Asuransi Unit Link vs. Reksadana
Sejak beberapa tahun yang lalu, di Indonesia mulai marak dipasarkan produk-produk asuransi unit link. Unit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Dengan menjadi nasabah produk unit link, seseorang bisa mendapatkan manfaat ganda yaitu perlindungan asuransi dan investasi. Produk asuransi yang ditawarkan bisa berbentuk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, tetapi biasanya dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik bagi masyarakat: misalnya tabungan masa depan atau asuransi pendidikan.
Seperti halnya asuransi biasa, nasabah asuransi unit link membayar premi setiap jangka waktu tertentu, biasanya bulanan. Perbedaannya, nasabah unit link membayar premi dalam dua porsi: porsi premi perlindungan dan porsi investasi. Premi perlindungan berfungsi sama dengan premi pada asuransi biasa. Sedangkan porsi investasi akan disetorkan oleh perusahaan asuransi kepada manajer investasi untuk dikelola. Pada produk-produk tertentu, jika nantinya return dari investasi bisa menutupi biaya premi, maka nasabah memiliki pilihan untuk tidak membayar premi.
Sebagian besar perusahaan-perusahaan jasa manajer investasi ini biasanya memiliki produk reksadana retail yang ditawarkan ke masyarakat. Ini yang membuat saya berpikir keuntungan dan kerugian mengikuti layanan asuransi dan reksadana secara terpisah, ketimbang mengikuti layanan unit link yang menggabungkan kedua jenis layanan tersebut.
Menjadi nasabah investasi unit link dan reksadana sebenarnya tidak jauh berbeda. Dalam keduanya, nasabah diminta untuk memilih kemana dana yang disetorkan akan diinvestasikan. Pilihan yang disediakan adalah ekuitas, fixed income, pasar uang atau kombinasi di antaranya. Keduanya sama-sama memiliki resiko yang kurang lebih sama, tergantung dari jenis investasi yang dipilih. Tetapi tentunya bukannya tidak ada perbedaan sama sekali.
Besar Biaya Akuisisi
Biasanya, asuransi unit link dipasarkan secara sangat agresif, tidak jarang menggunakan sistem pemasaran langsung. Di sisi lain, manager investasi minim melakukan pemasaran. Pemasaran yang agresif bisa menjaring lebih banyak nasabah, tetapi biaya akuisisi akan semakin tinggi dan biaya ini tetap akan dibebankan kepada nasabah.
Sebagai contoh, salah satu produk asuransi link unit membebankan biaya akuisisi kepada nasabah sebesar 41% dari setoran porsi premi asuransi untuk lima tahun pertama. Biaya ini kemudian akan ditalangi dengan tidak memberikan sebagian manfaat asuransi pada tahun pertama dan sisanya kemudian dibebankan pada setoran porsi investasi.
Transparansi
Reksadana biasanya jauh lebih transparan daripada produk investasi yang ada dalam unit link. Biasanya, nasabah reksadana dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi seperti sejarah perkembangan investasi, resiko, alokasi aset, biaya jasa pengelolaan dan sebagainya. Sedangkan dalam unit link, seringkali sulit untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan manajer investasi beserta biaya dan kinerjanya. Kebanyakan agen asuransi biasanya lebih banyak berkutat pada ilustrasi yang abstrak tanpa dengan jelas memberi tahu parameter-parameter pembentuk ilustrasi tersebut. Terlebih lagi, calon nasabah yang awam tidak memiliki pembanding yang cukup untuk menilai kualitas yang diberikan oleh ilustrasi tersebut.
Pada produk unit link ada lebih banyak variabel yang berperan. Hal ini menjadikan ilustrasi yang diberikan oleh penyedia layanan asuransi menjadi sangat rumit, terutama bagi calon nasabah yang belum mengenal asuransi dan/atau reksadana. Jika calon nasabah tidak cukup jeli dalam menganalisis ilustrasi yang diberikan, bukan tidak mungkin akan ada biaya-biaya siluman yang tidak disadari oleh calon nasabah. Tidak jarang, biaya-biaya ini baru diketahui nasabah pertama kali dari polis yang didapatkan, atau bahkan ketika biaya tersebut dibebankan kepada nasabah.
Pada unit link, akan menjadi sangat sulit bagi calon nasabah untuk membandingkan satu layanan asuransi unit link dengan layanan unit link lainnya karena sistem yang digunakan bisa jadi jauh berbeda. Membandingkan dua atau lebih layanan asuransi biasa sudah cukup rumit tanpa harus dicekcoki dengan berbagai macam urusan investasi yang nyatanya tidak benar-benar terpisah dengan asuransi.
Dengan memisahkan asuransi dan reksadana, perhitungan yang perlu dilakukan oleh nasabah akan menjadi jauh lebih transparan dan sederhana.
Perhitungan Inflasi pada Jumlah Pertanggungan
Beberapa produk unit link memberi fitur utama yaitu janji putus pembayaran premi setelah tahun tertentu, yang tergantung pada perkembangan investasi. Yang jarang diperhatikan oleh nasabah adalah faktor inflasi yang akan memaksa nasabah untuk menambah jumlah premi yang harus dibayarkan di masa yang akan datang. Tentunya hal ini berlaku pula pada asuransi biasa, akan tetapi pada asuransi biasa, calon nasabah tidak pernah dijanjikan putus pembayaran premi.
Contoh: Seseorang mengikuti asuransi PRIlink dengan porsi premi asuransi kesehatan sebesar Rp 50000 per bulan dengan jumlah pertanggungan untuk perawatan di rumah sakit sebesar Rp 500000/hari. Setelah 10 tahun, diprediksi return investasi dapat menutupi pembayaran premi tersebut. Tetapi hal ini belum memperhitungkan inflasi yang akan terjadi sampai 10 tahun ke depan. Inflasi akan menyebabkan biaya perawatan di rumah sakit menjadi semakin tinggi. Untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit yang setara dengan Rp 500000/hari saat ini, 10 tahun kemudian kita harus membayar lebih besar daripada jumlah tersebut. Akibatnya premi akan semakin besar dan putus pembayaran premi menjadi tertunda atau bahkan tidak akan pernah terjadi.
Sebagai catatan, dengan asumsi inflasi tahunan sebesar 7,5% per tahun dan biaya perawatan sebanding dengan laju inflasi, maka untuk mendapatkan kualitas perawatan seharga Rp 500 ribu/hari pada hari ini, dalam 10 tahun kita harus membayar biaya perawatan sebesar kurang lebih Rp 1 juta/hari. Dengan memperhatikan inflasi, rencana putus pembayaran premi pasti akan mundur atau bahkan tidak akan terjadi, tergantung porsi investasi yang ditetapkan dan realisasi perkembangan investasi.
Selain itu, putus pembayaran premi bukanlah fitur spesifik unit link. Nasabah asuransi dan reksadana secara terpisah juga dapat menikmati fasilitas ini karena pembayaran premi asuransi bisa saja nantinya dibebankan pada return investasi di masa yang akan datang. Perbedaannya, pada nasabah asuransi dan reksadana terpisah, dana tersebut harus melewati kantong nasabah yang bersangkutan. Sedangkan pada unit link semuanya telah diurus oleh pihak penyedia layanan asuransi.
Panjang Jalur Administrasi
Pada investasi unit link, instruksi nasabah perlu melewati beberapa pihak: dari agen asuransi (jika ada), ke perusahaan asuransi, dan baru kemudian mencapai manager investasi untuk diproses. Semakin panjang rantai instruksi ini tentunya semakin lama instruksi tersebut dapat diproses. Panjang administrasi ini dapat diputus dengan mengalokasikan dana investasi langsung ke produk reksadana yang dikeluarkan oleh manajer investasi, tanpa melewati perusahaan asuransi.
Selain itu, semakin panjang jalur administrasi tentunya juga semakin banyak biaya administrasi yang perlu dikeluarkan oleh seorang nasabah. Dengan menempuh jalan pintas dengan cara melakukan investasi pada reksadana secara langsung, nasabah dapat mempercepat instruksi dan sekaligus menghemat biaya-biaya administrasi.
Walaupun reksadana adalah instrumen investasi jangka panjang, kecepatan pemrosesan instruksi adalah faktor yang cukup kritis. Pada kebanyakan (semua?) produk reksadana, instruksi nasabah dilakukan atas harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Sedangkan dari informasi beberapa agen produk unit link, saya tidak sepenuhnya yakin bahwa instruksi nasabah dilakukan berdasarkan harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Bisa saja instruksi yang dilakukan pada hari H baru akan dilakukan pada H+2, pada saat harga unit link sudah berbeda.
Keterikatan dan Fleksibilitas
Yang paling penting bagi yang serius untuk menjalankan investasi adalah faktor keterikatan. Dengan memisahkan layanan asuransi dan reksadana, kita bisa membagi proporsi di antara keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita pada saat itu, tanpa harus terikat dengan proporsi dan jumlah yang telah ditetapkan dalam polis asuransi. Jika sedang membutuhkan uang, kita bisa tetap membayar premi asuransi, tetapi bisa bebas berhenti menyetorkan dana investasi tanpa harus takut kehilangan manfaat asuransi. Sebaliknya, jika sedang memiliki dana berlebih, kita bisa menyetorkan kelebihan dana tersebut ke reksadana tanpa harus terkena penalti atau biaya tambahan.
Selain itu, kita juga bisa dengan bebas memindahkan dana dari satu manajer investasi ke manajer investasi lainnya sesuai keperluan; atau bahkan memindahkan dana dari reksadana ke instrumen investasi non reksadana tanpa harus terkena penalti sisa dana minimum. Semua ini akan bisa dilakukan tanpa keterikatan dengan penyedia layanan asuransi.
***
Dengan demikian saya tidak dapat melihat adanya nilai tambah yang diberikan unit link dibandingkan dengan mengikuti asuransi dan reksadana secara terpisah. Kelebihan unit link hanya ada bagi orang-orang yang belum mengetahui keberadaan reksadana sebagai instrumen investasi. Kelebihan unit link lainnya adalah kepraktisan bagi yang tidak ingin berhubungan dengan pihak yang berbeda untuk mengurusi investasi dan asuransi. Mengingat mendaftar reksadana tidak lebih sulit daripada mendaftar akun tabungan bank, saya tidak yakin manfaat kepraktisan yang didapatkan akan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Pada beberapa tahun yang lalu, saat jumlah minimum setoran pada produk reksadana mencapai puluhan juta rupiah (yang saya tahu), mungkin unit link bisa bermanfaat bagi yang ingin melakukan investasi kecil secara periodik (menyisihkan sebagian gaji bulanan untuk keperluan investasi). Tetapi pada kondisi saat ini dimana jumlah setoran minimum reksadana bisa mencapai sekurang-kurangnya Rp 100 ribu, bagi saya unit link praktis tidak lagi begitu menarik.
Tambahan: silakan baca Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah untuk melihat perbandingan perhitungan secara kuantitatif.
Mas Priyadi, ini benar2 pembahasan yg bagus dan lengkap. Mengenai isu inflasi, saya rasa nasabah bisa memilih asuransi yg memperhitungkan inflasi walaupun penarikan dananya nanti jadi lebih kecil.
Biasanya nasabah merasakan nikmatnya kalau sudah jatuh tempo dan sempat menerima klaim selama itu. Yg paling menguntungkan ya klaimnya itu. Dr Rp50 ribu, misalnya Rp20 ribu utk premi, Rp30 ribu utk investasi. Berapa sih nilainya Rp30 ribu utk 10 thn investasi dibanding Rp20 ribu untuk, mis Rp100 juta biaya RS?
Perlu dibuatkan rating unit link agar nasabah tahu mana yg terbaik.
#3
, hal seperti ini kadang sangat membingungkan nasabah dalam memilih,
sepakat
terkadng juga nasabah enggan mengambil karena beranggapan sulitnya administrasi saat melakukan klaim…
btw ke empat akhirnya 5 besar
Ini merupakan alternatif investasi seperti deposito, dll dan resiko sakit/meninggal jadi digunakan sebagai tabungan, selama masih ada sisa dana untuk ditabung
Daripada Asuransi, dsb.. bukannya lebih enak kalo nabung sendiri? daripada bayar premi, kan masuk ke pihak asuransi, iya kalo terjadi “sesuatu”, kalo gak kan berarti duit kita hilang. Nah kalo ditabung kan pasti terjadi atau tidak terjadi tetap milik kita
IMHO, cukup ditabung saja, tentunya di bank syariah
dari sedikit pengalaman saya, saya juga lebih suka memisahkan asuransi dan reksadana. karena pada dasarnya asuransi itu simpenan jangka panjang, dg ikatan kontrak yg serius. sedangkan reksadana justru jangka pendek, bahkan spekulan bisa melakukan transaksi beberapa kali dlm tempo sebulan. saya nggak ngerti pertimbangan apa yg dijadikan dasar pembuatan unit link itu. karena 2 instrumen investasi itu sebenernya di 2 jalur berbeda.
#1
asuransi apa saja yang memperhitungkan inflasi? terutama link unit.
pak pri,mau jadi salesnya asuransi ya???
Semua asuransi jiwa biasanya ada pilihan untuk diindex ke tingkat inflasi (indexed to inflation rate/CPI) di quotation software-nya. Tanggungannya meningkat berdasarkan inflasi tapi preminya juga meningkat. Saya rasa di Indonesia juga menggunakan software yg dikemas sesuai situasi di Indonesia, mungkin bisa ditanya sama agen asuransinya. Kalau perlu minta di-quote di depan komputer. Juga ada pilihan standard untuk premi yg rata dan meningkat berdasarkan umur. Coba AXA atau Cigna deh. Cheers.
beda insurance sama assurance apa kk?
Wah Pri, lengkap juga analisisnya. Aku sekarang jadi mikir lagi, kemarin udah terlanjur ikut asuransi “yang itu tuh”
. Emang promosinya gencar banget akhir-akhir ini, perlu tulisan kaya tulisanmu untuk memberi opini yang seimbang.
Jadi intinya, asuransi PR**** itu nggak lebih baik dibanding reksadana + asuransi konvensional?
pak priyadi,
saya mau nyimpen duit nih. udah kebanyakan… huehehehehe…
kalo sy gajinya umr. gak mikir asuransi, reksadana apalagi saham.
Unit link returnnya baru bebas pajak (20%) setelah tahun ketiga. Reksadana bisa bebas pajak dan fee setelah satu tahun. Jadi untuk menikmati return yang bebas pajak dan fee, reksadana bisa lebih cepat. Reksadana pasar uang bahkan bisa keluar masuk tiap hari tanpa masalah dan biaya.
Unit link membebankan biaya bulanan yang diambil dari unit yang kita miliki. Semakin lama, jumlah unit yang kita miliki makin menurun meskipun nilai aktiva bersih bisa naik bisa turun. Reksadana tidak ada.
Kalau tujuannya investasi, pilih reksadana. Kalau tujuannya investasi dan asuransi is only nice to have, unit link mungkin cocok. Kalo asuransi bener-bener perlu, pilih aja asuransi langsung.
@barkah
gw setuju banget ama lo,
ngga sejelek itu unit link.. coba cari unit link2 yang lain
#14
hmm… kalo perhitungan reksadana bebas pajak & fee setelah satu tahun,boleh juga tuh invest disitu…
Wah, boro-boro ikut asuransi, buat makan saja masih ngutang warung..
moga2 tidak terjadi ’sesuatu’ pada diri ini.
maunya sih ikut ini itu buat jaga-jaga…
asuransi sudah… investasi..?!
Tulisan lain soal reksadana:
http://nofieiman.com/2007/04/investasi-di-reksadana/
Jangan pernah campur LIFE INSURANCE dengan INVESTMENT.
LIFE INSURANCE ya untuk perlindungan diri dan INVESTMENT adalah untuk memperkaya diri.
Hati-hati dengan perusahaan asuransi yang menawarkan paket keduanya dalam satu produk. saya pakai paket prudential di Singapore dan pada saat saya minta info mengenai kinerja investasi uang saya dalam 2 tahun terakhir mereka tidak bisa menjawab dengan akurat.
Makasih buat insight-nya. Menurut mas Priyadi, kita sebaiknya kita memisahkan antara asuransi dengan investasi. Tapi menurut saya life insurance itu penting banget, dan kalau kita beli life insurance doang, bukannya kita kayak “buang” uang untuk insurance itu? Bukannya mending get something rather than nothing?
Dari awal, saya memang ga suka sama asuransi macam gini.
btw, pak numpang kritik iklan:
Iklan tv three yang tidak mendidik
ini mungkin miskonsepsi paling meluas soal unit link. sebenarnya mau asuransi konvensional atau unit link, nasabah tetap ‘buang uang’. dalam unit link ada porsi premi asuransi dan porsi investasi. porsi premi asuransi itu bagian yang ‘buang uang’.
jadi unit link itu sama dengan asuransi konvensional + investasi reksadana. bedanya, overhead di unit link lebih tinggi daripada kalau dipisahkan.
Asuransi ?
Enaknya ketika diajak menjadi anggota,
berbagai janji manis dipaparkan dengan indahnya.
ketika mau mengklaimkan… sulitnya bukan main.
tidak semua sih,
Hmmm… iya sih, setelah dipikir-pikir, bener juga yah. Tetep aja dalam unit link kita mesti “beli” asuransi.
Thanks again for sharing.
wele2… bagus dan lengkap pembahasannya, jadi bertambah ilmu kita.
tapi sampe saat ini masyarakat kita belum begitu butuh dengan yang namanya asuransi
jadi tambah mengerti masalah yg spt ini. Great!!!
Apapun jenis investasinya, mau Unitlink kek, Reksadana kek, atau sejenis Qisar kek, Anda harus senantiasa memantaunya, karena yang namanya risiko investasi senantiasa mengintai setiap saat.
untuk # 27, pada umumnnya suatu produk tercipta karena ada kebutuhan, tetapi tidak jarang suatu produk justru menimbulkan kebutuhan.
Saya cuma mo kasi pendapat, kalau kita mau membandingkan sesuatu, kita haruslah objective..( Apple to Apple ), jangan membandingkan apple dengan durian. dari tampilan saja sudah beda. Masalah buang uang untuk bayar premi itu relatif, semuanya kembali ke masing2x, apakah kita mau merencanakan sesuatu yang terbaik untuk keluarga.. Cherrzzzz……
Haduh pusing dah liat asuransi dan reksadana. Pengalaman ikut asuransi kesehatan gampang bayar susah klaimnya. Akhirnya nabung aja deh dan jaga kesehatan supaya gak kena sakit parah. Reksadana lagi dah dari taun kapan denger, baca bukunya, liat talkshownya tapi kok gak ada yang seperti di omongin yang mulai dari Rp 250.000,- per unit terus juga gak pernah deh ditawarin sama pihak bank mungkin tabungannya harus 1 milyar dulu baru di approach ya?
Untuk #10
kira2 penjelasan gampangnya, assurance adalah tindakan SEBELUM sesuatu terjadi. Sedangkan insurance adalah tindakan SETELAH sesuatu terjadi.
Reksadana ada yang 100rb? Ada tautan yg bs ditelusuri?
mmmm….
#31 di Trimegah bisa kok mulai 250 ribu. datang aja ke kantornya langsung. kalo lewat agen kadang2 emang agennya yg ngeset investasi minimum lumayan gede, mungkin krn komisi atau ga mo repot.
#33:
manulife saham/obligasi terima Rp 100000 untuk buka/tambah dengan datang langsung ke kantornya, dana ditransfer lewat BCA.
schroders terima Rp 200000 untuk buka dan Rp 100000 untuk tambah lewat bank commonwealth.
mumed… ndak mengerti he he
Iya, saya juga sering di tawarin hal-hal semacam itu. Baik oleh kawan yang sudah menjadi agent maupun jika berjalan di mall-mall.
Tapi saya tolak dengan halus. Maklum penghasil belum bisa terkover sampai kesitu untuk saat ini. Beli minyak goreng aja makin susah gimana menyisihkan duit buat Asuransi.
Btw: numpang test browser ya…
mas pri emang top klo ngulas…tak sinaonane yo
iyah.. sampe sekarang saya tetep bingung buat pilih2 asuransi
Jadi commonwelth bisa buka dengan 200ribu?
masa sih?
thanks.
btw kok sama dengan bahasan gw tentang investasi
halah maksudnya sama2 bahas tentang investasi
Mas Pri, salam kenal. Mau ikutan.
Unit Link adalah gabungan dari asuransi kematian plus pelayanan jemput bola (via Agen/tenaga pemasaran) + pelayanan selama masa perjanjian + “reksadana” artinya Dalam Produk Unit Link :
1. Ada manfaat buat ahli waris kalau Pemilik unit link meninggal, sebaliknya hal ini tidak ada di produk reksadana
2. Ada agen yang datang/menawarkan secara aktif kepada calon peserta, (ada biaya pelayanan/akuisisi yang mas pri sebutkan diatas 41% - tiap perusahaan biasanya berbeda2 dalam menetapka biaya akuisisi ini), sementara kalau di reksadana murni, biaya yang dibebankan biasanya biaya pengelolaan dana (kecil dibanding dengan biaya pelayanan asuransi)
atau dengan kata lain, nasabah unit link biasanya didatangi agen, sedangkan nasabah reksadana datang ke perusahaan (kecuali kalau belinya dalam jumlah besar)
3. Kontrak unit link biasanya jangka Panjang diatas 10 tahun, sehingga ada kedisiplinan untuk terus membayar premi (setiap jatuh tempo pembayaran, perusahaan asuransi mengingatkan hal tersebut)
Agen/tenaga pemasaran biasanya membandingkan produk unit link dengan produk asuransi tradisional (contoh
wiguna), karena sama2 produk asuransi. (apple to apple, bukan dengan produk bank atau pasar modal, sebab bank, asuransi, leasing dan pasar modal mempunyai karakteristik dan pelayanan yang berbeda, tinggal kita sebagai nasabah pandai2 membagi uang/dana kita dalam sektor keuangan diatas. Bagi Muslim/ah sudah tersedia Lembaga Keuangan Syariah.
gak ada yang ‘gak berguna’ untuk saya yang butuh kanal2 baru untuk money laundring uang saya
#41:
coba masuk http://www.commbank.co.id, buka menu ‘comminvest’, terus ‘reksadana fee & charges’
Mau ngetest browser Safari
Asuransi juga skrg sudah ada yang syariah kalo itu yg dikhawatirkan.
Soal investasi di pilihan unit link, tergantung asuransinya, ada asuransi yang membebaskan nasabah/penabung untuk memilih berinvestasi di beberapa tipe investasi yang dia miliki, apakah itu equity, managed income, fixed income (deposito, bunga bank dll)
Informasi yang diberikan kalo ga salah berupa berapa return/tahun yg diberikan oleh masing2x tipe investasi. Misalnya equity tahun 2006 hingga 50% dll.
#43:
unit link harus dibandingkan dengan asuransi+reksadana, bukan reksadana saja. sebenarnya ini inti permasalahannya: kalau nasabah merasa tidak/belum memerlukan asuransi jiwa, maka sebenarnya dia juga tidak/belum memerlukan unit link. yang dibutuhkan oleh sebagian besar nasabah unit link saat ini sebenarnya adalah reksadana, bukan unit link.
tapi karena calon nasabah tidak tahu reksadana, maka dia pilih unit link. kalau si nasabah tahu reksadana, maka dia gak punya alasan untuk ikutan unit link. unit link di sini cuma cara pemasaran untuk menjaring lebih banyak pelanggan yang belum tahu reksadana.
kalau buat saya ini jeleknya unit link: gak bisa bebas memilih manajer investasi, gak bisa menyetorkan dana berlebih tanpa kena biaya administrasi tambahan.
pengalaman saya agak susah membandingkan unit link dengan asuransi tradisional. dari beberapa unit link terlihat harga preminya terlampau murah jika dibandingkan asuransi konvensional, tapi saya curiga itu karena disubsidi silang dari biaya administrasi porsi investasi, sedangkan porsi investasi tidak bisa benar2 dieliminasi. jadi gak bisa diketahui secara pasti berapa besar premi sebenarnya, bahkan agennya pun mungkin gak tahu.
jadi agak susah membandingkan unit link secara apple to apple dengan asuransi tradisional, bahkan dengan produk unit link dari perusahaan lain.
Unit link adalah salah satu jenis investasi.Lainnya seperti saham,obligasi,deposito,emas,dll.
Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.Unit link di indonesia belum lama.Kalo di Eropa dan Amerika Utara sudah lama.Jadi tidak ada alasan untuk khawatir dan disangkutpautkan dengan investasi yang tidak jelas.Kalo ingin tahu pembahasan secara detil sering-sering baca majalah bisnis spt SWA atau Investor.Kalo surat kabar ya Bisnis Indonesia.
Setahu saya reksadana dan unit link itu bebas pajak(bandingkan dengan deposito).Return-nya juga lebih besar Unit link.Tetangga saya ada yg punya AKTIVA produk dari A*G Life(persh AS sponsor klub sepak bola MU).Info yang saya dapat tahun kemarin profitnya 60%!
Ingin pilih produk Unit link ya harus pinter-pinter milih persh yg bonafid.Rating persh asuransi bisa dilihat di majalah Investor tiap tahun(bisa ditanyakan ke redaksi)
mendingan bisnis biasa aja ah, yang konvensional terkadang lebih aman dan menguntungkan dibanding dengan yang modern. tapi, reksadana boleh juga lah
#49:
ini sebenarnya kurang tepat, karena porsi investasi yang ada di unit link itu sebenarnya adalah reksadana juga.
kalau manager investasinya sama, unit link pasti returnnya lebih rendah daripada reksadana, karena di sini ada lebih banyak pihak yang mengutip keuntungan.
perbedaan AIG dibandingkan unit link atau reksadana lain adalah dia pakai manajer investasi in-house. akibatnya modalnya tidak bisa sebanyak pool reksadana sehingga keuntungan ‘recehan’ dari saham2 dengan market cap kecil menengah yang lebih fluktuatif bisa langsung terasa (dan kalau rugi langsung terasa juga). tapi kalau jangka panjang harusnya reksadana dengan modal besar akan lebih diuntungkan.
Aduh.. belum nyampe saya..
investasi begini utamanya adalah kepercayaan…sayangnya saya sudah tidak begitu percaya dengan perusahaan perusahaan pengelola uang seperti ini…mau gimana lagi?
Ayah saya punya 4 asuransi di bumi asih, tapi sekarang cuma 2 yang masih di terusin, ikut asuransi karena gampang di gombalin tukang asuransi, udah punya asuransi masih dipaksa2 ngambil paket yang lain… dasar….
#23 Saya setuju dengan “Overhead unit link > daripada (investasi dan asuransi terpisah)”. Saya mengalaminya sendiri. Saya mengambil unit link AXA-Mandiri. 3 tahun pertama, uang yang saya setorkan > Nilai aktual dari investasi saya. 3 tahun berikutnya juga baru equal. Ini belum menghitung inflasi dan kemungkinan investasi yang dilakukan oleh manajer investasi di AXA-Mandiri merugi.
Saya dulu tertarik karena bisa Autodebet dari Bank Mandiri dan free of charge (charge autodebet-nya bukan administrasinya). Yang paket asuransi dan investasi lain mengharuskan saya menyetor secara manual (ada yang bisa transfer dan ada yang tidak).
Tapi dengan banyaknya kemudahan mendaftar ke investasi2 yang ada dan banyaknya tawaran2 asuransi maka mending terpisah daripada satu paket.
Iyak, klo dipisah, pusingnya sebiji sebiji klo ada masalah. Klo gabung, pusingnya pasti 2 biji. Reksadana apa enaknya sih? Misal kaya th 98 duit tahu2 ga ada harganya gitu pa ndak rugi setor bulanan tp repot ngambilnya? Masih goblog nih, mending nabung konvensional aja deh…
@45
eh beneran ada, thanks pri..
tulisan yang bagus pak! Asuransi dan reksadana lebih baik dipisah.
dari berbagai poin di atas, menurut saya, yang paling berharga adalah kebebasan (likuiditas) + transparansi.
#56:
sebenernya justru tahun 98 itu waktunya buat setor, bukan untuk ngambil. kalo uang dianggurin justru rugi berat, soalnya inflasi sekitar 58%. deposito waktu itu sekitar 60-100% kalo gak salah.
Menurut saya si pak, justru lebih baik diambil n dijadiin property soalnya property tdk naik, justru turun krn jmn susah. Klo tetap dlm bentuk uang, emg rugi berat.
Menyimpan uang kan ngurangi uang beredar, mencegah inflasi makin parah, n menguntungkan jug, Cm masalahnya bank pada ga bener, mereka2 juga yg bikin moneter kacau. Mo konvert dollar rugi juga wong naiknya gila2an. Ya paling2 property tadi, …developer kalo ga jual murah pa mo kecekik bunga kredit. Nabung aja bunga segitu pa lagi kredit.
Para agen Asuransi yang gencar menawarkan produknya, terutama jenis “Asuransi Investasi”, apa mereka care dengan apa yang kita butuhkan, dan bagaimana sebaiknya perencanaan keuangan kita? Yang mereka care adalah mendapatkan komisi sebanyak2nya kalau mereka bisa closing, dan mencapai target minimum bulanan.
Yang digembar gemborkan oleh agen asuransi biasanya sangat manis dan menakjubkan, tapi begitu mau claim, dang! I should’ve read the fine print.
Menurut saya pribadi Asuransi Investasi maupun Pendidikan adalah BS, karena perkembangan investasinya tidak bisa dimonitor oleh kita. Terutama yang dinamakan asuransi pendidikan, bs banget deh… 60jt 17 tahun kemudian untuk kuliah…. kuliah dimana mang?….
Untuk investasi sebaiknya memang memilih reksadana, atau kalau fulus cukup dan punya keberanian, langsung main saham.
Asuransi hendaknya tetap dilihat sebagai ‘insurance’, dimana kita membayar ‘premi’ supaya jika terjadi hal2 yang tidak diinginkan, ‘loss’ atau ‘damage’ yang kita derita tidak terlalu besar. Jangan dicampur adukan dengan apa yang dikatakan ‘investasi’.
Ndak Faham saya
wadoh, asuransi yah, gak brp paham sayah, tp intinya kita ndaptar trus bayar premi tiap bulan, kan?
Assalamu’alaikum. Mohon izin Nimbrung nich.
Dalam mengelola keuangan dan resiko tentu perlu manajemen yang baik agar menguntungkan dan siap menghadapi musibah karena kehidupan berputar antara susah dan senang. Akan tetapi sangat diperlukan juga kejelasan kehalalannya seperti halnya ayam bakar/goreng yang baik dan lezat namun yang satu tidak disembelih pakai bismillah.
Saat musibah datang terkadang uang yang kita tabung tidak mencukupi pd saat itulah terasa fungsi asuransi (tolong-menulong=takaful) bahasa betawinya uang rembug yang kita niatkan untuk saling tolong menolong sehingga berpahala dan tidak hilang dalam hitungan akhirat.
Untuk mendapatkan investasi yang menguntungkan dan terkendali dibutuhkan manajemen yang baik. Takaful bekerja sama dengan Trimegah syariah dalam mengelolanya. Investasi aset di letakkan pada instrumen yang sesuai dengan syariah diantaranya Pasara Uang Syariah, Obligasi Syariah dan Ekuitas syariah.
Di Bolak Balik, ya “spend your money” juga (ada patung kucing sambil melambai-lambai)
kalo ga ngerti ttg reksadana baiknya ga usah komen.mang nabung konvensional bisa ngalahin inflasi apa??
Ya bisalah. Wong ngurangi uang beredar. Nabung di celengan ato apa aja sama, yg penting ga ada duit di kantong buat dibelanjakan. Ga ngerti reksadana makanya nanya…, lha mana? blom ada yg jawab tuh…, ayo yg marketing reksadana…
Klo mau muter uang yg menghasilkan return tinggi mending jualan atau memroduksi barang. Nabung ato invest keuntungannya sangat kecil. Kalo punya uang lebih bolehlahh mikirin asuransi
#68
inti yg dibahas kan soal ga efektifnya unit link klo dibandingin dengan ngambil asuransi dan investasi reksadana secara terpisah. Mungkin anda melihatnya dari sisi yg berbeda, atau tulisan mas pri yg kepanjangan?
#68:
jualan atau produksi barang itu kerjaan full time sendiri, bukan murni investasi.
Salut .. ! semakin menarik dengan banyaknya komentar yang tentunya menunjukkan semakin “meleknya” berbagai pihak tentang pentingnya investasi.
Yang jelas kita semua harus memastikan dalam perbaikan ekonomi bangsa maka unsur investasi ini salah satu yang sangat penting.
Sebagai contoh dari apa yang pernah saya dengar, Malaysia sangat berhasil membangun karena investasi di sana sangat solid, misalnya reksadana sudah jauh berkembang (masyarakat di sana kalau mau dapat return yang baik pilihannya ke reksadana bukan menabung di Bank (di Indonesia kebanyakan masih menabung di Bank atau bahkan dibawah bantal!)). Investasi juga didukung model lain misalnya bagaimana tabung haji Malaysia dapat menunjang banyak dalam pengembangan ekonominya. Di Indonesia sementara ini hanya dimonopoli oleh Depag yang kita tidak tahu bagaimana mereka mengelola dana haji yang cukup besar dimaksud. Di Malaysia bahkan dana zakat pun dikelola dengan solid sehingga terkonsolidasi secara profesional dan tentunya membawa manfaat lebih baik kepada para penerima zakat maupun ekonomi pada umumnya.
Kembali ke unit link v.s. reksadana :
Apapun instrumen investasi tentunya muncul dengan segala kelebihan dan kekurangannya .. unit link dipandang beberapa pihak lebih mudah karena proteksi dan investasi serta kemudahan transaksi (mengarahkan untuk disiplin). Dalam pandangan kami, unit link lebih fair dibandingkan dengan asuransi konvensional, walaupun tentunya kritikan mengenai besarnya biaya di asuransi menjadi tantangan bagi pelaku asuransi untuk semakin menurunkannya.
Sementara Reksadana pasti akan lebih optimum investasinya karena biaya jauh lebih kecil walaupun tentunya kita harus mendapatkan lagi proteksi dari asuransi dan ini bagi berbagai kalangan lebih ribet.
Kembali kepada esensi tanggapan kami, mari kita galang terus investasi dalam rangka pembangunan bangsa ini baik invetasi di pasar modal (reksadana), asuransi atau direct investment kepada suatu bisnis.
Salam Investasi !
Tambahan sedikit :
Ada baiknya kita juga bagaimana menggalang investasi yang memang langsung lebih dekat dengan pergerakan sektor riel.
Investasi di pasar modal dan uang tentunya memang penting tapi ini saja tidak cukup. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebetulnya sangat membutuhkan dukungan permodalan. Masalah klasik kemudian muncul karena ternyata perbankan mengalami berbagai hambatan melaksanakan intermediasinya .. perbankan cari gampangnya mereka bahkan invest di pasar uang. Masalahnya memang klasik karena perbankan kelihatannya memang lama kelamaan diyakini bukan sebagai lembaga untuk investasi (kecuali investment banking yang berfungsi sebagai arranger bukan ambil posisi investasi).
Kembali ke UMK yang notabene mereka tersebar di pelosok tanah air sehingga perbankan sulit menjangkau, kiranya perlu kita dukung investasi untuk UMKM melalui Lembaga Keuangan Mikro dan Syariah (LKM/S) seperti Bank Perkreditan Rakyat / Syariah, Baitulmall wat Tamwil (BMT). Investasi di BPR maupun BPRS masih dijamin Lembaga Penjamin Simpanan dan returnnya lebih tinggi dibandingkan perbankan.
Rasio Perbandingan Pinjaman yang diberikan dengan Dana masyarakat yang dihimpun di LKM/S jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan yaitu >85 % sementara perbankan 60%. di BPRS bahkan lebih tinggi lagi yaitu 120% (berarti BPRS mengeluarkan pinjaman tidak hanya dari dana masyarakat tetapi juga dari kocek pemegang saham atau pinjam ke lembaga lain).
Memang ada kritikan suku bunga/tingkat bagi hasil BPR/S kepada debiturnya dinilai tinggi. Hal ini tentunya dapat kita pahami karena di industri manapun, semakin ke hilir maka harga memang lebih mahal (contohnya beli rokok di warung pasti lebih mahal dibandingkan beli di makro-tapi walaupun lebih mahal kemudahan di dapat misalnya boleh beli eceran dan tidak ada biaya parkir). Demikian halnya LKM/S, karena mereka menawarkan kemudahan yang lebih baik dibandingkan perbankan seperti : lebih dekat ke debiturnya, mereka jemput bola serta kebanyakan tidak pake agunan (karena unsur kedekatan), maka hal ini diimbangi dengan harga kredit yang lebih mahal. Tapi jangan lupa, debiturnya pun masih rela karena kemudahan yang didapat selain semakin ke hilir perputaran bisnisnya pun lebih cepat misalnya pedagang bakul dan pedagang pasar putarannya harian.
Demikian, sekali lagi semoga berkenan dan selamat investasi .. !
Inilah Indonesia Bung,
orang indonesia banyak yang gak mau mikir n repot, pengennya gampang aja.
daripada repot ngurus investasi dan assuransi di dua tempat berbeda, ya mending ikut unit link, dengan satu proses kita bisa dapat return dan proteksi.
jadi reksadana + assuransi konvensional atau unit link akan berbeda fungsi dan manfaatya bagi setiap orang. tergantung dari mana orang tersebut memandangnya.
HUmm… saya baru saja ikutan AXA-Mandiri Rencana sejahtera … tadinya ikut itu karena mau ikut “tabungan berjangka”, gara2 sering liat Money Talk di Metro TV … intinya sih pengin disiplin menabung… tiap awal bulan langsung di debit dari rekening…
Nah.. kok bisa ke Mandiri Rencana sejahtera ? Terus terang saya tadinya ndak tau kalo produk ini beresiko tinggi… dan baru tau “agak jelas” setelah kemarin menerima polis nya
Mungkin karena iming2 “return” yang gedhe juga ( kata agen penjualnya, saat ini mencapai 56% p.a. — WOW!! padahal deposito kan cuma
Tujuan utama dari asuransi adalah mengurangi resiko kerugian dimasa mendatang. BUKAN untuk mencari keuntungan.
alokasi premi dapat dialokasikan sesuai dengan keinginan nasabah. Jadi tidak harus 70-30.
Kalo profit %an yang diambil oleh agen asuransi, saya rasa itu hal yang wajar-wajar saja.Karena agen asuransi tidak digaji.Lagi pula berapa % pun yang diterima oleh agen asuransi, itu adalah rejeki mereka.
Ibarat menabung di bank,gaji yang diterima oleh karyawan bank juga merupakan profit perusahaan yang didapat dari hasil tabungan/deposito anda.
Misal: Bank XYZ membeli SBI dengan bunga 10%/tahun, tetapi dijual ke nasabah dalam berbagai macam produk(tabungan,deposito,dll) dengan bunga 3%-6% saja. Bank mendapat Laba 4%-7%. Laba yang didapat untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional perusahaan.
So intinya,setiap perusahaan akan mengambil laba/profit dari nasabah/konsumen/pelanggan nya untuk kegiatan operasional perusaahannya.

Dear Mas Pri,
Jadi pusing dan lebih nggak ngerti.
Pertanyaan saya satu saja.
Mudah-mudahan bisa dijawab.
Ada list perusahaan Reksadana yang terpercaya, menerima setoran kecil?
#76:
kalau ada produk asuransi yang lebih murah, lalu kenapa kita gak pilih yang lebih murah?
perusahaan asuransi sih bebas2 aja mau kasih harga berapa. tapi selama ada persaingan bebas, konsumen (yang tahu situasi) berhak untuk memilih produk yang lebih murah dan efisien.
#77:
coba manulife di cikini. minimum setoran awal Rp 100 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu, dana ditransfer lewat BCA atau deutche bank.
atau coba beli schroders lewat bank commonwealth. setoran awal minimum Rp 200 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu.