantikan.
pengecualian ada kalau lewat agen yang bukan pribadi dan bersifat ‘wholesale’, misalnya bank atau perusahaan tempat bekerja. di sini komisi relatif kecil karena jumlah agen banding potensi konsumen relatif kecil.
#46 “tapi rasanya lebih bagus kalau ngambil asuransi dan investasi secara terpisah”
Ada rekomendasi ga asuransi yang benar2 pure, tanpa ada embel2 investasi?
#57:
coba tanya ke perusahaan asuransi tentang produk ‘term life’ atau ‘term insurance’. harusnya semua perusahaan asuransi punya kok produk term life.
Wow, Posts yang sangat bermanfaat dan kemungkinan 68% dapat membuka mata saya tentang asuransi (emang saya anak ekonomi tapi gebleg banget masalah lembaga keuangan especially asuransi
“) dan inveestasi…
Baru aja masuk angkatan kerja…Jadi baru melek soal investasi…Makasih yak mas dah ngasih artikel bagus…Patut dibaca neh ama kebanyakan orang indo yang ngasal beli asuransi…
Kalo bisa jelasin sekalian tentang asuransi kesehatan donk mas, “disaat kapankah kita perlu asuransi kesehatan” ataukah seharusnya kita mengambil asuransi kesehatan seumur hidup…ato diumur kapankah kita sebaiknya mengambil asuransi kesehatan….Karena menurut saya selain life insurance…insurance yang gak kalah pentingnya adalah asuransi kesehatan….Karena kita gak tau kapan kita sakit…
PS:
Lah, kok IP pontianak?…
Speedy telkom bekasi loh seharusnya….
Safari Windows juga…hahahaha….nice widget for comments neh mas…bikin ndiri ato ada scriptnya?….jadi pengen untuk blog saya….
coba dong om bahas soal dana pendidikan utk anak, apa bisa dg asuransi + reksadana ini?
#54 Betul-betul….
Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan yang saya tahu ya sama saja. Asuransi pendidikan kan investasi kita sekian tahun supaya didapat dana sekian juta. Ini investasinya.
Untuk meng-cover “keadaan di luar rencana” seperti meninggalnya tertanggung (atau penanggung ya?) maka dimasukkan lah asuransi ke dalamnya. Ada yang jelas-jelas disebutkan (3% dari setoran bulanan menjadi premi). Ada juga yang ’samar-samar’: Gratis Asuransi, tapi rate yang diberikan 2% lebih rendah daripada investasi biasa. Sama saja toch. Setoran kita dipotong atau bunga kita diturunkan.
Saya sendiri lebih merekomendasikan untuk memisahkan asuransi dengan investasi. Ambil asuransi yang kita butuhkan dan coverage-nya sesuai dengan skenario yang nantinya kita inginkan. Investasikan dana kita di instrument yang paling sesuai dengan profile kita: Saham, Obligasi, Deposito, Reksadana, dll.
Contohnya, karena saya sudah di-cover 100% untuk kesehatan (sakit dan kecelakaan) juga rawat inap (dan gaji bulanan tetap diterima walaupun tidak bekerja selama sakit/dirawat). Maka asuransi kesehatan belum perlu saya ambil (kalo mau dapat fasilitas lebih ya bisa aja). Untuk jiwa, karena coverage hanya kalo kecelakaan kerja sementara kecelakaan di luar kerja tidak ada, maka diambil asuransi jiwa yang coverage-nya minimum total hutang (tanggung jawab) plus gaji 1 tahun.
Penghasilan bulanan yang tidak terpakai disisihkan menjadi: Investasi Jangka Panjang (75%) dan Investasi Jangka Pendek (25%). IJ Pendek ini biasanya buat beli HP/Laptop/konsumtif lainnya.
Oh ya, waktu saya ambil KPR kemarin, saya juga membeli asuransi kebakaran/kebanjiran dan jiwa. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan saya, keluarga cukup membayar cicilan KPR 3 bulan ke depan dan sisanya dibayarkan pihak asuransi. Ada juga asuransi kebongkaran/kemalingan, tapi tidak diambil karena gak ada barang yang cukup berharga untuk diambil maling
Saya kok masih belom berani ya ambil asuransi dalam bentuk apapun. Soalnya dah sering denger orang yg ikutan asuransi pas tiba mo ngeklaim kok diputer-puter dulu, bikin males.
Tapi tiba giliran setor duit diburu-buru deh
#59:
kalau kesehatan menurut saya sih perlu diambil seumur hidup, dan direvisi besarnya mungkin setiap 5 tahun sekali untuk mengikuti laju inflasi.
#61:
coba baca komentar #26
#62:
ada bedanya kok: asuransi pendidikan dijual oleh perusahaan asuransi, tabungan pendidikan dijual oleh bank. heheheh
Pak, Bagaimana sebaiknya Ya? Sebelum ini ada teman baik saya yang baru-baru ini menjadi agen u/menawarkan produk unitlink dari P**LINK Pada awalnya saya sangat tertarik, tapi setelah mencari informasi ke sana ke mari, dan setelah melihat pembahasan di situs ini, saya jadi ragu. Apalagi program menabungnya lama sekali, 10 thn.
Sebenarnya saya juga sudah menandatangani formulir unitlink tsb, karena teman saya ini gencar sekali (dan juga karena rasa tidak enak hati), dan tinggal menunggu debet otomatis dari P**LINK untuk premi yang pertamakalinya dan medical check up.
Jujur saya masih sangat ragu, tapi bingung bagaimana mengatakan kepada agen tsb, karena sehari-sehari dia adalah teman baik saya.Kelihatannya dia bersemangat sekali.
Saya stress sendiri jadinya
#65: nah ini yang repot. kebeneran kalau saya lebih ‘beruntung’, yang nawarin belum pernah dari kalangan teman dekat, jadi nolaknya pun gak terlalu susah. kalau saya biasanya saya bilang ’sudah punya’ karena memang sudah punya
. kalau masih maksa karena ‘produk mereka lebih bagus’, ya saya counter dengan perhitungan2 saya.
btw, menurut saya, program menabung 10 tahun itu bukannya terlalu lama, tapi justru kurang lama
Asuransi jiwa saja, nggak deh
Reksadana doank, nggak juga deh
Auransi kesehatan doang? Nggak juga
Asuransi pendidikan aja? Percuma
Kenapa harus repot2 memisah2kan sedangkan bisa didapatkan dalam 1 produk aja?
Kan ada tuh asuransi + investasi yg udah mencakup semua, kesehatan, jiwa, + investasi. Ya kalau (merasa jawara, sehat terus), liat aja investnya. Kalau tiba2 sakit, cacat, kekelakaan, meninggal (semua yg di luar kuasa manusia), ya liat porsi kesehatan dan jiwa, sementara tabungan investasinya jalan terus. Karena org yg udah sakit, apalagi sakit keras, pasti susah buat kerja lagi. Terus, gimana donk keluarganya? Jangan melulu liat yg udah punya anak istri. Emang orang tua ga harus disupport? Setajir2nya ortu, selayaknya sebagai anak ga perlu menyusahkan lagi org tua.
Beli asuransi pada saat butuh? TELAT mas…Tunggu punya anak dulu baru beli asuransi? Kalau di perjalanan menuju ke saat itu tiba2 sakit/kecelakaan? Berantakan kan rencana indah di depan mata…
Atau tunggu sakit dulu baru beli asuransi? TELAT juga. Ga ada perusahaan asuransi mana pun yg mau terima org yg sudah berpenyakit.
Ga usah jauh2, Chrisye yg banyak duit, yg legenda musik Indo aja berobat kanker sampe dapet sumbangan sana sini. Jadi yg sudah berpenghasilan dan anak2nya sudah mapan semua juga ga menjamin. Kan anak2nya yg sudah mapan itu juga punya kewajiban sendiri terhadap keluarga mereka masing2.
Sama sekali ga ada salahnya sedia payung sebelum hujan.
Sip.
Saya sendiri sudah menabung di salah satu perusahaan asuransi nomor satu sejak 2002 sampai sekarang. karna agennya teman saya, dan dan jujur saja saya tidak pernah sekali pun memikirkan komisi yg akan dia dapatkan dengan menabungnya saya lewat dia.
Berapa pun yg dia dapat, bukan urusan saya, karna di sini tujuan saya menabung, dan teman saya itu perantaranya. Saya tidak mau karna hanya memikirkan seorang agen akan mendapatkan komisi sekian-sekian, jadi saya tidak rela dia dapat komisi, jadi saya malas beli asuransi. Kalau cuma gara2 itu saya tidak nabung asuransi, di sini pihak yg rugi bukan teman saya itu, tapi saya. Iya kan? Teman saya itu bisa saja cari org lain lagi, tapi sayanya keukeuh ga mau beli asuransi karna dia bakal dapat komisi. Jahat juga pemikiran seperti itu… Beli ausransi langsung ke perusahaannya? Boleh aja, kalau tidak merasa repot. Kalau jauh, agen bisa jadi perantara. Ya harus cari agen yg berpengalaman dan jujur, bukan agen asal2an.
Jadi mungkin bisa diluruskan di sini kalau menabung di asuransi jangan deh memojokkan peran agen di luar sana sebagai perantara perusahaan. Mereka itu kan kerja, ya wajar lah dapat honor/komisi, karena setelah saya jadi nasabahnya, dia yang akan mengurus segala keperluan saya jika saya ada klaim atau apa. Servis dia itu jangka panjang. Jadi wajar saja.
#67:
memisah2 produk finansial sama sekali tidak repot. malah jauh lebih repot ngitung unit link
. bisa berbulan2 sebelum bisa ngerti semuanya 
sebenernya masuk akal untuk ikut produk yang sudah mencakup semua, selama perhitungannya transparan, tidak menyembunyikan biaya, dan overheadnya minimal. tapi selama ini saya belum tahu ada produk yang seperti itu.
#68:
dengan analogi seperti ini, kalau anda ke stasiun gambir terus ada calo yang nawarin “pak, saya jual tiket jakarta bandung Rp 150 ribu, ini harga resmi pak, sumpah!” (padahal resminya cuma 70 ribu), maka anda akan beli karena “tujuan saya di sini untuk beli tiket”, “berapapun yang dia dapat bukan urusan saya”, karena “dia adalah perantaranya”, “Saya tidak mau karna hanya memikirkan seorang calo akan mendapatkan komisi sekian-sekian, jadi saya tidak rela dia dapat komisi”.
kalo saya sih mendingan antri ke loketnya langsung
, atau dalam urusan asuransi ini, beli secara terpisah.
#65: wah sama tuh pengalamannya dengan saya..pas diprospek iya2in aja esoknya untung bisa nolak..
#67
Anda membeli produk yang mencakup semua (investasi+jiwa+kesehatan) menurut saya gak sesuai juga buat saya. Saya sudah di-cover asuransi kesehatan oleh perusahaan. Coverage-nya sama dengan kalo saya bayar premi sendiri sekitar 500rb/bulan. So, benefit ini saya manfaatkan. Seperti tulisan Om Pri di atas, gak perlu lagi saya ambil Asuransi Kesehatan (Optional lah kalo mau).
Kecelakaan kerja juga di-cover, tapi di luar kerja tidak. Nah disini saya perlu mengambil coverage untuk kecelakaan di luar kerja (kecelakaan di jalan raya, dll).
Untuk investasinya kalo kita malas mengurus sendiri (main saham, forex, dll) ya ikut manag