Tips Membeli Asuransi Jiwa

Tulisan saya tentang [asuransi unit-link vs reksadana](https://priyadi.net/archives/2007/06/10/asuransi-unit-link-vs-reksadana/) membahas untung rugi reksadana jika dibandingkan dengan asuransi unit-link terutama dari sudut pandang investasi. Setelah menulis itu, saya mendapat beberapa pertanyaan melalui kotak komentar maupun email yang kurang lebih menanyakan, “Jika unit-link seperti yang saya sebutkan, bagaimana seharusnya cara terbaik untuk mengambil asuransi jiwa?”

Asuransi jiwa berfungsi sebagai perlindungan jika tertanggung meninggal dunia. Sebagai contoh, jika saya adalah tertanggung dari sebuah produk asuransi jiwa dan besok meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan memberikan uang pertanggungan kepada orang-orang yang saya tinggalkan.

Tujuan mengambil asuransi jiwa adalah untuk menutupi potensi kehilangan pendapatan. Jika saya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga yang saya tinggalkan akan kehilangan sumber pendapatan. Jika saya mengikuti program asuransi jiwa, maka keluarga yang saya tinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai pengganti pendapatan yang hilang, paling tidak untuk sementara.

Sebenarnya kaidah memilih produk asuransi jiwa tidak jauh berbeda dengan memilih produk lain:

* Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan
* Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.

Dari survey singkat saya ke beberapa teman dan anggota keluarga, bisa dibilang tidak ada satupun di antara mereka yang mengambil asuransi jiwa sesuai dengan kaidah di atas. Kebanyakan membeli asuransi jiwa saat tidak dibutuhkan, dan tidak mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi jika dibutuhkan.

**Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan**

Faktor-faktor utama membeli asuransi jiwa adalah tanggungan dan kewajiban (misalnya hutang). Jika seseorang tidak memiliki keduanya maka yang bersangkutan tidak membutuhkan asuransi jiwa.

Anak kecil (atau bahkan bayi yang baru lahir) tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena belum memiliki tanggungan. Jika si anak meninggal dunia, keluarga akan bersedih, tetapi tidak akan berpengaruh buruk pada kondisi keuangan keluarga. Sebaliknya, keuangan keluarga justru akan membaik karena jumlah tanggungan berkurang. Membelikan si anak asuransi jiwa pada tahap ini hanya akan memberikan uang gratis kepada perusahaan asuransi.

Orang yang sudah memiliki penghasilan pun bisa jadi tidak memerlukan asuransi jiwa jika yang bersangkutan belum memiliki tanggungan dan tidak memiliki kewajiban. Orang tanpa tanggungan dan tidak memiliki kewajiban kepada pihak ketiga tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena jika yang bersangkutan meninggal dunia, tidak ada yang merasa kehilangan penghasilan.

Jika orang tersebut di atas mengambil kredit –terutama kredit konsumtif– maka kini yang bersangkutan sudah memiliki kewajiban. Dengan demikian sudah waktunya yang bersangkutan mengambil asuransi jiwa (jika kredit tersebut tidak dilengkapi dengan asuransi kredit). Jika tidak, maka dia berpotensi untuk memberatkan kerabat-kerabatnya jika sesuatu yang buruk menimpanya.

Orang tua yang semua anaknya sudah mandiri dan tidak lagi memiliki kewajiban kepada pihak lain juga tidak memerlukan asuransi jiwa. Jika yang bersangkutan meninggal dunia, anak-anaknya akan berduka, tetapi tidak akan ada yang merasa dirugikan secara finansial. Selain itu, jika orang tua tersebut mengelola dananya dengan benar, maka seharusnya yang bersangkutan sudah memiliki simpanan atau hasil investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada uang pertanggungan asuransi jiwa.

Jika orang tua ini sudah memiliki cukup banyak simpanan, dia bisa saja membatalkan asuransi jiwanya sebelum waktunya jika dirasakan nilai pertanggungan asuransi tersebut tidak sebanding dengan jumlah simpanannya. Jika dia meninggal dunia sebelum anak-anaknya mandiri, anak-anaknya tersebut tetap akan mendapatkan warisan dalam bentuk simpanan tersebut.

Jika sudah tidak memiliki tanggungan dan tidak lagi dalam usia produktif, yang dibutuhkan orang berusia lanjut bukanlah asuransi jiwa, melainkan dana cair dalam jumlah besar. Lebih lanjut lagi, dalam kondisi seperti ini dibutuhkan produk yang benar-benar merupakan kebalikan dari asuransi jiwa, yaitu [anuitas](http://en.wikipedia.org/wiki/Life_annuity). Jika asuransi jiwa memberi perlindungan jika tertanggung meninggal terlalu cepat, anuitas berfungsi untuk memberi perlindungan jika tertanggung hidup terlalu lama. Membayar premi asuransi jiwa pada saat ini bisa jadi merupakan ‘bencana finansial’ karena yang dibutuhkan justru produk yang merupakan kebalikan dari asuransi jiwa.

**Membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi**

Kebutuhan jumlah pertanggungan asuransi jiwa untuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jumlah tanggungan dan kewajiban. Pada dasarnya uang pertanggunan asuransi jiwa haruslah mencukupi untuk membayar lunas hutang-hutang, memenuhi biaya pendidikan anak-anak tertanggung sampai mandiri, serta untuk mempertahankan gaya hidup keluarga yang ditinggalkan, setidaknya untuk beberapa waktu.

Kesalahan sebagian besar konsumen asuransi jiwa adalah mempercayai begitu saja proposal agen asuransi yang biasanya menawarkan produk yang tidak cocok dan nilai pertanggungannya tidak mencukupi. Berdasarkan pengamatan saya, jarang ada orang dengan tingkat perekonomian menengah kota besar yang mengambil asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan di atas Rp 100 juta. Padahal mungkin pendapatan per tahunnya saja lebih daripada itu.

Ada keluarga dengan dua anak dengan hutang KPR bernilai ratusan juta rupiah tetapi mengambil asuransi jiwa yang nilainya hanya Rp 30 juta. Dalam kasus ini, asuransi jiwa tersebut tidak akan cukup menolong jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kepala keluarga. Untuk menebus hutang rumah saja tidak cukup, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak sampai mandiri.

**Memilih produk asuransi yang tepat**

Seperti yang bisa diduga, produk asuransi yang paling tepat bukanlah unit link atau asuransi lain yang memiliki nilai investasi. Dengan unit link, nasabah mendapatkan perlindungan seumur hidup walaupun tentunya hampir setiap orang tidak membutuhkan perlindungan asuransi jiwa sepanjang hidupnya. Pada unit link, nasabah harus tetap membayar premi asuransi jiwa bahkan pada saat yang bersangkutan sama sekali tidak memerlukannya.

Alasan kedua sama dengan alasan pada tulisan saya yang sebelumnya. Biaya administrasi dan komisi agen pada unit link terlalu besar. Pada tahun-tahun pertama mengikuti unit link, dana nasabah praktis habis hanya untuk membayar komisi agen. Selain itu, terdapat biaya-biaya administrasi lainnya yang tidak kalah besarnya, dan biasanya calon nasabah tidak menyadarinya pada saat pertama kali mengikuti asuransi unit link.

Jadi produk asuransi jiwa mana yang tepat? Produk yang paling tepat adalah [asuransi term life](http://en.wikipedia.org/wiki/Term_life_insurance). Asuransi term life adalah produk asuransi murni tanpa embel-embel investasi. Jika tertanggung meninggal pada masa tanggungan, maka yang ditinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan. Jika tertanggung masih hidup pada akhir masa pertanggungan, maka uang premi tidak akan kembali.

Ciri-ciri asuransi term life adalah sebagai berikut:

* Tidak ada elemen investasi atau bagi hasil (kecuali barangkali pada asuransi syariah)
* Panjang masa pertanggungan relatif pendek dan tidak seumur hidup. Biasanya dijual dalam satuan 1, 3, 5 atau 10 tahun.
* Pada akhir masa pertanggungan, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak dengan besar premi bertambah sesuai dengan ketentuan yang tertera pada polis.
* Harga premi relatif murah. Pasaran saat ini untuk umur sekitar 30 tahun dan tidak merokok adalah sekitar Rp 300 ribu/tahun untuk uang pertanggungan Rp 100 juta.
* Hampir tidak pernah ditawarkan agen asuransi karena komisi yang mereka dapatkan jauh lebih kecil daripada jika mereka menjual produk unit link. Nasabah harus memintanya secara spesifik atau bahkan mendatangi sendiri kantor perusahaan asuransi.

**Memadukan asuransi jiwa dengan instrumen investasi**

Dibandingkan dengan unit link, harga premi asuransi term life jauh lebih murah, bisa sampai 1/5-nya atau lebih jauh lagi. Tetapi bukan berarti kewajiban nasabah berkurang. Asuransi term life tidak memiliki porsi investasi, dan dengan demikian kewajiban berinvestasi kini berada di tangan nasabah, bukan di tangan perusahaan asuransi. Selisih harga yang jauh tersebut harus dimanfaatkan nasabah untuk berinvestasi karena pada suatu saat harga premi term life akan menjadi terlampau mahal. Cara yang paling mudah untuk berinvestasi adalah dengan menggunakan instrumen yang sama yang digunakan oleh asuransi unit-link, yaitu reksadana. Metoda mengelola dana keluarga seperti ini dinamakan [Buy term and invest the difference](http://en.wikipedia.org/wiki/Buy_term_and_invest_the_difference).

Sepintas tidak ada bedanya mengambil unit link atau menggunakan metoda ini, tetapi kalau kita perhatikan secara lebih teliti ada banyak kelebihannya:

* Tidak perlu mengambil asuransi jiwa pada saat tidak diperlukan.
* Tidak perlu membayar biaya komisi agen dan biaya administrasi lainnya yang biasanya terlampau mahal.
* Bisa bebas memilih instrumen investasi di luar dari yang disediakan oleh unit link.

Dengan menggunakan metoda ‘Buy term and invest the difference’, hasil akhir yang diterima nasabah akan menjadi lebih maksimal. Walaupun demikian, dibutuhkan tingkat disiplin yang lebih tinggi dari diri nasabah untuk menyisihkan sebagian penghasilannya ke dalam porsi investasi secara konsisten.

**Beberapa kesalahan pengertian yang sering terjadi**

*”Asuransi term life bukan ide bagus karena dana yang kita setorkan hangus. Sedangkan pada unit link kita bisa mendapatkan kembali dana yang kita bayarkan secara utuh.”*

Sebenarnya pada unit link dana tersebut juga hangus, tetapi tidak terlalu terasa oleh nasabah karena ada pendapatan dari porsi investasi. Nasabah merasa dana yang dia setorkan bertambah jumlahnya dan dia tetap mendapatkan manfaat asuransi. Tentunya ini adalah salah kaprah, karena yang bertambah jumlahnya adalah porsi investasinya, sedangkan porsi asuransinya tetap ‘hangus’.

Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga bisa merasakan pembayaran premi tidak hangus jika yang bersangkutan melihat setoran premi asuransi dan investasi sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.

*”Pada unit link bisa putus membayar premi setelah misalnya 10 tahun pertama, di term life tidak bisa.”*

Pertama-tama, term life tidak didesain untuk diambil seumur hidup seperti halnya asuransi unit link. Setelah nasabah memiliki simpanan yang cukup, semua hutang sudah lunas dan tidak ada lagi tanggungan, maka tidak ada lagi gunanya mengambil asuransi jiwa.

Kedua, di unit link disediakan fasilitas putus membayar premi, tetapi premi tetap dibayarkan nasabah dengan mengambil dana yang ada pada porsi investasi, terkadang tanpa sepengetahuan nasabah. Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga dapat menikmati ‘fasilitas’ ini, yaitu dengan cara menyisihkan sebagian dari hasil investasi untuk keperluan membayar premi term life. Jika porsi premi asuransi dan investasi dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah, maka terkesan nasabah tidak lagi membayar premi.

*”Pada unit link, juga bisa dilakukan penambahan dan pengurangan uang pertanggungan kapan saja.”*

Memang bisa, tetapi porsi asuransi jiwa tidak dapat sepenuhnya dieliminasi. Selain itu, jika tertanggung mengambil asuransi sampingan (*rider*) dengan tingkatan tertentu, bisa jadi tertanggung terpaksa mengambil uang pertanggungan yang tinggi. Beberapa asuransi sampingan (*rider*) pada unit link mensyaratkan tertanggung untuk mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan minimal tertentu.

*”Saya membeli unit link atau asuransi whole life dengan tujuan utama untuk berinvestasi, bukan untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa.”*

Ini adalah salah kaprah yang sangat meluas. Karena unit link memiliki komponen asuransi jiwa, maka tidak ada alasan untuk membeli unit link dengan tujuan berinvestasi. Dengan cara ini nasabah hanya akan memberi uang dengan gratis kepada perusahaan asuransi jiwa tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan.

Unit link terdiri dari dua komponen: asuransi jiwa dan reksadana. Jika tujuannya ingin berinvestasi tanpa membeli asuransi jiwa, maka reksadana adalah jawaban yang tepat. Jika yang diinginkan adalah jaminan hasil investasi, juga tersedia instrumen investasi yang terjamin, misalnya deposito.

*”Bagaimana jika saya mengambil asuransi term life, dan kemudian jatuh sakit satu hari sebelum masa berlaku asuransi tersebut habis? Perusahaan asuransi tentunya tidak akan mau memperpanjang polis tersebut.”*

Pada asuransi jiwa term life, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang asuransi sesuai dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Perpanjangan ini bisa dilakukan tanpa syarat apapun dan tanpa perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Jika nasabah menginginkan perpanjangan, perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk menolaknya karena ini sudah termasuk dalam kontrak yang tertera di dalam polis.

Walaupun semua polis asuransi term life yang pernah saya lihat memiliki klausul seperti ini, ada baiknya calon pemegang polis memastikan keberadaan pasal yang sangat penting ini sebelum membelinya.

**Taut lainnya**

* [Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah](https://priyadi.net/archives/2007/10/18/hitung-hitung-asuransi-unit-link-vs-terpisah/)
* [Buy term and invest the difference](http://en.wikipedia.org/wiki/Buy_term_and_invest_the_difference) di Wikipedia
* [What’s wrong with your life insurance](http://experts.longisland.com/moneymanage/print_article.php?ID=1623)
* [What’s Wrong With Variable Life for College](http://www.smartmoney.com/college/investing/index.cfm?story=variablelife) di Smartmoney
* [A More Typical Scenario – Buy Term and Invest](http://www.360financialliteracy.org/Financial+Guidance+Articles/Typical+Scenario.htm)
* [Fire your investment advisor or financial planner now](http://www.indrani.net/2007/08/fire_your_investment_advisor_or_financial_planner_now)
* [Asuransi Unit Link vs. Reksadana](https://priyadi.net/archives/2007/06/10/asuransi-unit-link-vs-reksadana/)
* [The Truth About Life Insurance](http://www.daveramsey.com/the_truth_about/life_insurance_3481.html.cfm)
* [Do It Yourself (DIY) Insurance, buying insurance and investments separately](http://www.askdrmoney.com/Ins_DIY.htm)

469 comments

  1. Yang pasti kita harus selalu evaluasi asuransi jiwa kita setiap 5 tahun sekali atau jika baru kawin atau punya anak dsb. Sebab kalau tidak dirubah menurut keadaan hidup, maka sama saja sebagai investment yang tidak ada manfaatnya.

  2. Sampai saat ini tidak dan belum punya keinginan untuk beli asuransi. Sebenarnya, money management yang disiplin dan prudent sudah lebih dari cukup — terutama saat melalui masa-masa sulit.

    Anyway, dibandingkan sales lain, menurut saya kayaknya agen asuransi-lah yang paling gigih ngejar setoran. ;)

  3. #4:

    Sampai saat ini tidak dan belum punya keinginan untuk beli asuransi. Sebenarnya, money management yang disiplin dan prudent sudah lebih dari cukup — terutama saat melalui masa-masa sulit.

    kayanya disiplin dan prudent aja gak cukup untuk menutupi resiko kehilangan pendapatan, terutama di tahap awal membina keluarga. kecuali tentunya kalo punya ortu yang tajir :D

  4. bayi saya diasuransikan bukan karena pertimbangan pertanggungan saja, tapi karena ternyata uangnya bisa digunakan sebagai dana pendidikan. hitung-hitung nabung.

  5. #7:

    bayi saya diasuransikan bukan karena pertimbangan pertanggungan saja, tapi karena ternyata uangnya bisa digunakan sebagai dana pendidikan. hitung-hitung nabung

    kalo begini yang dibutuhkan bukan asuransi, tapi mungkin reksadana.

    unit link = asuransi jiwa + reksadana

    reksadana = unit link – asuransi jiwa

  6. Memang makinbanyak ragam produk asuransi, mungkin dari cerita pengalaman nasabah lainya bisa jadi bahan referensi, buat kampret model saya yang kerja di daerah beresiko mesti punya untuk pertimbangan “just in case” -nya.

    Cheers,

  7. Jangan lupa term insurance sendiri ada juga yang short term, misalkan cukup untuk 10 tahun saja, ada juga yang long term, sampai usia pensiun 65 misalkan. Harganya beda cukup jauh juga.

  8. setuju ama pri. Masalahnya kita belajar ttg ini dengan cara yg pahit, yaitu telanjur beli “participating policy” yang mana ada komponen investasinya juga. Akhirnya kita putuskan untuk putus di tahun ketiga, dan menerima kerugian yang lumayan, tapi setelah kita hitung2 jangka panjang mendingan sakit hati skrg dengan kerugian yang segini, daripada kami ruginya tambah terakumulasi diperburuk dengan discount rate juga, apabila semakin panjang meneruskan asuransi participating policy tersebut. Jadi kami akan ganti ke term-life. Dan jangan pernah percaya agen asuransi.

    Website yg saya anjurkan antara lain getrichslowly.org. Selain itu buku karangan Burton Malkiel rasanya cocok utk saya, tetapi sayang sepertinya blum ada yg menerjemahkan ke bahasa indonesia. Mungkin karena malkiel tulisannya lebih menjurus ke investasi jangka panjang yang tidak bisa kelihatan hasilnya secara cepat, sementara buku2 investasi di indonesia yg lebih laku adalah lebih yang menjanjikan untung besar dalam waktu cepat.

  9. Nah ini yang saya suka dari Priyadi: kasih pencerahan bagaimana beli dan memanfaatkan produk dari lembaga keuangan. Pokoknya ngajak ngitung gitulah.

    Saya pakai asuransi tapi lupa gimana ngitungnya. Makasih Pri. BTW, maaf, tangan itu diasuransikan nggak?

  10. kekekeke… meskipun dah daftar asuransi jiwa, toh tetap aja jiwa-nya gak bisa dibalikin, gw maunya kalo lembaga pemberi asuransi jiwa ‘tuh bisa balikin lagi jiwa yg udah kabur :P :d lagipula hal2 semacam ini cuman dalam tataran ekonomis ajah khan om pri? :p

    oh iya, gmn kalo gw punya sodara yg sakit jiwa alias jadi orgil, dapetkah si doski asuransi jiwa juga?

  11. #14:

    tangan itu diasuransikan nggak?

    kalo ini masuknya ke asuransi kesehatan, bukan jiwa :)

    #16:

    oh iya, gmn kalo gw punya sodara yg sakit jiwa alias jadi orgil, dapetkah si doski asuransi jiwa juga?

    bisa dapet bisa ngga, tergantung kontraknya seperti apa.

  12. Om Priyadi, Bagaimana dengan Tabungan Pendidikan ??

    biasanya Berupa Tabungan wajib (Dipotong secara teratur setiap bulan dari Tabungan Induk) dan pada masa yang disepakati dapat dicairkan, Namun biasanya untuk yang longterm (lebih dari 5 tahun) diberikan Jaminan/Asuransi jika si Orang tua meninggal tabungan tersebut akan berjalan tanpa pemotongan dari Induknya (Ditanggung oleh Asuransi) sehingga rencana Pendidikan yang sudah direncanakan tetap dapat berjalan.

    Yang mana lebih baik dibandingkan dengan Reksadana ??

  13. #13 Rani, berhubung sampeyan di Singapore juga, saya saranin kontak para independent financial adviser, kalo misalkan kepingin tahu seluk beluk investasi, insurance dan segala macam financial decision. Mereka ada yg freelance, ada yang under assosiaction, macam IPPFA. Semuanya accredited under MAS. Benefitnya, karena mereka independent, mereka bisa represent macam macam insurance maupun investment company, jadi tidak ada paksaan untuk jual produk tertentu, dan dengan mudah benchmarking mana yg paling untung buat client. Memang sih mereka tetap saja cari komisi, tapi selama itu fair dengan advice yang diberikan adalah berguna (terutama buat geeks kayak saya yang bego soal duit), I take it as professional fee.

  14. Pak, kalau ingin memilih asuransi yg term life kira2 ada saran perusahaan asuransi yg bonafit (tdk susah utk claim,dsb)? dan utk reksadana apakah tdk beresiko mengingat investasi reksadana ada yg di investasikan ke saham?
    Dan bagaimana dengan asuransi pendidikan,boleh di review juga?
    mohon informasinya ya.via japri juga boleh.

  15. #21:

    biasanya Berupa Tabungan wajib (Dipotong secara teratur setiap bulan dari Tabungan Induk) dan pada masa yang disepakati dapat dicairkan, Namun biasanya untuk yang longterm (lebih dari 5 tahun) diberikan Jaminan/Asuransi jika si Orang tua meninggal tabungan tersebut akan berjalan tanpa pemotongan dari Induknya (Ditanggung oleh Asuransi) sehingga rencana Pendidikan yang sudah direncanakan tetap dapat berjalan.
    Yang mana lebih baik dibandingkan dengan Reksadana ??

    tabungan pendidikan yang dijual di bank-bank biasanya bunganya kecil (4-6%-an). daripada ngambil tabungan pendidikan, kalo saya sih mendingan ambil deposito + asuransi jiwa term life, bunganya bisa 2% lebih tinggi. produk2 yang pake ‘pemaksaan’ itu rasanya pangsa pasarnya buat orang2 yang gak disiplin nabung :).

    kalau reksadana return-nya lebih tinggi dibanding deposito (atau tabungan pendidikan), tapi gak dijamin (ada faktor resiko). mau ambil yang mana ini tergantung profil masing2 nasabah.

  16. #24:

    Pak, kalau ingin memilih asuransi yg term life kira2 ada saran perusahaan asuransi yg bonafit (tdk susah utk claim,dsb)? dan utk reksadana apakah tdk beresiko mengingat investasi reksadana ada yg di investasikan ke saham? Dan bagaimana dengan asuransi pendidikan,boleh di review juga?

    saya belum mati jadi saya belum punya pengalaman klaim hihihi. tapi kalo urusan ini saya gak punya pengalaman sama sekali.

    reksadana memang ada resikonya, tapi gak semua reksadana main di saham. selain saham ada yang main di obligasi atau pasar uang yang resikonya lebih kecil. kalau gak mau beresiko, bisa pilih deposito.

    untuk asuransi/tabungan pendidikan coba lihat komen sebelumnya.

  17. Jika tujuannya ingin berinvestasi tanpa membeli asuransi jiwa, maka reksadana adalah jawaban yang tepat.

    Ya, tapi kan Reksadana sifatnya penanaman modal dalam negeri yg diawasi Bapepam. Sedangkan unitlink 20%nya bisa diinvestasikan keluar negeri. Jadi kalau market dalam lagi lesu, masih bisa gain dari yg luar negri.

    *membela diri, soalnya aku terlanjur ikut unit-link :))

  18. #28:

    Ya, tapi kan Reksadana sifatnya penanaman modal dalam negeri yg diawasi Bapepam. Sedangkan unitlink 20%nya bisa diinvestasikan keluar negeri. Jadi kalau market dalam lagi lesu, masih bisa gain dari yg luar negri.

    dari beberapa reksadana yang saya ikutin, semuanya boleh menginvestasikan 15% ke luar negeri :). kalo pengen mix and match sendiri sih bisa aja invest ke luar negeri langsung :)

  19. Ini petikan jawaban salah satu perusahaan pemberi Asuransi+Investasi (XXX yg berafiliasi dengan Bank MMM) atas pertanyaan saya mengenai Unit Link mereka:

    ==========================================

    Terimakasih atas tanggpannnya,dengan ini saya bisa membantu bapak bagaimana memulai perencanaan keuangan Pak Rahmat.Memang pada dasarnya tabungan sangat penting dimana mengingat kebutuhan yang mendadak kita bisa transaksi kapan saja dan dimana saya,tetapi sekarang MMM mempunyai layanan XXX dimana manfaat lebih banyak plus nilai investasi lebih bervariasi.Sehingga dengan layanan XXX ini sangat tepat sekali untuk memastikan keluarga tetap sejahtera dalam kondisi apapun.

    Layanan XXX mempunyai perlindungan sbb :
    -Perlindungan jiwa
    -Perlindungan untuk pembebasan pembayaran premi
    -Perlindungan kesehatan baik untuk rawat inap maupun perlindungan untuk penyakit kritis dan
    -Perlindungan kecelakaan

    Perlindungan diatas bapak tidak perlu khwatir,karena perlindungan tersebut tetap bisa di dapat tanpa mengurangi dari nilai investasi yang bapak punya,,jadi perencanaan keuangan bapak untuk masa depan keluarga tidak akan terganggu.

    Untuk Investasi XXX Pak Rahmat tidak perlu repot untuk mengurusi perkembangan investasi,karena XXX mempunyai manajer investasi sendiri yaitu Schroders.Berikut saya kirimkan Attachment performance desember 2006 dan juli 2007.

    Maka dengan adanya layanan ini hendaknya dapat membantu perencanaaan keuangan masa depan Pak Rahmat dan keluarga.Semakin dini bapak memulai perencanaan,maka semakin besar peluang tercapainya tujuan Pak Rahmat.

    Saya sangat berharap kerjasama Pak Rahmat dengan XXX

    Terimakasih atas perhatiannya

    ==========================================

    Karena yang di atas sifatnya promosi, bisakah Om Pri membantu memisahkan mana FAKTA dan mana OPINI :)

    Thanks atas masukannya. Sayang saya baru baca sekarang. Padahal ikut Asu+Inv sudah sejak 3 tahun lalu. Untungnya cm ambil yg minimum.

  20. #26

    Setuju. Saya sekarang berusaha lebih kritis dengan produk-produk Inv/Asu.

    Kayak Produk MR yg Setoran Awal 11jt dan setoran berikutnya 500rb/bln sampai 20thn. Memang di awal kita dapat motor Suzuki. Tapi setelah saya hitung dengan asumsi bunga 4%, seharusnya didapat hasil (setelah 20 tahun) = 208jt, tapi dalam brosur disebutkan cuma 156jt. Artinya ada selisih 52jt. Ini sama aja motor Suzuki-nya kita bayar seharga 52jt setelah 20thn. Ckckckckck…. Atau bunga REAL-nya hanya 1.6%/tahun. Sisanya yang 2.4% buat asuransi dan nyicil motor Suzuki-nya.

  21. #32:

    Perlindungan diatas bapak tidak perlu khwatir,karena perlindungan tersebut tetap bisa di dapat tanpa mengurangi dari nilai investasi yang bapak punya,,jadi perencanaan keuangan bapak untuk masa depan keluarga tidak akan terganggu.

    ini bukan FAKTA, bukan OPINI tapi HOAX :D. kalo dia berani bilang gitu, kemungkinan besar dia pake sistem capping return investasi buat bayar premi asuransi, misalnya kalau dari manajer investasi dapet profit 10%, cuma 8% yang dikasih ke nasabah.

    that money must have came from somewhere…

    Untuk Investasi XXX Pak Rahmat tidak perlu repot untuk mengurusi perkembangan investasi,karena XXX mempunyai manajer investasi sendiri yaitu Schroders

    schroders? kemungkinan 68% ini adalah AXA mandiri :D

  22. Saya mulai mengerti penjelasan Om Pri di posting kali ini. Posting sebelumnya walaupun saya agree tapi masih sulit menerangkan kembali ke orang lain. Saya suka pake angka-angka. Mohon dikoreksi kalo saya salah.

    Ada contoh:
    Tabungan Pendidikan NNN. Di brosur disebutkan: Setoran Awal 1.5jt, Setoran Bulanan 250rb, Tenor 3 tahun. Hasilnya: Pas buka tabungan dapat tas sekolah anak dan setelah 3 tahun dapat uang 10.7jt. Jika saya meninggal, setoran dilanjutkan oleh Bank sampai 3thn.

    Jika dana di atas saya depositokan dengan suku bunga 6% didapat hasil akhir 11.6jt (900rb lebih tinggi). Sementara harga tas sekolah

  23. Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.

    ====

    Lucu juka statement di atas. Pas sekali buat menyindir “penjual unit-link”.

  24. selain life cover, pernahkah terpikirkan membeli trauma cover(critical care), TPD cover (total permanent disability) dan IP (income protection) cover? krn hidup ini bukan cuma hidup dan mati saja.

  25. #34

    Ini bukan FAKTA, bukan OPINI tapi HOAX . kalo dia berani bilang gitu, kemungkinan besar dia pake sistem capping return investasi buat bayar premi asuransi, misalnya kalau dari manajer investasi dapet profit 10%, cuma 8% yang dikasih ke nasabah.

    that money must have came from somewhere…

    =========================================

    Setuju Om…
    Saya dulu terpesona dengan angka-angka ratusan milyar (lah dia bikin hitungan sampai 100thn) :d

    Padahal dengan rumus FV di excel, hasil yang didapat tanpa Asuransi akan jauh lebih besar lagi.
    Tidak ada yang gratis. Semua sudah dihitung oleh Bank/Lembaga Keuangan. Termasuk untuk undian2 berhadiah :d

  26. #8, tapi kan kalo reksadana nggak ada uang pertanggungannya? jadi, maksud saya, bukan hanya manfaat pertanggungannya tapi juga bisa buat dana pendidikan. atau, memang saya salah ya? hehe…

  27. #35:

    Posting sebelumnya walaupun saya agree tapi masih sulit menerangkan kembali ke orang lain

    jauh lebih sulit lagi menjelaskan ke AGEN ASURANSI :D

    #37:

    Komen dibatasin ya? Kok terpotong2

    mungkin ada < atau > coba simbol2 gitu diganti jadi bahasa indonesia aja :)

  28. #41:

    tapi kan kalo reksadana nggak ada uang pertanggungannya? jadi, maksud saya, bukan hanya manfaat pertanggungannya tapi juga bisa buat dana pendidikan. atau, memang saya salah ya? hehe…

    nah lho, yang dicover ini anaknya atau bapaknya? kalau bapaknya masih masuk akal karena si anak ditanggung bapaknya. kalau bapaknya meninggal si anak dapat uang pertanggungan. tapi kalo anaknya yang dicover ya gak masuk akal karena dia gak punya penghasilan apalagi tanggungan.

  29. Apa bedanya asuransi kesehatan dengan asuransi jiwa ya? Saya ikut asuransi A bayar premi kok sampai 4 jt/pertahun ya..Mohon penjelasannya. Many thanks

  30. Pak Pri, garis besarnya seperti ini, apakah menurut Pak Pri make sense?

    ** Setoran 4.000.000 / th ———————> total 40.000.000 dlm 10 th

    jika meninggal UP nya 150 juta
    jika kecelakaan dan cacat UP nya 50 juta
    jika sakit, UP nya 30 juta, dan bila masuk dalam daftar 36 sakit kritis, akan bebas premi sampai umur 65 tahun

    Bila tertanggung meninggal karna sakit kritis UP nya adalah = UP sakit + UP meninggal + uang yg telah disetor & bunga keluar. begitu juga meninggal akibat kecelakaan.

    Bila Dana diinvestasikan (tidak ditarik) maka di usia 55 tahun dapat Rp. 395.793.000 dan di usia 65 dapat Rp. 1.521.073.000

    thanks berat,

  31. #46: asuransi anda adalah unit link dengan rider kecelakaan, critical illness dan kesehatan. asumsi pertumbuhan investasi adalah sebesar sekitar 14%.

    saya gak tau tingkat perekonomian anda, tapi 150 jt kayanya masih terlalu kecil.

    yang harus dinilai dari unit link sebenernya adalah:

    * besar biaya akuisisi
    * biaya administrasi
    * komisi setoran
    * dan potongan2 lainnya

    semakin kecil semakin bagus. tapi rasanya lebih bagus kalau ngambil asuransi dan investasi secara terpisah.

  32. Curiga nich soal asuransi… Tanganya yang retak or patah diasuransikan juga gak mas…

    Btw, udah nulis banyak brarti dah sembuh…

  33. Btw saya gak di german loch… cuma kalau ngakses blog om priyadi kalau gak pake proxy lamanya bukan main…. maklum cuma numpang di warnet kecil…. :(

  34. Kalau saya sih mendingan beli asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan yang murni asuransi tanpa embel-embel “investasi” karena jauh lebih murah dengan biaya pertanggungan yang sama.

    Kelebihan duitnya, langsung saya investasikan di reksadana saja hehehe.

    Kapok gara-gara nyokap pernah ikutan salah satu asuransi syariah dan uangnya mereka putar di reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham tapi return hanya 15-20% setahun (biasanya kalau sudah ada embel-embel saham, anything below 30% a year is just not acceptable)

  35. #53:

    Kalau saya sih mendingan beli asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan yang murni asuransi tanpa embel-embel “investasi” karena jauh lebih murah dengan biaya pertanggungan yang sama.

    asuransi pendidikan gak ada yang tanpa embel2 investasi :)

    uangnya mereka putar di reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham tapi return hanya 15-20% setahun

    itu artinya reksadana campuran. untuk reksadana campuran 15-20% masih wajar, mungkin proporsi pendapatan tetapnya lebih banyak. tapi memang dibanding reksadana yang lain, 15-20% relatif underperforming.

  36. Klo menurut sy semua asuransi bertujuan baik utk mengcover scr finansial jika suatu saat terjadi resiko pada diri kita.

    Kalau untuk kendaraan yg kita sayangi saja kita mau mengeluarkan uang untuk proteksi-nya, mestinya untuk diri kita dan keluarga kita harusnya lebih baik dalam memberikan proteksi.

    Jadi pilihlah asuransi yg memang sudah proven dalam memberikan layanan dan proteksi dan di dukung oleh agen yg bertanggung jawab utk masalah klaim-nya, krn mereka memang mendapatkan komisi utk itu.

  37. #55:

    Jadi pilihlah asuransi yg memang sudah proven dalam memberikan layanan dan proteksi dan di dukung oleh agen yg bertanggung jawab utk masalah klaim-nya, krn mereka memang mendapatkan komisi utk itu

    ini salah kaprah juga. untuk beli asuransi itu sama sekali tidak perlu lewat agen. lewat agen kemungkinan hanya akan menambah jalur administrasi dan biaya yang anda bayarkan. selain itu, kalau melalui agen, bisa jadi anda dituntut untuk berhubungan dengan pribadi, dan bukan dengan perusahaan. jeleknya kalau berhubungan dengan pribadi, kalau suatu saat perlu dan dianya tidak dapat dihubungi kita harus cari2 jalur lain, dan ini bisa merepotkan. kalau berhubungan dengan perusahaan, kalau misalnya karyawan cuti atau sudah tidak bekerja lagi di situ, pasti akan ada yang menggantikan.

    pengecualian ada kalau lewat agen yang bukan pribadi dan bersifat ‘wholesale’, misalnya bank atau perusahaan tempat bekerja. di sini komisi relatif kecil karena jumlah agen banding potensi konsumen relatif kecil.

  38. #46 “tapi rasanya lebih bagus kalau ngambil asuransi dan investasi secara terpisah”

    Ada rekomendasi ga asuransi yang benar2 pure, tanpa ada embel2 investasi?

  39. #57:

    Ada rekomendasi ga asuransi yang benar2 pure, tanpa ada embel2 investasi?

    coba tanya ke perusahaan asuransi tentang produk ‘term life’ atau ‘term insurance’. harusnya semua perusahaan asuransi punya kok produk term life.

  40. Wow, Posts yang sangat bermanfaat dan kemungkinan 68% dapat membuka mata saya tentang asuransi (emang saya anak ekonomi tapi gebleg banget masalah lembaga keuangan especially asuransi :-\”) dan inveestasi…

    Baru aja masuk angkatan kerja…Jadi baru melek soal investasi…Makasih yak mas dah ngasih artikel bagus…Patut dibaca neh ama kebanyakan orang indo yang ngasal beli asuransi…

    Kalo bisa jelasin sekalian tentang asuransi kesehatan donk mas, “disaat kapankah kita perlu asuransi kesehatan” ataukah seharusnya kita mengambil asuransi kesehatan seumur hidup…ato diumur kapankah kita sebaiknya mengambil asuransi kesehatan….Karena menurut saya selain life insurance…insurance yang gak kalah pentingnya adalah asuransi kesehatan….Karena kita gak tau kapan kita sakit…

  41. PS:
    Lah, kok IP pontianak?…
    Speedy telkom bekasi loh seharusnya….
    Safari Windows juga…hahahaha….nice widget for comments neh mas…bikin ndiri ato ada scriptnya?….jadi pengen untuk blog saya….

  42. #54 Betul-betul….

    Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan yang saya tahu ya sama saja. Asuransi pendidikan kan investasi kita sekian tahun supaya didapat dana sekian juta. Ini investasinya.

    Untuk meng-cover “keadaan di luar rencana” seperti meninggalnya tertanggung (atau penanggung ya?) maka dimasukkan lah asuransi ke dalamnya. Ada yang jelas-jelas disebutkan (3% dari setoran bulanan menjadi premi). Ada juga yang ‘samar-samar’: Gratis Asuransi, tapi rate yang diberikan 2% lebih rendah daripada investasi biasa. Sama saja toch. Setoran kita dipotong atau bunga kita diturunkan.

    Saya sendiri lebih merekomendasikan untuk memisahkan asuransi dengan investasi. Ambil asuransi yang kita butuhkan dan coverage-nya sesuai dengan skenario yang nantinya kita inginkan. Investasikan dana kita di instrument yang paling sesuai dengan profile kita: Saham, Obligasi, Deposito, Reksadana, dll.

    Contohnya, karena saya sudah di-cover 100% untuk kesehatan (sakit dan kecelakaan) juga rawat inap (dan gaji bulanan tetap diterima walaupun tidak bekerja selama sakit/dirawat). Maka asuransi kesehatan belum perlu saya ambil (kalo mau dapat fasilitas lebih ya bisa aja). Untuk jiwa, karena coverage hanya kalo kecelakaan kerja sementara kecelakaan di luar kerja tidak ada, maka diambil asuransi jiwa yang coverage-nya minimum total hutang (tanggung jawab) plus gaji 1 tahun.

    Penghasilan bulanan yang tidak terpakai disisihkan menjadi: Investasi Jangka Panjang (75%) dan Investasi Jangka Pendek (25%). IJ Pendek ini biasanya buat beli HP/Laptop/konsumtif lainnya.

    Oh ya, waktu saya ambil KPR kemarin, saya juga membeli asuransi kebakaran/kebanjiran dan jiwa. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan saya, keluarga cukup membayar cicilan KPR 3 bulan ke depan dan sisanya dibayarkan pihak asuransi. Ada juga asuransi kebongkaran/kemalingan, tapi tidak diambil karena gak ada barang yang cukup berharga untuk diambil maling :d

  43. Saya kok masih belom berani ya ambil asuransi dalam bentuk apapun. Soalnya dah sering denger orang yg ikutan asuransi pas tiba mo ngeklaim kok diputer-puter dulu, bikin males.
    Tapi tiba giliran setor duit diburu-buru deh :(

  44. #59:

    Kalo bisa jelasin sekalian tentang asuransi kesehatan donk mas, “disaat kapankah kita perlu asuransi kesehatan” ataukah seharusnya kita mengambil asuransi kesehatan seumur hidup…ato diumur kapankah kita sebaiknya mengambil asuransi kesehatan…

    kalau kesehatan menurut saya sih perlu diambil seumur hidup, dan direvisi besarnya mungkin setiap 5 tahun sekali untuk mengikuti laju inflasi.

    #61:

    coba dong om bahas soal dana pendidikan utk anak, apa bisa dg asuransi + reksadana ini?

    coba baca komentar #26

    #62:

    Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan yang saya tahu ya sama saja. Asuransi pendidikan kan investasi kita sekian tahun supaya didapat dana sekian juta. Ini investasinya.

    ada bedanya kok: asuransi pendidikan dijual oleh perusahaan asuransi, tabungan pendidikan dijual oleh bank. heheheh :)

  45. Pak, Bagaimana sebaiknya Ya? Sebelum ini ada teman baik saya yang baru-baru ini menjadi agen u/menawarkan produk unitlink dari P**LINK Pada awalnya saya sangat tertarik, tapi setelah mencari informasi ke sana ke mari, dan setelah melihat pembahasan di situs ini, saya jadi ragu. Apalagi program menabungnya lama sekali, 10 thn.

    Sebenarnya saya juga sudah menandatangani formulir unitlink tsb, karena teman saya ini gencar sekali (dan juga karena rasa tidak enak hati), dan tinggal menunggu debet otomatis dari P**LINK untuk premi yang pertamakalinya dan medical check up.

    Jujur saya masih sangat ragu, tapi bingung bagaimana mengatakan kepada agen tsb, karena sehari-sehari dia adalah teman baik saya.Kelihatannya dia bersemangat sekali.

    Saya stress sendiri jadinya

    :(

  46. #65: nah ini yang repot. kebeneran kalau saya lebih ‘beruntung’, yang nawarin belum pernah dari kalangan teman dekat, jadi nolaknya pun gak terlalu susah. kalau saya biasanya saya bilang ‘sudah punya’ karena memang sudah punya :). kalau masih maksa karena ‘produk mereka lebih bagus’, ya saya counter dengan perhitungan2 saya.

    btw, menurut saya, program menabung 10 tahun itu bukannya terlalu lama, tapi justru kurang lama :)

  47. Asuransi jiwa saja, nggak deh
    Reksadana doank, nggak juga deh
    Auransi kesehatan doang? Nggak juga
    Asuransi pendidikan aja? Percuma

    Kenapa harus repot2 memisah2kan sedangkan bisa didapatkan dalam 1 produk aja?

    Kan ada tuh asuransi + investasi yg udah mencakup semua, kesehatan, jiwa, + investasi. Ya kalau (merasa jawara, sehat terus), liat aja investnya. Kalau tiba2 sakit, cacat, kekelakaan, meninggal (semua yg di luar kuasa manusia), ya liat porsi kesehatan dan jiwa, sementara tabungan investasinya jalan terus. Karena org yg udah sakit, apalagi sakit keras, pasti susah buat kerja lagi. Terus, gimana donk keluarganya? Jangan melulu liat yg udah punya anak istri. Emang orang tua ga harus disupport? Setajir2nya ortu, selayaknya sebagai anak ga perlu menyusahkan lagi org tua.

    Beli asuransi pada saat butuh? TELAT mas…Tunggu punya anak dulu baru beli asuransi? Kalau di perjalanan menuju ke saat itu tiba2 sakit/kecelakaan? Berantakan kan rencana indah di depan mata… :) Atau tunggu sakit dulu baru beli asuransi? TELAT juga. Ga ada perusahaan asuransi mana pun yg mau terima org yg sudah berpenyakit.

    Ga usah jauh2, Chrisye yg banyak duit, yg legenda musik Indo aja berobat kanker sampe dapet sumbangan sana sini. Jadi yg sudah berpenghasilan dan anak2nya sudah mapan semua juga ga menjamin. Kan anak2nya yg sudah mapan itu juga punya kewajiban sendiri terhadap keluarga mereka masing2.

    Sama sekali ga ada salahnya sedia payung sebelum hujan. :) Sip.

  48. Saya sendiri sudah menabung di salah satu perusahaan asuransi nomor satu sejak 2002 sampai sekarang. karna agennya teman saya, dan dan jujur saja saya tidak pernah sekali pun memikirkan komisi yg akan dia dapatkan dengan menabungnya saya lewat dia.

    Berapa pun yg dia dapat, bukan urusan saya, karna di sini tujuan saya menabung, dan teman saya itu perantaranya. Saya tidak mau karna hanya memikirkan seorang agen akan mendapatkan komisi sekian-sekian, jadi saya tidak rela dia dapat komisi, jadi saya malas beli asuransi. Kalau cuma gara2 itu saya tidak nabung asuransi, di sini pihak yg rugi bukan teman saya itu, tapi saya. Iya kan? Teman saya itu bisa saja cari org lain lagi, tapi sayanya keukeuh ga mau beli asuransi karna dia bakal dapat komisi. Jahat juga pemikiran seperti itu… Beli ausransi langsung ke perusahaannya? Boleh aja, kalau tidak merasa repot. Kalau jauh, agen bisa jadi perantara. Ya harus cari agen yg berpengalaman dan jujur, bukan agen asal2an.

    Jadi mungkin bisa diluruskan di sini kalau menabung di asuransi jangan deh memojokkan peran agen di luar sana sebagai perantara perusahaan. Mereka itu kan kerja, ya wajar lah dapat honor/komisi, karena setelah saya jadi nasabahnya, dia yang akan mengurus segala keperluan saya jika saya ada klaim atau apa. Servis dia itu jangka panjang. Jadi wajar saja.

    :)

  49. #67:

    Kenapa harus repot2 memisah2kan sedangkan bisa didapatkan dalam 1 produk aja?

    memisah2 produk finansial sama sekali tidak repot. malah jauh lebih repot ngitung unit link :). bisa berbulan2 sebelum bisa ngerti semuanya :)

    Kan ada tuh asuransi + investasi yg udah mencakup semua, kesehatan, jiwa, + investasi

    sebenernya masuk akal untuk ikut produk yang sudah mencakup semua, selama perhitungannya transparan, tidak menyembunyikan biaya, dan overheadnya minimal. tapi selama ini saya belum tahu ada produk yang seperti itu.

    #68:

    Berapa pun yg dia dapat, bukan urusan saya, karna di sini tujuan saya menabung, dan teman saya itu perantaranya. Saya tidak mau karna hanya memikirkan seorang agen akan mendapatkan komisi sekian-sekian, jadi saya tidak rela dia dapat komisi, jadi saya malas beli asuransi.

    dengan analogi seperti ini, kalau anda ke stasiun gambir terus ada calo yang nawarin “pak, saya jual tiket jakarta bandung Rp 150 ribu, ini harga resmi pak, sumpah!” (padahal resminya cuma 70 ribu), maka anda akan beli karena “tujuan saya di sini untuk beli tiket”, “berapapun yang dia dapat bukan urusan saya”, karena “dia adalah perantaranya”, “Saya tidak mau karna hanya memikirkan seorang calo akan mendapatkan komisi sekian-sekian, jadi saya tidak rela dia dapat komisi”.

    kalo saya sih mendingan antri ke loketnya langsung :), atau dalam urusan asuransi ini, beli secara terpisah.

  50. #67
    Anda membeli produk yang mencakup semua (investasi+jiwa+kesehatan) menurut saya gak sesuai juga buat saya. Saya sudah di-cover asuransi kesehatan oleh perusahaan. Coverage-nya sama dengan kalo saya bayar premi sendiri sekitar 500rb/bulan. So, benefit ini saya manfaatkan. Seperti tulisan Om Pri di atas, gak perlu lagi saya ambil Asuransi Kesehatan (Optional lah kalo mau).

    Kecelakaan kerja juga di-cover, tapi di luar kerja tidak. Nah disini saya perlu mengambil coverage untuk kecelakaan di luar kerja (kecelakaan di jalan raya, dll).

    Untuk investasinya kalo kita malas mengurus sendiri (main saham, forex, dll) ya ikut manager investasi. Ada perusahaan XXX yang menjual Unit-Link ternyata mempercayakan investasinya ke Schroeders. Kenapa gak kita langsung ke Schroeders saja. Fee sudah pasti lebih kecil dan prosesnya lebih cepat.

  51. @56. Priyadi
    (sekalian nambahin komennya jager (@68))

    “ini salah kaprah juga. untuk beli asuransi itu sama sekali tidak perlu lewat agen. lewat agen kemungkinan hanya akan menambah jalur administrasi dan biaya yang anda bayarkan.”

    Saya luruskan sedikit ya, mungkin kita jangan melihat agen itu dari sisi negatifnya saja seperti opini Mas Pri. Sekedar info bahwa fungsi utama agen itu adalah sebagai konsultan calon klien dalam memilih produk asuransi yang paling cocok buat mengcover asset, kepentingan, kesehatan bahkan jiwanya. Dengan fungsi itu saja (disamping fungsi-fungsi lain yg cukup panjang untuk dijelaskan disini) mungkin komisi atau fee sebagai imbalan atas ilmu yg mereka jual, adalah sesuatu yg wajar. Paling tidak dengan advise yg diberikan oleh agen asuransi, calon klien akan lebih memiliki gambaran atas produk asuransi yg sebenarnya dia butuhkan, perusahaan asuransi yg menyediakan produk asuransi itu, rate (premi) yg paling pantas dipasaran, hak-hak klien atas polis yg sudah dibelinya itu, dan masih banyak hal lain … misalnya sebagai mediator awal pada saat terjadi klaim.

    Mudah-mudahan bisa meluruskan pandangan kita terhadap agen asuransi. Thanks Mas Pri…

  52. Mohon komentar mas Pri untuk kasus di bawah ini: Saya ikut unit link dengan premi 300rb per bulan. Di dalamnya sudah ada investasi juga walaupun kecil. Yang saya dapat adalah UP 100jt dan tambahan untuk kecelakaan dan cacat tetap dengan total sekitar 300jt.
    Setiap tahun, saya berencana untuk melakukan TOP UP sebesar 8 juta pada unsur Investasi di unit link ini juga. Apakah ini bisa dianggap sama jika saya beli asuransi kesehatan 300rb sebulan dan beli reksadana (setiap tahun nambah 8jt secara rutin) secara terpisah? Jika berbeda, tolong dijelaskan. Terim kasih.

  53. #72:

    fungsi utama agen itu adalah sebagai konsultan calon klien dalam memilih produk asuransi yang paling cocok buat mengcover asset, kepentingan, kesehatan bahkan jiwanya.

    justru ini masalahnya, karena di sini agen punya konflik kepentingan. di satu sisi nasabah ingin mendapatkan produk asuransi yang terbaik, di sisi lain kalau agen memberikan produk asuransi terbaik, komisi yang dia dapatkan berkurang. agen diberi insentif lebih besar untuk menawarkan produk yang lebih mahal, walaupun belum tentu cocok dengan kebutuhan nasabah.

    nasabah yang tidak ingin repot2 atau ingin berkonsultasi tentang masalah finansial harusnya menghubungi konsultan finansial independen yang tidak berafiliasi dengan perusahaan asuransi tertentu. komisi dibayar langsung oleh nasabah dan bukan oleh perusahaan asuransi.

    Dengan fungsi itu saja (disamping fungsi-fungsi lain yg cukup panjang untuk dijelaskan disini) mungkin komisi atau fee sebagai imbalan atas ilmu yg mereka jual, adalah sesuatu yg wajar

    menurut saya sangat tidak wajar. bukan masalah mahal atau tidak mahalnya, tapi masalah transparansi. selama ini belum ada unit link yang tidak setengah2 dalam memberitahu biaya overhead ini. biasanya angkanya belum matang, masih dalam persen, bukan dalam satuan rupiah. dan ditulis dengan huruf kecil2 di halaman paling belakang :).

    dalam ilustrasi, mereka bisa memberi tahu proyeksi perkembangan investasi sampai puluhan tahun ke depan. tapi urusan simple seperti perhitungan biaya akuisisi yang besarnya sudah pasti dan hanya sampai 5 tahun ke depan, mereka gak mau ngitungin :).

    kalau berani, coba beberkan semua biaya itu dan biarkan mekanisme pasar yang menilai mahal atau tidaknya ‘layanan ekstra’ yang diberikan oleh agen asuransi ini.

    ps. saya pribadi butuh waktu beberapa minggu sebelum bisa menyadari biaya ini, dan setelah tahu berapa besarnya, menurut saya terlalu mahal untuk ‘layanan’ yang saya dapatkan

  54. #73:

    Mohon komentar mas Pri untuk kasus di bawah ini: Saya ikut unit link dengan premi 300rb per bulan. Di dalamnya sudah ada investasi juga walaupun kecil. Yang saya dapat adalah UP 100jt dan tambahan untuk kecelakaan dan cacat tetap dengan total sekitar 300jt.

    saya gak tahu umur anda, atau proporsi investasi anda di unit link tersebut, tapi rasanya mahal. waktu saya masuk pertama kali (27 tahun), term life dengan UP 100 jt bisa didapatkan dengan harga sekitar 300-400rb/tahun. sedangkan rider kecelakaan/cacat paling cuma nambah sedikit (max 100rb/tahun?)

    Setiap tahun, saya berencana untuk melakukan TOP UP sebesar 8 juta pada unsur Investasi di unit link ini juga. Apakah ini bisa dianggap sama jika saya beli asuransi kesehatan 300rb sebulan dan beli reksadana (setiap tahun nambah 8jt secara rutin) secara terpisah? Jika berbeda, tolong dijelaskan. Terim kasih.

    kalau tiap tahun melakukan top up tidak terjadwal, rasanya lebih baik invest di reksadana saja karena fee-nya jauh lebih kecil. di unit link rata2 mereka ngambil komisi setor 5%, sedangkan di reksadana paling sial cuma 3%, bahkan ada yang 0%. apalagi kalau penyetorannya di luar jadwal, beberapa unit link mengenakan biaya administrasi tambahan.

    dana yang anda setor ke unit link nantinya mereka juga setor lagi ke reksadana, mendingan langsung aja ke reksadana.

    baca juga tulisan saya sebelumnya asuransi unit link vs reksadana

  55. Umur saya 29 tahun mas. Mau 30. Sekarang saya sudah punya asuransi jiwa dengan premi 285rb perbulan dengan UP 99jt. Tahun ke 10 tidak perlu bayar premi, dan tahun ke 20 dapat uang tabungan 60 juta. Sudah jalan 10 bln. Mengingat ada produk term of life 300rb/tahun dengan UP 100j, saya mulai pertimbangkan untuk menarik asuransi jiwa saya ini. Bisa diinformasikan lembaga mana yang bisa memberikan UP 100j dan premi 300rb/TAHUN? Dari Manulife, saya dapat informasi kalo mereka bisa memberikan UP 100j dengan premi 100rb/BULAN untuk produk term life . Bukan per tahun. Sebagai tambahan, rencananya saya mau ambil asuransi kesehatan dan reksadana (refer ke pertanyaan saya sebelumnya). Untuk asuransi kesehatan, angka best practice-nya berapa ya mas (UP, premi, rider dsb)? Terima kasih mas.

  56. #76:

    Umur saya 29 tahun mas. Mau 30

    berdasarkan tabel yang saya punya, term life jangka waktu 1 tahun (YRT) untuk female non smoker 30 tahun di manulife adalah sekitar Rp 170 ribu/tahun, bersih2nya mungkin di antara 200-300 ribuan/tahun.

    dari Manulife, saya dapat informasi kalo mereka bisa memberikan UP 100j dengan premi 100rb/BULAN untuk produk term life

    mungkin ini untuk jangka waktu lama (tebakan saya 30 tahun, bener gak?). makin lama jangka waktu term life, maka makin besar resikonya dan makin besar biayanya. biaya mahal dipake untuk mensubsidi resiko yang terjadi pada saat kita sudah tua.

    kalau menurut saya, lebih baik ambil jangka pendek (5 tahun, 3 tahun atau bahkan 1 tahun) yang punya opsi perpanjangan tanpa syarat bagi pemegang polis. 20-30 tahun untuk term life terlalu lama, karena mungkin 20-30 tahun lagi anda sebenarnya sudah gak perlu asuransi jiwa.

    Untuk asuransi kesehatan, angka best practice-nya berapa ya mas

    untuk kesehatan perorangan agak sulit jawabnya, soalnya faktor penentu sangat banyak dan deviasi harga antar produk juga jauh. tapi mungkin anda bisa targetkan 2-3 jt/tahun untuk asuransi kesehatan komprehensif (+surgical dsb) untuk umur 30 tahun.

    kalau punya kartu kredit dengan limit gede, mungkin bisa cari asuransi kesehatan yang sistem reimburse (bukan debit langsung) karena preminya pasti jauh lebih murah.

  57. Saya pernah jadi agen asuransinya Prudent, menurut saya asuransi unit link yaitu asuransi yang menggabungkan dua konsep yaitu asuransi dengan reksa dana, bertujuan untuk mempermudah nasabahnya dalam menabung. Selain itu juga membantu nasabahnya untuk memulai suatu investasi jangka panjang.
    arena saya sendiri membuka polis asuransi di Prudent dan kalau saya tidak buka dari dulu saya yakin sekali saya tidak akan punya tabungan yang cukup banyak sekarang. maklumlah kan orang indo itu kan punya kebiasaan spend money. kalau misalkan tidak dipaksakan seperti ini ya susah deh punya tabungan yang banyak.

    Lalu menurut saya, untuk nasabah yang akan membeli asuransi Prudent, usahakanlah pintar2 memilih agen nya ya, betul sekali kata Mas Priyadi di sini, agen ini bisa mendapatkan komisi yang besar sekali, namun ini tergantung dari agennya. kalau saya jadi agennya, saya akan mengikuti kebutuhan dari pelanggannya. Dimana memungkinkan sekali agen itu dpt komisinya kecil sekali.

    Sekian saja komentar dari saya.
    Terima kasih.
    Dony – http://xanytav.blogspot.com/

  58. Top banget! Penjelasan yang amat sangat komplit! Sekarang saya sudah yakin untuk tidak melirik lagi asuransi unit link yang secara aturan juga sebenarnya lebih unregulated daripada reksadana, sehingga valuasi nilai investasinya kurang bisa dipercaya :D

  59. #79:

    Lalu menurut saya, untuk nasabah yang akan membeli asuransi Prudent, usahakanlah pintar2 memilih agen nya ya, betul sekali kata Mas Priyadi di sini, agen ini bisa mendapatkan komisi yang besar sekali, namun ini tergantung dari agennya. kalau saya jadi agennya, saya akan mengikuti kebutuhan dari pelanggannya. Dimana memungkinkan sekali agen itu dpt komisinya kecil sekali.

    sebenernya harusnya pintar2 milih produknya, bukan milih2 agennya. lagi pula, biasanya calon nasabah gak punya info cukup untuk menilai agen yang di depannya baik atau tidak. dan umumnya nasabah tidak punya akses ke agen lainnya.

    sayangnya tidak semua agen seperti anda. dalam pengalaman saya diprospek 6 agen prudential sampai saat ini semuanya pertama kali selalu menawarkan PAA plus, dan tidak ada satupun yang menawarkan term life atau produk murni lainnya

  60. ada lho, perusahaan asuransi yang bonafit yang menjual unit link dengan biaya akuisisi 0 (nol), semua uang yang dibayarkan nasabah langsung dibelikan unit.

    Tentu saja tetap ada biaya asuransi dan biaya administrasi, karena namanya juga unit link kan masih ada asuransi jiwanya. Tapi karena tidak ada biaya akuisisi, semua uang nasabah setelah dipotong premi dan biaya administrasi langsung jadi unit.

    Bandingkan dengan perusahaan asuransi yang umumnya menerapkan biaya akuisisi sampai di atas 50%! Misal kita bayar 10 juta, maka 5 juta hangus di tahun pertama, dan sampai beberapa tahun berikutnya masih ada uang kita yang hangus yang porsinya makin kecil.

    Terus pertanyaannya, kalau tidak ada biaya akuisisi, siapa yang bayar agennya? Jawabannya adalah perusahaan asuransi yang bayar komisi agennya, dan di sini memang komisi agennya lebih kecil daripada perusahaan asuransi yang menetapkan biaya akuisisi. Dari sini saja bisa kita simpulkan bahwa perusahaannya bonafid dan kuat, dan para agennya dapat berjualan lebih tenang karena uang nasabah tidak ada yang hilang, yang hilang hanya untuk premi dan biaya administrasi saja.

  61. #83:

    Terus pertanyaannya, kalau tidak ada biaya akuisisi, siapa yang bayar agennya? Jawabannya adalah perusahaan asuransi yang bayar komisi agennya, dan di sini memang komisi agennya lebih kecil daripada perusahaan asuransi yang menetapkan biaya akuisisi.

    that money has to come from somewhere. yang disetorkan sebagai komisi ke agen pasti berasal dari nasabah juga. walaupun bisa saja si perusahaan asuransi ambil sedikit resiko, ujung2nya biaya ini pasti ditanggung oleh nasabah. perusahaan asuransi juga cari untung.

    yang pake sistem biaya akuisisi juga sama, agen tetap dibayar perusahaan asuransi. kalau nasabah yang bayar, itu namanya bukan agen, tapi konsultan finansial :)

    ini beberapa celah2 pos biaya yang bisa dimanfaatkan untuk menyelipkan ‘biaya akuisisi’:

    * biaya administrasi
    * biaya asuransi itu sendiri (!)
    * potongan biaya pada setoran investasi
    * profit capping (!)
    * komisi manajer investasi

    itu baru yang terpikir oleh saya. saya yakin yang bikin harga pasti jauh lebih ‘kreatif’ :)

    sebenernya gak susah cbagi calon nasabah untuk cari tahu biaya overhead yang dibebankan ke nasabah: cukup tanya siapa saja yang dapat bayaran kalau closing, dan berapa besarnya secara keseluruhan

  62. 5 tahun lalu Saya beli asuransi PAA buat proteksi saja, tidak ada niat invest. Tapi begitu baca tulisan ini… hmm.. Saya beli bunga dulu deh. Mau hitung helai mahkota kuntumnya: Stop…lanjut…stop…lanjut…

  63. #79 Jarang lho ada agen asuransi seperti anda. Bahkan orang yang saya kenal dekat saja (keluarga) tidak seperti anda. Bukan karena dia mau untung besar saja sebetulnya, tapi memang ‘pengarahan’ oleh ‘senior’ dia ya seperti itu. Bisa dilihat kan komen2 yang pro Unit-Link di atas.

    Gak usah jauh2 ke Unit-Link. Kartu Kredit dan Cicilan Mobil saja kalo pake asuransi terintegrasi ya jatuhnya jauh lebih mahal daripada terpisah.

    Untuk KK, premi 0.52% dari tagihan bulanan. Misalnya kita berhutang KK rutin ~ 2jt maka preminya ya ~ 104rb/bln. Ini meng-cover permanent disability & death. Dengan 104rb/bln, saya yakin bisa dapat > 100jt UP. Om Pri, mohon dikoreksi kalo salah.

  64. #86: asuransi kredit biasanya rata gak pandang bulu. artinya yang muda menyubsidi yang tua, yang sehat menyubsidi yang sakit, yang tidak merokok menyubsidi yang merokok :)

  65. kalo gitu minta saran sekalian ya.. asuransi jiwa term yang yang bisa kita pilih dari pengalaman mana ya ? …. dari ini ;
    1. prodental
    2. manulife
    3. bumiputra
    4. jiwasraya
    5. alliannz

  66. #89: saya gak pernah endorse produk tertentu, tapi kebanyakan orang2 yang tanya saya ujung2nya ambil manulife atau AXA mandiri. tapi sebenernya sesama produk term life gak ada perbedaan jauh dalam soal harga.

  67. Kalo saya punya 5 asuransi, masing2 2 asuransi pendidikan untuk 2 anak balita saya(UP @30 juta), dan 1 asuransi kesehatan yang rencananya untuk mencover kesehatan saya dan suami setelah pensiun.Saya baru ikut 2 tahun sih. Tapi abis baca tulisannya mas Pri kok saya jadi merasa bego banget ya..terutama untuk asuransi kesehatan. Saya sendiri juga memiliki investasi reksadana. Menurut mas Pri saya lanjutin apa diterminate aja ya….(sayang juga ya uangnya) he..he..

  68. #91:

    Menurut mas Pri saya lanjutin apa diterminate aja ya….(sayang juga ya uangnya) he..he..

    hehehhe, itu keputusan anda. coba diitung opsi mana yang paling menguntungkan. kalau saya pribadi, saya terminate semua unit link yang pernah saya ikut, uang yang saya dapat langsung saya masukin ke reksadana + term life. selain itu, makin tua makin ribet untuk ikutan asuransi, makin besar kemungkinan untuk ditolak.

    #92:

    kalo asuransi kesehatan kayanya bagusan prodental deh, masalah klaimnya juga ga terlalu ribet

    pruhealth gak punya yang lebih dari Rp 300 rb/hari rawat inap. praktis gak bakalan bisa dapet kamar sendirian di RS kelas 1 kota besar, kecuali kalo mau nombokin :).

  69. Menurut saya inilah hebatnya bisnis asuransi, kalo dihitung-hitung kita rugi, tapi kita juga punya ketakutan…hemm..:-?
    Mau pilih untung apa belain rasa takut ya??
    Asuransi adalah bentuk bisnis kecemasan, semakin cemas anda berarti semakin mungkin untuk butuh asuransi
    Apalagi kalo ngomongin jiwa, kadang kadang kita memang ga takut sama hidup, tapi kalo dan punya tanggungan… weleh-weleh… rasanya jadi cemas terus :d

  70. “ini salah kaprah juga. untuk beli asuransi itu sama sekali tidak perlu lewat agen. lewat agen kemungkinan hanya akan menambah jalur administrasi dan biaya yang anda bayarkan…..”

    Jangankan asuransi, tetangga sy yg jualan roti aja punya agen utk jual produknya…dan memang mereka dibayar utk itu. Coba sebutkan barang yg anda pakai yg dibeli dr produsen-nya langsung….??

    Hmm…koq jadi inget sama Roy Suryo si ‘Pakar of Evrything’ ya…??

  71. #96:

    Jangankan asuransi, tetangga sy yg jualan roti aja punya agen utk jual produknya…dan memang mereka dibayar utk itu. Coba sebutkan barang yg anda pakai yg dibeli dr produsen-nya langsung….??

    heheheh, i love analogy game. mau tau apa bedanya? :) kalo kita beli roti, itu atas inisiatif kita. kalo beli asuransi lewat agen, kemungkinan besar itu atas inisiatif si agen :). aturan pertama saya dalam membeli sesuatu: jangan pernah memfinalisasi transaksi yang bukan atas inisiatif kita, karena kalau begini kemungkinan besar harganya akan jauh lebih mahal.

    boleh2 aja agen nawarin asuransi, tapi saya sebagai konsumen berhak dong cari alternatif lain yang lebih baik dan murah :). kalo saya bisa beli di pabriknya langsung, bisa lebih murah dan tidak memperpanjang urusan administrasi, kenapa juga saya harus nolak? :)

    Hmm…koq jadi inget sama Roy Suryo si ‘Pakar of Evrything’ ya…??

    daripada anda nuduh saya yang bukan2, lebih baik anda konsentrasi pada apa yang dibahas. pernyataan saya yang mana yang menurut anda salah? dan bagaimana seharusnya? :)

  72. #91
    Betul….ditimbang dulu aja. Berhenti mungkin anda rugi, tapi kalo diteruskan malah makin besar ruginya ya lebih baik berhenti (kalo dalam permainan saham ini disebut Cut-Loss).
    #93
    Betul Om Pri…Makin muda dan fit kondisi kita makin rendah preminya. Temen saya (cewek, 30thn) ditolak ikutan asuransi karena berat badannya yang masuk kategori obesitas (dan ada resiko2 penyakit apa gitu). Perusahaan asuransi baru mau menerima preminya jika berat badannya turun. Itupun harga preminya masih cukup tinggi.

    #96 Agen penjual roti sama agen penjual asuransi ya lain toh.

    #97 Setuju bahwa komentarilah statemen-nya bukan orang-nya.

  73. Sorry Mas Pri rada telat.

    Saat ini saya sudah punya 4 polis AXA Mandiri, 2 untuk saya dan isteri sebagai Asuransi Mandiri Sejahtera (Jaminan Hari Tua) dan 2 lagi untuk kedua orang anak sebagai Asuransi Pendidikan. Pertanyaannya, apakah fasilitas Top Up pada asuransi tersebut dapat kita katakan sebagai upaya pendisiplinan menabung setiap bulanan daripada di tabungan konvensional? Artinya dengan investasi yang dilakukan AXA, pada tahun tertentu dari premi reguler ditambah dengan premi Top Up kita bisa berharap mendapatkan nilai yang jauh lebih besar dari sekedar tabungan atau deposito? Mohon pencerahannya. Terima kasih.

  74. #101:

    Artinya dengan investasi yang dilakukan AXA, pada tahun tertentu dari premi reguler ditambah dengan premi Top Up kita bisa berharap mendapatkan nilai yang jauh lebih besar dari sekedar tabungan atau deposito?

    kalau dibanding tabungan atau deposito jelas potensi perkembangan di unit link pasti lebih besar. tapi kalau dibandingkan sama reksadana murni, pasti lebih maksimal ke reksadana murni. produk AXA mandiri anda itu menerima setoran anda, kemudian sebagian dipakai untuk premi asuransi dan sebagian disetorkan lagi ke reksadana (untuk AXA mandiri mereka pakai schroders).

    kalau investasinya mau lebih maksimal lebih baik langsung saja beli reksadana, karena di sini AXA juga mengutip keuntungan untuk mereka sendiri dari porsi investasi. kalau langsung beli reksadana, yang bisa mengutip keuntungan cuma si manager investasi.

    kalau saya lebih anjurkan ambil asuransi term life (di AXA mandiri mereka punya produk ‘mandiri jiwa sejahtera’, saya pribadi juga pake ini), dan selisihnya diinvestasikan langsung ke reksadana.

    Pertanyaannya, apakah fasilitas Top Up pada asuransi tersebut dapat kita katakan sebagai upaya pendisiplinan menabung setiap bulanan daripada di tabungan konvensional?

    kelebihan unit link dibandingkan reksadana murni salah satunya mereka bisa auto debet. tapi rasanya tinggal nunggu fasilitas ini ditawarkan reksadana, mengingat di negara tetangga fasilitas seperti ini sudah biasa.

  75. Trims Mas Pri,

    Jadi pengen ikutan reksadana nih :) , tapi barusan buka website salah satu pengelola reksadana ada pernyataan bahwa “REKSA DANA ADALAH PRODUK PASAR MODAL DAN BUKAN MERUPAKAN PRODUK BANK SEHINGGA TIDAK DIJAMIN OLEH BANK SERTA TIDAK TERMASUK DALAM CAKUPAN OBYEK PROGRAM PENJAMINAN PEMERINTAH ATAU PENJAMINAN SIMPANAN”. Apakah benar hal tersebut dan kalau pun benar bagaimana kita menyikapi resiko itu kalau memang kita berminat ikut reksadana? Untuk term life (asuransi kecelakaan/sakit dan asuransi kesehatan (rawat inap)), saya ikut asuransi Cigna yang preminya didebet langsung dari KK dan akan ada pengembalian 25% apabila dalam 2 tahun tdk ada klaim. Pertanyaannya, apakah cara tersebut sudah cukup memadai ?
    Terakhir, tolong jika tidak keberatan rekomendasikan juga perusahaan pengelola reksadana yang dapat kita ikuti. Terima kasih.

  76. #103:

    tapi barusan buka website salah satu pengelola reksadana ada pernyataan bahwa “REKSA DANA ADALAH PRODUK PASAR MODAL DAN BUKAN MERUPAKAN PRODUK BANK SEHINGGA TIDAK DIJAMIN OLEH BANK SERTA TIDAK TERMASUK DALAM CAKUPAN OBYEK PROGRAM PENJAMINAN PEMERINTAH ATAU PENJAMINAN SIMPANAN”.

    heheheh. betul, tapi kondisinya sama juga untuk komponen investasi yang ada di AXA mandiri anda :). coba baca2 lagi polisnya, pasti ada disclaimer semacam ini :). ini salah satu yang saya kurang suka dengan unit link, kadang2 nasabah belum jelas soal resikonya, tapi transaksi jalan terus :). padahal waktu saya mau ikut reksadana pertama kali, mereka tanya “sudah pernah ikut sebelumnya?” “sudah mengerti kan resikonya?” :).

    ada 2 macam reksadana: pasar uang, pendapatan tetap, saham. masing2 beda profil resiko, keuntungan dan likuiditasnya. sebenernya ini juga harusnya sudah dijelaskan sebelum ikutan AXA mandirinya.

    kalau mau zero risk, anda bisa pakai deposito atau ORI.

    Apakah benar hal tersebut dan kalau pun benar bagaimana kita menyikapi resiko itu kalau memang kita berminat ikut reksadana?

    saham lebih besar resikonya daripada pendapatan tetap, pendapatan tetap lebih besar resikonya daripada pasar uang. tapi makin lama investnya makin kecil resikonya. ini disesuaikan aja dengan selera anda.

    Untuk term life (asuransi kecelakaan/sakit dan asuransi kesehatan (rawat inap)), saya ikut asuransi Cigna yang preminya didebet langsung dari KK dan akan ada pengembalian 25% apabila dalam 2 tahun tdk ada klaim.

    asuransi kecelakaan atau kesehatan itu bukan asuransi jiwa term life pak. term life itu kira2 isinya “kalau saya meninggal dalam x tahun ke depan, maka perusahaan asuransi akan bayar keluarga saya Rp y”

    Terakhir, tolong jika tidak keberatan rekomendasikan juga perusahaan pengelola reksadana yang dapat kita ikuti

    yang terkemuka di indonesia: manulife, fortis, schroders, danareksa, trimegah, PNM. silakan aja search google untuk info lebih lanjut :)

  77. Om Pri, saya baru tahu kalo AXA Mandiri punya term life juga. Kirain semuanya Unit-Link. Saya sudah dikirimin banyak promosi produk AXA Mandiri. Tak satupun yang term life :(

  78. Terakhir, tolong jika tidak keberatan rekomendasikan juga perusahaan pengelola reksadana yang dapat kita ikuti

    Kita juga barusan ikut reksadana…
    Peringkat Manajer Investasi berdasarkan jumlah dana kelolaan reksa dana berdenominasi Rupiah per 31 Agustus 2007;
    1. PT Schroder Investment Management Indonesia
    2. PT Fortis Investments
    3. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
    4. PT Bahana TCW Investment Management
    5. PT NISP Sekuritas
    6. PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen
    7. PT Trimegah Sekuritas
    8. PT Sinarmas Sekuritas
    9. PT Panin Sekuritas
    10. PT Danareksa Investment Management

    dan untuk ikut reksdana yang bisa pake internet banking yang paling murah di bank Coomonwealth ..min 2 Jt.
    untuk citibank, HSBC Rp 50 Jt. untuk bank-bak lokal pinter2 nego.. biasanya mereka maunya dengan nilai besar minimal 25 Jt.. (mandiri, Lippo, dll)
    tapi dari pengalaman yang cukup banyak tawaran prosuk reksadana dg online rasanya tetap di bank Commonwealt..

    maaf kalo ada yang salah…

  79. Review yang sangat menarik. Mohon info tentang perusahaan asuransi yang bernama exist. Saya sudah google, tapi gak nemu.
    Satu lagi, kalau ada longgar waktu, barangkali Om Pri bisa me-review tentang options. Karena maraknya iklan di Kompas untuk bermain option/saham via internet. Jika sudah pernah di-review, mohon diabaikan. Thanks, Om!

  80. # 29
    dari beberapa reksadana yang saya ikutin, semuanya boleh menginvestasikan 15% ke luar negeri :). kalo pengen mix and match sendiri sih bisa aja invest ke luar negeri langsung :)
    —————
    jadi inget mas. ada insurance yang mengatakan bahwa dananya ditaruh diluar negeri sehingga lebih aman. agennya ada disini deh kayaknya ..

    kudunya sih logika aja, ketika kasus “kredit macet” di amerika, kenapa pasar global langsung goyang ? apa hubungannya dengan IHSG kita? setahu saya efek dari saham itu selain dari kinerja perusahaan, juga berasal dari efek global.

    jadi mau ditaruh dimana duit kita, jika berurusan dengan saham, kuatirlah dengan kapital yang lebih besar. karena sebenarnya merekalah yang paling bisa mainan dengan seluruh bursa didunia.

    kayaknya butuh thread baru mas, serba-serbi reksadana ;-)

  81. info aja,
    sdh ada program spend&save dari permatabank, dimana setiap bulan tabungan kita dipotong utk investasi di reksadana Fortis. Setoran awal 1 jt, minimum investasi per bulan 500rb.

  82. :d wah wah .. klo semua orang egois gimana nasib pengangguran?? agen asuransi juga butuh komisi… buat beli bensin… and muter muter nyari nasabah… wajar aja klo mereka butuh makan juga?? klo ga ada agen asuransi.. terus kalian semua mau?? ngasih pekerjaan?? hehehe.. maklum sih belum pernah jadi agen asuransi ya?? belum pernah ngerasain ditolak dan dicemooh kaleee… agenasuransi tuh profesi mulia fren.. mereka mengajak , untuk merencanakan keuanga.. masalah mau ambil ato tida tergantung si nasabah kan??klo masalah klaim susah. sebenarnya tidak juga?? makanya tanyakan dengan seksama pada saat bertemu agen.. jangan main iya iya aja.. hargai juga profesi agen asuransi adalah profesi yang bagus dan menjanjikan..

  83. :)>- mas priyadi harusnya obyektif juga ya?? klo masalah itung itungan untung rugi.. emang ikut asuransi unit link kayaknya rugi banget…itu bagi orang yang terlalu mikirin untung untung dan untung secara financial.. padahal kebutuhan hidup kita tdak sebatas materi..walaupun itu perlu… seorang agen asuransi boleh diandang sebelah mata.. oleh anda… api andil mereka.. memberikan pendidikan arti pentingnya menabung dan merencanakan keuanga. urusan mo pake unit link ato tidak terserah mereka.. tapi.. jangan sekali kali mendiskriditkan agen asuransi.. kalopun ada agen yang kurang bagus pelayanannyapun itu masalah personal. .. yang penting si nasabah harus benar benar tahu bagaimana cara klaim .. secara pastinya untuk menjaga kondisi terburuk jika agennya ga bisa dihubungi… :-?

  84. lagian mas mas. klo cuma mau mikirin untung untung dan untung mendingan main sendiri gausah ikutan reksadana juga bisa.. contohnya main forex sendiri gitu..bhkan klo emang mahir untung bisa gede.. sehari bisa lebih dari 20%… ga usah mikirin reksadana maupun asuransi…pun bisa …

  85. #112:

    agen asuransi juga butuh komisi… buat beli bensin… and muter muter nyari nasabah… wajar aja klo mereka butuh makan juga??

    wajar atau tidaknya ditentukan oleh mekanisme pasar. kalau agen memberikan nilai tambah yang sesuai dengan harga mereka ya artinya tidak perlu takut gak ada yang beli lewat mereka. problemnya adalah komisi agen saat ini terlalu mahal karena sistem pemasaran yang sangat tidak efisien. selain itu masyarakat juga tidak tahu kalau mereka punya alternatif.

    selama ini saya pribadi tidak melihat agen memberikan layanan yang sesuai dengan harga mereka.

    mas priyadi harusnya obyektif juga ya?? klo masalah itung itungan untung rugi.. emang ikut asuransi unit link kayaknya rugi banget…itu bagi orang yang terlalu mikirin untung untung dan untung secara financial.. padahal kebutuhan hidup kita tdak sebatas materi..walaupun itu perlu… seorang agen asuransi boleh diandang sebelah mata.. oleh anda… api andil mereka.. memberikan pendidikan arti pentingnya menabung dan merencanakan keuanga. urusan mo pake unit link ato tidak terserah mereka

    lho, asuransi itu produk, sama dengan produk lain, konsumen juga menghitung dari mahal atau tidaknya produk tersebut. kalo rugi banget ya karena memang rugi banget, tidak perlu dicari2kan pembenaran.

    kapan agen asuransi merencanakan keuangan keluarga? nyaris tidak pernah, mereka cuma menjual produk terlepas dari cocok atau tidaknya produk tersebut. saya sendiri sering ditawari unit link untuk anak saya yang masih 1 tahun :).

    kalau mau merencanakan keuangan keluarga dengan menggunakan layanan pihak ketiga, jangan ke agen asuransi, tapi ke financial advisor yang independen dari perusahaan asuransi.

    lagian mas mas. klo cuma mau mikirin untung untung dan untung mendingan main sendiri gausah ikutan reksadana juga bisa.. contohnya main forex sendiri gitu..bhkan klo emang mahir untung bisa gede.. sehari bisa lebih dari 20%

    hehehehe. yang ironis dari pernyataan ini adalah berasal dari agen asuransi. agen asuransi tapi kok gak ngerti pasar finansial :). mana ada konsultan finansial yang menganjurkan client-nya untuk main forex :)

  86. Buat Para Agen Asuransi:
    Terima kasih saya ucapkan karena ‘kerelaan’ kalian dalam ‘mengajarkan’ pentingya asuransi kepada kita semua dan juga sekaligus pentingnya investasi merencanakan keuangan keluarga untuk masa yang akan datang. Coba tanyakan ke lubuk hati kalian yang paling dalam: Apakah kalian berniat untuk mencerdaskan masyarakat mengenai asuransi dan investasi atau mengejar komisi? Kalau kalian memang mau membuat masyarakat makin cerdas dengan asuransi dan investasi, tentu kalian tidak perduli apakah komisi kalian tidak setinggi yang diinginkan. Kalau kalian mengejar komisi, tentu kalian maunya ya menjual produk yang komisinya paling tinggi.

    Sales/Agen Asuransi ya mirip dengan agen mobil. Mereka akan berusaha supaya nasabah membeli mobil mereka. kalo bisa malah yang paling bagus (mahal) supaya komisinya makin besar. Jarang saya temui agen/sales mobil yang mengajari pembeli mobil pemula (baru pertama kali beli mobil) untuk memilih mobil sesuai kebutuhan.

    Buat yang lain:
    Yang merasa senang dengan adanya agen asuransi ya bersyukur dan berterima kasihlah. Bisa jadi melalui merekalah kita jadi kenal asuransi dan investasi. Buat yang tidak sreg dengan kinerja agen saat ini (baik karena kurang transparan maupun komisi yang kemahalan) ya mari kita belajar lebih memahami lagi mengenai instrumen asuransi dan investasi supaya bisa membeli sendiri tanpa melalui agen.

  87. #112 Apakah anda akan membeli mobil hanya karena kasihan sama SPG-nya kalo mobilnya gak dibeli. Kan tidak bagitu.

    Saya bukan agen asuransi tapi engineer. Sama saja. Saya beberapa kali mengajukan proposal design dan ditolak. Tidak apa-apa. Mengajukan budget proyek dan ditolak adalah wajar. Membuat kita makin menguasai caranya menyusun proposal dan membuat argumen bila ada yang tidak setuju dengan proposal itu.

    Kalo mengalami dicemooh dan dihina ya itu sudah resiko pekerjaan. Selama kita tetap berpegang pada etika dalam bekerja, menyiapkan argumen-argumen dengan baik, dan mengajukan proposal/presentasi dengan baik maka ditolak pun akan dengan baik pula. Kalo masih dicemooh dan dihina, masih banyak calon nasabah lain yang lebih baik dari si-pencemooh/penghina ini. Ingat: yang penting kitanya sendiri tetap mengedepankan etika.

  88. input aja, di bank mandiri, kita juga bisa beli reksadana dengan nilai 500 ribu (jumlah unit yang didapat adalah sesuai dengan NAB yang berlaku). Produk2nya cukup lengkap dari schroder, manulife, mandiri sekuritas, bahana, dsb… cuma emang rada2 ribet ke bank pemerintah, lelet n formnya buanyak yang musti diulang2 isinya.

    cheers

  89. Heran saya, kok jadi banyak ya komentar-komentar yang memojokkan mereka yang menyarankan untuk tidak beli unit link? Kelihatan banget komentarnya Priyadi dan Rahmat itu dibuat dengan alasan yang jelas dan sistematis, sementara mereka yang berkomentar jelek biasanya cuma pake alasan-alasan emosional belaka, sampai ad hominem pula, ngejek orangnya, bukan mendebat argumennya.

    Kayanya ini juga pertanda betapa ceteknya pengetahuan kebanyakan (sekali lagi, kebanyakan, bukan semua) agen asuransi yang hanya menjual dengan menggugah emosi belaka, tapi nggak mampu membalas ketika didebat dasar pemikirannya karena pengetahuan teknis mereka hanya sebatas ngitung2 dengan asumsi X% maka setelah Ytahun duit Anda akan jadi ZRupiah.

  90. contoh seorang guru bekerja ingin mencerdaskan murid.. tapi butuh duit juga toh?? emang makan dari mane??seorang sales bekerja juga cari duit.. seorang agenpun demikian.. wajarkan?? kerja keras dibayar mahal??saya maklum.. di indonesia kesadaran berasuransi masih rendah. dibanding negara lain.. jarang nasabah datang sendiri nyari perusahaan asuransi.. nah.. peran agen sebagai perantara… karena jebanyakan orang sibuk ga sempat datang ke kantor.. :d apalagi buat orang berduit dan sibuk .. mana sempeet.. nah mendingan ke agen aja .. yah itung itung bagi bagi rejeki

  91. #120:

    seseorang yang bekerja berhak untuk mendapatkan imbalan. sampai di sini saya setuju. masalah berapa besar imbalan yang layak ini yang diperdebatkan. umumnya dalam pasar bebas terjadi mekanisme pasar, jadi yang menentukan besar imbalan yang layak bukan cuma yang menjual produk/layanan, tapi juga konsumen. konsumen akan lari ke produk/layanan lain kalau dia merasa suatu produk/layanan terlalu mahal. nantinya penjual produk/layanan ini harus menurunkan harganya kalau masih mau mendapatkan konsumen.

    ribut2 soal unit link ini ya merupakan salah satu manifestasi mekanisme pasar. intinya kami nasabah asuransi merasa tidak puas karena harganya terlalu mahal, sedangkan agen yang dulu kami percayai ternyata ‘lupa’ untuk memberi tahu kalau ada produk yang lebih murah dan cocok. dengan kata lain kami merasa dikadalin :). anda boleh saja merasa bayaran yang mahal itu menurut anda ‘worth it’, tapi konsumen boleh dong berpendapat lain :). bisa jadi ada konsumen lain yang merasa layanan yang anda berikan itu ‘worth it’, tapi itu bukan urusan saya, uang uang dia. dan sebaiknya dia merasa ‘worth it’ dengan layanan anda, dan bukan karena dia tidak tahu kalau dia memiliki alternatif.

    kalau niat anda memang mencoba untuk membantu urusan finansial nasabah, coba lain kali di awal2 memrospek calon nasabah, anda beri tahu kalau si nasabah juga punya alternatif untuk ambil term + reksadana terpisah. kemudian baru setelah itu anda beri tahu layanan yang anda berikan beserta komisi yang anda terima. kalau memang si nasabah tetap ikutan, berarti dia memang menganggap layanan anda itu ‘worth it’. jangan sampai nasabah baru tahu alternatifnya setelah ikutan 1-2 tahun dimana anda sudah makan sebagian besar porsi komisi anda. dengan kata lain, jangan sampai ngadalin nasabah :)

  92. :)dalam hal ini saya sebagai agen tidak pernah diajarkan oleh perusahaan untuk membohongi nasabah…
    karena kepercayaan adalah hal penting didalam berbisnis. kalaupun ada agen nakal, itu diluar prosedur yang seharusnya. kami memberikan yang terbaik, sebatas kemampuan kami sebagai marketing& tidak pernah berpikir mengkadali nasabah.ilustrasi yang kami buat kami paparkan. dan calon nasabah berhak menanyakan tentang apapun hal hal yang tidak mereka ketahui sedetail detailnya tentang resiko dan keuntungan. karena asuransi bersifat jangka panjang, secara umum tetap menguntungkan si nasabah. pasalnya si nasabah membutuhkan perlindungan (proteksi baik ,jiwa , kesehatan, serta tabungan). saya selalu memberikan alternatif jika si nasabah mengingankan profit jangka pendek ataupun menabung jangka pendek, janganlah di asuransi, tapi bisa di bank ataupun reksadana. pasalnya kebanyakan nasabah kurang begitu paham masalah investasi semacam reksadana. mereka cenderung tidak ambil pusing. sehingga bersedia mengambil jenis asuransi unit link. Perlu anda ketahui juga untuk asuransi unitlink syariah, juga memiliki kelebihan bahwa premi nasabah tidaklah hangus .apabila tidak terjadi klaim atas si nasabah, maka semua uang nasabah yang terkumpul dikembalikan ke nasabah dalam bentuk investasi. karena disini asas syariah adalah tolong menolong. mungkin mas pri perlu juga sedikit mempelajarinya. kebnanyakan orang juga nggak mau pusing, karena kebanyakan orang menyimpan uang tidak hanya didalam 1 kantong. bisa di bank, reksadana, ori, maupun asuransi, karena selain ingin uangnya berkembang, juga, mereka butu proteksi.Dengan sistem unit link, si nasabah ga perlu memikirkan pembayaran preminya karena telah tertutupi oleh bunga dari hasil investasi setelah 10 th. jadi dengan unit link justru lebih simpel. kalo ingin menabubg di asuransi ga mungkin dalam jangka pendek. minim 5th keatas, baru hasilnya kelihatan. yang saya lihat disini terkadang komentar memojokkan agen dengan beberapa permasalahan,maka dari itu, alangkah lebihbaiknya calon nasabah harus benar benar tahu kualitas agen, dengan menayakan sertifikatAAJI , lama mereka bekerja di asuransi ato hal lainnya , sehingga memperoleh agen yang benar benar bisa diandalkan.

  93. :d soal komisi ??memanglah saya anggap wajar!!, anda mungkin tahu, bahwa seorang agen di perusahaan yang bersifat unit link mereka kebanyakan tidak digaji oleh perusahaan., boro boro uang bensin apalagi uang makan, mereka murni kaya bekerja wira usaha sendiri.. klo komisi mereka terlaliu sedikit jelas nggak wajar gimana .. karena mereka nggak memiliki pendapatan/ gaji tetap..

  94. nah seandainya maspri lebih bijaksana membahas kekurangan dan kelebihan asuransi dengan lebih bersifat tidak memojokkan profesi agen.karena agen adalah sebuah profesi, yang legal dan bermanfaat.Masalah yang sehausnya dibahas adalah bagaimana seharusnya atitude seorang agen asuransi, agar tidak merugikan para nasabahnya. dan mengenai sistem komisi terlalu besar itu tergantung sistem asuransinya… dan semua sudah diperhitungkan kelebihan dan kekurangganya.

  95. memang ada produk asuransi yang lebih murah seperti yang dikemukakan oleh anda.. namun dengan produk asuransi kami memiliki beberapa hal kelebihan yang tidak dimiliki produk asuransi murah tersebut…,dan kita juga butuh terlalu panjang untuk menerangkan dari a-z. sedangkan untuk menerangkan produk kita sendiri butuh waktu lebih dari 2 jam sekali pertemuan.. belum lagi klo harus memfollow up.. berapa jam lagi kita menggunakan waktu tersebut.. sehingga wajar jika sebagai agen cenderung memaparkan secara garis besar tentang manfaat produk lain.karena waktu sangat berharga buat kami. nasabah kami juga cukup banyak kan??gimana klo ada nasabah lain minta klaim ato lain lain?? kasian kan klo ga di layani??

  96. @gusta

    dalam hal ini saya sebagai agen tidak pernah diajarkan oleh perusahaan untuk membohongi nasabah…

    ada perbedaan yang sangat tipis antara membohongi dan ‘lupa’ untuk memberitahukan hal2 yang penting. apakah perusahaan asuransi anda mengajarkan anda untuk memberitahukan hal2 berikut ini?

    * besar biaya akuisisi yang harus dibayarkan, dalam rupiah, bukan dalam persentase (biasanya mereka mau repot2 ngitungin proyeksi perkembangan uang kita sampai puluhan tahun, tapi hal simpel seperti besar biaya akuisisi yang cuma 5 tahun pertama mereka gak mau ngitungin)
    * kenaikan biaya asuransi per tahun, sampai akhir hayat.
    * ada alternatif asuransi yang jauh lebih murah dan lebih cocok, yaitu term life, dan dengan biaya akuisisi yang jauh lebih murah pula
    * ada alternatif investasi yang jauh lebih murah, yaitu reksadana

    itu salah satu tugas agen kalau mengaku mengedepankan kepentingan nasabah. dari beberapa agen yang pernah mendekati saya, tidak ada satupun yang memberi tahu 3 hal tersebut. jika anda melakukannya, saya ucapkan selamat.

    perlu diperhatikan saya gak sepenuhnya menyalahkan agen secara pribadi. agen di sini hanya menjalankan sesuai yang diinstruksikan perusahaan. kesalahan terletak pada perusahaan asuransi yang melakukan model pemasaran yang sangat tidak efisien sehingga terlalu memberatkan nasabah.

    anda mungkin tahu, bahwa seorang agen di perusahaan yang bersifat unit link mereka kebanyakan tidak digaji oleh perusahaan., boro boro uang bensin apalagi uang makan, mereka murni kaya bekerja wira usaha sendiri.. klo komisi mereka terlaliu sedikit jelas nggak wajar gimana

    namanya orang dagang ya memang begitu. kalau terlalu mahal gak akan punya konsumen :). ini hukum penawaran dan permintaan. masa mau bisnis atas dasar belas kasihan orang? dalam bisnis besar bayaran tergantung dari kualitas layanan yang kita berikan, bukan tergantung dari berapa banyak kebutuhan kita.

    Masalah yang sehausnya dibahas adalah bagaimana seharusnya atitude seorang agen asuransi, agar tidak merugikan para nasabahnya. dan mengenai sistem komisi terlalu besar itu tergantung sistem asuransinya… dan semua sudah diperhitungkan kelebihan dan kekurangganya.

    saya tidak menyalahkan agen per se. tapi lebih kepada model pemasarannya yang sangat tidak efisien. satu agen bisa dapat berapa nasabah sih sebulannya? 3? 5? 10? jelas sama sekali tidak efisien, karena perbandingan agen dan nasabah terlalu kecil. supaya keagenan tetap bisa jadi profesi, maka perusahaan asuransi terpaksa memahalkan asuransi. tapi tentunya ini salah kaprah, bukannya memperbaiki kualitas pemasaran, tapi justru memberatkan nasabah.

    saya gak ada masalah dengan agen. tapi nasabah perlu mencari asuransi dengan sistem keagenan yang bisa menjaring misalnya 200-300 nasabah per agen per bulan, karena dengan demikian biaya akuisisi bisa ditekan seminimal mungkin dan harga tetap kompetitif.

    memang ada produk asuransi yang lebih murah seperti yang dikemukakan oleh anda.. namun dengan produk asuransi kami memiliki beberapa hal kelebihan yang tidak dimiliki produk asuransi murah tersebut

    oh really? :) boleh disebutkan apa kelebihan asuransi anda yang tidak dimiliki asuransi murah tersebut?

  97. Mas Pri apa yg terjadi jika si A (30 thn) membeli term life (kontrak 10 tahun) dan katakanlah tiba2 1 minggu menjelang kontrak selesai Si A mengalami kecelakaan yg mengakibatkan A koma selama 2 minggu. Hal ini mengakibatkan si A tidak sempat memperpanjang kontrak asuransinya. Dan sialnya dia meninggal pada saat kontrak belum diperpanjang. Kalo ini yang terjadi akhirnya keluarganya tidak mendapat apa2 mas?

    Point saya tidak ada jenis asuransi yg lebih baik dibanding jenis asuransi lainnya. Masing2 py kekurangan dan kelebihannya. Apabila si A membeli whole life atau unit link dia tidak memiliki resiko kontrak terputus karena kecerobohan seperti dia atas.

    Gimana Mas Pri Komentarnya, kejadian diatas amat sangat mungkin terjadi bukan?

  98. #127:

    Mas Pri apa yg terjadi jika si A (30 thn) membeli term life (kontrak 10 tahun) dan katakanlah tiba2 1 minggu menjelang kontrak selesai Si A mengalami kecelakaan yg mengakibatkan A koma selama 2 minggu. Hal ini mengakibatkan si A tidak sempat memperpanjang kontrak asuransinya. Dan sialnya dia meninggal pada saat kontrak belum diperpanjang. Kalo ini yang terjadi akhirnya keluarganya tidak mendapat apa2 mas?

    nasabah asuransi term life punya opsi untuk memperpanjang kontrak asuransi sesuai dengan harga premi yang sudah ditetapkan sebelumnya tanpa syarat sama sekali (tidak perlu lagi medical dll dsb)

    Point saya tidak ada jenis asuransi yg lebih baik dibanding jenis asuransi lainnya. Masing2 py kekurangan dan kelebihannya. Apabila si A membeli whole life atau unit link dia tidak memiliki resiko kontrak terputus karena kecerobohan seperti dia atas.

    dalam urusan manfaat asuransi, sama sekali tidak ada kelebihan unit link dibandingkan asuransi term life :)

  99. :d kadang orang ga mau ribet mikir kapan jarus memper panjang premi.. dengan adanya agen justru mempermudah mengingatkan si nasabah. kapan harus bayar premi.. karena sebagian besar orang orang sering kali lupa akan manfaat asuransi. padahal asuransi bisa disebut uang kecil yang menyelamatkan uang besar..kurangnya kesadaran masyarakat negara berkembang (indonesia) bisa dilihat dari perbandingan 1 agen berbanding 1500 data dari kompas blan lalu tgl lupa..sefangkan di singapore 1 orang bisa punya 3-4 polis asuransi. nah disini agen asih punya peran. yang cukup bermanfaat. kecuali jika sebagian besar masyarakat indonesia. udah bisa datang sendiri ke kantor asuransi..perusahaan asuransi pasti dah ga btuh agen… hehehe kayaknya belom deh.. :d

  100. ada sebuah produk unit link syariah yang kurang lebih saya ketahui, memiliki beberapa kelebihan :
    1. Premi nasabah tidak hangus bila tidak terjadi klaim pada si nasabah dan di kembalikan ke nasabah.asuransi jiwa syariah menganut azas tolong menolong dengan membagi risiko diantara peserta asuransi jiwa (risk sharing).Dana Hangus
    Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, dimana peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula dengan asuransi jiwa konvensional non-saving (tidak mengandung unsur tabungan) atau asuransi kerugian, jika habis msa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi asuransi yang sudah dibayarkan hangus atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.
    Dalam konsep asuransi syariah, mekanismenya tidak mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi yang sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru’ yang tidak dapat diambil.
    Begitu pula dengan asuransi syariah umum, jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka pihak perusahaan mengembalikan sebagian dari premi tersebut dengan pola bagi hasil, misalkan 60:40 atau 70:30 sesuai dengan kesepakatan kontrak di muka. Dalam hal ini maka sangat mungkin premi yang dibayarkan di awal tahun dapat diambil kembali dan jumlahnya sangat bergantung dengan tingkat investasi pada tahun tersebut.
    2. Kejelasan kontrak atau akad dalam praktik muamalah menjadi prinsip karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syariah
    3. Kontrak Al-Mudharabah
    Penjelasan di atas, mengenai kontrak tabarru’ merupakan hibah yang dialokasikan bila terjadi musibah. Sedangkan unsur di dalam asuransi jiwa bisa juga berupa tabungan. Dalam asuransi jiwa syariah, tabungan atau investasi harus memenuhi syariah.
    4. Kontrak bagi hasil disepkati didepan sehingga bila terjadi keuntungan maka pembagiannya akan mengikuti kontrak bagi hasil tersebut.

  101. sejauh ini jarang orang yang bercita cita jadi agen asuransi yah?? hehe.. soalnya udah berpendapatan ga tetap jga banyak dicibir orang:d.. dengan adanya reward yang pantas.. mungkin bisa menjadi motifasi para agen untuk loyal kepada nasabah dan perusahaan.

  102. kadang orang ga mau ribet mikir kapan jarus memper panjang premi.. dengan adanya agen justru mempermudah mengingatkan si nasabah. kapan harus bayar premi

    saya ikut asuransi jiwa term life, juga asuransi kebakaran, kesehatan, mobil, mereka selalu mengingatkan kalau sudah dekat tanggal jatuh tempo walaupun saya gak beli lewat agen individu. kalo menurut saya justru ini kekurangan sistem agen pribadi karena nasabah terpaksa harus berhubungan dengan individu dan bukan langsung ke perusahaan. jika ada sesuatu terjadi pada si agen (kecelakaan, liburan, etc), bisa jadi nasabah gak mendapat informasi yang dibutuhkan. kalau berhubungan dengan perusahaan langsung, jika ada karyawannya yang berhalangan, perusahaan bisa langsung menggantinya dengan karyawan lain.

    sefangkan di singapore 1 orang bisa punya 3-4 polis asuransi.

    3-4 polis asuransi JIWA per orang itu TERLALU BANYAK. model pemasaran asuransi yang ada di indonesia sekarang ini rasanya praktis berasal dari singapura. satu lagi alasan untuk tidak mencontoh metoda pemasaran seperti ini :)

    ada sebuah produk unit link syariah yang kurang lebih saya ketahui, memiliki beberapa kelebihan …

    anda pasti agen prudential :D. sekarang lagi rame2 asuransi syariah gara2 prudential mengeluarkan prulink syariah, seakan2 seperti tidak ada asuransi syariah sebelumnya :). tapi sebenarnya ini bukan barang baru, sebelumnya ada banyak produk syariah dari perusahaan asuransi lain.

    daripada ambil unit link syariah, lebih baik ambil asuransi term life syariah + reksadana syariah. dijamin jauh lebih maksimal :)

    ps. sekarang asuransinya sudah syariah, sistem pemasarannya sudah syariah belum? :)

  103. #132
    Om Pri, mungkin sudah saatnya Om Pri membahas Unit-Link Syariah dan Asuransi Syariah + Investasi Syariah secara terpisah :d

    Mungkin 4 Polis yang dimaksud bukan empat2nya asuransi jiwa (gak disebutin toch). Bisa jadi 1 polis asuransi jiwa, 1 polis asuransi kesehatan, 1 polis asuransi kebakaran rumah, dan 1 polis asuransi all risk mobil :d

    Saya sendiri punya banyak asuransi: Jiwa 1 polis yang penting bisa meng-cover hutang & tanggungan saya. Kesehatan 3 polis (saya, istri dan anak). All risk untuk mobil 1 polis. Kebakaran rumah 1 polis. Totalnya 6 polis.

    Investasi: Forex (ini sih ngumpulin aja gak pake spekulasi. 5 tahun lalu SGD masih 4,500 sekarang dah 6,200), Deposito (per bulan di-ARO aja kalo butuh tinggal ambil daripada ngendap di tabungan), Reksadana (Schroeders yang sama dengan yang diambil AXA), dan Saham (Sarijaya).

    Saya punya juga unit-link (axa mandiri), tapi saya anggap sebagai ‘kebodohan masa lalu’ (maaf buat agen axa, no offense). Saya bahkan sudah mengajukan protes ke axa customer service dan membeberkan permasalahannya:
    1. Agen ‘lupa’ menyebutkan adanya administrasi bulanan yang 25rb (kalo setoran cuma 250rb/bln sama saja dengan 10% setoran).
    2. Agen ‘lupa’ mengatakan bahwa ada selisih 5% antara harga jual dan harga beli.
    3. Agen ‘cuma ingat’ bahwa yang paling bagus adalah mengambil pertanggungan sampai usia saya 100 tahun.
    4. Agen menjelaskan bahwa memang dalam 3 tahun pertama ‘hasil investasi’saya akan lebih kecil daripada ‘setoran bulanan’, tapi setelah itu menjadi lebih besar.
    5. Agen ‘cuma’ mengatakan bahwa saya ‘hanya’ membayar premi asuransi 2 tahun pertama (80% setoran tahun pertama dan 20% setoran tahun kedua). Agen mengatakan bahwa tahun ketiga dan seterusnya bebas premi. Dia ‘lupa’ mengatakan bahwa dengan 80% setoran tahun pertama dan 20% setoran tahun kedua serta hasil investasi yang didapat maka sebenarnya premi yang sudah saya bayarkan adalah terlalu tinggi untuk UP yang hanya 40jt (gak ada coverage kesehatan).

  104. #130
    Sepertinya yang anda maksud Pru-Link Syariah :d

    1. Sebenarnya anda menjelaskan kelebihan ASURANSI SYARIAH dibandingkan dengan ASURANSI KONVENSIONAL. Saya pernah mendapatkan penjelasan dari Takaful mengenai hal ini.

    2. Bisa tidak anda membandingkan PRU-LINK SYARIAH dengan ASURANSI SYARIAH + INVESTASI SYARIAH secara terpisah.

    3. Kalo saya melihat, PRU-LINK SYARIAH ya dia menempatkan porsi premi di ASURANSI SYARIAH dan porsi investasi di INVESTASI SYARIAH.

    4. Pertanyaan 2 sen-nya adalah: Berapa BIAYA yang ditanggung nasabah jika mengambil PRU-LINK dan BIAYA jika mengambil ASURANSI + INVESTASI secara terpisah?

    5. Kalau saja BIAYA PRU-LINK = BIAYA ASURANSI + BIAYA INVESTASI, mungkin masih menarik. Toh agen juga seharusnya senang. Jual 1 produk dapat 2 komisi. Tapi dengan penjelasan Om Pri mengenai cost yang tinggi dari unit-link dan pengalaman saya mengambil unit-link maka saya pribadi menyimpulkan masih lebih baik mengambil 2 instrumen tadi secara terpisah baik SYARIAH maupun KONVENSIONAL.

    6. Beberapa agen asuransi yang sangat bersemangat mem-prospek saya via email dan telpon sekarang tidak pernah menghubungi saya lagi begitu saya menanyakan mengenaik overhead cost dan kelebihan unit-link dibandingkan asuransi dan investasi yang terpisah. Tanya Kenapa???

  105. :d besarnya komisi agen pada dasarnya karena di sini agen unit link tidak di gaji.. menurut anda gimana slusimenjalan kan oprasionalnya untuk melayani si nasabah hingga x tahun??jika komisi tidak seimbang dengan operasional?? [-( kayaknya ga bakalada deh yg mau jd agen.. padahal keberadaan agen dibutuhkan perusahaan.. perusahaan ga mungkin tunggu bola..saya jurang setuju jika menilai porsi komisi agen terlalu besar??saya lihat wajar..& sebagian besarnasabah lebih melihat ke sisi manfaat agen dibandingkan itung itungan komisi… karena sebagian besar nasabah unit link adalah notabene orang berduit dan ga punya waktu..mungkin dengan sistem terpisah yang anda kemukakan cenderng untuk orang2 yang terlalu mamikirkan itung itungan dagang. padahal asuransi bukan tempat orang mencari keuntungan finansial secara langsung. akan tetapi lebihbersifat proteksi dan service.

  106. :d klo anda bandingkan dengan profesi ain sebagai contoh profesi dokter dibayar mahalpun si pasien oke oke saja.. karena pasien butuh sehat dan ga terlalu memikirkan komisi dokter.. klo si pasien terlalu itung itungan bisa saja si pasien beli obat sendiri ke apotek tanpa resep.. hehe.. apajah menurut anda komisi doketer perlu di tekan?? pasien menghargai profesi dokter dengan memberikan komisi yang pantas. Seorang agen juga PROFESI yg memiliki..peran juga.. dan komisi yang diperoleh agen menurut saya sangat pantas.

  107. seperti anda mas pri juga butuh komisi melalui google adsense misalnya.. kita pun fine fine .. dan ga memeikirkan berapa komisi anda jika saya mengklik iklan google di blog anda.. najh anda di bayar mahal juga kan ?? sedangkan kita ga merasa keberatan melihat terlalu banyak iklan ataupun mengklik iklan gogle anda.;). karena kita sadar profesi anda.. dan ada pengorbanan yang anda lakukan untuk memperleh profit anda sebagai pemilik blog..

  108. :”> dan perlu anda ketahui juga bahwa asuransi unit link saat ini semakin pesat perkembangannya. dibanding sistem term life. itu karena perusahaan asuransi unit link berani jemput bola ke nasabah.. klo ksadaran asuransi di indonesia sudah bagus mungkin pendapat yang anda kemukakan bisa jadi alternatif.. tapi sayang [-( kayaknya belom tuh.. karena sebagian besar masyarakat melihat asuransi adalah pengeluaran hangus. masyarakat dengan penuh kesadaran datang ke kantor asuransi masih bisa di itung..

  109. besarnya komisi agen pada dasarnya karena di sini agen unit link tidak di gaji.. menurut anda gimana slusimenjalan kan oprasionalnya untuk melayani si nasabah hingga x tahun??jika komisi tidak seimbang dengan operasional?

    itu urusan anda dan perusahaan asuransi, bukan urusan saya :). kepentingan saya di sini sebagai konsumen asuransi adalah mencari produk yang paling menguntungkan untuk saya. jika produk yang anda tawarkan tidak bisa bersaing dengan produk lain, ya masa saya harus beli produk anda? urusannya sebenarnya bukan semata2 soal pake agen atau tidak pake agen.

    sistem agen perorangan bagi saya hanyalah sebuah gejala kalau produk yang ditawarkan lebih mahal daripada seharusnya, walaupun belum tentu seperti itu.

    saya jurang setuju jika menilai porsi komisi agen terlalu besar??saya lihat wajar..& sebagian besarnasabah lebih melihat ke sisi manfaat agen dibandingkan itung itungan komisi

    boleh2 aja anda berpendapat begitu. ini pasar bebas, mau setel gaji anda ke angka Rp 100 juta per closing saya juga gak keberatan, itu sepenuhnya hak anda :). tapi soal apakah saya akan beli produk anda atau tidak itu urusan lain lagi :), sayapun punya hak untuk tidak beli produk dari anda.

    karena sebagian besar nasabah unit link adalah notabene orang berduit dan ga punya waktu..mungkin dengan sistem terpisah yang anda kemukakan cenderng untuk orang2 yang terlalu mamikirkan itung itungan dagang. padahal asuransi bukan tempat orang mencari keuntungan finansial secara langsung. akan tetapi lebihbersifat proteksi dan service.

    asuransi adalah produk finansial jelas harus ada pertimbangan finansialnya :). unit link memang ada kelebihannya yaitu gak perlu repot, tapi apakah kelebihan tersebut sebanding dengan harganya ini yang harus dipertimbangkan lagi :).

    klo anda bandingkan dengan profesi ain sebagai contoh profesi dokter dibayar mahalpun si pasien oke oke saja.. karena pasien butuh sehat dan ga terlalu memikirkan komisi dokter.. klo si pasien terlalu itung itungan bisa saja si pasien beli obat sendiri ke apotek tanpa resep.. hehe.. apajah menurut anda komisi doketer perlu di tekan??

    ok, kalau ada 2 dokter dengan kualitas sama, lalu kalau saya sakit flu kemudian pergi ke dokter A saya dikenakan biaya Rp 50 ribu, tapi kalau ke dokter B, saya dikenakan biaya Rp 500 ribu, dengan kualitas yang sama. anda mau pilih ke dokter mana? :) rasanya hampir semua orang akan pilih dokter A. kalau dokter B ini mau punya pasien, dia harus turunkan harganya sampai di tingkat yang reasonable. ini bukan soal menghargai profesi atau tidak, tapi konsumen punya hak untuk mendapatkan deal yang terbaik.

    masalah dengan asuransi cuma satu. masyarakat kita belum melek asuransi. jika asuransi P 2x lipat lebih mahal daripada Q, mereka gak tahu. bisnis keagenan ini adalah bisnis ketidaktahuan. mirip dengan calo tiket kereta api: kalau calon penumpang tidak tahu letak loketnya dan berapa harga tiket resminya, kita bisa charge dia lebih mahal :), setelah penumpang dapat tiketnya dan kemudian tahu harga resminya, dia akan merasa dikadalin, tapi gak ngaruh karena si calo sudah terlanjur makan uangnya :).

    bisnis keagenan asuransi ini harusnya bukan bisnis ketidaktahuan (ignorance), tapi bisnis convenience, mirip sama travel agent. kalo penumpang beli tiket lewat travel agent, dia bayar lebih mahal. calon penumpang tetap punya pilihan untuk ngantri sendiri di loket, tapi beberapa akan bayar ekstra ke travel agent untuk hal2 convenience, misalnya tidak perlu ngantri, tidak perlu datang lebih awal, dll dsb.

    seperti anda mas pri juga butuh komisi melalui google adsense misalnya.. kita pun fine fine .. dan ga memeikirkan berapa komisi anda jika saya mengklik iklan google di blog anda.. najh anda di bayar mahal juga kan ?? sedangkan kita ga merasa keberatan melihat terlalu banyak iklan ataupun mengklik iklan gogle anda.

    oh ya. kalau anda keberatan dengan iklan saya, anda juga berhak untuk tidak membaca blog saya. sama seperti saya punya hak untuk tidak beli asuransi lewat anda kalau saya rasa harganya terlampau mahal :).

    dan perlu anda ketahui juga bahwa asuransi unit link saat ini semakin pesat perkembangannya. dibanding sistem term life. itu karena perusahaan asuransi unit link berani jemput bola ke nasabah

    betul. tapi bukan berarti unit link memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabah.

    klo ksadaran asuransi di indonesia sudah bagus mungkin pendapat yang anda kemukakan bisa jadi alternatif.. tapi sayang [-( kayaknya belom tuh.. karena sebagian besar masyarakat melihat asuransi adalah pengeluaran hangus. masyarakat dengan penuh kesadaran datang ke kantor asuransi masih bisa di itung..

    harusnya jadi tugas perusahaan asuransi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berasuransi. dan bukannya justru memanfaatkan ketidaktahuan konsumen untuk mengeruk keuntungan tambahan sebesar2nya.

  110. loh maz kalo term-life ini ga di jual oleh agen apa juga bakalan ditawarkan di perusahaan asuransi..
    ada yang maz tau asuransi mana saja yang menawarkannya?

  111. #140: hampir semua perusahaan asuransi punya produk term life, tapi jaman sekarang kita harus tanya secara spesifik. kalau ngga kemungkinan besar ditawarin unit link.

  112. #135
    Saya adalah nasabah unit-link. Kalo anda bilang “…..untuk melayani si nasabah hingga x tahun??” ini adalah OMONG KOSONG. Agen yang mengajak saya mengikuti unit-link hanya rajin menghubungi saya (telpon, sms dan email) sebelum POLIS ditandatangani. Begitu POLIS ditandatangani, saya TIDAK PERNAH bisa menghubungi agen itu (jangan tanya apakah agennya pernah menghubungi saya, dihubungi saja tidak bisa). Akhirnya saya berhubungan langsung dengan customer service-nya dan mereka hanya ‘excuse’ saja kalau memang agen-nya tidak menyampaikan/menjelaskan overhead cost yang ada pada unit-link.

  113. #136 & #141
    Betul. Hampir semua perusahaan asuransi punya term-life. Mungkin analoginya hampir semua obat ada generik-nya.

    Analogi agen asuransi dan dokter, kalo cuma uang/komisi yang diincer maka mereka akan menjual produk yang komisinya paling/lebih gede (which is biasanya lebih mahal daripada yang komisinya lebih kecil). Dijuallah obat paten dan unit link :)

    Saya bisa bilang gini setelah dapat info dari dokternya langsung. Dia bilang “Kalo yang sakit orang berada, di-resep-kan obat paten. Kalo kurang mampu ya generik.” Tapi dia cukup fair dengan menjelaskan bahwa untuk obat paten A1 yang harganya 5X ada obat generiknya A2 yang harganya cuma X.

    Nah karena yang berduit merasa gengsi membeli obat generik yang menurut dia “murahan” maka dibelilah obat paten yang jauh lebih mahal. Ada juga sih orang kaya yang gak gengsi beli obat generik :)

    NAH Pertanyaan saya: Apakah agen asuransi sudah melakukan seperti yang dilakukan oleh dokter yang saya kenal itu??? Kan katanya mau disamain sama profesi dokter :d

  114. thx mas Pri atas wacananya.
    gw sih msh blm pake asuransi sama sekali, tp topik ini bs jd bhn renungan.
    skalian jd dbahas ttg asuransi yg syariah. krn produk2 syariah ini msh jarang dikenal.
    thx

  115. hehe unit link lagi kampanye nih.. liat kompas hari ini.. tgl 18 sept 07 sekalian promo hehe. bulan sept serentak di berbagai media koran dan tv simak aja ya??

  116. klo ga mau komisi diambil agen anda bisa kok jadi agen juga sekalian jadi nasabah jadi komisi buat agen kembali keanda fair kan infonya.. jd uang akuisisi kembali ke nasabah jga. ambil aja unit link syariah.. karena harga per unit lagi murah ni. baru 1000 an per unit ..

  117. liat juga di saluran cnn, discovery channel, metro hari ini, top news, kick andi,… ga papa buat yang tertarik aja.. saya ga maksa ..kok

  118. unit link akan serasa lebih murah jika nasabah mjd agen juga karena komisi akan kembali keagen… tidak dilarang mengageni diri sendiri…:d

  119. info dari mas pri bagus juga sih.. asal mas pri ga hanya berorientasi ama komisi dari gugel aje. … makin kontro versi makin banyak dicari, makin banyak dibaca dan makin banyak impression, dari pengunjung,.. dan makin banyak komisi..tentunya.. :d

  120. klo ga mau komisi diambil agen anda bisa kok jadi agen juga sekalian jadi nasabah jadi komisi buat agen kembali keanda fair kan infonya.. jd uang akuisisi kembali ke nasabah jga.

    di prudential? nasabah bayar biaya akuisisi 205%. tapi kalau jadi agen kita cuma dapat 99%. masih ada overhead sebesar 106% premi tahunan dan dengan demikian masih lebih murah ambil asuransi dan reksadana terpisah :). kemanakah yang 106% itu? ya sebagian masuk kantong upline :P

    nice try though :)

    ambil aja unit link syariah.. karena harga per unit lagi murah ni. baru 1000 an per unit

    ya ampun, agen yang bilang itu ‘murah’ atau ‘mahal’ artinya demen bolos waktu hari kamis :P

    penentuan harga sebesar Rp 1000/unit itu arbitrary. murah atau mahalnya gak bisa ditentukan dari situ. Rp 1000 itu cuma harga referensi. semua reksadana juga begitu, penawaran baru biasanya kasih harga Rp 1000.

    bisa aja dia bikin harga unit awal Rp 5000 atau Rp 10000, no problem. ujung2nya kan jadi penyebut juga :). yang penting itu pembilangnya, atau jumlah yang kita setorkan :P.

    kalau memang fund yang baru buka lebih cepat naiknya, itu bukan ditentukan dari Rp 1000 itu, tapi karena punya dana yang masih sedikit. makin sedikit dana makin leluasa untuk bergerak. dia bisa saja beli saham market cap kecil yang punya fundamental bagus, atau menaruh semuanya di obligasi tanpa/rendah resiko. kalau dana kelolaan sudah banyak, keuntungan ‘recehan’ gak banyak berpengaruh pada harga fund.

  121. Om Gadels….

    Kalo Om mau fair ke calon nasabah, cobalah dibeberkan semuanya. Beritahu apa plus dan minusnya unit-link dibandingkan asuransi dan investasi yang terpisah. Beberkan juga biaya akuisisi yang ditanggung nasabah.

    Kalo yang disampaikan “Eh…Beli Unit Link Syariah. Lagi murah nih. Harganya cuma 1000/unit.” Ya..elah… Mana fairness-nya? Harga 100/unit juga non-sense. Sama saja. Gak ada istilah murah/mahal. Saya dulu pernah membeli unit link seharga 90/unit.

  122. klo mau biaya akuisisi murah di produk PIA AJA jangan PAA dan PIA cenderung alokasi keinvestasi. komisi buat agen cma 3%. tahun pertama dah balik modal+ return dari investasi cukup menarik diatas 12 % dilihat dari rata rata hasil pertahunnya. tapi yang di cover cma jiwanya, sedangkan asuransi kesehatannya tidak om.. tingal pilih …:d/

  123. #153: PIA memang jauh lebih efisien dibanding PAA, tapi masih lebih efisien reksadana kalau niatnya hanya untuk berinvestasi:

    * biaya setor di PIA 5%, di reksadana paling sial cuma 3%
    * asuransi jiwa tidak bisa dieliminasi

    kalau mau unbundle PIA gampang: setor dananya ke reksadana. ambil term life 1 tahun dengan UP 125% nilai investasi. perpanjang terus (2-3 tahunan) sampai nilai investasi kita mencapai 125% modal awal.

    tapi untuk kebanyakan kasus, ngambil asuransi jiwa lebih baik memperhitungkan seluruh aspek kehidupan, bukan hanya untuk melindungi investasi saja. kalau mengambil beberapa asuransi jiwa secara terpisah, hasilnya tidak akan efisien.

  124. Bagi yang tertarik jadi agen … ,suka tantangan, punya banyak relasi, ingin berpenghasilan layak, memiliki motivasi tinggi, silahkan bergabung. boleh contact saya di *********@yahoo.com. sebagai informasi beberapa agen saya dari berbagai profesi :
    -Dokter
    -Manajer Perusahaan
    peluang sangat terbuka..

  125. Jadilah agen plus berinvestasi di PIA bisa untung diatas 12 persen pertahun.. komisi masuk ke saku anda kembali.. murah dan menguntungkan bukan??

    :d

  126. #156: maaf di sini bukan tempat promosi :)

    #157:

    Jadilah agen plus berinvestasi di PIA bisa untung diatas 12 persen pertahun.. komisi masuk ke saku anda kembali.. murah dan menguntungkan bukan??

    tapi upline (anda) yang dapat komisi :). ini masih di luar komisi manajer investasi etc etc. tetap masih lebih menguntungkan reksadana.

  127. #155
    Kalo mau yang gainnya bisa lebih (risk-nya juga tentu) ikut saja bursa saham via perusahaan securitas. Fee jual+beli paling tinggi 0.7% (ada juga yang sampai 3% – cari yang 0.7% lah atau kurang).

    Kalo reksadana ada yang:
    Investment & Management Fee: 1.75%
    Custodian Fee: 0.25%
    (Total 2%)

    Ada juga:
    Investment & Management Fee: 1%
    Custodian fee: 0.25%
    (Total 1.25%)

    3% emang apes banget :)

  128. Om Gadels kayaknya belum baca posting Om Pri sebelumnya yang gak ngijinin iklan/promosi. Kecuali dengan kesepakatan terlebih dulu. Hihihi…

    Saya kayaknya lebih cocok jadi financial advisor (FA murni bukan versi perusahaan penjual unit-link) daripada agen asuransi.

    Beberapa orang yang saya berikan advise sudah mulai ber-investasi dan berasuransi. Ada juga yang sudah ‘terlanjur’ membeli unit-link. Supaya fair, ke orang-orang saya berikan tabel perbandingan jika ikut unit-link dan membeli asuransi dan investasi secara terpisah. Termasuk semua fee yang ada.

    Saya ajarkan juga bagaimana memilih produk asuransi dan juga menghitung berapa besarnya UP yang harus diambil. Juga memilih instrument investasi sesuai profil orang itu. Termasuk membuat portofolio investasi.

    Betul seperti yang Om Pri bilang di #155: Membeli 2-3 asuransi jiwa tidak efisien (lagian ngurus klaimnya lebih ribet bukan). Apalagi membeli dari agen dan atau perusahaan yang berlainan pula :d

    Kalo alasannya buat jaga-jaga kalo perusahaan asuransinya gak mau bayar klaim ya tinggal dari awal memang harus memilih perusahaan asuransi yang terpercaya.

  129. #160: Mas Rahmat (dan siapapun yang berkenan), mengenai tabel perbandingan (up to year 20) antara Unit Link dengan Asuransi Jiwa term life + Reksadana, bisa diupload ga ya? Kalau dimungkinkan, anda bisa menggunakan studi kasus seperti ini: Umur 30thn, pria/wanita, tidak merokok, punya budget 500rb sebulan untuk proteksi dan investasi. Saya persempit lagi, dana 500rb/bulan tersebut dibagi dalam komposisi sebagai berikut: 100 ribu utk proteksi dan 400rb untuk investasi.

    Saya agak kesulitan kalo mau membagi pengetahuan ini ke kerabat yang “membutuhkan”. Saya berencana untuk menggunakan template ini untuk merealisasikan tujuan saya tersebut. Thanks in advance.

  130. #151 ambil aja unit link syariah.. karena harga per unit lagi murah ni. baru 1000 an per unit

    ya ampun, agen yang bilang itu ‘murah’ atau ‘mahal’ artinya demen bolos waktu hari kamis :P

    penentuan harga sebesar Rp 1000/unit itu arbitrary. murah atau mahalnya gak bisa ditentukan dari situ. Rp 1000 itu cuma harga referensi. semua reksadana juga begitu, penawaran baru biasanya kasih harga Rp 1000.
    ——————————
    Berselancar ke Dunia Reksadana, 50 rebuan. Mudah dimengerti, menurut saya. Jadi bisa bolos hari kamis asal baca buku. Setuju kang priyadi ? :-)

  131. #147. ambil aja unit link syariah.. karena harga per unit lagi murah ni. baru 1000 an per unit ..
    ————————
    anyway, mungkin bisa membantu laennya, bahwa harga murah unit tidak menjamin bahwa kinerjanya bagus. Yang membuat kinerja bagus itu justru dari MI dan efek yang terdapat dalam unit tersebut. mau harga 10.000 kalo kinerja 50% setahun nilai rupiahnya juga sama aja.

    Modal 100jt, harga unit 1000.
    Jumlah unit didapatkan 100.000 unit
    Kinerja 50%, harga unit menjadi 1500
    Hasil redemption 150jt

    Modal 100jt, harga unit 5000
    Jumlah unit didapatkan 20.000 unit
    Kinerja 50%, harga unit menjadi 7500
    Hasil redemption 150jt

    Murahnya unit biasanya karena usianya masih muda, alias baru diluncurkan, atau emang jelek banget kinerjanya.

    Basi deh kemaren AAJI gembargembor Proud To Be Professional Agent kalo masalah NAB murah aja salah kaprah ;-)

  132. #128
    nasabah asuransi term life punya opsi untuk memperpanjang kontrak asuransi sesuai dengan harga premi yang sudah ditetapkan sebelumnya tanpa syarat sama sekali (tidak perlu lagi medical dll dsb)

    Betul mas…tapi untuk memperpanjang diperlukan situasi dimana nasabah dalam keadaan sadar? Begitu gak mas pri? atau ada perusahaan yg mau memperpanjang kontrak (new contract)dengan nasabah yg sedang dalam keadaan koma?

    Bagi saya term life hanya cocok untuk jangka pendek (plg lama 10 tahun) setelah itu lebih baik menggunakan whole life atau unit. Karena pada akhirnya biaya untuk membeli term life hampir sama dengan membeli whole life. Malah pada whole kita mendapatkan bonus nilai tunai.

  133. #165:

    Betul mas…tapi untuk memperpanjang diperlukan situasi dimana nasabah dalam keadaan sadar? Begitu gak mas pri? atau ada perusahaan yg mau memperpanjang kontrak (new contract)dengan nasabah yg sedang dalam keadaan koma?

    ini sih gampang diwakilkan. kurang lebih sama dengan asuransi aset (mobil, rumah, dsb). asal bayar polis pasti terbit. asalkan si tertanggung gak sudah mati aja hehehe.

    Bagi saya term life hanya cocok untuk jangka pendek (plg lama 10 tahun) setelah itu lebih baik menggunakan whole life atau unit. Karena pada akhirnya biaya untuk membeli term life hampir sama dengan membeli whole life. Malah pada whole kita mendapatkan bonus nilai tunai.

    anda lupa kalau asuransi jiwa tidak perlu diambil seumur hidup. silakan baca lagi penjelasan saya di atas. kalau pake term life kita bisa batalkan kalau kita sudah gak butuh asuransi jiwa. misalnya kalau besar simpanan kita dikurangi kewajiban sudah melebihi nilai UP asuransi jiwa.

    kalau kita ngambil term life seumur hidup, biaya yang kita keluarkan memang sama dengan whole life. tapi kenyataannya kita gak perlu asuransi seumur hidup.

    bonus nilai tunai di whole life juga berasal dari yang kita setorkan, masa sih ada perusahaan asuransi yang mau kasih duit gratis hehehe. hampir bisa dipastikan kalau nilai tunai di whole life gak bakalan semaksimal buy term and invest the difference

  134. gak semua orang punya simpanan Kekayaan cadangan yang cukup… gak semua orang siap menghadapi masa kritis … term life murah tapi gak praktis…mendingan mahalan dikit tapi simpel.. krn di prosuk unit link semua di cover, taj harus orang meningal dulu.. tapi baru sakit kritis.. udah ada dana pertanggungan.sakit jga dibayarin, mati juga.., tabungan ada..

  135. kbanyakan orang ingin sesuatu yang mudah walau itu agak mahal.. dibanding harus berulang kali ngurus perpanjangan.. karena kebanyakan orang sering lupa.. dengan hal hal yang mereka anggap sepele

  136. kbanyakan orang ingin sesuatu yang mudah walau itu agak mahal.. dibanding harus berulang kali ngurus perpanjangan.. karena kebanyakan orang sering lupa.. dengan hal hal yang mereka anggap sepele..

  137. apabila ada situasi orang lupa perpanjang term life.. padahal dia sanggat membutuhkannya… lagi sakit kritis..uang ga ada .. harta paspasan.. utang ga ada sodara…gimana bayar rumah sakit???

  138. apabila ada situasi orang lupa perpanjang term life.. padahal dia sanggat membutuhkannya… lagi sakit kritis..uang ga ada .. harta paspasan.. utang ga ada sodara…gimana bayar rumah sakit???padahal orangnya ga mati mati…hehe..

  139. klo orang mati gak jadi masalah..kangsung kubur oke oke aja… klo sakit kritis?? dan ga sembuh sembuh?? bisa jadi kere mendadak..:) mana ada perusahaan asuransi kesehatan menerima orang sakit??

  140. gak semua orang siap menghadapi masa kritis … term life murah tapi gak praktis…mendingan mahalan dikit tapi simpel.. krn di prosuk unit link semua di cover, taj harus orang meningal dulu.. tapi baru sakit kritis.. udah ada dana pertanggungan.sakit jga dibayarin, mati juga.., tabungan ada..

    di beberapa produk term life juga ada rider critical illness. anda bicara seakan2 itu hanya ada di unit link :)

    kbanyakan orang ingin sesuatu yang mudah walau itu agak mahal.. dibanding harus berulang kali ngurus perpanjangan.. karena kebanyakan orang sering lupa.. dengan hal hal yang mereka anggap sepele

    yup, orang beli unit link karena alasan kepraktisan (mudah2an bukan karena ketidaktahuan ya hehehe). masalahnya: apakah biaya ekstra tersebut sebanding dengan kepraktisan yang diberikan? untuk saya pribadi sih jawabannya TIDAK SAMA SEKALI :).

    apabila ada situasi orang lupa perpanjang term life.. padahal dia sanggat membutuhkannya… lagi sakit kritis..uang ga ada .. harta paspasan.. utang ga ada sodara…gimana bayar rumah sakit???padahal orangnya ga mati mati…hehe..

    anda mulai mengada2 :). kalau harta pas2an, ikut unit link justru bakalan lebih menderita. kalau untuk bayar term life gak ada uang, maka untuk bayar unit link pasti lebih gak ada uang lagi :P

  141. #167 – #173 Om Gadels….

    Kalo anda gembar-gembor menjadi agen yang profesional, tolong mulai dengan transparan ke public/calon nasabah/nasabah anda.

    Sebenernya simple aja: Unit Link = Asuransi + Investasi dengan biaya akuisisi atau fee atau administrasi yang jauh lebih tinggi (kayak obat generik sama obat paten kali bedanya).

    Kalo anda menjelaskan jenis2 asuransi yang ada dengan plus minusnya dan jenis2 investasi yang ada dengan plus minusnya kemudian menawarkan unit-link dengan plus minus dan biaya-biaya over headnya secara transparan baru saya setuju kalo anda adalah agen yang profesional.

    Jika setelah calon nasabah menyadari plus minusnya dan memutuskan untuk mengambil unit-link ya rejeki sampeyan. Gitu aja kok repot.

    Om Gadels menjelaskan panjang lebar kelebihan2 unit-link dengan segala perlindungannya, tapi lupa bahwa untuk semua perlindungan yang ada tersebut kita harus membayar premi bermacam-macam. BETUL TIDAK??? Saya yakin Om Pri bisa menunjukkan perincian premi apa saja yang harus kita bayar saat membeli Unit-Link.

    Memangnya ‘Perusahaan Penjual Unit-Link (PPUL)’ menyediakan semua manfaat asuransi tersebut secara cuma-cuma??? Mimpi Kali Yee. PPUL itu kan nantinya membeli premi dari perusahaan asuransi juga. Jadi apa bedanya beli lewat PPUL dengan beli langsung yang sesuai dengan kondisi saat ini. Hehehe……

  142. Om Pri… Maaf…jadi berulang2.

    #161 Maaf lagi (mumpung lagi bulan ramadhan, bulan penuh ampunan)… Karena blog ini punya Om Pri dan saya hanya tamu ya gak bisa upload-download. Paling bisa Copy-Paste. Hehehe…

    #171 Om Gadels,kalo di Unit-Link ada premi2 untuk kondisi2 yang disebutkan, tentu bisa diambil juga premi asuransi untuk kondisi itu dengan term yang sesuai kebutuhan. Intinya Asuransi adalah memindahkan resiko keuangan. Kita bisa memindahkan seluruhnya atau sebagiannya. Kayak mobil juga ada yang All Risk dan Total Loss Only. Terserah kita mau ambil yang mana?

    Untuk kita kan ada Asuransi Jiwa (UP bisa disesuaikan dengan resiko dan alokasi kita), Asuransi Kesehatan (mau yang seperti apa bisa diatur sesuai kemampuan kita membayar premi),dll.

    Saya pribadi karena sudah ditanggung company 100% untuk kesehatan (rawat inap di ruang VIP). Ya belum perlu lah ambil asuransi kesehatan segala. Kecuali kalau mau dapet duit tambahan selagi kita sakit (kalo duitnya bisa kita klaim). Begitu pula anggota keluarga.

    Untuk Jiwa, sebenarnya saya tidak memiliki hutang (kecuali pemakaian KK bulanan yang 1-2jt). Rumah dah lunas, mobil dah lunas. Investasi yang ada (reksadana, deposito,tabungan,valas, dll) cukuplah buat 3 tahun ke depan (jika tingkat pengeluaran bulanan sama dengan saat ini atau boleh dibilang gain dari investasinya mampu meng-cover inflasi dan peningkatan kebutuhan keluarga).

  143. klo dibandingkan dengan obat.. asuransi memang sedikit beda.. profesi saya pernah menjadi medical representative prshn farmasi. kualitas absorbsi obat paten dan obat generik sangat jauh berbeda.. karena, berberapa hal : – kualitas bahan (asal: jerman, india , dan cina jelas berbeda kualitasnya)
    – campuran generik istilahnya” banyakan tepungnya”
    -dll…bla bla /..
    karena obat ada tes bioequivalen.. nah disitu keliatan. kualitas obat….ada harga ada rupa…

  144. “Om Gadels menjelaskan panjang lebar kelebihan2 unit-link dengan segala perlindungannya, tapi lupa bahwa untuk semua perlindungan yang ada tersebut kita harus membayar premi bermacam-macam. BETUL TIDAK??? Saya yakin Om Pri bisa menunjukkan perincian premi apa saja yang harus kita bayar saat membeli Unit-Link”

    emm disitu letak perbedaannya, produk unit link cenderung bersifat all risk.. praktis meski agak mahal.. karena hampir semua manfaat di cover. sehingga scara psikologis orang yang tak mau repot justru memilih unit link…
    oh ya.. bagi seorang karyawan memang 100 prsen asuransi kesehatan ditanggung perusahaan, saya pernah jadi karyawan juga lho??.dalam hal ini suatu saat orang pasti terlepas dari perusahaan oleh karena beberapa faktor seperti : pindah atau pensiun. nah… dengan demikian membeli asuransi pribadi sangat di sarankan… karena HIDUP TAK SESUAI DENGAN PESANAN. nah dengan asuransi model unit link.. secara tidak langsung nasabah dipaksa untuk tertib menabung..sedikit demi sedikit..meski terkesan rugi, tapi efek jangka panjangnya pasti dangat menguntungkan…

  145. “Om Gadels menjelaskan panjang lebar kelebihan2 unit-link dengan segala perlindungannya, tapi lupa bahwa untuk semua perlindungan yang ada tersebut kita harus membayar premi bermacam-macam. BETUL TIDAK??? Saya yakin Om Pri bisa menunjukkan perincian premi apa saja yang harus kita bayar saat membeli Unit-Link”

    emm disitu letak perbedaannya, produk unit link cenderung bersifat all risk.. praktis meski agak mahal.. karena hampir semua manfaat di cover. sehingga scara psikologis orang yang tak mau repot justru memilih unit link…
    oh ya.. bagi seorang karyawan memang 100 prsen asuransi kesehatan ditanggung perusahaan, saya pernah jadi karyawan juga lho??.dalam hal ini suatu saat orang pasti terlepas dari perusahaan oleh karena beberapa faktor seperti : pindah atau pensiun. nah… dengan demikian membeli asuransi pribadi sangat di sarankan… karena HIDUP TAK SESUAI DENGAN PESANAN. nah dengan asuransi model unit link.. secara tidak langsung nasabah dipaksa untuk tertib menabung..sedikit demi sedikit..meski terkesan rugi, tapi efek jangka panjangnya pasti dangat menguntungkan…dan si nasabah jadi terbiasa menyisihkan.. uang sehingga mengurangi resiko kealpaan..

  146. #155 tapi untuk kebanyakan kasus, ngambil asuransi jiwa lebih baik memperhitungkan seluruh aspek kehidupan, bukan hanya untuk melindungi investasi saja. kalau mengambil beberapa asuransi jiwa secara terpisah, hasilnya tidak akan efisien.
    —————————

    setuju untuk memperhitungkan seluruh aspek kehidupan dalam mengambil asuransi jiwa.

    tetapi untuk mengambil beberapa asuransi jiwa secara terpisah tidak efisien ..

    hmmm … sebenarnya gak juga mas. profil nasabah bisa berbeda. oke kalau profilnya adalah karyawan. tetapi ketika profil nasabah tersebut adalah pengusaha, maka cara berpikirnya mungkin sedikit berbeda.
    Saya pernah bertemu nasabah yang punya pikiran seperti ini :

    Dia menyiapkan uang 3M didepositonya untuk warisannya nanti. Tetapi dia berubah pikiran ketika dia disarankan bahwa akan lebih bijak, lebih baik beli whole life dengan UP 3M, sehingga duit didepositonya, dapat diambil sebagian untuk diinvestasikan kepada yang lain. Misal pembuatan pabrik barunya, yang nantinya bisa diwariskan juga ke anaknya. Wholelife lebih cocok dengan profil nasabah yang menginginkan warisan bagi anakcucunya, daripada dia menyimpan duitnya dideposito. Sementara instrumen investasinya dia gunakan dengan cara mengembangkan core bisnisnya. Dan dia pun membeli beberapa polis untuk anak2nya, yang tujuan awalnya memang untuk warisan. Kalau yang terakhir ini memang keputusan dia. Saya beritahu bahwa membeli 3 polis dengan UP masing2 x rupiah, lebih mahal daripada membeli satu polis dengan UP 3x rupiah. Karena adanya bandrate.

    Ada juga pengusaha yang beli termlife hanya untuk mengcover hutang2nya dibank, karena murah. Untuk warisannya dia pake wholelife.

    IMHO sih …
    Beda profil nasabah, beda perlakuan.

    Akhirnya, kembali lagi ke agennya … ;-)

  147. #175 Om Gadels menjelaskan panjang lebar kelebihan2 unit-link dengan segala perlindungannya, tapi lupa bahwa untuk semua perlindungan yang ada tersebut kita harus membayar premi bermacam-macam. BETUL TIDAK??? Saya yakin Om Pri bisa menunjukkan perincian premi apa saja yang harus kita bayar saat membeli Unit-Link.
    ——————————————-

    Biaya akuisisi ? setuju, ada yang perlu dibayarkan.

    Bermacam2 premi …

    Tidak juga sih. Unitlink adalah produk dasarnya. Yang membuat bermacam2 itu biasanya raider, ada penyakit kritis, accidental death, waiver of premium, hospital, dll.

    Naaahhhh …. masalahnya …
    Dari beberapa agen yang jualan unitlink doang, yang saya temui, ngotot kalo ini bukan raider, tapi satu kesatuan dari produknya.
    Mengapa mereka mengatakan demikian ?
    Karena polisnya berkata demikian. Sehingga seakan2 premi yang lain2 itu hukumnya wajib. Padahal mereka dapat dilepas dan dipasang kapanpun nasabah merasa perlu.

    Salahkan polisnya ? Kagak, yang salah yang njelasin, alias orangnya :-)

  148. #179:

    emm disitu letak perbedaannya, produk unit link cenderung bersifat all risk.. praktis meski agak mahal.. karena hampir semua manfaat di cover. sehingga scara psikologis orang yang tak mau repot justru memilih unit link…

    sebenernya kalau dari sisi manfaat, unit link dan ngambil terpisah itu gak ada bedanya. semua yang dicover unit link juga bisa didapatkan secara terpisah. kelebihan unit link dibandingkan ngambil terpisah itu cuma satu: unit link lebih praktis. tapi tentunya kelebihan ini harus dipertimbangkan beserta harga ekstra yang perlu kita bayar.

    oh ya.. bagi seorang karyawan memang 100 prsen asuransi kesehatan ditanggung perusahaan, saya pernah jadi karyawan juga lho??.dalam hal ini suatu saat orang pasti terlepas dari perusahaan oleh karena beberapa faktor seperti : pindah atau pensiun. nah… dengan demikian membeli asuransi pribadi sangat di sarankan

    ini jelas gak bisa dipukul rata. ada pekerjaan yang masih mengcover kesehatan setelah orangnya sudah pensiun. yang jelas over insured itu bukan ide bagus, terutama asuransi kesehatan, karena kadang2 gak bisa double claim.

    harus diperhitungkan juga biasanya asruansi kesehatan gak mengcover di atas umur 65 tahun. di atas umur segitu yang dibutuhkan adalah dana dalam jumlah banyak. daripada over insured sewaktu masih dicover, lebih baik selisihnya diinvestasikan sebagai premi asuransi kesehatan pada saat kita sudah di atas 65 tahun.

    tapi apapun kasusnya, beli asuransi kesehatan dari unit link itu bukan ide yang bagus, karena kita gak bisa membatalkan unit link-nya tanpa tidak membatalkan manfaat kesehatannya. orang yang melek finansial cepat atau lambat pasti akan membatalkan asuransi unit link untuk nantinya dikonversi menjadi anuitas jiwa.

    #180:

    dan si nasabah jadi terbiasa menyisihkan.. uang sehingga mengurangi resiko kealpaan..

    sudah tahu kalau asuransi unit link dan whole life itu tingkat ‘lapse’-nya sangat tinggi sekali? disiplin itu bukan produk yang bisa dibeli. kalau tidak disiplin, unit link juga bisa ‘lapse’ dan nasabah tetap kehilangan manfaatnya.

  149. #181:

    Dia menyiapkan uang 3M didepositonya untuk warisannya nanti. Tetapi dia berubah pikiran ketika dia disarankan bahwa akan lebih bijak, lebih baik beli whole life dengan UP 3M, sehingga duit didepositonya, dapat diambil sebagian untuk diinvestasikan kepada yang lain. Misal pembuatan pabrik barunya, yang nantinya bisa diwariskan juga ke anaknya. Wholelife lebih cocok dengan profil nasabah yang menginginkan warisan bagi anakcucunya, daripada dia menyimpan duitnya dideposito. Sementara instrumen investasinya dia gunakan dengan cara mengembangkan core bisnisnya.

    kalau saya lebih baik ambil decreasing term life dengan UP 3M, sisanya dia pakai untuk diinvestasikan, sisihkan hasil investasi sebagian dalam bentuk yang likuid. kalau yield hasil investasi dalam bentuk likuid sudah mencapai 3M, batalkan term life-nya. apapun yang terjadi, penerusnya pasti dapat warisan dalam bentuk tunai minimal 3M ditambah aset keras hasil investasi.

    Dan dia pun membeli beberapa polis untuk anak2nya, yang tujuan awalnya memang untuk warisan. Kalau yang terakhir ini memang keputusan dia. Saya beritahu bahwa membeli 3 polis dengan UP masing2 x rupiah, lebih mahal daripada membeli satu polis dengan UP 3x rupiah. Karena adanya bandrate.

    kalau ini, daripada ambil beberapa polis, lebih baik ditulis saja dalam surat wasiat.

    #182:

    Karena polisnya berkata demikian. Sehingga seakan2 premi yang lain2 itu hukumnya wajib. Padahal mereka dapat dilepas dan dipasang kapanpun nasabah merasa perlu.

    hehehe. susahnya gak bisa melepas porsi asuransi jiwanya tanpa melepas ridernya :). padahal kemungkinan besar asuransi jiwanya dibatalkan lebih cepat daripada kesehatannya.

  150. #179 Ini nanya: oh ya.. bagi seorang karyawan memang 100 prsen asuransi kesehatan ditanggung perusahaan, saya pernah jadi karyawan juga lho??

    Saya prihatin sih kalo waktu Om Gadels jadi karyawan, kesehatan tidak ditanggung 100%. Saya juga pernah ditawari employment agreement dari beberapa company. Ada yang bahkan membatasi klaim sampai 2jt saja per tahun dan gigi tidak ditanggung. Ya kita kan bisa memilih company yang compensation dan benefit-nya bagus. Kanker aja ditanggung kok. Makanya KKB-nya dibaca sebelum sign agreement ;)

    Kalau pindah atau pensiun (dan tidak ditanggung company gitu ya?). Kalo pindah kan tentu cari yang lebih bagus C&B-nya. Kalo dipecat ya lain lagi. Ya tinggal ambil aja asuransi sesuai dengan yang kita inginkan. Kan saya bilang belum perlu asuransi kesehatan selama company sudah menanggungnya.

  151. #178 oh ya jangan salah lho… banyak orang kaya lebih besar utangnya dibanding aset yang dia miliki???
    ———————-

    Om Gadels kayak yang gak ngerti akuntansi saja. Kan dalam teorinya juga disebutkan Harta = Utang + Modal.

    Orang Kaya = Banyak Harta
    Bisa saja harta yang dimiliki semuanya berupa Utang atau semuanya berupa Modal atau keduanya ;)

    Kalo maksud kalimat Om Gadels di atas berarti:
    Aset = Harta sementara Utang > Aset maka Modalnya adalah (-). Ckckck… Apa gak nantinya jadi kredit macet nich?? Hehehee….

  152. #177 Anda beli obat buat kesembuhan bukan?

    Menurut saya, komposisi apa yang ada di dalamnya selama itu cocok untuk penyakit anda ya gak ada masalah toh. Ini bukan masalah ada harga ada rupa. Belum tentu harganya mahal lebih bagus kualitasnya daripada yang lebih murah.

    Atau bisa dikatakan Cost Per Performance-nya bisa jadi yang generik lebih bagus daripada yang paten (bisa jadi sebaliknya juga).

    Ada contoh lain: kawan yang jualan salak pondoh di pasar tradisional dan supermarket menerapkan harga yang berbeda untuk salak dengan kualitas sama. Alasannya: tentu saja karena “biaya-biaya di luar harga dasar” salak untuk supermarket dan pasar tradisional adalah jauh berbeda (sewa kios, dll).

    Sebagai Medical Reps. anda punya data tidak “Efektifitas Obat Paten vs Obat Generik”? Kalo ada bukti (minimal statistik) bahwa dengan Obat Paten, 68% kesembuhan pasien 3x lebih cepat daripada Obat Generik, maka 68% pasien akan rela merogok kocek lebih dalam (anggaplah 3x) untuk membeli Obat Paten. :d

    Lah yang saya tahu malah sebaliknya, 68% pasien lebih cocok dengan obat generik daripada obat paten. Cocok dengan harganya maksudnya. :))

  153. obat dengan memiliki kandungan yang sama memeiliki efektifitas yang sama. akan tetapi, kecepatan absorbsi kedalam tubuh, efek samping dari campuran, jelas berbeda…

  154. #188
    akan tetapi, kecepatan absorbsi kedalam tubuh, efek samping dari campuran, jelas berbeda…
    =====

    Wah…anda perlu tahu juga bahwa karena kondisi pasien adalah unik (berbeda-beda). Kadang yang anda sebut kelebihan obat paten malah bisa jadi kekurangannya. yang jelas, kalo sama-sama menyembuhkan saya cukup yakin 68% orang pilih yang jauh lebih murah.

    Pertanyaan saya sebenernya: Apakah harga mahal obat paten itu worth it atau cuma sekadar nama dan gengsi aja. Belum tentu kita perlukan “nilai plus-nya”.

    Kan ada obat yang “tidak menyebabkan ngantuk”. Buat yang mengendarai kendaraan ya bagus, buat saya malah lebih cocok yang “menyebabkan ngantuk”. Biar tidur dan istirahat aja sekalian jadi gak perlu kerja :d

    Sama dengan Unit Link lah. Buat yang merasa nyaman dengan ‘nilai plus’ Unit Link dan mau membayar lebih mahal (dibandingkan dibeli terpisah) ya silahkan. Buat yang mau lebih efektif dalam ber-asuransi dan ber-investasi ya bisa menggunakan prinsip “buy term and invest the difference”.

    Anyway, penjelasan-penjelasan Om Gadels emang menunjukkan bahwa Om Gadels adalah agen asuransi dan medical reps yang memahami betul bagaimana memasarkan produknya (obat/produk) ;)

  155. #181:
    kalau saya lebih baik ambil decreasing term life dengan UP 3M, sisanya dia pakai untuk diinvestasikan, sisihkan hasil investasi sebagian dalam bentuk yang likuid. kalau yield hasil investasi dalam bentuk likuid sudah mencapai 3M, batalkan term life-nya. apapun yang terjadi, penerusnya pasti dapat warisan dalam bentuk tunai minimal 3M ditambah aset keras hasil investasi.
    ——————————
    nah itulah, kembali ke profil nasabah. dia sih pede aja idup sampe usia lebih dari 70, ekspektasinya tinggi. kalau sudah seperti ini mau ditawarin termilife sulit juga. kembali ke nasabah kok, yang penting agennya mau jelasin didepan.

    ——————————-
    kalau ini, daripada ambil beberapa polis, lebih baik ditulis saja dalam surat wasiat.
    —————————–
    betul, tapi ya itu lagi. terserah nasabahnya juga. yang penting udah dijelasin. beberapa orang punya “gengsi” yang lebih jika punya banyak polis. dan ini nyata loh .. indonesia banget :-)

    ———————————
    hehehe. susahnya gak bisa melepas porsi asuransi jiwanya tanpa melepas ridernya :). padahal kemungkinan besar asuransi jiwanya dibatalkan lebih cepat daripada kesehatannya.
    ———————————
    yup, kembali lagi ke komisi mas. semakin banyak rider, premi jadi naek. hasilnya, bukan benar2 kebutuhan pelanggan, tetapi dibuat seperti kebutuhan pelanggan.

    Itulah Indonesia Raya ….. ;-)

  156. Pak Priyadi bisa di sebutkan asuransi mana yang bisa term life dengan bayar Rp 300 ribu per th UP 100jt ? jika bisa yang ada tambahan utk penyakit kronis. karena saya tanya ke axa mandiri minimal premi 1,5jt berarti UP 500jt

  157. #191: AXA mandiri memang gak bisa dibeli di bawah UP 600 juta kalau gak salah. coba anda tanya ke asuransi yang lain. bank2 besar biasanya juga punya kerjasama dengan perusahaan asuransi.

  158. klo pengin asuransi murah biasanya susah klaimnya..terlalu banyak syarat, yag harus dipenuhi.. sudah terbukti bageeet…

  159. Ini contoh ilustrasi versi Unit link saya (dlm proses likuidasi):

    – Porsi Asuransi 3,2 juta per tahun
    – Porsi investasi 1 juta per tahun
    – Premi di bayar bulanan (350rb perbulan)

    UP :
    Asuransi dasar (99 thn) 60 jt
    Rider:
    – Crisis cover 160 jt (65 thn)
    – Medical : 120 rb per hari (65 Thn)
    – Kecelakaan : 50 jt (60 thn)

    Biaya2 yang diibebankan
    Tahun I
    – Biaya akuisisi : 100% x 3,2 juta = 3,2 juta.
    – Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
    – Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb (dipotong dari Unit yg
    terbentuk di thn ke-2 dst n bisa berubah sewaktu-waktu)
    – Biaya Asuransi +/- 980 rb (di potong dari unit yang terbentuk ditahun
    ke-2 dst)

    Tahun II
    – Biaya akuisisi 60% x 3,2 juta = 1,92 juta.
    – Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
    – Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
    – Biaya Asuransi +/- 1020 rb (naik berdasarkan umur)

    Tahun III
    – Biaya akuisisi 15% x 3,2 juta = 480 rb juta.
    – Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
    – Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
    – Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
    thn ke-2)

    Tahun IV

    Idem dengan tahun III

    Tahun Ke V

    Idem dengan tahun III

    Tahun Ke -6 s/d Thn ke-10
    – Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
    – Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
    – Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
    thn ke-2, yang pasti naik terus berdasarkan umur)

    Tahun ke sebelas dan seterusnya katanya cuti premi, tapi kalau dana
    investasi yang ada ngga cukup untuk bayar biaya asuransi (akan meningkat
    berdasarkan umur) maka kita diminta bayar premi lagi, kalau ngga mau
    bayar, polis kita lapse (batal)!!!!!

    Trus kalo ngga salah, kalo mau nggambil porsi investasi kita di bawah
    tiga tahun kena pajak 20%.

    Ada yang mau koreksi?

  160. Wah.wah.wah…
    Dari postingan yang saya baca, sepertinya masih banyak orang yang masih belum percaya dengan produk Unit Link. Padahal Unit Link itu bagus banget loh. Menurut saya Mas Pri sendiri masih kurang mengerti ttg manfaat Unit Link. Misalnya seperti tulisan Mas Pri di sini :
    [[“Saya membeli unit link atau asuransi whole life dengan tujuan utama untuk berinvestasi, bukan untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa.”

    Ini adalah salah kaprah yang sangat meluas. Karena unit link memiliki komponen asuransi jiwa, maka tidak ada alasan untuk membeli unit link dengan tujuan berinvestasi. Dengan cara ini nasabah hanya akan memberi uang dengan gratis kepada perusahaan asuransi jiwa tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan.]]

    Menurut saya tulisan tersebut seolah berkata Unit Link kurang berguna. Karena tujuan utama orang memilih produk Unit Link adalah untuk menabung dan mendapatkan proteksi. Jadi ada 2 manfaat dalam 1 produk. Biaya akuisisi yang tinggi memang rasanya cukup memberatkan untuk jangka waktu yang pendek. Tapi tujuan orang memilih Unit Link adalah investasi dan proteksi jangka panjang.

    Misalnya saya ambil 500rb/bln mendapatkan manfaat :
    – meninggal : 150 jt
    – kecelakaan : 100 jt
    – sakit kritis : 100 jt
    – bebas premi jika sakit kritis : 500rb/bln sampai usia 65 thn
    – rawat inap : 360rb/hari

    Sedangkan total akuisisi misalnya 7 juta. Untuk jangka panjang (mis : 15 tahun), coba Mas Priyadi perhitungkan dengan faktor inflasi. Apakah angka 7 juta itu masih memberatkan ?? Sedangkan nilai tunai Mas Pri di Unit Link sudah berkembang jauh daripada itu.

    Dan selama 15 tahun Mas Pri sudah mendapatkan manfaat proteksi. Dan ternyata Mas Pri setelah 15 tahun sehat-sehat saja dan tak pernah dirwat inap sekalipun, seharusnya bersyukur. Tapi bagaimana kalau dalam 15 tahun itu ada musibah, apakah Mas Pri bakal keberatan dengan akuisisi 7 juta tsb. Saya pikir tidak.

    Secara singkat saya bisa menjelaskan manfaat memiliki Unit Link :
    – Apabila saya berumur panjang, maka Unit Link menjadi tabungan di hari tua
    – Apabila saya mendapatkan musibah, maka Unit Link menjadi proteksi yang efektif/handal.

    Sebagai nasabah, saya merasa sangat puas dengan Unit Link. Dan kebetulan saya mendapatkan seorang agen yang bisa menjelaskan secara transparan mengenai biaya dan manfaat yang saya dapatkan. Jika ada yang kecewa dengan perusahaan tertentu karena ulah agennya, saya turut prihatin. Seharusnya konsultasikan dengan customer care perusahaan asuransi tsb, untuk minta penggantian agen.

    Seorang agen seharusnya tidak menyarankan mengambil Unit Link dengan premi yang tinggi-tinggi. Premi harus disesuaikan dengan pendapatan seseorang. Misalnya saya disarankan hanya perlu menyisihkan 15% dari pendapatan saya untuk ditaruh di Unit Link. Dan setelah dihitung-hitung memang angka 15% cukup masuk akal, padahal semula saya maunya lebih dari itu karena saya termasuk orang yg pandai menabung.

  161. #198:

    Dari postingan yang saya baca, sepertinya masih banyak orang yang masih belum percaya dengan produk Unit Link.

    dari pengalaman saya, sepertinya masih banyak orang yang tidak mengerti produk unit link :)

    Menurut saya tulisan tersebut seolah berkata Unit Link kurang berguna. Karena tujuan utama orang memilih produk Unit Link adalah untuk menabung dan mendapatkan proteksi. Jadi ada 2 manfaat dalam 1 produk

    betul sekali. jadi kalau nasabah gak perlu asuransi, maka dia gak perlu unit link, setuju? kalau nasabah tidak perlu asuransi, tapi perlu investasi, maka dia gak perlu unit link. setuju?

    yang gak perlu asuransi itu misalnya orang yang gak punya tanggungan, anak di bawah umur dan orang tua yang tidak punya penghasilan. masalahnya saya masih melihat agen2 asuransi ini menawarkan produk unit link ke orang yang tidak memerlukannya. selain itu beberapa unit link juga diproyeksikan untuk diambil untuk selamanya (ada yang sampai 99 tahun!).

    Biaya akuisisi yang tinggi memang rasanya cukup memberatkan untuk jangka waktu yang pendek. Tapi tujuan orang memilih Unit Link adalah investasi dan proteksi jangka panjang.

    wah, konsumen sih bebas2 aja untuk ambil produk yang lebih murah. bisa aja agen asuransi bilang biaya akuisisi itu untuk jangka waktu yang pendek, tapi kalau ada alternatif yang sama sekali gak ada biaya akuisisi, kenapa juga kita harus menolak?

    Misalnya saya ambil 500rb/bln mendapatkan manfaat :
    – meninggal : 150 jt
    – kecelakaan : 100 jt
    – sakit kritis : 100 jt
    – bebas premi jika sakit kritis : 500rb/bln sampai usia 65 thn
    – rawat inap : 360rb/hari

    buset. bayar 6 juta per tahun cuma dapat segitu? :)

    sebagai perbandingan saja, pada usia 30 tahun, 2 juta/tahun sudah bisa dapat asuransi jiwa dengan UP minimal 500 juta + kecelakaan + sakit kritis + waiver. 3 juta/tahun sudah bisa untuk rawat inap dengan UP 500rb/hari + extensive coverage (surgical dll dsb). dan contoh harga ini saya ambil yang mahal2nya aja.

    tambahan lagi, UP 150 juta untuk meninggal rasanya masih kurang jika anda sanggup untuk menyisihkan 500 ribu/bulan. jika gaji anda 5 jt/bulan, maka 150 juta gak cukup untuk biaya hidup penerus anda selama 3-4 tahun.

    Sedangkan total akuisisi misalnya 7 juta. Untuk jangka panjang (mis : 15 tahun), coba Mas Priyadi perhitungkan dengan faktor inflasi. Apakah angka 7 juta itu masih memberatkan ?? Sedangkan nilai tunai Mas Pri di Unit Link sudah berkembang jauh daripada itu.

    tetap saja, kalau saya gak bayar biaya akuisisi, maka nilai investasi saya akan berkembang lebih jauh daripada jika saya bayar biaya akuisisi. lalu point anda apa?

    masalahnya bukan memberatkan atau tidak memberatkan. masalahnya:

    * jika saya ikut unit link, apa manfaat yang saya dapatkan dengan bayaran tambahan 7 juta itu?
    * jika saya ngambil terpisah, manfaat apa yang tidak saya dapatkan jika saya tidak membayar 7 juta itu?

    Dan selama 15 tahun Mas Pri sudah mendapatkan manfaat proteksi. Dan ternyata Mas Pri setelah 15 tahun sehat-sehat saja dan tak pernah dirwat inap sekalipun, seharusnya bersyukur. Tapi bagaimana kalau dalam 15 tahun itu ada musibah, apakah Mas Pri bakal keberatan dengan akuisisi 7 juta tsb. Saya pikir tidak.

    anda mengasumsikan saya gak ngambil asuransi. tapi sebenarnya saya mengambil asuransi dan reksadana. bedanya saya mengambilnya secara terpisah dan tidak disatukan dalam produk unit link.

    sekarang mana yang menurut anda paling menguntungkan:

    * dalam 15 tahun ada musibah + saya membayar biaya akuisisi 7 juta
    * dalam 15 tahun ada musibah + saya tidak membayar biaya akuisisi 7 juta

    kalau saya pribadi saya akan milih yang bawah :). buat saya bayar 7 juta itu harus ada justifikasinya, pelayanan yang saya dapatkan harus setara dengan 7 juta yang saya bayarkan. kalau uang yang saya bayarkan bisa dipake untuk pesiar ke luar negeri, maka saya menuntut manfaat yang sepadan dengan itu. kalau tidak lebih baik saya saja yang pesiar ke luar negeri :)

    Secara singkat saya bisa menjelaskan manfaat memiliki Unit Link :
    – Apabila saya berumur panjang, maka Unit Link menjadi tabungan di hari tua
    – Apabila saya mendapatkan musibah, maka Unit Link menjadi proteksi yang efektif/handal.

    dengan tips saya di atas, nasabah juga mendapatkan kedua keuntungan yang anda sebutkan tersebut. tapi dengan harga yang lebih murah :)

    Sebagai nasabah, saya merasa sangat puas dengan Unit Link. Dan kebetulan saya mendapatkan seorang agen yang bisa menjelaskan secara transparan mengenai biaya dan manfaat yang saya dapatkan.

    ok, tidak masalah. it’s your own money. terserah anda mau dipakai seperti apa juga.

    Seorang agen seharusnya tidak menyarankan mengambil Unit Link dengan premi yang tinggi-tinggi. Premi harus disesuaikan dengan pendapatan seseorang. Misalnya saya disarankan hanya perlu menyisihkan 15% dari pendapatan saya untuk ditaruh di Unit Link. Dan setelah dihitung-hitung memang angka 15% cukup masuk akal, padahal semula saya maunya lebih dari itu karena saya termasuk orang yg pandai menabung.

    kenyataannya, anda hanya mengambil UP 150 juta yang menurut saya sangat kurang sekali. kalau saya jadi anda, saya akan pecat agennya :)

  162. [[“buset. bayar 6 juta per tahun cuma dapat segitu?”]]
    Maka dari itu saya bilang Mas Pri kurang mengerti Unit Link. Bedakan biaya akuisisi, premi bulanan, dan biaya asuransi.

    Jika Mas Pri baca proposal dengan jelas, produk Unit Link yang saya punya ada menyertakan biaya asuransi bulanan. Kebetulan proposal saya dibuat ketika baru berusia 26 tahun (sekarang 28), jadi biaya asuransi yang saya bayarkan tiap bulan sekitar 86 ribu, dan dalam setahun sekitar 1jt.

    [[“* dalam 15 tahun ada musibah + saya tidak membayar biaya akuisisi 7 juta”]]
    Memang sih Mas Pri tidak membayar akuisisi 7 juta utk 15 tahun, tapi Mas Pri membayar premi asuransi selama 15 tahun. Tarohlah untuk mendapatkan manfaat seperti punya saya, harus bayar premi pertahun 1jt. Jadi total yang dikeluarkan 15juta, dengan asumsi tidak terjadi kenaikan biaya asuransi pertahun karena faktor usia.

    Sedangkan saya yang ambil Unit Link tidak perlu pusing soal biaya asuransi karena dipotong dari hasil investasi. Saya menganggap akuisisi 7 juta tsb sebagai uang capek telah mengurus investasi dan asuransi saya selama 15 tahun atau bahkan seumur hidup.

    Kalau Mas Pri tidak mendapatkan pelayanan yang bagus, maka saya turut prihatin. Seharusnya Mas Pri KOmplain ke customer care perusahaan asuransi tersebut untuk minta pergantian agen. Tidak perlu berkeluh kesah disini karena pernah dikecewakan oleh agen.

    Memang tips dari Mas Pri untuk ambil reksadana + term asuransi ada bagusnya, hemat dikit lah. Tapi tidak semua orang ngerti ttg asuransi dan mau repot. Jika saya punya uang, apa salahnya keluarkan sedikit biaya untuk semua manfaat tsb, yang penting kan beres dan rapi. Urus KTP saja banyak orang bayar biro jasa kok, padahal kan simple.

    [[“yang gak perlu asuransi itu misalnya orang yang gak punya tanggungan, anak di bawah umur dan orang tua yang tidak punya penghasilan.”]]
    Pendapat Mas Pri yang mengatakan bahwa orang yang gak perlu asuransi juga kurang tepat. Anak dibawah umur dan orang tua yang ga punya penghasilan bukan tidak butuh asuransi, tapi mereka gak mampu membayar asuransi. Orang yg gak punya tanggungan juga perlu asuransi, misalnya kalau dia sakit keras dan butuh biaya berobat. Atau paling simple kalau menjadi lumpuh dan butuh dana untuk pasang alat bantu gerak.

    Saya yakin banyak menyediakan obat di rumah, walaupun sekarang sedang sehat-sehat saja. Atau mungkin juga punya payung walaupun bukan musim hujan. Buat apa?? Demikian juga dengan asuransi. Ingat kembali :
    – Apabila saya berumur panjang, maka Unit Link menjadi tabungan di hari tua
    – Apabila saya mendapatkan musibah, maka Unit Link menjadi proteksi yang efektif/handal.

    Setiap orang boleh memiliki perencanaan masa depan, tapi siapa yang menjamin tidak akan terkena musibah. Dan bagaimana cara kita mengakomodasi biaya perawatan kalau tabungan kita belum cukup.

    [[“kenyataannya, anda hanya mengambil UP 150 juta yang menurut saya sangat kurang sekali. kalau saya jadi anda, saya akan pecat agennya”]]
    Untuk sekarang ini saya merasa cukup lah. Lagipula perhitungan UP tidak cuma sekedar 150. Menurut ikhtisar polis saya :
    – Jika meninggal mendadak/sakit, dana yg keluar 250
    – Jika meninggal kecelakaan, dana yg keluar 250
    – Jika meninggal kecelakaan angkutan umum atau musibah dalam gedung umum/perkantoran/mall (kebakaran/gempa), dana yg keluar 350

    Setidaknya kalau semalam terjadi musibah pada diri saya, keluarga saya masih mendapatkan income yang saya punya sekarang untuk 3 tahun kedepan (puji Tuhan saya masih sehat-sehat saja). Dan dalam waktu 3 tahun saya yakin mereka bisa mencari penghasilan sendiri.

    Mas Pri bilang dengan 2 juta/tahun dapat 500juta + kecelakaan + sakit kritis + waiver + rumah sakit ( rawat inap 500rb/hari + operasi + ICU). Berarti manfaatnya kurang lebih sama seperti yang saya punya sekarang :)

    Tapi saya tidak menaruh semua uang saya di unit link. Sebagian dana saya taruh di reksadana, untuk jaminan masa depan kalau-kalau santunan dari asuransi tidak cukup.

    Intinya seperti yang Mas Pri bilang, bahwa orang pilih produk Unit Link karena praktis. Walaupun harus rela kehilangan sebagian dana karena diakuisisi :). Yah…dana yang diakuisisi tsb tidak seberapa lah dengan manfaat yang diperoleh.

  163. Saya menganggap akuisisi 7 juta tsb sebagai uang capek telah mengurus investasi dan asuransi saya selama 15 tahun atau bahkan seumur hidup.

    _____________________________

    Wah, anda orang yang mulia sekali, Pak

    :)

    Kalau saya tidak semulia anda, karena membayar lebih mahal 7 juta untuk sesuata yang dengan gampang saya lakukan sendiri.

    Berarti bapak dengan senang hati membayar calo2 tiket dengan harga jauh lebih mahal untuk beli tiket, padahal counter tiketnya tinggal didepan hidung dan tidak perlu antri:)

  164. Mas Pri bilang dengan 2 juta/tahun dapat 500juta + kecelakaan + sakit kritis + waiver + rumah sakit ( rawat inap 500rb/hari + operasi + ICU). Berarti manfaatnya kurang lebih sama seperti yang saya punya sekarang.
    ———————————

    Bagaimana bapak menjelaskan, saya umur 31 thn, bayar porsi premi 3,2 jt /thn, 1 jt investasi, manfaat asuransi yang saya dapet cuma:

    UP :
    Asuransi dasar (99 thn) 60 jt
    Rider:
    – Crisis cover 160 jt (65 thn)
    – Medical : 120 rb per hari (65 Thn)
    – Kecelakaan : 50 jt (60 thn)

    Ada yang bilang saya di ‘Nakali’ sama agen. Berarti ilustrasi dan polis saya PALSU?

  165. #200:

    Maka dari itu saya bilang Mas Pri kurang mengerti Unit Link. Bedakan biaya akuisisi, premi bulanan, dan biaya asuransi.

    Jika Mas Pri baca proposal dengan jelas, produk Unit Link yang saya punya ada menyertakan biaya asuransi bulanan. Kebetulan proposal saya dibuat ketika baru berusia 26 tahun (sekarang 28), jadi biaya asuransi yang saya bayarkan tiap bulan sekitar 86 ribu, dan dalam setahun sekitar 1jt.

    tebakan saya: anda agen prulink? ini yang perlu anda perhatikan:

    * biaya asuransi bulanan: biaya untuk proteksi asuransi, besarnya bertambah setiap tahun. pada ilustrasi tidak dicantumkan pertambahannya supaya keliatan murah. very convenient :)
    * premi berkala: biaya yang dibayarkan nasabah setiap bulan, besarnya pasti lebih besar daripada ‘biaya asuransi bulanan’, dan lebih tinggi daripada ‘biaya asuransi bulanan’ tertinggi seumur hidup.

    selisih ‘premi berkala’ dan ‘biaya asuransi bulanan’ masuk ke porsi investasi. yang merupakan parameter biaya akuisisi adalah ‘premi berkala’ dan bukan ‘biaya asuransi bulanan’. lebih tepatnya, biaya akuisisi total adalah 205% dikali ‘premi bulanan’ dikali 12 bulan. dari sejumlah biaya akuisisi itu, 99%-nya masuk ke kantong agen. sisa 106%-nya masuk ke kantong upline-nya si agen. jadi kalo ‘premi berkala’ Rp 500 ribu, maka nasabah bayar biaya akuisisi total adalah sebesar 12.3 juta, dan si agen yang ada di depan mata mendapatkan hampir Rp 6 juta!

    jadi, jangan bilang saya gak baca proposal dengan jelas :) hanya di unit link anda bisa kehilangan uang sebesar 12.3 juta tanpa merasa kehilangan sama sekali :)

    Sedangkan saya yang ambil Unit Link tidak perlu pusing soal biaya asuransi karena dipotong dari hasil investasi. Saya menganggap akuisisi 7 juta tsb sebagai uang capek telah mengurus investasi dan asuransi saya selama 15 tahun atau bahkan seumur hidup.

    daripada bayar 7 juta, saya lebih memilih mengerjakannya sendiri:

    * bayar asuransi cuma 1 tahun sekali, itupun bisa autodebet atau lewat ATM/internet banking
    * beli reksadana juga bisa autodebet atau ATM/internet banking
    * kalau mau bayar asuransi dari return reksadana, saya tinggal cairkan reksadana saya, ini memang gak bisa dilakukan secara elektronis, saya harus datangi kantor mereka atau kirim fax. tapi yang jelas ongkos 7 juta untuk melakukan ini sangat sangat tidak worth it.

    Kalau Mas Pri tidak mendapatkan pelayanan yang bagus, maka saya turut prihatin. Seharusnya Mas Pri KOmplain ke customer care perusahaan asuransi tersebut untuk minta pergantian agen. Tidak perlu berkeluh kesah disini karena pernah dikecewakan oleh agen.

    sebaliknya, saya beruntung kenal 2 agen yang bisa menjelaskan dengan lengkap sekali. saya cukup puas dengan agennya, tapi tidak puas dengan produknya.

    Memang tips dari Mas Pri untuk ambil reksadana + term asuransi ada bagusnya, hemat dikit lah. Tapi tidak semua orang ngerti ttg asuransi dan mau repot. Jika saya punya uang, apa salahnya keluarkan sedikit biaya untuk semua manfaat tsb, yang penting kan beres dan rapi. Urus KTP saja banyak orang bayar biro jasa kok, padahal kan simple.

    urus KTP 100 ribu juga jadi. masa urus asuransi harus keluar 7 juta? :-? yang bener aja :)

    Pendapat Mas Pri yang mengatakan bahwa orang yang gak perlu asuransi juga kurang tepat. Anak dibawah umur dan orang tua yang ga punya penghasilan bukan tidak butuh asuransi, tapi mereka gak mampu membayar asuransi. Orang yg gak punya tanggungan juga perlu asuransi, misalnya kalau dia sakit keras dan butuh biaya berobat. Atau paling simple kalau menjadi lumpuh dan butuh dana untuk pasang alat bantu gerak.

    saya bicara di sini untuk asuransi jiwa, bukan kesehatan. kalau asuransi kesehatan diperlukan selama perusahaan asuransi masih mau mengcover. contohnya: anak kecil yang gak punya penghasilan jelas gak perlu asuransi jiwa. kalau dia meninggal gak ada yang dirugikan secara finansial.

    pertanyaannya: apakah di unit link anda nasabah bisa mengambil asuransi kesehatan tanpa mengambil asuransi jiwa?

    Setiap orang boleh memiliki perencanaan masa depan, tapi siapa yang menjamin tidak akan terkena musibah. Dan bagaimana cara kita mengakomodasi biaya perawatan kalau tabungan kita belum cukup.

    oleh karena itu ikutlah asuransi kesehatan secara terpisah. nasabah akan tetap mendapatkan manfaat seperti yang anda bilang. perlindungan ini bukan fitur spesifik unit link.

    Untuk sekarang ini saya merasa cukup lah. Lagipula perhitungan UP tidak cuma sekedar 150. Menurut ikhtisar polis saya :
    – Jika meninggal mendadak/sakit, dana yg keluar 250
    – Jika meninggal kecelakaan, dana yg keluar 250
    – Jika meninggal kecelakaan angkutan umum atau musibah dalam gedung umum/perkantoran/mall (kebakaran/gempa), dana yg keluar 350

    sama saja mas. pada banyak asuransi yang lain juga ada klausul double indemnity, dimana perusahaan asuransi membayar klaim lebih banyak jika tertanggung meninggal secara tidak wajar.

    Intinya seperti yang Mas Pri bilang, bahwa orang pilih produk Unit Link karena praktis. Walaupun harus rela kehilangan sebagian dana karena diakuisisi :). Yah…dana yang diakuisisi tsb tidak seberapa lah dengan manfaat yang diperoleh.

    saya tidak yakin dengan pernyataan ini. banyak nasabah yang berhenti karena merasa dikadalin. yang belum berhenti mungkin tidak tahu kalau dia bayar biaya ekstra. di ilustrasinya saja masih mentah, dalam bentuk persen, si nasabah harus ngitung sendiri, itu pun kalau dia mengerti. padahal di lembar sebelumnya ada proyeksi investasi sampai 20 tahun! mereka mau repot2 ngitungin proyeksi investasi sampai 20 tahun yang belum pasti seperti itu, tapi mereka gak mau ngitungin biaya akuisisi yang cuma 5 tahun dan jumlahnya sudah pasti. dan untuk memberi tahu kenaikan biaya asuransi saja mereka gak bersedia. tanya kenapa?

    analoginya mirip dengan calo di stasiun gambir:

    * calo A: “saya jual tiket jakarta bandung resmi! harganya cuma Rp 120ribu! ini harga resmi! sumpah!” (padahal harga resminya cuma Rp 60 ribu)
    * calo B: “pak, daripada bapak cape antri, mendingan saya antriin, harga resminya Rp 60 ribu, tapi bapak bayar ongkos cape saya Rp 20 ribu.”

    kebanyakan nasabah ketemu agen yang mirip calo A. nasabah gak sadar kalo ada biaya ekstra yang dia keluarkan. kalau nantinya dia sadar, dia akan merasa dikadalin. idealnya seharusnya asuransi unit link berperilaku seperti calo B. kalau nasabah memilih untuk ikutan, artinya dia sadar akan biaya2 tersebut dan rela untuk membayarnya.

    walaupun demikian saya tidak yakin akan ada banyak nasabah yang rela mengeluarkan 7 juta lebih dengan ‘layanan’ yang diberikan unit link saat ini. kalau mau menjaring lebih banyak nasabah dengan tidak mengadalinya, unit link harus rela untuk menurunkan biayanya.

  166. :)>- Mencermati tulisan mas pri yang meng compare antara unitlink dengan reksadana saya kira kurang bijak,karena jelas sekali perbedaan sifat antara keduanya,unitlink adalah asuransi yang punya manfaat investasi sedangkan reksadana adalah investasi murni. Jadi apanya yang di compare?? mestinya unitlink vs asuransi tradisional yang punya manfaat nilai tunai,nah ini baru kelasnya….atau reksadana vs investasi lainya( contoh : emas,dolar ). Mari berasuransi dengan bijak dan sesuaikan kebutuhan dan tujuan masadepan kita. Pesan untuk mas pri: kalau anda tidak cakap dibidang ini jangan sembarang menulis,karena akan menggiring opini publik yang salah.

  167. @Mas Priyadi
    [[“tebakan saya: anda agen prulink?”]]

    Bukan agen, tapi mungkin jadi calon. Saya hanya nasabah saja. Tapi saya pernah diprospek jadi agen prulink dan alianz karena saya dianggap punya potensi :D. Gak tau nih mau milih yg mana, keduanya kelihatan menarik :).
    Maka dari itu saya cukup mengerti produk Unit Link dan segala macam biaya akuisisinya. Saya merasa cukup fair membayar akuisisi tsb di tahun awal, karena tujuan saya ambil produk Unit Link untuk jangka panjang.

    Untuk kontrak polis saya, saya dikenakan total biaya akuisisi sekitar 7jt, dari tahun 1-5. Memang sih untuk nilai sekarang cukup tinggi, tapi 10 tahun kemudian 7jt sudah saya dapatkan kembali dari pengelolaan investasi di Unit Link.

    Seperti yang saya bilang, uang 7 juta itu saya anggap sebagai uang capek karena agen sudah bantu saya urus polis dan klaim. Setiap orang bekerja/dagang tentunya buat cari uang donk.

    Mas Pri aja rela ngeluarin duit 100rb buat KTP, padahal di kantor kecamatan selalu ditempelkan tulisan “BIAYA KTP GRATIS”. Paling juga berikan uang rokok 20rb buat camat dan tukang ngetik. Berarti si agen Biro jasa itu udah untung 80rb, untuk manfaat yg 20rb. Berarti dia untung 400%.

    Uang jasa utk manfaat asuransi memang kadang terasa mahal, kalau dibandingkan dengan jasa antri tiket kereta Jkt-Bandung yg cuma 20rb. Disini calo tiket untung 30% dari manfaat 60rb.

    Sedangkan nilai sebuah polis bisa ratusan juta, sedangkan kita hanya perlu mengeluarkan uang capek yang paling 10% dari nilai polis. Masa dibilang mahal??

    Kalau kita langsung beli sendiri ke perusahaan asuransinya, nanti siapa yang bantu ngurus klaim dan administrasi.
    Silahkan pilih :
    – Bayar murah, ngurus susah, atau
    – Bayar lebih mahal, ngurus gampang.

    [[“dan untuk memberi tahu kenaikan biaya asuransi saja mereka gak bersedia. tanya kenapa?”]]

    Di laporan transaksi awal polis saya, ada dicantumkan perincian biaya asuransi untuk yg 2 tahun mendatang. Di laporan tahunan juga dikasih tau perincian utk tahun berikutnya. Saya lihat sih kenaikan biaya asuransi per-2 tahun.

    Kalau masih ada info yang kurang jelas mengenai Unit Link, ada 2 kemungkinan :
    – agen tsb lupa memberitahukan atau tidak profesional
    – nasabah yang tidak mengerti, dan tidak tau apa yang harus ditanyakan.

    Menurut info agen saya, kebanyakan adalah kasus yang kedua. Termasuk saya sendiri pada awalnya. Saya mulai mengerti ketika diprospek jadi agen. Barangkali Mas Pri bisa jadi nasabah pertama saya. Nanti saya bela-belain ikut training dan ujian lisensi keagenan.

    @Bapak bravo
    [[“Berarti bapak dengan senang hati membayar calo2 tiket dengan harga jauh lebih mahal untuk beli tiket, padahal counter tiketnya tinggal didepan hidung dan tidak perlu antri”]]

    Astaga Bapak…..ngurus asuransi itu tidak segampang beli tiket. Apalagi kalau urusan klaim. Saya pernah klaim rawat inap 1 hari karena kecelakaan saja butuh waktu dua minggu lebih bereskan administrasinya.

    Kalau Bapak berpikir lebih baik antri sendiri (jadi agen), saya bisa rekomendasikan Bapak ke agen saya utk jadi downline dia.

    Dan ilustrasi Bapak tidak salah, berarti agen Bapak sangat perduli akan biaya pengobatan sakit kritis. Apakah Bapak perokok, pola hidup tidak sehat, atau bahkan jarang olah raga?
    Tahun 2005, paman saya yg sudah meninggal karena kanker habiskan total biaya pengobatan 80jt. Dan tetap tidak bisa menyembuhkan kankernya.

    Masalahnya sekarang tergantung kebutuhan Bapak. Kalau saya sih orang yang sangat perduli dengan umur panjang dan kesehatan. Jadi saya hanya minta UP gede di manfaat kematian dan kecelakaan.

  168. Om Pri, Om Firesquid…. Kalo saya sih kebetulan merasa dikadalin seperti Om Bravo.

    Jadi inget pepatah “Bukan masalah bagus tidaknya produk yang dijual, tapi bagaimana cara memasarkannya.” Hehehe… Yang masarin Unit-Link lebih lihai daripada Asuransi/Investasi.

    Setelah saya pelajari dan bandingkan dengan tabel2 yang referensinya adalah dari agen/perush. sendiri barulah saya sadar. Saya baru tahu istilah biaya akuisisi dari Om Pri, tapi adanya “biaya siluman” ini saya sudah tahu lama. Analogi calo tiket cukup sesuai.

  169. Astaga Bapak…..ngurus asuransi itu tidak segampang beli tiket. Apalagi kalau urusan klaim. Saya pernah klaim rawat inap 1 hari karena kecelakaan saja butuh waktu dua minggu lebih bereskan administrasinya.
    ________________________________________

    Astaga juga pak, jangan menganggap saya begitu lugunya dengan profesi agen. Kalo bapak belom pernah jadi agen, gimana tau susahnya jadi agen?
    Bapak baru calon, saya dulu pernah jadi agen :) thn 1998 di PT. METLIFE sejahtera ( sekarang di akuisisi oleh sequise life)

    Nasabah saya sekarang semuanya langsung berhubungan sama Perusahaan asuraninya langsung (sequisse Life).Tetep baik-baik aja tuh, polis tetap jalan sesuai rencana, pemberitahuan pembayaran premi tetap teratur, kalo mau bayar malah dateng collectornya begitu kita telpon.

    Masalah Klaim? Kalau sesuai Kausul dan berkas-berkasnya lengkap harusnya ga ada masalah.Apalagi kalo udah lewat 2 tahun.

    Perusahaan asuransi aja bisa gonta-ganti kepemilikan apalagi cuma agen?

    Pak, begitu polis udah di tangan, Kontrak kita bukan sama agen lagi (mungkin agennya udah pindah ke perusahaan lain, banyak kok agen2 yang berpindah kaya kutu loncat. Bahkan ada agen yang nyambi kerja di beberapa perusahaan). Ini adalah realita pak.

    Apalagi ada perusahaan yang agennya berasal dari nasabahnya sendiri, tanpa trainning produk yang memadai. Bagaimana mau berharap banyak agen tersebut loyal?

    Saya punya pengalaman diprospek agen xxx, trus sayabilang saya udah mutusin beli di perusahaan ABC, malah nawarin juga product perusahaan ABC.

    Masalah klaim rawat inap saya juga pernah punya pengalaman. Saya punya asuransi kesehatan (sistem profider). Cukup dengan nunjukin kartu, saya udah bisa langsung rawat inap, ga usah deposit, lebih-lebih ngga perlu lewat agen.

    Berarti kalo gitu emang perusahaan asuransi yang bapak join yang prosedurnya mempersulis nasabah. Masa harus klaim kesehatan aja harus di bantu agennya dan perlu waktu 2 minggu ????

    :d

  170. Dan ilustrasi Bapak tidak salah, berarti agen Bapak sangat perduli akan biaya pengobatan sakit kritis. Apakah Bapak perokok, pola hidup tidak sehat, atau bahkan jarang olah raga?
    Tahun 2005, paman saya yg sudah meninggal karena kanker habiskan total biaya pengobatan 80jt. Dan tetap tidak bisa menyembuhkan kankernya.
    ________________________________________

    Hehehe anda SALAH BESAR pak, saya wanita, gak merokok, olahraga rutin jogging 60 menit sehari, 5 kali seminggu. Saya makan sayuran organik, buah, beras merah, roti gandum, berat 52 kg tinggi 165. Cukup sehat ga?

    Cuma saya memang concern dengan kesehatan (kenalan banyak yang kena cancer). Tapi ga apa-apa kok pak (trims atas perhatiannya) sekarang saya udah dapet coverage 300 juta untuk penyakit kritis saya dari RIDER TERM LIFE PERUSAHAAN ASURANSI LAIN.:)

  171. # 204 Kalau Bapak berpikir lebih baik antri sendiri (jadi agen), saya bisa rekomendasikan Bapak ke agen saya utk jadi downline dia.
    ____________________________

    Ngga perlu pak, Trims. saya udah punya kerjaan, dan saya merasa hati nurani saya terganggu menjual unit link (saya sendiri gak mau beli, masa menjual keorang lain?):)

    Antri sendiri, maksudnya beli/urus masalah financial saya sendiri. Tapi untuk menjadi ‘calo’ jelas saya keberatan hehehe:d

  172. # 204
    Mencermati tulisan mas pri yang meng compare antara unitlink dengan reksadana saya kira kurang bijak,karena jelas sekali perbedaan sifat antara keduanya,unitlink adalah asuransi yang punya manfaat investasi sedangkan reksadana adalah investasi murni. Jadi apanya yang di compare?? mestinya unitlink vs asuransi tradisional yang punya manfaat nilai tunai,nah ini baru kelasnya….atau reksadana vs investasi lainya( contoh : emas,dolar ). Mari berasuransi dengan bijak dan sesuaikan kebutuhan dan tujuan masadepan kita. Pesan untuk mas pri: kalau anda tidak cakap dibidang ini jangan sembarang menulis,karena akan menggiring opini publik yang salah.

    ____________________________________-

    Yang tidak cakap di bidang ini yang nulis gini deh:

    Mengcompare unit link dengan reksadana : udah berapa kali di TULIS compare nya UNIT LINK VS REKSADANA + TERM LIFE?

    unit link(UL) Vs Asuransi tradisional(AT) (endowment /Whole life) dari segi RESIKO emang bisa di bandingin?

    UL = sepenuhnya di tanggung nasabah. Kalo MI nya jeblok, nasabah yang BOENTOENG!!!!!.
    AT = Resiko di tanggung perusahaan asuransi sepenuhnya (iNilai Tunai di jamin di cantumin di polis. ini bisa di pidanakan).

    Cape deh, yang ga ngerti sebenarnya siapa?

  173. tambahan #210

    Beli Endowmen/Whole life pun sebenarnya gak bijaksana, mending di pisah juga Term life + Tabung sendiri(deposito)

    Coba deh bikin hitungan pake excel (NPV, NFV, Compound interest). Pasti dengan ngambil terpisah returnnya jauh lebih bagus.

    Saya dulu jadi agen selalu nganjurin nasabah yang mau beli endowment agar beli Whole life (dulu perusahaan saya gak ada produk term life yang lebih dari 1 thn, jadi repot kalo musti cek kesehatan mulu, trus sisanya saya anjurin masukin ke deposito (dulu bunga deposito masih gede diatas 20%)

  174. @Pak Rahmat
    [[“Setelah saya pelajari dan bandingkan dengan tabel2 yang referensinya adalah dari agen/perush. sendiri barulah saya sadar. Saya baru tahu istilah biaya akuisisi dari Om Pri, tapi adanya “biaya siluman” ini saya sudah tahu lama. Analogi calo tiket cukup sesuai.”]]

    Betul sekali Pak. Sebelum memutuskan beli sesuatu, sebaiknya banyak bertanya, seperti yang saya lakukan. Saya sebenarnya merasa gak tega juga dengan agen saya, karena dia bolak-balik ke tempat saya sampai 4 kali baru saya teken kontrak. Tapi karena ini urusan jangka panjang, maka terpaksa saya lakukan. Karena jawaban dari agen itu memuaskan, akhirnya saya tanda tangani kontrak. Kalau si agen keberatan menjawab, berarti ada udang di dalam bakwan.

    Mungkin agen itu dalam hati dongkol dan berkata : “udah bikin saya capek bolak-balik, cuma ambil 500rb/bulan. UP kecil pula”.
    Hahaha….
    saran saya, jadilah nasabah yang kritis.

    @Ibu bravo
    [[“Hehehe anda SALAH BESAR pak, saya wanita, gak merokok, olahraga rutin jogging 60 menit sehari, 5 kali seminggu. Saya makan sayuran organik, buah, beras merah, roti gandum, berat 52 kg tinggi 165. Cukup sehat ga?”]]

    Astaganaga…saya SALAH BESAR. Maaf ya Bu, saya pikir Bapak, soalnya pakai nickname yg kesannya jantan :)
    Dan pola hidup Ibu jauh lebih sehat dari saya. Kalau demikian kasusnya gak perlu ambil UP kesehatan gede-gede. Minta dibikinkan yang standar saja, dan gedein investasi seperti saya. Anggap saja asuransi sebagai bonus tambahan.

    [[“Pak, begitu polis udah di tangan, Kontrak kita bukan sama agen lagi (mungkin agennya udah pindah ke perusahaan lain, banyak kok agen2 yang berpindah kaya kutu loncat. Bahkan ada agen yang nyambi kerja di beberapa perusahaan). Ini adalah realita pak.”]]

    Betul sekali Bu. Maka dari itu kita juga berhak minta pergantian agen, kalau merasa agen yang melayani kita tidak cocok. Saya yakin banyak agen dari asuransi yg sama bersedia membantu, walaupun Ibu bukan nasabah dia. Setidaknya begitu kata customer care asuransi XXX.

    [[“Masalah klaim rawat inap saya juga pernah punya pengalaman. Saya punya asuransi kesehatan (sistem profider). Cukup dengan nunjukin kartu, saya udah bisa langsung rawat inap, ga usah deposit, lebih-lebih ngga perlu lewat agen.”]]

    Betul Ibu, di tempat saya ambil Unit Link juga ditawarin produk demikian sama agen saya. Tapi karena saya pikir jarang banget masuk rumah sakit (amit-amit deh, cukup sekali aja), maka tidak perlu produk yang demikian. Manfaatnya memang jauh lebih banyak, tapi harganya juga jauh lebih mahal :(.

    [[“UL = sepenuhnya di tanggung nasabah. Kalo MI nya jeblok, nasabah yang BOENTOENG!!!!!.”]]

    Setuju dengan Ibu. Maka dari itu harusnya Mas Pri bantu memberikan referensi asuransi Unit Link yg bagus, yang Fund Manager sudah terbukti kinerjanya. Misalnya Prudential, Sequis Life, atau Manulife.

    Soalnya zaman sekarang trend asuransi sudah menjadi model Unit Link berkat si perusahaan yg katanya no 1 di Indonesia selama 6 tahun berturut. Kalau produk Unit Link menjadi trend pasar asuransi, berarti ada kelebihan yang dimilikinya sehingga nasabah pada join ke Unit Link.

    Saya banyak omong bukan untuk membela siapa-siapa. Hanya saja saya melihat tulisan Mas Pri tidak fair. Dalam arti Mas Pri terlalu memaksakan pendapat bahwa agen asuransi dan Unit Link tidak bagus. Padahal pasar berkata sebaliknya.

    Berkat agen asuransi, banyak nasabah terbantu ttg info produk dan klaim asuransi. Walaupun memang banyak agen yang tidak bagus, tapi itu juga kesalahan nasabah yang tidak minta pergantian agen.

    Berkat Unit Link, banyak nasabah merasa aman menabungkan duitnya. At least, jika terjadi hal tak diinginkan sudah ada perusahaan asuransi yang mengcover. Juga berkat Unit Link, nasabah tidak perlu ngurus investasi dan beberapa asuransi di berbagai tempat. Sebab Unit Link sudah mencakup manfaat meninggal, kecelakaan, cacat tetap, sakit kritis, bahkan biaya rawat inap.

    Jadi, begitulah kenapa pasar memilih Unit Link dan bersedia membayar komisi utk agen. Karena alasan praktis dan gak mau repot ;).

  175. #204:

    Mencermati tulisan mas pri yang meng compare antara unitlink dengan reksadana saya kira kurang bijak,karena jelas sekali perbedaan sifat antara keduanya,unitlink adalah asuransi yang punya manfaat investasi sedangkan reksadana adalah investasi murni. Jadi apanya yang di compare?? mestinya unitlink vs asuransi tradisional yang punya manfaat nilai tunai,nah ini baru kelasnya…

    di atas saya membandingkan asuransi unit link dengan asuransi term life ditambah dengan reksadana. silakan anda baca lagi dengan lebih teliti.

    kalau anda tidak cakap dibidang ini jangan sembarang menulis,karena akan menggiring opini publik yang salah.

    kalau ada pernyataan saya yang salah, mohon diberi tahu mana yang salah dan bagaimana seharusnya.

  176. #205:

    Saya merasa cukup fair membayar akuisisi tsb di tahun awal, karena tujuan saya ambil produk Unit Link untuk jangka panjang.

    fair atau tidak fair itu relatif. mekanisme pasar yang akan menentukan. saya tidak bisa bilang 7 juta itu pasti kemahalan untuk semua orang walaupun untuk saya jelas terlalu mahal.

    yang jadi masalah adalah mekanisme pasar tidak bekerja karena perusahaan asuransi menyembunyikan biaya2 ini dari nasabah. yang ditulis di dalam ilustrasi itu cuma lip service. ada berapa sih calon nasabah yang mengerti sepenuhnya?

    Untuk kontrak polis saya, saya dikenakan total biaya akuisisi sekitar 7jt, dari tahun 1-5. Memang sih untuk nilai sekarang cukup tinggi, tapi 10 tahun kemudian 7jt sudah saya dapatkan kembali dari pengelolaan investasi di Unit Link.

    kalau 7 juta itu masuk ke investasi, 10 tahun kemudian returnnya jauh lebih besar daripada jika 7 juta itu hilang begitu saja. dengan asumsi perkembangan investasi sebesar 15%, 7 juta itu akan menjadi 28 juta setelah 10 tahun.

    Seperti yang saya bilang, uang 7 juta itu saya anggap sebagai uang capek karena agen sudah bantu saya urus polis dan klaim. Setiap orang bekerja/dagang tentunya buat cari uang donk.

    agen butuh imbalan atas usahanya. sampai di sini aja saya setuju. tapi berapa besar jumlah yang wajar ini yang orang2 tidak sepakat. dalam pasar bebas yang transparan, nasabah yang merasa 7 juta itu bayaran yang wajar akan memanfaatkan jasa agen, sedangkan nasabah yang merasa 7 juta tidak worth it akan beli langsung ke reksadana dan perusahaan asuransi.

    masalahnya, tidak ada transparansi di sini. kebanyakan nasabah tidak tahu kalau 7 juta itu tidak harus dia bayarkan seandainya dia mengurus sendiri. nasabah gak tahu kalau dia punya opsi lain. lebih buruk lagi, sebagian besar nasabah tidak tahu kalau dia membayar 7 juta.

    Mas Pri aja rela ngeluarin duit 100rb buat KTP, padahal di kantor kecamatan selalu ditempelkan tulisan “BIAYA KTP GRATIS”. Paling juga berikan uang rokok 20rb buat camat dan tukang ngetik. Berarti si agen Biro jasa itu udah untung 80rb, untuk manfaat yg 20rb. Berarti dia untung 400%.

    apa agen asuransi memberi tahu nasabah kalau “BIAYA ASURANSI DAN REKSADANA MURAH”?

    kalau ngurus KTP, hampir semua orang tahu kalau saya punya 2 opsi:

    * ngurus sendiri ke kelurahan
    * ngurus lewat biro jasa

    kalau asuransi? sebagian besar calon nasabah cuma tahu kalau beli asuransi itu harus lewat agen.

    Sedangkan nilai sebuah polis bisa ratusan juta, sedangkan kita hanya perlu mengeluarkan uang capek yang paling 10% dari nilai polis. Masa dibilang mahal??

    mahal atau tidak mahal itu relatif. masalah yang lebih besar: si nasabah tahu gak kalau dia bayar biaya akuisisi? kalau tahu, apa si nasabah tahu kalau dia punya opsi untuk tidak bayar biaya itu?

    Kalau kita langsung beli sendiri ke perusahaan asuransinya, nanti siapa yang bantu ngurus klaim dan administrasi. Silahkan pilih :
    – Bayar murah, ngurus susah, atau
    – Bayar lebih mahal, ngurus gampang.

    kata siapa ngurus lewat agen gampang? justru lebih rumit karena jalur administrasi lebih panjang. saya gak masalah jika pemasaran dilakukan oleh agen (selama dilakukan dengan jujur), tapi untuk urusan setelah itu saya lebih suka berurusan dengan perusahaan langsung. jika si agen tidak dapat dihubungi misalnya karena keluar, liburan, sakit, dll dsb. kita yang harus cari2 jalur administrasi lain. jika karyawan perusahaan asuransi yang keluar, liburan, sakit, dll dsb. perusahaan yang akan mencari ganti karyawan tersebut.

    Di laporan transaksi awal polis saya, ada dicantumkan perincian biaya asuransi untuk yg 2 tahun mendatang. Di laporan tahunan juga dikasih tau perincian utk tahun berikutnya. Saya lihat sih kenaikan biaya asuransi per-2 tahun.

    di laporan transaksi awal polis, artinya perincian2 baru dikasih tahu setelah saya menjadi nasabah. nice try.

    Kalau masih ada info yang kurang jelas mengenai Unit Link, ada 2 kemungkinan :
    – agen tsb lupa memberitahukan atau tidak profesional
    – nasabah yang tidak mengerti, dan tidak tau apa yang harus ditanyakan.

    menurut saya agen sih sudah diprogram oleh perusahaan asuransi. dari semua agen prudential yang pernah memrospek saya, SOP-nya selalu sama. cuma saya lebih beruntung karena di antara sekian agen yang pernah memrospek saya, ada 2 yang bisa menjelaskan dengan detil. tapi kalau nasabah tidak mengerti, itu seharusnya menjadi tugas agen untuk menjelaskannya.

    Astaga Bapak…..ngurus asuransi itu tidak segampang beli tiket. Apalagi kalau urusan klaim. Saya pernah klaim rawat inap 1 hari karena kecelakaan saja butuh waktu dua minggu lebih bereskan administrasinya.

    anda yakin kalo lewat agen akan lebih cepat? kecepatan proses klaim ditentukan dari banyak faktor. sedangkan adanya agen justru memperlambat proses administrasi karena jalur administrasi menjadi lebih panjang. ini belum memperhitungkan masalah2 teknis si agen, misalnya jika si agen ternyata lagi pesiar ke luar negeri :P

    kalau klaim anda baru dibyaar setelah 2 minggu, itu bukan karena tidak pakai agen. kalau pake agen, justru akan lebih lama lagi. kalau saya berhalangan untuk klaim, saya bisa utus orang lain pakai surat kuasa. waktu saya sakit dulu, yang mengklaim istri saya, bukan saya.

    Masalahnya sekarang tergantung kebutuhan Bapak. Kalau saya sih orang yang sangat perduli dengan umur panjang dan kesehatan. Jadi saya hanya minta UP gede di manfaat kematian dan kecelakaan.

    tapi ternyata tidak cukup gede :)

  177. #212:

    Setuju dengan Ibu. Maka dari itu harusnya Mas Pri bantu memberikan referensi asuransi Unit Link yg bagus, yang Fund Manager sudah terbukti kinerjanya. Misalnya Prudential, Sequis Life, atau Manulife.

    kenapa juga saya harus mereferensikan unit link? dengan metode ‘buy term and invest the difference’, hasil yang kita dapatkan lebih maksimal daripada unit link. penjelasannya bisa dibaca pada posting saya ini.

    Soalnya zaman sekarang trend asuransi sudah menjadi model Unit Link berkat si perusahaan yg katanya no 1 di Indonesia selama 6 tahun berturut. Kalau produk Unit Link menjadi trend pasar asuransi, berarti ada kelebihan yang dimilikinya sehingga nasabah pada join ke Unit Link

    ‘kelebihannya’ yaitu biaya2 lebih mudah diselipkan, dan nasabah semakin sulit untuk menyadari ini. kalau ini saya setuju ini adalah ‘kelebihan’ dari asuransi unit link.

    Saya banyak omong bukan untuk membela siapa-siapa. Hanya saja saya melihat tulisan Mas Pri tidak fair. Dalam arti Mas Pri terlalu memaksakan pendapat bahwa agen asuransi dan Unit Link tidak bagus. Padahal pasar berkata sebaliknya.

    pangsa pasar yang besar bukan indikator kualitas suatu produk, atau paling tidak bukan satu2nya. justru dengan banyaknya nasabah unit link, saya merasa ada banyak orang yang dikadalin :(

    dari sekian banyak pasar itu, ada berapa % sih yang memenuhi syarat di bawah ini?

    1. mengerti dan menyadari bahwa di unit link ada biaya akuisisi sebesar, misalnya 205% premi maksimum tahunan
    2. mengerti dan menyadari bahwa dia punya alternatif lain untuk mengambil asuransi+investasi tanpa membayar biaya tersebut

    biasanya nomer 1 dikasih tahu di ilustrasi, tetapi ini cuma sekadar lip service karena data-nya masih mentah dan ditulis dalam fine print. calon nasabah masih harus ngitung sendiri. sedangkan untuk nomer 2, agen mana sih yang mau memberi tahu point ini?

    jika si nasabah memenuhi kedua syarat tersebut, tetapi secara sukarela mengambil unit link, maka saya tidak punya masalah sama sekali.

    mohon dicatat saya tidak menyalahkan agennya secara pribadi. saya sepenuhnya mengerti kalau agen cuma menjalankan instruksi yang diberikan oleh perusahaan. dalam sebagian besar kasus, sebenarnya agen tidak memiliki kemampuan finansial yang lebih baik daripada nasabah, mereka cuma menjalankan metode pemasaran secara terprogram. di sini saya menyalahkan keagenan secara sistem yang merugikan nasabah, bukan agennya itu sendiri secara pribadi.

    Berkat agen asuransi, banyak nasabah terbantu ttg info produk dan klaim asuransi. Walaupun memang banyak agen yang tidak bagus, tapi itu juga kesalahan nasabah yang tidak minta pergantian agen.

    lah kok malah nyalahin nasabah? :) sudah gak ngerti pasar finansial, bukannya dijelaskan, ini kok malah disalah2in. gimana caranya orang yang awam finansial menilai kualitas agen yang ada di depannya? sama sekali tidak mungkin.

    selain itu, jika si agen salah/kurang menjelaskan dan nasabah sudah keburu menyetujui polis, apa si perusahaan asuransi mau melakukan koreksi atas kesalahan agen itu? misalnya dengan cara membatalkan polis dan mengmbalikan seluruh biaya yang sudah dibayar tanpa perlu si nasabah menuntut lewat jalur hukum?

    Jadi, begitulah kenapa pasar memilih Unit Link dan bersedia membayar komisi utk agen. Karena alasan praktis dan gak mau repot

    maaf, saya gak percaya. pasar memilih unit link karena pasar tidak mengetahui kalau mereka punya alternatif, yaitu beli term life dan reksadana secara terpisah. dan bukan karena praktis dan gak mau repot.

    sayangnya, gerakan sadar asuransi saat ini baru cuma sebatas memaksimalkan profit perusahaan asuransi (dan agen), dan bukan menyadarkan masyarakat tentang bagaimana mengambil asuransi yang baik dan benar.

  178. @Firesquid
    [[Betul sekali Pak. Sebelum memutuskan beli sesuatu, sebaiknya banyak bertanya, seperti yang saya lakukan. ………………………
    saran saya, jadilah nasabah yang kritis.]]

    Saya sudah kritis, tapi karena info dari agen terbatas, bagaimana lagi saya mengkritisi-nya. Yang datang bukan 1 agen lho, tapi 3 agen (dari perush. yang sama). Tidak ada yang menyebutkan adanya biaya akuisisi. Hanya disebutkan:
    1. Tahun pertama 80% premi untuk asuransi.
    2. Tahun kedua 20% premi untuk asuransi.
    3. Tahun ketiga dan seterusnya free asuransi.
    4. Tidak dibilang ada biaya akuisisi dan biaya administrasi.
    5. Juga tidak disebutkan adanya 5% fee untuk investasinya.
    6. Memang disebutkan bahwa perkembangan dana hanya ilustrasi saja. Seharusnya dibuat juga ilustrasi kalau investasinya merugi.

    Bagaimana saya meng-kritisi kalau saya tidak tahu apa-apa. Coba kalo dibilang ada biaya akuisisi dan ada term life+investasi terpisah.

    Bahwa banyak orang suka/membeli/menggunakan dlsb tidak jaminan bahwa sesuatu itu bagus/baik. Rokok disukai banyak orang (setidaknya pabrik rokok untung besar). Kan tetap saja “Merokok dapat menyebabkan…..”.

    Yang banyak belum tentu bener dan yang bener bisa jadi tidak banyak :)

  179. Dari semua pembahasan mengenai Unit link dan survey ke temen2 & kenalan yang beli unit link (termasuk saya), maka ssaya mendapat kesimpulan:

    1. Setelah di jelaskan, dan mereka mengerti, sebagian besar mereka merasa ngga worth it untuk bayar biaya akuisisi yang demikian gede. Dan mereka baru tau ternyata ada Term Life dan reksadana bisa memberi return yang juga bagus.

    2.Kalau pun ada yang ngotot, biasanya:
    – Agen asuransi atau yang berniat jadi agen (Mereka takut nasabah semakin kritis. Ini pun dibagi 2:
    Agen yang memang ngerti, tapi masih ngotot (ga bisa di salahin juga, menyangkut mata pencarian mereka) dan
    Agennya sama sekali ga ngerti tapi sok ngerti (reksadana aja ngga ngerti, gimana jadi financial consultant ‘agen biasanya ngakunya demikian’?

    – Nasabah yang ngga melek financial (termasuk temen2 saya yang di kampung), cuma taunya deposito, dan tidak tau resiko capital loss di produk investasi.

    Dan saya herannya cuma agen perusahaan tertentu yang sangat ngotot kalau dijelaskan (ngotot tanpa menggunakan logika), agen saya dari perusahaan asuransi ABC malah setuju banget dengan penjelasan saya, hanya dari beliaulah saya pernah di minta untuk investasi juga ke reksadana (sebelum beli reksadana, saya udah investasi langsung di saham).

    Brain washing yang dilakukan sangat kental, ini dibuktikan hampir semua agennya akan ngomongnya mirip. Jadi dari cara bicaranya udah keliatan dia agen dari perusahaan tersebut

    :d:d

  180. #212

    Astaganaga…saya SALAH BESAR. Maaf ya Bu, saya pikir Bapak, soalnya pakai nickname yg kesannya jantan :)
    Dan pola hidup Ibu jauh lebih sehat dari saya. Kalau demikian kasusnya gak perlu ambil UP kesehatan gede-gede. Minta dibikinkan yang standar saja, dan gedein investasi seperti saya. Anggap saja asuransi sebagai bonus tambahan.
    _____________________________________

    Gak gede kok pak, kok cuma segitu dibilang gede, gimana yang standar? jangan2 saya cuman dapet up 25 jt? CC 50 jt? Segitu menurut saya malah masih kurang banget, maka beli term life up 500 jt, CC 300 jt. kalo mau investasi, saya beli reksadana/saham langsung.

    Setuju dengan Ibu. Maka dari itu harusnya Mas Pri bantu memberikan referensi asuransi Unit Link yg bagus, yang Fund Manager sudah terbukti kinerjanya. Misalnya Prudential, Sequis Life, atau Manulife.Setuju dengan Ibu.
    ________________________________________

    Trims pak, gak perlu. Saya udah ketemu investasi yang cocok dan yang PASTI BUKAN UNIT LINK.

    MI saya setahun terakhir ngasih return riil (bersih) masing2,78%,60%, 56%,57%. (saya punya 4 reksadana, dan tiap bulan nyetor, jadi mirip nyetor unit link)

    Investasi saham saya sendiri tahun ini diatas 100%:)

  181. Berkat Unit Link, banyak nasabah merasa aman menabungkan duitnya. At least, jika terjadi hal tak diinginkan sudah ada perusahaan asuransi yang mengcover
    ___________________________________________

    Hehehe ini yang justru yang paling saya GAK SUKA. Nasabah selalu di jelaskan bahwa dia MENABUNG.
    Tau kah bapak perbedaan MENABUNG, BERINVESTASI dan BERASURANSI?

    Kalo bapak menjelaskan ke nasabah sebagai produk TABUNGAN, ya jelas merasa AMAN.

    Jelas-jelas unit link itu Produk Asuransi (walaupun untuk dibilang produk pure Asuransi juga gak bisa).

    Ini sering menimbulkan kerancuan atau sengaja di bikin rancu?

  182. Pertumbuhan premi asuransi pada tahun 2002 sangat signifikan. Hal ini dipicu oleh ekspansi perusahaan asuransi antara lain berkat dukungan unit link. Produk ini merupakan produk inovatif dan kreatif asuransi. Produk macam apa? Unit link merupakan produk asuransi yang memuat manfaat ganda: proteksi dan investasi.

    TETAPI mengapa unit link makin marak? Minimal terdapat tiga alasan. Pertama, manfaat proteksi berupa asuransi jiwa. Pelajaran dari krisis finansial yang memporakporandakan sentra-sentra bisnis barangkali ikut mengantar publik untuk makin mempertimbangkan asuransi jiwa guna melindungi diri. Inikah awal bangkitnya budaya asuransi (insurance culture). Hal ini menyiratkan perubahan paradigma (shifting paradigm) dalam memandang asuransi jiwa yang selama ini dipandang sebelah mata.

    Kedua, manfaat investasi. Selain perlindungan asuransi jiwa, manfaat investasi yang merupakan faktor perangsang paling dominan. Berapa jauh sumbangan unit link dalam portofolio investasi?

    Menurut Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Angger P Yuwono, unit link menyumbang Rp 831 miliar atau 7,4 persen dari total premi yang diperoleh Rp 5,75 miliar pada tahun 2002 atau mengalami peningkatan secara signifikan sebesar 47 persen dibandingkan periode sebelumnya pada tahun 2001. Investasi dalam reksa dana, unit link mencapai Rp 7,835 triliun atau 38 persen dari total investasi (Kompas, 1 Mei 2003). Dengan demikian, kedua manfaat ini merupakan one stop solution bagi publik yang ingin menutup asuransi jiwa sekaligus berinvestasi. Dalam dunia belanja, hal itu dikenal sebagai one stop shopping. Luar biasa!

    Ketiga, peluang bisnis. Lima tahun lalu, pemain di produk unit link masih dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Tetapi saat ini sudah mencapai 17 perusahaan asuransi yang memainkan peran di sana. Apa relevansinya? Ini mengandung arti bahwa peluang bisnis masih menganga lebar dalam pasar produk inovatif ini. Terbuka bagi siapa yang berani menangkap peluang ini.

    Pemain global

  183. Tren penurunan suku bunga perbankan menjadi momentum yang tepat bagi perusahaan asuransi jiwa untuk mulai meninggalkan produk-produk asuransi tradisional. Selain berisiko bagi perusahaan, produk tradisional juga dianggap tidak menarik lagi bagi nasabah kritis.
    Dengan tingkat suku bunga yang rendah, tingkat bunga aktuaria produk tradisional mau tidak mau ikut disesuaikan sehingga produk ini relatif menjadi mahal. “Dalam kondisi demikian tak ada jalan lain bagi perusahaan asuransi jiwa selain mengatakan selamat tinggal bagi produk tradisional kalau ingin tetap bertahan,” kata pendapat Angger P Yuwono, pengamat sekaligus penasihat Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).
    Perusahaan asuransi, menurut Angger, harus berorientasi ke depan di mana tren suku bunga akan menurun mengikuti penurunan suku bunga global. Asuransi jiwa harus mengantisipasi kecenderungan tersebut dengan memasarkan produk-produk modern, seperti produk unit link dan participating.
    Namun demikian perusahaan asuransi bukannya tidak diuntungkan oleh penurunan suku bunga. Perusahaan asuransi jiwa berlomba-lomba berupaya menggaet dana masyarakat yang selama ini banyak ditanamkan di deposito. Ivonne P Chandra, direktur Astra CMG, mengatakan, bila suku bunga turun, nasabah cenderung cari alternatif investasi lain di luar deposito.
    Hal senada diungkapkan S. Budisuharto, vice president director PT AIG Lippo. Menurut dia, tingkat suku bunga deposito yang rendah merupakan momen yang tepat bagi perusahaan asuransi untuk dapat bersaing dengan perbankan memperebutkan dana masyarakat.
    Sudah banyak disinggung, produk unit link merupakan produk yang membebankan risiko investasi ke pemegang polis. Sedangkan produk participating mempunyai karakteristik bagi hasil yang membagi risiko antara perusahaan asuransi dan pemegang polis.
    Produk unit link telah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1998. Di tahun 2002, produk ini telah mengalami perkembangan yang pesat, hal itu ditandai dengan naiknya pemain di bisnis ini , dari 3 perusahaan menjadi 16 perusahaan.
    Menurut Dewan Asuransi Indonesia, dalam dua tahun produk unit link telah meningkat hingga 150 persen. Dari data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAUI) per akhir 2002, premi unit link mencapai Rp 684,310 miliar
    Praktisi asuransi jiwa menilai produk seperti unit link merupakan produk yang tepat ditawarkan ke masyarakat karena produk unit link dinilai mampu memberikan return yang jauh lebih baik ketimbang deposito. Bahkan Astra CMG misalnya, memperkirakan produk unit link yang ditawarkan mampu memberikan bunga antara 9 hingga 15 persen.
    AIG Lippo pun kini mulai gencar memasarkan produk-produk unit link pilihan. Bahkan, perusahaan itu menargetkan 50 persen dari premi bisnis baru berasal dari produk unit link.

  184. Prospek Cerah
    Pengamat keuangan Goei Siau Hing menilai prospek perkembangan unit link cukup cerah meski masyarakat Indonesia masih banyak yang berorientasi produk deposito. Dia menilai penurunan tingkat suku bunga akan menjadi peluang besar bagi produk-produk lain termasuk unit link.
    Goei mengakui risiko deposito memang rendah namun return-nya pun rendah. Dalam jangka panjang, dia memperkirakan Indonesia akan mengikuti tren di negara maju, yang mulai berorientasi ke investasi jangka panjang. “Investasi semacam itu secara mudah dapat ditemukan pada produk unit link,” kata Goei.
    Menurut Goei, produk yang berorientasi jangka panjang seperti saham dan obligasi memang tidak gampang dimiliki oleh investor ritel. Sebab, tambahnya, selain butuh pengawasan yang cukup, investor juga harus memiliki dana yang mencapai ratusan bahkan miliaran rupiah.
    Di sisi lain, produk seperti unit link maupun reksadana yang memiliki komposisi investasi dari beberapa produk jangka panjang ini dapat menjadi pilihan nasabah. Kedua, produk itu merupakan produk yang cukup terjangkau dan di bawah pengelolaan ahli investasi (fund manager).
    Meski prospeknya tidak secerah dulu, sejumlah perusahaan asuransi jiwa menyatakan akan tetap mempertahankan produk tradisional dengan pertimbangan masih memiliki banyak peminat. Seperti diakui Jiwasraya, Sequis Life, dan Bringin Life, kendati harga produk tradisional naik, tetap diminati nasabah.
    Direktur Sequis Life, Bambang Rudijanto, mengatakan, tidak sedikit masyarakat yang masih menginginkan adanya kepastian dari hasil investasi produk asuransi. Sebaliknya, sebagian masyarakat masih melihat produk asuransi modern, seperti unit link terlalu riskan karena memiliki tingkat fluktuasi yang tinggi. “Orang-orang di daerah belum terbiasa dengan iklim pasar modal yang fluktuatif, tentu saja lebih suka memilih produk endowment ketimbang unit link,” kata Bambang.
    Meski produk modern seperti unit link dinilai sebagai produk yang bebas risiko investasi, perusahaan diingatkan untuk tidak menjual produk ini semata. Dikhawatirkan, bila hanya menjual produk unit link, perkembangan premi perusahaan akan terganggu mengingat produk unit link memiliki karakter dapat ditarik sewaktu-waktu.
    “Misalnya, sekarang kita punya premi Rp 100 miliar. Bagaimana kalau tiba-tiba ditarik Rp 50 miliar, kan bisa saja,” ujar Bambang. Di sini lah perlunya adanya keseimbangan antara produk unit link dan produk tradisional pada perusahaan asuransi

  185. Mencermati tulisan mas pri yang meng compare antara unitlink dengan reksadana saya kira kurang bijak,karena jelas sekali perbedaan sifat antara keduanya,unitlink adalah asuransi yang punya manfaat investasi sedangkan reksadana adalah investasi murni. Jadi apanya yang di compare?? mestinya unitlink vs asuransi tradisional yang punya manfaat nilai tunai,nah ini baru kelasnya….atau reksadana vs investasi lainya( contoh : emas,dolar ). Mari berasuransi dengan bijak dan sesuaikan kebutuhan dan tujuan masadepan kita. Pesan untuk mas pri: kalau anda tidak cakap dibidang ini jangan sembarang menulis,karena akan menggiring opini publik yang salah.

  186. :-P MAS PRI?? jelas sekali perbedaan sifat antara keduanya,unitlink adalah asuransi yang punya manfaat investasi sedangkan reksadana adalah investasi murni. Jadi apanya yang di compare?? mestinya unitlink vs asuransi tradisional yang punya manfaat nilai tunai,nah ini baru kelasnya….atau reksadana vs investasi lainya( contoh : emas,dolar ). Mari berasuransi dengan bijak dan sesuaikan kebutuhan dan tujuan masadepan kita. Pesan untuk mas pri: kalau anda tidak cakap dibidang ini jangan sembarang menulis,karena akan menggiring opini publik yang salah.
    :)):)):)):))x(x(:d

  187. YANG SALAH MAS PRI MENCOMPARE REKSADANA+ASURANSI TERM LIFE KOK AMA UNIT LINK ASURANSI.. BEDA JAUH BOOSS, HARUSNYA “TERM LIFE VS UNIT LINK” KALO “REKASADANA VS JENIS INVESTASI LAINNYA”8-}8-}=))

  188. [[“kalau klaim anda baru dibyaar setelah 2 minggu, itu bukan karena tidak pakai agen. kalau pake agen, justru akan lebih lama lagi.”]]

    Bagian ini saya kurang jelas. Kenapa klaim lewat agen bisa lebih lama. Bisa tolong jelaskan? Atau cuma sekedar komentar Mas Pri aja karena pernah dikecewakan agen.

    Kalau saya justru merasa terbantu oleh agen saya karena tidak perlu urus segala masalah administrasi. Saya tetap melakukan aktivitas harian dan terima duit klaim saya di transfer ke rekening bank. Beres.

    [[“selain itu, jika si agen salah/kurang menjelaskan dan nasabah sudah keburu menyetujui polis, apa si perusahaan asuransi mau melakukan koreksi atas kesalahan agen itu?”]]

    Biasanya premi awal yg sudah disetorkan bisa dikembalikan, dengan catatan polis belum terbit dan cuma sign kontrak. Silahkan tanyakan kepada customer care perusahaan bersangkutan untuk info tsb. Mana mungkin perusahaan asuransi mau menanggung kerugian nama jelek hanya karena ulah agen yang tidak profesional.

    [[“maaf, saya gak percaya. pasar memilih unit link karena pasar tidak mengetahui kalau mereka punya alternatif, yaitu beli term life dan reksadana secara terpisah. dan bukan karena praktis dan gak mau repot.”]]
    Apakah Mas Priyadi sudah melakukan survey pasar secara benar. Misalnya jelaskan ke koresponden pengalaman menjalani prosedur klaim dsb kalau urus sendiri administrasi reksadana + term life.

    Jika hanya bilang “tidak percaya”, berarti itu hanya asumsi. Bukan fakta.

    Semua orang juga tau kok, ngurus KTP bisa langsung ke kantor camat. Tapi biro jasa masih tetap laris manis walaupun jasa pengurusan KTP lumayan mahal. Ini adalah fakta.

    ———————————————————-

    [[“Setelah di jelaskan, dan mereka mengerti, sebagian besar mereka merasa ngga worth it untuk bayar biaya akuisisi yang demikian gede. Dan mereka baru tau ternyata ada Term Life dan reksadana bisa memberi return yang juga bagus.”]]

    Betul sekali Bu. Tapi orang tidak mau repot, makanya rela bayar jasa agen untuk urus masalah administrasi. Konsumen kan maunya cuma menyetor dan terima duit. Sekali lagi Bu, kalau Ibu merasa dikadalin sama agen, Ibu bisa minta pergantian agen.

    [[“1. Setelah di jelaskan, dan mereka mengerti, sebagian besar mereka merasa ngga worth it untuk bayar biaya akuisisi yang demikian gede. Dan mereka baru tau ternyata ada Term Life dan reksadana bisa memberi return yang juga bagus.”]]

    Yang perlu dilakukan lagi adalah survey ttg proses administrasi Reksadana + Term Life termasuk urusan klaim. Jika mereka sudah tau banyak tetek bengek mengenai repotnya urus administrasi, apakah mereka masih keberatan dengan biaya akuisisi.

    ———————————————————-

    Saya mengerti bahwa Mas Priyadi dan Ibu bravo adalah pakar finansial dan melek asuransi. Ada benarnya bahwa ikut Unit Link berarti nasabah mengeluarkan biaya ekstra. Tapi coba lihat beberapa raksasa asuransi di Indonesia, semua berlomba menawarkan Unit Link dan mereka sudah membuktikan manfaat dari Unit Link.

    Perusahaan Reksadana dan asuransi yang menawarkan term life sudah lama ada daripada produk Unit Link. Lalu kenapa malah nasabah memilih mengalihkan dananya ke perusahaan yg menjual Unit Link, misalnya Sequislife, Manulife, Prudential, Allianz, AIG, AIA.

    Bandingkan dengan dana yang dikelola perusahaan reksadana yg sudah besar semacam Schroder, Fortis, Trimegah dan pendapatan premi dari term life.

    Secara logika, harusnya masyarakat lebih mengenal reksadana + term life daripada Unit Link karena produk Unit Link termasuk muda usianya di dunia perekonomian Indonesia dibandingkan reksadana dan produk asuransi tradisional.

  189. Dan bagi nasabah yg berorientasi pada profit, seperti saya. Untuk mendapatkan hasil investasi yang maksimal :
    REKSADANA SAHAM + UNIT LINK EQUITY FUND

    Hasilnya jauh lebih baik daripada :
    reksadana + term insurance

  190. YANG SALAH MAS PRI MENCOMPARE REKSADANA+ASURANSI TERM LIFE KOK AMA UNIT LINK ASURANSI.. BEDA JAUH BOOSS, HARUSNYA “TERM LIFE VS UNIT LINK” KALO “REKASADANA VS JENIS INVESTASI LAINNYA”

  191. MELOROTNYA bunga simpanan di perbankan membuat sejumlah pengelola dana panen. Tak hanya instrumen reksadana atau obligasi ritel yang diserbu pemodal, produk asuransi unit link pun kian diminati. Salah satu contohnya produk unit-linked Brilliance yang ditawarkan asuransi Sun Life. Hanya dalam rentang tiga bulan, keranjang investasi yang dilengkapi dengan produk investasi tersebut mampu menjaring dana senilai Rp 152,7 miliar. Jumlah tersebut meningkat 157% ketimbang periode sama 2006.
    Barry S. Halpern, Presdir Sun Life Financial Indonesia, mengungkapkan, sampai kuartal I-2007, pendapatan premi yang diperoleh perusahaannya tumbuh 50% menjadi Rp 193,3 miliar. Dari jumlah sebesar itu, sekitar Rp 146,7 miliar merupakan premi baru. Produk unit linked menjadi penyumbang premi terbesar, yaitu 80%. ”Kami optimistis, tahun ini pertumbuhan produk unit link bakal semakin besar

  192. Saya mengerti bahwa Mas Priyadi dan Ibu bravo adalah pakar finansial dan melek asuransi. Ada benarnya bahwa ikut Unit Link berarti nasabah mengeluarkan biaya ekstra. Tapi coba lihat beberapa raksasa asuransi di Indonesia, semua berlomba menawarkan Unit Link dan mereka sudah membuktikan manfaat dari Unit Link.
    ____________________________________

    Coba bapak baca tulisan saya yang ini:

    “””Dikampung halaman saya banyak sekali korban-korban unit link yang mengatasnamakan asuransi tabungan. Kasian sekali mereka dapat uang dengan bercocok tanam, berternak hewan, dll.

    Orang-orang kampung ini hanya tau deposito sebelumnya.
    Sekarang berdatanganlah agen2 unit link yang membodohi mereka dgn dalih masuk asuransi, uang ga angus, gratis rumah sakit, kalo sakit kritis dapet duit, cuma bayar 10 thn dicover seumur hidup, etc.

    Nah mereka terang tergiurlah, karena sekarang bunga deposito udah kecil banget. Mereka2 tidak tau bahwa di dalam unit link mereka tersimpan resiko investasi. mereka juga berpikir nabungnya cuman 10 thn. Apakah ada yang menjelaskan pada mereka bahwa ada kemungkinan mereka harus bayar premi seumur hidup utk terus mendapat manfaat asuransinya?

    Ada juga yg punya anak baru lahir, terus di iming-imungi unit Link dengan baju tabungan pendidikan.
    Mereka terang tertarik, karena mikir biaya pendidikan mahal. Pernahkah ada yang menjelaskan bahwa tab pendidikan tsb sangat mahal, untuk UP 100 Jt mungkin hanya cocok untuk kuliah di kandang ayam 17 tahun lagi.

    Mereka sangat berterimakasih ke agen2 unit link yang memasukan mereka ke tabungan yang begitu menarik dan menguntungkan. Pernahkan ada yang memberitahu mereka berapa dari uang yang mereka dapet dengan susah payah masuk ke agen di depannya, trus atasannya, atasannya lagi sampai berlevel-level sampai bertahun-tahun, dan juga buat pelesiran keluar negeri (buat mereka luar negeri itu mungkin mimpi pun ga berani)???

    Wahai agen2 unit link, begitu anda membaca tulisan2 ini dan begitu tau bahwa yang mereka butuhkan hanya term life, jual lah hanya term life (dan tolong didik mereka untuk sisanya mereka bisa ke bank untuk beli reksadana).Toh manfaatnya buat mereka sama kan?
    Bukalah hati nurani anda2, Jgn selalu membodohi mereka2 dengan baju tabungan padahal bukan.

    Juga janganlah anda menjual asuransi ke anak baru lahir….. renungkanlah dengan hati nurani yang terdalam.

    Kita ngga anti dengan asuransi atau agen asuransi, tapi cobalah untuk jujur terutama ke diri sendiri dulu : di luar komisi yang anda2 dapet, apakah ada manfaat buat orang2 kampung ini beli unit link anda dibanding kan anda jualan term life plus mendidik masyarakat untuk berinvestasi (deposito, reksadana, saham, ori, emas).

    Cepat atau lambat orang2 yang di bodohi tersebut akan tau juga bahwa yang mereka beli bukan tabungan. Begitu mereka sadar trus kecewa, maka bukankah niat kita semua untuk mendidik masyarakat sadar berasuransi akan jadi bumerang? “”

    DAN INI:

    “”Saya background S1 keuangan, Mantan agen asuransi tradisional 10 thn lalu (so, udah ngerti asuransi, training produk 2 minggu nonstop), udah berinvestasi reksadana saham, emas dan 2 thn lalu langsung beli saham dengan online trading (ga pake broker), tontonan saya bloomberg, cnbc dan tinggal di kota terbesar di Negeri tercinta.

    Bayangkan untuk background seperti diatas masih bisa ‘dikadalin’(atau emang saya yang lugu baca : bodoh)dengan ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’

    pertanyaan terbesarnya: BAGAIMANA dengan masyarakat awam dengan latar belakang petani, pedagang, peternak, penambang, yang kesehariannya nonton sinetron yang menjual mimpi, bisa MENGERTI tentang ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’?””

    PERTANYAAN TERBESAR SAYA ADALAH MEREKA MERASA BERMANFAAT, WORTH IT, ATAU TIDAK TAHU? BERAPA PERSEN DIANTARA MEREKA YANG TAHU PERHITUNGAN BIAYA2 DAN ILUSTRASI UNIT LINK ANDA DAN ADA ALTERNATIF INVESTASI YANG LEBIH BAIK??? ATAU KITA SURVEY GIMANA? BERMINAT?

    ADA BERAPA BANYAK AGEN2 YANG MAMPU DAN MAU MENJELASKAN SECARA DETAIL BIAYA2 TSB? YANG SAYA BANYAK KETEMU, AGENNYA SENDIRI GAK TAHU ADA YANG NAMANYA TERM LIFE DAN REKSADANA (INI JUGA BOLEH DI SURVEY), JUGA NGGA NGERTI KENAPA UNIT SAYA YANG TIMBUL DITAHUN KEDUA KOK DIPOTONG LAGI?

    Setelah bapak baca tulisan diatas trus renungkan dengan HATI NURANI, mereka(orang2 kampung)MENGERTIKAH?

    Ada agen yang MAMPU tapi tidak MAU menjelaskan secara Detail

    Ada yang TIDAK MAMPU tapi MAU untuk menjelaskannya.

    Ada yang TIDAK MAMPU dan TIDAK MAU (biasanya ngotot dengan logika yang itu-itu saja, sesuai dengan training agennya)

    Ada yang MAMPU dan MAU : ini agen yang berkualitas, seperti agen saya yang sekarang (perusahaanya masih jual term life dan reksadananya cukup bagus)

    Sepertinya ini sudah dijelaskan berkali-kali oleh pak Pri, Tapi kok pada ngga ngerti atau emang nuraninya udah hilang?

    Begitu banyaknya Perusahaan Asuransi RAKSASA yang memasarkan produk unit link adalah karena : UNIT LINK MEMBERI KEUNTUNGAN (MANFAAT) TERBESAR BUAT PERUSAHAAN ASURANSI DAN AGEN ASURANSI, BUKAN BUAT NASABAH ASURANSI.

    Jarang memasarkan produk term life : UNTUNGNYA PALING KECIL BUAT PERUSAHAAN ASURANSI, RESIKONYA PALING GEDE, TAPI JUSTRU BUAT NASABAH ADALAH YANG PALING MENGUNTUNGKAN DARI SEGI PROTEKSI.

    Ada gula ada semut, mana ada perusahaan asuransi yang mau berlomba-lomba memasarkan UNIT LINK kalo ngga PALING MENGUNTUNNGKAN buat perusahaan asuransi tsb?

    You see? kalo logika bisnis yang kaya gini ngga ngerti, udah bohuat deh:d

  193. # 227
    Dan bagi nasabah yg berorientasi pada profit, seperti saya. Untuk mendapatkan hasil investasi yang maksimal :
    REKSADANA SAHAM + UNIT LINK EQUITY FUND

    Hasilnya jauh lebih baik daripada :
    reksadana + term insurance
    __________________________________

    Ini KESALAHAN FATAL satu lagi dari ‘CALON KONSULTAN FINANCIAL’

    Tanya : Kenapa?

  194. #228

    YANG SALAH MAS PRI MENCOMPARE REKSADANA+ASURANSI TERM LIFE KOK AMA UNIT LINK ASURANSI.. BEDA JAUH BOOSS, HARUSNYA “TERM LIFE VS UNIT LINK” KALO “REKASADANA VS JENIS INVESTASI LAINNYA”
    _____________________________

    CAPEEEEE DEHHHHH

  195. Betul sekali Bu. Tapi orang tidak mau repot, makanya rela bayar jasa agen untuk urus masalah administrasi. Konsumen kan maunya cuma menyetor dan terima duit. Sekali lagi Bu, kalau Ibu merasa dikadalin sama agen, Ibu bisa minta pergantian agen
    ________________________________

    Buat orang2 di kampung saya pak, dapet uang dengan memeras keringat dan tenaga, masa merasa worth it bayar biaya akuisisi yang gede? logika dari mana?

    SEKALI LAGI, SAYA TIDAK MERASA DIKADALIN AGENNYA, TAPI DIKADALIN OLEH PERUSAHAANNYA.

    Agen merupakan kepanjangan tangan dari perusahaan, setuju?
    So, kalo agen melakukan kesalahan, perusahaan lepas tanggung jawab? jadi kalo ada sengketa asuransi trus perusahaan asuransi lepas tanggung jawab dan melemparkan kesalahan ke agennya?

  196. #220-#223:

    jelas kalo nanya perusahaan asuransi sih mereka pasti lebih suka produk unit link:

    * lebih gampang jualnya, dengan memanfaatkan ketidaktahuan calon nasabah
    * lebih gede profitnya, dengan memanfaatkan ketidaktelitian calon nasabah

    :)

  197. #225:

    YANG SALAH MAS PRI MENCOMPARE REKSADANA+ASURANSI TERM LIFE KOK AMA UNIT LINK ASURANSI.. BEDA JAUH BOOSS, HARUSNYA “TERM LIFE VS UNIT LINK” KALO “REKASADANA VS JENIS INVESTASI LAINNYA

    lho apa bedanya? dengan mengambil term life + reksadana, saya mendapatkan manfaat yang persis sama jika saya mengambil unit link.

    silakan anda ketahui lebih jauh produk unit link yang anda pasarkan. komponen asuransi yang ada di unit link adalah term life YRT (yearly renewable term). sedangkan komponen investasi yang ada di unit link adalah reksadana. dengan demikian membandingkan unit link dengan term life + reksadana adalah sangat logis sekali.

  198. #226:

    Bagian ini saya kurang jelas. Kenapa klaim lewat agen bisa lebih lama. Bisa tolong jelaskan? Atau cuma sekedar komentar Mas Pri aja karena pernah dikecewakan agen.

    pada hampir semua asuransi, agen itu tenaga lepas, statusnya bukan karyawan perusahaan asuransi. tanpa agen, jalur administrasinya adalah: saya – perusahaan asuransi. sedangkan kalau pakai agen menjadi: saya – agen – perusahaan asuransi. semakin panjang mata rantai administrasi, semakin lama prosesnya. jika agen di sini adalah seorang individu, maka ini menjadi single point of failure.

    Kalau saya justru merasa terbantu oleh agen saya karena tidak perlu urus segala masalah administrasi. Saya tetap melakukan aktivitas harian dan terima duit klaim saya di transfer ke rekening bank. Beres.

    no problem. kalau itu keinginan saya, saya bisa utus orang lain yang dilengkapi dengan surat kuasa. dan keputusan untuk mewakilkan keperluan saya bisa dilakukan sewaktu saya mengajukan klaim, dan bukan ketika saya pertama kali menyetujui polis.

    Biasanya premi awal yg sudah disetorkan bisa dikembalikan, dengan catatan polis belum terbit dan cuma sign kontrak

    yah, kalau polisnya sendiri belum terbit gimana nasabah bisa tahu kalau si agen itu tidak jujur? :-?

    Apakah Mas Priyadi sudah melakukan survey pasar secara benar. Misalnya jelaskan ke koresponden pengalaman menjalani prosedur klaim dsb kalau urus sendiri administrasi reksadana + term life. Jika hanya bilang “tidak percaya”, berarti itu hanya asumsi. Bukan fakta.

    ya itu memang asumsi saya. tapi rasanya anda pun juga berasumsi. ada berapa persen dari nasabah unit link yang:

    1. mengerti dan menyadari bahwa di unit link ada biaya akuisisi sebesar, misalnya 205% premi maksimum tahunan
    2. mengerti dan menyadari bahwa dia punya alternatif lain untuk mengambil asuransi+investasi tanpa membayar biaya tersebut

    kalau anda sudah melakukan survey pasar secara benar, saya mau datanya :)

    Semua orang juga tau kok, ngurus KTP bisa langsung ke kantor camat. Tapi biro jasa masih tetap laris manis walaupun jasa pengurusan KTP lumayan mahal. Ini adalah fakta.

    ok, apakah semua orang tahu kalau ikut asuransi+investasi tidak perlu dengan cara ikut unit link? atau lebih spesifik lagi: apakah nasabah anda tahu kalau ikut asuransi+investasi tidak perlu dengan cara ikut unit link?

    tapi sebenarnya, kalau agen unit link beroperasi untuk memberikan layanan seperti biro jasa, maka dia gak perlu protes di posting saya ini, sebagaimana biro jasa tidak perlu menutup2i kalau ngurus KTP tidak perlu melalui mereka.

    Yang perlu dilakukan lagi adalah survey ttg proses administrasi Reksadana + Term Life termasuk urusan klaim. Jika mereka sudah tau banyak tetek bengek mengenai repotnya urus administrasi, apakah mereka masih keberatan dengan biaya akuisisi.

    soal keberatan atau tidak keberatan itu harusnya diserahkan ke mekanisme pasar. akan selalu ada orang yang keberatan dan tidak keberatan. anda tidak bisa bilang “nasabah pasti tidak keberatan”, buktinya saya, mbak bravo dan mas rahmat keberatan kok. kami lebih memilih repot2 ngambil terpisah daripada harus bayar 205% premi tahunan.

    masalahnya di sini cuma satu, apakah si calon nasabah:

    1. mengerti dan menyadari bahwa di unit link ada biaya akuisisi sebesar, misalnya 205% premi maksimum tahunan
    2. mengerti dan menyadari bahwa dia punya alternatif lain untuk mengambil asuransi+investasi tanpa membayar biaya tersebut

    mekanisme pasar baru berjalan jika calon nasabah memenuhi kedua point tersebut di atas. jika nasabah yang memenuhi kedua point tersebut di atas tetap memilih unit link, maka dia merasa harga yang diajukan agen cukup pantas. sedangkan calon nasabah yang keberatan dengan harga tersebut, dia bisa cari agen lain atau perusahaan asuransi lain, atau dia bisa urus semuanya sendiri. sedangkan agen yang berpotensi kehilangan nasabah akan menurunkan tarifnya.

    jadi, kalau jasa yang ditawarkan agen unit link adalah kemudahan pengelolaan asuransi dan investasi, maka harusnya ada tawar menawar antara penjual dan pembeli produk asuransi unit link.

    Perusahaan Reksadana dan asuransi yang menawarkan term life sudah lama ada daripada produk Unit Link. Lalu kenapa malah nasabah memilih mengalihkan dananya ke perusahaan yg menjual Unit Link, misalnya Sequislife, Manulife, Prudential, Allianz, AIG, AIA.

    karena reksadana dan term life tidak dipasarkan seagresif unit link. reksadana dan term life adalah produk dengan hitung2an yang sangat sederhana, sehingga tidak banyak pos yang dapat digunakan untuk menyembunyikan biaya2 untuk membayar biaya pemasaran yang tinggi.

    Secara logika, harusnya masyarakat lebih mengenal reksadana + term life daripada Unit Link karena produk Unit Link termasuk muda usianya di dunia perekonomian Indonesia dibandingkan reksadana dan produk asuransi tradisional.

    silakan anda tanya sendiri ke keluarga terdekat anda, hitung ada berapa yang mengenal reksadana dan term life. dan hitung ada berapa yang mengenal unit link.

  199. Yang perlu dilakukan lagi adalah survey ttg proses administrasi Reksadana + Term Life termasuk urusan klaim. Jika mereka sudah tau banyak tetek bengek mengenai repotnya urus administrasi, apakah mereka masih keberatan dengan biaya akuisisi

    —————————

    Ini sudah dijelaskan panjang lebar deh (TENTANG NGURUS BIAYA ADMINISTRASI).

    Mengenai klaim RS : Bapak merasa repot, saya ga merasa repot sedikit pun dgn perusahaan asuransi saya, berarti perusahaan bapak yang birokrasinya berbelit.

    Klaim meninggal : Emang bapak udah pernah meninggal, jadi tau repotnya ngurus klaimnya? atau cuma dengar dari agen bapak agar bapak merasa worth it untuk bayar biaya akuisisi?

    Mengenai administrasi masuknya, bisa bapak sebutkan reksadana dan term life mana yang administrasinya susah?
    Saya jauh merasa lebih ribet memahami omongan agen dan ilustrasi unit link yang berbelit-belit.

  200. #227:

    Dan bagi nasabah yg berorientasi pada profit, seperti saya. Untuk mendapatkan hasil investasi yang maksimal :
    REKSADANA SAHAM + UNIT LINK EQUITY FUND

    REKSADANA SAHAM + UNIT LINK EQUITY FUND = REKSADANA SAHAM + ASURANSI TERM LIFE + REKSADANA SAHAM + BIAYA AKUISISI :)

    saya akan pilih REKSADANA SAHAM + ASURANSI TERM LIFE SAJA karena saya gak butuh BIAYA AKUISISI :)

  201. buat agen asuransi yang baca posting ini:

    saya minta data tabel mortalitas dari produk asuransi jiwa yang anda wakili untuk pria/wanita, merokok/tidak merokok dan kategorisasi lain (jika ada) untuk keperluan perhitungan saya. detailnya mohon dikirim ke email saya yang ada di pojok kanan atas halaman ini.

    mudah2an pada ngerti apa itu ‘tabel mortalitas’, hehehe (perlu disurvey juga?)

  202. Andai masyarakat mendapatkan informasi yang berimbang tentang unit link dan term life+investasi, berikut struktur biaya2 yang ada pada produk2 tersebut.

    Kira2 masyarakat awam akan memilih yang mana….?

  203. #227:
    Dan bagi nasabah yg berorientasi pada profit, seperti saya. Untuk mendapatkan hasil investasi yang maksimal :
    REKSADANA SAHAM + UNIT LINK EQUITY FUND

    ======================================================

    Bagaimana Bapak bisa memberikan ‘pencerahan’ ke calon nasabah kalo Bapak sendiri tidak mengerti apa yang Bapak lakukan.

    Dulu saya sempat ‘terjebak’ membeli unit link perush. XXX. Kenapa ‘terjebak’? Karena saya yang awam ini tidak menyadari adanya biaya akuisisi, biaya asuransi, dan selisih antara harga beli dan harga jual unit link.

    Saya S1 dari PTN-Teknik di Bandung. Saya sudah biasa menggunakan instrument financial seperti CBA, NPV, DCF, dll untuk menyusun proposal CaPex. Kok ya bisa ‘dikadalin’ sama agen. Gimana yang buta sama sekali dengan finance.

    Agen Unit Link selalu mendengungkan slogan:
    “Dengan Unit-Link, kita menabung sekaligus berasuransi. Kalo asuransi uang kita hangus (kalo gak ada klaim). Dengan tabungan, kita tidak dapat asuransi. Lagipula suku bunga tabungan rendah.”

    Mereka ‘lupa’: Unit Link yang menggabungkan Asuransi + Reksadana Saham (gain tinggi) beresiko mengalami capital loss (seperti kita membeli reksadana saham langsung ke MI).

    Yang jelas, saya sudah membandingkan sbb:
    1. Unit Link XXX dengan premi sekian dan menggunakan instrumen investasi RDS dari Schroeders hasilnya: Manfaat Asuransi sekian dan hasil Investasi sekian.

    2. Saya beli asuransi term life langsung ke perush. asuransi dan membeli reksadana saham dari Schroeders juga. Hasilnya manfaat asuransi yang didapat lebih besar, hasil investasi pun lebih optimal (setidaknya fee manager investasi cuma 2%-an). Gak ada biaya-biaya administrasi atau akuisisi lainnya.

  204. # 240
    Tadi teman saya nasabah unit link XXX dateng dia baru tau ada reksadana, dan nanya gimana cara beli reksadana (memutuskan mau beli reksadana).

    Saya anjurin beli term life untuk proteksinya, pertama bilang ‘sayang banget hangus’

    trus saya minta ilustrasi unit linknya dan menjelaskan total biaya2 ‘yang hangus’ di unit linknya. Langsung mencak-mencak kesel:)

    Trus saya tanya seandainya dulu agennya ngasih tau biaya2 itu, masih jadi beli gak? jawabnya: siapa yang mau beli, kalo biaya nya demikian gede?

    Sebagai bahan pertimbangan, unit linknya udah sampai tahun ke-7, porsi 50:50. Barusan break even (Modal doang, belum NPV, Compound interest, rugi waktu dll)

  205. #241 hehehe mereka kalo ngasih ilustrasi unit link sampe umur 99 thn keliahatannya guedee buanget, umpama skrg usia kita 30 thn, kalo kita disiplin invest ke RD 500 rb aja sebulan dengan asumsi return rata2 15%, umur kita 99 thn nanti udah jadi BRP?

    Salah satu keajaiban dunia menurut Einstein adalah COMPOUND INTEREST.

  206. Kali ini saya buka-bukaan saja. Pertama-tama, saya bukan agen asuransi, tapi saya karyawan salah satu perusahaan asuransi dan di bagian teknik. Saya banyak sharing di sini karena saya memang merasa konsep Unit Link sangat bagus dibandingkan asuransi tradisional.

    Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.
    1. [[“Investasi di Unit Link mengandung resiko”]]
    ==> Reksadana juga sama Pak, duit bisa hilang.
    Fund Manager kita bermain di pasar yang sama, yaitu pasar saham (Equity), atau dana campuran (Managed Fund). Kalau tidak mau beresiko, ambil yang Fixed Income.

    2. [[“Kasian orang kampung yang sudah memeras keringat dengan bercocok tanam lalu dikadalin sama asuransi tipe Unit Link”]]
    ==> Target pasar Unit Link berbeda dan target pasar Term Life yang murah meriah. Kalau orang kampung yang keuangan mereka sangat kepepet, tentu gak ditawarkan Unit Link.
    Unit Link itu diperuntukan bagi orang yang punya perencanaan keuangan. Kalau sesuatu terjadi di tengah jalan, nasabah mendapatkan santunan dan tidak perlu menarik tabungan dia.

    3. [[“Biaya akuisisi di Unit Link mahal, sekitar 200%”]]
    => Betul sekali Pak.
    Akuisisi di produk Unit Link biasanya 200% dari PREMI TAHUN PERTAMA. Kalau nasabah menyetorkan premi selama 10 tahun dengan UP dan Investasi yang seimbang maka, akuisisi tsb sekitar 10%-15% dari TOTAL PREMI YANG DISETORKAN SELAMA 10 TAHUN. Kalau penyetoran premi dilakukan 20 tahun, maka akuisisi tsb makin kecil lagi persentase nya.

    Misalnya seperti punya saya :
    – Total biaya akuisisi sekitar 7jt dari total dana 60 juta yang saya setorkan selama 10 tahun.
    – Nilai tunai selama 10 tahun diprediksi sekitar 84 juta.

    Di Unit Link, jika dalam 10 tahun saya sehat-sehat saja, saya malah memperoleh keuntungan 24 juta, dan jika terjadi musibah saya memiliki manfaat manfaat :
    – meninggal : 150 jt
    – kecelakaan : 100 jt
    – sakit kritis : 100 jt
    – bebas premi jika sakit kritis : 500rb/bln sampai usia 65 thn
    – rawat inap : 360rb/hari

    Sedangkan pada produk tradisional, misalnya untuk mendapatkan manfaat seperti saya, preminya 1jt pertahun. Maka dalam jangka waktu 10 tahun, saya harus menyetorkan 10 juta dengan asumsi biaya asuransi tidak bertambah.
    Jika dalam jangka waktu 10 tahun, nasabah sehat-sehat saja, apakah premi tersebut bisa dikembalikan?? Tentu saja tidak.

    Itulah sebabnya, kenapa produk Unit Link lebih diminati masyarakat dibandingkan asuransi tradisional. Karena nasabah merasa tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya asuransi, malah nasabah mendapatkan keuntungan.

    4. [[“Beli asuransi term life langsung ke perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya-biaya”]]
    ==> Anggapan ini salah besar.
    Untuk setiap perhitungan premi atas uang pertanggungan, sudah ada aturannya dari pemerintah. Perusahaan asuransi boleh mendapatkan keuntungan dari uang jasa/administrasi serta pengelolaan dana investasi.

    Setiap perusahaan asuransi pasti melakukan risk sharing dengan perusahaan Re-Asuransi. Dan proses risk sharing ini pasti dikenakan biaya tambahan dari perusahaan re-asuransi karena perusahaan re-asuransi juga mau untung. Biaya risk sharing ini tentu saja dibebankan ke nasabah.

    Di satu sisi, perusahaan asuransi XYZ juga pasti mau untung dan perlu bayar komisi buat marketing mereka. Maka mereka mengenakan biaya tambahan lagi ke nasabah. Jadi nasabah dikenakan 2x biaya administrasi.

    Saya tau persis hal ini karena saya bekerja di perusahaan asuransi juga, di bagian tehnik.

    Sedangkan info yang saya peroleh mengenai produk Unit Link. Perusahaan tidak menanggung sama sekali atas resiko nasabah. Semua resiko ditranfer kepada perusahaan re-asuransi. Maka dari itu nasabah hanya dikenakan 1x biaya administrasi bulanan.
    Keuntungan perusahaan Unit Link berasal dari pengelolaan investasi.

    Biaya akuisisi tsb diperlakukan seperti halnya biaya administrasi pada produk tradisional. Bedanya adalah biaya akuisisi ditagih langsung di 5 tahun pertama, sedangkan pada produk tradisional ditagihkan setiap tahun nasabah membayarkan premi.

    5. [[“Ada produk tradisional saya cukup membayar premi 10 tahun dan jauh lebih murah dari Unit Link. Lalu saya dicover uang pertanggungan kematian seumur hidup”]]
    ==> Betul, memang produk Whole Life menawarkan sistem demikian.
    Yang terjadi sebenarnya adalah nasabah tetap membayarkan uang pertanggungan tiap tahun seumur hidup. Jika dibandingkan dengan Term Life, pastinya premi Whole Life lebih mahal. Hal itu dikarenakan perusahaan asuransi sudah memprediksi terlebih dahulu biaya asuransi yang harus dibayarkan nasabah seumur hidup (diatas saya sudah menyebutkan ttg standarisasi premi) Selisih dana dari premi asuransi Term Life, bisa diolah oleh perusahaan asuransi sehingga diprediksi bisa meng-cover nasabah seumur hidup.

    Dan sistem kontrak dari Whole Life ini adalah mengikat. Misalnya kontraknya bayar 10 tahun, maka nasabah harus bayar terus 10 tahun. Kecuali di tengah jalan terjadi musibah.

    Asuransi jiwa dibagi jadi 3 golongan :
    a. Asuransi Berjangka (Term Life)
    => Seperti yang dijelaskan oleh Mas Priyadi.
    Apabila tertanggung meninggal dalam masa kontrak, maka klaim dibayarkan. Apabila nasabah sehat, maka premi yang dibayarkan hangus.

    b. Asuransi Permanen (Whole Life)
    => Nasabah ditanggung seumur hidup. Karena klaim sifatnya sudah pasti, maka premi yang dikenakan lebih mahal.

    c. Asuransi Endowment (Dwiguna)
    => Bentuk asuransi ini berfungsi ganda, sebagai proteksi berjangka dan sebagai tabungan. Nasabah tidak perlu melakukan kontrak seumur hidup.
    Nasabah akan mendapatkan uang pertanggungan jika dalam periode pertanggungan terjadi musibah. Namun sampai akhir periode asuransi tidak terjadi musibah, premi yang dibayarkan akan dikembalikan.

    Unit Link merupakan kategori yang ke-3. Unit Link menjadi mahal bukan karena ada biaya akuisisi, melainkan karena ada investasi.

    Memang benar jika ada yang bilang Unit Link :
    Term Insurance + Reksadana

    SEKALI LAGI SAYA INGATKAN :
    ===========================
    Biaya akuisisi dari produk Term Insurance bukan tidak ada sama sekali, tapi dicicil setiap tahun membayarkan premi, bahkan seumur hidup. Sedangkan produk Unit Link dicicil dalam 5 tahun, wajar kalau terasa mahal.

    6. [[“Saya beli asuransi term life langsung ke perush. asuransi dan investasi dari reksadana. Hasilnya manfaat asuransi yang didapat lebih besar, hasil investasi pun lebih optimal. Gak ada biaya-biaya administrasi atau akuisisi lainnya.]]
    ==> Asumsi ini juga kurang tepat. Ada 2 kekeliruan di sini :
    a. Dana yang diinvestasikan di reksadana dikenakan biaya pengelolaan investasi.
    b. Biaya asuransi Term Life selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Setiap kali nasabah memperpanjang masa kontrak selalu dikenakan biaya administrasi ke re-asuransi, biaya administrasi perpanjangan polis, dan juga ditambahkan margin keuntungan perusahaan asuransi.

    Jika dihitung secara jangka panjang, hasilnya sama saja. Hanya saja Unit Link lebih menarik karena memakai konsep One Stop Shopping.

    Bagi Bapak/Ibu/Saudara sekalian yang bilang beli Reksadana dan asuransi secara terpisah lebih menguntungkan, memang ada benarnya. Karena nasabah bisa memilih reksadana yg memberikan return investasi terbesar (misalnya sekarang Makinta Mantap) dan memilih asuransi yang preminya paling murah.

    Namun tetap ada problemnya :
    1. Apakah reksadana tsb selamanya memberikan return investasi yang tinggi? Dan jika sudah tidak menarik lagi, apakah berpindah reksadana seumur hidup apa tidak repot ?
    2. Asuransi yang preminya paling murah apakah cuma manis di awal saja, sedangkan klaim susah.

    Daripada banyak pusing, lebih baik ambil Unit Link yang sudah terpercaya. Baik dari segi investasi maupun klaim asuransi.

  207. [[“hehehe mereka kalo ngasih ilustrasi unit link sampe umur 99 thn keliahatannya guedee buanget, umpama skrg usia kita 30 thn, kalo kita disiplin invest ke RD 500 rb aja sebulan dengan asumsi return rata2 15%, umur kita 99 thn nanti udah jadi BRP?”]]

    Reksadana tidak memberikan PROTEKSI.
    Bagaimana kalau dalam 3 tahun pertama terjadi musibah, apa yang diharapkan dari reksadana jika umur 35 saja tidak bisa dicapai?
    Anda pasti bisa menuliskan tanggal lahir sendiri dan orang lain, tapi apakah Anda bisa menuliskan tanggal seseorang habis kontraknya di dunia?

    JANGAN MEMBANDINGKAN UNIT LINK DENGAN REKSADANA.
    Memang ada hubungannya, tapi tidak tepat. Sama halnya Anda membandingkan beli makanan (meal) dengan beli sembako.

  208. #246 Reksadana tidak memberikan PROTEKSI.
    Bagaimana kalau dalam 3 tahun pertama terjadi musibah, apa yang diharapkan dari reksadana jika umur 35 saja tidak bisa dicapai?
    Anda pasti bisa menuliskan tanggal lahir sendiri dan orang lain, tapi apakah Anda bisa menuliskan tanggal seseorang habis kontraknya di dunia?
    ————————————

    loh, konsep diskusi ini unitlink vs reksadana+termlife
    yang memberikan proteksi ya termlifenya.
    mas, baju jualannya dibuka dulu. jadi bisa lebih fair memandang masalahnya.

    perusahaan asuransi tempat anda bekerja tidak menjual termlife ? sampe seperti orang sakit gigi gitu replynya ? ;-)

  209. #246 Reksadana tidak memberikan PROTEKSI.
    Bagaimana kalau dalam 3 tahun pertama terjadi musibah, apa yang diharapkan dari reksadana jika umur 35 saja tidak bisa dicapai?
    Anda pasti bisa menuliskan tanggal lahir sendiri dan orang lain, tapi apakah Anda bisa menuliskan tanggal seseorang habis kontraknya di dunia?
    ————————————

    loh, konsep diskusi ini unitlink vs reksadana+termlife.
    yang memberikan proteksi ya termlifenya.
    mas, baju jualannya dibuka dulu. jadi bisa lebih fair memandang masalahnya.

    perusahaan asuransi tempat anda bekerja tidak menjual termlife ? sampe seperti orang sakit gigi gitu replynya ? ;-)

  210. #245 Jika dihitung secara jangka panjang, hasilnya sama saja. Hanya saja Unit Link lebih menarik karena memakai konsep One Stop Shopping.
    —————
    coba deh di excel … ;-)
    hanya penasaran, kantor asuransi tempat anda bekerja jual termlife ?

    ——————————
    Bagi Bapak/Ibu/Saudara sekalian yang bilang beli Reksadana dan asuransi secara terpisah lebih menguntungkan, memang ada benarnya. Karena nasabah bisa memilih reksadana yg memberikan return investasi terbesar (misalnya sekarang Makinta Mantap) dan memilih asuransi yang preminya paling murah.

    Namun tetap ada problemnya :
    1. Apakah reksadana tsb selamanya memberikan return investasi yang tinggi? Dan jika sudah tidak menarik lagi, apakah berpindah reksadana seumur hidup apa tidak repot ?
    2. Asuransi yang preminya paling murah apakah cuma manis di awal saja, sedangkan klaim susah.
    ————————————–
    Dengan memilih terpisah bukan berarti nasabah jadi ikutan ikutan bodoh. Konsep terpisah adalah membuat nasabah bisa memilih yang terbaik di kelasnya. Terbaik bukan berarti return yang paling tinggi ataupun premi yang paling murah. Kalo kata Dedy Mizwar, boleh murah, asal jangan murahan. ;-)

    ———————————————–
    b. Asuransi Permanen (Whole Life)
    => Nasabah ditanggung seumur hidup. Karena klaim sifatnya sudah pasti, maka premi yang dikenakan lebih mahal.

    Biaya akuisisi dari produk Term Insurance bukan tidak ada sama sekali, tapi dicicil setiap tahun membayarkan premi, bahkan seumur hidup. Sedangkan produk Unit Link dicicil dalam 5 tahun, wajar kalau terasa mahal.
    ———————————————–

    Mas, kalau HANYA dicicil dalam waktu 5 tahun tapi proteksi sampai usia 99, itu namanya whole life.

    Konsep unitlink itu, KEBANYAKAN, adalah AJB, asuransi jiwa berjangka. Jadi menggunakan termlife.

    Buktinya adalah, proposal unitlink PADA UMUMNYA yang memiliki premi AJB, tolong dilihat pada return 5% pertahun, maka dananya akan tergerus oleh premi pembayaran AJB.

    Saya sering membaca polis dari Al****, S**L***, A**, P**. Kebanyakan dari mereka TIDAK mancantumkan biaya kenaikan dari AJBnya. Sehingga orang sering merasa gratis. Ditutupi oleh cuti premi dan hasil investasi yang tinggi.

    Bahkan polis dari S**L*** menuliskan bahwa, BIAYA AJB AKAN DITENTUKAN TAHUN BERIKUTNYA, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN USIA DAN RIWAYAT KESEHATAN DARI NASABAH”

    Ini malah lebih ngeri lagi … kalo tahun depan kena diabetes bisa saja premi AJBnya melonjak gila2an

    Dan ini semua DIKETAHUI SETELAH POLIS terbit.

    Mungkin unitlink tidak akan sekontroversi ini jika, pihak insurance lebih transparan dalam memberikan penjelasan. Atau paling tidak COPY POLIS, merupakan hal yang wajib dilampirkan pada proposal. Sehingga nasabah bisa tahu apa yang dihadapinya. Masalah dibaca atau enggak sih bebal tidaknya si calon nasabah :-D

    Dan masalah beli atau tidak tergantung profil dari nasabah tersebut.

    Diskusi ini tidak akan pernah berakhir, karena setiap orang punya alasan untuk membeli sebuah produk.

    Sama seperti windows vs linux, OE vs Eudora (heheheh)

    Hanya sekali lagi pertimbangan juga diperlukan dalam mengambil setiap keputusan. Dan itulah gunanya diskusi ini.

  211. #245:

    Reksadana juga sama Pak, duit bisa hilang. Fund Manager kita bermain di pasar yang sama, yaitu pasar saham (Equity), atau dana campuran (Managed Fund). Kalau tidak mau beresiko, ambil yang Fixed Income.

    fixed income masih ada resikonya. kalau mau zero risk, ambillah deposito berjangka. tapi oklah, at least we are getting somewhere: porsi investasi di unit link adalah reksadana. masalahnya banyak agen yang memasarkan unit link sebagai asuransi+tabungan.

    Target pasar Unit Link berbeda dan target pasar Term Life yang murah meriah. Kalau orang kampung yang keuangan mereka sangat kepepet, tentu gak ditawarkan Unit Link. Unit Link itu diperuntukan bagi orang yang punya perencanaan keuangan. Kalau sesuatu terjadi di tengah jalan, nasabah mendapatkan santunan dan tidak perlu menarik tabungan dia.

    wah, justru sebaliknya. orang dengan pengetahuan finansial yang cukup dan perencanaan keuangan yang matang rasanya gak akan milih unit link. yang ikut unit link justru orang2 yang awam urusan finansial. silakan tanyakan ke pemegang polis unit link: “apakah anda tahu asuransi term life dan reksadana?”

    Akuisisi di produk Unit Link biasanya 200% dari PREMI TAHUN PERTAMA. Kalau nasabah menyetorkan premi selama 10 tahun dengan UP dan Investasi yang seimbang maka, akuisisi tsb sekitar 10%-15% dari TOTAL PREMI YANG DISETORKAN SELAMA 10 TAHUN. Kalau penyetoran premi dilakukan 20 tahun, maka akuisisi tsb makin kecil lagi persentase nya.

    di sini anda lupa untuk memperhitungkan time value of money. 10%-15% di tahun2 pertama itu yang berkontribusi paling banyak terhadap return investasi. uang 1 juta setelah 20 tahun bisa menjadi 16 juta dengan asumsi perkembangan investasi 15%.

    Sedangkan pada produk tradisional, misalnya untuk mendapatkan manfaat seperti saya, preminya 1jt pertahun. Maka dalam jangka waktu 10 tahun, saya harus menyetorkan 10 juta dengan asumsi biaya asuransi tidak bertambah. Jika dalam jangka waktu 10 tahun, nasabah sehat-sehat saja, apakah premi tersebut bisa dikembalikan?? Tentu saja tidak.

    anda pikir perusahaan asuransi memberikan manfaat itu dengan gratis? tentu saja tidak, perusahaan asuransi akan memotong porsi investasi untuk membayar premi asuransi anda.

    kalau saya ambil term life + reksadana terpisah, saya bisa lakukan hal yang sama dengan cara me-redeem porsi investasi saya sebagian, dan saya gunakan untuk membayar premi term life.

    Itulah sebabnya, kenapa produk Unit Link lebih diminati masyarakat dibandingkan asuransi tradisional. Karena nasabah merasa tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya asuransi, malah nasabah mendapatkan keuntungan.

    sayangnya ini cuma ilusi finansial :). that money has to come from somewhere.

    4. [[”Beli asuransi term life langsung ke perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya-biaya”]]
    ==> Anggapan ini salah besar. Untuk setiap perhitungan premi atas uang pertanggungan, sudah ada aturannya dari pemerintah. Perusahaan asuransi boleh mendapatkan keuntungan dari uang jasa/administrasi serta pengelolaan dana investasi.

    betul sekali. yang jadi masalah: “berapa besar perbedaan biaya tersebut”. di sini tidak ada yang mengklaim di term life ‘tidak ada biaya2’, saya cuma mengklaim biaya2 administrasi di unit link lebih mahal.

    Biaya akuisisi tsb diperlakukan seperti halnya biaya administrasi pada produk tradisional. Bedanya adalah biaya akuisisi ditagih langsung di 5 tahun pertama, sedangkan pada produk tradisional ditagihkan setiap tahun nasabah membayarkan premi.

    sorry, dari komentar2 anda saya tebak anda dari prudential, benar?

    di prulink, pos biaya administrasi itu terpisah dari pos biaya akuisisi. biaya administrasi itu yang Rp 27500/bulan atau Rp 330000/tahun. sedangkan biaya akuisisi itu yang 100%, 40%, 15%, 15%, 15% premi maksimum tahunan untuk 5 tahun pertama.

    sebagai perbandingan, term life saya (axa mandiri jiwa sejahtera) hanya mengenakan biaya administrasi Rp 180 ribu/tahun dan ini sudah bersih, tidak ada lagi biaya akuisisi.

    Biaya akuisisi dari produk Term Insurance bukan tidak ada sama sekali, tapi dicicil setiap tahun membayarkan premi, bahkan seumur hidup. Sedangkan produk Unit Link dicicil dalam 5 tahun, wajar kalau terasa mahal.

    no problem, term life itu tidak untuk diambil seumur hidup, tetapi diambil seperlunya saja. ini sudah dibahas panjang lebar di posting saya di atas.

    Asumsi ini juga kurang tepat. Ada 2 kekeliruan di sini :
    a. Dana yang diinvestasikan di reksadana dikenakan biaya pengelolaan investasi.
    b. Biaya asuransi Term Life selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Setiap kali nasabah memperpanjang masa kontrak selalu dikenakan biaya administrasi ke re-asuransi, biaya administrasi perpanjangan polis, dan juga ditambahkan margin keuntungan perusahaan asuransi.

    a. porsi investasi di unit link juga dikenakan biaya pengelolaan investasi. orang2 manajer investasi juga perlu makan :)
    b. premi asuransi di unit link juga selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

    Jika dihitung secara jangka panjang, hasilnya sama saja. Hanya saja Unit Link lebih menarik karena memakai konsep One Stop Shopping.

    betul. satu2nya kelebihan unit link adalah one stop shopping. satu2nya. tidak ada manfaat lain yang diberikan unit link selain one stop shopping.

    Apakah reksadana tsb selamanya memberikan return investasi yang tinggi? Dan jika sudah tidak menarik lagi, apakah berpindah reksadana seumur hidup apa tidak repot ?

    oh tidak kok. justru jauuuh lebih repot kalau mau pindah dari satu unit link ke unit link yang lain.

    Asuransi yang preminya paling murah apakah cuma manis di awal saja, sedangkan klaim susah.

    untuk asuransi jiwa, besar premi asuransi tidak jauh berbeda dari satu asuransi ke asuransi yang lain. seperti anda bilang semua perusahaan asuransi jiwa membuat pooling reasuransi.

    #246:

    Reksadana tidak memberikan PROTEKSI. Bagaimana kalau dalam 3 tahun pertama terjadi musibah, apa yang diharapkan dari reksadana jika umur 35 saja tidak bisa dicapai? Anda pasti bisa menuliskan tanggal lahir sendiri dan orang lain, tapi apakah Anda bisa menuliskan tanggal seseorang habis kontraknya di dunia?

    waduhhhhhhhh. ini sudah dijelaskan berkali2 kalau yang dibandingkan bukan reksadana thok, tapi reksadana+term life. kalau ngambil reksadana + term life, maka manfaat yang anda sebutkan di atas juga didapatkan.

  212. [==> Target pasar Unit Link berbeda dan target pasar Term Life yang murah meriah. Kalau orang kampung yang keuangan mereka sangat kepepet, tentu gak ditawarkan Unit Link.]
    _____________________________________

    Hehehe, ini kejadian tuh, banyak kok orang kampung saya udah ngambil.
    Apa penjelasan anda? nyalahin agennya lagi kurang profesional?

  213. #249
    Mungkin unitlink tidak akan sekontroversi ini jika, pihak insurance lebih transparan dalam memberikan penjelasan. Atau paling tidak COPY POLIS, merupakan hal yang wajib dilampirkan pada proposal. Sehingga nasabah bisa tahu apa yang dihadapinya. Masalah dibaca atau enggak sih bebal tidaknya si calon nasabah.
    _________________________________

    Polis unit link yang dulu saya join, TEBBBEEEELLLL banget, bahasa nya bahasa hukum yang njlimet dan tulisannya kecil-kecil. Gimana orang awam mau baca?

  214. #247
    perusahaan asuransi tempat anda bekerja tidak menjual termlife ? sampe seperti orang sakit gigi gitu replynya ? ;-)
    ____________________________

    Mungkin bapak ini gak ngerti konsepnya ASURANSI, mas

  215. #245

    Di Unit Link, jika dalam 10 tahun saya sehat-sehat saja, saya malah memperoleh keuntungan 24 juta, dan jika terjadi musibah saya memiliki manfaat manfaat :
    – meninggal : 150 jt
    – kecelakaan : 100 jt
    – sakit kritis : 100 jt
    – bebas premi jika sakit kritis : 500rb/bln sampai usia 65 thn
    – rawat inap : 360rb/hari
    __________________________

    Sepertinya anda merasa perusahaan asuransi ngasih gratis manfaat2 tambahan tsb.:). Emang anda gak bayar premi lagi?

    Trus kalo 20 thn kedepan, uang 150 juta anda, masih bisa beli beras brp kilo mas? :)

  216. # 245
    Sekarang misalnya, saya pria umur 30 thn, istri gak bekerja, punya anak umur 2 dan 3 thn. Gaji bulanan 10 juta. Coba anda kasih tau saya, KELUARGA saya butuh PROTEKSI apa aja, dan berapa? Brp PREMI ASURANSI yang saya harus bayar per bulan idealnya?

  217. #249
    Diskusi ini tidak akan pernah berakhir, karena setiap orang punya alasan untuk membeli sebuah produk.
    _____________________________________________

    Mudah-mudahan, alasannya bukan krn TIDAK TAU atau TERTIPU:d

  218. perusahaan asuransi tempat anda bekerja tidak menjual termlife ? sampe seperti orang sakit gigi gitu replynya ?
    ====================
    Betul, asuransi tempat saya bekerja tidak menjual asuransi jiwa seperti produk life insurance. Karena tempat saya bekerja bergerak di asuransi umum. Kalau Anda mau meng-asuransi mobil dan rumah, saya ada penawarannya.

    Untuk yang mirip asuransi jiwa, hanya ada Personal Accident dan Travel Insurance, dimana sekarang yg cocok utk mudik. Dimana semuanya kalau dibandingkan dengan asuransi jiwa, mirip dengan jenis term life.

  219. ====================
    loh, konsep diskusi ini unitlink vs reksadana+termlife
    yang memberikan proteksi ya termlifenya.
    ====================
    UNIT LINK bukan REKSADANA.
    Unit Link adalah jenis asuransi modern, yang merupakan pengembangan dari Endowment/Dwiguna.

    Yang harus dibandingkan itu Term Life vs Unit Link, karena sama-sama jenis asuransi. Mengenai jenis-jenis asuransi jiwa sudah saya jelaskan.

    Jangan bandingkan Kwetiaw Goreng dengan Tepung Beras + Bikin Sendiri + Bumbu sendiri. Jika ingin fair, bandingkanlah Kwetiaw Goreng dengan Nasi Goreng.
    Ngerti ??

    ====================
    Mungkin unitlink tidak akan sekontroversi ini jika, pihak insurance lebih transparan dalam memberikan penjelasan.
    ====================
    Sekali lagi, bukan perusahaan asuransi tidak transparan. Tapi agen yang lupa menjelaskan perihal kenaikan premi asuransi tahunan.

    Pada proposal pasti ada dicantumkan biaya asuransi untuk tahun berjalan. Dan jika ingin tau kenaikan biaya asuransi untuk 5 tahun kedepan, minta dibuatkan oleh agen. Tambahkan saja usia tertanggung, nanti bakal ketahuan dengan sendirinya biaya asuransi utk 5 tahun kedepan.

    ====================
    Atau paling tidak COPY POLIS, merupakan hal yang wajib dilampirkan pada proposal
    ====================
    Nah, ini juga salah satu permintaan saya kepada agen. Maklum, saya bekerja di bagian teknik, jadi harus mempelajari polis terlebih dahulu. Waktu itu agen saya membawakan COPY POLIS kepunyaan dia, dipinjamkan saja untuk dilihat saja.

    Bapak juga tau bahwa biaya fotocopy tidaklah murah, untuk buat 1 proposal saja bisa habiskan berapa banyak biaya jika tiap proposal harus melampirkan 1 buku polis yang cukup tebal. Sedangkan dari 10 prospek belum tentu jadi 1.

  220. :d ngasih komen nye. kok hanya melihat sisi negatip unit link tapi gak njelasin sisi positipnye.. klo diliat sisi negatipnye term life ya bisa aja ssiiii

  221. #258

    UNIT LINK bukan REKSADANA.
    Unit Link adalah jenis asuransi modern, yang merupakan pengembangan dari Endowment/Dwiguna.
    ____________________________________

    Hihihi hehehe Lulus ga nih ujian keagenannya???:d

  222. #258

    Yang harus dibandingkan itu Term Life vs Unit Link, karena sama-sama jenis asuransi. Mengenai jenis-jenis asuransi jiwa sudah saya jelaskan.
    ________________________________________

    Ini nilainya malah minus, hihihi:d

  223. #258
    Sekali lagi, bukan perusahaan asuransi tidak transparan. Tapi agen yang lupa menjelaskan perihal kenaikan premi asuransi tahunan.
    —————————–

    Kalo ini bukan LUPA, tapi GAK TAU:d

  224. Bapak Firesquid yang SEKARANG sama yang MUNCUL AWAL2 kayanya orang yang BEDA deh, dari bahasa nya.Mungkin teman2 yang lain ada komentar?

  225. ====================
    [[“fixed income masih ada resikonya. kalau mau zero risk, ambillah deposito berjangka.”]]
    ====================
    Saya berani bilang bahwa deposito berjangka adalah investasi paling bodoh. Karena hasil investasinya tidak sebanding dengan tingkat inflasi yang ada. Dan pemerintah berjanji suku bunga bank akan ditekan sekecil mungkin, agar sektor riil bisa berkembang. Jadi tidak tertutup kemungkinan di masa depan, suku bunga deposito sisa 2% seperti di Singapore.

    ====================
    [[“tapi oklah, at least we are getting somewhere: porsi investasi di unit link adalah reksadana”]]
    ====================
    Sekali lagi ini kurang tepat. Unit Link memang pengelolaan dananya di pasar yang sama dengan reksadana, tapi Unit Link bukan Reksadana. Unit Link adalah jenis asuransi endowment/dwiguna (proteksi + tabungan).

    Unit Link merupakan perpaduan dari Term Life + Whole Life + Endowment.
    – Whole Life ==> UP meninggal
    – Term Life ==> sakit kritis + kesehatan + kecelakaan
    – Endowment ==> pengembalian premi

    Kelebihan Unit Link daripada Endowment adalah, nasabah bisa tidak mengambil pengembalian premi dan mengalokasikannya ke porsi investasi.

    ====================
    [[“wah, justru sebaliknya. orang dengan pengetahuan finansial yang cukup dan perencanaan keuangan yang matang rasanya gak akan milih unit link. yang ikut unit link justru orang2 yang awam urusan finansial. silakan tanyakan ke pemegang polis unit link: “apakah anda tahu asuransi term life dan reksadana?”]]
    ====================
    Apakah Anda tahu bahwa asuransi term life preminya makin mahal seiring dengan bertambahnya usia? Bahkan ada batasan usia tertentu dimana Term Life tidak bisa dicover.

    Apakah Anda tahu bahwa biaya asuransi term life yang dibebankan ke Anda sudah ditambahkan dengan margin keuntungan perusahaan + komisi marketing + biaya administrasi ke re-asuransi.
    Misalnya untuk pria/30 tahun/tdk merokok untuk UP 150 juta, Anda seharusnya cukup membayar 850rb pertahun, namun karena perusahaan asuransi mau untung, Anda dibebankan menjadi 1,25jt pertahun.

    ===================
    [[“sebagai perbandingan, term life saya (axa mandiri jiwa sejahtera) hanya mengenakan biaya administrasi Rp 180 ribu/tahun dan ini sudah bersih, tidak ada lagi biaya akuisisi.”]]
    ===================
    Apakah Anda tau seberapa besar margin keuntungan perusahaan atas premi yang Anda bayarkan ??
    Boleh tidak perusahaan mengurangi biaya administrasi dan menambahkan margin keuntungan. Anda tidak tau akan hal ini kecuali Anda orang teknik seperti saya.

    ====================
    [[“no problem, term life itu tidak untuk diambil seumur hidup, tetapi diambil seperlunya saja. ini sudah dibahas panjang lebar di posting saya di atas.”]]
    ====================
    Unit Link juga sama. Tidak perlu diambil seumur hidup. Harusnya bandingkan Unit Link dengan Endowment, karena sama-sama asuransi dwiguna. Bedanya Unit Link dengan Endowment adalah Unit Link lebih fleksibel, dan tidak terikat kontrak harus setor sekian tahun.

    Malah di Unit Link, saya bisa menarik sebagian premi yang sudah saya setorkan di tengah jalan dan tetap diproteksi dengan UP meninggal sampai usia 99. Apakah Term Life bisa ??

    Jika Anda masih ngotot soal Reksadana + Term Life, maka saya juga bisa bilang :
    Invest Bisnis Sendiri + Unit Link > Reksadana + Term Life

    Sebagai ilustrasi, teman saya yang buka toko komputer bisa mendapatkan profit 300% setahun. Sedangkan reksadana Makinta Mantap (yg hasil invest paling besar saat ini) hanya menghasilkan 100-an persen setahun.

    ====================
    [[“a. porsi investasi di unit link juga dikenakan biaya pengelolaan investasi. orang2 manajer investasi juga perlu makan :)
    b. premi asuransi di unit link juga selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia.”]]
    ====================
    So…intinya sama saja kan. Kenapa Anda merasa tertipu dengan Unit Link, sedangkan asuransi Term Life tidak?

    Coba saja bandingkan saja dengan ilustrasi ini :
    Anda ditawarkan pedagang A beras 1 ton untuk dikonsumsi 3 tahun (1000 hari) = 5 juta, pedagang A untung 100rb.
    Anda beli beras 1 kilo ke pedagang B untuk dikonsumsi 1 hari = 5000, pedagang B untung 100.

    Kemudian Anda bilang bahwa beli beras di pedagang A mahal karena dia sekali untung 100rb sedangkan pedagang B murah karena dia cuma untung 100. Kok bisa begitu ??

    ====================
    [[“Hehehe, ini kejadian tuh, banyak kok orang kampung saya udah ngambil.
    Apa penjelasan anda? nyalahin agennya lagi kurang profesional?”]]
    ====================
    Berarti orang di kampung Anda punya banyak uang donk. Kalau mau hidup aja susah gimana dia bisa nabung. INGAT, konsep Unit Link adalah memindahkan saldo tabungan di bank ke perusahaan asuransi. Karena Unit Link selain menawarkan bunga yang lebih besar daripada deposito bank, juga memberikan proteksi.

    Unit Link tidak meminta Anda menarik Investasi di reksadana lalu dipindahkan ke Unit Link. Investasi tetap ada, tapi asuransi juga perlu. Masalahnya adalah Anda mau memilih asuransi seperti apa, Term Life, Whole Life, Endowment, atau Unit Link.

    ====================
    [[“Sepertinya anda merasa perusahaan asuransi ngasih gratis manfaat2 tambahan tsb.:). Emang anda gak bayar premi lagi?”]]
    ====================
    At least premi yang saya bayarkan tidak hangus seperti Term Life atau Whole Life.

    ====================
    [[“Trus kalo 20 thn kedepan, uang 150 juta anda, masih bisa beli beras brp kilo mas?”]]
    ====================
    Setelah 20 tahun kedepan, berapa premi asuransi Term Life yang harus Anda bayarkan untuk UP 150 juta ??

    Perlu Anda ketahui :
    Inflasi itu tidak pasti, sedangkan kenaikan premi asuransi adalah pasti :)

    Dulu di Jerman setelah PD-1 pernah terjadi inflasi gila-gilaan, dimana 1 roti bisa mencapai 5 juta MARK. Coba lihat ekonomi Jerman sekarang.

  226. Setelah 20 tahun kedepan, berapa premi asuransi Term Life yang harus Anda bayarkan untuk UP 150 juta ??
    ————————————-
    0 (NOL) pak, saya udah TIDAK BUTUH asuransi, hehehe.
    Investasi saya sudah berkembang jadi miliaran rupiah.
    Tapi berapa PREMI UNIT LINK anda kalo anda udah berumur 99 th?

    Perlu Anda ketahui :
    Inflasi itu tidak pasti, sedangkan kenaikan premi asuransi adalah pasti :)
    _________________________________

    Berarti biaya2 unit link anda juga bisa naik/turun kaya jet coaster. karena Biaya2 tsb juga ikut inflasi.

    Dulu di Jerman setelah PD-1 pernah terjadi inflasi gila-gilaan, dimana 1 roti bisa mencapai 5 juta MARK. Coba lihat ekonomi Jerman sekarang.

    _______________________________

    Kalo perang, saya masih punya EMAS, pak (krn saya hedge investasi saya pake EMAS). trus unit link anda jadi apa?:d

  227. ====================
    [[“Sekarang misalnya, saya pria umur 30 thn, istri gak bekerja, punya anak umur 2 dan 3 thn. Gaji bulanan 10 juta. Coba anda kasih tau saya, KELUARGA saya butuh PROTEKSI apa aja, dan berapa? Brp PREMI ASURANSI yang saya harus bayar per bulan idealnya?”]]
    ====================
    Wah, kalau tanya PREMI ASURANSI YANG SEBENARNYA saya tidak bisa memberitahukan perhitungannya.

    Kalau Ibu bravo menanyakan UP meninggal/cacat tetap, saya sarankan 400 juta.
    Untuk manfaat yang hanya meninggal/cacat tetap dengan UP 400 juta, Anda harus biaya asuransi berkisar antara 1jt sampai 1.5 jt, belum termasuk biaya administrasi.

    Ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi doank dalam menghitung premi polis Personal Accident yang jangka 1 tahun. Besar kecilnya premi, tergantung perusahaan yang menjualnya.

  228. # 265
    At least premi yang saya bayarkan tidak hangus seperti Term Life atau Whole Life.
    ______________________________

    Semua yang namanya premi asuransi itu HANGUS, pak. Dengan bapak nulis kaya gini, membuktikan bapak tidak mengerti sama sekali tentang KONSEP ASURANSI.

    Bapak merasa ngga hangus, OK. Tapi premi yang anda bayar jauh lebih MAHAL, jatuhnya kan sama aja?

  229. #265
    Berarti orang di kampung Anda punya banyak uang donk. Kalau mau hidup aja susah gimana dia bisa nabung. INGAT, konsep Unit Link adalah memindahkan saldo tabungan di bank ke perusahaan asuransi. Karena Unit Link selain menawarkan bunga yang lebih besar daripada deposito bank, juga memberikan proteksi.
    ______________________________

    Nyari nafkah dan bekerja keras, tidak lantas membuat orang gak punya uang, pak.
    Tapi uang yang didapat di gunakan secara bijak ngga?
    Lagi2 dengan bapak membandingkan tabungan di bank dengan unit link membuktikan ternyata bapak TIDAK MENGERTI JUGA KONSEP INVESTASI. Padahal sudah dibahas berkali-kali.

  230. ====================
    Kalo perang, saya masih punya EMAS, pak (krn saya hedge investasi saya pake EMAS). trus unit link anda jadi apa?
    ====================
    Sekali lagi harap membandingkan sesuatu dengan FAIR.

    Ibu membayar premi asuransi Unit Link dengan rupiah, kemudian mengharapkan pengembalian dalam bentuk EMAS. Jelaslah tidak fair.

    Jika seandainya terjadi perang, apakah Ibu memilih menyelamatkan diri sendiri atau harta benda seperti EMAS dan SERTIFIKAT TANAH.
    Ibu boleh saja bilang simpan di Safe Deposit Box di Bank, apakah Ada jaminan tidak akan dijarah oleh tentara yang melakukan invasi.

    Ibu menyinggung soal nilai 150 juta di 20 tahun mendatang, berarti menyinggung masalah inflasi. Dan saya hanya mengambil contoh paling ekstrim kasus inflasi di JERMAN SETELAH PD-1.

    Suatu negara bisa terjadi inflasi, tentu bisa juga terjadi deflasi. Ketika inflasi sudah menggila, tentu saja pemerintah punya kebijakan moneter untuk mengaturnya. Di zaman Orde Lama sudah pernah terjadi hal demikian.

  231. Wah, kalau tanya PREMI ASURANSI YANG SEBENARNYA saya tidak bisa memberitahukan perhitungannya.

    Kalau Ibu bravo menanyakan UP meninggal/cacat tetap, saya sarankan 400 juta.
    Untuk manfaat yang hanya meninggal/cacat tetap dengan UP 400 juta, Anda harus biaya asuransi berkisar antara 1jt sampai 1.5 jt, belum termasuk biaya administrasi.

    Ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi doank dalam menghitung premi polis Personal Accident yang jangka 1 tahun. Besar kecilnya premi, tergantung perusahaan yang menjualnya.

    ________________________

    Saya minta menyeluruh pak, bapak kan calon financial consultant. harus bisa merancang anggaran keuangan saya dong pak.:d

  232. ====================
    [[“Lagi2 dengan bapak membandingkan tabungan di bank dengan unit link membuktikan ternyata bapak TIDAK MENGERTI JUGA KONSEP INVESTASI. Padahal sudah dibahas berkali-kali.”]]
    ====================
    Coba Ibu pahami lagi apa gunanya menabung?
    Lalu kenapa asuransi Endowment disebut Dwiguna ?

    Postingan Ibu ternyata malah membuktikan Ibu sama sekali TIDAK MENGERTI KONSEP ASURANSI.

    Jika Ibu ingin membicarakan masalah INVESTASI, kita boleh membahas :
    – Reksadana
    – Emas
    – Valas
    – Properti
    – Obligasi
    – Saham

  233. # 270
    Saya bicara tentang konsep investasi secara keseluruhan pak termasuk lindung nilai dari investasi saya. Kayanya bapak udah ngaco deh jawabnya. Makanya kasih komen2 yang aneh2…..
    Rasanya bapak orang yang beda dengan bapak yang pertama (uplinenya ya pak?):)

    {Suatu negara bisa terjadi inflasi, tentu bisa juga terjadi deflasi. Ketika inflasi sudah menggila, tentu saja pemerintah punya kebijakan moneter untuk mengaturnya. Di zaman Orde Lama sudah pernah terjadi hal demikian.}

    kita bicara jangka panjang, di indonesia dari merdeka, sampai sekarang udah BRP inflasinya?
    Dulu uang 150 juta udah membuat anda super tajir pak.
    Kita bicara yang wajar2 saja inflasi 6,8 % seperti sekarang ini, cuma jadi brp uang 150 jt bapak?

  234. # 272

    Dengan kualitas postingan bapak kaya gini, ngga akan nyambung pak. Saya sarankan, sebelum posting baca dulu postingan-postingan terdahulu. Kita kan malas menjelaskannya berpuluh-pulu kali?

  235. ====================
    [[“Saya minta menyeluruh pak, bapak kan calon financial consultant. harus bisa merancang anggaran keuangan saya dong pak”]]
    ====================
    Maaf saja.
    Profesi saya di bagian teknik asuransi kerugian. Saya mengerti ttg perhitungan premi term life (khususnya personal accident) dan alokasi investasi.

    Saya belum pernah belajar ttg anggaran keuangan keluarga. Saya pribadi mengalokasikan penghasilan sbb :
    PENGELUARAN RUTIN
    —————–
    Rumah => 15%
    Konsumsi => 25%
    Hiburan => 15%
    Transport => 10%

    INVESTASI
    ———
    Reksadana => 10%

    PROTEKSI
    ——–
    Unit Link => 10%

    SIMPANAN
    ——–
    Bank + biaya tak terduga => 15%

  236. #264:

    Bapak Firesquid yang SEKARANG sama yang MUNCUL AWAL2 kayanya orang yang BEDA deh, dari bahasa nya.Mungkin teman2 yang lain ada komentar?

    baru tau? ada beberapa Firesquid:

    * nasabah unit link
    * calon agen, tapi belum jadi agen unit link
    * karyawan perusahaan asuransi bagian teknik

    hehehe.

    seriously. ini mungkin contoh “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends upon his not understanding it”. bapak firesquid ini cuma bisa mengulang2 argumennya, dan sama dengan bu bravo, terus terang saya juga capek.

  237. untuk bung firesquid,

    sekarang konkritnya aja deh, kita gak usah banyak omong, kita praktikkan saja langsung. saya tantang anda untuk bikinin ilustrasi unit link jagoan anda. nanti saya dan barangkali bung peter, bu bravo dan pak rahmat yang akan membandingkan ilustrasi anda dengan metoda yang kami jalankan. jika nantinya unit link anda ternyata memang lebih menguntungkan, kenapa juga kita gak pilih unit link anda? mungkin dari sini anda akan dapat beberapa nasabah baru.

    untuk standardisasi, kita samakan saja target market kita:

    * budget 2 juta/bulan untuk asuransi jiwa dan investasi
    * kebutuhan perlindungan asuransi jiwa sebesar Rp 500 juta
    * investasi 100% di saham
    * pria, tidak merokok, pekerja kantoran, umur 30 tahun
    * tanpa rider tambahan

    anda boleh pakai unit link atau unit link + reksadana, atau metoda apapun yang paling menguntungkan menurut anda. yang saya minta dari anda:

    * penjelasan bagaimana caranya anda mengelola 2 juta/bulan tersebut untuk asuransi jiwa dan investasi
    * proyeksi keuntungan dan perlindungan di masa yang akan datang sesuai dengan asumsi yang wajar, dan tentunya dengan memperhitungkan seluruh biaya2 yang ada

    setelah saya mendapatkan ilustrasi dari anda, nanti akan saya buat ilustrasi tandingan untuk anda. jika ilustrasi anda memang lebih menguntungkan, saya akan bilang sejujurnya.

    saya tunggu penawaran anda di email priyadi(a)priyadi.net.

  238. #278 Om Pri, inilah yang saya tunggu. Om Firesquid ini kok ya suka menutup2i sesuatu. Gak transparan istilahnya. Kalo saya, sebelum komen saya baca dulu komen2 sebelumnya.

    Ada yang bilang Om Pri gak obyektif (Om Totok #259) tapi gak menyebutkan bagian mananya yang tidak obyektif.

    ————
    Om Firesquid juga mangatakan:
    {#246 JANGAN MEMBANDINGKAN UNIT LINK DENGAN REKSADANA.}
    ————

    Kan yang dibandingkan Unit Link vs Termlife + Investasi. Karena di Unit Link saya ambil Reksadana Saham sebagai Investasinya maka yang dibandingkan adalah: UL vs TL+RDS mana lebih bagus (dengan dana yang sama).

    ————————-
    #245 Om Firesquid bilang (komen atas komen saya):
    6. [[”Saya beli asuransi term life langsung ke perush. asuransi dan investasi dari reksadana. Hasilnya manfaat asuransi yang didapat lebih besar, hasil investasi pun lebih optimal. Gak ada biaya-biaya administrasi atau akuisisi lainnya.]]
    ==> Asumsi ini juga kurang tepat. Ada 2 kekeliruan di sini :
    a. Dana yang diinvestasikan di reksadana dikenakan biaya pengelolaan investasi.
    b. Biaya asuransi Term Life selalu meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Setiap kali nasabah memperpanjang masa kontrak selalu dikenakan biaya administrasi ke re-asuransi, biaya administrasi perpanjangan polis, dan juga ditambahkan margin keuntungan perusahaan asuransi.
    ————————-

    a. Lah saya bayar MI cuma 2% something. Sementara via Perush. XXX di Unit Link dia, saya membayar fee 5% berupa selisih harga jual dan beli. Ini belum biaya administrasi bulanan. Kalo saya main saham langsung sih cuma kena fee 0.6%-0.7% (jual+beli), tapi ya saya bandingin RDS yang sama persis dengan yang diambil oleh Unit-Link.

    b. Sudah dijelaskan sama yang lain.

    ————–
    [[#244-momotaro: BUAYA AKUISISI YAG BESAR AH NGGAK JUGA TUH?? CMA 200 PERSEN AJA KOK..]]
    ————–

    Kalo anda agen, pantes ngomong gini. Kalo anda nasabah, terserah anda. Uang juga uang anda sendiri. 200% untuk kelebihan “One Stop Shopping”. Kalo Worth It buat anda ya silahkan. Kalo buat saya sih tidak :)

  239. Buat Semuanya, saya memang pro Om Priyadi karena mengalami hal yang sama dengan Mbak Bravo. Saya juga serta setuju dengan Om Peter.

    Tapi saya melihat yang mereka (Om Pri, Mbak Bravo, dan Om Peter) sampaikan adalah Fakta bukan mengada-ada. Adapun yang (menurut saya) subyektif adalah: Biaya akuisisi yang 205% adalah Tidak Worth It.

    Ini memang subyektif (tapi logikanya sih kalo bisa lebih murah ngapain bayar lebih mahal). Saya setuju bahwa 205% adalah TIDAK WORTH IT. Buat yang bilang WORTH IT 205% dapat “One Stop Shopping” ya silahkan. Gak ada yang maksa kok.

    Beberapa komen menolak membandingkan Unit Link vs Term Life+Reksadana (asumsinya investasi yang diambil di Unit Link adalah reksadana, waktu saya, saya ambil reksadana saham).

    Malah maunya membandingkan Unit Link vs Termlife. Setelah itu dibilang di Term Life uang hangus.

    Kalo uang 2jt saya (per bulan) dibelikan Unit Link berapa UP saya dan prediksi hasil investasi setelah 20tahun. Kalo ambil Term Life dengan Premi 2jt/bulan (24jt/tahun) berapa coba UP-nya???? Jauh sekali bukan???

    Trus Unit Link vs Reksadana. Lalu bilang kalo ada apa-apa, gak ada yang nanggung.

    Sama dengan di atas, kalo ambil reksadana langsung, saya akan dapat hasil investasi yang PASTI lebih besar (kan instrumen yang dipake sama) karena 100% uang saya di-investasikan sementara di Unit Link ada yang dipake untuk biaya akuisisi dan administrasi.

    Trus ada pula yang lucu: Unit Link + Reksadana vs Term Life + Reksadana.

    Yang paling lucu adalah: membandingkan dengan buka usaha (dan hasilnya lebih tinggi). Hehehehe… Kalo kita bicara pasif income, buka usaha tentu bukanlah pasif income. Persamaan dengan membeli Reksadana cuma sama-sama beresiko :)

  240. Saya sudah bilang, saya bukan agen asuransi jiwa.
    Saya hanya pekerja kantoran yang memang ada niat jadi agen, tapi belum punya kemauan.

    Mas Priyadi tentu tau, sebagus apapun ilustrasi yang dibuat, itu tetap saja ILUSTRASI bukan FAKTA. Perlu Mas Priyadi ketahui bedanya Unit Link dengan Term.
    – Unit Link, transparan soal biaya akuisisi
    – Term Life, tidak jelas seberapa besar MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN atas premi

    Contoh…ini hanya contoh, dengan Unit Link
    =======================================================
    Premi : 2 jt/bln
    Rencana setor : 10 tahun (total 240 juta)
    UP Meninggal : 500jt (max usia 99)

    Raider :
    ———–
    – Sakit Kritis : 300jt (max usia 65)
    – Kecelakaan : 500jt (max usia 60)
    – Rawat Inap : 600 rb/hari (max usia 65)
    – Payor : 2 jt/bln (max usia 65)

    Manfaat Nilai Tunai, MISALNYA INVESTASI RATA-RATA 15% /thn :
    – Setelah 10 tahun : -+ 350 juta
    – Setelah 20 tahun : -+ 1,2 M
    – Setelah 30 tahun : -+ 5,5 M

    Perkiraan TOTAL Biaya Akuisisi selama 10 tahun :
    -+ 30 juta dari 240 juta (berarti asumsi pihak perusahaan ambil untung 12.5%)

    Biaya lainnya yg tak terhitung :
    – Biaya administrasi
    – Biaya pengelolaan investasi

  241. Jika Mas Priyadi membandingkan dengan beli Term Life, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
    – Kenaikan premi asuransi menurut usia
    – Nasabah tidak tau SEBERAPA BESAR MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN YANg DITAMBAHKAN KEDALAM PREMI
    – Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye…

    Dan untuk proyeksi investasi, kita fair saja gunakan angka yang sama, asumsi rata-rata tahunan 15% sampai 30 tahun mendatang.

    Untuk para pakar finansial, selamat menghitung.

  242. Sebagai informasi tambahan, saya memberikan prediksi premi asuransi Term Life tahunan menurut usia, sesuai dengan raider yang saya ambil.
    – Usia 30 : 3jt – 3.5jt /thn
    – Usia 40 : 4.5jt – 5.5jt /thn
    – Usia 45 : 7jt – 8jt /thn
    – Usia 50 : 9jt – 11jt /thn
    – Usia 55 : 14jt – 17jt /thn

    Prediksi biaya diatas belum diperhitungkan dengan Waiver. Saya belum mengerti cara perhitungan waiver.

  243. Ini CHALLENGE saya ke Para Agen Unit Link:
    Saya punya dana nganggur 2jt per bulan. Kalau dimasukkan ke Unit-Link, apa yang saya dapat?

    Ini CHALLENGE untuk yang tidak Pro-Unit Link (termasuk saya hehehe):
    Dengan dana 2jt/bln, bagaimana bisa mendapatkan perlindungan yang sama seperti Unit Link dengan Hasil Investasi yang lebih baik (atau bisa dibalik: mendapatkan hasil investasi yang sama dengan UP/Asuransi yang lebih tinggi daripada Unit Link).

    Sangat SEDERHANA sesungguhnya. Dan hasil akhirnya: Kelebihan Unit-Link adalah “One Stop Shopping”. This is the only advantage untuk Biaya Akuisisi yang dibayarkan (kalau ada kelebihan lainnya, PROVE IT). WORTH IT? ASK YOURSELF.

  244. #281 Om Firesquid, bagaimana anda tidak memasukkan 2 komponen biaya ini?
    [[ Biaya lainnya yg tak terhitung :
    – Biaya administrasi
    – Biaya pengelolaan investasi ]]

    FYI, di Persh. XXX, besarnya biaya administrasi adalah 25rb/bln diambil dari unit-link nasabah (tentu saja harga jual unit yang dipake – lebih kecil 5% dari harga belinya).

    Kalau seperti Om Firesquid yang membayar 500rb/bln, 25rb ini adalah 5% dari setoran bulanan (aktualnya ~30rb karena ada beda harga jual&beli ini).

    Nah biaya pengelolaan investasi seperti yang diakui oleh CS Perush. XXX tadi adalah 5% (ini sudah 2x lipat dari biaya pengelolaan investasi yang dikenakan oleh MI yang dipake oleh Perush. XXX ini yaitu Schroeders).

    Kalau mau FAIR, masukkan semua biaya-biaya. Tidak bisa diabaikan karena dianggap kecil (apalagi ternyata besar).

  245. Betul, saya mau lihat bagaimana para ahli finansial di sini mengalokasikan dana 2jt/bln untuk mendapatkan manfaat seperti di Unit Link.

    Sedangkan premi asuransi Term Life untuk manfaat yang saya dapatkan aja 3jt – 3.5jt. Dan setau saya premi term life tidak bisa dicicil seperti di Unit Link.

  246. #277
    “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends upon his not understanding it”.
    ————————————-

    Hihihihihi…….:d:d:d

  247. Om Firesquid, bagaimana anda tidak memasukkan 2 komponen biaya ini?
    “[[ Biaya lainnya yg tak terhitung :
    – Biaya administrasi
    – Biaya pengelolaan investasi ]]”

    ===========================================================

    Karena biaya tersebut bervariasi antara perusahaan A, B, C, atau Z. Saya hanya mengasumsikan ada biaya akuisisi dan biaya premi bulanan.

    Jika Pak Rahmat ingin menghitung Reksadana + Term Life, abaikan juga kedua biaya tersebut.

  248. #282
    [[ Jika Mas Priyadi membandingkan dengan beli Term Life, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
    – Kenaikan premi asuransi menurut usia ]]

    Dengan Premi dibayar dimuka untuk Unit Link, kalo di NPV dengan tingkat investasi yang diperkirakan maka premi Unit Link tetap mahal. Dan kalau ternyata investasi yang dilakukan jeblok maka nasabah akan makin terkena dampaknya. Inga…Inga… Unit Link TIDAK DIJAMIN HASIL INVESTASINYA (kan cuma ILUSTRASI saja).

    [[ – Nasabah tidak tau SEBERAPA BESAR MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN YANg DITAMBAHKAN KEDALAM PREMI ]]

    NASABAH LEBIH TIDAK TAHU LAGI BESARNYA BIAYA AKUISISI (dalam kasus saya bahkan tidak disebutkan adanya biaya akuisisi).

    [[ – Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye…]]

    Come On…. Kalau dari umur saya saat ini (28 tahun) saya rajin meng-investasikan sebagian gaji saya (taruhlah FIX 25% gaji saya saat ini). Saat usia saya 55 tahun, saya akan memperoleh 1100x gaji saya saat ini (asumsi tingkat investasi 15%). Buat apa saya ambil asuransi dengan premi mahal tapi UP kecil setelah umur saya di atas 50 tahun??? Padahal saya sendiri sudah pensiun (tidak ada penghasilan gaji).

  249. #282

    [[ Jika Mas Priyadi membandingkan dengan beli Term Life, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
    – Kenaikan premi asuransi menurut usia ]]

    Dengan premi dibayar dimuka, sebenarnya di Unit-Link kita membayar premi lebih tinggi. Apalagi dengan asumsi tingkat investasi 15%

    [[ – Nasabah tidak tau SEBERAPA BESAR MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN YANg DITAMBAHKAN KEDALAM PREMI ]]

    Di Unit Link, saya bahkan TIDAK TAHU ADANYA BIAYA AKUISISI. Apalagi besarnya.

    [[ – Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye… ]]

    Come On…. Kalau saya rajin menabung sampai usia 55 tahun (saat ini usia 28 tahun) dan setiap bulan menyisihkan 25% gaji saat ini(anggap saja fix 25% dari gaji saat ini). Dengan tingkat investasi 15% maka hasil investasi saya saat saya umur 55 tahun adalah 1100x gaji saya saat ini.

    Well…. Dengan kondisi seperti itu dan saya memang sudah pensiun saat itu maka asuransi jiwa sudah tidak saya perlukan lagi kan? Toh saya sudah tidak memiliki penghasilan lagi.

    Setidaknya untuk saat ini, saya cuma perlu 25% dari gaji saya untuk keperluan bulanan keluarga (1 istri dan 1 anak). 50% sisanya buat beli aset (rumah, tanah, mobil disewakan, dll untuk disewakan). Atau nambah investasi. Sekali-kali beli laptop atau HP terbaru :)

    Tentu saja jika gaji meningkat, porsi investasi pun bertambah dan sebaliknya.

    [[ Dan untuk proyeksi investasi, kita fair saja gunakan angka yang sama, asumsi rata-rata tahunan 15% sampai 30 tahun mendatang. ]]

    No Problem….

    [[ Untuk para pakar finansial, selamat menghitung. ]]

    Kalo membandingkan Unit-Link vs Term Life+Investasi, gak perlu dihitung. Sudah keliatan kok.

  250. #258
    ====================
    Atau paling tidak COPY POLIS, merupakan hal yang wajib dilampirkan pada proposal
    ====================
    Nah, ini juga salah satu permintaan saya kepada agen. Maklum, saya bekerja di bagian teknik, jadi harus mempelajari polis terlebih dahulu. Waktu itu agen saya membawakan COPY POLIS kepunyaan dia, dipinjamkan saja untuk dilihat saja.

    Bapak juga tau bahwa biaya fotocopy tidaklah murah, untuk buat 1 proposal saja bisa habiskan berapa banyak biaya jika tiap proposal harus melampirkan 1 buku polis yang cukup tebal. Sedangkan dari 10 prospek belum tentu jadi 1.
    ———————————

    Sebenarnya tidak tebal kok.
    Dari sekian banyak polis asauransi yang saya lihat, hanya P** yang paling ngawur polisnya. Dia memberikan penjelasan seluruh rider dia dalam polisnya, apakah nasabah membeli rider tersebut atau tidak tetap saja di sertakan.

    Dan yang lucu ungkapan bahwa fotocopy mahal, dengan komisi sekian persen apasih artinya fotocopy. Anda saja kalau mau ngelamar kerja juga usahakan ? Butuh effort lah … “MAHAL” bukan alasan yang tepat.

    heheheh

  251. #284 Ini CHALLENGE saya ke Para Agen Unit Link:
    Saya punya dana nganggur 2jt per bulan. Kalau dimasukkan ke Unit-Link, apa yang saya dapat?

    Ini CHALLENGE untuk yang tidak Pro-Unit Link (termasuk saya hehehe):
    Dengan dana 2jt/bln, bagaimana bisa mendapatkan perlindungan yang sama seperti Unit Link dengan Hasil Investasi yang lebih baik (atau bisa dibalik: mendapatkan hasil investasi yang sama dengan UP/Asuransi yang lebih tinggi daripada Unit Link).
    —————————————-
    Sudah pernah saya lakukan mas,
    kalo ada yang mau silahkan japri ke saya aja
    heheheheh

  252. # 265
    Unit Link merupakan perpaduan dari Term Life + Whole Life + Endowment.
    – Whole Life ==> UP meninggal
    – Term Life ==> sakit kritis + kesehatan + kecelakaan
    – Endowment ==> pengembalian premi
    ————————————
    Unitlink dimanapun gandengannya selalu termlife. JARANG MENGGUNAKAN WHOLE LIFE, kenapa ? Karena murah. Sedangkan wholelife mahal. Itulah kenapa biaya asuransinya SELALU NAIK sesuai umur. Dan biasanya menggunakan AJB (Asuransi Jiwa Berjangka) 10tahunan. Nilai premi naik per10 tahun sesuai umur TANPA malihat kondisi nasabah.

    Bisa saya tahu produk unitlink apa yang menggunakan wholelife ?

    ————————————————
    #286 Betul, saya mau lihat bagaimana para ahli finansial di sini mengalokasikan dana 2jt/bln untuk mendapatkan manfaat seperti di Unit Link.

    Sedangkan premi asuransi Term Life untuk manfaat yang saya dapatkan aja 3jt – 3.5jt. Dan setau saya premi term life tidak bisa dicicil seperti di Unit Link.
    ———————————————–
    Bisa mas, dimana ya yang gak bisa dicicil ?

    ———————————————–
    #281 Contoh…ini hanya contoh, dengan Unit Link
    =======================================================
    Premi : 2 jt/bln
    Rencana setor : 10 tahun (total 240 juta)
    UP Meninggal : 500jt (max usia 99)
    ———————————————–
    Rencana setor ? Ini proposal dari SunLife ?

    ———————————————–
    #282
    Jika Mas Priyadi membandingkan dengan beli Term Life, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
    – Kenaikan premi asuransi menurut usia
    – Nasabah tidak tau SEBERAPA BESAR MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN YANg DITAMBAHKAN KEDALAM PREMI
    – Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye…
    ———————————————

    Mas, pernah lihat termlife di toko sebelah gak ?
    Termlife di toko sebelah kontrak 20tahun, premi tetap. Dapat diperpanjang sampai usia 70tahun. TANPA MENGGUNAKAN MEDICAL. Jadi kondisi apapun nasabah tetap diterima. Satu yang berbeda hanya nilai premi. Itupun nilai premi setelah tahun ke 20 pun sudah ditentukan didepan. Tidak ada premi tambahan atau apapun, JIKA, nasabah mengalami mis, diabetes atau penyakit yang muncul ketika kontrak belum habis.

    Dan jika ingin dipindah ke WholeLife, tinggal switch saja, dengan premi yang disesuaikan TANPA PERLU MEDICAL CHECK UP kembali.

    Hal ini memungkinkan nasabah merasa terproteksi secara maksimal.

    Jadi, lihat kiri kanan dulu. Produk toko sebelah seperti apa. Jangan dihantam saja bahwa produk TermLife SAMA PERSIS dengan jagoan anda. Yang saya tahu termlife mahal adalah dari SunLife. Anda ingin jadi agen SunLife ? :-)

  253. #283 Sebagai informasi tambahan, saya memberikan prediksi premi asuransi Term Life tahunan menurut usia, sesuai dengan raider yang saya ambil.
    – Usia 30 : 3jt – 3.5jt /thn
    – Usia 40 : 4.5jt – 5.5jt /thn
    – Usia 45 : 7jt – 8jt /thn
    – Usia 50 : 9jt – 11jt /thn
    – Usia 55 : 14jt – 17jt /thn
    ———————————————–
    Ridernya apa saja mas ?

    ———————————————–
    Prediksi biaya diatas belum diperhitungkan dengan Waiver. Saya belum mengerti cara perhitungan waiver.
    ———————————————–
    Waiver dihitung bersama produk dasar dan rider lain yang bersamanya. Rider yang tidak dapat menggunakan WP biasanya adalah Critical Illness, karena rider ini langsung keluar dan hanya sekali jika terjadi penyakit kritis, sehingga tidak perlu rider.

    Semoga membantu .. :-)

  254. #288

    =============
    Om Firesquid, bagaimana anda tidak memasukkan 2 komponen biaya ini?
    “[[ Biaya lainnya yg tak terhitung :
    – Biaya administrasi
    – Biaya pengelolaan investasi ]]”

    =============

    Karena biaya tersebut bervariasi antara perusahaan A, B, C, atau Z. Saya hanya mengasumsikan ada biaya akuisisi dan biaya premi bulanan.

    Jika Pak Rahmat ingin menghitung Reksadana + Term Life, abaikan juga kedua biaya tersebut.

    ———————————————-

    Statemen:
    “Jika Pak Rahmat ingin menghitung Reksadana + Term Life, abaikan juga kedua biaya tersebut”.

    adalah BasBang. Mana bisa diabaikan kalau fee untuk manager investasi via unit link = 5% sementara langsung ke MI = 2.25% saja (ini untuk produk investasi yang sama antara via Unit Link dan langsung ke MI). Selain itu, biaya administrasi yang 5% (untuk setoran 500rb/bln) tentu SANGAT SIGNIFIKAN. Kenapa tidak dimasukkan.

  255. # 277

    baru tau? ada beberapa Firesquid:

    * nasabah unit link
    * calon agen, tapi belum jadi agen unit link
    * karyawan perusahaan asuransi bagian teknik

    hehehe.

    seriously. ini mungkin contoh “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends upon his not understanding it”. bapak firesquid ini cuma bisa mengulang2 argumennya, dan sama dengan bu bravo, terus terang saya juga capek.
    ————————————–

    Biasanya, agen insurance yang ngeyel masalah unitlink adalah terbaik adalah :
    – Agen yang belum pernah mengerti/membeli reksadana.
    – Agen yang memang diperusahaan insurancenya TIDAK menjual reksadana. Sehingga training mengenai reksadana tidak pernah ada.
    – Emang dari sononya sulit ngerti :-)

    Sudahlah … nunggu aja om pri bikin komparasi unitlink vs reksadana+termlife pake excel.

    Biar bisa belajar bareng :-D

  256. #282:

    Jika Mas Priyadi membandingkan dengan beli Term Life, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
    – Kenaikan premi asuransi menurut usia

    di unit link juga berlaku hal ini. tapi tidak disampaikan dalam ilustrasi.

    – Nasabah tidak tau SEBERAPA BESAR MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN YANg DITAMBAHKAN KEDALAM PREMI

    hal yang sama juga bisa dituduhkan ke unit link. :-?

    – Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye…

    di dalam polis term life ada klausul perpanjangan tanpa syarat. ini sudah dibahas di FAQ saya di posting saya (anda baca tidak ya?)

    #283:

    Sebagai informasi tambahan, saya memberikan prediksi premi asuransi Term Life tahunan menurut usia, sesuai dengan raider yang saya ambil.
    – Usia 30 : 3jt – 3.5jt /thn
    – Usia 40 : 4.5jt – 5.5jt /thn
    – Usia 45 : 7jt – 8jt /thn
    – Usia 50 : 9jt – 11jt /thn
    – Usia 55 : 14jt – 17jt /thn

    saya berani bertaruh di unit link kenaikannya akan mirip seperti itu.

  257. #281:

    Saya sudah bilang, saya bukan agen asuransi jiwa. Saya hanya pekerja kantoran yang memang ada niat jadi agen, tapi belum punya kemauan.

    no problem. tantangan saya di #278 masih berlaku. anda boleh minta ilustrasi dari agen anda. anda yang mengklaim, anda sendiri yang membuktikan. saya tunggu proposal anda di email saya.

    Mas Priyadi tentu tau, sebagus apapun ilustrasi yang dibuat, itu tetap saja ILUSTRASI bukan FAKTA. Perlu Mas Priyadi ketahui bedanya Unit Link dengan Term.

    no problem. supaya apple to apple, dari ilustrasi anda saya buat ilustrasi tandingan dengan asumsi yang persis sama. tidak perlu takut saya tidak adil, saya akan menyerahkan spreadsheet saya. kalau saya melakukan kesalahan anda boleh cek dan protes di sini.

    – Unit Link, transparan soal biaya akuisisi
    – Term Life, tidak jelas seberapa besar MARGIN KEUNTUNGAN PERUSAHAAN atas premi

    whatever you say. saya masih menunggu proposal dari anda dengan target market yang saya sebutkan di #278. saya cek email belum ada email dari anda. bicara itu gampang, yang penting actionnya :)

  258. #289
    Come On…. Kalau dari umur saya saat ini (28 tahun) saya rajin meng-investasikan sebagian gaji saya (taruhlah FIX 25% gaji saya saat ini). Saat usia saya 55 tahun, saya akan memperoleh 1100x gaji saya saat ini (asumsi tingkat investasi 15%). Buat apa saya ambil asuransi dengan premi mahal tapi UP kecil setelah umur saya di atas 50 tahun??? Padahal saya sendiri sudah pensiun (tidak ada penghasilan gaji).
    ————————-

    C7 banget, ini dia POINT-nya.

  259. “Setiap pengajuan polis, kondisi kesehatan calon tertanggung akan terus diperiksa. Jadi ada kemungkinan tertanggung hanya bisa diterima di Term Life sampai usia 40 atau 50. Jika terjadi sesuatu di atas usia 50, yah…bye..bye…”
    Naaaah…saya liat ini lah kelebihan unit link !!!
    KLo term life emang muraah, tapi kebanyakan orang cenderung lupa memperpanjang asuransinya hehehe… lagian setiap orang ga tahu kondisi kesehatan&panjang umurnya.. bisa besok pagi mati bisa 50 th mati bisa juga 100 th bru mati…
    :d:d

  260. Yang sungguh membuat saya heran, kok gak ada yang mau mengaku agen ya?

    saya liat di postingan di salah satu millis saham, sama juga. padahal waktu saya masih jadi agen, kita diharuskan MENGAKU sebagai agen ke sebanyak mungkin orang di setiap kesempatan.

    Atau agen2 sekarang trainingnya udah berubah jadi gini: ‘ngga boleh ngaku agen, soalnya kalo bodoh ketauan deh nanti, jadi malu-maluin’
    hihihihi…….

  261. om pri cma liat dari segi itung itungan duit aja.. tapi kurang melihat dari sisi manfaat lain deh..
    klo dilihat dari sisi lain ada beberapa keuntungan unit link.
    – praktis
    – Sudah teruji perusahaanya selama brtahun tahun dalam mengelola keuangan sehingga lebih aman/ terhindar dari kerugian, meskipun hal itu tetep ada kemungkinan… cnth : allianz,manulife
    – kelebihan lainnya yaitu menghindari kelupaan membayar premi.. karena di unit link nasabah dianjurkan menaruh uangnya 10-15 thnan aja.. jadi tahun tahun selebihnya tetap tercover asuransi apabila dana tidak diambil semua..
    – lebih mudah diterima karena lebih familiar bagi orang pada umumnya.. masyarakat..
    – kebanyakan orang berasuransi lebih ke proteksi dibanding ke investasinya, maka mereka mendambakan kemudahaan dan kurang suka mengurus secara berulang dan berkala seperti halnya term life.
    – Nasabah Unit link kebanyakan orang kelas menengah keatas, dari survey ayng saya temui, kebanyakan dari profesi : lebih dari 95 persen pengusaha, profesional(dokter), karyawan dengan tingkat kesejahteraan yang memadai.dengan demikian dengan adanya unit link produk bisa memmberikan lapangan kerja baru yaitu “agen” bagi para pengangguran atau orang yang kurang beruntung dalam hal finansial.sehingga mengurangi jumlah pengangguran.

    ohya klo nasabah dari kalangan petani peternak guru , pns abri kayaknya masih sangat jarang yang ikut unit link.kebanyakan mereka mengikuti asuransi tradisional yang relatif murah… jadi klo mas pri mau ikutan yang murah ya ikut asuransi tradisional, klo mau ikut yang mahal ya ikutlah unit link…

    pangsanya kan beda???

  262. anda bisa liat bumiputra(traditional) vs allianz(unit link) lebih mudah mana ngeklaimnya??? anda tanya pada diri anda sendiri..

  263. anda liat bumiputra(traditional) dengan alianz(unit link) lebih bagus mana pelayanannya?? lebih mudah mana klaimya??

  264. “Atau agen2 sekarang trainingnya udah berubah jadi gini: ‘ngga boleh ngaku agen, soalnya kalo bodoh ketauan deh nanti, jadi malu-maluin’
    hihihihi…….”
    saya kurang setuju dengan pendapat bravo…
    terlalu memojokkan profesi agen, berarti anda kurang profesional juga kan??

  265. # 306

    Pernah liat postingan saya sebelumnya?
    saya ga pernah memojokan profesi agen sebenarnya, kalo mereka profesional. Agen saya yang sekarang sangat profesional (muncul di kontan edisi khusus tuh) dan saya sangat puas dengan pelayanan beliau. Sampai sekarang pun kalo saya butuh asuransi/compare harga masih berhubungan sangat baik.

    yang saya ngga suka adalah agen-agen selalu menyalahkan agen-agen yang lain.

    Gimana saya bisa memojokan profesi agen? kan saya udah bolak-balik ngaku dulu pernah jadi agen. Gimana saya bisa memojokan profesi yang dulu pernah ngasih saya makan?

    Saya jauh lebih respek kalo ada yang mengaku agen dan secara profesional menjelaskan fakta dan logika.

  266. Begini, saya juga bosan beradu argumen dengan yang lain. Postingan kali ini saya tujukan saja kepada Mas Priyadi. Saya pribadi, kenapa saya pilih Unit Link daripada Reksadana + Term Life (+ Raider).

    Misalkan seorang calon nasabah :
    – Usia : 30 tahun
    – sex : lelaki/tidak merokok
    – Pekerjaan : kantoran
    – Alokasi investasi : 2 juta perbulan (24 juta/tahun)

    Rencana proteksi :
    – UP meninggal : 500 juta
    – Sakit kritis : 300 juta
    – Kecelakaan : 500 juta
    – Rawat Inap : 600 rb/hari

    Seperti yang saya tulis sebelumnya :
    “Setiap orang pasti tau tanggal lahir dirinya atau orang lain. Tapi tidak ada yang tau kapan tanggal mati dirinya”

    Mas Priyadi bilang Reksadana + Term Life (+raider) lebih menguntungkan, memang ada benarnya. Dengan kondisi :
    NASABAH SUDAH TAU PASTI KONDISI KESEHATAN DAN UMUR SENDIRI, BAHWA NASABAH TIDAK AKAN TERKENA SAKIT KRITIS ATAU MENINGGAL DALAM 10 TAHUN.

    Di Indonesia ada 3 penyakit kritis yang menjadi pembunuh utama, yaitu Kanker, Jantung, dan Stroke. Yang namanya hidup orang tidak bisa diprediksi. Sekarang akan saya bahas apabila nasabah tsb TERKENA STROKE, misalnya setahun setelah dia merencanakan investasi.

    REKSADANA + Term Life dan Raidernya ====================================
    Asumsikan nasabah ambil term life, untuk proteksi 10 tahun. Nasabah dikenakan premi asuransi yang static 4 jt/tahun.

    Tahun I (usia 30):
    – Asuransi : 4 juta
    – Top-Up Investasi : 20,000,000
    + Dana di Investasi : 20,000,000
    + Return Investasi 15% : 3,000,000

    Tahun II (usia 31) :
    ———- NASABAH terkena SERANGAN JANTUNG ———–
    Dana yang terbentuk
    – Dana Investasi : 23,000,000
    – Klaim asuransi : 300,000,000

    Biaya pengobatan : 300 juta

    Setelah sembuh dari sakit, perusahaan memutuskan hubungan kerja karena dinilai sudah tidak produktif.
    Penghasilan : 0
    ——————————————————

    Kondisi investasi di tahun II :
    – Asuransi : gratis (ada waiver)
    – Top-Up Investasi : 0 (tdk ada penghasilan)
    + Dana di Investasi : 23,000,000
    + Return Investasi akhir tahun 15% : 3,450,000

    Tahun III :
    – Asuransi : gratis
    – Top-Up Investasi : 0
    + Dana di Investasi : 26,450,000
    + Return Investasi akhir tahun 15% : 3,967,500

    Tahun IV :
    – Asuransi : gratis
    – Top-Up Investasi : 0
    + Dana di Investasi : 30,417,500
    + Return Investasi akhir tahun 15% : 4,562,625

    Tahun V :
    – Asuransi : gratis
    – Top-Up Investasi : 0
    + Dana di Investasi : 34,980,125
    + Return Investasi akhir tahun 15% : 5,247,019
    *
    *
    *
    sampai tahun 10
    *
    *
    *
    Tahun X :
    – Asuransi : gratis
    – Top-Up Investasi : 0
    + Dana di Investasi : 70,357,526

  267. UNIT LINK
    ==========
    Asumsi :
    – Biaya akuisisi investasi : 5%
    – Biaya akuisisi proteksi 5 tahun berturut : 100, 60, 15, 15, 15
    – Biaya asuransi utk 10 tahun static 4 juta/tahun

    Alokasi dana : 2 jt/bln (24 juta/thn)
    – Alokasi proteksi : 14jt
    – Alokasi investasi : 10jt

    Tahun I :
    – Setoran : 24,000,000
    – Akuisisi proteksi 100% : 14,000,000
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta (thn I diutangkan)
    + Pengembalian Premi : 9,500,000
    + Dana di Investasi : 9,500,000
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 1,425,000

    Tahun II (usia 31) :
    ———- NASABAH terkena SERANGAN JANTUNG ———–
    Dana yang terbentuk
    – Dana Investasi : 10,925,000
    – Klaim asuransi : 300,000,000

    Biaya pengobatan : 300 juta

    Setelah sembuh dari sakit, perusahaan memutuskan hubungan kerja karena dinilai sudah tidak produktif.
    Penghasilan : 0
    ——————————————————-

    Kondisi investasi di tahun II :
    – Setoran : (perusahaan menyetorkan nasabah 24jt)
    – Akuisisi proteksi 60% : 8,400,000
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta (thn II diutangkan)
    + Pengembalian Premi : 5,600,000 + 9,500,000
    + Dana di Investasi : 26,025,000
    (9,500,000 + 1,425,000 + Pengembalian Premi)
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 3,903,750

    Tahun III :
    – Setoran : (perusahaan menyetorkan nasabah 24jt)
    – Akuisisi proteksi 15% : 2,100,000
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta (+utang 8 jt)
    + Pengembalian Premi : 11,900,000 + 9,500,000 – 12,000,000
    + Dana di Investasi : 39,328,750
    (26,025,000 + 3,900,750 + Pengembalian Premi)
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 5,899,313

    Tahun IV :
    – Setoran : (perusahaan menyetorkan nasabah 24jt)
    – Akuisisi proteksi 15% : 2,100,000
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta
    + Pengembalian Premi : 11,900,000 + 9,500,000 – 4,000,000
    + Dana di Investasi : 62,628,063
    (39,328,750 + 5,899,313 + Pengembalian Premi)
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 9,394,209

    Tahun V :
    – Setoran : (perusahaan menyetorkan nasabah 24jt)
    – Akuisisi proteksi 15% : 2,100,000
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta
    + Pengembalian Premi : 11,900,000 + 9,500,000 – 4,000,000
    + Dana di Investasi : 89,422,272
    (62,628,063 + 9,394,209 + Pengembalian Premi)
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 13,413,341

    Tahun VI :
    – Setoran : (perusahaan menyetorkan nasabah 24jt)
    – Akuisisi proteksi 0% : 0
    – Akuisisi investasi 5% : 500,000
    – Biaya asuransi : 4 juta
    + Pengembalian Premi : 14,000,000 + 9,500,000 – 4,000,000
    + Dana di Investasi : 122,335,613
    (89,422,272 + 13,413,341 + Pengembalian Premi)
    + Return Investasi di akhir tahun 15% : 18,350,342

    Dari tahun ke-6 saja nilai tunai sudah lebih besar dari Reksadana + Term Life. Saya pikir hitungan cukup sampai di sini. Jika hitungan diteruskan sampai tahun ke-10, maka nilai tunai menjadi 300jt.

  268. #301:

    KLo term life emang muraah, tapi kebanyakan orang cenderung lupa memperpanjang asuransinya hehehe… lagian setiap orang ga tahu kondisi kesehatan&panjang umurnya.. bisa besok pagi mati bisa 50 th mati bisa juga 100 th bru mati…

    no problem, semua asuransi pasti mengingatkan nasabahnya untuk memperpanjang. unit link pun seperti itu. orang berusia 100 tahun yang memiliki planning finansial yang baik tidak akan memerlukan asuransi jiwa, karena dana yang dia miliki sudah jauh lebih besar daripada UP asuransi jiwa. selain itu, orang berumur tinggi bukan butuh perlindungan jika dia meninggal, tapi dia butuh perlindungan justru kalau dia hidup terlalu lama. perlindungan seperti ini diberikan oleh produk anuitas seumur hidup, bukan asuransi jiwa. hayooo, ada berapa % agen asuransi yang tahu istilah ‘anuitas seumur hidup’? perlu disurvey juga nih :)

    #303:

    Sudah teruji perusahaanya selama brtahun tahun dalam mengelola keuangan sehingga lebih aman/ terhindar dari kerugian, meskipun hal itu tetep ada kemungkinan… cnth : allianz,manulife

    anda mencampuradukkan perusahaan asuransi dan produk asuransi. perusahaan asuransi bisa memiliki produk unit link dan produk term life sekaligus.

    kelebihan lainnya yaitu menghindari kelupaan membayar premi.. karena di unit link nasabah dianjurkan menaruh uangnya 10-15 thnan aja.. jadi tahun tahun selebihnya tetap tercover asuransi apabila dana tidak diambil semua..

    setelah 15 tahun mungkin saya sudah tidak lagi perlu asuransi jiwa :-?

    #304:

    anda bisa liat bumiputra(traditional) vs allianz(unit link) lebih mudah mana ngeklaimnya??? anda tanya pada diri anda sendiri..

    lagi2 anda mencampuradukkan perusahaan asuransi dan produk asuransi. allianz juga punya produk term life lho.

  269. #308-#310:

    ya ampun. anda membandingkan term life dengan unit link, tapi yang unit link anda kasih rider critical illness, sedangkan yang term life anda cuma kasih rider waiver of premium.

    waiver of premium itu gunanya bukan untuk income replacement, tapi untuk menalangi premi sewaktu sekarat sampai benar2 meninggal dunia. kalau mau apple to apple, carilah term life yang punya rider critical illness juga.

    nice try though.

    btw dulu juga saya pikir tidak ada term life yang punya critical illness sehingga satu2nya pertanggungan yang ada di unit link tapi tidak ada di term life adalah critical illness. tapi setelah bikin 2 posting tentang unit link ini, saya tahu sekarang paling tidak ada beberapa produk term life yang punya rider critical illness: manulife proactive plus, takaful falah, commonwealth life danatra siaga, allianz smart life.

    jadi, silakan anda kembali ke meja kerja anda. saya ingatkan lagi, anda buat ilustrasi TANPA RIDER TAMBAHAN, tanpa kesehatan, tanpa waiver, tanpa kecelakaan, tanpa critical illness, hanya asuransi jiwa saja. bukan apa2, ini cuma untuk menyederhanakan perhitungan saja. saya bukan aktuaris atau agen asuransi yang punya akses ke semua variabel2 tersebut (untuk mendapatkan tabel mortalitas saja sampai setengah mati). tujuan kita cuma ingin melihat produk unit link anda dibandingkan dengan tips saya di atas, dan bukan untuk membandingkan antar produk asuransi.

  270. #312: tambahan lagi: silakan anda konsentrasi saja pada apa yang menurut anda solusi terbaik. biarkan kami konsentrasi pada term life :)

  271. ========================================================
    “unit link anda kasih rider critical illness, sedangkan yang term life anda cuma kasih rider waiver of premium.”
    ========================================================
    Term Life juga ada yang cover Criticall Illness dan Asuransi kesehatan, misalnya rawat inap. Bedanya Unit Link dan Term Life cuma di Payor dan Waiver.
    – Payor : membayarkan setoran premi asuransi dan investasi
    – Waiver : membayarkan setoran premi asuransi doank

    ==========================================================
    “orang berusia 100 tahun yang memiliki planning finansial yang baik tidak akan memerlukan asuransi jiwa, karena dana yang dia miliki sudah jauh lebih besar daripada UP asuransi jiwa.”
    ==========================================================

    Setuju sekali. Dan saya pikir tidak ada perusahaan asuransi jiwa yang mau mengcover nasabah berusia 100 tahun.
    Di perusahaan saya bekerja, asuransi perjalanan saja hanya cover untuk nasabah sampai usia 70 tahun.

    Maka dari itu perusahaan asuransi jiwa sering melakukan promo demikian :
    Asuransi : Menjadi tabungan dana pensiun jika berumur panjang
    Asuransi : Menjadi proteksi yang handal jika terkena resiko hidup.

    Btw, Mas Priyadi. Sudah baca ilustrasi yang saya postingkan. Gimana perbandingan dengan Reksadana + Term Life (+rider).

  272. # 314

    Setuju sekali. Dan saya pikir tidak ada perusahaan asuransi jiwa yang mau mengcover nasabah berusia 100 tahun.
    ——————————

    Cuma sayangnya, di unit link, kita juga harus bayar premi asuransi jiwa sampai umur 100 thn.:)

  273. #314:

    Btw, Mas Priyadi. Sudah baca ilustrasi yang saya postingkan. Gimana perbandingan dengan Reksadana + Term Life (+rider).

    silakan anda revisi dulu ilustrasi anda supaya tidak ada ridernya. pengetahuan dan data yang saya miliki tidak cukup untuk menghitung estimasi biaya term life berikut ridernya. kalau saya buatkan tanpa rider, nantinya tidak adil untuk anda sendiri.

  274. Maaf, double post.
    Baru pertama kali coba membuat blockquote.

    Cuma sayangnya, di unit link, kita juga harus bayar premi asuransi jiwa sampai umur 100 thn.

    Di asuransi tradisional (term/whole life) juga sama Bu.
    Kalau mau di cover sampai 100 tahun, juga harus bayar premi sampai usia 100.

    silakan anda revisi dulu ilustrasi anda supaya tidak ada ridernya. pengetahuan dan data yang saya miliki tidak cukup untuk menghitung estimasi biaya term life berikut ridernya. kalau saya buatkan tanpa rider, nantinya tidak adil untuk anda sendiri.

    Berarti cuma hitung yg UP meninggal saja.
    Justru ini yang menjadi masalah. Karena kelebihan unit link bukan terletak pada UP meninggal, melainkan karena rider-nya terutama payor.

    Tujuan orang ambil Unit Link bukan untuk mendapatkan UP meinggal yang tinggi. Karena UP meninggal bisa bertambah dari 500 juta menjadi MILYARAN, jika nasabah meninggal di usia tua.

    Tujuan orang ambil Unit Link karena JAMINAN PROTEKSI THD PERENCANAAN KEUANGAN. Misalnya terkena sakit kritis.

    Maka saya bilang Unit Link tidak bisa dibandingkan dengan Reksadana + Term Life. Pada Term Life, nasabah hanya punya rider yang menjamin pembayaran premi asuransi, yaitu Waiver of Premium. Tapi tidak ada jaminan pada setoran untuk reksadana nya. :)

    Semoga penjelasan saya ini berguna bagi Mas Priyadi.

  275. #318
    Di asuransi tradisional (term/whole life) juga sama Bu.
    Kalau mau di cover sampai 100 tahun, juga harus bayar premi sampai usia 100.
    _________________________________

    Ngga papa pak, wong saya emang ga berencana di cover SEUMUR HIDUP kok, saya berencana paling lambat 60 thn udah PENSIUN. Dan kalo udah pensiun ,masa saya masih butuh asuransi? seperti yang pak pri bilang, yang saya butuhkan adalah ‘anuitas seumur hidup’

    Masa masih ngga nangkep point bahasan disini? anda ngambil asuransi sebenarnya buat apa? kalo saya sih buat PROTEKSI terhadap resiko kehilangan pendapatan bagi keluarga selagi saya masih produktif. Kalo udah ga produktif buat apa juga buang2 uang bayar premi asuransi jiwa yang begitu mahal.

    Kalo di unit link saya mau ga mau harus bayar premi sampe seumur hidup. Betul ngga?

  276. #318:

    Di asuransi tradisional (term/whole life) juga sama Bu. Kalau mau di cover sampai 100 tahun, juga harus bayar premi sampai usia 100.

    masalahnya adalah: tidak ada manusia di bumi ini yang perlu perlindungan sampai 99 tahun, tetapi kebanyakan ilustrasi unit link dibuat sampai umur 99 tahun. apakah nasabah diberi cukup informasi kapan perlindungan di unit link masih berguna untuknya? padahal mungkin nasabah cuma perlu sampai 10 tahun ke depan, atau bahkan cuma 5 tahun saat unit linknya sendiri belum balik modal. kalau ngambil terpisah, term life dapat dibatalkan kapan saja tanpa harus melikuidasi reksadananya. apakah nasabah diberi cukup informasi apa yang harus dia lakukan setelah melikuidasi unit linknya?

    Tujuan orang ambil Unit Link karena JAMINAN PROTEKSI THD PERENCANAAN KEUANGAN. Misalnya terkena sakit kritis.

    Maka saya bilang Unit Link tidak bisa dibandingkan dengan Reksadana + Term Life. Pada Term Life, nasabah hanya punya rider yang menjamin pembayaran premi asuransi, yaitu Waiver of Premium. Tapi tidak ada jaminan pada setoran untuk reksadana nya

    more progress, finally! dengan kata lain anda sekarang sudah bisa mengakui kalau saya tidak perlu rider macam2 artinya term life + reksadana lebih menguntungkan daripada unit link :).

    tapi sudah saya bilang sebelumnya kalau di term life juga dapat dengan mudah mereplikasikan manfaat yang serupa. waiver of premium itu bukan untuk income replacement. kalau mau income replacement, pakailah rider dengan karakteristik income replacement, seperti accidental death & disability, atau critical illness. bedanya cuma satu: di unit link nasabah biasanya dibayar dengan anuitas dengan melakukan top up pada porsi investasi, sedangkan di term life biasanya nasabah mendapatkan dalam bentuk lump sum. sama sekali tidak ada perlindungan yang ada di unit link yang tidak bisa direplikasikan di term life.

    jadi sekarang mana ilustrasinya? tantangan saya masih berlaku. saya harap setelah ini saya tidak perlu mendengar excuse lagi. asuransi jiwa tanpa rider + investasi vs asuransi jiwa tanpa rider + investasi, apple to apple, perbandingan yang sangat adil menurut saya. tinggal masalah anda berani atau cuma bisa bikin excuse lagi pada komentar berikutnya :P

  277. #314
    ========================================================
    “unit link anda kasih rider critical illness, sedangkan yang term life anda cuma kasih rider waiver of premium.”
    ========================================================
    Term Life juga ada yang cover Criticall Illness dan Asuransi kesehatan, misalnya rawat inap. Bedanya Unit Link dan Term Life cuma di Payor dan Waiver.
    – Payor : membayarkan setoran premi asuransi dan investasi
    – Waiver : membayarkan setoran premi asuransi doank
    —————————————-

    Payor Benefit : merupakan program Perlindungan (hanya dapat diambil bersamaan dengan program perlindungan dsar) yang memberikan santunan pembebasan premi bagi PEMBAYAR PREMI apabila pembayar premi meninggal atau mengalami ketidak mampuan total. Program ini dirancang khusus untuk melengkapi program Perlindungan Dasar dengan tertanggung anak-anak (Juvenile insurance)

    Waiver Of Premium : merupakan program perlindungan tambahan (hanya dapat diambil dengan program perlindungan dasar) yang memberikan santunan pembebasan premi yang diakibatkan KETIDAKMAMPUAN TOTAL

    Mas, saya sebenarnya juga berada di industri asuransi dengan lisensi AAJI Tradisional, Unitlink dan WAPERD. Jadi kalau mau pakai istilah asuransi tolong jangan ngawur ya. Kasihan yang lain jadi bingung. Mengingat anda sendiri bukan agen.

    Saya setuju dengan komentar anda, bahwa di unitlink jika terjadi ketidakmampuan maka pihak insurance akan mambayarkan premi asuransi + investasi (yang merupakan keseluruhan premi). Ini yang tidak dipunyai oleh termlife+reksadana.

    Jika terjadi ketidakmampuan diawal tahun investasi reksadana, maka yang tercover preminya hanya premi termlife saja. Sementara alokasi investasi reksadana rutin akan terhenti.

    Saya pribadi lebih suka memisah antara investasi dan proteksi. Tetapi, saya juga memiliki polis unitlink, hanya nilainya tidak besar, yang saya butuhkan ya waiver of premium dari unitlink tersebut. Kenapa ?
    Unitlink bukan keranjang investasi saya.

    Saya membeli produk unitlink yang tanpa ada potongan AJB. Ada ? Ya ada. Yang ada hanya biaya akuisisi ( tahun pertama hanya 75%, bukan 100%). Dan masa pembayaran premi FIX 10 tahun. Bukan menggunakan cuti premi yang akhirnya memotong hasil investasi seperti unitlink pada umumnya. Yang saya sukai, produk ini juga mempunyai Nilai Tunai Yang Dijamin, walapun tidak besar.

    Saya melihat diskusi ini membedah bahwa dengan cara dipisah, kita bisa memilih yang terbaik diantara masing2 produk (bahasa kerennya best of breed), berbeda ketika kita membeli satu bundle. Dan dengan dipisah, kita dapat memperbesar hasil akhir yang diinginkan.

    Tentunya setiap usaha yang kita lakukan (beli terpisah maupun bundle) mempunyai resiko masing2. Ini mungkin yang harus disadari oleh nasabah dan calon nasabah.

  278. # 321
    Jika terjadi ketidakmampuan diawal tahun investasi reksadana, maka yang tercover preminya hanya premi termlife saja. Sementara alokasi investasi reksadana rutin akan terhenti.
    _____________________________________

    Ini di term life mungkin bisa di cover dengan CC dan AD & D.

    Kalo ketidakmampuan nya karena penyakit kritis, akan keluar sejumlah uang/dana.

    Atau kalau karena kecelakaan juga keluar sejumlah dana. Cuma bedanya memang di term life keluar dlm bentuk lump sum dan di unit link dlm bentuk anuitas.

    Tetap lebih menguntungkan dalam bentuk lump sum dengan memperhitungkan ‘time value of money’

  279. #318
    Di asuransi tradisional (term/whole life) juga sama Bu.
    Kalau mau di cover sampai 100 tahun, juga harus bayar premi sampai usia 100.
    —————————————-
    Ah, mas firesquid ….

    Termlife : Asuransi jiwa berjangka, maksimal biasanya 20tahun. Dan bisa diperpanjang tanpa ada klausul tambahan (misal medical checkup)

    Wholelife : Asuransi jiwa seumur hidup, bisa dibayar dengan cara membayar sampai nasabah meninggal, atau dengan masa pembayaran premi tertentu. Untuk kasus yang tarakhir biasanya premi menjadi lebih mahal.

    jadi penasaran mas firesquid kerja di insurance mana :-)

  280. dari xls si firesquid
    —————————————–
    Resiko :
    – Serangan Jantung Usia 31 (tahun kedua)
    – Biaya pengobatan 300 juta
    – Di PHK karena dinilai tidak efektif lagi bekerja, sehingga nasabah tidak mampu lagi mengalokasikan dana untuk menabung
    —————————————–

    kalo ini waivernya gak jalan mas …
    heheheh … liat dulu dia kerja apa
    prinsip waiver,
    misal dia seorang pematung lalu tangannya putus dan tangan sebagai asset sudah tidak dapat berfungsi. maka waivernya berjalan. ketidakmampuan total sebagai pematung.

    kalau dia serangan jantung, dia manajer keuangan
    ya waivernya gak jalan mas …
    dinilai tidak efektif bekerja oleh siapa ? perusahaan dia bekerja sebelumnya kan ?
    bukan oleh insurance, kenapa ? karena awalnya dia terdaftar sebagai manajer keuangan. waivernya baru bisa berjalan kalau misalnya dia buta. ketidakmampuan total sebagai manajer keuangan.

    ah, mas firesquid …
    ada baiknya anda ikut deh jadi agen asuransi.
    biar ditraining … dan …
    biar gak ngawur !

  281. # 322
    _____________________________________
    # 321
    Jika terjadi ketidakmampuan diawal tahun investasi reksadana, maka yang tercover preminya hanya premi termlife saja. Sementara alokasi investasi reksadana rutin akan terhenti.
    _____________________________________

    Ini di term life mungkin bisa di cover dengan CC dan AD & D.

    Kalo ketidakmampuan nya karena penyakit kritis, akan keluar sejumlah uang/dana.

    Atau kalau karena kecelakaan juga keluar sejumlah dana. Cuma bedanya memang di term life keluar dlm bentuk lump sum dan di unit link dlm bentuk anuitas.
    —————————————–
    Betul sekali, hanya kalau analoginya seperti contoh pematung diatas adalah saya. Sehingga keluar UP ADDB (untuk tangan ADDB keluar 100%)

    ——————————————
    Tetap lebih menguntungkan dalam bentuk lump sum dengan memperhitungkan ‘time value of money’
    —————————————–
    Benar, UP yang keluar dari ADDB bisa dimasukkan ke reksadana kembali. Sehingga bisa memberikan return yang lebih besar.

    Kembali ke nasabah jeng, kalau bagi saya pribadi mengapa memiliki polis unitlink, berprinsip bahwa misalnya UP ADDB tersebut tidak bisa dimasukkan ke reksadana (karena habis untuk biaya operasi tangan saya yang kecelakaan, karena saya bukan pegawai yang dicover asuransi kesehatannya dan dana reksadana saya belum berkembang). Maka WP pada unitlink sangat membantu saya.

    Artinya sebagai ban serep saja. Bukan yang utama. Mungkin bisa berbeda perlakuan bagi profil nasabah yang berbeda.

  282. #325:

    Kembali ke nasabah jeng, kalau bagi saya pribadi mengapa memiliki polis unitlink, berprinsip bahwa misalnya UP ADDB tersebut tidak bisa dimasukkan ke reksadana (karena habis untuk biaya operasi tangan saya yang kecelakaan, karena saya bukan pegawai yang dicover asuransi kesehatannya dan dana reksadana saya belum berkembang). Maka WP pada unitlink sangat membantu saya.

    kalo menurut saya, operasi tangan itu urusannya perlindungan kesehatan. sedangkan AD&D itu lebih ke income replacement. oleh karena itu UP AD&D itu harusnya cukup besar untuk dijadikan income replacement. dan kalau kesehatan tidak dicover oleh perusahaan, artinya harus ngambil manfaat kesehatan secara terpisah.

  283. #322:

    Tetap lebih menguntungkan dalam bentuk lump sum dengan memperhitungkan ‘time value of money’

    betul, bisa fleksibel memilih instrumen investasi sesuai selera dan profil masing2. untuk anuitas perusahaan asuransi rasanya akan cenderung konservatif (didominasi deposito, money market, sedikit obligasi). selain itu, kalau dapat lump sum gampang dikonversi jadi anuitas. kalau dapat anuitas gak bisa dikonversi jadi lump sum.

  284. masalahnya adalah: tidak ada manusia di bumi ini yang perlu perlindungan sampai 99 tahun, tetapi kebanyakan ilustrasi unit link dibuat sampai umur 99 tahun.

    Betul Mas.
    Saya juga tidak butuh proteksi sampai usia 99. Rencana saya cuma diproteksi sampai usia 60 tahun. Setelah itu akan saya pindahkan dana di Unit Link ke Investasi lain untuk persiapan masa tua. Kalau polis saya surrender di usia 60 tahun, berarti saya tidak perlu lagi membayar premi sampai usia 99.

    more progress, finally! dengan kata lain anda sekarang sudah bisa mengakui kalau saya tidak perlu rider macam2 artinya term life + reksadana lebih menguntungkan daripada unit link
    Betul sekali.
    Dengan kondisi NASABAH SELALU SEHAT SAMPAI USIA TUA. Kalau Mas Priyadi tidak mengambil rider tambahan tersebut, apa yang terjadi jika pada usia 31 tahun terkena serangan jantung dan butuh dana pengobatan 300 juta.

    jadi sekarang mana ilustrasinya?

    Sudah saya upload di Rapidshare.
    http://rapidshare.com/files/60681610/Unit_Link.xls.html

    Payor Benefit : merupakan program Perlindungan (hanya dapat diambil bersamaan dengan program perlindungan dsar) yang memberikan santunan pembebasan premi bagi PEMBAYAR PREMI apabila pembayar premi meninggal atau mengalami ketidak mampuan total.

    Atau-nya kurang 1 lagi :
    – atau terkena salah satu dari penyakit kritis, kecuali angioplasti :)

    Saya melihat diskusi ini membedah bahwa dengan cara dipisah, kita bisa memilih yang terbaik diantara masing2 produk (bahasa kerennya best of breed), berbeda ketika kita membeli satu bundle. Dan dengan dipisah, kita dapat memperbesar hasil akhir yang diinginkan.

    Dengan catatan NASABAH SEHAT SAMPAI USIA TUA, TIDAK TERKENA RESIKO HIDUP DI TAHUN AWAL.
    Tapi siapa yang bisa menjamin nasabah tidak akan terkena resiko hidup. Mas peter kalau sudah terserang pilek apakah bisa bilang : “saya tidak mau pilek”. Sakit pilek saja tidak bisa dihindari, apalagi penyakit kritis.

    Termlife : Asuransi jiwa berjangka, maksimal biasanya 20tahun. Dan bisa diperpanjang tanpa ada klausul tambahan (misal medical checkup)

    Biasanya kalau perpanjang akan dikenakan klausul tambahan, seperti medical check up. Setidaknya demikian isi perjanjian polis Term Life yang Bumiputera saya.
    Masa nasabah yang udah sakit-sakitan tetap bisa diterima? Emangnya perusahaan asuransi itu badan amal.

    prinsip waiver,
    misal dia seorang pematung lalu tangannya putus dan tangan sebagai asset sudah tidak dapat berfungsi. maka waivernya berjalan. ketidakmampuan total sebagai pematung.

    Di Unit Link biasanya orang ambil Payor, bukan waiver. Payor akan dibayarkan apabila :
    – tertanggung terkena salah satu atau lebih sakit kritis

    Payor untuk yang pasangan, apabila pasangan :
    – meninggal
    – cacat tetap total
    – terkena salah satu atau lebih sakit kritis

    Payor untuk anak, apabila orang tua/pembayar premi :
    – meninggal
    – cacat tetap total
    – terkena salah satu atau lebih sakit kritis

    Tidak perduli apakah nasabah kembali bekerja setelah sakit kritis atau tidak. Apabila memenuhi kondisi, maka payor akan diberikan.

    Rider untuk waiver juga berlaku demikian kok (menurut allianz dan prudential). Bedanya waiver cuma uang untuk bayar premi asuransi, sedangkan payor turut membayarkan investasi.

    Saya anjurkan Mas peter ikut lagi training ke-agenan, biar gak ngawur !

    selain itu, kalau dapat lump sum gampang dikonversi jadi anuitas. kalau dapat anuitas gak bisa dikonversi jadi lump sum.

    Memangnya di Unit Link tidak keluar uang pertanggungan sakit kritis?? Selain keluar dana sakit kritis, nasabah juga mendapatkan anuitas. Menurut Mas Priyadi, untung mana :
    – ikut asuransi yg memberikan lump sum
    – ikut asuransi yg memberikan lump sum + anuitas

    Kalau misalnya uang pertanggungan untuk sakit kritis tersebut habis untuk biaya pengobatan, gimana mau konversikan ke investasi. (seperti contoh di excel yang saya upload)

  285. Ijin ikut bergabung, saya 35 tahun ingin punya asuransi jiwa term life dan asuransi kesehatan. pertanyaan : manakah yang harus saya pilih? asuransi jiwa term life + raider lengkap atau asuransi jiwa termlife tanpa raider + asuransi kesehatan. Mohon saran. Juga rekomendasi perusahaan dan produk asuransinya. Trims

  286. #328 Termlife : Asuransi jiwa berjangka, maksimal biasanya 20tahun. Dan bisa diperpanjang tanpa ada klausul tambahan (misal medical checkup)

    Biasanya kalau perpanjang akan dikenakan klausul tambahan, seperti medical check up. Setidaknya demikian isi perjanjian polis Term Life yang Bumiputera saya.
    Masa nasabah yang udah sakit-sakitan tetap bisa diterima? Emangnya perusahaan asuransi itu badan amal.
    ——————————————-
    Kan saya sudah katakan, silahkan browsing2 lagi ke asuransi lain. Apa yang ada dibumiputra bukan berarti juga sama dengan insurance lain. ;-P

    ———————————————
    prinsip waiver,
    misal dia seorang pematung lalu tangannya putus dan tangan sebagai asset sudah tidak dapat berfungsi. maka waivernya berjalan. ketidakmampuan total sebagai pematung.

    Di Unit Link biasanya orang ambil Payor, bukan waiver. Payor akan dibayarkan apabila :
    – tertanggung terkena salah satu atau lebih sakit kritis

    ——————————————–
    Payor untuk yang pasangan, apabila pasangan :
    – meninggal
    – cacat tetap total
    – terkena salah satu atau lebih sakit kritis
    ——————————————–

    Ini namanya rider spouse

    ——————————————–
    Payor untuk anak, apabila orang tua/pembayar premi :
    – meninggal
    – cacat tetap total
    – terkena salah satu atau lebih sakit kritis

    Tidak perduli apakah nasabah kembali bekerja setelah sakit kritis atau tidak. Apabila memenuhi kondisi, maka payor akan diberikan.

    Rider untuk waiver juga berlaku demikian kok (menurut allianz dan prudential). Bedanya waiver cuma uang untuk bayar premi asuransi, sedangkan payor turut membayarkan investasi.

    Saya anjurkan Mas peter ikut lagi training ke-agenan, biar gak ngawur !
    ———————————————
    Hahahahaha …
    Anda sudah pernah baca manual dari AAJI ? Jawab pertanyaan saya yang ini dulu baru anda bisa ngomong macam2 rider. Kalau anda sudah baca, maka kita bisa diskusi lagi bagaimana rider seharusnya bekerja. Beberapa insurance menggunakan nama yang “mirip2” dengan rider yang lain. Nah ini yang sering membuat nasabah bingung (atau akhirnya sok tahu).

  287. #328:

    Saya juga tidak butuh proteksi sampai usia 99. Rencana saya cuma diproteksi sampai usia 60 tahun. Setelah itu akan saya pindahkan dana di Unit Link ke Investasi lain untuk persiapan masa tua. Kalau polis saya surrender di usia 60 tahun, berarti saya tidak perlu lagi membayar premi sampai usia 99.

    ya anda mungkin ngerti. tapi nasabah lain gimana nasibnya? banyak unit link yang bikin ilustrasi dengan akhir yang tidak realistis, sedangkan nasabah gak diberi pengarahan soal ini.

    Betul sekali. Dengan kondisi NASABAH SELALU SEHAT SAMPAI USIA TUA. Kalau Mas Priyadi tidak mengambil rider tambahan tersebut, apa yang terjadi jika pada usia 31 tahun terkena serangan jantung dan butuh dana pengobatan 300 juta.

    lagi2 cuma excuse. kalau unit link tidak diambil bersama2 dengan rider, hal yang sama juga terjadi pada unit link anda.

    Sudah saya upload di Rapidshare. http://rapidshare.com/files/60681610/Unit_Link.xls.html

    anda serius gak sih menjawab tantangan saya? kalau serius silakan revisi dulu tanpa mengambil rider sama sekali. ini sudah saya jelaskan berkali2. saya gak mau jelaskan lagi. kalau setelah ini anda tidak juga merevisi ilustrasi anda, artinya anda hanya berniat untuk menghindari tantangan saya.

    Biasanya kalau perpanjang akan dikenakan klausul tambahan, seperti medical check up. Setidaknya demikian isi perjanjian polis Term Life yang Bumiputera saya. Masa nasabah yang udah sakit-sakitan tetap bisa diterima? Emangnya perusahaan asuransi itu badan amal.

    kalo gitu pindahlah dari bumiputera. gitu aja kok repot :). jaman sekarang, klausul guaranteed reinsurability ini sudah menjadi fitur umum.

    Memangnya di Unit Link tidak keluar uang pertanggungan sakit kritis?? Selain keluar dana sakit kritis, nasabah juga mendapatkan anuitas. Menurut Mas Priyadi, untung mana :
    – ikut asuransi yg memberikan lump sum
    – ikut asuransi yg memberikan lump sum + anuitas

    hehehehe. ya masih tergantung nominalnya dong ah. untung mana:
    – dapat lump sum 500 juta; atau
    – dapat lump sum 100 juta + anuitas 1 jt/bulan selama 20 tahun?

    kalau saya sih milih yang pertama :)

    Kalau misalnya uang pertanggungan untuk sakit kritis tersebut habis untuk biaya pengobatan, gimana mau konversikan ke investasi. (seperti contoh di excel yang saya upload)

    unit link juga senasib dalam hal ini pak. semuanya tergantung besar nominalnya. selain itu income replacement bukan melulu soal investasi, tapi gimana caranya bisa makan sehari2.

  288. #329:

    Ijin ikut bergabung, saya 35 tahun ingin punya asuransi jiwa term life dan asuransi kesehatan. pertanyaan : manakah yang harus saya pilih? asuransi jiwa term life + raider lengkap atau asuransi jiwa termlife tanpa raider + asuransi kesehatan. Mohon saran. Juga rekomendasi perusahaan dan produk asuransinya. Trims

    kalau saya sarankan anda ambil terpisah. alasannya, anda akan butuh asuransi kesehatan jauh lebih lama daripada asuransi jiwa term life. kalau anda ambil dalam bentuk rider, ketika term life anda batalkan, anda juga harus membatalkan manfaat kesehatannya. nanti anda harus medical check up lagi untuk ambil asuransi kesehatan, dan tergantung kondisi kesehatan anda, bisa jadi mereka menolak anda atau menaikkan premi yang harus anda bayar. lebih baik anda ikut terpisah dari sekarang karena probabilitas untuk ditolak atau dinaikkan preminya jauh lebih kecil ketika anda masih muda.

  289. anda serius gak sih menjawab tantangan saya? kalau serius silakan revisi dulu tanpa mengambil rider sama sekali. ini sudah saya jelaskan berkali2. saya gak mau jelaskan lagi. kalau setelah ini anda tidak juga merevisi ilustrasi anda, artinya anda hanya berniat untuk menghindari tantangan saya.

    Kalau begitu coba Mas Priyadi tanya ke diri sendiri. Apakah perbandingan Mas Pri sudah Fair.
    Saya sudah menunjukkan kelebihan dari Unit Link dan Mas Priyadi malah mengelak dan tidak berani mengakui bahwa Mas Priyadi salah dalam menilai Unit Link.

    Biar saya ingatkan kembali tantangan Mas Priyadi
    MEMBUKTIKAN KELEBIHAN UNIT LINK DENGAN KONDISI :
    – nasabah : Pria/30 thn/Tdk Merokok
    – alokasi dana : 2 juta perbulan
    – UP meninggal : 500 juta

    Dan sampai sekarang Mas Priyadi belum membuktikan kelebihan Reksadana + Term Life, dengan kondisi yang Mas Priyadi berikan.

    Sebenarnya Mas Priyadi serius tidak memberikan tantangan ?
    Silahkan Mas Priyadi berikan perhitungan kelebihan Reksadana + Term Life, dengan kondisi :
    – Sakit Kritis di usia 31
    – Uang Berobat menghabiskan dana Criticall Illness

    hehehehe. ya masih tergantung nominalnya dong ah. untung mana:
    – dapat lump sum 500 juta; atau
    – dapat lump sum 100 juta + anuitas 1 jt/bulan selama 20 tahun?

    Saya memilih :
    – dapat lump sum 500 juta + anuitas 2 jt/bln sampai usia 65 thn.

  290. #332:

    Kalau begitu coba Mas Priyadi tanya ke diri sendiri. Apakah perbandingan Mas Pri sudah Fair. Saya sudah menunjukkan kelebihan dari Unit Link dan Mas Priyadi malah mengelak dan tidak berani mengakui bahwa Mas Priyadi salah dalam menilai Unit Link.

    mungkin anda lupa, tapi yang anda sebut sebagai ‘kelebihan’ dari unit link sudah saya sebut berkali2 dapat dengan mudah direplikasikan di term life.

    Biar saya ingatkan kembali tantangan Mas Priyadi
    MEMBUKTIKAN KELEBIHAN UNIT LINK DENGAN KONDISI :
    – nasabah : Pria/30 thn/Tdk Merokok
    – alokasi dana : 2 juta perbulan
    – UP meninggal : 500 juta

    mungkin anda sudah pikun. silakan anda baca lagi komen #279. tantangan saya adalah sebagai berikut:

    * budget 2 juta/bulan untuk asuransi jiwa dan investasi
    * kebutuhan perlindungan asuransi jiwa sebesar Rp 500 juta
    * investasi 100% di saham
    * pria, tidak merokok, pekerja kantoran, umur 30 tahun
    * tanpa rider tambahan

    sekarang saya yang tanya: sudahkan anda membuat ilustrasi yang sesuai dengan permintaan saya tersebut?

  291. Ada 1 hal yang harus Mas Priyadi ketahui, yaitu orang memilih Unit Link bukan untuk kebutuhan kondisi meninggal, melainkan untuk JAMINAN PERENCANAAN KEUANGAN.

    mungkin anda lupa, tapi yang anda sebut sebagai ‘kelebihan’ dari unit link sudah saya sebut berkali2 dapat dengan mudah direplikasikan di term life.

    Mana buktinya ??
    Saya masih menunggu analisa perhitungan dari Mas Priyadi. Jangan sekedar ngomong doank.

    Saya heran, kenapa Mas Pri ngotot sekali mau membandingkan naik taxi dengan naik bajaj. Saya sudah menjelaskan kelebihan naik taxi, tapi Mas Pri malah ngotot untuk mencarikan taxi yang 3 roda, tanpa jendela, tanpa AC, tanpa jok yang nyaman.
    Jelas tidak bisa bukan?

    Saya hanya melihat Mas Pri cuma mengetahui kelebihan dari Term Life, yang harganya terlihat murah, tanpa tau kelebihan fasilitas Unit Link. Karena keterbatasan pengetahuan lantas bilang Unit Link jelek.

    Sudahlah, saya tidak mau melanjutkan diskusi ini lebih jauh, sebelum Mas Priyadi menunjukkan analisa perhitungan kelebihan Reksadana + Term Life dia.

    Percuma saya sudah memberikan analisa perhitungan kelebihan Unit Link, sedangkan yang membuat topic ini tidak bisa mengerti dan tetap ngotot pada kelebihan asuransi tradisional.

  292. Trims atas sarannya pak priyadi. Berarti manulife proactive plus bisa saya ambil + raider kecelakaan + critical illness + waiver MINUS raider hospital benefit. Sesuai postingan di atas, saya sempat tertarik juga dengan produk mandiri jiwa sejahtera tapi tidak mengcover critical illness ya?. Ada pendapat tentang 2 produk di atas ? Mohon Pak Priyadi dan mbak bravo juga bisa kasih saran /rekomendasi tentang produk asuransi kesehatan yang bagus, barangkali berdasarkan pengalaman pak priyadi dan mbak bravo. Terimakasih sebelumnya . :)

  293. #335

    Rider di unit link semuanya juga bisa di aplikasikan ke rider term life. misalnya saya beli term life bisa saya tambah dgn rider AD & D, dan Crisis Cover. Apanya yang menurut anda kelebihan unit link yang ga ada di term? kelebihan unit link cuma satu yaitu PRAKTIS.

  294. #336

    Mandiri sejahtera kayanya ga ada CC, di Manulife sama Alianz ada.Kalo asuransi kesehatan saya pake AXA Smart care, cuma alasan lebih praktis aja, pake sistem provider. Pernah sekali klaim, cukup nunjukin kartunya aja, nanti langsung RS ngontak pihak asuransi, ngga usah pake deposit sama sekali.Kalo dari tarip mungkin ada yg lebih murah (allianz ato manulife). coba aja hunting biasanya tarip mirip-mirip untuk produk2 yang jiwa murni atau kesehatan murni (tanpa embel2 investasi)
    semoga keterangan diatas dapat membantu.

  295. #335:

    Saya heran, kenapa Mas Pri ngotot sekali mau membandingkan naik taxi dengan naik bajaj. Saya sudah menjelaskan kelebihan naik taxi, tapi Mas Pri malah ngotot untuk mencarikan taxi yang 3 roda, tanpa jendela, tanpa AC, tanpa jok yang nyaman. Jelas tidak bisa bukan?

    depends on the price mas. kalau tarif bajay Rp 10 ribu dan tarif taksinya Rp 10 juta, mendingan saya ambil bajay saja. toh sama2 sampai ke tujuannya. di sini saya cuma mau nanya “berapa harga taksinya”. sebelum naik taksi saya harus tahu dulu berapa harganya.

    Sudahlah, saya tidak mau melanjutkan diskusi ini lebih jauh, sebelum Mas Priyadi menunjukkan analisa perhitungan kelebihan Reksadana + Term Life dia.

    no problem, saya gak terlalu berharap juga. tapi kalau tiba2 anda mendapat keberanian, silakan kembali baca tantangan saya di #279.

  296. #336:

    Trims atas sarannya pak priyadi. Berarti manulife proactive plus bisa saya ambil + raider kecelakaan + critical illness + waiver MINUS raider hospital benefit. Sesuai postingan di atas, saya sempat tertarik juga dengan produk mandiri jiwa sejahtera tapi tidak mengcover critical illness ya?. Ada pendapat tentang 2 produk di atas ? Mohon Pak Priyadi dan mbak bravo juga bisa kasih saran /rekomendasi tentang produk asuransi kesehatan yang bagus, barangkali berdasarkan pengalaman pak priyadi dan mbak bravo. Terimakasih sebelumnya

    mandiri jiwa sejahtera gak punya CI. kalau mau CI, alternatif yang mungkin bisa dilirik: commlife danatra siaga, takaful falah, allianz smart. kalau saya sudah terlanjur ambil mandiri JS, kalau anda merasa perlu CI, bisa cek produk2 di atas sebagai perbandingan.

    kalau kesehatan saya suka simas eksekutif, murah, tapi sistem reimburse. kalau punya CC minimal gold dengan limit gede mungkin bisa lirik produk ini.

  297. depends on the price mas. kalau tarif bajay Rp 10 ribu dan tarif taksinya Rp 10 juta, mendingan saya ambil bajay saja. toh sama2 sampai ke tujuannya. di sini saya cuma mau nanya “berapa harga taksinya”. sebelum naik taksi saya harus tahu dulu berapa harganya.

    Kenapa tidak jalan kaki saja Mas? Bisa hemat 10 ribu dan sekalian sedikit olah raga. Toh sama2 sampai ke tujuannya.
    Lagi-lagi Mas Pri hanya bisa mengelak dengan analogi yang tidak wajar.

    no problem, saya gak terlalu berharap juga. tapi kalau tiba2 anda mendapat keberanian, silakan kembali baca tantangan saya di #279.

    Saya juga menunggu keberanian Mas Priyadi untuk membuktikan analisa perhitungan kelebihan Reksadana + Term Life. Dengan kondisi nasabah sakit kritis di tahun ke-2 menyetor. Masa Anda hanya bisa ngomong doank, disuruh pembuktian tidak bisa. Apa yah, istilahnya untuk orang yang begitu? :d

  298. #341:

    Saya juga menunggu keberanian Mas Priyadi untuk membuktikan analisa perhitungan kelebihan Reksadana + Term Life. Dengan kondisi nasabah sakit kritis di tahun ke-2 menyetor.

    pada tantangan saya, kalau nasabah sakit kritis pada tahun kedua, maka dia akan ‘screwed’, terlepas apakah dia ngambil unit link atau ngambil reksadana+term life secara terpisah.

  299. andaikan ada yang bisa kasih info seperti ini kita juga mau hitung …..

    premi untuk term life meninggal UP 500Jt berapa?
    premi untuk penyakit kritis UP 300Jt berapa ?
    premi unt kecelakaan Up 500Jt berapa ?
    premi untk rawat inap Up600/hari berapa ?

    kalo ada ini mah gampang itungnya….

  300. #338# dan #340#
    Terimakasih atas masukan pak priyadi dan mbak bravo. Sekarang saya sedang mempelajari beberapa produk asuransi jiwa dan asuransi kesehatan yang paling cocok dengan kebutuhan saya. Saat ini saya juga baru memulai untuk investasi di reksadana saham dan campuran untuk jangka panjang. Untuk investasi jangka pendek, saya belum tahu akan invest kemana. Apakah bagus jika ditempatkan ke reksa dana fixed income? Mohon pendapat dan ide lainnya…Selain itu, saya sempat tertarik untuk invest di emas, namun saya belum banyak tahu tentang itu. Tentang produknya berupa apa, dimana memperolehnya,dimana penyimpanannya, dan lainnya.Mohon saran dari teman-teman..Thanks a lot. :)

  301. #344:

    kalau saya:

    * di bawah 1 tahun: reksadana pasar uang
    * 1-3 tahun: reksadana pendapatan tetap
    * 3-8 tahun: reksadana campuran
    * lebih dari 8 tahun: reksadana saham

    untuk emas, anda bisa tanya2 di toko perhiasan. untuk investasi sebaiknya anda beli koin atau emas batangan. kalau mau beli tanya sekaligus harga jual dan harga beli (kalau bisa sebelum mengutarakan niat kita untuk jual atau beli), supaya tahu spreadnya berapa. pastikan emasnya bisa dijual di tempat yang sama. untuk penyimpanan sebaiknya sewa safe deposit box di bank.

  302. pada tantangan saya, kalau nasabah sakit kritis pada tahun kedua, maka dia akan ’screwed’, terlepas apakah dia ngambil unit link atau ngambil reksadana+term life secara terpisah.

    Nah, itulah sebabnya Unit Link sangat berguna. Untuk menghindari nasabah menjadi ‘screwed’.

    Nasabah sudah punya anggaran 2 juta/bulan atau 24 juta/tahun, maka dari itu nasabah berhak mendapatkan yang terbaik dari segi proteksi dan investasi.

    Misalkan ada teman Mas Priyadi sudah punya anggaran 250 juta untuk beli mobil pribadi, ada 2 pilihan :
    – Mobil SUV terbaik seharga 250 juta (mis : X-Trail)
    – Mobil SUV biasa 80 juta (mis : Karimun) + 170 juta ditabung

    Masa Mas Priyadi menyarankan beli mobil biasa aja. Jadinya kan tidak sesuai dengan kebutuhan. Toh, teman Mas Pri sudah punya anggaran 250 juta, jelas dia berhak mendapatkan mobil pribadi yang terbaik.

    Demikian juga ketika Mas Priyadi memiliki Unit Link, Mas Priyadi bukan hanya mendapatkan jaminan proteksi tapi juga jaminan investasi. Apakah Mas Priyadi masih tetap mengatakan tidak membutuhkan jaminan investasi ?

  303. #346:

    Demikian juga ketika Mas Priyadi memiliki Unit Link, Mas Priyadi bukan hanya mendapatkan jaminan proteksi tapi juga jaminan investasi. Apakah Mas Priyadi masih tetap mengatakan tidak membutuhkan jaminan investasi ?

    kalau ada unit link yang memberikan jaminan investasi, saya 100% mau ikutan unit link yang ini. selama jaminan perkembangan investasi tersebut di atas rate ORI dan BI rate. tolong kasih tahu unit link mana yang ngasih jaminan investasi karena saya tidak sabar lagi untuk ikutan!

  304. # 347
    kalau ada unit link yang memberikan jaminan investasi, saya 100% mau ikutan unit link yang ini. selama jaminan perkembangan investasi tersebut di atas rate ORI dan BI rate. tolong kasih tahu unit link mana yang ngasih jaminan investasi karena saya tidak sabar lagi untuk ikutan!
    _________________________

    Saya juga sudah TIDAK SABAR ingin ikutan, hihihi :d

  305. Saya juga sudah menggunakan emas sebagai hedging untuk investasi yang saya lakukan di reksadana.
    Menurut mas Pri dan mbak Bravo yang udah lebih dulu melakukan ini, apakah ada rasio antara nilai emas yang harus kita beli untuk setiap dana yang kita invest ke reksadana?
    Sampai saat ini saya belum mendapat informasi ttg hal ini, atau metode seperti apa yang mas Pri dan mbak Bravo lakukan dalam melakukan hedging menggunakan emas.

    Terimakasih

  306. #349

    Saya pake emas untuk hedging portofolio saya, krn hampir semua portofolio saya sangat beresiko (volatile). Alokasi fortofolio: 50 % saham, 35 Reksadana saham, 15 % emas.

    Terus terang dari emas saya tidak berharap terlalu banyak untuk mendapat gain, karena kalo market aman tentram, biasanya emas malah stabil.

    Emas saya pakai karena kalo terjadi krisis/crash, dimana saham2 dan reksadana saham terjun bebas, saya masih punya cadangan dana (emas)di luar tabungan jangka pendek/dana cadangan darurat regular, sambil nunggu harga saham/reksadana saham balik. Antisipasi klo terjadi krisis kedua gitu lho….

    Untuk yang sudah berumur agak tinggi,jantungan dan stress TIDAK saya sarankan dgn komposisi portofolio seperti diatas.

  307. #349:

    Menurut mas Pri dan mbak Bravo yang udah lebih dulu melakukan ini, apakah ada rasio antara nilai emas yang harus kita beli untuk setiap dana yang kita invest ke reksadana? Sampai saat ini saya belum mendapat informasi ttg hal ini, atau metode seperti apa yang mas Pri dan mbak Bravo lakukan dalam melakukan hedging menggunakan emas.

    kalo saya terus terang gak punya rumus baku. sama seperti mbak bravo, proporsi saya juga sekitar 15%-an. pertimbangan saya untuk pake emas karena menurut perhitungan saya yield historis emas paling tidak setara dengan reksadana pendapatan tetap, dan emas itu tangible (barangnya ada pada saya), walaupun lebih fluktuatif daripada reksadana pendapatan tetap. dan selain itu masih ada trauma rush obligasi 2005 hehehe.

  308. pak priyadi dan bu bravo….
    sebenarnya saya sependapat dengan bapak dan ibu.. tapi kenapa setelah lama saya ikuti kok ngak pernah kasih contoh kasus dalam angka… biar bisa menjadi bukti matematis….

    kalo cuman argumen sih emang menurutku banyak benernya tapi dali perhitungan kongkrit gimana ya….

    kita pernah buat perhitungn kongkrit kalo ngak pake raider dengan kasus di asuransi sQlife… dan perhitungan dari kontan yang mengasusmikan meninggal semau lebih besar RD+term+reider dibanding link. tapi belum menghitung dengan kasus yang diberikan oleh Firesquid.
    tapi aku masih yakin RT+term+reider lebih untung tapi belum bisa membutkikannya….
    mungkin pak priyadi dan bu bravo bisa memberi cotohnya…

  309. #346 Demikian juga ketika Mas Priyadi memiliki Unit Link, Mas Priyadi bukan hanya mendapatkan jaminan proteksi tapi juga jaminan investasi. Apakah Mas Priyadi masih tetap mengatakan tidak membutuhkan jaminan investasi ?
    —————————————-
    Buku Panduan AAJI Bab 35, hal 101
    35.2.2 Resiko Unitlink = Resiko Reksadana

    —————————————-
    #352 kita pernah buat perhitungn kongkrit kalo ngak pake raider dengan kasus di asuransi sQlife… dan perhitungan dari kontan yang mengasusmikan meninggal semau lebih besar RD+term+reider dibanding link. tapi belum menghitung dengan kasus yang diberikan oleh Firesquid.
    tapi aku masih yakin RT+term+reider lebih untung tapi belum bisa membutkikannya….
    —————————————
    Buku Panduan AAJI Bab 35, hal 101
    35.2.3 Biaya Jadi Mahal
    Biaya potongan asuransi dapat membuat polis UnitLink terasa mahal. Hal ini ditambah dengan komisi penjualan dan biaya pengelolaan yang berkala, bahkan biaya-biaya tersebut dapat menghabiskan hasil dana investasi pada saat iklim investasi buruk. Pada investor yang sudah mempunyai jumlah perlindungan yang cukup dan ingin dan ingin memprioritaskan investasinya pada pertumbuhan jangka panjang sebaiknya fokus pada reksadana

    End Of Discussion

  310. #352:

    sebenernya saya sedang mati2an ngitung nih. tapi ada banyak kendala:

    * saya gak punya datanya
    * pengetahuan saya tentang internal produk asuransi masih minim
    * saya gak punya akses ke banyak agen/perusahaan asuransi. mas peter sudah bersedia ngirim datanya ke saya, tapi untuk asuransi lain gak ada. kadang2 justru agennya yang gak ngerti apa yang saya omongin :(
    * antar produk asuransi berbeda, jumlah penyakit kritis yang dicover berbeda, besar manfaat kesehatan juga berbeda
    * kadang harga antar harga rider produk asuransi deviasinya sangat besar, terutama manfaat critical illness, menandakan pelaku asuransi masih meraba2 berapa harga yang tepat. nasabah yang beli sekarang bisa jadi membayar terlalu mahal atau terlalu murah daripada yang seharusnya. selain itu biasanya di CI ada klausul harga premi bisa berubah di masa yang akan datang sesuai dengan batasan2 tertentu.

    yang saya bisa bandingkan secara apple to apple berdasarkan data dan pengetahuan saya saat ini hanya asuransi jiwa murni saja. alternatif lain, saya mungkin bisa membandingkan produk link dan BTAID selama kedua produk asuransi tersebut berasal dari perusahaan yang sama. tapi berhubung asuransi ‘yang itu tuh’â„¢ gak punya produk tradisional, ya jadinya gak bisa. kalau saya paksakan untuk dibandingkan, jadinya saya akan lebih membandingkan dua produk asuransi daripada membandingkan
    unit link vs BTAID.

    ***

    tapi yang lebih penting lagi, benchmark yang dilakukan firesquid itu gak ada gunanya tanpa informasi background tentang nasabah yang bersangkutan. kita gak tahu berapa kebutuhan perlindungan asuransi nasabah pada ilustrasi pada saat dia mengidap CI dan meninggal dunia.

    perencanaan asuransi yang baik itu bertujuan untuk menutupi resiko, bukan untuk mendapatkan UP sebesar2nya jika terjadi musibah. jika pada saat dia meninggal keluarganya membutuhkan Rp 400 juta misalnya, semakin dekat jumlah UP+warisan investasi ke angka 400 juta, maka semakin baik perencanaannya. jika keluarganya mendapatkan Rp 400 juta, maka itu sudah cukup.

    jika seandainya keluarganya mendapatkan Rp 1 milyar, itu bagus bagi keluarganya, tapi tidak untuk nasabahnya, karena dia sendiri sudah meninggal :). dengan mendapatkan UP berlebihan dia harus mengorbankan skenario lainnya yang mestinya juga diperhitungkan. contohnya, jika dia hidup sampai umur 70 tahun, maka uang untuk dana pensiun yang dia terima akan lebih kecil.

    yang perlu diingat di sini: asuransi gunanya untuk menutupi resiko, yang bagus adalah tidak overinsured, dan tidak underinsured. UP lebih besar bukan berarti makin bagus. mungkin bagus kalo nasabah mau melakukan beberapa what if scenario untuk menguji apakah perlindungan yang dia ambil berlebihan atau kekurangan.

    besar jumlah uang hanya penting kalau si nasabah hidup sampai dia tidak produktif lagi. pada saat dia berumur 70 tahun misalnya. karena waktu itu dia cuma bisa hidup dari hasil investasinya dan selain itu tidak ada lagi asuransi kesehatan yang mau mengcover. hidup terlalu lama sama beresikonya dengan meninggal terlalu cepat.

  311. #354

    * antar produk asuransi berbeda, jumlah penyakit kritis yang dicover berbeda, besar manfaat kesehatan juga berbeda
    __________________________

    Pengalaman, saya punya CI dari 2 perusahaan asuransi yg berbeda.

    1. CI dari Unit link perusahaan xxx, mengcover 34 penyakit, harus sudah terdiagnosis dan dirawat baru klaim keluar. Masing2 penyakit ada kausul2 nya sendiri mis: untuk penyakit Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) yang di cover hanya yg menyerang ginjal, padahal SLE bisa menyerang semua sistem tubuh.

    2. CI dari Perusahaan ABC (bisa ditempel di produk dasar apapun), mengcover 38 penyakit. Begitu sudah terdiagnosis sudah bisa klaim. Khusus untuk penyakit yang sama SLE, CI yg ini mengcover SLE yang menyerang ginjal dan sistem saraf.

    Jadi emang susah untuk membandingkan aple to aple semua rider antara perusahaan satu ke perusahaan yang lain.
    kalo membandingkan asuransi jiwa (tanpa rider) bisa kita lakukan krn biasanya tarif premi asuransi jiwa murni disusun berdasarkan tabel mortalitas.

  312. Sayangnya perusahaan asuransi bapak firesquid ternyata tidak menjual termlife plus rider2 secara terpisah, sehingga kita tidak bisa membandingkan unit link Vs BTAID tanpa harus membandingkan PERUSAHAAN ASURANSI nya.

  313. kalau ada unit link yang memberikan jaminan investasi, saya 100% mau ikutan unit link yang ini. selama jaminan perkembangan investasi tersebut di atas rate ORI dan BI rate. tolong kasih tahu unit link mana yang ngasih jaminan investasi karena saya tidak sabar lagi untuk ikutan!

    Postingan ini juga semakin menunjukkan Mas Priyadi tidak mengerti Unit Link sama sekali. Jaminan investasi bukan berarti akan menjamin perkembangan investasi, melainkan menjamin dana untuk investasi akan terus disetorkan sampai nasabah berusia 65 atau maximal sampai tertanggung meninggal sebelum usia 65.

    Silahkan cari produk Reksadana dan Term Life apapun yang mampu memberikan jaminan penyetoran seperti di Unit Link. Saya yakin tidak ada. Yang ada hanyalah waiver atas setoran premi asuransi.

    pak priyadi dan bu bravo….
    sebenarnya saya sependapat dengan bapak dan ibu.. tapi kenapa setelah lama saya ikuti kok ngak pernah kasih contoh kasus dalam angka… biar bisa menjadi bukti matematis….

    Betul Pak, saya juga setuju dengan pernyataan ini. Mas Priyadi dan Mbak bravo cuma sekedar memberikan argument, tapi pembuktian belum bisa. Alasan mereka berdua simple, tidak punya data.

    Sama ada orang mengatakan dirinya paling hebat dan paling pintar, tapi disuruh pembuktian, alasannya macam-macam.

    Sebagai pembaca, kita juga harus kritis menanggapi setiap informasi yang kita terima. Ada informasi yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi ada pula informasi yang hanya sekedar opini pribadi.

  314. #357:

    Silahkan cari produk Reksadana dan Term Life apapun yang mampu memberikan jaminan penyetoran seperti di Unit Link. Saya yakin tidak ada. Yang ada hanyalah waiver atas setoran premi asuransi

    ada. namanya rider CI dan AD&D. bedanya di term life kita dapat dalam bentuk lump sum, tapi di unit link kita dapat dalam bentuk anuitas.

  315. ada. namanya rider CI dan AD&D. bedanya di term life kita dapat dalam bentuk lump sum, tapi di unit link kita dapat dalam bentuk anuitas.

    Lagi-lagi Mas Priyadi keliru.
    Di Unit Link, nasabah mendapatkan Lump Sum (rider Criticall Illness) + Anuitas (rider Payor).

  316. #359:

    Lagi-lagi Mas Priyadi keliru. Di Unit Link, nasabah mendapatkan Lump Sum (rider Criticall Illness) + Anuitas (rider Payor).

    lagi2 anda gak baca tulisan saya sebelumnya. yang penting bukan masalah bisa lumpsum dan anuitasnya, tapi masalah nominalnya.

    anggaplah premi asuransi+investasi adalah Rp 1 juta/bulan, anda punya 2 pilihan:

    a. UP critical illness sebesar Rp 50 juta lump sum + payor sebesar Rp 1 juta/bulan seumur hidup

    b. UP critical illness sebesar Rp 200 juta

    menurut anda mana yang paling menguntungkan? pilih antara 2 pilihan itu saja, a atau b?

  317. Waduh,panjang banget tulisan ini.makin capek bacanya.tapi anyway this is a good blog.dari dulu saya sudah sependapat dengan mas pri.sampai sekarang juga.ikuti saja apa yg dikatakan mas pri.asuransi & investasi tetap saja dua hal penting sesuai dengan keadaan kita.
    Happy Investing.

  318. anggaplah premi asuransi+investasi adalah Rp 1 juta/bulan, anda punya 2 pilihan:

    a. UP critical illness sebesar Rp 50 juta lump sum + payor sebesar Rp 1 juta/bulan seumur hidup

    b. UP critical illness sebesar Rp 200 juta

    Inilah masalah yang Mas Pri masih kurang ngerti. Mengapa bisa mengatakan dengan premi 1 juta/bulan, hanya mendapatkan UP sakit kritiss 50 juta.
    Saya sudah tanya ke agen saya, dia bilang jika nasabah pria/30 thn/tdk merokok bisa mendapatkan juga UP sakit kritis 200 juta + payor 1 juta/bulan seumur hidup, tanpa mengurangi UP meninggal yg juga 200 juta.

    Dan juga dengan alokasi 1 juta/bulan, mas pri tidak menyebutkan bagaimana alokasi dana untuk asuransi + reksadana.

    Coba tolong kasih info dan perhitungan yang benar.

  319. Halo mas Pri,
    Menarik sekali “perbincangan nya” :)
    saya punya beberapa pertanyaan nih mas..
    – Lumpsum pada termlife cara ngitungnya bagaimana ya?
    – Saya tertarik ambil unitlink untuk pendidikan anak, karena ada payor nya, menurut mas Pri bagaimana?

    oya, saya baru beberapa bulan ini coba reksadana, dan hasilnya memuaskan lho :) (terutama setelah “jatuh” kemarin)

    maaf kalau bahasanya awam banget :d

  320. Saya ingin memberikan sedikit sharing, pandangan dari seorang agen asuransi Unit Link, khususnya PruLink.

    Keberatan yang disampaikan oleh Pak Priyadi ttg biaya akuisisi memang cukup beralasan. Pak Priyadi memandang dari sudut pandang seorang konsumen, tentu saja setiap konsumen mau yang paling murah tapi bagus seperti iklan di TV.

    Dari sudut pandang saya, tugas seorang agen Unit Link sangat mulia. Kita membantu memberikan informasi kepada masyarakat akan pentingnya menyiapkan masa depan. Kita tidak pernah membandingkan roduk kita dengan reksadana, sebab kita memberikan informasi kepada nasabah bukan bertujuan agar nasabah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tujuan sebenarnya untuk melindungi perencanaan keuangan nasabah.

    Kenapa harus Unit Link, bukan asuransi tradisional?
    Kebanyakan masyarakat sering mensalah artikan asuransi sebagai proteksi atas jiwa, seperti halnya asuransi mobil. Dan beranggapan ikut asuransi dengan harapan mendapatkan uang santunan yang banyak, tapi bagaimana kalau sehat-sehat saja. Berarti nasabah tidak merasakan manfaat dan premi yang disetorkan tiap bulan hangus, dan nasabah merasa dirugikan.

    Oleh sebab itulah ada model asuransi jiwa yang preminya bisa dikembalikan jika nasabah sehat-sehat saja. Di atas sudah disebutkan asuransi Endowment. Nasabah menyetorkan sejumlah premi untuk periode tertentu, dan selama masa proteksi tidak terjadi sesuatu, maka premi yang disetorkan akan dikembalikan secara bertahap, misalnya asuransi pendidikan.

    Unit Link mirip dengan asuransi endowment, bedanya di Unit Link nasabah bisa memilih alokasi investasi dan bisa memantau perkembangan dananya. Jadi di unit link, nasabah selain mendapatkan uang pertanggungan nasabah juga mendapatkan hasil investasi atas premi yang disetorkan.

    Lalu mengenai biaya akuisisi yang besar, hal ini wajar saja. Soalnya dalam sistem Unit Link, seorang agen terikat kontrak dengan nasabahnya seumur hidup atau sepanjang kontrak asuransi tersebut. Dengan komisi yang tidak seberapa, seorang agen harus melayani nasabahnya seumur hidup.

    Kita sebagai seorang agen, bisa dianggap seperti karyawan bagi nasabah. Tapi kita tidak bekerja di tempat nasabah. Ketika nasabah butuh, maka kita akan atur jadwal untuk ketemu. Misalnya untuk memberikan informasi jika ada produk baru atau upgrade produk, dan terutama saat melakukan klaim.

    Jadi bisnis kita adalah bisnis jangka panjang yang harus menjaga relationship. Kita dibayar bukan untuk menjual seperti seorang sales, tapi bantu maintenance nasabah. Jangan salahkan produk/asuransi Unit Link jika ada agen yang lalai melaksanakan kewajiban tsb.

    Kalau menurut pendapat Pak Priyadi, gampang urus sendiri ke perusahaan asuransi, saya hanya bisa bilang: \”cape…deh….\”
    Sudah ada pompa air kok masih menimba air sendiri.

    Kalau ada kata-kata yang salah tolong dikoreksi. Saya kurang cakap dalam menyusun kata-kata. Tapi intinya yah begitu aja.

  321. Saya ingin memberikan sedikit sharing, pandangan dari seorang agen asuransi Unit Link, khususnya PruLink.

    Keberatan yang disampaikan oleh Pak Priyadi ttg biaya akuisisi memang cukup beralasan. Pak Priyadi memandang dari sudut pandang seorang konsumen, tentu saja setiap konsumen mau yang paling murah tapi bagus seperti iklan di TV.

    Dari sudut pandang saya, tugas seorang agen Unit Link sangat mulia. Kita membantu memberikan informasi kepada masyarakat akan pentingnya menyiapkan masa depan. Kita tidak pernah membandingkan roduk kita dengan reksadana, sebab kita memberikan informasi kepada nasabah bukan bertujuan agar nasabah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tujuan sebenarnya untuk melindungi perencanaan keuangan nasabah.

    Kenapa harus Unit Link, bukan asuransi tradisional?
    Kebanyakan masyarakat sering mensalah artikan asuransi sebagai proteksi atas jiwa, seperti halnya asuransi mobil. Dan beranggapan ikut asuransi dengan harapan mendapatkan uang santunan yang banyak, tapi bagaimana kalau sehat-sehat saja. Berarti nasabah tidak merasakan manfaat dan premi yang disetorkan tiap bulan hangus, dan nasabah merasa dirugikan.

    Oleh sebab itulah ada model asuransi jiwa yang preminya bisa dikembalikan jika nasabah sehat-sehat saja. Di atas sudah disebutkan asuransi Endowment. Nasabah menyetorkan sejumlah premi untuk periode tertentu, dan selama masa proteksi tidak terjadi sesuatu, maka premi yang disetorkan akan dikembalikan secara bertahap, misalnya asuransi pendidikan.

    Unit Link mirip dengan asuransi endowment, bedanya di Unit Link nasabah bisa memilih alokasi investasi dan bisa memantau perkembangan dananya. Dengan demikian nasabah tidak kehilangan premi yang disetorkan. Karena manajer investasi perusahaan yang menjual unit link pasti bukan sembarangan orang.

    Lalu mengenai biaya akuisisi yang besar, hal ini wajar saja. Soalnya dalam sistem Unit Link, seorang agen terikat kontrak dengan nasabahnya seumur hidup atau sepanjang kontrak asuransi tersebut. Dengan komisi yang tidak seberapa, seorang agen harus melayani nasabahnya seumur hidup.

    Kita sebagai seorang agen, bisa dianggap seperti karyawan bagi nasabah. Tapi kita tidak bekerja di tempat nasabah. Ketika nasabah butuh, maka kita akan atur jadwal untuk ketemu. Misalnya untuk memberikan informasi jika ada produk baru atau upgrade produk, dan terutama saat melakukan klaim.

    Jadi bisnis kita adalah bisnis jangka panjang yang harus menjaga relationship. Kita dibayar bukan untuk menjual seperti seorang sales, tapi bantu maintenance nasabah. Jangan salahkan produk/asuransi Unit Link jika ada agen yang lalai melaksanakan kewajiban tsb.

    Kalau menurut pendapat Pak Priyadi, gampang urus sendiri ke perusahaan asuransi, saya hanya bisa bilang: \”cape…deh….\”
    Sudah ada pompa air kok masih menimba air sendiri.

    Kalau ada kata-kata yang salah tolong dikoreksi. Saya kurang cakap dalam menyusun kata-kata. Tapi intinya yah begitu aja.

  322. Wah seru juga bacanya, baru pertama kali baca ini menghabiskan waktu dari pagi sampai malam, tapi makin lama makin menarik, saya awam dengan asuransi dan unit link baru beberapa hari yll ikut training di salah satu perusahaan asuransi, tapi saya setuju dengan mas Pri, mas Rahmat, Bravo dan Peter, Makasih banyak infonya. Argumen2 dari firesquid nggak perlu ditanggapi, bikin capek dan buang2 energi, logikanya nggak nyambung.

  323. mas pri itu…ibarat tukang rumput, yg mengajari org awam bagaimana cara, n dmana tangkep ikan yg banyak di laut…ngalahin nelayan…he3333
    kalo bukan nelayan,jgn ngajarin tangkep ikan dunk…potong rumput aja…ini malah ngajarin nelayan gmana nangkep ikan yg bener..
    mas kan org IT, kl ngomong insurance ya jd ngawur…karena pengetahuan anda soal insurance sebatas sbg nasabah aja…kl org insurance ngomong IT jg ga nyambung khan….!!! insurance itu kompleks..makanya diperlukan agen…dan sampai kapanpun agen itu diperlukan….ibarat kl kencing, secanggih apapun toiletnya, tetap mas pegang burung sendiri kan..ato mo toilet yg canggih yg bisa pegangin burungnya???bekas org lain lagi…namanya juga mesin/robot,error ga bisa lepas tuh burung!!!!haha8…

  324. Mbak Flower, Anda mengatakan awam dengan Unit Link. Memang itu hal yang wajar, karena Unit Link itu masih kurang akrab di telinga masyarakat dibandingkan dengan tabungan atau deposito. Saran saya coban Anda berdiskusi dulu dengan teman/saudara yang menjadi agen Unit Link dan bisa dipercaya.

    Saya juga pada dasarnya juga setuju dengan mas priyadi, mas peter, dan mbak bravo. Dari segi profit, jelas lebih menguntungkan ambil reksadana dan asuransi secara terpisah. Tapi mereka melupakan ada manfaat dari Unit Link yang tidak terdapat pada reksadana + asuransi term.

    Kita sebagai manusia harus mengikuti perkembangan zaman. Sekarang banyak yang menjual meja kursi yang udah jadi, buat apa masih harus repot nebang pohon sendiri, gergaji sendiri, ukir sendiri, paku sendiri, hanya demi menghemat biaya buat pengrajin.
    Sebagai konsumen, yang penting punya meja kursi di rumah.

  325. #365

    “Kita sebagai manusia harus mengikuti perkembangan zaman. Sekarang banyak

    yang menjual meja kursi yang udah jadi, buat apa masih harus repot nebang

    pohon sendiri, gergaji sendiri, ukir sendiri, paku sendiri, hanya demi

    menghemat biaya buat pengrajin.
    Sebagai konsumen, yang penting punya meja kursi di rumah”

    Saya rasa disini perbedaan anda dan saya, bagi saya yang berada di strata

    kelas menengah menempatkan uang harus hati2x, kl punya kemampuan untuk

    menebang, punya kayu kenapa harus beli dari orang lain, lebih baik uangnya

    bisa saya belanjakan ke hal lain.

    Orang asuransi bilang unit link bagus, satu diantaranya karena tidak ribet,

    padahal sebetulnya asuransi classic dan reksadana tidaklah terlalu ribet,

    walau ribet sedikit, tapi nilai keuntungannya jauh lebih besar. Ribet juga

    hanya saat memilih MI yang bagus.

    Sebgai contoh ilustrasi, saya kebetulan ingin ambil asuransi jiwa syariah,

    kebetulan saya minta prospektus di Allianz.

    1. Program Asuransi Classic : myProtection
    Total Premi : 2.337.000
    Pertanggungan dasar meninggal : 150 juta
    ADDB : 150 juta
    CI : 75 juta
    Cacat Tetap : 150 juta
    Ilustrasi meninggal tahun ke2, maslahat tambahan : 0
    Ilustrasi hidup tahun ke10, maslahat tambahan : 14jt

    2. Program Asuransi Syariah : AlliSya Protect
    Total Premi : 2.512.000
    Pertanggungan dasar meninggal : 150 juta
    ADDB : 50 juta
    CI : 50 juta
    Cacat Tetap : 50 juta
    Ilustrasi meninggal tahun ke2,maslahat tambahan:4 jt
    Ilustrasi hidup tahun ke10, maslahat tambahan:62 jt

    Dari ilustrasi diatas : saya mengambil kesimpulan,

    1. kl kita meninggal atau meninggal krn kecelakaan atau cacat total atau

    kena penyakit kritis, sungguh rugi ikut unit link, krn ahli waris hanya

    dapat sangat sedikit dibandingkan yang classic

    2. kl kita hidup, memang kita dapat keuntungan, tapi sebetulnya rugi juga

    kl kita sampai hidup, krn uangnya kl untuk main direksadana, bisa

    berkembang biak jauh lebih besar, bukankah masuk asuransi bukan untuk

    investasi tapi utk proteksi. Dgn premi yang sama asuransi classic memberi

    proteksi yang jauh lebih besar daripada unit link :)

    3. Biaya pengelolaan, administrasi dsb dr Unit Link jauh lebih besar

    daripada yang Classic.

    4. Menghilangkan Top Up dari UL sangat tidak mungkin, krn disinilah pihak

    asuransi mengeruk keuntungan yang besar dari biaya TOP UP dan biaya

    Administrasi lainnya.

    Jadi kl dibandingkan dari sudut pandang investasi, unit link kalah telak,

    dilihat dari sudut pandang asuransi, dgn premi yang sama, classic jauh

    lebih unggul, krn seleuruh premi memang ditujukan utk proteksi, tidak

    seperti UL yang dibuat untuk bercabang proteksi + investasi yang

    menyebabkan UPnya menjadi lebih kecil.

    CMIIW

  326. Intinya, mas pri ga terlalu tau soal asuransi, tapi sok tau….
    reksadana ga bisa dibanding ma unit link…
    memank betul, unit link bayar premi seumur hidup,…tapi yg dibayar kan biaya asuransinya…bukan premi bulanan yg kita ikut 500ribu perbulan misalnya..
    jika anda menyebutkan premi 300ribu/th dapet up 100juta..di unit link hanya 206ribu/th loh….

    term insurance+mutual fund compare ma unit link juga ga nyambung!!!!
    term insurance itu kebanyakan asuransi jiwa, ato kecelakaan saja,ato ada kesehatan g cuma ganti sekian ratus,sejuataan sehari kalo sakit!!! crirital illnes yg butuh biaya 200juta-1milyar ga ada di term…
    fasilitas bebas premi juga ga ada…
    di term cover UP terbatas…!!unit link ada yg tak terbatas…

    ud, kalo tukang potong rumput, ngomong potong rumput aja…ga nyambung kalo u org IT ngomongin insurance n financial planning..!!!

    sekolah ambil gelar CHFC,CFP,CLU,AFP,CFA ato sebangsanya dulu deh………baru ngomongin Financial planning n insurance…
    ok???heeee..hehehee

  327. buat Firesquid :

    namanya juga mas pri tukang potong rumput, ya..dia sukanya pake sabit, ga suka pake mesin yg canggih..
    trus juga kalo mo meja n kursi ,ya tukang potong rumput ini ya potong kayu sendiri,gergaji sendiri,nukang sendiri…biarin aja…
    kan masih banyak org yg mau terima bersih kok..

  328. #365:

    kl ngomong insurance ya jd ngawur…karena pengetahuan anda soal insurance sebatas sbg nasabah aja…kl org insurance ngomong IT jg ga nyambung khan….!!! insurance itu kompleks..makanya diperlukan agen…dan sampai kapanpun agen itu diperlukan…

    ooo, jadi saya ngawur ya? :-? kalo gitu bisa kasih tahu bagian mana yang ngawur?

    #366:

    Saya juga pada dasarnya juga setuju dengan mas priyadi, mas peter, dan mbak bravo. Dari segi profit, jelas lebih menguntungkan ambil reksadana dan asuransi secara terpisah. Tapi mereka melupakan ada manfaat dari Unit Link yang tidak terdapat pada reksadana + asuransi term.

    tidak ada manfaat asuransi dari unit link yang tidak terdapat pada reksadana+term :). kalau ada, tolong sebutkan manfaat tersebut. satu2nya yang ada di unit link dan tidak ada di term hanyalah kepraktisan. cuma itu saja.

    #368:

    term insurance+mutual fund compare ma unit link juga ga nyambung!!!! term insurance itu kebanyakan asuransi jiwa, ato kecelakaan saja,ato ada kesehatan g cuma ganti sekian ratus,sejuataan sehari kalo sakit!!! crirital illnes yg butuh biaya 200juta-1milyar ga ada di term… fasilitas bebas premi juga ga ada… di term cover UP terbatas…!!unit link ada yg tak terbatas…

    wah, anda agen asuransi bukan ya? kok pengetahuan anda kurang? :-?

    di term juga ada critical illness, mau 1 milyar juga bisa. bebas premi juga bisa. UP terbatas? kata siapa?

    #369:

    namanya juga mas pri tukang potong rumput, ya..dia sukanya pake sabit, ga suka pake mesin yg canggih.. trus juga kalo mo meja n kursi ,ya tukang potong rumput ini ya potong kayu sendiri,gergaji sendiri,nukang sendiri…biarin aja… kan masih banyak org yg mau terima bersih kok..

    heheheh. gak masalah dibilangin tukang potong rumput juga. kalau tukang potong rumputnya minta bayaran Rp 1 juta ya mendingan motong rumput sendiri :P

  329. terbatas up yg saya maksudkan paling hanya sampai 1-2 milyar aja gitu loh…emank ada yg bisa ampe 20 milyar keatas???ada??apa nama produknya, sini gua beli…hehee..:d

    maksud tukang potong rumput itu, kalo gua mo nyari ikan, ngapain nyari tukang potong rumput ??mending ama nelayan ato tukang jual ikan di pasar gitu loh….

  330. #374
    Nama Ponidi cocok untuk profesi tukang rumput :d

    Memangnya ada Unit Link yang UP-nya sampai 20M. COME ON… Wake Up….. Kalo itu adalah hasil investasi setelah 35 tahun, ya dengan 150jt dan tingkat investasi 15%/tahun saya bisa punya 20M setelah 35 thn. Coumpound Interest :)

    Dalam ilustrasi Om Firesquid aja untuk premi 24jt/thn kita cuma dapat UP 500jt.

    Asal tahu saja, hasil investasi yang keluar adalah 10M setelah 36thn (usia sudah 65 thn).

    Pdhl, dengan 12jt/bln dan tingkat investasi 15% per tahun kita bisa dapat 12M setelah 36 tahun. Artinya dari 24jt premi kita itu, daripada saya beli unit link, lebih baik saya beli reksadana 12jt/thn selama 36 tahun dan menggunakan 12jt sisanya untuk membeli asuransi yang saya perlukan. 12jt pertahun saya yakin sudah sangat mewah asuransi yang saya dapatkan. Toh kantor saya sudah meng-kover kesehatan unlimited (ada kasus junior saya yang biaya perawatannya sampai 25jt/hari dan dikover kantor). Gak ada artinya rawat inap 600rb/hari yang ditawarkan Firesquid.

    Nah..12jt/thn kalo dipake untuk asuransi jiwa, kesehatan, critical ilnes dll masa sih gak bisa lebih bagus hasilnya daripada Unit Link.

    Trus, dalam beberapa kesempatan Firesquid ngotot membantah Priyadi untuk 2 kondisi sbb:
    1. Lumpsum 200jt atau
    2. 50jt + 1jt/bln (payor).
    Katanya dengan Unit Link, dapat lumpsum 200jt + 1jt/bln. Padahal dalam proposalnya juga ada perincian premi, Untuk Payor premi per tahunnya sekian untuk kematian sekian untuk kesehatan sekian dll. Jadi kalo kita dapat 2 benefit dalam Unit Link, itu karena kita membayar untuk itu. Bukannya free of charge.

    that money must have came from somewhere…

    #368
    Firesquid, Analogi unit link sama dengan beli meja kursi jadi dengan term+reksadana berarti nebang pohon sendiri dll jelas KELIRU BESAR. Kalo bikin analogi mbok ya yang logis. Jangan AsBun. Finally, anda ngakuin juga kalo Term Life+Investasi terpisah lebih menguntungkan. Perkara orang mau tetep beli Unit Link ya terserah saja.

    Supaya fair, analogi unit link vs term life+investasi sama dengan kita beli Lemari Knock Down di Hypermart. Harga lemari 300rb, tapi ada biaya antar ke rumah 40rb + biaya perakitan 60rb. Jadi kalo terima beres bayar 400rb. Kalo saya pilih beli belum jadi. Saya bawa pake mobil saya dan saya rakit sendiri. Mudah kok. Bahkan kunci-L juga sudah disediakan. Lengkap dengan aksesoris serta gambarnya.

    Kalo tukang kayu, setahu saya dia bahkan tidak menebang pohon sendiri. Tukang kayu yang saya kenal saya beri dia kayu yang saya pilih sendiri dan saya tunjukkan model lemari yang saya inginkan. Dia bikin dan saya bayar upahnya.

    Bahkan bikin lemari di tukang kayu lebih cocok buat term life+reksadana. Unit link = beli jadi yang kadang tidak pas betul dengan ukuran ruangan dll. Yang jelas, harga di tukang kayu pasti jauh lebih murah daripada beli jadi di showroom atau galery untuk kualitas yang sama karena ada ongkos ‘agen’ (margin toko mebel-nya).

    Akhirul kalam… Silahkan membeli dan meneruskan Unit Link bagi yang merasa nyaman dengannya dan mendapatkan apa yang diinginkan.

    Buat yang ragu, silahkan dipikirkan argumen2 Priyadi dan Temen2 BTAID vs argumen2 Firesquid dan Unit Link Mania.

    Buat saya, tidaklah hina belajar sesuatu ilmu dari tukang rumput kalau memang dia tahu ilmu itu. Saya yang sejak lulus sampai sekarang menjadi engineer pun tidak malu menerima masukan yang bagus dari anak2 magang yang notabene 0 tahun pengalaman kerja. Mereka bisa mematahkan argumen saya dengan referensi2 yang valid dari Om Google. Apa saya tolak masukannya dengan mengatakan “Kamu anak kemarin sore mau ngajarin saya gimana caranya kerja? Waktu kalian masih ingusan saya sudah kerja” Kan tidak begitu.

    Saya kenal agen asuransi (istilah kerennya sih Financial Advisor) yang bahkan tidak mengerti compound interest dan NPV. Dia hanya mengulang2 penjelasan yang tidak perlu. Malah ada teman saya yang karena tidak diterima2 kerja sesuai bidang keahliannya akhirnya jadi agen asuransi. Daripada gak kerja katanya. Fokus dia adalah gimana mempengaruhi orang supaya mau membeli produknya. Yang tidak butuh jadi butuh yang tidak mau jadi mau. Tidak semua tentu saja, tapi ya ada yang saya kenal seperti itu.

  331. 374

    terbatas up yg saya maksudkan paling hanya sampai 1-2 milyar aja gitu loh…emank ada yg bisa ampe 20 milyar keatas???ada??apa nama produknya, sini gua beli…hehee..:d
    ——————————————–
    Barusan saya tanya ke perusahaan asuransi M******* mereka bilang ngga di batasin tuh mau UP berapa di termlife mereka.

    Cuma memang untuk kasus UP yg terlalu gede dan ngga wajar, biasanya pihak asuransi meminta laporan keuangan pribadi dan harusnya hal ini juga berlaku dgn UP unitlink yg terlalu gede.

    tapi kalo saya beli asuransi cuma untuk proteksi rencana keuangan saya, ngapain juga ambil UP yang terlalu gede? hehehe. kalo anda mau beli sih silakan ADA kok. perlu ngga saya sebutin perusahaan asuransinya?

    Btw, seperti yg om rachmat singgung, anda ngerti ngga perbedaan antara UP-nya dan hasil investasinya?

  332. Buat yang awam dengan Financial Tools, silahkan gunakan fasilitas financial tools yang banyak terdapat di excel. Kalau mau belajar darimana asalnya rumus2 itu, bisa baca buku Ekonomi Teknik. Lumayan lengkap. Atau cari di internet juga berserak.

    Minimal kita bisa mengitung sendiri sbb:
    1. Kalo saya pinjam uang di bank dengan bunga 15%/tahun berapa cicilannya selama 10 tahun? Berapa kalo flat dan berapa kalo efektif?

    2. Saya mau punya uang 1M dalam 30 tahun lagi, Berapa tabungan per bulan jika interes 10% dan tiap tahun tabungan kita dinaikkan 10% (sesuai kenaikan gaji) misalnya?

    3. Jika inflasi rata2 5%/thn, berapa biaya hidup 10thn lagi yang setara dengan biaya hidup saat ini?

    Di Excel, setidaknya ada FV (Future Value), ada PV (Present Value), dan NPV (Net Present Value). Ada juga PMT untuk menghitung cicilan hutang jika kita meminjam uang sekian dan suku bunga sekian. Ini bisa dipake juga untuk mengetahui annuitas yang kita dapatkan jika kita punya uang sekian dan asusmsi tingkat investasi sekian.

  333. Oh ya, nambahin yang #377

    Manfaat mengerti tools di atas adalah supaya tidak ‘terkesima’ jika ada ‘financial advisor’ a.k.a. agen unit link yang mengatakan “Dengan premi 500rb/bln maka Bapak/Ibu bisa memperoleh dana pensiun pada usia 65 tahun (35 thn masa kontrak) sebesar 5M. Juga mendapat perlindungan asuransi bla bla bla…”

    Kan kita juga bisa bilang “Dengan tingkat investasi dan jangka waktu yang sama, dengan 350/bln kita bisa mendapatkan lebih dari 5M. Sisanya yang 150rb/bln bisa dipake untuk membeli produk asuransi yang sesuai secara optimal.”

    Nambahin Mbak Bravo, di di tempat saya kerja, ada santunan untuk kecelakaan kerja sebesar US$ 2,6 juta (dengan kurs 9000/US$ ~ 23.4M). Saya tidak tahu berapa premi yang dibayar kompeni ke perush asuransi. Yang jelas bisa (kalo mau). Ponidi ini gak tau tapi sok tau. Capee Deee…..

    Priyadi walaupun bukan Certified Financial Advisor atau Karyawan Bagian Teknik dari perusahaan asuransi, tapi argumen yang disampaikan rasional, tidak emosional. Yang kontra postingan Priyadi kok sepertinya adalah korban unit link yang karena sudah kepalang basah di unit link ya sudah dibela aja dengan berbagai cara.

    Setidaknya, dari ilustrasi Firesquid di excelnya, saya makin mantap untuk tidak mengambil Unit Link. Saya juga punya proposal dari perush XXX yang preminya 25jt/thn (hampir sama dengan 2jt/bln dengan 15% tingkat investasi). Hasil investasi dan manfaat asuransinya kurang lebih sama. Artinya, unit link2 yang dijual itu kurang lebih ya sama saja. Yang membedakan hanya: DIMANA MEREKA MENANAMKAN INVESTASINYA? (Hasil investasi dalam ilustrasi adalah berdasarkan asumsi tingkat investasi yang besarnya TIDAK DIJAMIN).

  334. Ilustrasi Firesquid

    Kalo Firesquid mengalami hal di atas dan merasa beruntung karena telah membeli Unit Link, maka silahkan dipikirkan lagi.

    1. Kalo di-PHK dan tidak kerja, mending uang yang 2jt/bln untuk kebutuhan saat itu saja. Memangnya hidup gak perlu biaya?

    2. Dengan membeli unit link, kita ‘dipaksa’ menerima santunan critical ilness dan pembayaran premi sampai umur 65thn. Kalau kita membeli asuransi sendiri, kita bisa membeli asuransi dengan santunan critical ilnes lebih besar sehingga lumpsum yang didapat juga lebih besar (sekitar 2x-nya). Firesquid tentu protes “Kok santunan critical ilnesnya 2x?” Ya karena alokasi premi untuk payor digabungkan ke critical ilnes (yang saya lihat di proposal unit link, besarnya premi untuk CI dan Payor kurang lebih sama).

    3. Katakanlah santunan CI adalah 300jt dan Payor 2jt/bln sampai umur 65thn. Jika Firesquid di-PHK karena CI dia, sementara uang santunan 300jt habis dipake berobat dan cuma ada 2jt/bln untuk membayar premi. Trus, biaya hidupmu mau ambil darimana?

    4. Kalau kita ambil santunan CI 600jt, jika 300jt habis untuk berobat, masih ada sisa 300jt yang dengan tingkat investasi 15% per thn akan didapat anuitas sebesar 3.75jt/bln selama 35 tahun. Artinya masih tetap bisa nabung (investasi) 2jt/bln dan masih ada sisa 1.75jt untuk biaya hidup (termasuk beli asuransi kesehatan kali ya). Atau bisa fleksibel dengan mengurangi tabungan bulanan (sehingga menambah alokasi biaya hidup)daripada pake unit link yang premi 2jt per bulan dibayarkan tapi gak punya uang buat makan???

  335. Ilustrasi Firesquid

    – Di awal tahun ke-2, nasabah terkena SERANGAN JANTUNG
    – Biaya pengobatan 300 juta, klaim dari asuransi
    – Karena tidak boleh bekerja keras apalagi stress, maka di PHK dan nasabah tidak mampu lagi setor 2 juta/bln
    – Nasabah menginginkan dirinya tetap diproteksi, pengecualian sakit kritis

    Kalo Firesquid mengalami hal di atas dan merasa beruntung karena telah membeli Unit Link, maka silahkan dipikirkan lagi.

    1. Kalo di-PHK dan tidak kerja, mending uang yang 2jt/bln untuk kebutuhan saat itu saja. Memangnya hidup gak perlu biaya?

    2. Dengan membeli unit link, kita ‘dipaksa’ menerima santunan critical ilness dan pembayaran premi sampai umur 65thn. Kalau kita membeli asuransi sendiri, kita bisa membeli asuransi dengan santunan critical ilnes lebih besar sehingga lumpsum yang didapat juga lebih besar (sekitar 2x-nya). Firesquid tentu protes “Kok santunan critical ilnesnya 2x?” Ya karena alokasi premi untuk payor digabungkan ke critical ilnes (yang saya lihat di proposal unit link, besarnya premi untuk CI dan Payor kurang lebih sama).

    3. Katakanlah santunan CI adalah 300jt dan Payor 2jt/bln sampai umur 65thn. Jika Firesquid di-PHK karena CI dia, sementara uang santunan 300jt habis dipake berobat dan cuma ada 2jt/bln untuk membayar premi. Trus, biaya hidupmu mau ambil darimana?

    4. Kalau kita ambil santunan CI 600jt, jika 300jt habis untuk berobat, masih ada sisa 300jt yang dengan tingkat investasi 15% per thn akan didapat anuitas sebesar 3.75jt/bln selama 35 tahun. Artinya masih tetap bisa nabung (investasi) 2jt/bln dan masih ada sisa 1.75jt untuk biaya hidup (termasuk beli asuransi kesehatan kali ya). Atau bisa fleksibel dengan mengurangi tabungan bulanan (sehingga menambah alokasi biaya hidup)daripada pake unit link yang premi 2jt per bulan dibayarkan tapi gak punya uang buat makan???

  336. heheheh. gak masalah dibilangin tukang potong rumput juga. kalau tukang potong rumputnya minta bayaran Rp 1 juta ya mendingan motong rumput sendiri :P

    Di rumah, tiap minggu rumput2 dipotongin dan tanaman disiramin. 50rb aja sebulan. Hehehe….

    Saya tidak percaya dengan apa yang dibilang Unit Link-ers “Orang-orang kaya (menengah ke atas) tidak mau ribet dengan asuransi dan investasi terpisah sehingga memilih unit link.” Padahal yang beli unit link banyak yang cuma ambil 250rb-2jt/bln. Mana ada orang kaya cuma bisa nabung segitu tiap bulan :d

    Orang kayak kadang cenderung pelit. Kalo bisa dengan 1jt beres kenapa harus 6jt. Yang punya 16rb karyawan saja tiap tahun maunya UMR jangan naik. Kalo naik ya jangan besar2. Kalo orang kaya tahu bahwa dia bisa saving 205% biaya akuisisi, pasti dia lakukan.

    Ada Unit Link yang promosi bahwa nilai unit-nya naik 30% dalam 6 bulan terakhir. Bangga sekali dia. Padahal Reksadana yang dipake oleh unit link itu lah yang bagus kinerjanya. Kalo unit link itu promosi “Unit Link kami tidak ada biaya akuisisi.” Nah ini baru berita.

  337. #378
    Yang kontra postingan Priyadi kok sepertinya adalah korban unit link yang karena sudah kepalang basah di unit link ya sudah dibela aja dengan berbagai cara
    ———————————————
    Om rachmat, rasanya bukan krn KORBAN deh, karena saya juga korban tapi saya malah bisa menerima logika anda2 semua tentang keuntungan ngambil terpisah.

    Saya rasa lebih tepatnya kalo yg ngga bisa nerima adalah mereka2 yg punya kepentingan mendapatkan penghasilan dari unit link (agen unit link, perusahaan asuransi unit link dll)

    Karena banyak kok temen2 saya yg udah join unit link malah kesal krn tidak tau komponen biaya2 di UL dan ada alternafif asuransi dan investasi lain.

    CMIIW

  338. Lalu mengenai biaya akuisisi yang besar, hal ini wajar saja. Soalnya dalam sistem Unit Link, seorang agen terikat kontrak dengan nasabahnya seumur hidup atau sepanjang kontrak asuransi tersebut. Dengan komisi yang tidak seberapa, seorang agen harus melayani nasabahnya seumur hidup.

    Masa??
    Apanya yang harus dilayani seumur hidup.
    Agen saya cuma ketemu sebelum polis keluar.
    Setelah keluar, tidak pernah nongol lagi tuh.
    Salah agennya?
    Coba anda pikir.
    Sebagai agen, kalo anda behenti apakah masih bisa ditanyain oleh nasabah2 anda?
    Anda pindah alamat saja nasabah tidak bisa follow up lagi.

    Kita sebagai seorang agen, bisa dianggap seperti karyawan bagi nasabah. Tapi kita tidak bekerja di tempat nasabah. Ketika nasabah butuh, maka kita akan atur jadwal untuk ketemu. Misalnya untuk memberikan informasi jika ada produk baru atau upgrade produk, dan terutama saat melakukan klaim.

    Terlalu riskan mempercayakan rencana keuangan kepada seorang agen. Kenapa tidak ke perusahaan saja langsung (perusahaan asuransi dan perusahaan investasi/MI). Karyawannya bisa jadi berubah2 dan tentu saja ada peningkatan karir, tapi perusahaannya kan tetap :)

  339. #381
    Orang kayak kadang cenderung pelit. Kalo bisa dengan 1jt beres kenapa harus 6jt. Yang punya 16rb karyawan saja tiap tahun maunya UMR jangan naik. Kalo naik ya jangan besar2. Kalo orang kaya tahu bahwa dia bisa saving 205% biaya akuisisi, pasti dia lakukan.
    —————————————-
    C7 banget =d>. Org kaya bisa kaya karena cenderung hidup hemat bahkan kadang super hemat.:d

  340. C7 banget =d>. Org kaya bisa kaya karena cenderung hidup hemat bahkan kadang super hemat.:d

    Makanya Mbak Bravo belum beli mobil ya. Hihihi… Peace… :)>-

    Om rachmat, rasanya bukan krn KORBAN deh, karena saya juga korban tapi saya malah bisa menerima logika anda2 semua tentang keuntungan ngambil terpisah.

    Mbak Bravo kan rasional. Jadi ya ‘Kalo salah jalan tinggal ambil U-Turn aja.’ Yang emosional kan ‘Biarlah Rugi Yang Penting Gengsi.’

    Ada loh orang yang seperti itu (bahkan banyak). Mereka salah melangkah tapi gengsi untuk mengakuinya sehingga berusaha membelanya. Ini manusiawi sekali kok. Jangan-jangan saya juga pernah (atau sering?) melakukannya :-?

    Makanya orang yang baik itu bukannya orang yang selalu benar, tapi orang yang kalo dia berbuat salah, dia mau ‘betobat‘ dan memperbaiki kesalahannya lalu ‘kembali ke jalan yang benar

    Mari kita semua ‘Kembali ke Jalan yang Benar‘ :)

    Oh ya, saya masih menunggu Case-by-Case yang mau disampaikan oleh Firesquid yang katanya

    Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.

    Kalian Berdua = Bravo dan Priyadi.

  341. aduh…sampe cape baca postingan disini panjaaaang ….:o

    setelah membaca opini Mas Pri saya jadi tambah bingung milih asuransi:-?
    Nah krn saya bingung 8-| nah mas Pri harus kasih masukan ke saya untuk milih asuransi yg tepat

    saat ini saya dah punya Astek dr kantor, tab pensiun/DPLK, trus proteksi kesehatan tp cuma utk biaya pergantian rawat inap Rp200rb/hari, trus kantor suami jg ada asuransi kesehatan utk mengcover semua keluarga kalo sakit… ehm tadinya saya pingin tambah asuransi kaya prudential buat jaga2 kalo nanti tua dah pensiun n sakit2an kan dah ga asuransi lg….saya pikir kalo punya asuransi hidup bs lebih nyaman dihari tua…

  342. [-([-(:)>-Hallo Mas Pri,
    Mohon maaf kalo pertanyaannya sdh dibahas. Saya baru baca sampai #105 (belum sempat baca semua).

    Pemikiran saya mau ambil “Whole Life” untuk istri (umur 30 tahun, ibu rumah tangga)+ rider “Critical Illness” + waiver, karena saya sebenarnya lebih condong untuk mencari proteksi Sakit Kritis.

    Menimbang hal tsb (biaya rumah sakit & obat cenderung bertambah tinggi), apakah kalau asuransi “Term Life” bisa di-kombinasi dg rider Critical Illness (coverage s/d 65 th)?
    Pemikiran saya “Term Life” 20 tahun hangus, sedangkan potency Critical Illness kemungkinan kenanya malah sesudah 55 tahun.
    Mohon masukan bagaimana untuk proteksi Critical Illness? Thanks

  343. #386:

    saat ini saya dah punya Astek dr kantor, tab pensiun/DPLK, trus proteksi kesehatan tp cuma utk biaya pergantian rawat inap Rp200rb/hari, trus kantor suami jg ada asuransi kesehatan utk mengcover semua keluarga kalo sakit… ehm tadinya saya pingin tambah asuransi kaya prudential buat jaga2 kalo nanti tua dah pensiun n sakit2an kan dah ga asuransi lg….saya pikir kalo punya asuransi hidup bs lebih nyaman dihari tua…

    lebih baik anda ikut asuransi jiwa term + investasi di reksadana. nanti kalau sudah tidak kerja lagi, anda bisa ikut asuransi kesehatan. tapi kalau ditolak pun rasanya nantinya nilai investasi di reksadana sudah sangat besar sekali dan dapat digunakan untuk biaya kesehatan. selain itu, asuransi kesehatan biasanya cuma menerima sampai usia 65 tahun saja.

  344. #388:

    Pemikiran saya mau ambil “Whole Life” untuk istri (umur 30 tahun, ibu rumah tangga)+ rider “Critical Illness” + waiver, karena saya sebenarnya lebih condong untuk mencari proteksi Sakit Kritis.

    Menimbang hal tsb (biaya rumah sakit & obat cenderung bertambah tinggi), apakah kalau asuransi “Term Life” bisa di-kombinasi dg rider Critical Illness (coverage s/d 65 th)?

    Pemikiran saya “Term Life” 20 tahun hangus, sedangkan potency Critical Illness kemungkinan kenanya malah sesudah 55 tahun. Mohon masukan bagaimana untuk proteksi Critical Illness? Thanks

    jika anda disiplin berinvestasi, harusnya setelah 20 tahun nilai investasi anda sudah akan jauh melebihi uang pertanggungan critical illness yang ada di asuransi. dan dengan demikian anda tidak perlu lagi mengambil asuransi.

  345. #388 dan #389
    Berarti uang yang telah susah payah ditabung selama 20 tahun harus direlakan habis buat pengobatan sakit kritis.
    Bukankah lebih baik asuransi tetap dibiarkan ada sampai batas usia yg ditentukan?

    Ingat, asuransi itu memproteksi hal yang kemungkinan kecil terjadi. Kalau sudah diatas usia 50 tahun, tentu kemungkinan sakit kritis lebih besar, dan kemungkinan besar juga pengajuan rider criticall illnes dtolak.

    Tapi, setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga pendapat Mas Priyadi. Bahwa saya memilih Unit Link hanya karena tidak mau repot dalam mengatur dana. Manfaat PRAKTIS tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi saya memilih Unit Link.

    Setelah membaca ilustrasi beli lemari rakitan vs rakit sendiri, saya selama ini salah besar kalau mengira semua orang butuh kepraktisan seperti saya. Ternyata risk profile setiap orang beda-beda.

    So…pilihlah asuransi yang cocok dengan risk profile Anda. Kalau saya bisa menyimpulkan, AT + RD cocok untuk risk profile berikut :
    – bisa menjaga kesehatan, sehingga tidak perlu khawatir suatu saat perpanjangan polis ditolak
    – bisa mengatur keuangan dengan baik (menentukan porsi investasi dan kebutuhan asuransi)
    – punya kemampuan untuk menangani masalah administrasi asuransi

    Tapi saya rasa risk profile tersebut hanya berlaku bagi beberapa orang. Dan sangat repot jika anak istri juga mengikuti risk profile diatas.

  346. Btw, apakah ada yg bersedia membuat ilustrasi perbandingan manfaat Unit Link vs AT, dari perusahaan yang sama. Untuk perbandingan yang lebih fair. Soalnya perhitungan biaya akuisisi, biaya asuransi, dan biaya administrasi Unit Link bisa berbeda untuk masing-masing asuransi.

    Untuk investasinya, asumsikan saja taruh di reksadana XYZ yang return investasi sama seperti Unit Link tersebut.

  347. #390:

    Berarti uang yang telah susah payah ditabung selama 20 tahun harus direlakan habis buat pengobatan sakit kritis. Bukankah lebih baik asuransi tetap dibiarkan ada sampai batas usia yg ditentukan?

    setelah 20 tahun lebih, maka besar UP sudah tidak signifikan lagi terhadap besar investasi. dan selain itu premi asuransi juga semakin tinggi. jauh lebih menguntungkan jika uang yang tadinya digunakan untuk premi asuransi dialihkan untuk memaksimalkan investasi.

    Ingat, asuransi itu memproteksi hal yang kemungkinan kecil terjadi. Kalau sudah diatas usia 50 tahun, tentu kemungkinan sakit kritis lebih besar, dan kemungkinan besar juga pengajuan rider criticall illnes dtolak.

    betul. semakin tinggi probabilitas suatu kejadian yang perlu dilindungi, maka asuransi semakin tidak diperlukan. jika probabilitasnya sudah terlalu tinggi jauh lebih menguntungkan jika resikonya ditanggung sendiri.

    Tapi, setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga pendapat Mas Priyadi. Bahwa saya memilih Unit Link hanya karena tidak mau repot dalam mengatur dana. Manfaat PRAKTIS tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi saya memilih Unit Link.

    betul. SATU-SATUNYA manfaat unit link adalah kepraktisan. sekarang tinggal dipertimbangkan saja apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat kepraktisan yang didapat. menurut saya sih sama sekali tidak sebanding :).

    Setelah membaca ilustrasi beli lemari rakitan vs rakit sendiri, saya selama ini salah besar kalau mengira semua orang butuh kepraktisan seperti saya. Ternyata risk profile setiap orang beda-beda.

    risk profile gak ada hubungannya dengan kepraktisan. tidak perlu mengada-ngada.

    So…pilihlah asuransi yang cocok dengan risk profile Anda. Kalau saya bisa menyimpulkan, AT + RD cocok untuk risk profile berikut :
    – bisa menjaga kesehatan, sehingga tidak perlu khawatir suatu saat perpanjangan polis ditolak

    ini FUD. anda sendiri juga ikut diskusi di posting saya yang lain dan tahu persis kalau perpanjangan manfaat kesehatan di unit link juga bisa ditolak sewaktu-waktu. jangan bohongi diri anda sendiri.

    – bisa mengatur keuangan dengan baik (menentukan porsi investasi dan kebutuhan asuransi)
    – punya kemampuan untuk menangani masalah administrasi asuransi

    Tapi saya rasa risk profile tersebut hanya berlaku bagi beberapa orang. Dan sangat repot jika anak istri juga mengikuti risk profile diatas.

    ini terlalu dibesar2kan. repotnya ngambil terpisah hanyalah harus mengurus dua akun reksadana dan asuransi secara terpisah. itu saja.

    #391:

    Btw, apakah ada yg bersedia membuat ilustrasi perbandingan manfaat Unit Link vs AT, dari perusahaan yang sama. Untuk perbandingan yang lebih fair. Soalnya perhitungan biaya akuisisi, biaya asuransi, dan biaya administrasi Unit Link bisa berbeda untuk masing-masing asuransi.

    perhitungan biaya akuisisi, biaya produk dan biaya administrasi juga bisa berbeda antar produk yang berbeda untuk perusahaan asuransi yang sama.

    tapi yang lebih penting lagi, perusahaan asuransi ‘yang itu tuh’â„¢ gak punya produk term life :)

  348. mas pryyadi,,tolong kasi tau saya kalau saya mau menjadi nasabah reksadana gimana caranya,,maklum saya awam terhadap masalah ini tolong dikasi pencerahan secerah cerahnya…nb:tujuan utama saya adalah investasi…..supaya bisa punya masa depan yang lebih mapan,,,(banyak uang,,he he he )

  349. Mas Pri kaya’nya iri ama pemasar asuransi ya??maklum, banyak pemasar asuransi yg kaya bgt,income ada yg di atas 7-10 miliar pertahun…sedangkan mas pri??? 1 miliar entah nyampe ga??padahal sekolah tinggi2….heheheeee….

    biasa kalo org yg ekonomi pas2an ato menengah emank mikirin ekonomis mulu…mikirin biaya yg lebih dikit biar repot juga ga pa2…
    sedangkan yg menengah atas mah…mahal yg penting layanan ok…

    mas pri sering naik adam air n ogah naik garuda ni ya???jgn2 seumur idup ga pernah naik SIA kali ya??? heheeee
    tau ga knapa tiket SIA mahal bgt????

    menrut saya bravo ato sapa yg ngaku bisa beli BMW, tapi ga mo beli avanza mending naik angkot…tuh org sok kaya aja….kalo org banyak duit masak rela panas2an di bus, ato angkot?? justru org yg banyak duit ogah naik kaya begituan….mereka lebih mengutamakan keamanan n kenyamanan….

  350. #395:

    Mas Pri kaya’nya iri ama pemasar asuransi ya??maklum, banyak pemasar asuransi yg kaya bgt,income ada yg di atas 7-10 miliar pertahun…sedangkan mas pri??? 1 miliar entah nyampe ga??padahal sekolah tinggi2….heheheeee….

    heheheh, berapa banyak sih agen asuransi yang punya penghasilan sebanyak itu? berapa persen dari keseluruhan agen asuransi? darimana uang sebanyak itu?

    semuanya bisa dijelaskan dengan mudah dengan cara yang sama untuk menjelaskan sistem MLM :)

  351. #394
    menrut saya bravo ato sapa yg ngaku bisa beli BMW, tapi ga mo beli avanza mending naik angkot…tuh org sok kaya aja….kalo org banyak duit masak rela panas2an di bus, ato angkot?? justru org yg banyak duit ogah naik kaya begituan….mereka lebih mengutamakan keamanan n kenyamanan
    __________________________

    hehehe, yg sok kaya siapa? yg sok kaya itu BIASAnya: petantang-petenteng naik mobil bagus, naik SIA first-class… padahal jangan2 utang segunung :-)

    yg sering naik SIA kok ngga tau kadang2 harga tiket SIA itu lebih murah daripada GIA?

    HEBAT BETUL NIH ORANG…. yg lebih tau KEBUTUHAN SAYA.

    dan lucunya…. dari survey tentang org2 kaya di amerika dari buku ‘the millionaire next door’ bisanyanya mereka justru hidup super hemat (kalo mereka hidup boros, darimana mereka dapat ngumpulin kekayaan, emang dari KORUPSI, jatuh dari langit?) hihihi…

  352. #392

    ini FUD. anda sendiri juga ikut diskusi di posting saya yang lain dan tahu persis kalau perpanjangan manfaat kesehatan di unit link juga bisa ditolak sewaktu-waktu. jangan bohongi diri anda sendiri.

    Siapa orang yang mengatakan perpanjangan manfaat kesehatan di Unit Link bisa ditolak?
    Dia seorang agen, orang dalam perusahaan, nasabah, atau sekedar pengamat dadakan yang bahkan bukan nasabah sama sekali.

    Jika ingin mendapatkan informasi yang benar, tanyakan pada orang yang tepat. Jangan karena ada komentar dari 1-2 orang, apalagi orang itu hanya pengamat dadakan, lantas mempengaruhi seluruh pemikiran Anda.

    Mungkin ada asuransi jiwa unit link memang menolak perpanjangan jika sudah terjadi klaim sakit kritis. Tapi saya sudah tanyakan ke AIA, Allianz dan Prudential, ketiga perusahaan ini mengatakan perpanjangan manfaat kesehatan tidak dipengaruhi oleh klaim sakit kritis.

  353. #392

    perhitungan biaya akuisisi, biaya produk dan biaya administrasi juga bisa berbeda antar produk yang berbeda untuk perusahaan asuransi yang sama.

    Gak apa-apa Mas. Silahkan dibuatkan ulang saja perbandingannya, supaya lebih fair.

    Kalau ilustrasi perhitungan yang Mas priyadi buatkan sebelumnya terkesan menjelekan perusahaan tertentu dan membanggakan perusahaan lainnya. Padahal dari segi manfaat saja Mas Priyadi sudah salah. Jika memang di AT tidak ada Payor, gimana kalau dibuatkan sama-sama Waiver.

    Kecuali memang Mas Priyadi sejak awal sudah ada niat yang bertujuan menjelekan perusahaan tertentu. Tapi saya percaya Mas Priyadi tidak akan berbuat demikian.

  354. #395

    Mas Pri kaya’nya iri ama pemasar asuransi ya??maklum, banyak pemasar asuransi yg kaya bgt,income ada yg di atas 7-10 miliar pertahun…sedangkan mas pri??? 1 miliar entah nyampe ga??padahal sekolah tinggi2….heheheeee….

    Bukan di Indonesia kali ya?

    Kalau yang penghasilan 1-2 miliar pertahun, saya tau memang banyak. Tapi kalau bisa sampai 7-10 miliar pertahun, berarti orang Indonesia sudah cukup besar akan kesadaran asuransi jiwanya.

  355. #398:

    Siapa orang yang mengatakan perpanjangan manfaat kesehatan di Unit Link bisa ditolak? Dia seorang agen, orang dalam perusahaan, nasabah, atau sekedar pengamat dadakan yang bahkan bukan nasabah sama sekali.

    yang mengatakan adalah polisnya sendiri.

    Mungkin ada asuransi jiwa unit link memang menolak perpanjangan jika sudah terjadi klaim sakit kritis. Tapi saya sudah tanyakan ke AIA, Allianz dan Prudential, ketiga perusahaan ini mengatakan perpanjangan manfaat kesehatan tidak dipengaruhi oleh klaim sakit kritis.

    kalau begitu tolong sebutkan bunyi pasal yang terkait hal ini di unit link AIA, Allianz dan Prudential. jangan cuma ‘katanya’ agen :)

  356. #399:

    Kalau ilustrasi perhitungan yang Mas priyadi buatkan sebelumnya terkesan menjelekan perusahaan tertentu dan membanggakan perusahaan lainnya. Padahal dari segi manfaat saja Mas Priyadi sudah salah. Jika memang di AT tidak ada Payor, gimana kalau dibuatkan sama-sama Waiver.

    no problem. sudah pernah saya buat sebelumnya atas pesanan seseorang melalui email. silakan baca di sini: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/unitlink-vs-terpisah-2.xls

    UP 500 juta + penyakit kritis 250 juta + waiver

  357. 1-2 miliar itu emank banyak banget…mungkin kalo dikumpilin ada hampir 1000 orang lebih di indonesia…
    kalo 7 miliar ke atas ada puluhan..bahkan ada yg tembus 12 miliar ke atas pertahunnya…kao ga salah orang prudential…

    ada agen bumiputera a yg mampu raih premi 24 miliar setahun, komisnya lebih dari 6 miliar setahun…

  358. dan lucunya…. dari survey tentang org2 kaya di amerika dari buku ‘the millionaire next door’ bisanyanya mereka justru hidup super hemat (kalo mereka hidup boros, darimana mereka dapat ngumpulin kekayaan, emang dari KORUPSI, jatuh dari langit?) hihihi…

    Bravo kebanyakan baca buku yah…biasa banyak teori sedikit prakteknya…
    buku2 yg ada di pasaran sekarang tdak semua baik loh…banyak informasinya yg ga bisa dipertanggung jawabkan , dan terkesan menyesatkan pikiran org2…
    tapi saya percaya banget…kalo org itu betul2 tahu rahasia jadi kaya, ga mungkin dibagikan semua ilmunya…mending simpan buat keturunan sendiri…kalopun dibagi, yg paten disimpen or diumpetin…yg ga begitu paten baru disebarin…

    ada pepatah mengatakan ; ” Boleh ngajarin orang ngabisin duit, tapi jangan ngajarin org nyari duit!!!! ”

    udah manusiawi

  359. #404

    WOW…. anda sudah baca bukunya, shg bisa nyimpulin buku tersebut buku buat ngajarin cara menjadi kaya?

    saya sih ngga perlu diajari menjadi kaya kok….rumus agar kaya buat saya itu cuma satu yaitu: HIDUP DIBAWAH KEMAMPUAN. artinya kalo penghasilan rutin saya cuma satu juta, usahakan biaya hidup cuma 900 rb atau dibawah itu shg sisanya bisa saya investasikan, cuma sesederhana itu, masa perlu diajarin?

    WOW… ternyata anda mengenal saya juga,ya….?sehingga tau bahwa saya banyak teory ngga ada praktek… HEBAT…. HEBAT…. ternyata bisa tahu…. pake terawang darimana nih? sehingga gaya hidup saya anda bisa gitu jelas.

    saran saya: JANGAN LAH MENYERANG PRIBADI SESEORANG YG BAHKAN BELUM ANDA KENAL, karena dgn anda melakukan itu akan keliatan sekali ANDA ITU MANUSIA MACAM APA. kalo ada argumen yg anda ngga setuju, conter dgn logika yg LOGIS dong… bukan dgn nyerang PRIBADI ORG.

  360. kalau begitu tolong sebutkan bunyi pasal yang terkait hal ini di unit link AIA, Allianz dan Prudential. jangan cuma ‘katanya’ agen

    Jangan hanya tanya ke agen.
    Lebih baik tanya langsung ke customer service nya. Jika sudah dikonfirmasi oleh 2 pihak, berarti informasi tersebut kemungkinan besar sudah benar. Sebab yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan asuransi adalah reputasi dan kepercayaan.

    Dipolis ada juga ada tertulis kalau pihak perusahaan tidak akan menolak atau menghentikan perpanjangan jika tidak terjadi salah satu hal yang menyebabkan berakhirnya pertanggungan.

    Karena Mas Priyadi cuma melihat Unit Link dari ilustrasi proposal saja, makanya Mas Priyadi tidak mengetahui hal ini. Unit Link pada umumnya dijual secara paket, makanya premi menjadi lebih mahal daripada term life.

    Semua agen asuransi Unit Link juga selalu menyarankan untuk punya polis Unit Link semenjak usia muda, karena di usia muda masih jarang ada resiko sakit. Dengan demikian manfaat asuransi yang dipaketkan tersebut bisa mengcover lebih maksimal.

    Jadi, sekali lagi. Mas Priyadi hendaknya jangan selalu melihat kekurangan dari suatu produk, sebab tiap produk selalu ada kelebihan dan kekurangan. Coba lihat dulu apa kelebihan produk tsb, apakah kelebihan tersebut cocok dengan risk profile diri sendiri.

    Hitungan diatas kertas memang lebih menguntungkan AT + RD terpisah. Tapi hitungan itu kan berdasarkan asumsi sekarang. Kenyataannya…tidak ada yang tau pasti masa depan seperti apa.

  361. Hitungan diatas kertas memang lebih menguntungkan AT + RD terpisah. Tapi hitungan itu kan berdasarkan asumsi sekarang. Kenyataannya…tidak ada yang tau pasti masa depan seperti apa.
    —————————————————–

    anda mengakui kalo AT+RD lebih menguntungkan, dan memang itu inti dari diskusi ini. Setelah itu, terserah kepada person masing-masing untuk memilih mana yang paling sesuai buat dirinya berdasarkan perbandingan yang ada… ikut UL atau BTAID

  362. #406:

    Dipolis ada juga ada tertulis kalau pihak perusahaan tidak akan menolak atau menghentikan perpanjangan jika tidak terjadi salah satu hal yang menyebabkan berakhirnya pertanggungan.

    silakan sebutkan bunyi pasalnya, gitu aja kok repot :). tentunya yang bagian manfaat kesehatannya, bukan manfaat asuransi jiwanya :). tapi gak usah repot2, mbak bravo sudah pernah memberi tahu kita semua di sini

    Karena Mas Priyadi cuma melihat Unit Link dari ilustrasi proposal saja, makanya Mas Priyadi tidak mengetahui hal ini. Unit Link pada umumnya dijual secara paket, makanya premi menjadi lebih mahal daripada term life.

    akhirnya ada kemajuan. premi UL lebih mahal daripada term life. kalau gitu boleh dong saya cari yang lebih murah :)

  363. Pak Pri,

    Numpang tanya dong… Kalau ingin membeli asuransi kesehatan terpisah bisa didapatkan di mana ya? Plus saya juga ingin mendapatkan asuransi kesehatan yang bisa mengcover rawat jalan bukan hanya rawat inap aja. Sebenarnya perlu ga sih asuransi kesehatan kalau kita punya cukup tabungan untuk emergency kaya gini?
    Thanks!

  364. #409:

    Numpang tanya dong… Kalau ingin membeli asuransi kesehatan terpisah bisa didapatkan di mana ya? Plus saya juga ingin mendapatkan asuransi kesehatan yang bisa mengcover rawat jalan bukan hanya rawat inap aja. Sebenarnya perlu ga sih asuransi kesehatan kalau kita punya cukup tabungan untuk emergency kaya gini?

    kalau mau beli asuransi kesehatan terpisah coba tanya2 misalnya ke sinarmas, allianz, bumiputera, BNI life, cigna, dll.

    menurut saya asuransi kesehatan tetap perlu walaupun punya tabungan cukup, karena lebih baik tabungan tersebut diinvestasikan daripada nganggur di bank.

  365. Halo Pak Priyadi, thanks bgt bt pencerahannya.

    Saya ingin tanya: Membeli unit link seringkali disamakan seperti membeli asset dengan cara mencicil. Jika kita membeli motor dengan mencicil maka kita akan mendapat kemudahan bertransportasi. Disertai dengan biaya untuk bensin. Tapi saya pernah mendengar konsep unit link sebagai asset. Di mana kita mencicil asset yang akan memberikan kita return dalam jangka panjang plus memberikan perlindungan terhadap resiko financial yang timbul akibat sakit atau cacat selama kita mengakumulasikan tabungan kita. Apakah ada yang salah dengan hal itu. Memang saya setuju sekali jika kebanyakan agen hanya mengejar setoran, namun agen2 seperti itu akan mengalami penyaringan secara alami kok. Dan tentu, kita semua memerlukan pencerahan seperti yang diberikan Pak Priyadi untuk menghindari membeli kucing dalam karung. Saya sebagai agen asuransi merasa tertantang untuk memberikan produk yang benar2 diperlukan bagi para calon nasabah. Thank you

  366. #411: semua manfaat yang ada pada unit link bisa dibeli dengan cara memisahkan asuransi dan investasi, dan hasilnya akan jauh lebih maksimal daripada membeli unit link.

    agen biasanya tidak punya kontrol dalam menentukan harga. yang menentukan harga adalah perusahaan asuransinya. bahkan untuk memberi rebate pun tidak diperbolehkan. beberapa agen mungkin berniat baik, tapi mereka tetap tidak bisa menjual produk yang tidak mahal kepada konsumen.

  367. Karena saya masuknya telat, wah panjang juga mengikuti diskusi masalah unit link dan term life+reksadana.
    Buat saya semakin jelas dari penjelasan Mas Priyadi bahwa term life + reksadana lebih unggul dari sudut manapun Firesquid mencoba berargumentasi dgn berbagai analogi. Bener perumpamaan mas Priyadi, kalo kita bisa beli tiket sendiri, kenapa harus lewat calo. Kalo bisa mudah kenapa harus dibikin sulit sendiri.
    Saya sendiri termasuk “merasa tertipu” masuk unit link, karena ketidak tahuan saya. Setelah Baca KONTAN baru saya “ngeh” masalah tsb, apalagi mengikuti diskusi ini.
    Sekali lagi kpd mas Priyadi maju terus dengan memberi pencerahan kepada investor, ketidak tahuan kita rupanya menjadi peluang agen mencari mangsa. saya & istri termasuk salah satu korbannya. Saya paham para agen pasti berusaha mencari berbagai PEMBENARAN (spt yg dilakukan Firesquid dkk) karena menyangkut periuk dapurnya.

  368. Saya juga setuju kalau mao beli asuransi, lebih baik pilih asuransi tradisional+reksadana. Tapi saya masih bingung soal asuransi tradisional mana yang harus dipilih, antara whole life atau term insurance.

    Di term life, jumlah premi yang kita bayarkan akan hangus apabila tidak terjadi resiko selama masa kontrak. Sementara di whole life, kita akan ditanggung oleh pihak asuransi sampai umur 99.

    Kemarin, saya sempat ditawari oleh salah satu teman saya. Dia bekerja di Manulife, pertama-tama, dia nawarin produk Unit Link, tapi karena saya kekeuh bilang mao asuransi tradisional, akhirnya dia menawarkan produk whole life (bukan unit link), dimana kata dia pembayaran premi-nya hanya dilakukan selama 10 tahun, tapi dicover seumur hidup dan entar di akhir polis keluar nilai tunainya. Lalu, saya tanya ke dia, “apakah itu benar2 tertulis di polisnya, bahwa pembayaran yg saya lakukan hanya 10x pembayaran?” Dia jawab sih iya. Kalau ini benar, darimanakah dia akan mendapatkan uang untuk membayar premi saya sampai umur 99 nanti? Dari hasil investasi? Diinvestasikan dimana? proporsinya berapa? Dan kalo begitu, berarti produk whole life lebih menguntungkan dari term life karena biaya biaya nya tidak sebesar unit link? Tetapi apakah premi untuk whole life jauh lebih mahal dari term life, sehingga lebih menguntungkan untuk memilih term life? Mengapa mas pri lebih memilih term life dibandingkan dengan whole life? apakah hanya karena di whole life, kkita membayar premi lama jangka waktunya dari yang kita butuhkan?

    Saya juga pernah baca di salah satu blog yang merekomendasikan YRT Insurance. Apakah perbedaannya dengan Term life insurance saja? Apakah itu sama dengan Term life yang ada klausal guaranteed renewability?

    Makasih, hehe…

  369. #415:

    Di term life, jumlah premi yang kita bayarkan akan hangus apabila tidak terjadi resiko selama masa kontrak. Sementara di whole life, kita akan ditanggung oleh pihak asuransi sampai umur 99.

    baik di term life maupun di whole life, uang anda sebenarnya akan ‘hangus’ juga. kalau tidak hangus darimana mereka punya uang untuk membayar klaim, bayar karyawan dan mendapat keuntungan? biasanya nasabah gak menyadari hal ini karena cuma terpaku pada nilai nominalnya saja. sebenarnya nilai uang itu terus mengecil (inflasi). Rp 1 juta saat ini nilainya jauh lebih tinggi daripada Rp 1 juta 10 tahun yang akan datang.

    Lalu, saya tanya ke dia, “apakah itu benar2 tertulis di polisnya, bahwa pembayaran yg saya lakukan hanya 10x pembayaran?” Dia jawab sih iya. Kalau ini benar, darimanakah dia akan mendapatkan uang untuk membayar premi saya sampai umur 99 nanti? Dari hasil investasi? Diinvestasikan dimana? proporsinya berapa? Dan kalo begitu, berarti produk whole life lebih menguntungkan dari term life karena biaya biaya nya tidak sebesar unit link?

    bedanya whole life dan unit link sebenarnya cuma satu: di whole life/endowment, resiko investasi ditanggung perusahaan asuransi (nilai investasi dijamin), tapi di unit link resiko investasi di tangan nasabah (nilainya tidak dijamin). sedangkan term life sama sekali tidak punya nilai investasi.

    Tetapi apakah premi untuk whole life jauh lebih mahal dari term life, sehingga lebih menguntungkan untuk memilih term life? Mengapa mas pri lebih memilih term life dibandingkan dengan whole life? apakah hanya karena di whole life, kkita membayar premi lama jangka waktunya dari yang kita butuhkan?

    whole life lebih mahal karena di dalamnya bisa jadi ada unsur investasi dan karena memberi coverage seumur hidup. memberi coverage seumur hidup itu bukan kelebihan, justru kekurangan, karena sebenarnya resiko finansial itu tidak seumur hidup. meninggal itu bukan resiko, tapi kepastian. yang dicover oleh asuransi jiwa seharusnya hanya resiko finansial. kalau kita mengasuransikan suatu hal yang pasti terjadi, hampir pasti kita akan mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang nantinya akan kita dapatkan.

    Saya juga pernah baca di salah satu blog yang merekomendasikan YRT Insurance. Apakah perbedaannya dengan Term life insurance saja? Apakah itu sama dengan Term life yang ada klausal guaranteed renewability?

    YRT = yearly renewable term. atau term life jangka waktu 1 tahun dengan klausul guaranteed renewability.

  370. mas pri, salut banget deh sama mas pri…nah, sekarang saya mau ngikutin mas pri banget nih…bisa ga mas pri critain polis apa aja yang mas pri punya dan jelasin secara detail?

    saya sudah kepalang tanggung ikut unitlink prudential, saya yakin mas pri pasti nyruh saya tutup polis saya disana kalo saya minta saran. namun, bagaimana ya, yang sebaiknya ikut term life itu hanya suami saja atau saya juga perlu ikut? trus ikutnya yang jangka brapa tahun?

    saya punya anak batita 2 orang…bagusnya mereka saya masukin asuransi ga? kalo iya, asuransi apa dan ada dimana dan jangka brapa lama?

    trus kesehatan si udah dicover kantor suami, apa perlu saya juga ikut asuransi kesehatan?

    soal reksadana, bisa jelasin detail yang mas pri ikut ga? misalnya dimana, ikut brapa, trus programnya apa? karna saya buta banget soal reksadana…

    makasiiii bangetttt

  371. oya, tabungan pendidikan yang bagus buat anak kita nantinya apa ya?? sebut merk doonngg…

  372. #417: silakan baca dulu tulisan saya yang pedoman membeli asuransi jiwa dan reksadana. mudah2an semua jawaban yang diperlukan ada di sana.

    kalau anda gak kerja, anda tidak perlu asuransi jiwa. soal anak, mungkin anda perlu masukkan ke asuransi kesehatan saja, tidak perlu diberi asuransi jiwa. kalau kesehatan keluarga sudah dicover kantor, maka tidak perlu lagi ambil kesehatan di luar itu, kecuali kalau manfaatnya dirasakan kurang.

    #418:

    oya, tabungan pendidikan yang bagus buat anak kita nantinya apa ya?? sebut merk doonngg…

    tabungan pendidikan itu endowment atau unit link juga. akan lebih maksimal jika dananya diinvestasikan di reksadana.

  373. bagaimana dengan konsep invest di perusahaan asuransi? saya pernah ditawarin itu…kayaknya mnguntungkan…gmn mnrt mas pri?

  374. #420:

    bagaimana dengan konsep invest di perusahaan asuransi? saya pernah ditawarin itu…kayaknya mnguntungkan…gmn mnrt mas pri?

    kemungkinan yang ditawarkan itu adalah unit link premi tunggal atau endowment. lebih baik investasi langsung saja ke reksadana apalagi kalau sudah ngambil asuransi terpisah atau memang gak perlu asuransi.

    yang dilakukan perusahaan asuransi di sini sebenarnya akan menyetorkan uang anda ke reksadana. jadi lebih baik ambil jalan pintas dengan langsung invest di reksadana.

  375. mas pri, nanya lagi ni…*gara2 bc soal ini, beberapa hari ini konsen sama soal asuransi…*

    tadi saya udah nanya axa mjs, misalnya suami saya ambil yang 10 tahun (btw, mas pri ambil yang jangka brp thn?), kan pas mau ikut harus cek kesehatan dulu, trus katanya kalo mau ppanjang, harus cek lagi…apa itu yang dinamakan klausul RYT? ada ga yang ppanjang tapi ga dicek lagi kesehatannya?

    trus, ada situs laen ga selain sinarmas, allianz, witerthur dan bumida yang punya askes perorangan? mas pri sendiri ambil askes yang mana ni??

    jadi menurut mas pri, kalo saya punya axa mandiri yang siswa mandiri sejahtera, mendingan saya tutup aja ya?

    kalo sudah ditutup, apa saya langsung main di reksadana saham atau saya alokasikan ke kranjang yang tanpa resiko dulu seperti deposito dan ORI? karna saya juga blm punya keduanya??

    makasi banyak mas…bener2 mbantu saya…

  376. #415

    menurut mas pri, daripada memilih asuransi whole life, masih lebih baik memilih asuransi term life? Apakah premi untuk term life (katakanlah untuk 20 tahun, sampai tertanggung berumur 50 thn), lebih murah jauh daripada premi untuk asuransi whole life selama 10 tahun? Mana

    apakah di whole life insurance, banyak komponen biaya biaya seperti yang ada di unit link juga? atau komponen biaya biaya ini di tanggung oleh pihak perusahaan insurance ini?

    so, is it better to buy term life insurance rather than whole life insurance and invest the difference in RDS or other instruments?

    mana yang lebih baik, YRT atau term insurance for 5 years?

    apakah komponen critical illness dalam term life insurance dibutuhkan? apa saja yang di cover di poin critical illness itu?

    makasih untuk masukannya mas pri.

  377. #422:

    tadi saya udah nanya axa mjs, misalnya suami saya ambil yang 10 tahun (btw, mas pri ambil yang jangka brp thn?), kan pas mau ikut harus cek kesehatan dulu, trus katanya kalo mau ppanjang, harus cek lagi…apa itu yang dinamakan klausul RYT? ada ga yang ppanjang tapi ga dicek lagi kesehatannya?

    hmmm, masa sih harus cek lagi. bukannya axa mjs harusnya sudah ada guaranteed renewal? mungkin agennya yang gak ngerti. coba tanya agen lain atau di perusahaan lain, misalnya di manulife dan commonwealth life. saya sendiri sekarang pakai manulife.

    trus, ada situs laen ga selain sinarmas, allianz, witerthur dan bumida yang punya askes perorangan? mas pri sendiri ambil askes yang mana ni??

    saya sendiri kurang tahu. ini mungkin harus riset offline, karena mungkin banyak insurer yang gak punya web site yang memadai :). saya sendiri rencana mau ngambil rider kesehatan dari manulife saja, karena yang simas ditolak dan terus terang saya gak punya banyak info soal asuransi kesehatan retail.

    jadi menurut mas pri, kalo saya punya axa mandiri yang siswa mandiri sejahtera, mendingan saya tutup aja ya?

    betul.

    kalo sudah ditutup, apa saya langsung main di reksadana saham atau saya alokasikan ke kranjang yang tanpa resiko dulu seperti deposito dan ORI? karna saya juga blm punya keduanya??

    yang ‘tanpa resiko’ sebenarnya ada resiko juga. kalau misalnya inflasi di atas rate deposito misalnya, maka kalau nyimpan uang di deposito, maka aset kita sebenarnya berkurang walaupun secara nominal bertambah. soal mau milih instrumen investasi yang mana ini tergantung kebutuhan dan selera masing2. silakan baca dulu di tulisan saya yang lain